KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 7 No. 2: Januari 2025"
:
11 Documents
clear
Pastoral Holistik Yesus tentang Pernikahan dan Perceraian dalam Matius 19:1-9
Doni Heryanto;
Terry Reney Manopo;
Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/stq6y080
The divorce rate continues to increase, including among Christian couples in the city of Jember, Indonesia. This study is an effort to find divorce solutions and strengthen the unity of the Christian family. Is it true that the congregation's pastor allows divorce? Is it true that Matthew 19:1-9 can be used as a Biblical basis for divorce? Using the interview method, to see what are the pastoral theological views held and what are the pastoral empirical attitude of the Pastor of the GPdI Jember Congregation regarding marriage and divorce. The literature study method was carried out to support a historical narrative hermeneutical study of Matthew 19: 1-9. The goal is to discover Jesus' holistic pastoral view and attitude towards marriage and divorce. It is hoped that the results of this study will be useful to help pastoral ministers who are looking for the pastoral theological basis of marriage and therefore argue that this passage can be used to legitimize divorce. Angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Keluarga Kristen di kota Jember juga mengalaminya. Studi ini merupakan upaya menemukan solusi bagi perceraian dan memperkuat keutuhan keluarga Kristen. Benarkah Gembala Jemaat mengijinkan perceraian? Apakah benar bahwa Matius 19: 1-9 dapat digunakan sebagai dasar Alkitabiah bagi perceraian? Dengan metode wawancara, untuk melihat pandangan teologis pastoral yang dipegang dan sikap empiris pastoral Gembala Jemaat GPdI Jember terkait pernikahan dan perceraian. Metode studi pustaka dilakukan guna mendukung kajian hermeneutis naratif historis terhadap Matius 19: 1-9. Tujuannya, menemukan pandangan dan sikap pastoral holistik Yesus terhadap pernikahan dan perceraian. Hasil studi ini diharapkan bermanfaat membantu pelayan pastoral yang mencari dasar teologis pastoral pernikahan dan karena itu membantah bahwa perikop ini dapat digunakan untuk melegitimasi perceraian.
Teologi Pembebasan dalam Konteks Pembatasan Kaum Perempuan dalam Ibadah berdasarkan 1 Timotius 2:11-12
Jhonnedy Kolang Nauli Simatupang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/v4vgxy60
This study examines the exploitation of women in Christian worship, focusing on 1 Timothy 2:11-12 through Liberation Theology. The method used is qualitative research with a literature review, gathering and analyzing relevant literature on gender issues and the restriction of women's roles in the context of worship. The analysis results show that the limitations stated in these verses not only cause discrimination but also hinder the spiritual development of women and their contributions to the faith community. Through the perspective of Liberation Theology, this research emphasizes the importance of challenging traditional interpretations that impose restrictions, supporting social justice, and empowering women. By empowering women and raising collective awareness of gender equality, the church can create an inclusive and just environment. This study affirms that every individual, regardless of gender, has equal potential in ministry, thus encouraging contributions toward a more equitable future within the Christian community. Artikel ini mengkaji eksploitasi kaum perempuan dalam ibadah Kristen dengan fokus pada 1 Timotius 2:11-12 melalui teologi pembebasan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi pustaka, yang mengumpulkan dan menganalisis literatur terkait isu gender dan pembatasan peran perempuan dalam konteks ibadah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembatasan yang tercantum dalam ayat tersebut tidak hanya menimbulkan diskriminasi, tetapi juga menghambat perkembangan spiritual perempuan dan kontribusi mereka dalam komunitas iman. Melalui lensa Teologi Pembebasan, menyoroti pentingnya menantang interpretasi tradisional yang membatasi dan mendukung keadilan sosial serta pemberdayaan perempuan. Dengan memberdayakan perempuan dan membangun kesadaran kolektif tentang kesetaraan gender, gereja dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil. Artikel ini menegaskan bahwa setiap individu, tanpa memandang gender, memiliki potensi yang sama dalam pelayanan, sehingga mendorong kontribusi untuk masa depan yang lebih setara dalam komunitas Kristen.
