cover
Contact Name
Thomas S. Iswahyudi
Contact Email
tom_wahyudi@staff.ubaya.ac.id
Phone
+6231-2981344
Journal Mail Official
rahmanfibri@staff.ubaya.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalirungkut - Surabaya 60293 Gedung Perpustakaan Lt. 4
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Published by Universitas Surabaya
ISSN : -     EISSN : 27156419     DOI : https://doi.org/10.24123/kesdok
Core Subject : Health, Agriculture,
The term Keluwih comes from keluwih leaf which is one of the symbols of the University of Surabaya. In this symbol, keluwih leaf means high ideals of knowledge (Linuwih). Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (Keluwih: Journal of Health and Medicine) is an online, open access, and peer-reviewed journal. JKKd is published twice a year (December, June; First published in December 2019). This journal aims to disseminate the results of original research, case report, and critical reviews in the fields of health and medicine. This focus and scopes include, but are not limited to a pharmacy, medicine, public health, and health biotechnology fields.
Articles 80 Documents
Tantangan Dalam Diagnosis Atresia Esofagus Tipe C: Sebuah Laporan Kasus Retnaningtyas, Lucia Pudyastuti
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.6036

Abstract

Abstract—Newborn with hypersalivation and vomiting can be caused by various causes, one of which is esophageal atresia. Esophageal atresia is a rare disease, the most life-threatening congenital malformations in newborns, a congenital gastro-intestinal abnormality characterized by loss of esophageal continuity (atresia) with or without tracheo-esophageal fistula. With a thorough history and physical examination, supported by a simple radiological examination, the diagnosis of esophageal atresia can be established. In this case, the 4-day-old baby was referred twice from a mother and child hospital to a fully equipped hospital. Babies experience drooling from birth and vomit immediately after feeding. At referral hospital, an orogastric tube (OGT) is installed to the patient, and it is found that the tip of OGT cannot fit along the predetermined size, and the OGT tip rises again - coiled inside the baby's mouth. From the results of the radiological examination of the babygram, a circular OGT image was obtained in Thoracal IV. The diagnosis of type C esophageal atresia can be established immediately by oesophagography, and patient got esophageal repair and neonatal intensive care with good result. This case report is useful to learn in establishing the diagnosis of esophageal atresia early to get prompt management. Keywords: drooling, hypersalivation, newborn, esophageal atresia Abstrak—Bayi baru lahir dengan hipersalivasi dan muntah dapat disebabkan oleh bermacam penyebab, salah satunya atresia esofagus. Atresia esofagus (AE) adalah penyakit langka, salah satu malformasi kongenital yang paling mengancam jiwa pada bayi yang baru lahir, sebuah kelainan kongenital gastro-intestinal yang ditandai dengan hilangnya kontinuitas esofagus (atresia) dengan atau tanpa adanya fistula trakeo-esofagus. Dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti, didukung dengan pemeriksaan radiologi sederhana, diagnosis atresia esofagus dapat ditegakkan. Pada kasus ini, bayi usia 4 hari mengalami rujukan dua kali dari rumah sakit ibu dan anak baru kemudian sampai di rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Bayi mengalami drooling sejak lahir dan muntah segera tiap kali diberi minum. Di rumah sakit rujukan, bayi dipasang orogastric tube (OGT), dan didapatkan bahwa ujung OGT tidak dapat masuk sepanjang ukuran yang telah ditentukan, dan ujung OGT naik kembali - melingkar di dalam mulut bayi. Dari hasil pemeriksaan radiologi babygram, didapatkan gambaran OGT melingkar di Thoracal IV. Diagnosis atresia esofagus tipe C dapat segera ditegakkan berdasarkan esofagografi, dan pasien mendapatkan penanganan komprehensif berupa tindakan repair esofagus dan perawatan neonatus di Neonatal Intensive Care Unit dengan hasil yang baik. Laporan kasus ini memberi pelajaran untuk dapat menegakkan diagnosis AE secara dini untuk mendapatkan managemen yang tepat. Kata kunci: hipersalivasi, muntah, bayi baru lahir, atresia esofagus
Faktor Risiko Kelelahan Mata Pada Karyawan Pengguna Komputer: Sebuah Studi Cross-Sectional Marsya Kamila Savitri; Arga Buntara; Chahya Kharin Herbawati; Chandrayani Simanjorang
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.6047

