cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 101 Documents
Profesionalitas Dokter di Era Jaminan Kesehatan Nasional Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.28

Abstract

Profesionalitas dokter menurut Epsten dan Hundert adalah kemampuan berkomunikasi, ketrampilan teknis, penalaran klinis, emosi dan nilai refleksi dalam praktek sehari hari yang digunakan untuk kepentingan individu dan masyarakat yang kita layani. Jika disederhanakan maka profesionalitas dokter dapat diartikan memberikan pelayanan sebaik baiknya dengan kualitas tertinggi bagi masyarakat dan anggota masyarakat yang dilayaninya. Bagi seorang dokter bedah yang sering melakukan pembedahan dan intervensi maka profesionalitas ini adalah hal yang harus diperhatikan dan dikedepankan. Profesionalitas harus ditegakkan dalam kondisi apapun. Ditegakkan bersama sama oleh seluruh anggota profesi dan dikontrol serta dikawal oleh organisasi profesi melalui badan badan yang dibentuk untuk tujuan itu. Bisa dalam bentuk penegakan etika dan penegakan disiplin serta penyusunan standar pelayanan. Perubahan pola pembiayaan kesehatan harus diakui secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pelayanan seorang dokter. Kualitas pelayanan tidak lagi hanya ditentukan oleh Rumah Sakit, Dokter dan Organisasi Profesi Dokter. Tetapi ada yang lebih punya kewenangan mengaturnya yaitu badan yang melakukan pembiayaan. Kendali mutu dan kendali biaya sesungguhnya ditujukan untuk mendapatkan pelayanan terbaik dengan harga yang wajar, tetapi pada prakteknya kualitas pelayanan akan bergeser turun seiring dengan turunnya besar pembiayaan kesehatan. Tidak dapat dibantah bahwa kualitas pelayanan akan berbanding lurus dengan pembiayaan. Tidak mungkin seorang dokter yang melayani 10 pasien akan sama kualitas pelayannya dengan yang melayani 100 pasien. Boleh saja kita berbantah bantahan bahwa kualitas pelayanan tidak akan turun dengan banyaknya pasien, tetapi faktanya dokter adalah manusia juga yang mempunyai kemampuan optimal dan kemampuan itu akan menurun jika dipaksa melebihi batas kemampuannya. Demikian juga Rumah Sakit yang mesti mempertimbangkan kelangsungan hidup karyawannya dan keuntungan untuk mempertahankan keberadaan rumah sakit serta pengembalian modal bagi pemiliknya. Bagi seorang dokter spesialis bedah pengaruh pembiayaan akan sangat terasa karena pemakaian barang dan alat akan selalu dinilai dengan uang dan disesuaikan dengan besaran uang yang disediakan oleh badan pembiayaan. Rumah Sakit tidak akan mau merugi. Kualitas pelayanan pada kondisi ini adalah hasil dari tarik ulur antara manajemen rumah sakit dan keinginan doker memberikan pelayanan terbaik berdasarkan pagu dana yang ditentukan oleh badan pembiayaan. Tugas dan tanggung jawab profesi seharusnya tidak boleh terdegradasi hanya karena pembiayaan yang sudah ditentukan pagunya. Profesionalitas harus diletakkan ditempat tertinggi karena yang kita layani adalah manusia. Profesionalitas itu hanya bisa ditentukan oleh organisasi profesi. Adalah suatu kesalahan jika kita mengorbankan profesionalitas dengan mengedepankan penghematan pembiayaan dan cakupan yang lebih luas dan besar. Harusnya organisasi profesi lebih diberdayakan dan hal ini dibicarakan bersama oleh para pihak di era sekarang ini, dibicarakan dalam posisi setara dan tidak ada yang mendominasi. Profesi sebagai penentu profesionalis harus menyatakan posisinya, rumah sakit harus menegaskan fungsinya dan pemberi pembiyaan harus realistis dan rasional. Uang tidak boleh mengatur profesionalitas dokter walaupun pengaruhnya tidak bisa kita hilangkan. Duduk bersama antara pengurus profesi, pengatur kebijakan , pengatur pembiayaan adalah suatu keharusan . Ada satu titik tujuan kita bersama yaitu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. IKABI yang merupakan perekat dalam semua organisasi profesi di lingkungan bedah harusnya mempunyai peranan lebih besar dalam menentukan profesionalisme seorang dokter bedah dikaitkan dengan pelayanannya pada masyarakat.
Hubungan Prokalsitonin Dengan Infeksi yang Menyebabkan Amputasi Ekstremitas Bawah Pada Kaki Diabetik Terinfeksi di IGD RSCM Pada Januari 2013-Juni 2016 Febriana, Sari; Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.29

