cover
Contact Name
zulkarnain
Contact Email
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Phone
+6281944867967
Journal Mail Official
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Framasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram Jl. K.H Akhmad Dahlan No.1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Farmasi : Jurnal Ilmu Kefarmasian
ISSN : 27155943     EISSN : 27155277     DOI : 10.31764
Core Subject : Health,
Penelitian Di Bidang Farmasi (Farmasi Bahan Alam, Farmasi Klinis & Komunitas, Farmasi Tekonologi, Kimia Farmasi, dan Biofarmasetika)
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2022): Juli" : 38 Documents clear
Formulasi Sediaan Gel Antijerawat Ekstrak Herba Meniran (Phylanthus niruri L) Dan Ekstrak Daun Sirsak (Annoni muricata L). Dimas Adrianto; Shirly Kumala; Teti Indrawati
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8041

Abstract

ABSTRAKHerba meniran dan daun sirsak mengandung senyawa flavonoid, triterpenoid, saponin, polifenol dan metabolit sekunder lainnya. Secara tradisional herba meniran dan daun sirsak tanaman yang berkhasiat sebagai Obat jerawat. Tujuan penelitian ini dilakukan dengan cara uji aktifitas antibakteri dari kombinasi ekstrak herba meniran dan daun sirsak sebagai antibakteri penyebab jerawat agar didapatkan efek sinergi sehingga bisa memperkuat kerja antibakteri dan memformulasi sediaan gel obat jerawat dengan bahan aktif kombinasi ekstrak herba meniran dan daun sirsak yang efektif sebagai antijerawat terhadap bakteri P.acne dan S.aureus. Metode Penelitian dilakukan dengan menentukan aktifitas antijerawat dari ekstrak meniran dan daun sirsak menggunakan bakteri P.acne dan S.aureus, dilanjutkan dengan pembuatan gel kombinasi ekstrak meniran dan daun sirsak. Evaluasi terhadap sediaan gel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, iritasi dan aktifitas antibakteri sediaan gel. Sediaan gel kombinasi ektrak daun sirsak dan meniran  (3% : 4,5%) memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri P.acne dan S.aureus terbaik dengan nilai DDH P.acne sebesar 32 mm dengan kategori aktivitas sangat kuat dan S.aureus  21 mm dengan kategori aktivitas sangat kuat.  Sediaan gel ekstrak daun sirsak dan meniran dapat memenuhi parameter fisika dan kimia sediaan gel serta stabil selama 12 minggu pada suhu penyimpanan 4oC, suhu 27oC dan suhu 40oC. Sediaan gel kombinasi ekstrak meniran dan daun sirsak memiliki indeks iritasi primer sebesar 0,40 dan termasuk kategori respon iritasi sangat ringan.  Kata kunci : Daun sirsak; Gel antijerawat; Jerawat; Meniran. ABSTRACTMeniran herbs and soursop leaves contain flavonoids, triterpenoids, saponins, polyphenols and other secondary metabolites. Meniran herbs and soursop leaves were traditionally used as an acne medication. This study aimed to formulate carried out by testing the antibacterial activity of a combination of extracts from meniran herbs and soursop leaves as an antibacterial that causes acne with the aim of getting a synergistic effect so that it can strengthen antibacterial work and antiacne  gel formulation containing the active ingredients of a combination of meniran herb and soursop leaf extract which is effective as an anti-acne against P.acne and S.aureus bacteria. The research method was conducted by determining the antibacterial activity of extract to P.acne and S.aureus, followed by formulate a gel combination of meniran and soursop leaf extract. The evaluation of gel formulation included organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, irritation and antibacterial activity. The gel preparation of the combination of soursop leaf extract and meniran (3%: 4.5%) had the best activity inhibiting the growth of P.acne and S.aureus bacteria with a DDH value of P.acne of 32 mm with very strong activity category and S.aureus 21 mm with a very strong activity category. The gel formulations we meet to the physical and chemical parameters of the gel formulation and were stable for 12 weeks at storage temperature of 4oC, temperature of 27oC and temperature of 40oC. The gel formulation had a primary irritation index of 0.40 and was included in the very mild irritation response category. Keywords : Acne; Antiacne gel; Meniran; Soursop leaf. 
Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Dari Propolis Lebah Kelulut Geniotrigona thoracica Terhadap Bakteri Staphyloccocus aureus Azzah Fatimah Zulfa; Muhammad Alib Batistuta; Paula Mariana Kustiawan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8299

