cover
Contact Name
Cucuk Evi Lusiani
Contact Email
lusiani1891@polinema.ac.id
Phone
+6282140565353
Journal Mail Official
lusiani1891@polinema.ac.id
Editorial Address
Jl. Soekarno Hatta No. 9, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang 65141
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi
ISSN : 19788789     EISSN : 27147649     DOI : http://dx.doi.org/10.33795/distilat
Core Subject : Engineering,
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi is an Open Access Journal with manuscripts in the form of research articles, literature review, or case reports that have not been accepted for publication or even published in other scientific journals.
Articles 879 Documents
PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH KOPI DAN SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Safira Fausta Ramadhani; Muhammad Jundi Utama; Ariani Ariani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 7, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.224

Abstract

Limbah kopi dan sekam padi sebagai biomass memiliki nilai kalor unsur karbon mencapai 40-43% dan kandungan sulfur yang rendah, sehingga industri memiliki inisiatif untuk menjadikan limbah kopi dan sekam padi sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Namun, bahan tersebut masih memiliki kadar air yang tinggi dan nilai kalor yang kurang memenuhi. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan nilai kalor dan mengurangi kadar air serta gas emisi dengan cara mengolah bahan tersebut menjadi briket. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan rasio terbaik antara kopi dan sekam. Pembuatan briket ini dilakukan pada variabel suhu non karbonisasi, karbonisasi 200oC, karbonisasi 500oC, karbonisasi S200oC (karbonisasi sekam pada 200oC) dan karbonisasi K500oC (karbonisasi kopi pada 500oC), dengan rasio komposisi yaitu K2P8 (kopi 20% dan sekam 80%), K3P7, K4P6, dan K5P5. Pembuatan briket ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu persiapan bahan baku, pemanasan awal, perlakuan karbonisasi, size reduction dan screening, pembriketan, pemanasan akhir, dan pengujian kualitas briket berupa proximate, nilai kalor, dan gas emisi. Mutu produk  yang diperoleh dibandingkan dengan standar baku mutu Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Peraturan Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari hasil penelitian didapatkan sampel biobriket terbaik pada sampel blanko kopi dengan  karbonisasi 500oC dan pada rasio komposisi sampel K5P5 pada semua variabel suhu karbonisasi.
PENGARUH JUMLAH PELARUT TERHADAP YIELD DALAM PEMBUATAN HAND SANITIZER KELOR (MORINGE OLEIFERA) Anugraheni Nur Arifa; Profiyanti Hermien Suharti
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 7, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.252

Abstract

Hand Sanitizer merupakan antiseptik yang efisien karena kemasannya yang praktis. Selain itu, hand sanitizer juga efektif membunuh kuman karena mengandung senyawa alkohol dengan konsentrasi ± 60% - 80%. Namun, penggunaan alkohol pada hand sanitizer yang kita gunakan terus menerus dapat menyebabkan iritasi, kering, dan rasa terbakar pada kulit. Dalam hal ini penggunaan alkohol sebagai antiseptik dapat dikurangi dengan dikombinasikan bahan alami. Bahan alami yang digunakan harus memiliki sifat antibakteri salah satunya adalah tanaman kelor yang banyak kita temui. Daun kelor mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid sebagai antibakteri bekerja dengan cara menghambat sintesis asam nukleat, menghambat fungsi membran sitoplasma, dan menghambat metabolisme energi dari bakteri. Tujuan penelitian  ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah pelarut yaitu air terhadap yield hand sanitizer kelor yang dihasilkan. Proses pembuatan hand sanitizer kelor diawali dengan pembuatan ekstrak kelor dengan metode infusa kemudian ekstrak kelor ditambahkan bahan lainnya seperti etanol 96%, carbopol 940, gliserin, metil paraben, dan TEA. Variabel untuk jumlah pelarut terdiri dari 100 ml, 150 ml, 200 ml, dan 250 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pelarut berpengaruh sangat nyata terhadap % yield yang didapat. Jumlah pelarut 250 ml pada suhu 70°C adalah yang terbaik karena menghasilkan nilai % yield tertinggi yaitu 75% dan yang terendah adalah jumlah pelarut 100 ml pada suhu 90°C yaitu 42%.
PENGARUH WAKTU PENGADUKAN DAN PERSENTASE PENAMBAHAN NaOH PADA PROSES TREATING PERTASOL CA DI PPSDM MIGAS CEPU Rizqy Ianatus Saida; Tiara Retsa Putri Agustin; Heny Dewajani; Rieza Mahendra Kusuma
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 1 (2022): March 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i1.322