Abstract

Latar Belakang: Kaki diabetik terinfeksi masih menjadi permasalahan serius bagi penderitanya dan kerapkali berujung pada amputasi ekstremitas bawah. Penentuan agresifitas tindakan diperlukan untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Prokalsitonin sebagai salah satu penanda infeksi sensitif diharapkan dapat membantu untuk mendiagnosis lebih awal sehingga manajemen yang diterapkan lebih tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prokalsitonin terhadap risiko terjadinya amputasi ekstremitas bawah. Metode: Dilakukan studi analitik komparatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Divisi Bedah Vaskular dan Endovaskular Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM periode Januari 2013-Juni 2016 pada semua pasien kaki diabetik terinfeksi yang datang ke IGD RSCM yang tidak disertai infeksi pneumonia, malaria, trauma berat, luka bakar, autoimun, dan karsinoma tiroid medula. Subjek dikelompokkan menjadi amputasi dan tidak, kemudian dilakukan analisis untuk melihat hubungan nilai prokalsitonin terhadap terjadinya amputasi ekstremitas bawah. Sumber data diambil dari rekam medik (data sekunder). Dilakukan uji statistik dengan kemaknaan p <0,05. Hasil: Studi melibatkan 110 subjek. Didapatkan setiap peningkatan kadar prokalsitonin 0,86 akan mempunyai risiko 2,36 kali untuk terjadinya infeksi yang menyebabkan amputasi (95% CI 1,227-4,568). Faktor lain yang memiliki kekuatan hubungan terbesar terhadap amputasi yaitu ankle brachial index <0,9 (OR 7,21 95% CI 2,246-25,247) dan osteomielitis (OR 5,94 95% CI 1,994-17,70). Didapatkan hubungan antara amputasi ekstremitas bawah dengan adanya neuropati (p = 0,002), penyakit komorbid ginjal (p = 0,004), leukosit >15000 /µl (p = 0,004), dan LED ≥100 mm/jam (p = 0,005). Simpulan: Prokalsitonin memiliki hubungan bermakna secara independen dengan terjadinya infeksi yang menyebabkan amputasi ekstremitas bawah. Faktor independen lain yang bermakna terhadap amputasi pada penelitian ini yaitu ABI (ankle brachial index) dan osteomielitis.
Blood flow Rate Intraoperatif Sebagai Prediktor Maturitas Arteriovenous Fistula Brakiosefalika Pada Penderita Nefropati Diabetik Harisandi, Sandra; Pratama, Dedy
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.30

