cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
+6285876336907
Journal Mail Official
nersmuda@unimus.ac.id
Editorial Address
Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ners Muda
ISSN : -     EISSN : 27238067     DOI : https://doi.org/10.26714/nm
Core Subject : Health, Education,
Ners Muda is intended to be the university journal for publishing articles reporting the results of research and case study in nursing. Ners Muda invites manuscripts in the areas of medical-surgical nursing, emergency and disaster nursing, critical nursing, pediatric nursing, maternity nursing, mental health nursing, gerontological nursing, community health nursing, management and leadership nursing.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2024)" : 13 Documents clear
Menurunkan intensitas nyeri pemasangan arteriovena fistula pada pasien hemodialisis menggunakanteknik valsava maneuver Suramadhan, Suramadhan; Khoiriyah, Khoiriyah; Sukraeny, Nury; Armiyati, Yunie
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.12158

Abstract

Hemodialisis (HD) adalah pilihan utama dalam perawatan pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK). Sejak menjalani HD pasien biasanya mengalami dua kanulasi di fistula mereka dua kali per minggu dan mengalami nyeri jarum setidaknya 192 kali setahun. Nyeri pada pemasangan arteriovena fistula (AVF) merupakan sumber ketidaknyamanan yang dirasakan pasa pasien dalam menjalankan perawatan kesehatan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penurunan intensitas nyeri pemasangan arteriovena fistula pada pasien hemodialisis menggunakan teknik  valsava  meneuver. Jenis studi kasus ini adalah analisis deskriptif dengan metode singlecase . Subyek dalam studi kasus ini sebanyak 1 pasien dengan mengukur intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan valsava meneuver pada duakali periode hemodialisis dengan menggunakan instrumen numerical pain rating scale. Nyeri yang dialami subyek studi kasus sebelum tindakan valsava meneuver berada diskala 6 sedangkan nyeri yang dirasakan setelah tindakan valsava meneuver berada diskala 4. Valsava meneuver yang dilakukan dapat menurunkan intensitas nyeri pemasangan AVF pada pasien yang menjalani hemodialisis. Valsava meneuver dapat diterapkan pada pasien yang menjalani hemodialisis sebagai tindakan nonfarmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri pemasangan AVF.
Penerapan terapi brandt daroff untuk menurunankan resiko jatuh pada pasien benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) Ritun, Auliya Deseiz; Yanto, Arief
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.10539

Abstract

Pasien Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) banyak dijumpai di IGD RSUD KRMT Wongsonegoro dengan keluhan pusing berputar-putar. Tiga bulan terakhir ini angka kejadian BPPV di IGD RSUD KRMT Wongsonegoro sebanyak 25 kasus. Gangguan yang sering muncul pada BPPV adalah gangguan keseimbangan yang berisiko tinggi untuk mengalami jatuh. Salah satu terapi fisik non farmakologi yang dapat diterapkan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala BPPV ialah menggunakan terapi Brandt Daroff. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien BPPV dengan memberikan intervensi salah satunya terapi brandt daroff. Desain studi kasus ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek berjumlah dua orang, pengambilan kasus dilakukan di IGD RSUD KRMT Wongsonegoro. Terapi brandt daroff dilakukan maksimal 1 x 6 jam dengan dengan frekuensi pemberian terapi 1 set terdiri dari 5 kali gerakan dan dilakukan tiap 20 menit sekali. Pengukuran skala vertigo dan penilaian resiko jatuh dilakukan sebelum dan sesudah melakukan terapi brandt daroff. Alat ukur skala vertigo dan penilaian resiko jatuh menggunakan VSS SF dan MFS. Studi kasus ini menunjukan setelah dilakukan terapi brandt daroff pada kedua subjek studi kasus didapatkan hasil adanya penurunan skala VSS SF, sedangkan skala MFS belum mengalami penurunan setelah di berikan terapi brandt daroff karena latihan ini perlu dilakukan secara rutin dan waktu latihan yang lebih lama. Intervensi ini berpengaruh dalam mengurangi gangguan keseimbangan pada pasien BPPV.
Interdialityc exercise menurunkan interdialityc weight gain pada pasien hemodialisis Chasanah, Cahyaningrum; Lazuardi, Nugroho; Armiyati, Yunie; Sarinti, Sarinti
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.14020

