cover
Contact Name
Thomas S. Iswahyudi
Contact Email
tom_wahyudi@staff.ubaya.ac.id
Phone
+6231-2981344
Journal Mail Official
rahmanfibri@staff.ubaya.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalirungkut - Surabaya 60293 Gedung Perpustakaan Lt. 4
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Published by Universitas Surabaya
ISSN : -     EISSN : 27156419     DOI : https://doi.org/10.24123/kesdok
Core Subject : Health, Agriculture,
The term Keluwih comes from keluwih leaf which is one of the symbols of the University of Surabaya. In this symbol, keluwih leaf means high ideals of knowledge (Linuwih). Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (Keluwih: Journal of Health and Medicine) is an online, open access, and peer-reviewed journal. JKKd is published twice a year (December, June; First published in December 2019). This journal aims to disseminate the results of original research, case report, and critical reviews in the fields of health and medicine. This focus and scopes include, but are not limited to a pharmacy, medicine, public health, and health biotechnology fields.
Articles 80 Documents
Hubungan Karakteristik Pasien Hipertensi dengan Kepatuhan Minum Obat di UPT Puskesmas Kemirimuka Intan Sulistia Anjani; Rony Darmawansyah Alnur
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.6856

Abstract

Abstract—Adherence is often a problem for patients suffering from chronic diseases requiring long-term treatment. The target set by the Depok City Health Office for hypertensive patients undergoing treatment has not yet reached 100%, with only 23% of hypertensive patients receiving treatment at Puskesmas Kemiri Muka. This study aims to determine the relationship between patient characteristics and medication adherence behavior among hypertensive patients at UPT Puskesmas Kemiri Muka, Depok City, in 2024. This is a quantitative study with an analytical design using a cross-sectional approach. Data collection was conducted in May 2024. The study population consists of all hypertensive patients seeking treatment at Puskesmas Kemiri Muka. A total of 85 patients were selected as samples using purposive sampling. The research instrument was a questionnaire containing a set of questions that respondents had to answer. The data analysis used was univariate and bivariate analysis with the Chi-Square statistical test. The study results indicate a significant relationship between knowledge and medication adherence (p-value = 0.00). However, employment status and education level were not significantly associated with medication adherence (p-value ≥ 0.05). Based on these findings, it is recommended that the health center provide leaflets or posters related to medication adherence in the patient waiting area, which could help improve patient knowledge and awareness regarding the importance of consistent medication intake. Keywords: adherence, hypertension, behavior, knowladge, patient characteristics Abstrak—Kepatuhan sering menjadi masalah pada pasien yang menderita penyakit kronik dengan pengobatan jangka panjang. Diketahui sasaran dari Dinas Kesehatan Kota Depok untuk pasien hipertensi yang melakukan pengobatan belum mencapai 100 %, dimana hanya sebesar (23%) pasien hipertensi yang melakukan pengobatan di Puskesmas Kemiri Muka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan perilaku kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di UPT Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Pengambilan data dilakukan pada Bulan Mei 2024. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang berobat di Puskesmas Kemirimuka. Jumlah sampel yang di ambil sebanyak 85 pasien dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Analisis data yang digunakan ialah univariat dan bivariate dengan uji statistic Chi Square. Hasil pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (pvalue = 0,00). Sedangkan variabel status pekerjaan dan tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan kepatuhan minum obat (pvalue ≥ 0,05). Bedasarkan hasil penelitian, maka saran yang diberikan yaitu pihak puskesmas dapat menyediakan leaflet atau poster yang berkenaan dengan kepatuhan minum obat di ruang tunggu pasien, sehingga dapat memberikan pengetahuan pasien yang membacanya. Kata kunci: kepatuhan, hipertensi, perilaku , pengetahuan, karakteristik pasien
Congenital Basal Meningocele: An Unusual Cause of Nasal Obstruction in Early Life Retnaningtyas, Lucia Pudyastuti
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.7366