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan untuk melakukan pengkajian nilai batasan blood flow rate (BFR) intraoperatif menggunakan ultrasonografi Doppler dalam memprediksi maturitas fistula brakiosefalika dengan sampel yang lebih besar dan lebih spesifik untuk mendapatkan nilai dengan tingkat error dan bias lebih rendah, sehingga dapat dijadikan referensi di divisi Bedah Vaskular RSCM. Metode: Dilakukan studi potong lintang analitik di Divisi Vaskular Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM, Jakarta yang melibatkan semua penderita gagal ginjal stadium 4-5 akibat nefropati diabetik yang akan dihemodialisis dengan akses vaskular fistula brakiosefalika. Hasil: Terdapat 71 subjek dengan rerata BFR 249,15 + 86,86 mL/menit, rerata diameter arteri 3,3 mm (2,0–7,4 mm) dan rerata diameter vena 3 mm (2,1–5,6 mm). Analisis statistik menunjukkan bahwa hanya BFR yang berhubungan bermakna dengan maturitas AVF (p<0,001). Sensitivitas dan spesifisitas tertinggi BFR intraoperatif di 211,3 mL/menit. Nilai ini yang selanjutnya ditentukan sebagai cut-off value untuk batasan prediksi maturitas (95,45%, 92,59%) dengan positive predictive value sebesar 95,5% dan negative predictive value sebesar 92,6%. Simpulan: BFR intraoperatif menggunakan ultrasonografi Doppler sesaat setelah kreasi AVF brakiosefalika memprediksi maturasi jangka pendek dengan sensitivitas dan spesifisitas >80%.
Pengaruh Pemberian Kanamisin Oral Sebelum Operasi pada Persiapan Kolon Mekanik Terhadap Konsentrasi Bakteri Kolon dan Rektum Herizal, Hendra; Usman, Nurhayat; Purnama, Andriana
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.31

Abstract

Background. For decades, ​​colorectal surgical procedures have been associated with high postoperative infections complication. This is expected because of the large number of bacteria in the colon and rectum content. The aim of this study was to investigate wether preoperative oral kanamycin can reduce colonic bacterial concentration, furthermore reduce postoperative infection complication in colorectal malignancy patients who will be performed elective surgical tumor removal. Method. This was an experimental, pre-post test with control group desiagn study, ie groups of patient that prepared with mechanical bowel preparation and administration of oral Kanamycin 3 x 2000 mg a day before the operation day and group of patient that prepared with mechanical bowel preparation only. This study was comparing the concentration of bacteria in the colon and postoperative infection incidence between the two groups. Result. Thirty two patients were randomly assigned to one of two groups, the treatment group and the control group. Obtained equitable distribution of age, sex, tumor location and type of surgery. There was significant bacterial concentration reduction difference between two groups (p = 0.01). There was significant surgical site infection (SSI) incidence difference between two groups, 5 patients (31,3 %) developed an SSI in treatment group and 11 patients (68,8 %) in control group (p=0,03), with OR 0,21 ( CI 95%; 0,046-0,92). Conclusion. Preoperative oral kanamycin could reduce colonic bacteria concentration and SSI incidence in patients with colorectal malignancy who would be performed elective surgical tumor removal. Thus, these methods can be considered its use as a colorectal surgery preparation procedures.
Keberhasilan Venoplasti untuk Mengatasi Stenosis Akibat Pemasangan CDL pada Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Megatia, Ika; Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.32

Abstract

Latar Belakang: Dalam lima tahun terakhir, pengunaan kateter pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) di RSCM kerap diikuti stenosis vena sentral (SVS, 60-70%). Sejak 2013 SVS ditangani melalui prosedur venoplasti, namun belum ada evaluasi keberhasilan. Penelitian ini ditujukan melakukan evaluasi keberhasilan venoplasti dan faktor risiko terjadinya stenosis. Metode: Dilakukan studi deskriptif analitik dengan desain potong lintang melibatkan pasien PGK stadium 4-5 yang terdiagnosis simptomatik SVS, secara klinis dan radiologis, yang memiliki risiko stenosis, memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi serta menjalankan venoplasti. Variabel independen yaitu onset gejala, jenis, lokasi, durasi dan frekuensi pemasangan kateter. Variabel dependen adalah keberhasilan venoplasti dinilai dengan residual stenosis <30%. Data dianalisis secara statistik dengan p = 0,05. Hasil: Tercatat 34 subjek, 73,5% berusia >60 tahun, 61,8% laki-laki dan 70,6% memiliki hipertensi sebagai etiologi PGK. Angka berhasilan venoplasti 85,3%, nilai rerata initial stenosis adalah 79,1±13,8% dan median residual stenosis 24,5% dengan range 10-90%. Letak stenosis terbanyak di vena subklavia (47,1%). Tidak didapatkan hubungan bermakna terhadap keberhasilan venoplasti, namun angka ketidakberhasilan venoplasti yang lebih tinggi ditemukan pada lokasi di vena subklavia (OR 2,45; p = 0,627) dan frekuensi pemasangan kateter >2 kali (OR 1,85; p = 0,648). Simpulan: Keberhasilan venoplasti pada SVS 85,3% dengan keberhasilan ditemukan dua kali lebih tinggi pada implantasi di vena subklavia dan frekuensi > 2 kali. Namun pada studi ini tidak bermakna secara statistik. Ketidakberhasilan venoplasti lebih sering ditemukan pada subjek dengan pemasangan kateter di vena subklavia, durasi pemasangan panjang, onset gejala lambat dan riwayat pemasangan berulang.
Evaluasi Penatalaksanaan Insufisiensi Vena Kronis C5-C6 pada tahun 2014-2015 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prabowo, Andrio Wishnu; Suhartono, R
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.33