Abstract

Abstract—Eye fatigue has a negative impact on workers such as, lost productivity. It was found that workers at PT PLN Icon Plus had a computer usage duration of more than 4 hours per day and lighting that was not up to standard. The purpose of this study was to determine the risk factors for eye fatigue in computer users at PT PLN Icon Plus. The design of this study was cross-sectional. The population of this study amounted to 80 workers and all were respondents. The research was conducted between February and June 2023 on employees of PLN Icon Plus. The research instruments used eye fatigue questionnaires, laser distance meters, lux meters and heat stress meters. The results of the chi-square test analysis showed significant relationship between working time (p-value=0.004), work duration (p-value=0.016) and lighting (p-value=0.051) with eye fatigue. The age, gender and distance of the monitor showed no relationship with eyestrain. It is recommended to companies to add curtains to each window so the light that enters during the day does not exceed the standard. In addition, employees can download a screen time application on the computer to see how long the activity works while using the computer. Keywords: computer, correlate, eye fatigue, worker Abstrak—Kelelahan mata memiliki dampak negatif pada karyawan seperti, kehilangan produktivitas. Ditemukan bahwa karyawan di PT PLN Icon Plus memiliki durasi penggunaan komputer lebih dari 4 jam per hari dan pencahayaan yang tidak sesuai standar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kelelahan mata pada karyawan pengguna komputer di PT PLN Icon Plus. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 80 karyawan dan keseluruhan dijadikan responden. Penelitian dilakukan pada Februari-Juni 2023 terhadap karyawan PLN Icon Plus. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner kelelahan mata, laser distance meter, lux meter dan heat stress meter. Hasil analisis uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang siginifikan dengan masa kerja (p-value = 0,004), durasi kerja (p-value = 0,016) dan pencahayaan (p-value = 0,051) dengan kelelahan mata. Umur, jenis kelamin dan jarak monitor tidak memiliki hubungan dengan kelelahan mata. Disarankan kepada perusahaan untuk menambahkan tirai di setiap jendela agar cahaya yang masuk pada siang hari tidak melebihi standar. Selain itu, karyawan dapat mengunduh aplikasi screen time pada komputer untuk melihat berapa lama aktivitas bekerja dalam menggunakan komputer. Kata kunci: faktor yang berhubungan, karyawan, kelelahan mata, komputer
Pengobatan Pasien Gangguan Jiwa yang Dipasung Oleh Keluarga: Studi Kasus di Kabupaten Trenggalek Sulisetiorini; Adji Prayitno; Yosi Irawati Wibowo
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.6050

