cover
Contact Name
Harpang Yudha Karyawanto
Contact Email
harpangkaryawanto@unesa.ac.id
Phone
+628563651865
Journal Mail Official
virtuososendratasik@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung T14 Lantai 2 Program Studi Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan, Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik
ISSN : -     EISSN : 26220407     DOI : -
VIRTUOSO is a scholarly journal that presents music analysis and music composition articles. The expert editors receive articles on music and music studies from various groups of students, lecturers, musicians, teachers, and other elements of society. This journal encompasses original research articles, review articles, and performance analysis, including: Classic Music Traditional Music Contemporary Music Music Performance Musicology Music Education Musical Theatre Ethnomusicology Music Therapy World Music Film Music Digital Music Modern Music This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge.
Articles 175 Documents
Species Counterpoint: Pendekatan Dalam Pembelajaran Kontrapung Nainggolan, Oriana Tio Parahita
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v4n1.p31-38

Abstract

Abstract: As a part of music theory, Counterpoint dealing with a combination of melody in contrary motion. It is focused on combining melody between cantus firmus and counterpoint. In learning counterpoint, there are two approaches which usually used, free Counterpoint and strict counterpoint (it is well known as species counterpoint). The free counterpoint method allows writing counterpoint melody without paying attention to Counterpoint rules. While in strict counterpoint does not give freedom to write counterpoint melody, hence in must follow Counterpoint rules. Based on an early observation of this study, it found that the free counterpoint method did not give a strong understanding of basic counterpoint to the students. It is showed that students are confused when they made a Counterpoint melody. They stated that they were confused about how to start the melodies and also how to develop their melody because they don’t have a strong basis of counterpoint rules. This research aims to analyze the role of species counterpoint in giving a rudiment to the students. Species counterpoint used here as a pedagogical tool, which makes students learned through several steps called species. This is qualitative research. The data acquired from observation and interviews during learning Counterpoint at Music Education Study Program, Faculty of Performing Arts, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. The results showed that species counterpoint builds a strong fundamental theory in writing counterpoint melody. Moreover, it also helps students to increase their skills in writing a counterpoint melody.Keywords: Counterpoint, Cantus Firmus, Species Counterpoint, Melody. Abstrak: Kontrapung merupakan cabang dari Teori Musik untuk menyusun kombinasi melodi secara berlawanan antara cantus firmus dan counterpoint. Dalam pembelajaran Kontrapung terdapat dua pendekatan yaitu free counterpoint dan strict counterpoint (species counterpoint). Free counterpoint memberikan kebebasan dalam membuat melodi Kontrapung, sementara strict counterpoint harus mempertimbangkan berbagai macam kaidah dalam membuat melodi Kontrapung. Berdasarkan observasi awal, penggunaan free counterpoint dalam pembelajaran Kontrapung tidak memberikan dasar yang kuat untuk dapat membuat melodi Kontrapung. Untuk mengatasi hal tersebut, maka sebaiknya pembelajaran Kontrapung dilakukan dengan menggunakan pendekatan species counterpoint. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan species counterpoint pada pembelajaran Kontrapung dalam membuat melodi Kontrapung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian didapat dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan selama pembelajaran Kontrapung di Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Kontrapung dengan menggunakan pendekatan species counterpoint dapat meningkatkan pemahaman terhadap kaidah-kaidah Kontrapung dalam membuat melodi Kontrapung, selain itu pembelajaran Kontrapung dengan species counterpoint juga meningkatkan keterampilan dalam membuat melodi Kontrapung.Kata Kunci: Kontrapung, Cantus Firmus, Species Counterpoint, Melodi. 
Multikultural dan Pendidikan Karakter Kesenian Didong Pada Masyarakat Gayo Kabupaten Aceh Tengah Afriadi, Putra
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v1n1.p15-23