Abstract

Latar Belakang: Insufisiensi vena kronis (IVK) derajat berat atau C5-C6 membutuhkan penatalaksanaan yang lebih kompleks dan membawa dampak morbiditas yang lebih berat akibat lamanya waktu pengobatan dan angka kekambuhan yang tinggi. Tata laksana definitif IVK C5-C6 telah mengalami pergeseran dari terapi non operatif (terapi kompresi dan medikamentosa) menjadi terapi operatif dengan teknik non invasif seperti ablasi endovena. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap jenis terapi yang diberikan baik terapi definitif maupun terapi perawatan luka dengan keluaran berupa angka kekambuhan dan lama rawat. Metode: Studi potong lintang analitik dilakukan dengan mengambil total sampel 54 pasien IVK C5-C6 yang datang ke RSCM pada periode Januari 2014-Desember 2015. Pasien IVK yang disertai dengan insufisiensi arteri, insufisiensi vena dalam, dan kelainan kulit akibat penyakit kulit primer, keganasan, trauma dieksklusi. Analisis statistik diolah dengan SPSS 21 for windows, untuk menilai keluaran dari terapi definitif berupa angka kekambuhan dan lama rawat. Hasil: Angka kekambuhan pasien IVK C5-C6 dengan terapi operatif lebih rendah dibandingkan dengan terapi non operatif yakni 7,1% berbanding 30,8% dalam follow up selama 2 tahun dengan nilai p 0,02 dan OR 0,17 (95% IK 0,03-0,91). Lama perawatan rerata pasien IVK C5-C6 pada kelompok terapi operatif selama 10,6 hari dan kelompok non operatif selama 14,8 hari. Simpulan: Angka kekambuhan pasien IVK C5-C6 yang memperoleh terapi definitif operatif lebih rendah dari yang hanya memperoleh terapi non operatif dalam evaluasi selama 1-2 tahun.
Risks and Benefits of Central Neck Dissection (CND) in Differentiated Thyroid Carcinoma (DTC) Purnomo, H.S. Wahyu; Yulian, Erwin D; Wangge, Grace
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.34

Abstract

Introduction: The role of central neck dissection (CND) remains controversial in differentiated thyroid cancer (DTC). Risk and benefit of CND is necessary to be identified for judging whether CND will be performed or not. Methods: A literature search was performed in MEDLINE (pubmed) using main keywords such as differentiated thyroid carcinoma (DTC), central neck dissection (CND), total thyroidectomy. The literature had inclusion criteria english language literature with risk and benefit of CND. We used qualitative approach to summary descriptive papers result. Results: Sixteen trials were analyzed. There was no increased risk of recurrent laryngeal nerve (RLN) injury (temporary or permanent), permanent hypocalcemia, or locoregional recurrence when CND was performed in addition to TT. Postoperative temporary hypocalcemia was more common after TT with CND than after TT alone. Conclusion: TT alone results in less surgical morbidity in the immediate postoperative period and an identical locoregional recurrence rate compared with TT plus CND.
Penelitian dan Publikasi dalam Ilmu Bedah Muradi, Akhmadu
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.37

