cover
Contact Name
Thomas S. Iswahyudi
Contact Email
tom_wahyudi@staff.ubaya.ac.id
Phone
+6231-2981344
Journal Mail Official
rahmanfibri@staff.ubaya.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalirungkut - Surabaya 60293 Gedung Perpustakaan Lt. 4
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Published by Universitas Surabaya
ISSN : -     EISSN : 27156419     DOI : https://doi.org/10.24123/kesdok
Core Subject : Health, Agriculture,
The term Keluwih comes from keluwih leaf which is one of the symbols of the University of Surabaya. In this symbol, keluwih leaf means high ideals of knowledge (Linuwih). Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (Keluwih: Journal of Health and Medicine) is an online, open access, and peer-reviewed journal. JKKd is published twice a year (December, June; First published in December 2019). This journal aims to disseminate the results of original research, case report, and critical reviews in the fields of health and medicine. This focus and scopes include, but are not limited to a pharmacy, medicine, public health, and health biotechnology fields.
Articles 80 Documents
Determinant Dermatitis Kontak pada Petani Rumput Laut Irma; Wa Ode Nilam Febriyan; Swaidatul Masluhiya AF
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V4i2.5616

Abstract

Abstract—Data from the World Health Organization (WHO) shows that 50-90% of cases of skin disease are contact dermatitis. The purpose of this study was to analyze determinants of incidence of contact dermatitis in seaweed farmers in Muna District, Southeast Sulawesi. This research is a quantitative study with a cross sectional study design. The population in this study is 526 people who work as seaweed farmers with a total sample of 222 people calculated using the formula n = N Z2 P(1-P)/(N-1)d2 + Z2 P(1-P). Samples were taken by accidental sampling technique. Data was collected using a questionnaire. Analysis of data used the chi square test with α = 0.05. The results of the analysis showed that a history of skin disease (p = 0.000 <0.05) and personal hygiene (p = 0.000 <0.05).Thus it can be concluded that a history of skin disease and personal hygiene are determinants of the incidence of contact dermatitis in seaweed farmers. Keywords: contac dermatitis, seaweed famer, determinant Abstrak—Word Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 50-90% kasus penyakit kulit yang terjadi adalah dermatitis kontak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis determinan kejadian dermatitis kontak pada petani rumput laut yang ada di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bekerja sebagai petani rumput sebanyak 526 dengan jumlah sampel 222 orang yang dihitung menggunakan rumus n = N Z2 P(1-P)/(N-1)d2 + Z2 P(1-P). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Intrumen pengumpul data penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data penelitian menggunakan uji chi square dengan α =0,05. Hasil analisis menunjukan bahwa riwayat penyakit kulit (p=0,000<0,05) dan personal hygiene (p=0,000<0,05). Dapat disimpulkan bahwa riwayat penyakit kulit dan personal hygiene merupakan determinan kejadian dermatitis kontak pada petani rumput laut. Kata kunci: dermatitis kontak, petani rumput laut, determinan
Tingkat Pengetahuan dan Stres Ibu Hamil pada Saat Pandemi Covid-19 Cindy Avia Rizqullah; Ananta Yudiarso; Yuliana Arisanti; Rachmad Poedyo Armanto
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.5806

