cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardichristian@gmail.com
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
mpak.pps@uki.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Shanan
ISSN : 25498061     EISSN : 27224678     DOI : https://doi.org/10.33541/shanan
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Shanan bertujuan untuk menerbitkan hasil penelitian dosen-dosen dan para alumni Prodi Magister Pendidikan Agama Kristen serta para pendidik agama di luar UKI. Jurnal Shanan pertama kali diterbitkan pada bulan Maret 2017 melalui penerbit UKI Press dengan nomor ISSN 2549-8061. Jurnal ini dikelola oleh Program Studi Magister Pendidikan Agama Kristen UKI yang dimaksudkan untuk mempublikasikan karya-karya penelitian dosen, alumni, dan para pendidik agama Kristen di luar UKI. Jurnal ini memuat artikel-artikel penelitian yang berfokus pada pengembangan ilmu dan praktik pendidikan agama Kristen di lingkup gereja, keluarga, dan sekolah. Jurnal Shanan ditebitkan secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu Maret dan Oktober. Fokus jurnal Shanan adalah Pendidikan Agama Kristen sedangkan cakupannya adalah Desain Program, Strategi Pembelajaran dan Kurikulum, Sejarah dan Filsafat, Teologi, Metodologi Pendidikan, Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk, Evaluasi Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Etika Profesi Guru, yang semuanya terkait dengan Pendidikan Agama Kristen.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 111 Documents
ANALISIS IMPLEMENTASI PAK KELUARGA DI GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH (GSJA) KABUPATEN BARITO TIMUR KALIMANTAN TENGAH Desi Sianipar; A Dan Kia
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.515 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1535

Abstract

Pendidikan agama Kristen keluarga atau yang biasa disingkat PAK Keluarga adalah pendidikan agama yang diadakan di dalam keluarga di mana orang tua berfungsi sebagai pendidik dan pengajar dalam keluarga. Sebagai upaya pendidikan, maka upaya tersebut haruslah dijalankan secara terprogram dengan baik. Untuk itu, gereja harus berperan besar dalam membimbing dan mengarahkan para orang tua melalui berbagai program pembinaan sehingga para orang tua dapat mengimplementasikannya dengan baik dalam keluarga.Penulis telah mengadakan penelitian mengenai implementasi PAK Keluarga di lingkungan Gereja-gereja Sidang Jemaat Allah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah dan hasilnya adalah gereja memahami bahwa PAK Keluarga telah dijalankan melalui berbagai program gereja, seperti: ibadah umum, ibadah kategorial, ibadah keluarga, dan himbauan kepada para orang tua supaya mengadakan “Saat Teduh” setiap hari di rumah masing-masing dengan mengajak anak-anak untuk berdoa, menyanyi dan membaca Alkitab bersama-sama pada pagi hari atau pada malam hari. Hampir semua gereja menganggap bahwa semua program gereja sudah bertujuan menguatkan keluarga. Sementara itu, para orang tua memahami bahwa mereka telah melaksanakan PAK keluarga melalui kegiatan Saat Teduh dan mengajak serta mendorong anak-anak mereka untuk berperilaku baik dan rajin mengikuti program-program gereja. Penulis juga belum menemukan adanya kurikulum PAK Keluarga dan buku-buku ajar yang khusus dirancang untuk PAK Keluarga.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Para informan terdiri dari para pendeta, para pengurus gereja, para orangtua, dan anak-anak yang berasal dari 13 gereja lokal di lingkungan GSJA kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Hasil analisis terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa GSJA Kabupaten Barito Timur belum melakukan PAK keluarga yang terencana dan terprogram dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mengenai PAK Keluarga, kurangnya keterampilan dalam menyusun kurikulum dan bahan ajar PAK Keluarga, dan kurangnya dana untuk penyelenggaraan seminar dan pelatihan yang terkait dengan PAK Keluarga. Para orang tua juga kurang memahami PAK Keluarga dan bagaimana melaksanakannya dengan baik karena kurangnya pembinaan dari gereja, secara khusus mengenai PAK Keluarga.Kata Kunci: Analisis, Implementasi, Pendidikan Agama Kristen, Keluarga, Gereja
PENGARUH GAYA BELAJAR DAN KECERDASAN MAJEMUK TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI MAHASISWA PESERTA MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN ANGKATAN 2016/2017 Wahju A. Rini
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.105 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1536