Abstract

ABSTRAKKalimantan memiliki setidaknya terdapat 50 spesies lebah kelulut, diantaranya lebah kelulut dengan spesies Geniotrigona thoracica. Lebah kelulut selain menghasilkan madu dengan rasa asam, jenis ini juga menghasilkan produk utama yaitu propolis. Propolis secara empiris memiliki aktivitas antioksidan, antikanker, antijamur, antiinflamasi, antivirus dan juga anti bakteri. Namun penelitian tentang propolis jenis G. thoracica masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri Staphyloccocus aureus dari fraksi etil asetat dari propolis lebah kelulut G. thoracica asal Samarinda. Ekstrak metanol propolis G. thoracica dilakukan fraksinasi cair-cair dengan pelarut etil asetat dan pelarut polar. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran menggunakan bakteri S. aureus. Hasil uji antibakteri yang dilakukan menunjukan fraksi etil asetat propolis G. thoracica mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Aktivitas antibakteri terbaik diperoleh pada konsentrasi 600ppm yaitu dengan zona hambat 13 mm. Fraksi etil asetat propolis G. thoracica asal Samarinda memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus dengan kategori kuat Kata kunci : Fraksi etil asetat; Antibakteri; Propolis; Geniotrigona thoracica; Staphyloccocus aureus.ABSTRACTKalimantan were have at least 50 species of kelulut bees, including the kelulut bee with the species Geniotrigona thoracica. The kelulut bee produces honey with a sour taste, and also produces propolis. Propolis commonly use as antioxidant, anticancer, antifungal, anti-inflammatory, antiviral and also anti-bacterial. The research about G. thoracica propolis still limited. This study aims to determine the antibacterial activity of the ethyl acetate fraction of G. thoracica propolis originated from Samarinda which can inhibit Staphyloccocus aureus bacteria. The methanol exctract of G. thoracica propolis was partition with liquid-liquid fractionation using ethyl acetate and polar liquid. Then, antibacterial  was determined with agar well diffusion method. The results of the antibacterial test showed that the ethyl acetate fraction of the propolis G. thoracica were able to inhibit the growth of S. aureus bacteria, indicating that they have broad spectrum antibacterial activity. The highest antibacterial activity was obtained at 600ppm concentartion with an inhibition zone of 13 mm. The ethyl acetate fraction of G. thoracica propolis from Samarinda has antibacterial activity against S. aureus bacteria. Keywords : Ethyl acetate fraction; Antibacterial; Propolis; Geniotrigona thoracica; Staphyloccocus aureus. 
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Namnam (Cynometra cauliflora L) Sebagai Antibakteri Pada Formulasi Sediaan Gel Hand Sanitizer Syarah Anliza; Hamtini Hamtini; Nurmeily Rachmawati
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9157