Abstract

Abstract—The COVID-19 pandemic has had several negative impacts on pregnant women, including increased stress levels.This study aims to determine the level of knowledge and stress levels in pregnant women during the pandemic, as well as analyze the relationship between the two. This is a quantitative research study that utilized an analytical observational method and a cross-sectional study design. The sampling technique employed was purposive sampling. Data was collected through the distribution of questionnaires containing statements about the level of knowledge and magnitude of stress experienced by pregnant women during the COVID-19 pandemic. The study found that 55% of respondents had poor knowledge, and 54% had moderate stress levels. There was no significant relationship between knowledge level and stress level among pregnant women during the COVID-19 pandemic (p = 0.997). It is important to note that having good knowledge does not necessarily guarantee lower stress levels, and vice versa. Health workers should not only provide education about COVID-19 but also examine stress levels in pregnant women. Keywords: Covid-19, knowledge level, stress level, pregnant women Abstrak—Kondisi pandemi Covid-19 menimbulkan beberapa dampak negatif bagi beberapa orang, terutama bagi ibu hamil yang sedang mengalami perubahan fisiologi, hormonal, dan psikologis. Salah satu dampak negatif yang mungkin ditimbulkan yaitu stres. Pengetahuan mengenai Covid-19, efek bagi ibu dan bayi masih relatif sulit didapatkan karena masih sedikit penelitian yang dilakukan. Selain itu, pengetahuan juga merupakan salah satu faktor internal penyebab terjadinya stress. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, tingkat stress dan hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat stress pada ibu hamil pada saat pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dan desain studi cross sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini metode Purposive Sampling. Data dikumpulkan dengan membagikan kuesioner yang terdiri dari pernyataan-pernyataan mengenai tingkat pengetahuan dan seberapa besar skala stress ibu hamil pada saat pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 55% responden memiliki pengetahuan yang kurang baik, serta 54% responden memiliki tingkat stress sedang. Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan tingkat stress ibu hamil pada saat pandemi Covid-19 (p=0,997). Tingkat pengetahuan seseorang yang baik tidak menjamin tingkat stress ibu hamil pada saat pandemi Covid-19 menjadi ringan, dan sebaliknya. Diharapkan tenaga kesehatan tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengetahuan Covid-19 saja tetapi dapat mengkaji permasalahan stres pada ibu hamil. Kata kunci: Covid-19, tingkat pengetahuan, tingkat stres, ibu hamil
Pharmacist Involvement to Prevent and Manage HIV/AIDS in Indonesia: A Systematic Review Firmansah, Moh.; Setiawan, Eko; Presley, Bobby; Christanti, Jene Vida; Irawati, Sylvi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5815

Abstract

Abstract—Pharmacists’ involvement in the human immunodeficiency virus/acquired-immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) prevention and management program has been globally advocated. However, there is currently a lack of information on whether pharmacists’ roles in the program have been clearly articulated in the national policy records in countries with high scores on power distance and collectivism, such as Indonesia. This study aimed to explore the roles of pharmacists in the prevention and management of HIV/AIDS in Indonesia using a systematic review method. We systematically searched for relevant studies in three large medical databases (CINAHL, EMBASE, and PubMed) and for gray literature in both the Indonesian Pharmacist Association and the Ministry of Health websites, and the national regulation database. Only two studies gave a glimpse of pharmacists’ role in the prevention and management of patients with HIV/AIDS in Indonesia. However, activities conducted by pharmacists in each of these roles were not explicitly described. We found no official national policies mentioned the role of pharmacists in HIV/AIDS prevention and management. Since the practice of pharmacists is closely related to medications, including antiretroviral drugs, more research is needed to explore the role of pharmacists in the prevention and management of HIV/AIDS in a real-world context in Indonesia. Keywords: AIDS, HIV, pharmacist, indonesia Abstrak—Keterlibatan apoteker dalam program pencegahan dan tata laksana human immunodeficiency virus/acquired-immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di dunia telah direkomendasikan. Akan tetapi, saat ini terdapat keterbatasan informasi mengenai apakah keberadaan peran apoteker dalam program tersebut telah dinyatakan dnegan jelas dalam dokumen kebijakan nasional di negara-negara yang memiliki skor tinggi pada power distance dan kolektivitas, seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS di Indonesia menggunakan metode kajian sistematis. Secara sistematis, peneliti melakukan pencarian artikel penelitian terkait di tiga basis data medis yang besar (CINAHL, EMBASE, dan PubMed) dan pencarian gray literature di laman Ikatan Apoteker Indonesia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta di basis data peraturan nasional. Hanya dua penelitian yang memberikan secercah informasi mengenai peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana pasien dengan HIV/AIDS di Indonesia. Namun demikian, aktivitas spesifik yang dilakukan oleh apoteker tidak secara eksplisit digambarkan lebih lanjut. Peneliti tidak menemukan dokumen kebijakan nasional yang menyebutkan peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS. Oleh karena praktik kefarmasian berhubungan erat dengan obat, termasuk obat-obat antiretrovirus, maka dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk menggali peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS pada konteks dunia-nyata di Indonesia. Kata kunci: AIDS, HIV, apoteker,indonesia
Adakah Hubungan antara Usia dan Gangguan Indera Perasa pada Pasien COVID-19? Khalimatus Suanti; Fransiska, Fransiska; Astrid Pratidina Susilo
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.5890