Abstract

Abstract—In Trenggalek Regency, East Java Province, psychotic patients are still found on pasung by their families even though the Free Pasung Program has been intensively carried out since 2015 by The Indonesian Government. This research aims to identifying the characteristics and status of pasung, medication history, and patient’s adherence to medication. The data collection was carried out through interviews with family members of patients with pasung and observation of medical records. A total of 14 psychotic patients were included in this study. Patients were in the productive age of 30-60 years (100%), not working (92.86%), the ratio of patients on pasung and with history of pasung was 1:1, the highest educational level was elementary school (71.43%), and family history (14.29%). Out of 14 patients, 3 patients received no medications, 4 patients received both oral and injectable medications, and 7 patients received oral medications; the majority of patients were given complementary medications (64.29%). The most common injections given were haloperidol decanoate and long-acting flufenazine decanoate; while oral medications frequently given were risperidone, chlorpromazine, trihexiphenidyl, haloperidol and trifluoperazine. Patients’ medication adherence rate was 63,64%. This finding indicated the importance of pharmacists’ role in providing drug information and counseling services to improve medication adherence of patients with psychotics. Keywords: adherence, pasung, pharmacist, psychotic Abstrak—Di Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur masih ditemukan pasien gangguan jiwa psikotik yang dipasung oleh keluarga meskipun Program Bebas Pasung sudah gencar dilakukan sejak tahun 2015 oleh pemerintah Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan status pasung, riwayat pengobatan, serta kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Metode pengumpulan data melalui wawancara anggota keluarga pasien dengan pasung dan pengamatan rekam medis. Empat belas pasien gangguan jiwa psikotik terlibat dalam penelitian ini. Pasien berusia produktif 30-60 tahun (100%), tidak bekerja (92,86%), rasio status pasien dalam pasung dan riwayat pasung adalah 1:1, riwayat pendidikan terbanyak adalah sekolah dasar (71,43%), dan riwayat keluarga (14,29%). Dari 14 pasien, 3 pasien tidak menerima pengobatan, 4 pasien menerima pengobatan oral dan suntikan, dan 7 pasien menerima pengobatan oral; mayoritas pasien menerima pengobatan komplementer (64,29%). Obat suntikan yang paling umum diberikan adalah haloperidol dekanoat dan flufenazine dekanoat kerja panjang; sedangkan obat oral yang sering diberikan adalah risperidon, klorpromazin, triheksifenidil, haloperidol dan trifluoperazin. Tingkat kepatuhan pengobatan pasien adalah 63,64%. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran apoteker dalam memberikan informasi obat dan layanan konseling untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien gangguan jiwa psikotik. Kata kunci: apoteker, kepatuhan, pasung, psikotik
Facial Wash Gel Formulation from Papaya Leaf Extract (Carica papaya L.) With Carbopol 940 As Gelling Agent and Its Stability Study Akmal, Tubagus; Yenni Puspita Tanjung; Irma Indriani
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.6082

Abstract

Abstract—Propionibacterium acnes is a bacterium that significantly contributes to the development and progression of acne—the phenomenon of bacterial proliferation. The alkaloid carpain present in papaya leaf extract exhibits antibacterial properties against Propionibacterium acnes, a bacterium associated with the development of acne. The facial wash is a cleansing product that removes bacteria and debris from the skin. This study aims to develop a facial wash gel formulation employing papaya leaf extract to treat and inhibit acne-causing bacteria. The formulation will involve the use of different concentrations of Carbopol 940 polymer, namely FI (1%), FII (1.5%), and FIII (2%), as a gelling agent. The research conducted falls under the category of experimental research. The assessment of facial wash gel formulations encompasses various parameters, such as organoleptic evaluation, homogeneity analysis, pH determination, viscosity measurement, spreadability assessment, and foaming capacity examination. The study's findings indicate that the formulation of the FII facial wash gel successfully fulfils all criteria for preparation evaluation. FI fails to satisfy the criteria for spreadability testing, while FIII needs to fulfil the homogeneity and viscosity testing requirements. The viscosity test was significantly affected by different amounts of Carbopol 940, which was used as a gelling agent. The pH, spreadability, and foamability tests were not significantly affected (p>0.05). Keywords: acne, carbopol 940, carica papaya, facial wash gel Abstrak—Propionibacterium acnes merupakan bakteri yang sangat berperan dalam patogenesis timbulnya jerawat. Pertumbuhan bakteri. Di dalam ekstrak daun pepaya terkandung alkaloid karpain yang berfungsi sebagai antibakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes). Facial wash menjadi salah satu produk yang dapat digunakan untuk membersihkan kulit dari bakteri dan kotoran yang menempel. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan facial wash gel dari ekstrak daun pepaya untuk mengobati jerawat serta mencegah pertumbuhan bakteri penyebab jerawat dengan variasi konsentrasi polimer Carbopol 940 sebagai gelling agent yaitu FI (1%), FII (1,5%), dan FIII (2%). Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Evaluasi sediaan facial wash gel meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya busa. Hasil dari penelitian menunjukkan formulasi sediaan facial wash gel FII memenuhi semua syarat evaluasi sediaan. FI tidak memenuhi syarat uji daya sebar, sedangkan pada FIII tidak memenuhi syarat uji homogenitas dan viskositas. Variasi konsentrasi Carbopol 940 sebagai gelling agent memberikan hasil berpengaruh secara signifikan (p<0,05) terhadap uji viskositas tetapi tidak berpengaruh secara signifikan (p>0,05) terhadap uji pH, daya sebar, dan daya busa. Kata kunci: daun papaya, gel sabun muka, jerawat, karbopol 940
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Batuk Masyarakat Teodhora; Ainun Wulandari; Kinanthi Kusumawardhani
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i1.6029

