cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2: Januari 2022" : 15 Documents clear
Pendidikan Agama Kristen sebagai Sebuah Usaha Menumbuhkan Sikap Toleransi Hendrik Legi; Frets Keriapy
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.127

Abstract

Today, the rate of intolerance cases in Indonesia tends to increase. Even some cases that occur are carried out by children at school. Cases of increasing intolerance are our collective duty, in which there are parents as the first teachers of every children in the family, religious and government leaders in the social community, and teachers in this case, not only Civic Education teachers, but Christian Education teachers are obliged to take part in overcoming this problem. Christian Education teachers have succeeded in shaping the spiritual side of students, but in truth that is not enough. The success of the teacher is to be able to form spiritual, emotional, and social attitudes and to change behavior of the students. To see this, in this research, the author will use a qualitative method of description by using a literature study. This is done by the author, in order to see theoretically that Christian education must touch the realm of the public sphere to overcome this problwm.  The finding obtained from this research are that it is found that Christian Religius Education must be an education that seeks tolerance in religious behavior. It starts with changing heart. Therefore, it is important for Christian Education to participate in overcoming this problem in the public sphere.AbstrakDewasa ini, tingkat kasus intoleransi di Indonesia cenderung meningkat. Bahkan beberapa kasus yang terjadi dilakukan oleh anak sekolah. Kasus intoleransi yang meningkat menjadi tugas kita bersama, yang di dalamnya ada orang tua sebagai guru pertama dari setiap naradidi di dalam keluarga, tokoh-tokoh agama dan pemerintah di lingkungan masyarakat, dan guru di lingkungan sekolah. Guru dalam hal ini, bukan hanya guru Pendidikan Kewarganegaraan, melainkan guru pendidikan Kristiani wajib untuk ambil bagian dalam mengatasi persoalan ini. Guru pendidikan Kristiani berhasil membentuk sisi rohani naradidik, namun sejatinya, itu pun belum cukup. Keberhasilan guru adalah dapat membentuk sikap rohani, emosi, sosial dan sampai pada perubahan tingkah laku. Untuk melihat hal tersebut, maka dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan menggunakan studi pustaka. Hal ini dilakukan oleh penulis, supaya dapat melihat secara teori bahwa, pendidikan Kristiani harus menyentuh ranah ruang publik untuk mengatasi persoalan ini. Hasil yang peroleh dari penelitian ini, adalah ditemukan bahwa Pendidikan Agama Kristen harus menjadi Pendidikan yang mengupayakan toleransi dalam perilaku beragama. Hal ini dimulai dari mengubah hati. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan Kristiani untuk masuk berpartisapasi dalam mengatasi persoalan ini di dalam ruang publik.
Digitalisasi Manajemen Pendidikan Teologi di Era 4.0 Menggunakan Learning Management System Moodle Vicky Samuel Sutiono; Nunuk Rinukti; Charista Jasmine Siahaya
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.134

Abstract

In the world of education in the last two years has experienced a relatively significant impact due to the Covid 19 pandemic. Teaching and learning activities that are usually carried out face to face currently must be carried out online using various software to continue the teaching and learning process. Theological colleges are also required to think of relevant steps to deal with the current situation. Therefore, it is important to apply a moodle-based Learning Management System (LMS) with the aim of disciplining students, especially in making attendance and collecting assignments that have been set by educators. With the development of the world of education today, students and educators are forced to adapt to the development of the world of education in the field of technology. This writing method is an observation method by looking at the phenomenology of the world of education during the Covid-19 pandemic. The conclusion of this study is that the digitalization of education management in the 4.0 era is very much needed to facilitate the online learning process in universities. AbstrakDunia Pendidikan dalam dua tahun terakhir ini mengalami dampak yang yang relatif signifikan akibat adanya pandemic Covid 19. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka saat ini harus dilakukan secara online dengan menggunakan berbagai software untuk tetap dapat melakukan proses belajar mengajar. Perguruan tinggi teologipun dituntut untuk memikirkan Langkah yang relevan untuk menghadapi situasi saat ini. Maka pentingnya diterapkan Learning Management System (LMS) berbasis moodle dengan tujuan untuk lebih mendisiplin peserta didik terutama dalam melakukan presensi, dan pengumpulan tugas yang telah ditetapkan oleh para pendidik. Dengan berkembangnya dunia pendidikan saat ini, peserta didik dan para pendidik dipaksa untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia pendidikan di bidang teknologi. Metode penulisan ini adalah metode observasi dengan melihat fenomonologi dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa digitalisasi manajemen pendidikan di era 4.0 sangat diperlukan untuk mempermudah proses pembelajaran daring di perguruan tinggi. 
Digitalisasi sebagai Fasilitas dan Tantangan Modernisasi Pelayanan Penggembalaan di Era Pasca-Pandemi: Refleksi Teologi Kisah Para Rasul 20:28 Helen Farida Latif; J. Musa Tannia Pangkey; Dessy Handayani; Nurnilam Sarumaha
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.132

