cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta" : 16 Documents clear
Persentase Penyakit yang disebabkan oleh Jamur pada Buah Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Bella Ajeng Ayu Kirana; Eddy Tri Sucianto; Aris Mumpuni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3389

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan cabai merah kian hari terus meningkat karena banyaknya yang memanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis makanan. Cabai merah juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi. Penduduk di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga umumnya berprofesi sebagai petani. Para petani mengalami beberapa kendala dalam meningkatkan produksi tanaman cabai merah (C. annuum L.) karena adanya organisme pengganggu tanaman seperti hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah (C. annuum L.), mengetahui jamur yang menyebabkan penyakit pada buah cabai merah (C. annuum L.) serta mengetahui besarnya nilai persentase penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah (C. annuum L.) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai dengan pengambilan sampel secara random sampling pada 2 lokasi berbeda di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Identifikasi penyakit dilakukan dengan melihat tanda dan gejala. Identifikasi jamur dilakukan dengan melihat karakterisitik secara mikroskopis dan makroskopis, kemudian dihitung persentase penyakit pada buah cabai merah (C. annuum L.), selanjutnya dilakukan uji Postulat Koch. Hasil penelitian ini diperoleh satu jenis penyakit yang terdapat pada buah cabai merah (C. annuum L.) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yaitu penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Persentase penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp sebesar 51,1%.
Penentuan Kualitas Air Waduk Cacaban, Tegal, Jawa Tengah Berdasarkan Parameter Mikrobiologi Fitri Amaliah; Diana Retna Utarini Suci Rahayu; Dyah Fitri Kusharyati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3496

Abstract

Waduk Cacaban terletak di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Waduk Cacaban merupakan tempat yang banyak kegiatan manusia seperti kegiatan domestik, industri, dan kegiatan lainnya yang berdampak negatif terhadap sumberdaya air dan dapat menurunkan kualitas air. Salah satu cara untuk mengetahui kualitas perairan adalah berdasarkan analisis bakteri coliform. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kualitas air Waduk Cacaban berdasarkan parameter mikrobiologi, dan menentukan status perairan Waduk Cacaban berdasarkan Indeks Pencemaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, sedangkan metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling pada 3 stasiun (dermaga, inlet, dan keramba) dengan 2 kali pengambilan setiap stasiunnya. Parameter yang diamati yaitu bakteri coliform dan fecal coli dengan parameter pendukung yaitu pH, temperatur, dan Total Dissolved Solid (TDS). Analisis dilakukan berdasarkan parameter mikrobiologi sesuai standar dari SNI 06-4158-1996 dan status Waduk Cacaban berdasarkan Indeks Pencemaran sesuai KepMen LH Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Perairan Waduk Cacaban memiliki temperatur berkisar antara 29,2 – 32,6˚C, TDS 137 - 156 mg/L. pH 6, total Coliform 565 – 2850 CFU/100 mL, dan fecal coli 0 – 425 CFU/100 mL. Status pencemaran pada dermaga Waduk Cacaban (inlet, dermaga, dan keramba) dalam kondisi baik dan memenuhi baku mutu.
Pendugaan Daerah Potensial Penangkapan Ikan Lemuru (Sardinella sp.) Berdasarkan Klorofil-a Di Perairan Selat Bali Rais Fikri Azhari; Dinarika Jatisworo; Rose Dewi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3495

