Articles
339 Documents
KONSEP KAYA DAN MISKIN; STUDI ANALISA ATAS STATUS SOSIAL NABI MUHAMMAD
Muhammad Arifin Badri
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 3 No 2 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v3i2.43
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa Nabi s{allallahu ‘alaihi wa sallamhidup di bawah garis kemiskinan. Adanya pemahaman ini merangsang munculnya berbagai sikap yang menyimpang, jauh dari syari’at Islam. Karena terobsesi dari kesalahan di atas, sebagian masyarakat bermalas-malasan dalam bekerja, dengan dalih meneladani Nabi s{allallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup dalam kemiskinan. Sebagaimana kesalah pahaman ini telah mendorong sebagian orang untuk membuat opini bahwa agama Islam merestui kemiskinan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa menjadi orang miskin lebih utama dibanding menjadi orang yang kaya raya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari fakta yang sebenarnya tentang kedudukan positif kaya dan miskin bagi orang Islam. Penelitian ini mengungkap status sosial Nabi s{allallahu ‘alaihi wa sallam, guna meluruskan pemahaman menyimpang yang beredar di masyarakat.Kajian ini adalah kajian kuantitatif yang akan memusatkan pada data-data hadis dan perjalanan hidup Nabi Muhammad terkait status social beliau, untuk kemudian dianalisa pada sisi regulasi perekonomian beliau dari permulaan hingga akhir kehidupannya bersama istri-istri beliau dan para sahabatnya.Berbagai data dari Al Qur’an, al hadi>ts dan juga sejarah kehidupan Nabi s{allallahu ‘alaihi wa sallam membuktikan bahwa beliau adalah seorang yang kaya raya. Namun demikian beliau memilih gaya hidup sederhana, bukan karena pelit namun karena beliau lebih memilih untuk membelanjakan harta kekayaannya pada berbagai hal yang lebih penting dan membawa manfaat lebih besar.
أثر المنهج الفاسد في حدوث البدعة في نظر علماء الشافعية
Muhammad Nur Ihsan
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 3 No 2 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v3i2.45
البدعة: كل ما أحدث في الدين مما يخالف الكتاب والسنة والإجماع وما كان عليه سلف الأمةوقواعد الشريعة سواء كان في الاعتقادات أو العبادات". وقد وردت النصوص الكثيرة من الكتاب والسنةفي النهي عن الابتداع والتحذير منه، ومع ذلك قد وقعت البدعة في الأمة وانتشرت بين الناس سواء كان فيالعقيدة أو العبادة، وما أحدثت تلك البدع صدفة دون سبب، بل هناك أسباب كثيرة أدت إلى ظهور البدعوانتشارها، ومن أخطرها وأعظمها فساد في المنهج ، كما ذكر ذلك علماء الشافعية وغيرهم، ويراد بالمنجهنا هو الطريق الذي يُسلك في العلم والعمل والتلقي والاستدلال، ا كيف أثرًإذ المنج الفاسد والمصادرالباطلة في حدوث البدع وانتشارها بين الناس؟ فهذا البحث المتواضع يتناول الجواب عن هذا السؤال وذلك من خلال أقوال علماء الشافعية. وقسمته إلى مقدمة تشتمل على خلفية البحث وتحديد المسألة ومنجالبحث، ثم موضوع البحث ويشتمل على تعريف البدعة لغة واصطلاحا، وأثر المنج الفاسد والمصادرالباطلة في حدوث البدع في نظر علماء الشافعية، ثم الخاتمة وفيها ذكر نتائج البحث.وهذا البحث يُ ع د من البحوث المكتبية التي تعتمد على المنج الكمي ) Kuantitatif ( الذي يقوم بجمعأقوال علماء الشافعية من بطون مؤلفاتهم المتعلقة بهذه المسألة، وأما ما يتعلق بعرض البيانان وتقريبالمعلومات للوصول إلى نتائج البحث فيستخدم المنج الوصفي ) Deskriptif ( والاستقرائي ) Dedukatif )وتحليل المحتوى ) Analisa isi .)ومن خلال دراسة أقوال هؤلاء العلماء واستقرائها وتحليلها يتبين أن المنج الفاسد يشمل جميعالطرق الباطلة والمصادر النابتة المخالفة للقرآن والسنة ومنج سلف الأمة في العلم والعمل والتلقيوالاستدلال، وأن ذلك له أثر بالغ في حدوث البدع والمحدثات، ويمكن تلخيص ذاك المنج الفاسد في النقاطالتالية: 1( تقديم العقل على النقل والاعتماد عليه في بناء الأحكام الشرعية، ويدخل في هذا الاعتماد علىالرأي المجرد والقياس الفاسد، 2( الاعتماد على الإلهام أو الكشف أو الرؤيا المنامية أو الحكايات ونحوها،3( والتمسك بالنصوص العامة دون النظر إلى بيان الرسول صلى الله عليه وسلم بفعله وتركه، 4( واتباعالهوى، 5( واتباع العوائد، 6( والتقليد والتعصب، 7( والغلو والتكلف في الدين، 8( ورد بدعة ببدعة أومقابلة باطل بباطل.