Abstract

Abstract— Basal meningoceles are rare congenital defects that can cause nasal obstruction and often clinically occult until they result in life-threatening complications. Knowing the clues to early diagnosis, management, and complications is essential. Case: A 7-day-old baby girl was referred to our hospital because of high fever and dyspnoea, and the baby was diagnosed with pneumonia, lip tie, cup ears and suspicion of laryngomalacia. The patient got dyspnoea with stridor when drinking, and it decreased when her mouth was open. The suction catheter could not enter through the left choana. The nasal endoscopy showed an elevation of the hard palate. A 3-dimensional facial CT scan demonstrated a transsellar–transsphenoidal meningocele protruding into the left nasal cavity. A diluted liquid came out from the left nose with a yellowish-clear colour, and the baby showed a high-pitched cry. Bacterial meningitis was established from cerebrospinal liquor analyses. After meningitis treatment, surgical repair to meningocele reposition and bone defect repair was done at 40 days. Conclusion: In our case, the nasal obstruction was not detected from the beginning of birth, and it led to delays in finding the cause. Basal meningocele in this case was accidentally diagnosed by a facial CT scan exploring the cause of choana atresia. It’s essential to detect choana atresia since birth, explore the etiology immediately, and manage it well to prevent life-threatening complications. Keywords: nasal obstruction, congenital basal meningocele Abstrak—Meningocele basal merupakan kelainan kongenital langka yang dapat menyebabkan obstruksi hidung yang secara klinis sering tersembunyi sehingga baru diketahui saat sudah terjadi komplikasi. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis dini agar dapat diberi tata laksana yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa. Kasus: Seorang bayi perempuan berusia 7 hari dirujuk ke rumah sakit kami karena demam tinggi dan dispnoea dan bayi itu didiagnosis sebagai pneumonia, ikatan bibir, telinga cangkir dan kecurigaan laringomalesia. Pasien mengalami dispnea dengan stridor saat minum; dan menurun ketika mulutnya terbuka. Kateter hisap tidak bisa masuk melalui choana kiri. Endoskopi hidung menunjukkan peningkatan langit-langit keras. CT scan wajah 3 dimensi menunjukkan transsellar – meningocele transsphenoidal yang menonjol ke dalam rongga hidung kiri. Cairan encer keluar dari hidung kiri dengan warna bening kekuningan, dan bayi itu menunjukkan tangisan nada tinggi. Meningitis bakteri ditetapkan dari analisis cairan serebrospinal. Setelah meningitis diobati, perbaikan bedah reposisi meningocele dan perbaikan cacat tulang dilakukan pada usia 40 hari. Kesimpulan: Dalam kasus kami, meningocele basal secara tidak sengaja didiagnosis dengan CT scan wajah yang mengeksplorasi penyebab choana atresia. Sangat penting untuk mendeteksi choana atresia sejak lahir, segera mengeksplorasi etiologinya, dan mengelolanya dengan baik untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa. Kata kunci: obstruksi hidung, meningocele basal kongenital
Optimasi Laju Alir Pengeringan Semprot Mikropartikel Asiklovir dengan Kitosan dan Natrium Tripolifosfat Cynthia Marisca Muntu; Jessica Clarissa Selan; Sadono
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.7410