Abstract

Pertasol CA merupakan salah satu produk dari PPSDM Cepu yang digunakan sebagai solvent dalam berbagai industri seperti industri cat, varnish, tinta, dan ban. Produksi pertasol CA terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari konsumen PPSDM Migas Cepu. Permasalahan yang dihadapi pada produksi CA adalah adanya kandungan sulfur yang mempengaruhi mutu produk pertasol karena dapat menimbulkan korosi, menurunkan mutu produk, bau tidak enak saat pembakaran dan penurunan stabilitas pada penyimpanan. Untuk menghilangkan sulfur ini maka dilakukan proses caustic treating menggunakan NaOH sebagai pengikat sulfur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu pengadukan dan persentase penambahan NaOH pada proses treating untuk meningkatkan kualitas pertasol CA. Variasi yang digunakan yaitu waktu pengadukan (15 menit, 30 menit dan 45 menit) dan persentase penambahan NaOH (5%, 10%, 15%, dan 20%) . Parameter uji pada penelitian ini antara lain uji densitas, uji warna, doctor test, analisis aromatic content, analisis copper strip corrosion, uji distilasi, dan analisis sulfur content. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah penurunan kadar sulfur sebesar 33.90% dari kadar sulfur awal 151.9 ppm dengan persentase penambahan NaOH terbaik sebesar 20% dan waktu pengadukan 15 menit. Dari hasil uji didapatkan densitas sebesar 750.4 kg/m3, uji warna +30, distilasi dengan suhu 58°C - 165°C, doctor test negatif, kandungan aromatik sebesar 16%, analisis copper strip corrosion nomor 1, dan sulfur content sebesar 100.4 ppm.
EFEK PEMANASAN MENGGUNAKAN API DAN SINAR MATAHARI TERHADAP KETAHANAN GRANUL MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Kukuh Whisnu Prianggoro; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.374

Abstract

Substrate atau media tanam aquascape adalah lapisan paling atas yang bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Substrate Soil telah dilengkapi dengan nutrisi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara optimum terutama untuk tanaman karpet dan stem plant yang membutuhkan pH rendah. Penelitian ini bertujuan untuk perbandingan metode pemanasan menggunakan api dan sinar matahari. Dalam penelitian ini menggunakan metode basah dan metode kering dengan bahan pembantu yaitu arang. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemanasan metode api lebih baik dibandingkan dengan metode sinar matahari. Hal ini dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa soil dengan pemanasan api lebih tahan dari pemanasan sinar matahari. Sedangkan untuk Analisa pH penggunaan pemanasan metode api memiliki pH sesuai yaitu 6,3 saat perendaman hari pertama dan pada hari ke tujuh pH air rendaman soil sebesar 6,9. Sedangkan pada pemanasan metode matahari pH yang dihasilkan lebih tinggi dari pemanasan metode api. Hasil Analisa TDS pemanasan metode api memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan pemanasan metode sinar matahari yaitu sebesar 210 – 340 mg/l untuk pemanasan metode api dan 300 – 410 mg/l untuk pemanasan metode sinar matahari. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa pemanasan metode api memiliki hasil analisa yang sesuai untuk keberlangsungan ekosistem aquascape.
PHOSPHONIC ACID MODIFICATION TO MOLYBDENUM ATOM CATALYST FOR CO2 HYDROGENATION ON MAGNESIUM HYDRIDE SURFACE Gumawa Windu Manggada; Shixue Zhou
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.383

Abstract

Catalytic hydrogenation is one of the most effective ways to convert CO2 to high value-added chemicals, and it is challenging to improve the catalytic activity and product selectivity based on the understanding of catalysis mechanism of the process. In this work, organic phosphonic acid was innovatively employed to tune single atom catalyst for CO2 hydrogenation to methanol, and the effect of fluoromethylphosphonic acid (FMPA) on the electronic structure of molybdenum and the reaction energy barriers of CO2 hydrogenation on MgH2 surface were investigated by density functional theory (DFT) calculations. The results showed that the reaction energy barriers at the key steps were significantly decreased by the introduction of FMPA, which stabilized the reaction intermediates from CO2 hydrogenation by reducing the electron density of molybdenum adsorption site with its oxygen atoms. The reverse water gas shift (RWGS) pathway was superior to formate pathway for CO2 hydrogenation on FMPA/Mo-MgH2(001) surface with energy barrier only 1.22 eV at the rate-determining step, and CH3OH was the overwhelming product rather than HCOOH, H2CO, CO or CH4 considering the reaction barriers and adsorption energies. The combination of organic phosphonic acid with single atom catalyst can generate the rational design of new catalytic system, which is helpful to control the reaction pathway and product selectivity.
KARAKTERISTIK FISIK VIRGIN COCONUT OIL (VCO) HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI ROTI SELAMA < 24 JAM DENGAN KONSENTRASI NUTRISI YEAST 4% B/V Dynda Farisa Cahya Negari; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.382