Abstract

Salah satu tugas mendidik mahasiswa adalah memotivasi mahasiswa untuk menjadi lulusan terbaik, berintegritas, peduli terhadap lingkungan dan berwawasan luas. Penelitian ini dilatarbelakangi pengalaman mengajar mata kuliah Agama untuk mahasiswa angkatan 2016/2017, terdapat kecenderungan bahwa tidak semua mahasiswa mengerti gaya belajar dan kecerdasan majemuk yang dimiliki yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui pengaruh gaya belajar mahasiswa peserta mata kuliah agama Kristen terhadap kecerdasan majemuk. (2) Untuk mengetahui pengaruh gaya belajar mahasiswa peserta mata kuliah agama Kristen terhadap motivasi berprestasi. (3).Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan majemukmahasiswa peserta agama Kristen terdapat motivasi berprestasi. Terdapat tiga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ; (1 Diduga gaya belajar mahasiswa berpengaruh terhadap kecerdasan majemuk. (2). Diduga gaya belajar mahasiswa berpengaruh terhadap motivasi berprestasi. (3). Diduga kecerdasan majemuk mahasiswa berpengaruh terhadap motivasi berprestasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dalam penelitian ini populasi dan sampel adalah mahasiswa peserta mata kuliah AgamaKristen yang diampu peneliti, sejumlah 79 responden. Hasil penelitian menunjukkan (1) Pengaruh gaya belajar terhadap kecerdasan majemuk dengan koefisien gamma sebesar 0,556 dan T-statistic sebesar 8,983 > T tabel sebesar 1,96 pada gaya belajar terhadap kecerdasan majemuk, berarti terdapat pengaruh signifikan gaya belajar terhadap kecerdasan majemuk dengan level signifikan 0,01. (2). Pengaruh gaya belajar terhadap motivasi berprestasi mahasiswa dengan koefisien gamma sebesar 0,269 dan T-statistic sebesar 2,215 > T tabel sebesar 1,96 pada gaya belajar terhadap motivasi berprestasi mahasiswa, berarti terdapat pengaruh signifikan gaya belajar terhadap motivasi berprestasi mahasiswa dengan level signifikan 0,01. (3). Pengaruh kecerdasan majemuk, terhadap motivasi berprestasi dengan koefisien gammasebesar 0.510 dan T-statistic sebesar 4.220 > T tabel sebesar 1,96 pada kecerdasan majemuk terhadap motivasi berprestasi mahasiswa, berarti terdapat pengaruh signifikankecerdasan majemuk terhadap motivasi berprestasi mahasiswa kecerdasan majemuk dengan level signifikan 0,01.Kata kunci: gaya belajar, kecerdasan majemuk, motivasi berprestasi.
PENGGUNAAN MODEL HOMESCHOOLING DALAM PEMBELAJARAN PAK DI PKBM WESLEY PELITA BANGSA SCHOOL (WPBS) Hasan Nadir Giawa; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.466 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1537

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan homeschooling, model homeschooling dan penggunaan model homeschooling dalam pembelajaran PAK di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Wesley Pelita Bangsa School (WPBS) Pluit-Jakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Jumlah populasi dalam penelitian ini 67 orang informan, sedangkan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 16 orang yang terdiri dari 4 orang guru, 6 orang tua dan 6 orang siswa/i dengan kriteria mereka terlibat secara langsung dalam kegiatan homeschooling. Penentuan sampel ini berdasarkan pada tujuan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru, orang tua dan siswa/i memahami homeschooling sebagai sekolah rumah tetapi pemahaman mereka tentang model-model homeschooling kurang memadai, rata-rata mengenal dua model homeschooling. Ini membuktikan bahwa kurangnya informasi tentang homeschooling ini membuat banyak orang tidak memahaminya. Selanjutnya penggunaan model homeschooling dalam pembelajaran PAK menunjukkan hal yang positif di mana dalam setiap anak sebelum memulai pembelajaran setiap hari diwajibkan untuk menghafal ayat-ayat Alkitab, saatteduh dan doa bersama di dalam kelas.Mengingat pentingnya homeschooling, maka perlu ada solusi yang segera dilakukan yaitu mengadakan seminar dan pelatihan kepada guru dan orang tua supaya lebih memahami pentingnya homeschooling dan model-model homeschooling. Dengan demikian homeschooling menjadi sebuah pilihan alternatif dan pertimbangan bagi orang tua untuk kebutuhan pendidikan anak.Kata kunci: Model homeschooling, pembelajaran PAK
EVALUASI IMPLEMENTASI PAK KELUARGA DI GKRI JEMAAT DIASPORA CAWANG JAKARTA TIMUR Nova Ritonga; Djoys A. Rantung
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.53 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1538