Abstract

Abstract—Self-medication is a way for someone to heal themselves in dealing with complaints such as illness or disease symptoms without using a doctor's prescription. One of the diseases that can be treated with self-medication is cough. This study aims to determine the relationship between knowledge and cough self-medication behavior in the community of RW 23, Serua Village, Ciputat District, South Tangerang City. This research is descriptive-analytical research with a cross-sectional design; research data was taken using a questionnaire. The number of respondents was 255. The sampling technique used Cluster Random Sampling. The research results obtained variable levels of knowledge in the excellent category (60.4%), sufficient category (22.0%), and poor category (17.6%). Behavioral variables in the excellent category (64.3%), sufficient category (18.4%), and poor category (17.3%). There is a relationship between education and income on knowledge of cough self-medication with a p-value of 0.000 < 0.05, so H0 is rejected and H1 is accepted. There is a relationship between the level of knowledge and cough self-medication behavior of the community in RW 23, Serua Village, Ciputat District, South Tangerang City, with a p-value of 0.000 < 0.05, so H0 is rejected, and H1 is accepted. Keywords: cough, behavior, knowledge, self-medication Abstrak—Swamedikasi adalah cara seseorang menyembuhkan diri dalam menangani keluhan seperti penyakit ataupun gejala – gejala penyakit tanpa menggunakan resep dokter. Salah satu penyakit yang dapat dilakukan dengan swamedikasi adalah batuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi batuk pada masyarakat RW 23 Kelurahan Serua Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional; data penelitian diambil menggunakan kuesioner. Jumlah responden sebanyak 255. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Random Sampling. Hasil penelitian diperoleh variabel tingkat pengetahuan dengan kategori baik (60,4%), kategori cukup (22,0%), dan kategori kurang (17,6%). Variabel perilaku dengan kategori baik (64,3%), kategori cukup (18,4%) dan kategori kurang (17,3%). Ada hubungan antara pendidikan dan pendapatan terhadap pengetahuan swamedikasi batuk dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi batuk masyarakat di Wilayah RW 23 Kelurahan Serua Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kata kunci: batuk, perilaku, pengetahuan, swamedikasi
Anticancer Activity of Asiatic Acid from Centella Asiatica: A Comprehensive Systematic Review of In Vitro and In Vivo Studies Ridho, Fiki Muhammad; Fahrudin, Panggih; Syachputra, Andika Julyanto; Aruan, Iren Angelia; Ulfah, Kamailiya; Syahri, Alfi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i1.6752

Abstract

Abstract—Centella asiatica, containing asiatic acid (AsA), represents one such candidate demonstrating promising anticancer effects. This study aims to comprehensively review the anticancer activity of AsA in published in vitro and in vivo studies. A systematic review method was employed and several databases, including Scopus, PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, were used to conduct a comprehensive and systematic search of the literature based in vitro and in vivo studies in November 2023 following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Thirty-three articles were included, distributed across twenty-five in vitro studies, three in vivo studies, and five both in vitro and in vivo studies. Based on the findings in the reviewed articles, we report that AsA, a triterpene derived from C. asiatica, exhibits anticancer effects demonstrated both in various cancer cell lines and in cancer cell-induced animal model, through several mechanisms, including anti-inflammatory effects, antioxidant effects, inhibition of cell proliferation, inhibition of invasion and migration, and induction of apoptosis and autophagy. Conclusions based on findings in in vitro and in vivo studies, AsA has strong potential to be used and developed as an inhibitor of various types of cancer cells. Keywords: anticancer, asiatic acid, cancer, centella asiatica, herbal Abstrak—Centella asiatica, yang mengandung asam asiatik (AsA), mewakili salah satu kandidat yang menunjukkan efek antikanker yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif aktivitas antikanker AsA dalam studi in vitro dan in vivo. Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis pada beberapa basis data, termasuk Scopus, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar, untuk melakukan pencarian literatur yang komprehensif dan sistematis berdasarkan studi in vitro dan in vivo yang dilakukan pada November 2023 dan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tiga puluh tiga artikel diinklusikan, terdiri dari dua puluh lima studi in vitro, tiga studi in vivo, dan lima studi in vitro dan in vivo. Berdasarkan temuan dalam artikel yang ditinjau, kami melaporkan bahwa AsA, triterpen yang berasal dari C. asiatica, menunjukkan efek antikanker baik di berbagai sel kanker maupun pada model hewan yang diinduksi sel kanker, melalui beberapa mekanisme, termasuk efek antiinflamasi, efek antioksidan, penghambatan proliferasi sel, penghambatan invasi dan migrasi, serta induksi apoptosis dan autofagi. Kesimpulan berdasarkan temuan dalam studi in vitro dan in vivo, AsA memiliki potensi yang kuat untuk digunakan dan dikembangkan sebagai penghambat berbagai jenis sel kanker. Kata kunci: antikanker, asam asiatik, kanker, centella asiatica, herbal
Efektivitas Madu Hutan dan Krim Daun Singkong terhadap Penyembuhan Luka Bakar derajat-IIA Jonaha Bonafide Tampubolon; Runggu Retno J Napitupulu; Hendra
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i1.6837