Abstract

Abstract—The solubility and bioavailability limitations of acyclovir can be addressed through the microparticles formulation using the spray drying (SD) method. In this study, chitosan and sodium tripolyphosphate were utilized as cross-linking agents in acyclovir microparticles (MA). This study aims to investigate the influence of SD flow rates on MA formation. The SD flow rates were set at 7.5 (L1), 6.5 (L2), and 5.5 (L3) mL/min. Functional group identification confirmed cross-linking in all MA samples. Melting point and thermal energy parameters analysis revealed differences in endothermic values between chitosan and all samples. The particle diameters of MA in L1, L2, and L3 were 8.03, 8.78, and 8.57 µm, respectively. All MA samples exhibited a roughly spherical shape. The encapsulation efficiency of L1, L2, and L3 ranged from 118.25% to 122.79%. The swelling percentage after 30 minutes reached 178.67%. The lowest moisture content of MA was observed in the L2 sample at 3.27%. The highest yield recovery was obtained in the L2 sample at 47.26%. The dissolution profiles of all samples demonstrated controlled release profile. The SD flow rate influenced encapsulation efficiency, swelling, moisture content, drug release, and yield recovery. The best characteristics of MA were achieved at a flow rate of 6.5 mL/min. Keywords: acyclovir, chitosan, flow rate, microparticles, spray-drying Abstrak—Keterbatasan kelarutan dan bioavailabilitas asiklovir dapat diatasi dengan pembentukan mikropartikel menggunakan metode pengeringan semprot (SD). Pada penelitian ini kitosan dan natrium tripolifosfat digunakan sebagai penyambung silang dalam mikropartikel asiklovir (MA). Ekplorasi laju alir SD diperlukan untuk mengoptimalkan karakteristik MA. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh laju alir SD dalam pembentukan MA. Laju alir SD diatur pada variasi 7,5 mL/menit (L1), 6,5 mL/menit (L2), dan 5,5 mL/menit (L3). Identifikasi gugus fungsi membuktikan terjadinya sambung silang pada seluruh sampel MA. Analisa kualitatif berupa parameter titik lebur dan energi termal menunjukkan perbedaan nilai endotherm antara kitosan dengan sampel L1, L2, dam L3. Diameter partikel MA pada sampel L1, L2, dan L3 berturut-turut adalah 8,03 µm, 8,78 µm, dan 8,57 µm. Bentuk partikel ketiga sampel MA adalah sferis dengan morfologi permukaan kasar. Efisiensi enkapsulasi L1, L2, dan L3 berkisar 118,25 % sampai 122,79 %. Prosentase swelling setelah 30 menit mencapai 178,67 %. Kandungan lembap MA terendah diperoleh sampel L2 yaitu 3,27%. Perolehan kembali rendemen tertinggi sampel L2 sebanyak 47,26 %. Profil disolusi ketiga sampel menunjukkan pelepasan bertahap. Laju alir SD mempengaruhi efisiensi enkapsulasi, swelling, kandungan lembap, pelepasan obat dan perolehan kembali. Karakteristik MA terbaik pada laju alir 6,5 mL/menit. Kata kunci: asiklovir, kitosan, laju alir, mikropartikel, pengeringan semprot
Ketepatan Reasoning/Judgement dan Rekomendasi Mahasiswa Farmasi pada Kasus Vignette Swamedikasi Dispepsia Jesica Mourin; Cecilia Brata
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.7435

Abstract

Abstract—The public frequently comes to community pharmacies for self-medication to address mild symptoms, including dyspepsia. Pharmacy students need to develop appropriate clinical decision-making abilities to provide quality self-medication services as they prepare for their future roles as pharmacists. This study aims to describe the appropriateness of clinical reasoning/judgement and recommendations by pharmacy students in response to a vignette case of NSAID-induced dyspepsia. Data was collected through Google Form questionnaires, with third-year pharmacy students who currently took a course related to self-medication as participants. Descriptive statistics and inductive content analysis were used to analyze the data. The appropriateness of reasoning/judgement and recommendations was determined based on conformity with the literature and/or expert panel consensus. The total population was 162 students and of these 150 participated. Of the 150 participants, 78% provided appropriate reasoning/judgement and recommendations to the NSAID-induced dyspepsia case. This showed that most pharmacy students at this university demonstrated correct clinical reasoning/judgment, and could provide appropriate recommendations for a case of NSAID-induced dyspepsia. This might imply that the changes in the Indonesian pharmacy curriculum, incorporating more clinical skills, have started showing positive effects. Keywords: self-medication, dyspepsia, reasoning/judgement, recommendations, pharmacy students Abstrak—Masyarakat sering datang ke apotek untuk melakukan swamedikasi dalam mengatasi gejala ringan, termasuk untuk mengatasi keluhan dispepsia. Mahasiswa farmasi, sebagai calon apoteker di masa depan, perlu mempunyai kemampuan clinical decision making yang mumpuni untuk dapat memberikan layanan swamedikasi yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketepatan clinical reasoning/judgement dan rekomendasi yang diberikan oleh mahasiswa S1 farmasi dalam menanggapi kasus swamedikasi dispepsia akibat penggunaan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid). Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner Google Forms, dengan melibatkan partisipan mahasiswa farmasi tahun ketiga yang saat ini sedang mengikuti mata kuliah terkait swamedikasi. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inductive content analysis. Ketepatan reasoning/judgement serta ketepatan rekomendasi ditentukan berdasarkan kesesuaian dengan literatur dan/atau konsensus expert panel. Dari total populasi 162 mahasiswa, 150 mahasiswa berpartisipasi pada penelitian ini. Dari 150 partisipan ini, 78% dapat memberikan clinical reasoning/judgement dan rekomendasi dengan tepat pada kasus ini. Hal ini menunjukkan mayoritas mahasiswa S1 farmasi pada universitas ini telah mempunyai kemampuan yang baik dalam clinical reasoning/judgement dan pemberian rekomendasi pada kasus swamedikasi dispepsia karena penggunaan AINS. Hal ini mungkin menandakan bahwa perubahan dalam kurikulum farmasi di Indonesia yang saat ini lebih banyak memasukkan clinical skills mulai memberikan dampak positif. Kata kunci: swamedikasi, dispepsia, reasoning/judgement, rekomendasi, mahasiswa farmasi
A Case Report Capecitabine-Induce Grade II Hand and Foot Syndrome Nurul Damayanti; Putri Ramadhani; Khusnul Fitri Hamidah; Husin Thamrin
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.7305