Abstract

The church as an extension of God's hand in expressing His love for humans needs to provide good facilities related to evangelism and consistent service for the congregation in it so that they can grow in the true knowledge of God. Along with major changes in the situation and conditions related to the Covid-19 pandemic where churches can no longer carry out worship, teaching, and other services on-site normally, digitalization is the best answer that churches can use as a facility for continuity and modernization of services. church, particularly in relation to pastoral care. Digital technology is not only a facility but also a big challenge for the church. This study uses a qualitative approach to the factual issues of the Covid-19 pandemic as a trigger for the current digital service trend. The use of descriptive methods with literature related to digitization and biblical views based on Acts 20:28 provides a clear picture related to the pastoral ministry and can be a pattern for the church in general where the church must modernize during this pandemic and in the future of post-pandemic period.  Abstrak. Gereja sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menyatakan kasih-Nya kepada manusia perlu menyediakan fasilitas yang baik terkait penginjilan dan pelayanan yang konsisten bagi jemaat yang ada di dalamnya, agar jemaat dapat bertumbuh dalam imannya. Seiring terjadinya perubahan besar-besaran dalam situasi dan kondisi terkait pandemi Covid-19, gereja tidak dapat lagi melakukan ibadah, pengajaran, dan pelayanan onsite lainnya secara normal, maka digitalisasi merupakan jawaban terbaik yang dapat dimanfaatkan gereja sebagai fasilitas bagi kesinambungan dan modernisasi pelayanan gereja, khususnya terkait pelayanan penggembalaan. Teknologi digital selain dapat menjadi fasilitas, namun juga sekaligus dapat menjadi sebuah tantangan besar bagi gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif pada persoalan faktual pandemi Covid-19 sebagai pemicu maraknya tren pelayanan digital pada masa kini. Penggunakan metode deskriptif dengan literatur terkait digitalisasi dan pandangan Alkitab berdasarkan Kisah Para Rasul 20:28 untuk memberikan gambaran yang jelas terkait dengan pelayanan penggembalaan dan dapat menjadi pola (pattern) bagi gereja pada umumnya dimana gereja harus melakukan digitalisasi pada masa pandemi ini dan pada masa pasca pandemi ke depan.   
Peran Guru sebagai Fasilitator dan Katalisator Melalui Teori Konstruktivisme dalam Model Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Kristen Zakharia Victor Harefa; Talizaro Tafonao; Desetina Harefa; Rini Sumanti Sapalakkai; Selvyen Sophia
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.128

Abstract

The purpose of this research is to see the extent to which the role of Christian religious teachers through constructivism theory in the contextual teaching-learning model. One of the main problems found in this paper by the author is the undeveloped proper contextual teaching-learning model. This paper used a qualitative research method to examine the teacher's role as a facilitator and catalyst through constructivism theory in the contextual teaching-learning models of Christian religious education. The analysis process used in this paper is using various source literature, both journal articles, books, and other trusted reference material to support the author’s analysis. The results found in the study indicate that the theory of constructivism in the contextual learning model can be applied by understanding the nature of the contextual learning model, the theory of constructivism, the basic concepts of contextual learning for Christian religious education, and the role of Christian religious education teachers as facilitators and catalysts. Thus, the development of constructivism theory in the contextual learning model of Christian religious education can provide new insights to teachers in carrying out their duties as professional educators. AbstrakTujuan penelitian ini adalah melihat sejauh mana peran guru agama Kristen melalui teori kostruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning). Salah pokok permasalah yang ditemukan oleh penulis dalam tulisan ini adalah pengembangan model pembelajaran yang bersifat kontekstual (Contextual Teaching Learning) belum dikembangkan dengan baik. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan mengkaji bagaimana peran guru sebagai fasilitator dan katalisator melalui teori konstruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen. Proses analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah menggunakan berbagai sumber literatur baik artikel jurnal, buku dan bahan referensi lainnya yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Hasil yang ditemukan dalam kajian ini menunjukkan bahwa teori konstruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dengan memahami hakikat model pembelajaran kontekstual, teori konstruktivisme, konsep dasar pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen dan peran guru pendidikan agama Kristen sebagai fasilitator dan katalisator.Dengan demikian, pengembangan teori konstruktivismedalam model pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen dapat memberi wawasan baru kepada guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik yang profesional.
Agama dan Kemanusiaan dalam Penggunaan Teknologi di Masa Pandemi Meliani Konda Betu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.140