Abstract

Abstract—COVID-19 (coronavirus disease 2019) is a respiratory disease caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). The clinical symptoms of COVID-19 patients vary widely, for example the olfactory and taste disorder. Several studies reported the prevalence of taste disorder of 71% to 88.8% in COVID-19 patient. This research aimed to determine the association between age and taste disorders during the spread of the Delta variant of COVID-19. A cross sectional study conducted on 42 subjects. The data was analyzed using Independent T-test. Statistical analyzed showed that 27 out of 42 subjects experienced taste disorders. The mean age of COVID-19 patients with taste disorders was 50 years (SD 12.83). In the independent T-test, a p-value of 0.613 was obtained (p>0.05), which means that there was no association between age and taste disorders. Taste disorders are caused by hyposalivation which begins to occur at the age of 65 and over. This study concluded no significant correlation between age and taste disorders in COVID-19 patients. Keywords: COVID-19 patients, age, taste disorders Abstrak—COVID-19 (coronavirus disease 2019) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala klinis pasien COVID-19 sangat bervariasi, di antaranya gangguan indera penghidu dan perasa. Beberapa penelitian melaporkan prevalensi gangguan indera perasa sebesar 71% hingga 88,8% pada pasien COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan rerata usia dengan gangguan indera perasa selama penyebaran COVID-19 varian Delta. Studi cross sectional dilakukan pada 42 subjek penelitian. Teknik pengambilan data adalah total sampling, yaitu pada pasien yang rawat inap karena COVID-19. Data dianalisis dengan menggunakan Uji T-tidak berpasangan. Analisis statistik menunjukkan bahwa 27 dari 42 pasien mengalami gangguan indera perasa. Usia rata-rata pasien COVID-19 dengan gangguan indera perasa adalah 50 tahun (SD 12,83). Pada uji T-tidak berpasangan didapatkan nilai p sebesar 0,613 (p>0,05), yang berarti tidak ada hubungan antara usia dengan gangguan indera perasa. Kata kunci: pasien COVID-19, usia, gangguan perasa
Antiinflammatory Effect of Andrographolide in Sambiloto Extract (Andrographis paniculata) on Ulcerative Colitis Selonan Susang Obeng; Daniel Welson; Fen Tih; Ardo Sanjaya; Diana Krisanti Jasaputra; Julia Windi Gunadi; Yusuf, Inez Felia
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V4i2.5909