Abstract

ABSTRAKPandemi Covid 19 yang menimpa dunia saat ini menjadikan peningkatan kebutuhan akan perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu dalam peningkatannya yaitu kesadaran akan mencuci tangan dan mulai terlihat semenjak covid-19 masuk ke Indonesia. Penggunaan gel antiseptik yang dinilai lebih praktis bisa menjadi pilihan. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah alkohol, namun dengan bahan tersebut dapat menyebabkan dehidrasi pada kulit. Oleh karena itu maka diperlukan alternatif bahan aktif yaitu bahan alam. Salah satu bahan alam yang digunakan daun namnam. Ekstrak daun namnam yang memiliki kandungan tanin dan flavonoid dapat sebagai antibakteri. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tanaman yang mengandung tannin dan flavonoid dapat sebagai sediaan gel hand sanitizer. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun namnam pada formulasi sediaan gel hand sanitizer terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923. Metode yang digunakan maserasi untuk ekstrak dan difusi agar untuk aktivitas bakteri. Formulasi sediaan gel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan gelling agent CMC Na dengan 5 formulasi. Hasil menunjukkan bahwa sampel F1, F2, F3, dan F4 dapat menghambat bakteri dengan kategori kuat, sedangkan sampel F5 termasuk kategori medium atau cukup kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sampel F1 dengan konsentrasi ekstrak etanol daun namnam sebesar 20% dan memiliki evaluasi sediaan gel yang baik dan memenuhi syarat.     Kata kunci : Ekstrak etanol; Daun namnam; Gel hand sanitizer; Staphylococcus aureus.ABSTRACTThe COVID-19 pandemic that has hit the world today has increased the need for clean and healthy living behaviors. One of the improvements that have been seen since Covid-19 occurred in Indonesia is awareness of hand washing. The use of an antiseptic gel is considered a more practical option. The basic ingredient commonly used is alcohol, but these ingredients can cause dehydration of the skin. Therefore, alternative active ingredients are needed, namely natural ingredients. One of the natural ingredients used by namnam leaves. Namnam leaf extract which contains tannins and flavonoids can act as an antibacterial. Several studies have shown that plants containing tannins and flavonoids can be used as a hand sanitizer gel preparation. The purpose of this study was to determine the potential of ethanol extract of Namnam leaves in the formulation of hand sanitizer gel preparations against Staphylococcus aureus ATCC 25923 bacteria. The methods used were maceration for extracts and agar diffusion for bacterial activity. The gel formulation used in this study was the gelling agent CMC Na with 5 formulations. The results showed that  samples F1, F2, F3, and F4 could inhibit bacteria in the strong category, while sample F5 was in the medium category or quite strong. The conclusion of this study is that sample F1 with extract ethanol of nam-nam leaves in 20% has a good evaluation of gel preparations and met the requirements.Keywords : Ethanol extract; Namnam lef; Hand sanitizer gel; Staphylococcus aureus.
Kajian Etnofarmasi Tumbuhan Obat Berkhasiat Sebagai Antihipertensi Di Desa Muara Gusik, Kutai Barat Siska Siska; Paula Mariana Kustiawan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8621

Abstract

ABSTRAKEtnofarmasi merupakan kajian masyarakat tertentu dalam menggunakan obat-obatan. Informasi penggunaan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan metode etnofarmasi. Pencegahan dan pengelolaan hipertensi adalah tantangan kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis tanaman, bagian tanaman, dan cara pengolahan tanaman obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi di Desa Muara Gusik. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur dengan menggunakan tipe petanyaan open-ended. Berdasarkan hasil wawancara dengan 15 informan didapatkan 10 jenis tumbuhan dengan indikasi sebagai antihipertensi yang dikelompokkan dalam 8 famili. Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Muara Gusik sebagai obat antihipertensi yaitu daun salam, daun sirsak, daun pandan, daun seledri, daun coklat, akar ilalang, akar kelapa, akar pinang, akar bamboo, dan daun melati. Cara pengolahan untuk daun yaitu direbus dan diminum sebanyak 1-2x sehari. Cara pengolahan untuk akar diseduh dengan air panas selama 3-6 jam dan diminum sebanyak 1x sehari. Famili yang paling dominan yaitu Poaceae dan Arecaceae. Bagian tumbuhan obat yang paling banyak digunakan yaitu daun. Cara pengolahan yang memiliki presentase paling tinggi yaitu direbus. Kata kunci :Etnofarmasi; Tumbuhan Obat; Tradisional; Desa Muara Gusik. ABSTRACTEthnopharmacy is the study of certain people  using drugs. Information on the use of medicinal plants can be done using the ethnopharmaceutical method. The prevention and management of hypertension is a major public health challenge worldwide. The purpose of this study was to determine the types of plants, plant parts, and methods of processing medicinal plants used to treat hypertension in Muara Gusik Village. The method used is qualitative. Interviews were conducted in a semi-structured manner using an open-ended question type. Based on the results of interviews with 15 informants, it was found that 10 types of plants used to treat hypertension were grouped into 8 families. Plants with indications as antihypertensives are bay leaves, soursop leaves, pandan leaves, celery leaves, cocoa leaves, weed roots, coconut roots, betel nut roots, bamboo roots, and jasmine leaves. The processing method for the leaves is boiled and drunk 1-2 times a day. The processing method for the roots is brewed with hot water for 3-6 hours and drunk 1x a day. The most dominant families are Poaceae and Arecaceae. The most widely used part of medicinal plants is the leaf. The processing method that has the highest percentage is boiled. Keywords : Ethnopharmacy; Medicinal plant; Traditional; Muara Gusik Village.
Perbedaan Kadar Kolesterol pada Akseptor KB Pil dan KB Suntik Menggunakan Metode Stick Edy Agustian Yazid; Nahdia Karina Putri
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9389