Abstract

Kebudayaan tersebut merupakan hasil kebiasaan masyarakat, dalam hal ini berupa pemikiran-pemikiran, karya seni sampai pada bentuk bahasa. Kemudian bentuk dari kebudaan itu bertahan sampai sekarang, melalui proses pembelajaran. Oleh karena itu, tradisi selain di temukan juga diciptakan. Dengan demikian bentuk kebudayaan (dalam hal ini seni pertunjukan tradisional) dapat dipahami sebagai kegiatan seni pertunjukan yang memuat nilai dan makna pemikiran, kebiasaan, kepercayaan, norma, adat istiadat untuk diwariskan dari generasi ke generasi. Khususnya seni pertunjukan Didong, sebagai hasil dari kebudayaan Gayo, Didong berperan besar dalam mempersatukan etnis Gayo yang memiliki berbagai macam pendapat mengenai nilai-nilai moral dan estetika tentang budaya yang ada. Tentu saja sebagai media pembelajaran, khususnya dalam ranah pendidikan karakter dengan pendekatan nilai, Didong merupakan kesenian yang tepat. Dengan konsep yang dikemukakan oleh Douglas P. Superka. Hampir semua kesenian daerah memiliki esensi yang tinggi, yang dapat digunakan sebagai media seni dalam pendidikan karakter. Itu semua bergantung pada apa, siapa, dan bagaiman hal tersebut diterapkan. Dalam persepektif multikulturalisme, Didong merupakan sebuah sarana untuk menyatukan seluruh etnis yang ada di daerah Gayo, bukan sebaliknya. Didong tidak diklaim sebagai kepemilikan setiap daerah melainkan kepemilikan bersama. Harus dapat meyatukan pemahaman estetika tentang apa yang ada dalam pertunjukan Didong secara keseluruhan, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman yang dapat merusak nilai seni dari Didong itu sendiri.Kata kunci: kesenian, pendidikan karakter, nilai, multikultural, Didong.
Mistisisme Musik Iringan Kesenian Reog Ponorogo Kristiandri, Dhani
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v2n1.p1-14

Abstract

Reog Ponorogo merupakan kesenian tradisional dari Ponorogo yang memiliki karakteristik khusus. Iringan yang khas, sajian yang unik dan nuansa yang mistis seringkali menyertai bentuk kesenian ini. Hal itu terutama tampak pada iringan yang disajikan. Fokus pembahasan artikel ini pada hadirnya iringan dalam kesenian Reog Ponorogo yang memiliki nuansa mistis. Dengan didukung beberapa instrumen khusus, seperti terompet, gong, kendang, dan lain-lain, irama dan nuansa yang dihadirkan sangat terasa nuansa mistisnya. Penelitian sebelumnya yang membahas tentang kesenian Reog Ponorogo, yaitu Setyo Yuwana (1995) dengan judul “Reog Ponorogo: Struktur Dramatik, Fungsi Sosial, dan Makna Simboliknya”. Yuwana mengambil objek penelitian Reog Ponorogo Paguyuban Pujangga Anom dan Jayeng Katong di Kabupaten Ponorogo. Kontribusi penelitian Yuwana pada artikel ini adalah dapat digunakan peneliti sebagai wawasan pada pertunjukan Reog Ponorogo yang berada di kabupaten Ponorogo yang belum dikemas dan masih dengan struktur pertunjukan yang lengkap, serta dengan fungsi dan makna pertunjukan yang utuh. Dengan demikian, peneliti lebih terarah mengkaji pertunjukan Reog Ponorogo yang telah dikemas dalam pertunjukan kemasan di Balai Pemuda Surabaya. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga cara yaitu, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Eksistensi tradisional di mana pun memang telah tersisihkan, dianggap tidak memiliki tempat dalam masyarakat kini, maka upaya pelestarian dan pengembangan kesenian perlu ditingkatkan. Diharapkan melalui upaya pelestarian melalui berbagai kemasan dapat membantu generasi penerus untuk berapresiasi dan berproses kreatif.
Interpretasi dan Bentuk Penyajian Lagu Habanera Dalam Opera Carmen Karya George Bizet Oleh Heny Janawati Salsabilla, Salma Falista
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v3n2.p97-109

Abstract

AbstractHabanera, one of the most famous songs in Opera Carmen, tells the love life of Carmen as the main role. Interestingly, the song Habanera was sung by an Indonesian mezzo-soprano singer from Bali, Heny Janawati, who has perform the Opera Carmen while singing in Europe and Indonesia with different interpretations and performance of song Habanera. The purpose of this study was to analyze the interpretation and performance form of the Habanera Opera Carmen song when it was performed in Jakarta in 2016 in order to become a knowledge. This research process used qualitative methods. The data in this study were obtained through observation, interviews, and documentations. Data analysis techniques used data reduction, data presentation, and data inference. As for the data validity test used triangulation. The results of this study indicate that Heny Janawati has characteristics to interpret this song through out the structure, tempo, dynamics, and intonation of this song. That she present in Opera Carmen are more modern from it's europe counterpart, which in Europe its characteristics, number of accompaniments, dimensions of the setting, lighting and wardrobe are more traditional. 
Keberadaan Orkes Keroncong KKAJ di Jombang Nehe, Antisipasi Iman
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v2n2.p71-77