Abstract

Abstract—Ulcerative colitis (UC) is an idiopathic chronic inflammatory disease of the gastrointestinal tract which is one of the inflammatory bowel diseases (IBD). In Indonesia, epidemiological data obtained from hospital reports, generally show that the incidence of UC is higher than Crohn's Disease (CD). Mesalamine as a drug of choice for UC, is related to some side effects. Therefore, herbal plants such as sambiloto (Andrographis paniculata) could be used as a complementary therapy in UC. The purpose of this article is to provide information about the potential mechanisms of andrographolide (AG) as a bioactive compound in sambiloto (Andrographis paniculata) extract as an anti-inflammatory agent. The method used by authors in this article is a narrative review method, by collecting studies about the anti-inflammatory effect of AG on UC through a database search. The results showed that one of the ingredients of sambiloto, diterpenoid labdane compound in the active form of AG, is able to inhibit the expression of pro-inflammatory cytokines so that it has the potential to act as an anti-inflammatory similar to mesalamine in UC therapy. Additionally, sambiloto contains flavonoids and polyphenols which serve as antioxidants. In conclusion, AG has an anti-inflammatory property that might be utilized as a part of UC complementary therapy. Keywords: andrographolide, andrographis paniculata, inflammation, ulcerative colitis, sambiloto Abstrak—Kolitis ulseratif (KU) adalah penyakit inflamasi kronis idiopatik saluran pencernaan termasuk dalam salah satu inflammatory bowel disease (IBD). Di Indonesia, data epidemiologi diperoleh dari pelaporan rumah sakit, secara umum menunjukkan insidensi KU lebih tinggi daripada Crohn’s Disease (CD). Mesalamine sebagai pilihan terapi untuk KU, dapat menimbulkan beberapa efek samping. Oleh karena itu, tanaman herbal seperti sambiloto Andrographis paniculata dapat digunakan sebagai terapi komplementer pada KU. Tujuan artikel ini adalah memberikan informasi mengenai potensi dan mekanisme senyawa bioaktif andrographolide (AG) pada ekstrak sambiloto (Andrographis paniculata) sebagai agen antiinflamasi. Metode yang digunakan oleh penulis dalam artikel ini adalah metode narrative review, dengan mengumpulkan beberapa studi tentang efek antiinflamatori dari AG pada KU melalui pencarian database. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa salah satu kandungan sambiloto, senyawa labdane diterpenoid dalam bentuk aktif AG, mampu menghambat ekspresi sitokin proinflamasi sehingga berpotensi sebagai antiinflamasi serupa dengan mesalamin pada terapi KU. Selain itu, sambiloto memiliki kandungan flavonoid dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Sebagai simpulan, AG memiliki properti antiinflammatori yang dapat digunakan sebagai bagian dari terapi komplementer pada KU. Kata kunci: andrographolide, andrographis paniculata, inflamasi, kolitis ulseratif, sambiloto
Comparison of Eye Fatigue Incidence Between Male and Female Medical Students with Refraction Error Wardana, Made Kusuma; Permatananda, Pande Ayu Naya Kasih; Sedani, Ni Wayan; Cahyawati, Putu Nita; Aryastuti, Anak Agung Sri Agung
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5926

Abstract

Abstract—Eye fatigue is one of main problems faced by students during their education. The female gender is known to have a higher risk of eyestrain than the male gender. This study was conducted to analyze the differences in eyestrain event of medical students with refractive error based on gender. This research was an analytic observational study with cross-sectional design. Male and female students with refractive errors, aged 18-20 years old, and willing to participate in the study were included. Eyestrain was measured using Visual Fatigue Score questionnaire in Indonesian. Chi Square analysis was carried out to analyze the differences in eyestrain event of medical student with refractive error based on the gender. Results: There were 117 respondents in this study, which consisted of 57 male students and 57 female students, both were with refractive errors. Of the 117 respondents, 62 respondents experienced with eyestrain, with details of 24 were male students and 38 were female students. Chi Square analysis obtained a P value of 0.001 which means significantly different. In addition to refractive errors, gender is another variable that can affect the event of eyestrain in medical students. Prevention efforts need to be done to overcome this problem. Keywords: eye fatigue, gender, refraction error, medical student Abstrak—Kelelahan mata merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi mahasiswa selama menjalani pendidikan. Jenis kelamin perempuan diketahui memiliki risiko kelelahan mata yang lebih tinggi daripada jenis kelamin laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kejadian kelelahan mata pada mahasiswa kedokteran dengan gangguan refraksi berbasis gender. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Mahasiswa atau mahasiswi kedokteran dengan gangguan refraksi, berusia 18-20 tahun, dan bersedia mengikuti penelitian dimasukkan ke dalam penelitian. Kelelahan mata diukur dengan menggunakan kuesioner Visual Fatigue Score dalam Bahasa Indonesia. Analisis Chi Square dilakukan untuk menganalisis perbedaan kelelahan mata pada mahasiswa dan mahasiswi kedokteran dengan gangguan refraksi. Responden penelitian ini berjumlah 117 yang terdiri dari 57 mahasiswa dan 57 mahasiswi dengan gangguan refraksi. Dari 117 responden tersebut, 62 responden mengalami kelelahan mata, dengan rincian 24 adalah mahasiswa dan 38 adalah mahasiswi. Analisis Chi Square didapatkan nilai p= 0,001 yang berarti bermakna signifikan. Selain gangguan refraksi, gender adalah hal yang dapat berpengaruh pada kejadian kelelahan mata pada mahasiswa. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk dapat mengatasi hal tersebut., Kata kunci: kelelahan mata, gender, gangguan refraksi, mahasiswa kedokteran
Determinant of Successful Tuberculosis Treatment in Puskesmas Singosari in 2020-2022 Diah Ayu Kamila; Hartati Eko Wardani; Tika Dwi Tama; Anindya Hapsari; Rara Warih Gayatri
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5972