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Indonesia umumnya menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Kontrasepsi pil dan suntik adalah kontrasepsi hormonal yang populer dan sangat efektif. Selain bermanfaat, kontrasepsi hormonal juga memiliki efek samping bagi akseptornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar kolesterol pada akseptor KB pil dan suntik di Desa Beton Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian dengan metode stick, memiliki keunggulan lebih praktis dan hanya dirancang untuk pemeriksaan darah kapiler. Hasil pemeriksaan menunjukkan rata-rata kadar kolesterol akseptor KB pil adalah 207 mg/dl dan akseptor KB suntik 177 mg/dl. Persentase kadar kolesterol normal pada akseptor KB pil adalah 34%, batas tertinggi 46% dan tertinggi 20%. Sedangkan persentase kadar kolesterol normal pada akseptor KB suntik 73%, batas tertinggi 7% dan tertinggi 20%. Hasil analisis data menggunakan Paired T-test diperoleh t hitung 1,030 dengan sig 0,320 (sig>0,05), sehingga disimpulkan tidak ada perbedaan kadar kolesterol antar akseptor KB pil dan KB suntik. Kata kunci :  Kolesterol; KB pil; KB suntik; Metode stick.ANSTRACTIndonesian people generally use contraception to delay pregnancy. Pill and injectable contraceptives are popular and highly effective hormonal contraceptives. Besides being useful, hormonal contraception also has side effects for the acceptor. This study aims to determine whether there are differences in cholesterol levels in pill and injection family planning acceptors in Beton Menganti Village, Gresik Regency. Research using the stick method, has the advantage of being more practical and only designed for capillary blood examination. The results of the examination showed that the average cholesterol level of the contraceptive pill KB acceptor was 207 mg/dl and the injection KB acceptor was 177 mg/dl. The percentage of normal cholesterol levels for the acceptors of pills KB is 33%, the highest limit is 47% and the highest is 20%. Meanwhile, the percentage of normal cholesterol levels for injectable acceptors KB is 73%, the high limit is 7% and the highest is 20%. The results of data analysis using Paired T-test obtained t count 1.030 with sig 0.320 (sig>0.05), so that it was concluded that there was no difference in cholesterol levels between pill and injection KB acceptors. Keywords : Cholesterol; Pill KB; Injectable KB; Stick Method.
Identifikasi Kadar Kurkumin pada Minuman Serbuk Berbahan Temulawak dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Maulana Vikri; Mally Ghinan Sholih; Vesara Ardhe Gatera
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9303

Abstract

ABSTRAKTemulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) memiliki metabolit sekunder yang mengandung bahan aktif salah satunya adalah kurkumin. Kurkumin merupakan senyawa fitofarmaka yang memiliki beberapa efek biologis, seperti antidislipidemia, antioksidan, antiinlamasi, antiviral, antifungal, antibakteri, dan dapat melindungi hati. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keberadaan dan kadar kurkumin pada sampel minuman yang tidak memiliki izin PIRT. Pengujian kualitatif dan kuantitatif pada penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri Uv-Vis. Pada hasil penentuan panjang gelombang maksimum pada larutan baku standar kurkumin didapatkan sebesar 500 nm. Sedangkan hasil penentuan persamaan kurva baku didapatkan persamaan regresinya yaitu  y = 0,0026x - 0,0857 dengan R2 = 0,992. Pada hasil penentuan panjang gelombang maksimum sampel A, B dan C didapatkan berturut-turut sebesar 498 nm, 498 nm dan 500 nm. Sedangkan hasil penentuan kadar kurkumin pada sampel A, B dan C didapatkan berturut-turut sebesar 1,92%, 0,81% dan 12,45%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat senyawa kurkumin pada sampel minuman yang dibeli melalui e-commerce. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk mengidentifikasi metabolit seperti kurkumin pada sampel minuman tertentu.Kata kunci : Kurkumin; Temulawak; Minuman Serbuk; Spektrofotometri Uv-Vis.ABSTRACTTemulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) has secondary metabolites containing active ingredients, one of which is curcumin. Curcumin is a phytopharmaceutical compound that has several biological effects, such as antidyslipidemia, antioxidant, anti-inflammatory, antiviral, antifungal, antibacterial, and can protect the liver. This study aims to determine the presence and levels of curcumin in samples of beverages that do not have a PIRT permit. Qualitative and quantitative testing in this study used the Uv-Vis spectrophotometric method. In the results of determining the maximum wavelength in the standard standard solution of curcumin, it was obtained at 500 nm. While the results of the determination of the standard curve equation obtained the regression equation, namely y = 0.0026x - 0.0857 with R2 = 0.992. The results of the determination of the maximum wavelength of samples A, B and C were obtained at 498 nm, 498 nm and 500 nm, respectively. While the results of the determination of curcumin levels in samples A, B and C were obtained respectively 1.92%, 0.81% and 12.45%. Based on these results, it can be concluded that there is a curcumin compound in the samples of beverages purchased through e-commerce. Spectrophotometric methods can be used to identify metabolites such as curcumin in certain beverage samples.Keywords : Curcumin; temulawak; powder drink; Uv-Vis Spectrophotometry.
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) dan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) dengan Metode DPPH Fika Setra Rikantara; Marsah Rahmawati Utami; Ahsanal Kasasiah
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8819