Abstract

Abstract—Capecitabine has a common side effect of hand and foot syndrome (HFS). It is cutaneous capecitabine’s adverse effect, which generally occurs within 11 to 360 days. In this case report assesses the delayed onset of capecitabine because HFS did not occur within 11-360 days but rather took longer, specifically 720 days. A female patient of 82 years old with a history of breast cancer was diagnosed four years ago. She did not undergo radiation and surgery, only capecitabine tablets as neoadjuvant therapy since April 2021. In August 2023, the patient complained of pain, dryness, and blood in both legs. Analysis of side effects of the drug was carried out using the Naranjo Probability Scale. Therapy management during hospitalization involves stopping capecitabine and performing wound care by applying fusidic acid cream and the patient's complaints improved on the eleventh day of therapy. Capecitabine discontinuation is the most effective strategy to minimize the effect of HFS. Further research is to determine the effectiveness of emollient application as a prevention for HFS. Keywords: adverse effects, capecitabine, hand and foot syndrome Abstrak—Sindrom tangan dan kaki efek samping yang sering terjadi pada penggunaan kapesitabine. Efek samping ini merupakan efek samping pada kulit yang terjadi dalam jangka waktu 11 hingga 360 hari. Pada case report ini efek samping tidak terjadi dalam jangka waktu 11-360 hari, terjadi keterlambatan reaksi yang berlangsung pada 720 hari setelah penggunaan kapesitabin. Seorang pasien perempuan berusia 82 tahun dengan riwayat kanker payudara didiagnosis empat tahun lalu. Pasien tidak menjalani radiasi dan operasi, hanya mengonsumsi tablet kapesitabin sebagai terapi neoadjuvan sejak April 2021. Pada Agustus 2023, pasien mengeluhkan nyeri, kulit kering, dan berdarah pada kedua kakinya. Analisis efek samping obat dilakukan dengan menggunakan Skala Probabilitas Naranjo. Penatalaksanaan terapi selama rawat inap meliputi penghentian kapesitabin dan perawatan luka dengan krim asam fusidat dan keluhan pasien membaik di hari ke-11 terapi. Penghentian kapesitabin merupakan strategi yang paling efektif untuk meminimalkan efek HFS. Penelitian selanjutnya adalah untuk menentukan efektivitas pemberian emolien sebagai pencegahan HFS. Kata kunci: efek samping, kapesitabin, sindrom kaki dan tangan
Nutritional and Sensory Profile of Conventional, Gluten-Free, and Plant-Based Cookies Puspitasari, Elia Devina; Tjie Kok
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 7 No. 1 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V7i1.7861