Abstract

Perairan Selat Bali merupakan daerah yang kaya sumberdaya ikan. Ikan Lemuru (Sardinella sp.) merupakan hasil perikanan paling dominan di perairan Selat Bali. Hampir 80% hasil penangkapan ikan di perairan Selat Bali berupa Lemuru. Pada kegiatan penangkapan, penentuan lokasi penangkapan merupakan aspek yang penting. Lokasi ikan lemuru, sangat ditentukan oleh kondisi perairan seperti konsentrasi klorofil-a. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui konsentrasi klorofil-a, hasil tangkapan ikan lemuru di perairan Selat Bali tahun 2014-2019, serta hubungan konsentrasi klorofil-a dengan hasil tangkapan ikan lemuru, dan mengetahui pola distribusi klorofil-a dari 2014-2019 sebagai pendugaan daerah penangkapan di perairan Selat Bali. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data klorofil-a dari satelit Aqua MODIS Level 3, dan data hasil tangkapan ikan lemuru tahun 2014-2019. Metode yang digunakan adalah metode observasi yaitu mengamati gejala-gejala secara sistemastis untuk menemukan sebuah fakta. Rata-rata konsentrasi klorofil-a setiap bulan selama 2014-2019 didapatkan nilai berkisar 0.196 mg/m3 - 2.268 mg/m3 Rata-rata hasil tangkapan setiap bulan selama 2014-2019 berkisar 190 ton – 1.202 ton. Hasil uji korelasi pearson antara klorofil-a dan hasil tangkapan menunjukkan nilai -0.026 yang berarti berbanding terbalik.
Komposisi Jenis dan Kepadatan Rumput Laut Hydrokoloid berdasarkan Karakteristik Dasar Perairan di Daerah Intertidal Nusakambangan Timur Cilacap Dwi Sunu Widyartini; Achmad Ilalqisny Insan; Kamsinah kamsinah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3568

Abstract

ABSTRACT Hydrocolloid seaweed is seaweed which contains agar, carrageenan and alginate, which are widely used as industrial raw materials. This study aims to determine the type composition of hydrocolloid seaweed and its density based on the characteristics of the bottom waters in the intertidal area of ​​East Nusakambangan Cilacap. The waters of East Nusakambangan have a central coral beach and a hollow coral beach which has a substrate in the form of sand, coral, volcanic rock, and coral fragments. This study used a survey method and sampling using a transect, a perpendicular line of the coast towards the sea, each transect line was placed with a quadrant plot (1 x 1m2) randomly selected on hard and soft substrates. The results of this study, the coral substrate on the two beaches obtained 2-8 types of hydrocoloid seaweed, with the highest composition of seaweed species of 57.6% on hard substrate with the highest density in the Gracilaria gigas species; 440.6-1239.7 g / m2, Gracilaria gigas has a Dichotomus branching type with a cylindrical talus shape. In the mixed substrate on the coast of Karang Tengah, there were 4 types of Hydrocoloid seaweed with a composition of 46.3% hydrocoloid species with the highest density in the species Padina australis; 387.7g / m2. Padina australis sheet and unbranched talus form Keywords: hydrocolloid, composition, East Nusakambangan, Intertidal
Pengaruh Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran terhadap Kemunculan Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Melon (Cucumis melo L.) Nadya Sofia Siti Sa'adah; Uki Dwiputranto; Aris Mumpuni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2661

Abstract

Cucumber (Cucumis sativus L.) and Melon (Cucumis melo L.) are examples of vegetables and fruit that are widely consumed by the community, and also have many benefits. The market demand for cucumbers and melons is very high. Therefore the production should meet the demand. There are several problems in production, and one of them is wilt caused by Fusarium. Conventionally, the use of synthetic fungicides is considering as the right solution for controlling fusarium wilt. However, taking into account the harmful effects of these fungicides, the use of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) is a choice made. This study used a Completely Randomized Design (CRD) of mixed AMF inoculums (0, 5, 10, 15, 20 g FMA with zeolite/plant carrier medium). The main parameters observed were disease intensity, while the supporting parameters observed were pH, temperature, air humidity, disease incubation period, and degree of infection. The data obtained were analyzed using a Variety Test (F test) with a Standard Error of 5%. Based on the research result, plants which are inoculated by mycorrhizae inoculum is more resistant to fusarium wilt disease. The optimal dose of AMF mixture to reduce the intensity of fusarium wilt in cucumber (Cucumis sativus L.) plants is M3BT (AMF inoculation of 15 g / plant mixture), and melon (Cucumis melo L.) is M2BM (10 g / plant AMF mixture inoculation)
Identifikasi Jamur Penyebab Penyakit pada Tanaman Sawi Putih (Brassica rapa L.) dan Persentase Penyakitnya di Desa Serang Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga Siti Hanifah Nur Apriliani; Eddy Tri Sucianto; Endang Sri Purwati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3394