KONSEP BID’AH PERSPEKTIF IBNU TAIMIYAH DAN IBNU ABDULWAHHAB (STUDI KOMPARASI)
Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.51
Di antara polemik yang selalu hangat pada tubuh umat Islam adalah konsep bid’ah seperti definisi, konteks dan macam-macamnya yang digagas oleh Muhammad Ibnu Abdulwahha>b. Pemikiran atau konsep beliau diasumsikan oleh kebanyakan umat Islam telah “meresahkan” ideologi mereka yang telah bertahun-tahun dijalani. Pasalnya, bid’ah yang beliau konsep secara keseluruhan adalah baru, diadopsi dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Bertitik tolak dari motivasi-motivasi di atas, maka persoalan akademik yang muncul kemudian adalah: Seberapa besar dominasi konsep bid’ah Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahab? Apakah ada pendahulu Ibnu Abdulwahab pada interpretasi bid’ah yang diyakini dan dijalani sebelum Ibnu Taimiyah?. Dengan mengomparasikan pemikiran Ibnu Taimiyah tentang konsep bid'ah; definisi, konteks dan macam-macam bid’ah dengan pemikiran Ibnu Abdulwahab. Kemudian mengkorelasikan dengan pemikiran-pemikiran ulama pendahulu mereka terkait persoalan-persoalan tersebut penulis berupaya mencari jawabannya. Setelah ditelaah, penulis sampai kepada sebuah fakta bahwa sangat sedikit dominasi pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahha>b tentang masalah ini. Bahkan bisa dipastikan bahwa Ibnu Abdullwahha>b tidak menjadikan induk pemikirannya kepada Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu, konsep bid’ah yang diyakini dan dijalani Ibnu Abdulwahab tersebut bukan adopsi pemikiran imam Ibnu Taimiyah, sebab telah ada pendahulunya.
METODE NABI TENTANG PENANAMAN IMAN KEPADA ALLAH TA'ALA DAN PEMELIHARAANNYA DALAM HADITS-HADITS AQIDAH
Nur Kholis bin Kurdian
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.52
Iman kepada Allah ta’ala adalah sumber keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat, baik dan buruk tingka-laku seseorang sangat dipengaruhi dengan kadar keimanan yang ada di dalam hatinya, jika keimanannya tinggi dan kokoh maka tingkah lakunya pun baik, begitu pula sebaliknya. Para sahabat menjadi generasi terbaik umat ini dikarenakan keimanan yang menancap kuat di dalam hati mereka, hal itu yang menyebabkan tingginya derajat mereka jika dibandingkan dengan generasi setelahnya. Pertanyaannya adalah, “Bagaimanakah cara Nabi didalam menanamkan iman kepada Allah ke dalam hati para sahabatnya dan bagaimana cara pemeliharaannya?”. Penelitian ini fokus pada hadits-hadits aqidah yang terkait dengan cara penanaman iman kepada Allah serta cara pemeliharaannya yang ditelusuri dari buku-buku hadits serta buku-buku aqidah dengan memilih hadits-hadits yang sesuai dengan pembahasan. Hasil dari penelitian ini bahwa cara nabi di dalam menanamkan iman adalah; a. Mengenalkan para sahabatnya terhadap Allah Ta’ala. b. Menghubungkan hati mereka dengan Allah Ta’ala. Mengajarkan tadabbur ayat-ayat al-qur’an. d. Mengajarkan tadabbur terhadap tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala yang ada pada makhluk-Nya. Dan cara nabi di dalam memelihara keimanan tersebut adalah: a. Mengajarkan bahwa amal sholeh itu termasuk bagian dari Iman. b. Mengajarkan rukun iman. c. Memberikan motivasi agar mereka senantiasa di atas keimanan, dan memberikan warning dan ancaman agar menjauhi syirik dan kemaksiatan.