Hubungan Sikap pada Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan Motivasi Belajar Siswa
Kristian Adi Santoso
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/84nqtf82
Learning motivation is a crucial determinant of academic achievement. However, in practice, not all students exhibit strong motivation, which can result in diminished academic performance. An individual's attitude toward a subject is known to influence behaviour in accordance with that attitude; a positive attitude typically leads to a positive behavioural response. In the context of education, students' attitudes toward a particular subject may affect their motivation to engage with it. Therefore, cultivating a positive attitude toward Christian Religious Education (CRE) is viewed as essential for improving student motivation and, in turn, learning outcomes. This study aims to analyse and empirically determine the relationship between students’ attitudes toward Christian Religious Education and their learning motivation. The research utilises a quantitative correlational design. A total of 76 students were selected from a population of 95 using the Krejcie and Morgan sampling table. Data were collected through a closed-ended questionnaire, with variables measured using a Likert scale. Hypothesis testing was conducted using simple linear regression and correlation analysis. The findings indicate a positive and statistically significant relationship between students’ attitudes toward Christian Religious Education and their learning motivation. These results suggest that enhanced attitudes toward the subject correspond with increased motivation, which is further reflected in students' academic behaviour and performance. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai prestasi yang baik. Namun dalam kenyataannya adalah tidak semua siswa memiliki motivasi belajar yang baik, dan hasilnya dapat dipastikan prestasinya juga akan kurang baik. Sikap seseorang terhadap sesuatu dapat berpengaruh terhadap perilaku sesuai dengan sikap tersebut. Jika sikapnya positif maka responnya juga akan positif. Jika dikaitkan dengan motivasi belajar, maka sikap terhadap mata pelajaran akan memengaruhi motivasi belajar siswa. Sehingga untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, perlu peningkatan sikap positif terhadap pelajaran pendidikan agama kristen, yang akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membuktikan apakah terdapat hubungan Sikap pada mata pelajaran pendidikan agama kristen dengan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Responden sebanyak 76 siswa dari 95 siswa berdasarkan tabel Krejcie Morgan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup dan penilaian pada setiap variabel dengan skala Likert. Analisis uji hipotesis dengan menggunakan regresi sederhana dan korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan sikap pada pelajaran pendidikan agama kristen dengan motivasi belajar siswa. Hasil tersebut memberi makna bahwa apabila sikap pada pelajaran pendidikan agama Kristen meningkat maka motivasi belajarnya juga meningkat, yang dicerminkan pada perilaku dan hasil belajar siswa.
Etika Kekristenan yang Berakar dalam Kasih: Analisis Teologi Sistematis Efesus 4:1-32
Margaretha Sara Fauubun;
Daud Manno;
Jonar Situmorang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/7vj95919
This study analyzes Christian ethics rooted in love based on Ephesians 4:1-32 through a systematic theological approach. The introduction highlights the importance of love as the core of ethical teachings in Christianity, particularly in shaping character and church unity. The aim of this research is to explore how love plays a role in shaping the ethical and relational life of believers, as well as in creating harmony within the church and society. The method used is a systematic theological analysis of the text of Ephesians 4:1-32, emphasizing the principle of love in interpersonal relationships, forgiveness, and obedience to Christ as the Head. The findings and discussion reveal that love serves as the primary foundation for the development of Christian character, church unity, and ethical transformation in daily life. The love taught in Ephesians is not merely a moral command but a call to a life that fully reflects Christ. Penelitian ini menganalisis etika Kekristenan yang berakar dalam kasih berdasarkan Efesus 4:1-32 melalui pendekatan teologi sistematis. Pendahuluan menyoroti pentingnya kasih sebagai inti dari ajaran etika dalam Kekristenan, khususnya dalam membentuk karakter dan kesatuan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kasih berperan dalam membentuk kehidupan etis dan relasional orang percaya, serta dalam menciptakan harmoni di dalam gereja dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah analisis teologis sistematis terhadap teks Efesus 4:1-32, dengan menekankan pada prinsip kasih dalam hubungan antar sesama, pengampunan, dan ketaatan kepada Kristus sebagai Kepala. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa kasih menjadi dasar utama bagi pengembangan karakter Kristen, kesatuan gereja, dan transformasi etis dalam kehidupan sehari-hari. Kasih yang diajarkan dalam Efesus bukan hanya perintah moral, tetapi panggilan untuk hidup yang mencerminkan Kristus secara keseluruhan.
Makna Teologis Amanat Agung dan Implementasinya di Indonesia: Perlukah Pemaknaan Ulang?