Abstract

Abstract—Amid the growing consumer demand for healthier and more sustainable food options, gluten-free and plant-based cookies have emerged as key alternatives to conventional products. This review provides a comparative analysis of the composition, nutrition, and sensory acceptance of these three cookie types to identify challenges and opportunities for innovation. Key findings indicate that while alternative cookies address specific dietary needs, major challenges lie in replicating texture and achieving nutritional balance. Critically, this review highlights the unique contribution of utilizing local composite flours such as gadung tuber, brown rice, and moringa leaves as a proven solution to significantly enhance both nutritional value and textural quality. The practical implication is that future cookie formulation innovation relies heavily on leveraging local, functional ingredients to create products that are not only nutritionally superior but also widely accepted by consumers. Keywords: cookies, alternative flours, functional foods, consumer behavior, nutritional profile, sustainability Abstrak—Seiring meningkatnya permintaan konsumen akan pilihan makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan, kue kering bebas gluten dan berbasis nabati telah muncul sebagai alternatif utama dari produk konvensional. Review ini menyajikan analisis komparatif mengenai komposisi, nutrisi, dan penerimaan sensoris dari ketiga jenis kue kering tersebut untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang inovasi. Temuan utama menunjukkan bahwa meskipun kue kering alternatif mengatasi kebutuhan diet spesifik, tantangan utama terletak pada replikasi tekstur dan keseimbangan nutrisi. Secara kritis, review ini menyoroti kontribusi unik dari pemanfaatan tepung komposit lokal seperti umbi gadung, beras merah, dan daun kelor sebagai solusi yang terbukti efektif untuk meningkatkan nilai gizi dan kualitas tekstur secara signifikan. Implikasi praktisnya adalah bahwa inovasi formulasi cookies di masa depan sangat bergantung pada pemanfaatan bahan fungsional lokal untuk menciptakan produk yang tidak hanya unggul secara nutrisi tetapi juga dapat diterima secara luas oleh konsumen. Kata kunci: keberlanjutan, kue kering, pangan fungsional, perilaku konsumen, profil nutrisi, tepung alternatif
The Isoflavone Contents of Devon 1 Soybeans during Fermentation and Processing into Soybean-Tempeh Steamed Buns Amanda Villelie Sudarmin; Christina Mumpuni Erawati; Tjandra Pantjajani; Stephanie Belinda Wijaya; Pandu Salim Hanafi; Mariana Wahjudi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 7 No. 1 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V7i1.7929

Abstract

Abstract—The soybean Devon 1 variety is a superior variety developed in Indonesia. The isoflavone content makes this soybean a top choice for a functional food. However, fermenting soybeans into tempeh and processing them into other products can affect the final isoflavone content. The objective of this study was to analyze the total isoflavone and its derivatives content in Devon 1 soybeans, soybean tempeh, soybean tempeh flour, and buns made from tempeh flour. The content of each isoflavone type was determined by high-performance liquid chromatography at λ249 and λ260 nm wavelengths. The buns were made from tempeh flour with variations of tempeh flour substitution of 0, 10, 20, and 30%. The results showed that the fermentation of Devon 1 soybeans and further processing of tempeh significantly altered the isoflavone components and content. The concentrations of daidzin and genistin in tempeh were decreased, while daidzein and genistein were increased. Further processing of tempeh into flour increased all isoflavone levels significantly, which might be caused by the isoflavone transformation during drying and enzymatic activity. Substitution of wheat flour with soybean tempeh flour increased these four isoflavones content of the buns. Therefore, tempeh flour made from Devon 1 soybeans has the potential to be used as a functional food ingredient rich in bioactive compounds that promote health. Keywords: flour, heat, isoflavone aglycones, isoflavone glycoside, soybean tempeh Abstrak—Kedelai varietas Devon 1 merupakan varietas unggul yang dikembangkan di Indonesia. Kandungan isoflavonnya menjadikan kedelai ini sebagai pilihan utama untuk pembuatan pangan fungsional. Namun, proses fermentasi kedelai menjadi tempe, serta pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai produk turunan dapat memengaruhi kandungan akhir isoflavonnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kandungan total isoflavon dan turunannya pada kedelai Devon 1, tempe kedelai, tepung tempe kedelai, serta bakpao yang dibuat dari tepung tempe. Kandungan masing-masing jenis isoflavon diuji menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi pada panjang gelombang λ249 dan λ260 nm. Adapun bakpao dibuat dari tepung tempe dengan variasi substitusi tepung tempe sebesar 0, 10, 20, dan 30%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi kedelai Devon 1 dan pengolahan tempe lebih lanjut secara signifikan mengubah komponen dan kandungan isoflavon. Kandungan daidzin dan genistin dalam tempe menurun, sedangkan kandungan daidzein dan genisteinnya mengalami peningkatan. Pengolahan tempe menjadi tepung lebih lanjut meningkatkan seluruh kandungan isoflavon secara signifikan, yang kemungkinan disebabkan oleh transformasi isoflavon selama proses pengeringan dan aktivitas enzimatis. Substitusi tepung terigu dengan tepung tempe meningkatkan kandungan keempat jenis isoflavon pada bakpao. Dengan demikian, tepung tempe kedelai Devon 1 berpotensi digunakan sebagai bahan pangan fungsional yang kaya akan senyawa bioaktif untuk menunjang kesehatan. Kata kunci: aglikon isoflavon, glikosida isoflavon, pemanasan, tempe kedelai, tepung
Luka Gigitan Buaya: Tata Laksana Berkesinambungan dari Pra-Rumah Sakit ke Rumah Sakit Bunga Allo, Silvanus Giovanny; Pratidina Susilo, Astrid; Muhammad Ikhwan Nur; Rieza Furry Anissa Putri; Achmad Fachrizal
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 7 No. 1 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V7i1.6935