Abstract

Abstract—Indonesia is one of the countries that contribute the most mortality of TB in the world. The tuberculosis treatment success rate in Indonesia is 86% meanwhile is still far from the target coverage of the TB treatment success rate (90%). This study conducted to determine the determinant factors of successful TB treatment in Puskesmas Singosari. A cross-sectional design study was constructed for this study and used SITB and form TB as a research instrument. The population of this study were all drug-susceptible TB patients who had completed treatment at the Puskesmas Singosari in 2020, 2021, and QI-QII in 2022. The sample of this study was 71 people from 99 total population. The dependent variable is the success of drug-susceptible TB treatment. Independent variables are sex, age, weight, regular use of anti-tuberculosis drugs, and comorbidities. The data processing and analysis are being conducted using SPSS software. Chi-square analysis showed that the variable weight changes have a significant assosiation to successful tuberculosis treatment (p = 0,014; OR = 9,818). Puskesmas Singosari's TB Team can collaborate with the nutritionist team to optimize TB treatment by monitoring nutritional status and weight gain of drug-susceptible TB patients. Keywords: tuberculosis, drug-susceptible, successful treatment, determinant Abstrak—Indonesia termasuk salah satu negara penyumbang sebagian besar kasus kematian TB secara global. Persentase keberhasilan pengobatan TB di Indonesia ialah 86%, dimana masih jauh dari target cakupan keberhasilan pengobatan TB (90%). Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor determinan yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Sensitif Obat di Puskesmas Singosari. Desain studi cross sectional digunakan dengan data sekunder bersumber dari SITB dan arsip formulir TB. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien TB-SO yang telah menyelesaikan pengobatan di Puskesmas Singosari pada tahun 2020, 2021, dan TW I-II tahun 2022. Sampel penelitian berjumlah 71 orang dari total populasi 99 orang. Variabel terikat dari penelitian ini yaitu keberhasilan pengobatan TB-SO. Variabel bebas yang diteliti yaitu jenis kelamin, usia, BB awal pengobatan, perubahan BB selama pengobatan, keteraturan minum OAT, dan komorbid. Hasil analisis membuktikan bahwa variabel perubahan berat badan berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan pengobatan TB (p = 0,014; OR = 9,818). Rata-rata kenaikan berat badan pada pasien yang berhasil menjalani pengobatan TB adalah sebesar 2,19 kg. Tim P2TB Puskesmas Singosari dapat bekerjasama dengan program gizi masyarakat dalam optimalisasi pengobatan pasien TB melalui pemantauan status gizi dan kenaikan BB Pasien. Kata kunci: tuberkulosis, sensitif obat, keberhasilan pengobatan, determinan
Swiss-Cheese Model Kausalitas Efek Samping Obat: Laporan Kasus Perdarahan Saluran Cerna Pada Penggunaan Obat Herbal Marzuki HY, Jefman Efendi; Christy, Glorianna; Shofa, Nyimas Maida
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5989