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis yang menjadi salah satu eksportir buah kelapa terbesar di dunia setelah Filipina. Luas perkebunan kelapa Indonesia mencapai 3,86 juta hektar atau setara dengan 31,2% total dari perkebunan kelapa di dunia. Pohon kelapa banyak tumbuh di daerah pantai dengan ketinggian pohon mencapai hingga 30 meter. Pohon kelapa dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga daun. Salah satu bagian yang memiliki banyak manfaat yaitu buah kelapa yang dapat diolah menjadi minyak kelapa murni atau biasa disebut Virgin Coconut Oil (VCO) melalui proses fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi terhadap karakteristik fisik virgin coconut oil (VCO) hasil fermentasi menggunakan ragi roti selama < 24 jam dengan konsentrasi starter 4% (b/v). Penelitian ini dilakukan dengan variabel waktu fermentasi selama 6, 12, dan 18 jam menggunakan starter dari ragi roti dengan komposisi 1 g ragi roti, 2 g gula, dan 50 mL air kelapa. Secara fisik, produk VCO waktu fermentasi selama 18 jam yang dihasilkan dalam penelitian ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7381:2008 yaitu tidak berwarna dan jernih, beraroma khas kelapa segar, dan terasa khas minyak kelapa. Nilai pH pada produk VCO hasil fermentasi selama 6, 12, dan 18 jam yaitu 4,3; 4,5; dan 4,8. Nilai %yield tertinggi pada produk VCO yang dihasilkan yaitu sebesar 13,09% (v/v) selama waktu fermentasi 18 jam. Produk VCO yang dihasilkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai %yield semakin tinggi seiring bertambahnya waktu fermentasi.  
PENGARUH PENAMBAHAN SUSU KAPUR TERHADAP NILAI TURBIDITY NIRA TEBU DALAM PEMBUATAN GULA PASIR Inun Milaniyah; Rosita Dwi Chrisnandari; Kristian Dony Setyawan
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.376

Abstract

Kebutuhan gula pasir semakin tinggi seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia. Oleh karena itu industri gula berusaha untuk meningkatkan produksi dan kualitas yang baik. Gula pasir dapat dikatakan baik apabila selama proses pembuatan tidak terjadi browning sehingga produk gula pasir berwarna putih. Browning terjadi jika selama proses pembuatan gula pasir, nira tebu memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi. Untuk menghindari proses browning maka industri gula melakukan perlakuan terhadap nira tebu dengan proses defekasi atau penambahan susu kapur ke dalam nira tebu hingga pH tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan susu kapur terhadap nilai turbidity nira tebu. Penelitian dilakukan dengan memasak nira mentah tebu dari stasiun gilingan Pabrik Gula Wonolangan sebanyak 500 mL hingga suhu 75oC, kemudian ditambah dengan susu kapur hingga variasi pH campuran nira dan susu kapur mencapai 8,5 ; 8,6 ; 8,8 dan 9,0 lalu dipanaskan kembali hingga suhu ±105oC. Hasil penelitian menunjukkan campuran nira tebu dan susu kapur dengan pH 8,9 memiliki nilai turbidity terendah yaitu sebesar 599,37 NTU. Pada pH 8,9 susu kapur yang ditambahkan sebanyak ±4,2 mL. Selain itu, dapat diketahui nilai turbidity tertinggi adalah di pH 8,8 dan 9 yaitu masing-masing 1526,34 dan 1485,33 NTU.
PENGARUH PENGGUNAAN KAPUR DAN LAMA WAKTU PENGERINGAN TERHADAP KETAHANAN GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Aldila Maysela Sukmawati; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.371