Abstract

PAK keluarga merupakan pendidikan yang sangat penting bagi seluruh anggota keluarga. Melalui PAK keluarga, seluruh anggota keluarga dapat mengenal dan memahami Allah yang disembah dan memampukan seluruh keluarga hidup sesuai dengan firman Allah serta dapat menjadi teladan bagi sesama. PAK keluarga tidak lepas dari peran orang tua sebagai pribadi yang diberi tanggung jawab oleh Allah dalam mengupayakannya, selain orang tua seluruh anggota keluarga juga memiliki peran yang sangat penting. Untuk itu dibutuhkan komitmen dari seluruh keluarga sehingga PAK keluarga dapat terwujud. PAK keluarga yang telah diimplementasikan perlu dievaluasi secara berkala untuk mengetahui proses dan manfaat implementasi PAK itu sendiri. Evaluasi dilakukan mencakup unsur-unsur PAK keluarga, seperti: pengajar, peserta didik, kurikulum, metode, sarana, lingkungan, dan pendanaan.Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) keluarga di GKRI Jemaat Diaspora Cawang.Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan evaluasi. Model evaluasi yang digunakan adalah model CIPP (context, input, process, dan product). Sampel ditetapkan menggunakan model sampel bertujuan (purposive sampling). Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 keluarga yang terdiri orang tua dan anak. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, sedangkan teknik analisis data menggunakan model deskripsi analitis.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa pemahaman keluarga tentang PAK keluarga sudah memadai. Evaluasi konteks (contect) dihasilkan bahwa pemahaman dan penguasaan orang tua tentang landasan PAK keluarga pada kategori kurang baik, pemenuhan kebutuhan PAK keluarga bagi anak pada kategori baik. Evaluasi masukan (input) ketersediaan pendidik dan peserta didik pada kategori sangat baik (100%), sarana yang digunakan cukup memadai, orang tua mengetahui berbagai strategi PAK keluarga, perencanaan dana dalam kategori sangat tidak baik.Evaluasi proses (process) implementasi PAK keluarga berada pada kategori baik, belum memiliki dan menggunakan kurikulum (buku), penggunaan bahan ajar masih minim. Strategi yang digunakan tergolong memadai, dan orang tua berperan dengan baik. Dari evaluasi hasil (product) ditemukan bahwa keluarga memperoleh hasil yang baik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa keluarga belum memahami pentingnya evaluasi implementasi PAK keluarga.Kata kunci: evaluasi, implementasi, Pendidikan Agama Kristen (PAK) keluarga.
KEPEMIMPINAN PENDETA PEREMPUAN DI LINGKUP SINODAL GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT (GPIB): SUATU TINJAUAN TEOLOGIS-PEDAGOGIS Nova Linda Romeantenan; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.466 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1539