Abstract

Pada era modern saat ini, Evidence Based Medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti baik dalam diagnosis maupun tatalaksana merupakan suatu keharusan. Khususnya dalam lingkup ilmu bedah, penelitian dan publikasi untuk mendukung terwujudnya EBM yang baik masih kurang.1 Hanya 3.4% artikel yang dipublikasi di 5 besar jurnal jurnal ilmu bedah dalam rentang 1996-2000 yang berbentuk RCTs.2 Untuk menjawab tantangan ini, muncul banyak grant penelitian dan jurnal bedah yang membawa nama research sebagai bagian dari penyadaran, dorongan dan penyediaan sarana. Lebih lanjut lagi, hasil penelitian dan rekomendasi tatalaksana yang berasal dari populasi negara maju belum tentu langsung bisa diterapkan di Indonesia karena perbedaan karakteristik dalam banyak aspek.3 Oleh karena itu masih terbentang lebar lahan yang bisa diteliti baik dalam hal ilmu dasar maupun teknik operasi dan teknologi yang diaplikasikan dalam penatalaksanaan kasus-kasus bedah. Permasalahan yang muncul saat ini adalah jargon bahwa penelitian dan publikasi itu susah, kompleks dan menyita banyak waktu harus dapat kita ubah sedikit demi sedikit. Budaya membaca dan menulis merupakan hal dasar yang harus ditekankan. Pertanyaan atau ide penelitian sering muncul setelah banyak membaca jurnal, selain tentunya dari praktek keseharian yang dihadapi. Ilmu dan skill meneliti dapat dipelajari dan ditingkatkan dengan mengikuti kursus atau diintegrasikan selama pendidikan. Implementasi surgical research methodology program dalam kurikulum terbukti mampu meningkatkan produktivitas penelitian dan performa residen bedah.4 Program tersebut merupakan program terstruktur dengan topik orientasi, penelusuran literatur sistematik, etika, statistik, dan berbagai bentuk penelitian.4 Hal lain yang sangat mendukung suatu penelitian adalah sistem rekam medik yang ditulis dengan baik, lengkap dan mudah diakses. Permasalahan yang berikutnya adalah penghargaan terhadap suatu penelitian masih minim apalagi bila memiliki tingkat evidence yang rendah seperti laporan kasus dan serial kasus. Perlu digaris bawahi bahwa laporan kasus hingga saat ini masih dapat ditemukan pada jurnal-jurnal internasional dengan impact factor yang tinggi. Hal ini menunjukkan bentuk penghargaan dan penerimaan terhadap sekecil apa pun bentuk penelitian, terlebih bila merupakan kasus yang sangat jarang ditemukan atau menggunakan inovasi baru dalam penatalaksanaannya. Kumpulan dari laporan kasus yang sama dapat menghasilkan bentuk penelitian yang memiliki tingkat evidence yang lebih tinggi. Hal lain yang harus kita ingat adalah meskipun RCTs merupakan bentuk penelitian dengan tingkat evidence yang paling baik, terkadang sulit diterapkan dalam ilmu bedah dibanding penelitian medis lainnya apalagi bila menggunakan placebo sebagai kelompok kontrol.3 Mari kita bersama memajukan penelitian dan publikasi dalam ilmu bedah untuk mendukung praktek kedokteran berbasis bukti. Publikasikan hasil karya kita agar dapat bermanfaat untuk ahli bedah lainnya dan kami siap menerima semua jenis karya ilmiah: laporan kasus, serial kasus, evidence base case report, literature review, systematic review, dan original article. Terakhir, kami mengajak kepada semua ahli bedah untuk mensukseskan dan membawakan hasil kerjanya dalam acara pertemuan ilmiah tahunan ke-22 IKABI pada akhir Juli 2017 di Jakarta.
The Relationship Between Initial Hematocrit and Base Excess For Signs Of Hemorrhagic Shock In Patients With Blunt Abdominal Trauma Akhsan, Alfie Barkah; Usman, Nurhayat; Rudiman, Reno
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.38