Abstract

ABSTRAKPada era modern ini pola hidup masyarakat telah mengalami perubahan yang berdampak buruk pada kesehatan, selain itu kondisi lingkungan yang memburuk seperti banyaknya polusi juga akan menyebabkan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Salah satu sumber antioksidan alami yaitu sirsak (Annona muricata L.) dan pepaya (Carica papaya L). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai aktivitas antioksidan kombinasi daun sirsak dan daun pepaya. Sampel daun sirsak dan daun pepaya dikombinasi dengan variasi perbandingan  ((1:0) (0:1) (1:1) (1:2) dan (2:1)) dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 μg/mL sedangkan vitamin C sebagai pembanding dibuat dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 μg/mL. Tiap seri konsentrasi ditambahkan DPPH 40 ppm dan diinkubasi selama 30 menit, lalu diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometri Visibel pada panjang gelombang 517 nm. Nilai IC50 yang didapatkan untuk ekstrak daun sirsak (1:0) sebesar 11,484 μg/mL, nilai IC50 ekstrak daun pepaya (0:1) sebesar 53,668 μg/mL, nilai kombinasi ekstrak daun sirsak (1:1) ekstrak daun pepaya sebesar 25,666 μg/mL, nilai IC50 kombinasi ekstrak daun sirsak (1:2) ekstrak daun pepaya sebesar 50,305 μg/mL, dan nilai IC50 kombinasi ekstrak daun sirsak (2:1) ekstrak daun pepaya sebesar 16,552 μg/mL sedangkan nilai IC50 vitamin C sebesar 3,365 μg/mL. Hasil penelitian untuk seri kombinasi meningkatkan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun pepaya namun akan menurunkan aktivitas antioksidan ekstrak daun sirsak. Kata kunci : Antioksidan; Daun Sirsak ; Daun Pepaya; DPPH; Spektrofotometri UV-Vis.ABSTRACTIn this modern era, people's lifestyles have undergone changes that have a negative impact on health, in addition to deteriorating environmental conditions such as the amount of pollution will also cause the formation of free radicals. Free radicals can be prevented by antioxidant compounds. One of the sources of natural antioxidants are soursop (Annona muricata L.) and papaya (Carica papaya L. This study was conducted to obtain the value of the antioxidant activity of the combination of soursop leaves and papaya leaves. Soursop leaf and papaya leaf samples were combined with various comparisons ((1:0). ) (0:1) (1:1) (1:2) and (2:1)) with concentrations of 20, 40, 60, 80 and 100 μg/mL while vitamin C as a comparison was made with concentrations of 2, 4, 6 , 8, and 10 μg/mL. Each concentration series was added with 40 μg/mL DPPH and incubated for 30 minutes, then the absorbance was measured using Visible Spectrophotometry at a wavelength of 517 nm. The IC50 value obtained for soursop leaf extract (1:0) was 11,484 g /mL, the IC50 value of papaya leaf extract (0:1) was 53,668 g/mL, the combination value of soursop leaf extract (1:1) papaya leaf extract was 25,666 μg/mL, the IC50 value of the combination of soursop leaf extract (1:2) extract papaya leaves of 50,305 μg/mL, and the IC50 value of the combination of soursop leaf extract (2:1) ext. papaya leaf shelf is 16,552 μg/mL while the IC50 value of vitamin C is 3,365 μg/mL. The results for the combination series increased the antioxidant activity of the ethanol extract of papaya leaves but decreased the antioxidant activity of the soursop leaf extract.Keywords : Antioxidant; Soursop leaves; Papaya leaves; DPPH; Spectrophotometry UV-Vis.
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Hijau dan Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora L.) Serta Kombinasinya Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Nabila Rubinadzari; Lely Sulfiani Saula; Marsah Rahmawati Utami
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9393