Abstract

religion is meant in general as a tool for humans to see and feel the presence of God in society. Religion will always be the main benchmark when humanity experiences unfavorable situations and conditions. One example is during a pandemic. Humans have to accept the fact that God can use anything to praise His greatness and grow together, one of the tools used by humans is science and technology. With the existence of technology, humans can be assisted in meeting their spiritual needs and growing together carefully. The purpose of this research is to build every human being that God can use anything to glorify His name. The method that the author uses is the library method. The author’s results from humanity and religion in the use of technology during the pandemic are that the essence of worship does not depend on the place where humans worship, but wherever humans are and where they present God. It is true worship.  AbstrakAgama yang dimaksud pada umumnya adalah sebagai alat untuk manusia dapat melihat dan merasakan akan kehadirian Tuhan di tengah-tengah masyarakat. Agama akan selalu menjadi patokan utama di saat umat manusia mengalami situasi dan kondisi yang tidak baik. Salah satu contohnya adalah di masa pandemik. Manusia harus menerima kenyataannya bahwa Tuhan bisa memakai apapun untuk memuji kebesaran-Nya dan bertumbuh bersama-sama. Salah satu alat yang dipakai manusia adalah IPTEK. Dengan adanya teknologi manusia dapat dibantu dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya dan bertumbuh bersama-sama dengan seksamanya. Tujuan penelitan ini adalah untuk membangun setiap manusai bahwa Tuhan bisa memakai apapun juga untuk memuliakan nama-Nya. Metode yang penulis pakai adalah metode Pustaka. Hasil penulis dari Kemanusiaan dan Agama di Dalam Penggunaan Teknologi di masa Pandemik adalah bahwa esensi ibadah tidak tergantung pada tempat dimana manusia itu beribadah, tetapi dimanapun keberadaan manusia dan di situ ia menghadirkan Tuhan maka itu adalah ibadah yang sesungguhnya. 
Ibadah Gereja Masa Pascapandemi Covid-19: Daring, Luring, atau Hibrid Setya Hadi Nugroho; Niken D. Prananingtyas
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.131

Abstract

After a long time, the Indonesian nation struggled against the COVID-19 pandemic, slowly the number of Covid-19 transmissions began to decline so that PPKM levels in various regions began to be lowered, and Many churches began to perform face-to-face worship (offline). This raises the question, of whether online worship will end soon, continue to go hand in hand with laryngeal worship, or even replace laryngeal worship. This research has been carried out using a qualitative method with a descriptive approach which is carried out through research literature from various kinds of references, such as books and journal articles related to this research, interviews with several sources, and of course theological research on worship based on the Testament Bible. Old and New Testament. From this research, the author concludes that in the future, offline and online ecclesiastical activities will continue to run together, support each other, strengthen and be able expand church services, especially in the context of building congregations and preaching the good news without having to debate the theological side and providing certainty, peace, both to the ministers of God and the church congregation. AbstrakSetelah sekian lama bangsa Indonesia berjuang melawan pandemi covid 19, perlahan-lahan jumlah penularan covid-19 mulai menurun, sehingga Level PPKM di berbagai daerah mulai diturunkan, Banyak gereja mulai melakukan ibadah tatap muka (luring). Hal ini menimbukan pertanyaan, apakah ibadah daring akan segera berakhir, tetap berjalan seiring dengan ibadah laring, atau bahkan menggantikan ibadah laring. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilakukan  melalui literatur research dari berbagai macam referensi, seperti buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini, wawancara dengan beberapa nara-sumber serta tentu saja penelitian teologis ibadah berdasarkan Alkitab perjanjian lama dan Perjanjian baru. Dari penelitian ini, penulis menyimpukan bahwa kegiatan gerejawi secara luring dan daring akan tetap berjalan bersama, saling mendukung, memperkuat serta mampu memperluas pelayanan gereja, khususnya dalam rangka pembinaan jemaat dan pemberitaan kabar baik tanpa harus diperdebatkan lagi sisi teologisnya serta memberi kepastian, ketenangan, baik kepada para pelayan Tuhan maupun jemaat gereja. 
Konsistensi dan Resiliensi Pelayanan Penggembalaan pada Era Digital Joni Manumpak Parulian Gultom; Martina Novalina; Andries Yosua
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.129