Abstract

Introduction: Trauma abdominal and pelvic part of the largest causes of death and, if diagnosed early, the deaths could have been prevented. By increasing the capacity for early detection and prompt and appropriate action, will produce a satisfactory outcome. In patients with bleeding, hemodilution appear within a few minutes to obtain a decrease in hematocrit. BE decline is the result of pyruvic acid metabolism occurring anaerobic tissue hypoperfusion due to bleeding unresolved. There is a strong correlation between the decrease in hematocrit and BE with shock because of intra-abdominal haemorrhage. To analyze the relationship between decreased hematocrit and BE in bleeding patients we investigated the relationship between the initial value of hematocrit and BE against any signs of shock because of intra-abdominal hemorrhage in patients with blunt abdominal trauma. Methods: cross-sectional of the 34 subjects. The research data obtained from history taking, physical examination, investigation, and medical records. Conducted a comparative analysis of Kruskal-Wallis. Test for normality by Kolmogorov-Smirnov test. A p value <0.05 indicates a significant relationship between variables. Data were analyzed using SPSS version 19. Result: It was found an average increase in the pulse (P) frequency with decreasing hematocrit (Ht) is 92.67 ± 6.43x / min for group Ht> 40%, 95.5 ± 16.52x / min for group Ht 37-40%, and 112.89 ± 19.23x / min for group Ht <37%. Obtained an average increase of P frequency with decreasing Base Excess (BE) is 88.0 ± 0x / min for groups BE> 2, 92.33 ± 7.84x / min for BE Group 2 - (- 2), and 112.81 ± 19.22x / min for groups BE < -2. This means that there is a significant relationship between hematocrit decrease with increased of P frequency as one of the signs of hemorrhagic shock with p value = 0.046 and significant correlation between the decrease in BE with increased P frequency as one of the signs of hemorrhagic shock with p value = 0.028. Conclusion: There is a significant correlation between the value of the initial hematocrit and BE with signs of hemorrhagic shock due to intra-abdominal hemorrhage in patients with blunt abdominal trauma.
Evaluation of the Diagnosis and Treatment of Gallstone Pancreatitis Ayudyasari, Wulan; Philippi, Bennardus; Poniman, Taslim; Saunar, Rofi Yuldi
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.39

Abstract

Introduction. Acute pancreatitis is a major health problem due to the serious complication and mortality. Annual incidence of acute pancreatitis vary from under 10 to 40 per 100.000 person per year. Gallstone and biliary sludge contributes about 30-65% of the cause of acute pancreatitis and usually diagnosed as biliary or gallstone pancreatitis. There is still no data concerning the prevalence, diagnosis and management of gallstone pancreatitis in Indonesia. Methods. The objective of this study is to know the prevalence and characteristic of diagnosis and management of gallstone pancreatitis in some hospitals in Jakarta. This is a descriptive cross sectional study using the data from medical record of acute pancreatitis and gallstone pancreatitis patients in Cipto Mangunkusumo, Fatmawati, and St Carolus Hospital in 2008-2012. Results. There were 154 acute pancreatitis patients with only 22 (14,2%) patients diagnosed as having gallstone pancreatitis and 24 (15,5%) patients that met the criteria of gallstone pancreatitis but were not diagnosed as having one. On average, gallstone pancreatitis were diagnosed on the fifth day of hospitalization. Among 46 gallstone pancreatitis patients, only 6 (13%) patients had severity assessment. The most frequent examination used to explore the causes was abdominal ultrasound, performed in 37 (80,4%) patients.One (2,2%) patient had biliary sepsis and underwent internal drainage on day 15th. Only 10 (21,7%) patients underwent cholecystectomy. Three (8,3%) patients died, all before having cholecystectomy. Two (5,6%) patients that had not undergone cholecystectomy got readmitted to the hospital due to recurrent acute pancreatitis and pancreatic pseudocyst. Conclusion. From this study we can conclude that the diagnosis and management of gallstone pancreatitis still remain a challenge in Jakarta.

Page 2 of 11 | Total Record : 101