Abstract

Sawi putih (Brassica rapa L.) adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daunnya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi putih termasuk ke dalam tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Beberapa spesies dari genus Brassica memiliki kemiripan satu sama lain. Sawi memiliki kandungan nutrisi seperti kalsium, asam folat, dan magnesium serta vitamin A, B, C, E, dan K. Petani di desa Serang memiliki masalah tidak hanya di bidang biaya produksi, tetapi juga pernah mengalami kegagalan panen akibat penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme, sehingga perlu adanya pengendalian untuk meningkatkan produktivitas tanaman sawi putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman sawi putih, mengetahui jamur yang menyebabkan penyakit pada tanaman sawi putih serta mengetahui persentase kemunculan jamur penyebab penyakit pada tanaman sawi putih di desa Serang Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling pada dua lokasi yang berbeda di Desa Serang Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Identifikasi penyakit dilakukan dengan melihat tanda serta gejala secara makroskopis, sedangkan jamur penyebab penyakit diamati karakter mikromorfologi dan makromorfologinya. Identifikasi, dilanjutkan dengan Postulat Koch. Hasil penelitian di Desa Serang Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga didapatkan jenis penyakit pada tanaman sawi putih adalah penyakit layu daun dan bercak daun. Penyakit layu daun disebabkan oleh jamur Fusarium sp. dan penyakit bercak daun disebabkan oleh Botryodiplodia sp. Penyakit yang paling banyak muncul pada tanaman sawi putih yaitu penyakit layu daun oleh Fusarium sp dengan frekuensi kemunculan sebanyak 199 kali dan persentase penyakit sebesar 50,95% dan frekuensi kemuncula untuk bercak daun Botryodiplodia sp. sebanyak 70 kali dan persentase penyakit sebesar 17,9%.
Aplikasi Jamur Pelapuk Putih pada metode Biopulping berbahan dasar Limbah Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) Syifa Mubarrak; Aris Mumpuni; Nuraeni Ekowati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3386

Abstract

biopulping limbah daun kayu putih lama dan limbah daun kayu putih baru dan mengetahui JPP terbaik untuk proses biopulping limbah daun kayu putih. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berupa menginokulasikan JPP (Phanerochaete chrysosporium, Ganoderma lucidum, dan Pleurotus tuberregium), tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas berupa jenis JPP yang berbeda dan umur limbah, variabel terikat berupa kemampuan biodelignifikasi JPP pada limbah daun kayu putih. Parameter utama yang diamati adalah kadar lignin dan kadar selulosa sebelum dan sesudah masa inkubasi daun kayu putih. Parameter pendukung yang diamati adalah berat limbah sebelum dan sesudah inkubasi, pH, dan Berat Media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lignin dan selulosa pada seluruh perlakuan. Hasil rata-rata penurunan kadar lignin terbesar yakni pada perlakuan jamur P. tuberregium terhadap limbah daun kayu putih lama sebesar 0,014%. Penurunan kadar selulosa akhir tertinggi pada perlakuan jamur terbesar adalah pada jamur G. lucidum terhadap limbah daun kayu putih lama mengalami rata-rata penurunan selulosa terbesar 3,22%.
Polymerase Chain Reaction (PCR), Immunoassay dan Repon Imunitas Penderita SARS nCoV-2, Sebuah Narasi Asry Adhin; Farhatush Shoalihat
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3666