Abstract

Kepemimpinan sangat penting bagi kelangsungan pelayanan gereja. Kepemimpinan yang baik akan sangat bergantung pada tingkat komitmen, konsistensidan kesediaan menerima konsekuensi pelayanan dalam kerendahan hati, sehingga menyebabkan mereka yang dipimpin melakukan serangkaian tindakan dengan penuh kesadaran guna mencapai tujuan yang telah disepakati. Kepemimpinan pendeta perempuan secara teoritis diartikan sebagai kemampuan seorang pendeta perempuan dalam menggerakkan atau mempengaruhi jemaat dan dirinya menuju suatu tujuan dengan visi tertentu, dan mentransformasi komunitasnya sehingga kondisinya semakin baik.Penelitian dilaksanakan di kantor Majelis Sinode GPIB dengan teknik pengumpulan data deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara,observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keadaan yang sebenarnya dari kepemimpinan pendeta perempuan di lingkup sinodal GPIB. Sampel yang digunakan adalah model sampel bertujuan (purposive sampling). Informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yang terdiri dari 7 orang fungsionaris Majelis Sinode dan 6 orang perangkat-perangkat Majelis Sinode GPIB, yang terdiri dari 4 pendeta perempuan, 1 penatua perempuan dan 1 pendeta laki-laki. Kemudian dilakukan analisis untuk melihat kendala dan cara pendekatan agar dengan tinjauan teologis-pedagogis ini dapat mencapai tujuan yang diharapkan.Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kepemimpinan pendeta perempuan di GPIB dibangun berdasarkan Alkitab di mana perempuan dan laki-laki diciptakan segambar dengan Allah (Kej. 1:27). Artinya, laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah yang diciptakan setara dan sederajat. Pendeta perempuan dan pendeta laki-laki tidak ada perbedaan dalam hal kepemimpinan di lingkup sinodal GPIB. GPIB sebagai lembaga sangat terbuka dan memberikan peluang yang sangat luas kepada pendeta perempuan untuk membangun dan mengembangkan dirinya melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan. GPIB sebagai lembaga sudah sangat maju dan terbuka memberikan peluang untuk perempuan memimpin di lingkup struktural sinodal GPIB.Pendeta perempuan sebagai pelaku sejarah telah berperan di ruang publik dan domestik. Peran domestik dan peran publik sudah ikut mempengaruhi perubahan pada kepemimpinan di GPIB. Meskipun dalam kepemimpinan pendeta perempuan banyak tantangan, tetapi pendeta perempuan GPIB telah mempengaruhi gerak menggereja menurut konteksnya.Kata kunci: kepemimpinan, pendeta perempuan, tinjauan teologis-pedagogis.
HUBUNGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN PERAN PENDETA DENGAN PERTUMBUHAN ROHANI JEMAAT GSJA KALIMANTAN TENGAH Dirk Roy Kolibu; Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.007 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1571