Abstract

Abstract—The skin is a line of defense in protecting the body from various trauma and injuries such as burns. Grade IIA burns are characterized by red, blistered skin and blisters. Treatment for grade IIA burns generally uses drugs such as sulfadiazine, povidone-iodine, MEBO. prices due to limited drug availability and side effects mean that alternative treatments using traditional ingredients are needed to treat burns. Honey and cassava leaves are traditional ingredients that can be used as an alternative for treating grade IIA burns. This research uses a pure experimental method with post test observations only with control group design. There was a difference in the average length of burn wounds after 14 days of treatment. Forest honey and cassava leaf extract cream are considered effective in healing grade IIA burns. The group of mice given honey had the smallest average length of burn wounds compared to the group given cassava leaf extract cream and followed by the positive control group given silver sulfadiazine and the negative control group without treatment. Thus, forest honey has the greatest effectiveness against grade IIA burns, compared to cassava leaves and the positive control. Keywords: burns, forest honey, cassava leaf cream Abstrak—Kulit merupakan garis pertahanan dalam melindungi tubuh dari berbagai trauma dan cedera seperti luka bakar. Luka bakar derajat IIA ditandai dengan kulit kemerahan, melepuh dan melepuh. Penanganan luka bakar derajat IIA umumnya menggunakan obat-obatan seperti sulfadiazin, povidone-iodine, MEBO. Harga yang mahal akibat keterbatasan ketersediaan obat dan efek samping menyebabkan diperlukannya pengobatan alternatif dengan bahan-bahan tradisional untuk mengatasi luka bakar. Madu dan daun singkong merupakan bahan tradisional yang dapat digunakan sebagai alternatif penanganan luka bakar derajat IIA. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan post test observasi only with control group design. Terdapat perbedaan rerata panjang luka bakar setelah 14 hari perawatan. Krim madu hutan dan ekstrak daun singkong dinilai efektif dalam penyembuhan luka bakar derajat IIA. Kelompok mencit yang diberikan madu memiliki rerata panjang luka bakar paling kecil dibandingkan dengan kelompok yang diberikan krim ekstrak daun singkong dan diikuti oleh kelompok kontrol positif yang diberikan silver sulfadiazine dan kelompok kontrol negatif tanpa pengobatan. Dengan demikian, madu hutan mempunyai efektivitas paling besar terhadap luka bakar derajat IIA dibandingkan dengan daun singkong dan kontrol positif. Kata kunci: luka bakar, madu hutan, krim daun singkong
Potensi Terapi Fitokanabinoid Mayor dalam Pengobatan Cedera Otak Traumatik: sebuah Tinjauan Literatur Farmakologis Darmanto, Arief Gunawan
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i1.7071