Abstract

Aquascape saat ini mempunyai ketertarikan besar terhadap tanaman air. Tujuan utama untuk menciptakan visibilitas bawah air yang bagus di akuarium dan membuatnya terlihat lebih menarik secara visual, dengan mempertimbangkan aspek perawatan tanaman air. Untuk membuat aquascape salah satu hal penting yaitu substrate soil. Dalam pembuatan substrate soil menggunakan bahan baku berupa tanah humus dan tanah taman. Karena substrate soil ini mudah hancur pada saat didasar air maka diperlukan bahan tambahan berupa perekat yaitu kapur organik. Kapur organik ini berfungsi sebagai perekat karena kapur organik mempunyai sifat plastis yaitu bisa mengeras dengan cepat sehingga memberi kekuatan pengikat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa lama ketahanan granula dalam dasar air dan mengetahui pH air yang diperoleh. Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa kapur dan di seprai dengan air lalu proses granulasi dalam bak. Variabel untuk jumlah perekat kapur organik menggunakan perbandingan 10%, 15%, dan 20% dari total berat bahan baku. Kemudian granula yang sudah terbentuk akan disangrai menggunakan api kompor hingga kandungan airnya berkurang. Variabel pengeringan terdiri dari 30 detik, 60 detik, dan 90 detik. Dari data hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan kapur maka semakin kuat ketahanan bentuk granula, selain itu juga semakin stabil pH yang diperoleh.
PENGARUH RASIO MOLASES DAN BAHAN BAKU PADA KETAHANAN BENTUK GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Putri Dyah Damayanti; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.369

Abstract

Soil substrate merupakan media tanam sebagai media tanam dan bersentuhan langsung dengan akar tanaman air. Bentuk yang umum adalah granula, karena lebih mudah ditaburkan dan meresap ke tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil optimal rasio perekat molases dan bahan baku yang tepat untuk mendapatkan granula media tanam yang tidak mudah hancur saat pengaplikasian di air dan perubahan nilai pH air. Proses yang digunakan yaitu granulasi basah, dilakukan dengan mencampurkan bahan baku serbuk dengan perekat kemudian dilakukan pengeringan dan pengayakan. Variasi rasio tanah humus dan tanah tanam yaitu 1:3, 2:3 dan 3:4. Variasi rasio molases dan air yaitu 20 mL:400 mL, 30 mL:400 mL dan 40 mL:400 mL. Hasil optimal menggunakan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3 mampu mempertahankan bentuk 7 hari. Pada molases 30 mL dan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari. Dan pada molases 40 mL dengan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari, namun rasio bahan 2:3 mampu bertahan 7 hari. Kualitas fisik optimal yang dihasilkan yaitu dengan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3, dan perekat molases 40 mL dengan rasio bahan 2:3. Nilai pH mengalami penurunan dalam 5 hari pertama, namun meningkat pada hari ke 6 dan 7 dikarenakan konsentrasi CO2 dan suhu air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio air dan perekat yang digunakan, rasio bahan baku yang digunakan sangat mempengaruhi ketahanan soil substrate dan pH air yang dihasilkan saat diaplikasikan di dalam air.
STUDI PERHITUNGAN HEAT EXCHANGER TIPE DOUBLE PIPE PADA PROSES PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT DENGAN TAMBAHAN SARI CUCUMBER DAN KAPASITAS 6300 TON/ TAHUN Novia Damayanti; Nanik Hendrawati
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.379

Abstract

Kebutuhan sabun mandi di era pandemi mengalami kenaikan yang signifikan. Peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan pabrik baru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam perancangan pabrik sabun adalah perhitungan Heat Exchanger. Dalam pembuatan sabun menggunakan proses trigliserida dibutuhkan pemanasan awal bahan. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban reaktor dan memudahkan proses saponifikasi terjadi didalam reaktor saat proses reaksi berlangsung. Selain itu, pemanas yang digunakan harus di desain terlebih dahulu agar layak digunakan dan dapat mengurangi biaya pemeliharaan di masa depan. Desain alat ini akan didasarkan pada studi literatur dan perhitungan manual menggunakan Ms. Excel . Proses pemanasan dilakukan dengan suhu bahan masuk Heat Exchanger sebesar 30◦C hingga suhu keluar dari Heat Exchanger yang akan masuk ke dalam Continuous stirred-tank reactors (CSTR) menjadi 70◦C. Dari perhitungan menggunakan Ms. Excel  didapatkan dimensi pipa dengan panjang hairpin 12 ft, nilai luas perpindahan panas sebesar 20,880 ft2, serta nilai Foulling Factor (Rd) hitung sebesar 0,002 dan nilai Foulling Factor (Rd) pembanding sebesar 0,002, sehingga dari hasil perhitungan tersebut spesifikasi Heat Exchanger sudah memenuhi syarat dilihat dari nilai Foulling Factor (Rd) hitung sama dengan Foulling Factor (Rd) ketentuan atau pembanding, yang mana Heat Exchanger  dalam keadaan baik dan layak operasi.