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan pendidikan agama Kristen dan peran pendeta dengan pertumbuhan rohani jemaat GSJA Kalimantan Tengah menggunakan metode penelitian survei dengan pendekatan korelasional. Hasil survei dengan pendekatan korelasional tersebut akan dianalisis dengan menggunakan jalur (path analysis). Untuk melakukan analisis jalur, diperlukan persyaratan adanya hubungan linear yang signifikan antara setiap dua variabel. Sedangkan guna penyelesaian perhitungan koefisien jalur, terlebih dahulu harus dilakukan analisis korelasi dan regresi tiap dua variabel. Selanjutnya guna menghitung koefisien jalur digunakan koefisien korelasi product moment antara tiap dua variabel penelitian. Sedangkan persyaratan yangharus dipenuhi sebelum melakukan analisis kausal adalah adanya hubungan antara tiap dua variabel di dalam kausal tersebut adalah linear. Sampel penelitian ini berjumlah 86 jemaat GSJA Sinode Wilayah Palangkaraya dan Tamyanglayang Kalimantan Tengah yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu, pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang adadalam populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji t), nilai signifikan variabel X1 (Pelaksanaan PAK ) terhadap Pertumbuhan Rohani remaja adalah sebesar 0,155 dengan koefisien regresi sebesar 0,176. Jika dilakukan melalui pengontrolan terhadap maka diperoleh hasil bahwa hubungan tersebut ternyata positif 0,019. (2) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji t), nilai signifikan variabel X2 (Peran Pendeta) terhadap Pertumbuhan Rohani Jemaat adalah sebesar 0,007 dengan koefisien regresi bertanda positif sebesar 0,334. Jika hubungan Peran Pendetadengan Pertumbuhan Rohani dilakukan melalui pengontrolan terhadap Pelaksanaan PAK, maka diperoleh hasil bahwa hubungan tersebut ternyata positif 0,401. (3) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji F), nilai signifikan adalah sebesar 0,022. Oleh karena nilai signifikan yang diperoleh > 0,05 dan koefisien regresi bertanda negatif.Kata kunci: Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen, Peran Pendeta, dan Pertumbuhan Rohani.
KONSEP “JANGAN MEMBUNUH” DALAM KONTEKS PENDAMPINGAN PRAJURIT TNI GRUP I KOPASSUS DI GPIB ABRAHAM SERANG:: KAJIAN PEDAGOGIS, TEOLOGIS, ETIS, DAN PSIKOLOGIS George Ronald Noya; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.548 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI Grup 1 Kopassus warga jemaat GPIB “Abraham” Serang, sebagai bentuk pendampingan PAK bagi mereka saat akan menjalankan tugas di wilayah konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada informan yang berprofesi sebagai prajurit TNI grup 1 Kopassus dan pernah bertugas di wilayah konflik. Peneliti pun melakukan recheck terhadap hasil temuannya. Penelitian ini dapat memberi gambaran tentang pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI grup 1 Kopassus dari sudut pandang Teologis, Etika, dan Psikologi, gunamewujudkan pendampingan PAK yang relevan dan kontekstual di tengah penugasan yang dijalani oleh prajurit TNI Grup 1 Kopassus di wilayah konflik.Kata Kunci: Jangan membunuh, pendampingan, Prajurit TNI, Pedagogis, Teologis, Etis, Psikologis
MEMBANGUN DAN MENANAM: HERMENEUTIK NARASI PEMANGGILAN YEREMIA DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KELUARGA Sukanto Limbong
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.725 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1573

Abstract

Penulis kitab Yeremia meletakkan dua kata yang berbeda, ‘membangun’ (banah) dan ‘menanam’ (nata') ke dalam satu horison yang sama, sebagai langkah utama dalam merevitalisasi kehidupan Israel yang sedang mengalami kehancuran masif. Kehancuran yang tidak hanya secara fisik berupa bangunan rumah dan kota, tetapi juga kehancuran kehidupan itu sendiri, seperti matinya ekonomi secara total. Melalui metode pendekatan penafsiran historis kritis, dengan menganalisis teks dan konteks sejarah dari teks diperoleh gambaran bahwa metafora ‘membangun’ dan ‘menanam’ dalam teks mengandung gagasan holistik, bukan pembangunan sebatas fisik. Pembangunan yang sifatnya mendasar (substansial) bukan sebatas kulit dan permukaan (superficial), serta melalui pendekatan teologi kontekstual dua kata dalam narasi pemanggilan Yeremia tersebut berimplikasi konstruktif terhadap penguatan fungsi keluarga Kristen sebagai basis pengajaran pendidikan agama Kristen yang strategis, layaknya hubungan ‘kandungan’ dan ‘kerahiman’ yang ‘sedarah’ dan ‘searah’ yang tampak melalui teks. Kata kunci: Membangun, menanam, pendidikan agama Kristen, panggilan, keluarga
PERJUMPAAN TRANSFORMATIF YESUS DENGAN PEREMPUAN Raulina Siagian
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.989 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1574