Abstract

Peningkatan berat badan antar sesi dialisis atau yang dikenal interdialytic weight gain (IDWG) dapat menyebabkan komplikasi intradialisis. Komplikasi yang terjadi seperti hipotensi dan gangguan pernafasan tentu dapat mengancam nyawa. Latihan fisik/interdialytic exercise dapat menurunkan IDWG dan mengontrol berat badan, sehingga tujuan karya ilmiah ini adalah interdialytic exercise menurunkan interdialytic weight gain pasien Hemodialisis di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Desain studi kasus pada karya ilmiah akhir Ners ini adalah studi kasus multiple case dengan  mengaplikasikan intervensi interdialytic exercise pada pasien HD di RSUP Dr. Kariadi Semarang sebanyak 5 subjek. Latihan dilakukan 2 kali dalam setiap sesi dengan durasi latihan 20 menit dan konsisten sampai dengan 4 sesi. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kenaikan berat badan dengan indikator batas kenaikan tidak lebih dari 3%. Terdapat penurunan IDWG dari pre sesi 4,79% menjadi 0,15% di akhir sesi. Interdialityc exercise menurunkan IDWG pasien Hemodialisis di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan diharapkan kegiatan tersebut dapat dijadikan sebagai SOP untuk menunjang pelayanan keperawatan.
Efektifitas terapi bermain puzzle dalam menurunkan kecemasan anak usia pra sekolah akibat hospitalisasi Ayu Fibiyanti, Millenia Siska; Rahayu, Desi Ariyana; Hidayati, Eni
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.13987

Abstract

Hospitalisasi dapat menjadi faktor stress yang menimbulkan kecemasan pada anak karena menganggap dirinya kehilangan lingkungan yang aman dan hal tersebut dapat menghambat proses penyembuhan anak. Maka dari itu anak perlu mengalihkan rasa takut dan cemas sebagai koping dalam menghadapi cemas, salah satu terapi bermain yang sesuai dengan anak usia prasekolah adalah bermain Puzzle. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi bermain dalam menurunkan kecemasan anak akibat hospitalisasi. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Responden dalam studi kasus ini sejumlah 2 anak yang mengalami kecemasan ketika sedang hospitalisasi, dilakukan selama 3 hari durasi waktu 10-15 menit dengan langkah pretest – terapi bermain – posttest disetiap pertemuan. Menggunakan alat ukur Facial Image Scale (FIS). Berdasarkan studi kasus didapatkan bahwa terapi bermain puzzle menunjukkan penurunan kecemasan pada responden 1 dari tingkat kecemasan sedang ke tingkat kecemasan tidak cemas dan pada responden 2 dari tingkat kecemasan berat mengalami penurunan ke tingkat kecemasan ringan. Berdasarkan hasil studi kasus ini menunjukkan bahwa penerapan terapi bermain puzzle efektif dalam mengurangi kecemasan anak akibat hospitalisasi. Diharapkan dapat menjadi referensi terapi non-farmakologi yang diterapkan pada anak yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi.
Implementasi terapi relaksasi murottal terhadap tekanan darah pasien dengan chronic kidney disease Za'im, Putra Pramadita Fachruz; Ridla, Akhmad Zainur; Hakam, Mulia; Sugiharto, Achmad Sigit
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.14215

Abstract

Tekanan darah tinggi dan penyakit ginjal adalah dua masalah yang saling terkait karena tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat menyebabkan kegagalan ginjal atau sebaliknya, kegagalan ginjal menyebabkan tekanan darah tinggi. Selain terapi farmakologis, terapi non-farmakologis juga dapat dilakukan untuk dapat membantu mengatasi masalah tekanan darah tinggi pada pasien, salah satunya adalah dengan menggunakan terapi relaksasi murottal. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Dari hasil penerapan terapi murottal Al-Quran Surah Ar Rahman pada Ibu S. selama 3 hari, terlihat penurunan tekanan darah pada setiap intervensi. Pada hari pertama intervensi nilai tekanan darah turun dari 160/100 mmHg menjadi 140/90 mmHg dengan MAP 120 mmHg turun menjadi 107 mmHg. Pada hari keuda intervensi nilai tekanan darah turun dari 150/100 mmHg menjadi 135/90 mmHg dengan MAP 117 mmHg turun menjadi 105 mmHg. Pada hari ketiga intervensi nilai tekanan darah turun dari 145/95 mmHg menjadi 130/85 mmHg dengan MAP 112 mmHg turun menjadi 100 mmHg. Penurunan tekanan darah terjadi karena mekanisme murottal Al-Quran dalam tubuh, yaitu akan mengaktifkan dampak psikologis positif sebagai terapi relaksasi, yang akan merangsang sensasi relaksasi yang dihasilkan oleh murottal Al-Quran. Ketika otak diberi stimulus berupa suara, dan suara tersebut sebanding dengan frekuensi alami, sel akan beresonansi dan kemudian menjadi aktif serta memberikan sinyal ke kelenjar pituitari. Selanjutnya, tubuh akan melepaskan hormon endorfin. Kondisi ini akan membuat tubuh rileks sehingga akan terjadi penurunan epinefrin dan tekanan darah. Berdasarkan hasil penelitian, terapi murottal terbukti memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan pengembangan manajemen perawatan pasien Chronic Kidney Disease (CKD) dengan tekanan darah tinggi dan memberikan kontribusi terhadap kualifikasi pelayanan keperawatan yang lebih tinggi.
Penerapan terapi musik untuk mengurangi halusinasi pendengaran pada pasien dengan skizofrenia Erlanti, Silvi; Suerni, Titik
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.13163