Abstract

Abstract—Traumatic brain injury (TBI) is a global health issue that leads to long-term neurological deficits, including cognitive, motor, and mood disorders. Current TBI treatments primarily focus on symptom management, while neuroprotective therapies remain in the exploratory stage. One promising approach is the use of Cannabis sativa L., which contains phytocannabinoids, compounds with potential neuroprotective effects. Preclinical studies have shown that the major phytocannabinoids, cannabidiol (CBD) and tetrahydrocannabinol (THC), may have neuroprotective effects in TBI through mechanisms such as reducing excitotoxicity, neuroinflammation, and oxidative stress. These major phytocannabinoids are known to influence cannabinoid receptors (CB1 and CB2), which play roles in modulating inflammatory processes, reducing neuronal damage, improving motor and cognitive functions, and regulating recovery mechanisms in the blood-brain barrier and intracranial lymphatics. This review aims to explore the therapeutic potential of major phytocannabinoids in TBI treatment by highlighting the pathophysiological mechanisms of TBI and the neuroprotective effects of these compounds. A deeper understanding of the mechanisms of action of phytocannabinoids may pave the way for the development of phytocannabinoid-based therapies for TBI in the future. Keywords: traumatic brain injury, neuroprotection, cannabis sativa l., major phytocannabinoids, cannabidiol, tetrahydrocannabinol Abstrak—Cedera otak traumatik (COT) merupakan masalah kesehatan global yang menyebabkan defisit neurologis jangka panjang, termasuk gangguan kognitif, motorik, dan suasana hati. Pengobatan COT saat ini lebih difokuskan pada manajemen gejala, sementara pengobatan yang bersifat neuroprotektif masih dalam tahap eksplorasi. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah penggunaan tanaman Cannabis sativa L. yang mengandung fitokanabinoid, senyawa yang memiliki potensi neuroprotektif. Metode yang digunakan adalah kajian literatur. Hasil kajian penelitian preklinik menunjukkan bahwa fitokanabinoid mayor yaitu kanabidiol (KBD) dan tetrahidrokanabinol (THC) dapat memberikan efek neuroprotektif pada COT melalui mekanisme pengurangan eksitotoksisitas, neuroinflamasi, dan stres oksidatif. Senyawa fitokanabinoid mayor diketahui mempengaruhi reseptor kanabinoid (RKB1 dan RKB2), yang berperan dalam modulasi proses inflamasi, pengurangan kerusakan neuron dan dapat memperbaiki fungsi motorik dan kognitif, serta mengatur mekanisme pemulihan pada sawar darah-otak dan limfatik intrakranial. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa tanaman Cannabis sativa L. yang mengandung fitokanabinoid mayor memiliki potensi dalam pengobatan COT. Pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme kerja fitokanabinoid dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi berbasis fitokanabinoid untuk COT di masa depan. Kata kunci: cedera otak traumatis, neuroproteksi, cannabis sativa l., fitokanabinoid mayor, kanabidiol, tetrahidrokanabinol
Curcuminoid Compounds Inhibit Macrophage Migration Inhibitory Factor: In Silico Study for Their Association to Anti-diabetic Potency de Jesus, Graciana Alves; Tjie Kok
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i1.7345