KORELASI ANTARA KESALEHAN SOSIAL DENGAN KASUS PERCERAIAN DALAM RUMAH TANGGA (STUDI ANALISIS KASUS PERCERAIAN NABI DENGAN HAFSAH)
Muhammad Arifin Badri
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.53
Sering kali kes}alehan sosial yang terefleksi pada kepekaannya terhadap kebutuhan pasangan suami dan istri tidak dimainkan peranannya secara proporsional bagi kelangsungan rumah tangga. Sering juga suami dan istri mencukupkan diri dengan bekal kes}alehan individualnya, yang terefleksi pada ketekunannya menunaikan berbagai ibadah praktis, sehingga aspek sosial dalam rumah tangganya jauh dari perhatian atau bahkan dengan sadar diabaikan. Penelitian ini mengulas tentang keberadaan kes{alehan sosial dan perannya dalam kelangsungan rumah tangga. Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka penulis berusaha menganalisis kisah perceraiaan Nabi s{allallahu ‘alaihi wa sallam dengan istrinya, Hafs{ah rad{iallahu ‘anha, guna mengetahui latar belakang terjadinya perceraian tersebut. Penelitian ini membuktikan bahwa rumah tangga seorang yang s}aleh individualnya bisa saja kandas dengan perceraian, akibat dari terabaikanya aspek kes}alehan sosial, yang menjadi biang terjadinya kelalain dalam menjalankan hak istri atau suaminya. Pada penelitian ini, terungkap pula bahwa semangat menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala sepatutnya ditunaikan secara proporsional, sehingga tidak menyebabkan suami atau istri terperangkap pada dosa sosial yaitu dengan mengabaikan hak-hak pasangannya.
PROBABILITAS IJMA’ DI ERA MODERN (IMPLIKASI PERBEDAAN DEFINISI, SYARAT DAN RUKUN TERHADAP KEMUNGKINAN TERJADINYA IJMA’, KEDUDUKAN DAN HUJJAHNYA)
Adin Fadilah
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.54
Ijma 'is one of the arguments of Personality' that has the force of argument under the Koran and Hadith, ijma 'is the first proposition after the al-Quran and Hadith that can be used as guidelines in exploring the laws of Personality'. However there are some Muslim community which does not recognize the existence of ijma 'where they are only based on the Quran and al-Hadith, their diligence in itself likely will not be separated from the two text itself. Variation ijma> 'The dimungkinakan for their differences as well as the definition of halal berkaiatan with ijma>' such terms, pillars and so on. From this study we can conclude that: On the issue of ijma> 'happen perbeadaan opinion among the scholars. The differences are due to differences in the definition of the ulama ijma> '. Selaian, differences in the terms and the pillars of the proposed menajadi importance in understanding ijma> '. The most fundamental thing ijma’ is a difference whether the agreement that all or the majority of scholars only. In this case the author is more inclined to the latter opinion. Both now it is not improbable occurrence of Ijma> '. Although it uses the most stringent requirements. Due to technological advances, create obstacles distance between the scholars are not a barrier anymore. However, the difficulty is that everyone has a different opinion in accordance with the experience and knowledge he possessed.
ANALISIS NILAI FILOSOFIS HUKUM KELUARGA ISLAM DARI PENGGUNAAN ISTILAH PERKAWINAN NAKAHA DAN TAZAWWAJA
Muhsan Syarafuddin
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.57
Teks akad sebuah pernikahan dalam Islam bisa dengan menggunakan lafadz zawwajtuka dan ankahtuka. Kedua lafadz tersebut dapat diterjemahkan “ saya nikahkan anda”. Akan tetapi secara filosofis masing-masing dari kedua kata memiliki makna. Nakaha berarti simbol hubungan biologis yang sah dan mulia sedangkan tazawaja bermakna membingkai hubungan sah tersebut lebih dekat dan harmonis karena masing-masing dari suami isteri merasa sepasang yang harus saling melengkapi kekurangan masing-masing dari pasangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang menekankan pada pengkajian mendalam terhadap sumber-sumber normatif alqur'an dan assunnah. Dari kajian ini terungkap bahwa makna hikmah dari kedua istilah nakaha dan tazawaja adalah saling keterkaitan dan tidak terpisah. Karena terjadinya hubungan biologis semata tidak bisa membuahkan keharmonisan kecuali dengan dibuat merasa sepasang insan yang saling membutuhkan dengan istilah lain di Tazwij. Dari penelitian ini penulis ingin berkontribusi memberikan pemahaman bahwa setiap istilah dalam Islam tidak dilafalkan hanya dalam bentuk diftong saja namun masing masing kata memeiliki makna tersendiri yang saling melengkapi.