Abstract

The task of shepherding has always faced growth challenges and obstacles to this day. The level of spiritual community and the arrival of souls is decreasing among the younger generation, and the emergence of the hybrid medium as a system born in the digital era is another challenge. Pastoral relationships and stewardship particularly with this digital native tend to widen and lose their essential value. How can shepherding be consistent and sustainable in this digital age? Such a strategy is the solution? The purposes of this study are to describe the steps of grazing consistency and resilience; redefine the duties and responsibilities of a shepherd according to biblical standards; provide practical steps in pastoral care in the digital age. The method used is descriptive qualitative. The result is a contribution to church pastors to continue to be motivated and persist in their calling for service; to spiritual practitioners to be able to work together with pastoral teams to serve souls, and to be a source of reference for pioneering pastoralists and prospective pastors in later. AbstrakTugas penggembalaan selalu mengalami tantangan dan hambatan yang besar sampai hari ini. Tingkat komunitas rohani dan kedatangan jiwa menurun diantara generasi muda serta munculnya hybrid medium sebagai sistem yang lahir dari era digital menjadi tantangan lainnya. Hubungan dan penatalayanan gembala khususnya dengan native digital cenderung melebar dan kehilangan nilai yang esensial. Bagaimanakah penggembalaan tetap konsisten dan bertahan dalam era digital ini? Strategi seperti yang menjadi solusi? Tujuan dari penelitian ini, adalah untuk menjelaskan langkah konsistensi dan resiliensi penggembalaan; menggambarkan kembali tugas dan tanggung jawab dari seorang gembala menurut standar Alkitab; memberikan langkah praktis dalam pelayanan penggembalaan di era digital. Metode yang digunakan dengan kualitatif deskriptif. Hasilnya berupa kontribusi kepada para gembala gereja untuk terus termotivasi dan bertahan dalam panggilan pelayanan; kepada praktisi rohani untuk dapat bekerja-sama dengan team penggembalaan melayani jiwa jiwa; menjadi sumber referensi bagi penggembalaan perintisan dan calon calon pendeta dalam di kemudian hari.
Pandangan Pejabat GBI Terhadap Covid-19 dan Vaksin dalam Bingkai Pemahaman tentang “Akhir Zaman” Gernaida Krisna Pakpahan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.130

Abstract

This study aims to determine the views of officials at the Indonesian Bethel Church (GBI) on Covid-19 in the perspective of the end of time. One of the important teaching points in Pentecostal theology is eschatology, which is characterized by wars between nations, natural disasters, famine, economic hardship, cruel leaders, disease, and false prophets, until the second coming of Christ. The phenomenon of the outbreak of the Covid-19 pandemic is a global epidemic that has infected millions of people in more than two hundred countries, and claimed many lives regardless of race, social status, age, education, nation, and other backgrounds. During the pandemic, economic difficulties are experienced globally, restrictions on social interaction, and changes in human life and cultural patterns. Another fact is that there are various views on the vaccination effort, some accept it and some reject it. The community of citizens who refuse vaccinations because of the fear that vaccines are a sign of the anti-Christ as in the book of Revelation. Starting from this background, a descriptive-analytical method will be used to obtain the results. In addition to conducting a biblical study, information was also obtained from 527 respondents who were GBI officials. The results are mixed, there are GBI officials who believe that Covid-19 is a sign of the end times, do not believe that Covid-19 is God's punishment for mankind, do not believe that it is the fulfillment of Revelation 9:7, believe that Covid-19 is a means of purification for mankind. God's church believes that vaccines are the way out to overcome Covid-19. AbstrakKajian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan pejabat di Gereja Bethel Indonesia (GBI) terhadap Covid-19 dalam perspektif akhir zaman. Salah satu pokok ajaran penting dalam teologi Pentakostal adalah eskatologi, yang dikarakterisasi dengan adanya peperangan antar-bangsa, bencana alam, kelaparan, kesulitan ekonomi, pemimpin yang kejam, penyakit, nabi-nabi palsu, hingga kedatangan Kristus yang kedua. Fenomena merebaknya pandemi Covid-19 merupakan wabah global yang telah menginfeksi jutaan manusia di lebih dari dua ratus negara, merenggut banyak nyawa tanpa memandang ras, status sosial, usia, pendidikan, bangsa dan latar belakang lainnya. Selama pandemi kesulitan ekonomi dialami secara global, pembatasan interaksi sosial, dan perubahan pola kehidupan dan budaya manusia. Kenyataan lain ditemui pandangan yang beragam terhadap upaya vaksinasi, ada yang menerima dan ada juga yang menolak. Komunitas warga yang menolak vaksinasi karena adanya ketakutan bahwa  vaksin merupakan tanda anti-Kristus seperti dalam kitab Wahyu. Bertitik tolak dari latar belakang itu maka untuk memperoleh hasil akan digunakan metode deskritif analitis. Selain mengadakan kajian biblis juga diperoleh informasi dari 527 orang responden yang merupakan Pejabat GBI. Hasilnya beragam, ada pejabat GBI yang yakin bahwa Covid-19 merupakan tanda akhir zaman, tidak yakin bahwa Covid-19 adalah hukuman Allah bagi umat manusia, tidak yakin bahwa itu merupakan penggenapan dari Wahyu 9:7, meyakini Covid-19 sebagai sarana pemurnian bagi gereja Tuhan, dan menyakini vaksin adalah jalan keluar untuk mengatasi Covid-19.  
Penerapan Cyber Counseling dalam Menangani Depresi Remaja pada Masa Pandemi Covid-19 Christopher Alexander; Josef Christianto; Hana Venturini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.124