Abstract

Abstract—East Kalimantan Province is a tropical region with rivers that serve as habitats for various wildlife, including crocodiles. The province has a relatively high incidence of human–crocodile conflicts. Crocodile bites often result in extensive wounds with a high risk of infection. Hypovolemic or septic shock represents a medical emergency that requires careful attention in such cases. Crocodile bite injuries can significantly reduce quality of life due to tissue damage, chronic pain, and impaired limb function, leading to limited activity and decreased social participation. Prompt, appropriate, and continuous management is essential to prevent complications and mortality. Keywords: crocodile bite, continuity of care, wound Abstrak—Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah tropis dengan sungai yang menjadi habitat dari banyak satwa, salah satunya buaya. Kalimantan Timur memiliki konflik antara buaya dan manusia yang cukup tinggi. Luka gigitan buaya sering kali menyebabkan luka yang luas dengan risiko infeksi yang cukup tinggi. Keadaan syok hipovolemik atau syok septik merupakan kegawatdaruratan yang perlu diperhatikan pada kasus gigitan buaya. Luka gigitan buaya dapat menurunkan kualitas hidup akibat kerusakan jaringan, nyeri kronis, dan gangguan fungsi anggota tubuh yang berdampak pada keterbatasan aktivitas serta penurunan partisipasi sosial. Pertolongan yang cepat, tepat, dan berkesinambungan merupakan modalitas utama dalam pencegahan komplikasi dan kematian. Kata kunci: gigitan buaya, luka, perawatan berkesinambungan
Efektivitas Sari Katuk dan Tomat terhadap Berat Badan dan Persen Lemak Tubuh Siswi Overweight Trisna Maulida; Alfian Abdul Rajab; Efina Amanda
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 7 No. 1 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V7i1.7464