Murni Hermawaty Sitanggang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/8c3wdc92
Theologians generally agree that Jesus' command in Matthew 28:19-20 is a mission for God's people to reach and disciple those who do not yet believe. Discipleship is marked by a person's entry into the Christian community. This is what makes mission or evangelism considered the same as church planting. However, when discussing the implementation of this mandate in a pluralist country like Indonesia, calls emerge to reconstruct the mission from evangelism to dialogue between religious communities to maintain harmony and prevent friction with adherents of the majority religion. This research aims to examine why this happens and then answer the main question of whether this reinterpretation cannot be avoided. The research was carried out using descriptive analysis methods with a literature study approach. The author reviews various literature related to the topic and then analyzes it to produce descriptive and systematic thoughts. The conclusion is that we cannot separate the mission from the context. The majority of Indonesia's population is Muslim and they view evangelization as an effort to Christianize, a threat that needs to be guarded against and suppressed so that it often causes friction. Therefore, considering that believers also have an obligation as citizens to maintain harmony, reinterpretation cannot be avoided. However, we need to ensure that the reinterpretation does not change the essence of the mandate. Para teolog umumnya sepakat bahwa perintah Yesus di dalam Matius 28:19-20 merupakan misi bagi umat Tuhan untuk menjangkau dan memuridkan mereka yang belum percaya. Pemuridan itu ditandai dengan masuknya seseorang dalam komunitas Kristen. Hal inilah yang kemudian menjadikan misi atau penginjilan dianggap sama dengan penanaman gereja. Namun, ketika membahas soal implementasi mandat tersebut di negara pluralis seperti Indonesia, muncul seruan untuk merekonstruksi misi dari penginjilan menjadi dialog antar umat beragama untuk memelihara kerukunan dan mencegah gesekan dengan pemeluk agama mayoritas. Penelitian ini bertujuan mengkaji mengapa hal itu terjadi untuk kemudian menjawab pertanyaan utama apakah memang pemaknaan ulang tersebut memang tidak dapat dihindari. Penelitian dilakukan dengan memakai metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi literatur. Penulis mengkaji berbagai literatur terkait topik untuk kemudian dianalisis sehingga menghasilkan pemikiran yang bersifat deskriptif dan sistematis. Kesimpulan yang didapat adalah kita tidak dapat melepaskan misi dari konteks. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan mereka memandang penginjilan sebagai upaya kristenisasi, ancaman yang perlu diwaspadai dan ditekan sehingga tak jarang menimbulkan gesekan. Oleh sebab itu, mengingat orang percaya juga memiliki kewajiban sebagai warga negara untuk menjaga kerukunan, maka pemaknaan ulang tidak dapat dihindari. Namun, kita perlu memastikan pemaknaan ulang itu tidak mengubah esensi amanat tersebut.
Kepemimpinan Kaum Awam: Analisis Yohanes 21 tentang Kepemimpinan Otentik
Asep Afaradi
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/sv0pwk49
Authentic leadership among laypeople is a crucial aspect of church ministry that often receives inadequate attention. In John 21, there is a profound example of leadership through Jesus' restoration of Peter, emphasizing that true leadership is rooted in love, responsibility, and service. This study aims to analyze the concept of authentic leadership in John 21 and identify its characteristics and implications for laypeople in the church. The methodology used is qualitative analysis with a theological approach, through literature review and biblical text analysis, focusing on John 21 to explore the meaning and application of authentic leadership. The results indicate that authentic leadership is marked by sincere love for God and others, love-based service, and responsibility in shepherding, which are essential for building a healthy and effective church community. Kepemimpinan otentik di kalangan kaum awam merupakan aspek krusial dalam pelayanan gereja yang sering kali kurang mendapat perhatian. Dalam Yohanes 21, terdapat contoh mendalam tentang kepemimpinan melalui pemulihan Petrus oleh Yesus, yang menekankan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kasih, tanggung jawab, dan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan otentik dalam Yohanes 21 serta mengidentifikasi karakteristik dan implikasinya bagi kaum awam di gereja. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan teologis, melalui kajian literatur dan analisis teks Alkitab, dengan fokus pada Yohanes 21 untuk menggali makna dan penerapan kepemimpinan otentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik ditandai oleh kasih yang tulus kepada Tuhan dan sesama, pelayanan berbasis kasih, serta tanggung jawab dalam penggembalaan, yang penting untuk membangun komunitas gereja yang sehat dan efektif.