Abstract

ABSTRAKStaphylococcus aureus merupakan bakteri dengan prevalensi tertinggi pada luka ulkus diabetikum yang dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Hal ini kemudian diperparah dengan adanya resistensi terhadap berbagai antibiotik. Kopi dapat menjadi alternatif lain mengatasi resistensi antibiotik karena memiliki senyawa antibakteri, namun pemanggangan pada biji kopi akan menurunkan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan aktivitas antibakteri ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (Coffea canephora L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan desain post-test only control group dengan metode agar difusi cakram (Kirby-bauer). Sampel dibagi menjadi 13 kelompok, yaitu kontrol positif clindamycin, kontrol negatif aquades steril, kelompok perlakuan ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (25%, 50%, dan 100%), serta kelompok perlakuan kombinasi ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (50%:50%, 75%:25%, 25%:75%, 60%:40%, dan 40%:60%). Hasil analisis One Way Anova terhadap kelompok kontrol dan perlakuan didapatkan p=0,000. Hasil analisis Post Hoc Tukey HSD terhadap seluruh kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif didapatkan p=0,000. Zona hambat terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi ekstrak 50%:50% dengan diameter sebesar 15,12 mm dan memiliki efek antibakteri yang sebanding dengan clindamycin dalam menghambat Staphylococcus aureus (p=0,121). Kata kunci : Aktivitas antibakteri; Biji hijau; Biji sangrai; Kopi Robusta (Coffea canephora L.); Staphylococcus aureusABSTRACTStaphylococcus aureus is the bacteria with the highest prevalence in diabetic ulcers which can be delayed the wound healing process. This is then exacerbated by the existence of resistance to various antibiotics. Coffee can be another alternative to overcome antibiotic resistance because it has antibacterial compounds, but roasting coffee beans will reduce the compounds responsible for antibacterial activity. The aim of this study is to identify antibacterial activity differences between green and roasted bean robusta coffee (Coffea canephora L.) extract and its combination against Staphylococcus aureus. This research used a post-test only control group design with an agar disc diffusion method (Kirby-bauer). Samples were divided into 13 groups, positive control clindamycin, negative control water sterile, green and roasted bean robusta coffee extract treatments group (25%, 50%, and 100%), and its combination (50%:50%, 75%:25%, 25%:75%, 60%:40%, and 40%:60%). One Way Anova test results on the control and treatment groups obtained p=0.000. Post Hoc Tukey HSD test results of all treatments compared to the negative control group obtained p=0.000. The largest inhibition zone was found in a 50%:50% extract combination with 15.12 mm in diameter , and its antibacterial effect was equal to clindamycin in inhibiting Staphylococcus aureus (p=0.121). Keywords : Antibacterial activity; Green bean; Roasted bean; Robusta Coffee (Coffea canephora L.); Staphylococcus aureus
Analisis Sumber Cemaran Bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp pada Minuman Jamu Serbuk Instan Temulawak dan Kunyit Asam di Depot Jamu Kabupaten Karawang Cartas Cartas; Ahsanal Kasasiah; Indah Laily Hilmi
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9191