Abstract

Halusinasi merupakan salah satu gejala dari gangguan persepsi sensori yang dapat dialami oleh penderita gangguan jiwa. Perubahan perilaku yang dapat muncul pada penderita halusinasi seperti tidak mampu membedakan keadaan nyata dan tidak nyataketakutan, khawatir, gelisah, bingung, perasaan tidak nyaman, kurang diperhatikan orang dan tidak mampu mengambil keputusan. Gangguan halusinasi dapat di atasi dengan terapi non farmakologi salah astunya yaitu terapi musik karen tidak dapat menimbulkan efek samping seperti obat-obatan, salah satu terapi non farmakologi yang lebih efektif adalah mendengarkan musik, terapi musik ini dilakukan selama 5 hari berturut-turut. Tujuan dari aplikasi ini adalah memberikan rasa tenang, membantu mengendalikan emosi serta menyembuhkan gangguan psikologi. Metode yang digunakan pada study kasus ini adalah dengan pendekatan asuhan keperawatan berupa pengkajian, merumuskan masalah, perencanaan, melakukan tindakan, dan evaluasi. Pendekatan pengukuran yang dipergunakan pre dan post menggunakan AHRS (Audiotory Hallucinations Rating Scale). Proses ini dilakukan selama 5 hari berturut-turut selama pagi dan sore hari selama 10-15 menit yang dilakukan pada 2 responden. Hasil evaluasi terjadi pasien  mengalami penurunan dan gejala setelah dilakukan terapi musik yang diterapkan oleh penulis. Penerapan terapi musik mampu terbukti menurunkan tanda gejala halusinasi pendengaran pasien.
Penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi menggunakan rebusan daun sirsak Ningrum, Putri Cahya; Rachmawati, Anita; Rejeki, Sri; Khayati, Nikmatul
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.13620

Abstract

Prevalensi hipertensi terutama pada kelompok lansia di Indonesia semakin meningkat mencapai 63,2%. Hipertensi yang tidak terkontrol bisa mengakibatkan komplikasi seperti gagal jantung, stroke, ginjal, dan sindrom metabolik hingga kematian. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan memberikan terapi non farmakologi berupa penerapan rebusan daun sirsak. Studi ini bertujuan untuk menerapkan rebusan daun sirsak agar menurunkan tekanan darah pada lansia. Metode penelitian yang digunakan adalah case report dengan multicase study melalui pendekatan asuhan keperawatan yang melibatkan 2 lansia yang mengalami hipertensi primer, berusia >45 tahun dan tidak sedang mengkonsumsi obat hipertensi. Daun sirsak direbus dengan 300ml air dan 10 gram daun sirsak selama 15 menit menggunakan api kecil hingga tersisa 150 ml. Kemudian air disaring dan disajikan selagi hangat. Intervensi diberikan dua kali sehari pagi dan sore selama tujuh hari. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan tensimeter digital dengan jeda waktu 5 menit sebelum dan 30 menit setelah intervensi. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah pada kedua subjek dengan nilai rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebesar 9,92 mmHg sedangkan diastolik sebesar 3,55 mmHg. Berdasarkan kesimpulan tersebut saran yang dapat diberikan yaitu meningkatkan partisipasi keluarga dalam penerapan rebusan daun sirsak untuk menurunkan tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi.
Intervensi kompres ekstrak daun binahong untuk mengatasi pruritus dan meningkatkan integritas kulit pada lansia dermatitis Lewuk, Maria Ansila Banun; Nababan, Sudarwati
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.14009