Abstract

Abstract—Pharmacovigilance is a process to identify, evaluating, comprehending, and avoiding harmful drug or treatment-related events. Unfortunately, Indonesia still has a relatively low rate of reporting adverse drug reactions (ADR), including those caused by herbal medications. Lack of information is one factor contributing to this, among others being ignorance and lack of awareness. The Swiss-cheese model is a risk analysis approach that can be used to examine variables that could contribute to the occurrence of adverse drug reactions. A woman, 72, was checked into the hospital after complaining of melena. The patient had previously used herbal product that containing of Retrofracti fructus, Languatis rhizoma, Piperis nigri fructus, Blumeae folium, and Orthosiphonis folium, patient also consume herbs that made from lemongrass (Cymbopogon citratus) dan turmeric (Curcuma longa). Some herbs may have an impact on the cyclooxygenase (COX) system, raising the danger of gastrointestinal problems including bleeding. Diverse patient comorbidities may potentiate adverse drug reactions, necessitating careful monitoring of medication side effects, encompassing both pharmaceutical and herbal remedies. Swiss-cheese model is an approach that can be used to analyze factors that can contribute to adverse drug event. Naranjo and WHO-UMC were used in the causality analysis. Keywords: herbs; adverse drug reaction, gastrointestinal bleeding, patient safety, pharmacovigilans Abstrak—Farmakovigilans merupakan kegiatan ditujukan sebagai upaya mendeteksi, menilai, memahami, dan mencegah kejadian yang merugikan akibat obat ataupun produk pengobatan. Sayangnya pelaporan efek samping obat (ESO) termasuk obat herbal masih sangat rendah di Indonesia. Hal ini dapat diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan dan perhatian, salah satunya akibat kurangnya data. Swiss-cheese model adalah pendekatan analisis risiko yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat berkontribusi terhadap kejadian ESO. Seorang wanita 72 tahun masuk ke rumah sakit dengan keluhan melena. Pasien memiliki riwayat penggunaan produk herbal yang mengandung Retrofracti fructus, Languatis rhizoma, Piperis nigri fructus, Blumeae folium, Orthosiphonis folium, serta memiliki riwayat mengonsumsi jamu serai (Cymbopogon citratus) dan kunyit (Curcuma longa). Beberapa herbal memiliki potensi mempengaruhi sistem siklooksigenase (COX), sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada saluran cerna seperti perdarahan. Serangkaian kondisi pasien dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat, sehingga perlunya perhatian terhadap efek samping obat termasuk obat herbal. Pemodelan Swiss-cheese merupakan suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat berkontribusi terhadap kejadian ESO. Analisis kausalitas dilakukan dengan menggunakan WHO-UMC dan Naranjo. Hal ini ditujukan sebagai upaya peningkatan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien. Kata kunci: obat herbal, efek samping, perdarahan saluran cerna, keamanan pasien, farmakovigilans
Association between CYP2C9 and CYP2C19 Polymorphism, Metabolism, and Neurotoxicity after Administration of Phenytoin: A Systematic Review Mardhiani, Rizka; Harahap, Yahdiana; Wiratman, Winnugroho
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.6010

Abstract

Abstract—Phenytoin is an antiepileptic drug (AED) metabolized by cytochrome P450 enzymes, especially by CYP2C9 (90%) and CYP2C19 (10%), where both enzymes are polymorphic so that they can undergo polymorphism and it can change the metabolic rate of the drug. Phenytoin is one of the drugs whose risk of side effects may increase due to its narrow therapeutic window of 10-20 µg/mL if the metabolism is slow. The main literature was taken from publications through the library databases in 2017 – 2021. Studies and reviews describing the metabolism, CYP2C9 and CYP2C19 polymorphisms, and neurotoxicity of phenytoin were included, and unrelated research were excluded. There were 18 of 853 articles describing CYP2C9 and CYP2C19 polymorphisms, metabolism, and neurotoxicity events associated with phenytoin used. The authors conclude that based on the results from various literature, there is an association between CYP2C9 and CYP2C19 polymorphism, metabolism, and neurotoxicity after Phenytoin administration with CYP2C9*2 and CYP2C9*3 types of polymorphisms for CYP2C9 and CYP2C19*2 and CYP2C19*3 types for CYP2C19*3 enzymes which can slow down the phenytoin metabolism and increase its concentration in serum so that the risk of causing neurotoxicity. Keywords: CYP2C9, CYP2C19,metabolism, neurotoxicity, phenytoin Abstrak—Fenitoin merupakan obat antibangkitan yang dimetabolisme oleh enzim sitokrom P450 terutama oleh CYP2C9 (90%) dan CYP2C19 (10%), dimana kedua enzim tersebut bersifat polimorfik sehingga dapat mengalami polimorfisme dan dapat mempengaruhi laju metabolisme obat. fenitoin merupakan salah satu obat yang risiko efek sampingnya dapat meningkat jika metabolismenya lambat karena jendela terapeutiknya yang sempit, yaitu 10-20 µg/mL. Literatur utama diambil dari publikasi melalui database perpustakaan tahun 2017 – 2021. Penelitian dan ulasan yang menggambarkan metabolisme, polimorfisme CYP2C9 dan CYP2C19, dan neurotoksisitas fenitoin, dan penelitian yang tidak terkait dikeluarkan. Terdapat 18 dari 853 artikel yang menjelaskan polimorfisme CYP2C9 dan CYP2C19, metabolisme, dan kejadian neurotoksisitas terkait dengan fenitoin yang digunakan. Peneliti menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil dari berbagai literatur, terdapat hubungan antara polimorfisme, metabolisme, dan neurotoksisitas CYP2C9 dan CYP2C19 setelah pemberian fenitin dengan jenis polimorfisme CYP2C9*2 dan CYP2C9*3 untuk CYP2C9 dan CYP2C19*2 dan CYP2C19*3 jenis enzim CYP2C19*3 yang dapat memperlambat metabolisme fenitoin dan meningkatkan konsentrasinya dalam serum sehingga berisiko menyebabkan neurotoksisitas. Kata kunci: CYP2C9, CYP2C19, fenitoin, metabolisme, neurotoksisitas
Pengujian In Vitro Serum Antiacne Kombinasi Ekstrak Daun Kemangi dan Rimpang Kunyit Fitri Cahyani, Mayassa; Halimatushadyah, Ernie; Krismayadi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 2 (2024): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i2.6030