الأصول التي خالف فيها الخوارج أهل السنة والجماعة
Ali Musri Semjan Putra
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.58
وفي عصرنا الحاضر كثر انتشار اتهامات وادعايات على أهل الإسلام على وجه العموم وعلى أهل السنة والجماعة بصفة خاصة حتى انتقلبت الموازين عند بعض الناس فيرمي أهل الحق بأباطيل وينتسب إلى أهل الحق من ليس منهم. فأثرت تلك الاتهامات على عقول الناس حتى أذي بسببه كثير ممن كان على الحق والسنة في البلدان المختلفة. ومن أشنع الاتهانات هو القول بأن مذهب الخوارج نبت ونشأ من مذهب أهل السنة والجماعة ومن هنا لابد من تهجيرهم والتحذير منهم. وهو لا يدري أن مذهب أهل السنة والجماعة يخالف مذهب الخوارج كالاختلاف بين الشرق والغرب وبين الليل والنهار، وأن بين المذهبين فرقا شاسعاً.ويسير الباحث على المنهج الكمي الاستقرائي الوصفي، ويختصر على أبرز الأصول التي خالف فيها الخوارج أهل السنة والجماعة . ويتناول الباحث كل مبحث أو مطالب بإيجاز سواء في طرح المسألة أو في ذكر الأدلة. واجتهد الباحث في كل مبحث بذكر قول شيخ الإسلام ابن تيمية والإمام محمد بن عبد الوهاب على وجه الخصوص تبرئة لهما عمّا نسب إليهما من فكر الغلو والتطرف.وفي نهاية البحث توصل الباحث إلى أهم المتائج؛ إن من أعظم الأسباب التي تؤدي إلى الغلو والتطرف البعد عن العقيدة السلفية والمنهج السلفي، وأن المخرج الصحيح للتخلص من فكرة الغلو والتطرف محصور باتباع منهج السلف عقيدة وعلماً وعملاً وسلوكاً ودعوة.
PANDANGAN FETHULLAH GULEN TENTANG TOLERANSI BERAGAMA
Hulaimi Al Amin
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.59
Dalam konteks Indonesia saat ini, toleransi masyarakat terhadap yang lain semakin memudar sekaligus mengkhawatirkan. Kita melihat banyak terjadi tindakan-tindakan negatif yang sekaligus mencederai toleransi itu sendiri misalnya permusuhan, pengrusakan tempat ibadah, kekerasan, tindakan teror yang mengatasnamakan agama serta perilaku biadab lainnya. Penulis dalam kajian ini secara deskriptif hendak menganalisis metode penawaran Gulen dalam kaitannya dengan pemaknaan toleransi secara normatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa dalam pandangan Fethullah Gulen, Islam adalah agama cinta, toleransi serta agama yang selalu mengajarkan perdamaian kepada umat manusia. Kesimpulan ini berbeda dengan pandangan beberapa tokoh, salah satunya adalah Ali Sina. Ia mengatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan, terorisme serta tidak toleran. Pandangan-pandangan Gulen menguatkan keterangan beberapa tokoh seperti Muhammad Abid al-Jabiri, John Kelsay, Muhammad Abu Nimer. Mereka ini memandang bahwa Islam pada dasarnya adalah agama perdamaian, agama yang tidak menghendaki kekerasan. Selain itu, Islam adalah agama yang mengajarkan keadilan kepada sesama Muslim dan umat manusia secara keseluruhan. Sumber dalam tulisan ini adalah buku-buku yang ditulis Gulen serta tulisan-tulisan yang terkait dengan toleransi khususnya toleransi beragama.
PEMAKNAAN HADIS DUABELAS KHALIFAH ; ((إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِي فِيْهِمِ اثْنَا عَشَرَ خَلِيْفَةً)) DALAM PERSPEKTIF AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Nur Kholis bin Kurdian
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 2 (2017): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37397/almajaalis.v4i2.65
إن مسألة الخلافة كثر فيها النزاع والاختلاف, ولذلك ظهر عن سوء فهمها البدع والخرافة, وخرج بسببها الخوارج وتشيع لأجلها الشيعة. و من تلكم المسائل التي تتعلق بها تفسير اثني عشر خليفة في قول النبي صلى الله عليه وسلم ((إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِي فِيْهِمِ اثْنَا عَشَرَ خَلِيْفَةً)) رواه مسلم, ويأتي السؤال: من هم اثنا عشر خليفة عند أهل السنة والجماعة؟ وما هو القول الراجح في تعيين أسمائهم ؟ أستخدم في هذا لبحث منهج السبر لأقوال أهل العلم من كتبهم في جمع البيانات, وأما في الوصول إلى نتيجة البحث أستخدم منهج الكيفي. ونتيجة هذا البحث: أن علماء أهل السنة اختلفوا في تفسير اثني عشر خليفة إلى ستة أقوال. والقول الراجح في ذلك هو القول الأول: أن هؤلاء هم الذين في عهدهم اعتز الإسلام وقوي واجتمع الناس فيهم. وهم: الخلفاء الراشدون, ثم معاوية بن أبي سفيان, ثم يزيد بن معاوية, ثم عبد الملك بن مروان, ثم الوليد بن عبد الملك, ثم سليمان بن عبد الملك, ثم عمر بن عبد العزيز, ثم يزيد بن عبد الملك, ثم هشام بن عبد الملك.