Abstract

Dermatitis atopik adalah peradangan kronik dengan gejala kulit kering, kemerahan dan pruritus yang mendorong seseorang untuk menggaruk, menimbulkan lesi rekuren yang dapat mengganggu kualitas hidup lansia. Penatalaksanaan keperawatan dermatitis dengan intervensi prinsip Observasi, Terapi, Edukasi dan Kolaborasi (OTEK) penerapan terapi kompres dingin ekstrak daun binahong. Studi ini bertujuan untuk mengatasi pruritus dan meningkatkan integritas kulit lansia dermatitis. Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan. Subjek studi kasus adalah lansia dermatitis. Subjek sebanyak 2 orang yang diambil dengan kriteria inklusi. Pemberian kompres dingin ekstrak daun binahong dilakukan 2 kali sehari selama 2 minggu. Setiap kali kompres dilakukan selama 20 menit. Instrumen untuk menentukan tingkat keparahan pruritus menggunakan kuesioner baku Pruritus Saverity Scale (PSS). Hasil studi diketahui bahwa ada penurunan poin skala tingakat keparahan pruritus dan peningkatan integritas kulit, setelah penerapan terapi. Kompres dingin ekstra daun binahong sebagai alternatif terapi yang dapat menurunkan tingkat keparahan pruritus dan meningkatkan integritas kulit.
Penurunan nyeri leher dengan terapi kompres hangat pada pasien penyakit ginjal kronis yang mengalami hipertensi di ruang hemodialisa Santie, Firda Nur Rahma; Warsono, Warsono
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.10578

Abstract

Tingginya kejadian penyakit ginjal kronik di Indonesia menjadi perhatian khusus apabila tidak tertangani dengan baik. PGK dapat menyebabkan hipertensi karena adanya iskemia pada organ ginjal. Apabila penderita telah mengalami gagal ginjal stage 4/5 maka akan memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialysis atau transplantasi ginjal. Saat proses hemodialisa pasien PGK yang mengalami hipertensi sering merasakan nyeri leher akibat menyempitnya pembuluh darah di area leher. Salah satu intervensi komplementer yang dapat dilakukan berupa kompres hangat. Tujuan studi kasus ini penulis ingin mengetahui penurunan nyeri leher pada pasien PGK yang mengalami hipertensi di ruang hemodialisa. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek kasus ini yaitu pasien hemodialisa yang berjumlah 2 orang. Dengan kriteria inklusi nyeri leher dan pasien PGK yang mengalami hipertensi saat proses hemodialisa. Kompres hangat dilakukan dengan meletakkan kantung buli-buli berisi air hangat dengan suhu 45-50°C pada leher belakang subjek studi kasus selama 15 menit. Hasil intervensi menunjukkan bahwa subjek studi kasus 1 mengalami penurunan skala nyeri menjadi 3 sesudah diberikan kompres hangat dan pada subjek studi kasus 2 mengalami penurunan skala nyeri menjadi 5 sesudah diberikan kompres hangat . Kompres hangat dapat menurunkan nyeri leher pada subjek studi kasus PGK yang mengalami hipertensi di ruang hemodialisa.
Penerapan mobilisasi dini terhadap penurunan skala nyeri pasien pasca operasi bedah laminectomy Widyaningrum, Tri; Vranada, Aric
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v5i1.14181

Abstract

Tindakan pembedahan khususnya kasus dengan Laminectomy memiliki angka kejadian yang signifikan. Pasien yang menjalani pembedahan akan merasakan beberapa keluhan seperti nyeri pada luka operasi, kemudian berkembang menjadi ketakutan untuk melakukan pergerakan atau mobilisasi dini sehingga dapat menghambat dalam akitivas keseharian pasien. Tujuan dari studi kasus ini untuk mendeskripsikan penerapan mobilisasi dini terhadap penurunan skala nyeri pasien pasca operasi bedah laminectomy. Metode studi yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan berbasis pembuktian berdasarkan artikel yang telah di publikasi. Subyek dalam studi ini adalah pasien 24 jam pasca operasi laminectomy dan dalam keadaan sadar penuh serta mampu berkomunikasi secara verbal. Subyek berjumlah 3 pasien diberikan intervensi mobilisasi dini kemudian diobservasi tingkat nyeri dan hemodinamik sebelum dan setelah dilakukan mobilisasi dini dengan instrument numeric rating scale. Hasil studi kasus menunjukkan penerapan mobilisasi dini menurunkan tingkat nyeri dari nyeri sedang ke nyeri ringan, perubahan hemodinamik serta status fungsional pasien pasca bedah laminectomy. Diharapkan perawat dapat optimal dalam melakukan intervensi terhadap respon nyeri yang dirasakan pasien pasca bedah laminectomy salah satunya dengan mobilisasi dini.

Page 1 of 2 | Total Record : 13