Abstract

Abstract—Acne is a chronic inflammation of the pilosebaceous follicles which is characterized by excess oil production caused by the bacterium Propionibacterium acnes. The content of flavonoids in basil leaves and the content of curcumin in turmeric rhizome can be used as an anti-acne treatment. The purpose of this study was to determine the anti-acne activity of a single extract of basil leaves and a single extract of turmeric rhizome, to determine the ability of the combination two extracts to inhibit acne-causing bacteria and to formulate combination of basil leaf extract and turmeric rhizome into a serum preparation to determine antibacterial activity against Propionibacterium acnes. The research method used was experimental by testing the antibacterial activity of Propionibacterium acnes in vitro. Antibacterial activity test results in serum showed a negative control, namely serum base did not have an inhibition zone, positive control clindamycin phosphate showed an inhibition zone of 13.20 mm, with a ratio between extracts of turmeric rhizome and basil leaves 1:4, the diameter of the inhibition zone was obtained at a concentration of 30 % of 5.7 mm, 40% concentration of 7.38 mm and 50% concentration of 8.11 mm. Statistical analysis was carried out using the Shapiro-Wilk, Levene Statistics, and One Way Anova methods (p<0.05). Keywords: acne, basil, p. acnes, serum, turmeric Abstrak—Jerawat merupakan peradangan kronik folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya produksi minyak berlebih yang disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Kandungan flavonoid pada daun kemangi dan kandungan kurkumin pada rimpang kunyit dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan antijerawat. Sediaan farmasi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah kulit berjerawat yaitu serum. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antijerawat pada ekstrak tunggal daun kemangi dan ekstrak tunggal rimpang kunyit, mengetahui kemampuan kombinasi kedua ekstrak dalam menghambat bakteri penyebab jerawat dan memformulasikan kombinasi ekstrak daun kemangi dan rimpang kunyit menjadi sediaan serum untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan melakukan uji aktivitas antibakteri Propionibacterium acnes secara in vitro. Hasil uji aktivitas antibakteri pada serum menunjukkan kontrol negatif yaitu basis serum tidak mempunyai zona hambat, kontrol positif clindamycin phospat menunjukkan zona hambat sebesar 13,20 mm, dengan perbandingan antara ekstrak rimpang kunyit dan daun kemangi 1:4 diperoleh hasil diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 5,7 mm, konsentrasi 40% sebesar 7,38 mm dan konsentrasi 50% sebesar 8,11 mm. Analisa statistik dilakukan dengan metode Shapiro-wilk, Levene statistic, dan One Way Anova (p<0,05). Kata kunci: jerawat, kemangi, kunyit, p. acnes, serum