Abstract

Abstract—Diabetes mellitus is a health problem characterized by chronic inflammation causing complications in the cardiovascular, kidneys, eyes, and nervous system, with macrophage migration inhibitory factor (MIF) protein playing a crucial function in the inflammatory process chain. MIF has been known as a signaling protein involved in the development of type 1 and type 2 diabetes mellitus (DM). There are several studies indicating that the development of type 1 and type 2 DM is influenced by the accumulation of macrophages in tissues susceptible to diabetic injury or infection. Curcuminoids, the bioactive components in turmeric, are known for their ability to decrease inflammation. This in silico study is intended to analyze the potential anti-inflammatory effect of curcuminoid in DM, with a specific focus on how it may reduce proinflammatory signals through MIF. The investigation involved predicting physicochemical, pharmacokinetic and toxicity (ADMET) qualities for curcuminoids, followed by molecular docking simulations with MIF as the target protein. The ADMET results showed curcumin and bisdemethoxycurcumin had favorable properties, while dimethoxycurcumin exhibited undesirable traits like low VDss. Therefore, molecular docking simulations were performed using curcumin and bisdemethoxycurcumin as ligands. The molecular docking simulations indicated that curcumin has a negative binding affinity slightly lower than (S, R)-3-(4-hydroxyphenyl)-4,5-dihydro-5-isoxazole acetic acid methyl ester (ISO-1), a reference MIF inhibitor; and bisdemethoxycurcumin binds to MIF even stronger than ISO-1, with interacting MIF amino acids Lys 32, Ile 64 Asn 97, Pro 1, and Tyr 95. Hence, the curcumin and bisdemethoxycurcumin compounds were found as having the potential to inhibit MIF activity that is associated with the progression of DM. Keywords: curcuminoids, diabetes melitus (dm), inflammation, mif inhibitors, molecular docking Abstrak—Diabetes mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan peradangan kronis, yang dapat menyebabkan komplikasi pada sistem kardiovaskular, ginjal, mata, dan sistem saraf. Protein macrophage migration inhibitory factor (MIF) memiliki peran penting dalam proses peradangan. MIF diketahui sebagai protein pensinyalan yang terlibat dalam perkembangan DM tipe 1 dan tipe 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perkembangan DM tipe 1 dan tipe 2 dipengaruhi oleh akumulasi makrofag pada jaringan yang rentan terhadap cedera atau infeksi akibat diabetes. Kurkuminoid, komponen bioaktif dalam kunyit, dikenal memiliki kemampuan untuk meringankan peradangan. Studi in silico ini bertujuan untuk menganalisis potensi efek antiinflamasi kurkuminoid terhadap DM, dengan fokus pada kemampuannya dalam menurunkan sinyal proinflamasi melalui MIF. Studi ini mencakup prediksi sifat fisikokimia, farmakokinetik, dan toksisitas (ADMET) kurkuminoid, yang dilanjutkan dengan simulasi molecular docking menggunakan MIF sebagai protein target. Hasil analisis ADMET menunjukkan bahwa kurkumin dan bisdemetoksikurkumin memiliki sifat yang menguntungkan, sedangkan dimetoksikurkumin menunjukkan karakteristik yang kurang diinginkan, seperti volume distribusi (VDss) yang rendah. Oleh karena itu, simulasi molecular docking dilakukan dengan menggunakan kurkumin dan bisdemetoksikurkumin sebagai ligan. Hasil simulasi molecular docking menunjukkan bahwa kurkumin memiliki afinitas pengikatan yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan (S, R)-3-(4-hydroxyphenyl)-4,5-dihydro-5-isoxazole acetic acid methyl ester (ISO-1), senyawa referensi inhibitor MIF. Sementara itu, bisdemetoksikurkumin menunjukkan ikatan yang lebih kuat dengan MIF dibandingkan ISO-1, dengan residu asam amino MIF yang berinteraksi meliputi Lys 32, Ile 64, Asn 97, Pro 1, dan Tyr 95. Dengan demikian, senyawa kurkumin dan bisdemetoksikurkumin berpotensi menghambat aktivitas MIF yang berperan dalam perkembangan DM. Kata kunci: kurkuminoid, diabetes melitus (dm), peradangan, inhibitor mif, molecular docking.
Konsep Aksis Jantung dan Saluran Cerna: Hubungan Gangguan Keseimbangan Mikrobiota Saluran Cerna dan Gagal Jantung Laksono, Sidhi; Surya Angkasa, Irwan
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.5633

Abstract

Diperkirakan sekitar 64,3 juta pasien di dunia mengalami penyakit gagal jantung. Di negara berkembang, diperkirakan prevalensi orang yang diketahui menderita gagal jantung sebesar 1-2% dari populasi orang dewasa. Sampai saat ini sudah banyak penelitian yang membahas tentang tatalaksana gagal jantung sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun prognosis penderita gagal jantung masih terbilang kurang baik dan Quality of Life (QoL) mereka menurun. Studi studi beberapa dekade terakhir menunjukan bahwa keseimbangan mikrobiota di saluran pencernaan turut serta dalam patogenesis dari aterosklerosis, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan antara gagal jantung dengan keseimbangan mikrobiota saluran cerna serta tatalaksana yang dapat diberikan sebagai alternatif yang dapat memberikan hasil optimal terhadap pasien.