Abstract

Peneliti membahas Keberadaan Orkes Keroncong KKAJ didasari dengan ketertarikan peneliti dengan motivasi melestarikan dan mempertahankan musik keroncong khususnya di Kabupaten Jombang. Orkes keroncong KKAJ sangat berperan dalam perkembangan musik keroncong di Jombang dan merupakan salah satu orkes yang  eksis dan aktif diantara orkes-orkes lain di Kabupaten Jombang. Keberadaan orkes keroncong juga memiliki pengaruh brsar dengan munculnya dan bertumbuhnya orkes-orkes keroncong lain di Kabupaten Jombang. Tujuan peneliti membahas Keberadaan Orkes Keroncong KKAJ untuk memperoleh informasi data mengenai latar belakang, perkembangan, dan upaya regenerasi yang dilakukan orkes keroncong KKAJ di Jombang sehingga dapat tetap eksis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tujuan memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan. Dalam pengumpulan data dan informasi, peneliti menggunakan sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan orkes keroncong KKAJ di Jombang merupakan keinginan individu yaitu keinginan Achmad Yani untuk membentuk orkes keroncong dengan tujuan melestarikan dan mempertahankannya. Berawal pada tahun 2007 Achmad Yani membeli alat-alat musik keroncong dan mengajak orang-orang tua di sekitar rumahnya untuk membentuk orkes dan memainkan alat-alat musik tersebut. Orkes keroncong tahun 2007 belum memiliki nama, nama orkes keroncong KKAJ baru terbentuk pada tahun 2012. Perkembangan orkes keroncong KKAJ di Jombang merupakan perkembangan yang cukup pesat, baik perkembangan dalam keanggotaan, lengkapnya alat-alat musik, maupun kemampuan para musisi-musisinya. Para musisi orkes keroncong KKAJ mempunyai peranan yang sangat penting guna menentukan langkah-langkah atau tindakan agar orkes keroncong KKAJ tidak terhenti atau tetap ada yang melanjutkan. Langkah-langkah yang dilakukan untuk upaya regenerasi adalah melakukan perekrutan dan membuka les biola.Kata kunci : Eksistensi, Orkes Keroncong, Perkembangan, Regenerasi.
Analisis Teknik Permainan Biola Pada Concerto In A Minor 3RD Movement Rv 356 Op. 3 No. 6 Karya Antonio Vivaldi Husna, Irmadel Nabila
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v1n2.p50-56

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik dan teknik permainan biola pada Concerto in A Minor 3rd Movement RV 356 Op. 3 No. 6 karya Antonio Vivaldi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan data. Serta terdapat uji keabsahan data dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Concerto in A Minor 3rd Movement RV 356 Op. 3 No. 6 karya Antonio Vivaldi memiliki bentuk musik Concerto Form, dengan teknik Ritornello Form. Adapun teknik permainan biola yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik legato, detache, staccato, quavers dan semiquavers, trill, dan accent.Kata Kunci : Teknik, Bentuk, Concerto in A Minor 3rd Movement RV 356 Op. 3 No. 6, Antonio Vivaldi
Estetika Paduan Suara Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari Suryandoko, Welly
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v1n2.p25-31

Abstract

Unsur Drama Musikal terdiri dari drama tari dan musik. Masing-masing variabel tersebut menjadi dimensi penguat dalam pertunjukan Drama Musikal. Termasuk musik, selain instrumen yang dapat menghasilkan musik ilustrasi pada adegan tertentu atau suasana adengan tertentu. Paduan suara dalam Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari sebagai penggerak plot. Peranan paduan suara dalam pertunjukan ini adalah a) Dimensi peran paduan suara terbagi menjadi empat hal 1) paduan suara sebagai aktor, 2) paduan suara sebagai penguat peristiwa, 3) paduan suara sebagai penonton ideal, 4) paduan suara dan gerak tari. b) Estetika paduan suara terbagi menjadi lima hal 1) solois dalam paduan suara, 2) lagu pembuka paduan suara, 3) lagu adengan suasana, 4) lagu klimaks, dan 5) lagu penutup drama musikal. Perspektif diatas dikaji menggunakan kajian estetika untuk menganalisis Paduan Suara Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari yang menceritakan kisah heroik tokoh dimasa Rosulullah Muhammad SAW. Melalui analisis tersebut akan dihasilkan spektrum estetika Paduan Suara dalam Drama Musikal.Kata kunci: estetika, paduan suara, drama musikal
Aransemen Lagu "Tanah Airku" Karya Ibu Sud Oleh Joko Suprayitno (Tinjauan Variasi Melodi) Faturrozi, Muhammad Muchlis
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v3n1.p33-44