Konsep Prophetic Pragmatism Willy Jenkins: Membangun Ekologi Spiritual untuk Kehidupan Berkelanjutan Menggereja di Indonesia
Tony Salurante
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/zqvcxc56
This article examined the concept of Prophetic Pragmatism by William James Jenkins as a foundation for developing ecological spirituality within the context of the church in Indonesia. The study stemmed from the ecological crisis in Indonesia, including environmental degradation, exploitation of natural resources, and the lack of ecological awareness within Christian communities. Using an interdisciplinary theological approach, the article explored the practical dimensions of Prophetic Pragmatism, which emphasized collective action, reconciliation between humans and creation, and solidarity in responding to environmental crises. The findings showed that this paradigm enabled churches to adopt an adaptive and transformative form of ecological spirituality. Churches were called not only to teach environmental doctrines but also to practice ecological justice through advocacy, liturgical renewal, and collective lifestyle changes. The implementation of this concept in Indonesian churches provided a model of ecological sustainability that was locally relevant and contributed to the global Christian witness regarding environmental responsibility. Artikel ini mengkaji konsep Prophetic Pragmatism dari William James Jenkins sebagai landasan untuk membangun spiritualitas ekologi dalam konteks gereja di Indonesia. Latar belakang kajian ini adalah krisis ekologis yang dihadapi Indonesia, seperti kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam, serta minimnya kesadaran ekologis dalam komunitas Kristen. Dengan pendekatan teologis interdisipliner, artikel ini mengeksplorasi dimensi praksis Prophetic Pragmatism yang menekankan tindakan kolektif, rekonsiliasi manusia dengan ciptaan, dan solidaritas menghadapi krisis. Temuan menunjukkan bahwa paradigma ini memungkinkan gereja mengadopsi spiritualitas ekologis yang adaptif dan transformatif. Gereja dipanggil tidak hanya mengajarkan doktrin lingkungan, tetapi juga mempraktikkan keadilan ekologis melalui advokasi, liturgi, dan perubahan gaya hidup kolektif. Penerapannya di Indonesia dapat melahirkan model keberlanjutan ekologis yang relevan secara lokal dan berkontribusi pada kesaksian global tentang tanggung jawab iman Kristen terhadap bumi.
Kajian tentang Problematika Persembahan Persepuluhan dalam Gereja Masa Kini
Adi Putra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/3vx5yn62
Tithing has caused polemics among churches or Christians. Some agree that this practice is no longer relevant, but generally churches still practice it, including churches in Indonesia. This is what is examined in this study, specifically how should the church practice the practice of tithing? Is it still relevant or not? By using qualitative research, especially literature review, the following conclusions were found. The practice of tithing is still allowed in the church. This is because tithing means returning ten percent of every income to God, the giver of blessings. Even though Christ has come and has redeemed Christians, it only emphasizes that Christians are obliged to give tithes to God. Just as Abraham tithed to Melchizedek, so Christians tithe to Christ who has redeemed and saved Christians. Tithing offerings are given and offered to God and managed by each minister in an institutional (not personal) context. It is intended to be used to support stewardship in the church as well as to support the lives of the ministers and their families. However, it is not wrong if tithes are also allocated to help the poor, migrants and orphans. Because the church should not be trapped in the practice of the scribes and Pharisees who were so keen on tithing but neglected love and justice. Persembahan persepuluhan menimbulkan polemik di kalangan gereja atau orang Kristen. Ada yang setuju bahwa praktik ini sudah tidak relevan lagi, tetapi umumnya gereja masih mempraktikkannya tidak terkecuali gereja-gereja di Indonesia. Hal inilah yang diteliti dalam penelitian ini, khususnya bagaimana seharusnya gereja mempraktikkan praktik persepuluhan ini? Apakah masih relevan atau tidak? Dengan menggunakan penelitian kualitatif khususnya kajian literatur, maka dijumpai beberapa kesimpulan sebagai berikut. Praktik persepuluhan memang masih diperbolehkan dalam gereja. Oleh karena dengan memberikan persepuluhan berarti mengembalikan sepuluh persen dari setiap penghasilan kepada Tuhan sang pemberi berkat. Sekalipun Kristus telah datang dan telah menebus orang Kristen, namun hal justru semakin mempertegas bahwa orang Kristen wajib memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan. Sama halnya Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, demikian pula orang Kristen memberikan persepuluhan kepada Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan orang Kristen. Persembahan persepuluhan diberikan dan dipersembahkan kepada Tuhan dan dikelola oleh setiap pelayan dalam konteks kelembagaan (bukan personal). Hal itu bertujuan supaya digunakan untuk mendukung penatalayanan dalam gereja sekaligus untuk membantu kehidupan para pelayan dan keluarganya. Namun tidaklah keliru apabila persepuluhan juga dialokasikan untuk membantu orang-orang miskin, pendatang dan anak yatim. Oleh karena jangan sampai gereja terjebak dalam praktik yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang begitu giat memberikan persepuluhan namun mengabaikan kasih dan keadilan.