Abstract

The presence of the COVID-19 outbreak as a global pandemic has many negative impacts on society, one of which is the mental health of teenagers. Adolescents who are experiencing a period of growth in various aspects often experience obstacles in their growth, especially in the psychological and emotional aspects. Not even a few of them have lost their passion and hope in life due to severe depression. For this reason, the author raised the topic “Counseling Pastoral Services in Dealing with Depression among Adolescents during the COVID-19 Pandemic”, to assist the church in finding the effective and efficient way to solve depression issues in teenagers. The research method used in this research is the library research method. The conclusion of this research is that the church needs to do a counseling pastoral service to reach out to depressed adolescents in this COVID-19 pandemic, by educating through social media as a preventive method, and by using cyber counseling methods in groups as a healing method.  AbstrakKehadiran wabah COVID-19 sebagai pandemi global banyak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, salah satunya bagi kesehatan mental kaum remaja. Remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan dalam berbagai aspek kerap mengalami hambatan dalam pertumbuhannya, khususnya dalam aspek psikologis dan emosional. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan gairah dan harapan dalam menjalani hidup akibat depresi yang amat parah. Untuk itu, penulis mengangkat topik “Pelayanan Pastoral Konseling dalam Menangani Depresi di Kalangan Remaja di Masa Pandemi COVID-19”, untuk membantu gereja dalam menemukan cara yang efektif dan efisien untuk menangani permasalahan depresi di kalangan para remaja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gereja perlu melakukan pelayanan pastoral konseling kepada para remaja yang sedang mengalami depresi di masa pandemi ini, dengan melakukan penyuluhan/edukasi melalui sosial media sebagai metode pencegahan, serta melakukan metode cyber counseling berkelompok sebagai metode pemulihan. 
Merawat Bumi Ciptaan Allah: Tanggung Jawab Ekoteologis GMIT Jemaat Lopo Maus Klasis Kupang Barat dalam Memanfaatkan Lahan Tidur Hanokh A. Tefnay; Ezra Tari; Lanny Isabela Dwisyahri Koroh
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.70

Abstract

This paper will describe the practice of ecological responsibility that has been implemented in the Lopo Maus Congregation. The author began to stir the congregation when he saw land that was not being used. Even though the people around the Lopo Maus congregation have a large land area, striving for this land is to build an economy that is still below the poverty line. The challenge for land management in Kupang is that there is very little water. This writing aims to make the community make the best use of the land. This effort is made so that people love the environment more. The method that I use is qualitative, an objective approach that is carried out in the field. The results of the study found that first, land management requires persistence and patience. Second, good teamwork. Third, creating jobs. Fourth, environmental management as a concrete form of worship. Fifth, it can improve people's lives.

Page 1 of 2 | Total Record : 15