Abstract

Sebagai makhluk sosial, setiap orang pasti dan akan selalu mengalami perjumpaan dengan sesamanya. Manusia akan menemukan banyak kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan orang lain. Namun sebagian orang bisa mengalami perjumpaan yang berulang di kurun waktu yang lama dengan orang-orang tertentu, namun perjumpaan tersebut tidak memberi dampak yang signifikan bagi hidupnya. Artinya perjumpaan itu hanya sebatas rutinitas tanpa makna. Sementara itu, bagi yang lain, perjumpaannya dengan orang lain, meski dalam waktu yang relatif singkat, ternyata dapat memberi makna yang dalam baginya. Perjumpaan itu bahkan dapat memberi pengaruh besar bagi dirinya. Perjumpaan itu dapat mentransformasi dirinya, dapat menimbulkan perubahan paradigm berpikir, perubahan pemahaman, perubahan perasaan bahkan perubahan sikap hidup. Melalui perjumpaan tersebut ada nilai-nilai tertentu yang saling dibagikan dan memberi pengaruh positif bagi kehidupan antarpribadi yang saling berjumpa tersebut.Perjumpaan transformatif itu sudah dialami para perempuan bersama dengan Yesus. Dalam perjumpaan-Nya dengan para perempuan Yesus sudah menghadirkan perubahan besar di tengah-tengah kemarginalan yang dialami perempuan. Yesus menghargai perempuan dan menempatkannya setara dengan laki-laki. Yesus membuka ruang bagi perempuan untuk berperan aktif di tengah-tengah misi yang dikerjakan-Nya dan yang selanjutnya dikerjakan oleh para murid-Nya.Kiranya perjumpaan transformatif itu dapat menjadi dasar berpijak bagi para perempuan di masa kini untuk melanjutkan langkah dan perjuangan demi kehidupan yang lebih baik. Tantangan dan kesulitan tidak menjadi alasan untuk berhenti melainkan menjadi motivasi untuk semakin kreatif mencari dan mencipta peluang-peluang yang baik untuk berkembang serta semakin dinamis menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah-tengah kehidupan bersama dengan orang lain.Kata Kunci: Perjumpaan, transformatif, perempuan
PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTERED LEARNING (SCL) PADA SEKOLAH MINGGU Wahju Astjarjo Rini
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.893 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1575

Abstract

Tulisan ini bermaksud menawarkan sebuah alternatif pembelajaran di Sekolah Minggu melalui pendekatan Student Centered Learning (SCL). Model pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang memberdayakan peserta didik menjadi pusat (center) selama proses pembelajaran berlangsung. Sekolah Minggu merupakan salah satu media pembelajaran untuk mengenalkan anak kepada Tuhan dan beriman kepada-Nya. Masa anak-anak merupaka periode yang ideal bagi seorang anak untuk tetap beriman kepada Tuhan sampai dengan dewasa. Riset yang dilakukan oleh Barna Research Group (BRG) pada tahun 2001, 61 % memperlihatkan bahwa orang dewasa yang saat ini setia beribadah di gereja adalah mereka yang dahulu dengan setia mengikuti Sekolah Minggu. Adapun metode yang digunakan dalam pengembangan artikel ini adalah metode studi pustaka, yaitu dengan membaca tulisan-tulisan dari berbagai sumber yang relevan. Hasil yang dapat diperoleh dari penulisan artikel ini adalah, ditengah-tengah perkembangan jaman modern ini, pendekatan SCL pada Sekolah Minggu dapat diterapkan, melalui pemahaman kerativitas guru terhadap setiap tahapan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek ini dapat disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada murid untuk dapat mengenalkan ketaatan kepada Allah, memiliki iman intuitif-projektif, yang dengannya anak dapat memahami kasih, rasa aman, disiplin, sukacita dan penyembahan kepada Tuhan. Selanjutnya adalah iman, pada masa akhir kanak-kanak, ketika seorang anak biasanya memercayai sesuatu yang dipercayai orang tuanya, belajar secara aktif untuk membagikan pengalaman serta dialog, atau bermain peran dalam bentuk sandiwara bahkan menjadi reporter. Selanjutnya dari ranah kognitif, yakni seorang anak memasuki ranah analisis, ketika ia menerima informasi yang dibagikan oleh teman-temannya dalam bentuk cerita sederhana, dan sintesis, serta evaluatif. Secara afektif diarahkan ke sikap dimana murid siap menerima nilai-nilai yang diyakininya, serta murid mulai menyikapi karakterisasi nilai yang akan dijadikan bagian nilai-nilai dari pola hidupnya. Dari aspek psikomotorik, anak dapat diarahkan kepada gerakan presisi, yakni gerakan yang tepat atau akurat.Kata kunci: Student Centered Learning (SCL), kognitif, afektif, psikomotorik.

Page 3 of 12 | Total Record : 111