Pendidikan Agama Kristen Transformatif: Kunci Pembentukan Karakter dan Pertumbuhan Rohani Siswa
Sandra Rosiana Tapilaha
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/bwdqxx70
A holistic approach allows for the integration of Christian values into daily life, so that students not only understand religious doctrine theoretically, but also experience and apply it in real life. In addition, the integration of technology and digital media in religious education is an effective means of increasing student engagement, especially for Generation Alpha, who are growing up in a digital environment. The application of active participation-based spiritual discipline also serves as the foundation for continuous spiritual growth, where students are invited to experience faith in a tangible way through Bible reflection, communal prayer, and involvement in social service. This study employs a qualitative method, combining literature reviews from various sources, including book libraries and other academic research. Data was analyzed descriptively to evaluate the effectiveness of the holistic approach in Christian religious education. The results of the study show that it significantly improves students' understanding and experience of faith. The conclusion of this study affirms that transformative Christian religious education must accommodate these various aspects in order to shape individuals who not only have strong religious knowledge but are also able to apply these values in their lives. Pendekatan holistik memungkinkan integrasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya memahami doktrin agama secara teoretis, tetapi juga mengalami dan menerapkannya dalam tindakan nyata. Selain itu, integrasi teknologi dan media digital dalam pembelajaran agama menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa, terutama Generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan digital. Penerapan disiplin spiritual berbasis partisipasi aktif juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan rohani yang berkelanjutan, di mana siswa diajak untuk mengalami iman secara nyata melalui refleksi Alkitab, doa bersama, dan keterlibatan dalam pelayanan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang menggabungkan studi literatur dari berbagai sumber, termasuk perpustakaan buku dan penelitian akademik lainnya. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan holistik dalam pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan meningkatkan pemahaman dan pengalaman iman siswa. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan agama Kristen yang transformatif harus mengakomodasi berbagai aspek ini agar dapat membentuk individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka.
Meneladani Integritas Paulus: Refleksi 2 Korintus 4:1-18 bagi Pelayanan Guru Sekolah Minggu
Winro Baitau Tse;
Jonar Situmorang Situmorang;
Jefit Sumampouw Sumampouw
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47167/7ajktj57
Sunday School teachers' ministry requires exemplary integrity and perseverance. Paul, in 2 Corinthians 4:1-18, demonstrates the principles of ministry based on honesty, resilience, and dependence on God. This study aims to explore Paul's values of integrity and reflect on their relevance in the context of Sunday School teachers' ministry. The research method used is a qualitative approach with a literature review and exegetical analysis of the biblical text. The findings indicate that Paul's integrity is reflected in the sincerity of his ministry, endurance in facing challenges, and commitment to the truth. Reflection on these teachings provides an understanding that Sunday School teachers must possess steadfastness in teaching and serve as role models for children. Thus, the ministry can be carried out responsibly and centered on Christian values. Pelayanan guru Sekolah Minggu menuntut keteladanan dalam integritas dan ketekunan. Paulus, dalam 2 Korintus 4:1-18, menunjukkan prinsip pelayanan yang berlandaskan kejujuran, ketabahan, dan ketergantungan kepada Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai integritas Paulus dan merefleksikannya dalam konteks pelayanan guru Sekolah Minggu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan dan analisis eksegetis terhadap teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas Paulus tercermin dalam ketulusan pelayanan, ketahanan dalam menghadapi tantangan, dan komitmen terhadap kebenaran. Refleksi terhadap ajaran ini memberikan pemahaman bahwa guru Sekolah Minggu harus memiliki keteguhan hati dalam mengajar dan menjadi teladan bagi anak-anak. Dengan demikian, pelayanan dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan berpusat pada nilai-nilai kristiani.