Abstract

Data kasus COVID-19 di Indonesia berdasarkan informasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 per tanggal 12 Desember 2020 tercatat sejumlah 617,820 kasus terkonfirmasi positif dengan angka kesembuhan sebanyak 505,836 kasus dan 18,819 pasien meninggal, sementara di Provinsi NTB berdasarkan data pertanggal 10 Desember 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif mencapai 4.987 kasus dengan 144 pasien meninggal, sedangkan Kota Bima menyumbang 455 kasus positif dengan 13 pasien meninggal (Gugus Tugas COVID-19 Prov. NTB., 2020). Persentase laki-laki pada kasus COVID-19 dengan kondisi parah dan kritis lebih tinggi daripada perempuan dengan persentasi kesembuhan yang maksimal terjadi pada kasus ringan (tanpa comorbid) dengan tingkat antibodi IgG lebih tinggi dan level IgM menurun secara bertahap ketika pasien dinyatakan sembuh (Hongyan et al., 2020). Aspek kunci untuk membatasi penyebaran virus adalah memastikan diagnosa cepat dan akurat terhadap infeksi virus dan memberikan jenis karantina yang sesuai bagi pasien terinfeksi. Metode deteksi dengan qPCR atau sequencing sering gagal untuk mendeteksi infeksi virus jika pengumpulan spesimen tidak optimal. Hal ini dikarenakan viral load rendah pada stadium awal, viral load disupresi imun host atau sampel diambil pada tahap terakhir dari perjalanan infeksi (Na et al., 2020) sehingga diperlukan metode deteksi yang cepat dan akurat. Tes serologis diharapkan berfungsi sebagai pendekatan diagnosa yang lebih cepat ketika terdapat limitasi pada pemeriksaan asam nukleat dengan PCR (Fei et al. 2020). Hal yang perlu menjadi perhatian pada pemeriksaan berbasis serologi termasuk pada pemeriksaan COVID-19 adalah perlunya mempelajari respon imun yang terbentuk pasca infeksi virus yang kemungkinan berbeda pada setiap manusia (Yufang et al., 2020).
Pengaruh Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran terhadap Kemunculan Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Melon (Cucumis melo L.) Siti Sa'adah, Nadya Sofia; Dwiputranto, Uki; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2661

Abstract

Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Melon (Cucumis melo L.) merupakan contoh dari sayuran dan buah yang banyak di konsumsi oleh masyarakat, serta juga memiliki banyak manfaat. Permintaan pasar untuk mentimun dan melon sangat tinggi, maka produksi harus mengikuti tingginya permintaan pasar. Ada beberapa permasalahan dalam produksi, salah satunya adalah penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium. Secara konvensional, penggunaan fungisida sintetik dianggap sebagai solusi yang tepat untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. Namun demikian, dengan mempertimbangkan dampak negatif dari fungisida tersebut, penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) menjadi alternatif pilihan yang dapat diaplikasikan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dosis berbeda dari inokulum FMA campuran (0, 5, 10, 15, 20 g FMA dengan medium pembawa zeolit / tanaman). Parameter utama adalah intensitas penyakit, sedangkan parameter pendukungnya adalah pH tanah, temperatur, kelembapan, masa inkubasi penyakit, dan derajat infeksi FMA terhadap akar tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji ragam (uji F) denganStandar Kesalahan 5%. Berdasarkan hasil penelitian, tanaman yang diinokulasi dengan inokulum mikoriza lebih tahan terhadap penyakit layu fusarium. Dosis optimal FMA campuran untuk mengurangi intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman mentimun adalah adalah M3BT (inokulasi FMA campuran 15 g/tanaman) dan melon adalah M2BM (inokulasi FMA campuran 10 g/tanaman)
Aplikasi Jamur Pelapuk Putih pada metode Biopulping berbahan dasar Limbah Daun Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) Mubarrak, Syifa; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3386

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur pelapuk putih (JPP) pada kadar lignin dan selulosa dalam proses biopulping limbah daun kayu putih lama dan limbah daun kayu putih baru dan mengetahui JPP terbaik untuk proses biopulping limbah daun kayu putih. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berupa menginokulasikan JPP (Phanerochaete chrysosporium, Ganoderma lucidum, dan Pleurotus tuberregium), tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas berupa jenis JPP yang berbeda dan umur limbah, variabel terikat berupa kemampuan biodelignifikasi JPP pada limbah daun kayu putih. Parameter utama yang diamati adalah kadar lignin dan kadar selulosa sebelum dan sesudah masa inkubasi daun kayu putih. Parameter pendukung yang diamati adalah berat limbah sebelum dan sesudah inkubasi, pH, dan Berat Media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lignin dan selulosa pada seluruh perlakuan. Hasil rata-rata penurunan kadar lignin terbesar yakni pada perlakuan jamur P. tuberregium terhadap limbah daun kayu putih lama sebesar 0,014%. Penurunan kadar selulosa akhir tertinggi pada perlakuan jamur terbesar adalah pada jamur G. lucidum terhadap limbah daun kayu putih lama mengalami rata-rata penurunan selulosa terbesar 3,22%.

Page 1 of 2 | Total Record : 16