Abstract

Abstract—Overweight is a condition of excessive fat accumulation that results in excess body weight, which can affect health. Overweight in adolescents is a major health problem in society in both developed and developing countries. The prevalence of overweight in East Java reached 11.3%, higher than the national data of 8%. The effects of overweight include obesity, chronic diseases, type 2 diabetes mellitus, and others. This research method uses a quasi-experimental design with a pretest-posttest approach with a control group design, which is divided into three groups: the control group, treatment group 1 (P1), and treatment group 2 (P2). The sampling technique used was total sampling with 30 samples. Body weight was measured before and after treatment in all groups. The treatment groups received 150 ml of Katuk and tomato juice in ratios P1 (0.5:0.75) and P2 (1:1.5) for 14 days. The statistical test results showed that the body weight of the treatment group (P1 = 0.019) and (P2 = 0.000), while the body fat percentage (P1 = 0.005) and (P2 = 0.000), which means there is an effect. Giving katuk and tomato leaf juice effectively reduces body weight and fat percentage. Treatment group 2 (P2) as the most effective dose in reducing body weight and body fat percentage in overweight students at MAN 1 Banyuwangi. Keywords: overweight, katuk leaves, tomato Abstrak—Overweight merupakan kondisi penimbunan lemak berlebih yang menyebabkan kelebihan berat badan yang menganggu kesehatan. Overweight pada remaja menjadi permasalahan kesehatan yang besar di masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang. Prevalensi kejadian overweight di Jawa Timur mencapai 11,3% lebih tinggi daripada data nasional sebesar 8%. Dampak overweight yaitu menyebabkan obesitas, penyakit kronis, diabetes melitus tipe 2, dan lain-lain. Metode penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan pretest-posttest with control group design yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan 1 (P1) dan kelompok perlakuan 2 (P2). Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan 30 sampel. Semua kelompok diukur berat badan dan persen lemak tubuh sebelum dan setelah diberi perlakuan. Kelompok perlakuan diberikan 150 ml sari katuk dan tomat dengan ratio P1 (0,5:0,75) sedangkan P2 (1:1,5) selama 14 hari. Hasil uji statistik diketahui berat badan kelompok perlakuan (P1 = 0,019) dan (P2 = 0,000) sedangkan persen lemak tubuh (P1 = 0,005) dan (P2 = 0,000) yang berarti terdapat pengaruh. Pemberian sari katuk dan tomat efektif dalam menurunkan berat badan dan persen lemak tubuh. Kelompok perlakuan 2 (P2) menjadi dosis paling efektif dalam menurunkan berat badan dan persen lemak tubuh pada siswi overweight di MAN 1 Banyuwangi. Kata kunci: overweight, katuk, tomat
Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Moringa oleifera L. terhadap Pertumbuhan Escherichia coli Endang Sulistyarini Gultom; Nurbaity Situmorang; Adinda Laura Munthe; Agustina Matontang; Alyvia Salsabila; Deka Wira Pratama Barus; Lydia Siburian; Widyanti Saragi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 7 No. 1 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V7i1.8012

Abstract

Abstract—Escherichia coli. is a Gram-negative bacterium that commonly lives as normal flora in the digestive tract however, certain strains can cause serious diseases such as diarrhea and urinary tract infections. The high rate of antibiotic resistance has encouraged the search for alternative treatments based on natural ingredients. Moringa (Moringa oleifera L.) leaves are known to contain bioactive compounds such as flavonoids, tannins, saponins, and alkaloids, which have potential antibacterial properties. This study aimed to determine the effectiveness of ethanol extract of Moringa leaves against the growth of E. coli using the disc diffusion method on Eosin Methylene Blue Agar(EMBA) medium. The treatments consisted of three extract concentrations—55%, 75%, and 95%—along with a positive control (chloramphenicol) and a negative control (96% ethanol). The results showed that the higher the extract concentration, the larger the inhibition zone diameter formed, namely 7.68 mm at 55%, 9.85 mm at 75%, and 10.86 mm at 95%. ANOVA analysis indicated a significant difference among treatments (p < 0.001). The antibacterial activity of Moringa leaf ethanol extract was categorized as moderate to strong and bacteriostatic, meaning it inhibits bacterial growth without completely killing the bacteria. Therefore, the ethanol extract of Moringa leaves has the potential to be developed as a natural antibacterial agent against Escherichia coli. Keywords: antibacterial, ethanol extract, Escherichia coli., inhibition, Moringa oleifera L., Abstrak—Escherichia coli. merupakan bakteri Gram negatif yang umumnya hidup sebagai flora normal di saluran pencernaan, namun beberapa strainnya dapat menyebabkan penyakit serius seperti diare dan infeksi saluran kemih. Tingginya angka resistensi antibiotik mendorong perlunya pencarian alternatif pengobatan berbasis bahan alami. Daun kelor (Moringa oleifera L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun kelor terhadap pertumbuhan E. coli menggunakan metode difusi cakram pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Perlakuan terdiri atas tiga konsentrasi ekstrak, yaitu 55%, 75%, dan 95%, serta kontrol positif (kloramfenikol) dan kontrol negatif (etanol 96%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk, yaitu 7,68 mm pada 55%, 9,85 mm pada 75%, dan 10,86 mm pada 95%. Nilai ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,001). Aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor tergolong sedang hingga kuat dan bersifat bakteriostatik, yaitu menghambat pertumbuhan tanpa membunuh bakteri secara total. Dengan demikian, ekstrak etanol daun kelor berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami alternatif terhadap Escherichia coli. Kata kunci: antibakteri, ekstrak etanol, Escherichia coli., zona hambat, Moringa oleifera L.,