Abstract

Aransemen lagu “Tanah Airku” karya Ibu Sud oleh Joko Suprayitno yang diberi judul “variation on tanah airku” merupakan salah satu aransemen dengan keunikan bentuk yaitu variasi tema. Bentuk ini variasi tema ini banyak menggunakan variasi melodi sehingga penulis tertarik meneliti tentang teknik variasi melodinya. Penelitian ini membahas struktur lagu “Tanah Airku” karya Ibu Sud guna memetakan motif dan frase agar lebih mudah mengurai variasi melodi didalamnya, kemudian barulah dibahas variasi melodi yang digunakan dalam aransemen berjudul “variation on tanah airku” ini. Dalam mengurai variasi melodi ini, teori yang digunakan adalah teori aransemen, motif, bentuk lagu, dan variasi melodi. Dalam menganalisa struktur lagu dan variasi melodi, pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif. Dalam metode tersebut subjek penelitiannya adalah full score “variation on tanah airku” oleh Joko Suprayitno dengan objek utamanya yaitu variasi melodi. Sumber data yang digunakan adalah dari full score “variation on tanah airku” oleh Joko Suprayitno dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara dengan narasumber (yang dalam hal ini Joko Suprayitno) dan dokumentasi. Hasil analisa yang didapat adalah struktur lagu “Tanah Airku” terdiri dari 3 frase dan 6 motif. Alur aransemen yang dibuat oleh Joko Suprayitno ini dimulai dari bagian introduction, theme, variasi I-VII, cadenza, dan yang terakhir finale. Dari struktur tersebut, variasi melodi yang terjadi pada melodi utama adalah melodic variation and fake via non-chordal, ornament dan sekuensi. Kemudian variasi yang digunakan diluar melodi utama antara lain, filler (melodic filler, tail, fill in), counter melody, obbligato, cliché, dan filler like obbligato. Variasi melodi yang banya digunakan Joko Suprayitno adalah melodic variation and fake via non-chordal dan filler.Kata Kunci: Aransemen, Variasi Melodi
Semiotic Analysis: Social Critics Towards Government Depicted in The Songs of Marjinal Band Sihombing, Lambok Hermanto
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v4n1.p39-45

Abstract

This research aimed to determine the meaning of the songs belonged to Marjinal band, a punk band whose songs contain critics to the government. The songs that the reasearchers analyzed were Hukum Rimba and Buruh Tani. The researchers used the data taken from various digital platforms and analyzed the lyrics using Semiotic Theory from Ferdinand De Saussure. Furthermore, the results of the research from Hukum Rimba and Buruh Tani song implied that people who had money and power would be spared by the law. Meanwhile, the poor would always be oppressed by the law.Keywords: critics, government, lyrics, money, power 
Transformasi Musik Tradisional Rinding Gumbeng Perspektif Postkolonial Dewi, Vivi Ervina
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v2n2.p63-70

Abstract

Rinding gumbeng merupakan salah satu alat musik tradisional yang hidup dan berkembang di daerah Gunungkidul. Akan tetapi seiring dengan perkembangan modernisasi zaman, musik tradisional Rinding Gumbeng ini perlahan mulai dipertanyakan eksistensinya. Hal tersebut dapat dilihat dari realita yang ada pada saat ini dengan banyaknya masyarakat Ngawen terutama masyarakat di Gunungkidul yang lebih tertarik untuk menikmati ataupun mempelajari seni musik barat seperti musik popular dan musik-musik modern. Perubahan-perubahan selera musik masyarakat tersebut dapat terjadi oleh adanya perubahan lingkungan masyarakat Gunungkidul, banyaknya elemen kebudayaan material yang masuk dalam lingkungan masyarakat Gunungkidul, dan cara hidup serta pandangan hidup masyarakat Gunungkidul yang berubah. Dewasa ini, masyarakat dihadapkan dengan berbagai pilihan yang sulit karena maraknya produk-produk industri kebudayaan yang disajikan. Pengaruh musik dalam kehidupan manusia khususnya musik tradisional yang ada di Nusantara mulai dikesampingkan. Musik pop atau seni musik barat pada saat ini mulai menjadi dewa-dewi di tengah masyarakat. Masyarakat beranggapan bahwa musik pop ataupun musik seni barat merupakan musik yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Musik seni barat lebih bisa untuk dinikmati oleh masyarakat daripada musik-musik tradisional yang ada di Nusantara. Akibatnya, musik tradisional yang ada di Nusantara seperti musik tradisional Rinding Gumbeng perlahan mulai ditinggalkan dan diabaikan oleh masyarakat. Gejolak-gejolak yang timbul pada masyarakat Gunungkidul tersebut merupakan efek dari post-kolonial. Masyarakat tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijajah oleh bangsa barat melalui berbagai cara seperti datangnya atau masuknya kesenian musik barat di Indonesia.

Page 5 of 18 | Total Record : 175