Abstract

ABSTRAKJamu serbuk instan adalah jamu yang dihaluskan menjadi serbuk yang terbuat dari tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Jamu berbentuk serbuk memiliki keunggulan yaitu praktis dan cepat dalam penyajiannya, serta memiliki masa simpan yang relatif lama. Jamu serbuk yang dijajakan penjual dapat diseduh di tempat menggunakan air dari penjual ataupun pembeli dapat menyeduh jamu sendiri di rumah dengan menggunakan air milik pembeli. Jamu yang tidak mengalami proses pengolahan dan pemanasan sempurna bisa menjadi pemicu kontaminasi mikroorganisme yang tinggi. Kebersihan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan jamu instan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cemaran bakteri coliform, Escherichia coli dan Salmonella sp pada jamu serbuk instan temulawak dan kunyit asam yang dijual di Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan yaitu MPN (Most Probable Number) merupakan metode untuk mengidentifikasi bakteri coliform dan Escherichia coli dengan mendekati angka paling mungkin dari cemaran bakteri tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel jamu kunyit asam dan temulawak serbuk yang diseduh menggunakan air galon positif mengandung bakteri Escherichia coli dengan nilai MPN yaitu 460 MPN, 210 MPN dan 93 MPN, 150 MPN. Semua sampel negatif bakteri Salmonella sp.Kata kunci : Jamu Serbuk Instan; Coliform; Escherichia coli; Salmonella sp; MPN.ABSTRACTInstant powdered herbal medicine is herbal medicine that is mashed into powder made from plants that have the potential as medicine. Powdered herbal medicine has the advantage of being practical and fast in serving and has a relatively long shelf life. The powdered herbal medicine sold by the seller can be brewed on the spot using water from the seller or the buyer can brew his own herbal medicine at home using the buyer's water. Herbal medicine that does not undergo a perfect processing and heating process can be a trigger for high microbial contamination. The cleanliness of the tools and materials used for the manufacture of instant herbal medicine greatly affects the growth of pathogenic bacteria. This study aims to identify the contamination of coliform bacteria, Escherichia coli and Salmonella sp in instant herbal powders of temulawak and kunyit asam that are sold in Karawang Regency. The method used is MPN (Most Probable Number) which is a method to identify coliform and Escherichia coli bacteria by approaching the most probable number of bacterial contamination. The results showed that samples of kunyit asam and temulawak powder that were brewed using gallon water were positive for Escherichia coli bacteria with MPN values of 460 MPN, 210 MPN and 93 MPN, 150 MPN. All samples were negative for Salmonella sp.Keywords : Instant powdered herbal; Coliform; Escherichia coli;Salmonella sp; MPN.
Potensi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) dengan Metode UAE Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi Siti Norhaliza; Irfan Zamzani; Islan Nor
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8294

Abstract

ABSTRAKTanaman salam (Syzygium polyanthum) dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati diare terutama akibat bakteri dan masyarakat sering menggunakan daunnya sebagai pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak metanol daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi serta mengetahui perbedaan daya hambat dengan berbagai konsentrasi ekstrak. Metode yang digunakan adalah difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75% dan 100%. Hasil penelitian pada konsentrasi 100% menunjukkan diameter zona hambat tertinggi dengan nilai rata-rata sebesar 16,63 mm dan 20,36 mm terhadap bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi secara berurutan, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) menggunakan metode UAE ini dapat menghambat bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi dengan berbagai seri konsentrasi dan menunjukkan zona hambat yang kuat hingga sangat kuat.Kata kunci : Daun Salam; Shigella dysenteriae; UAE.ABSTRACTThe salam plant (Syzygium polyanthum) can be used by the community to treat diarrhea mainly caused by bacteria and people often use the leaves as a treatment. The purpose of this study was to determine the activity of methanolic extract of salam leaf (Syzygium polyanthum) as an antibacterial against Shigella dysenteriae and Salmonella typhi bacteria and to determine the difference in inhibition with various extract concentrations. The method used was disc diffusion with extract concentrations of 25%, 50%, 75% and 100%. The results of the study at a concentration of 100% showed the diameter of the highest inhibition zone with an average value of 16.63 mm and 20.36 mm against the bacteria Shigella dysenteriae and Salmonella typhi respectively, so it can be concluded that by using extract of salam leaf (Syzygium polyanthum) using the UAE method, it can inhibit Shigella dysenteriae and Salmonella typhi bacteria with various concentration series and show a strong to very strong zone of inhibition.Keywords : Salam leaf; Shigella dysenteriae; UAE.

Page 1 of 4 | Total Record : 38