cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 101 Documents
Perbandingan Akurasi Sistem Penilaian Pulp dan Sistem Penilaian Jabalpur Dalam Memprediksi Mortalitas pada Pasien dengan Perforasi Ulkus Peptikum di RSUP DR Hasan Sadikin Bandung Stevanus, Hendrik; Rudiman, Reno; Purnama, Andriana
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.40

Abstract

Latar Belakang: Perforasi ulkus peptikum sering membutuhkan tindakan operasi dengan faktor risiko yang dapat meningkatkan mortalitas. Beberapa prognostic score mengukur gangguan pada sejumlah faktor fisiologis yang mewakili sistem organ utama dan memungkinkan stratifikasi pasien menurut tingkat keparahan, membantu dalam identifikasi pasien berisiko tinggi dan memberikan informasi prognostik. Sistem penilaian PULP dan Jabalpur mempunyai kemiripan paramater yang dapat dinilai sesegera mungkin saat pasien pertama datang dan perbandingan akurasi keduanya dalam memprediksi kematian pada pasien perforasi ulkus peptikum belum tersedia. Metode: Penelitian merupakan uji diagnostik retrospektif terhadap pasien perforasi ulkus peptikum yang diintervensi operasi. Pasien perforasi gaster diakibatkan trauma dan keganasan, serta operasi lebih satu kali sebagai kriteria eksklusi. Data skor PULP dan Jabalpur didapatkan dari rekam medis, dengan cut off <8 dan ≥8 pada skor PULP serta <9 dan ≥9 pada skor Jabalpur, kemudian hasil perawatan dinilai. Tabulasi silang masing-masing skor terhadap hasil perawatan dengan chi-square dilakukan untuk melihat sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif masing-masing skor serta dilihat juga signifikansi akurasi masing-masing skor. Hasil: Sebanyak 36 pasien perforasi ulkus peptikum dengan 28 (77.8%) adalah laki-laki dan rerata usia 59.56 tahun. Komorbid ditemukan pada 5 pasien yaitu gagal jantung kelas IV dan PPOK masing-masing sebanyak 2 kasus dan dialisis reguler sebanyak 1 kasus. Angka mortalitas sebesar 16.67% (6 pasien), dengan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif Skor PULP sebesar 33.33%; 73.33%; 20%; 84.61% dan Skor Jabalpur sebesar 100%; 60%; 33.33%; 100%. Kedua skor mempunyai akurasi 66.67% dengan p pada Skor PULP sebesar 0.739 dan Skor Jabalpur sebesar 0.007. Subjek dengan skor Jabalpur <9 mempunyai kecenderungan sembuh 1.5 kali dari pasien dengan skor Jabalpur ≥9. Kesimpulan: Skor Jabalpur mempunyai signifikansi keakuratan dalam memprediksi mortalitas pasien perforasi ulkus peptikum jika dibandingkan skor PULP yang tidak signifikan.
Hubungan Lactate Clearance 2 Jam dan 4 Jam dengan Keberhasilan Manajemen Nonoperatif pada Pasien Trauma Tumpul Abdomen dengan Riwayat Syok Perdarahan Octoria, Nova; Rudiman, Reno; Purnama, Andriana
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.41

Abstract

Latar Belakang: Perdarahan terselubung pada pasien trauma tumpul menjadi penyebab kedua tertinggi kematian. Tidak terdeteksinya cedera abdomen menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas lambat pada pasien yang dapat bertahan pada fase-fase awal trauma. Manajemen nonoperatif (NOM) pada trauma organ solid adalah aman dan efektif, dan strategi ini telah menjadi praktek yang digunakan secara luas. Lactate clearance memiliki manfaat klinis yang penting pada pasien dengan trauma akut, yang superior terhadap pemeriksaan inisial laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan pemeriksaan nilai lactate clearance pada jam-jam pertama setelah resusitasi terhadap keberhasilan penanganan manajemen nonoperatif. Metode: Bentuk penelitian ini adalah cohort prospektif observasional dengan analisis hubungan lactate clearance 2 jam dan 4 jam dengan keberhasilan NOM pada pasien trauma tumpul abdomen dengan riwayat syok perdarahan di RS. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015 sampai Juli 2016.. Hasil: Terdapat 34 subjek pada studi ini. Terdapat hubungan yang signifikan antara lactate clearance 2 jam (LCD2) dan lactate clearance 4 jam (LC4) dengan kesuksesan NOM (p <0.001). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara LC2 dan LC4 dalam menentukan kesuksesan NOM (p>0,05). Kesimpulan: terdapat hubungan yang sangat signifikan antara lactate clearance 2 jam (LC2) maupun lactate clearance 4 jam (LC4) dalam menentukan keberhasilan manajemen non operatif (NOM) pada pasien dengan syok perdarahan yang disebabkan oleh trauma tumpul abdomen.
Efektivitas Water Soluble Contrast Medium (Urografin®) pada Adhesive Small Bowel Obstruction (ASBO) untuk Diterapi tanpa Pembedahan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Singarimbun, Wilner; Rodjak, Maman Wastaman; Rudiman, Reno; Nugraha, Harry Galuh
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.42

Abstract

Pendahuluan: Adhesive small bowel obstruction (ASBO) membutuhkan penatalaksanaan yang tepat sesuai dengan algoritma diagnostik dan terapeutik yang berlaku. Indikasi dan durasi dari penatalaksanaan terapi nonoperatif serta waktu yang tepat tindakan operasi harus dilakukan masih diperdebatkan. Water soluble contrast medium (WSCM) memiliki fungsi diagnostik dan terapeutik pada pasien dengan ASBO. Metode: Jenis penelitian ini adalah before and after study dengan membandingkan dua kelompok penderita ASBO yang diterapi tanpa pembedahan yang dilakukan pemberian Urogafin dan tidak diberikan Urografin® untuk menentukan efek terapeutiknya pada pasien ASBO. Hasil: Dari karakteristik pasien ASBO ditemukan sebagian besar laki laki (55.8%) dengan rentang usia terbanyak antara 27-38 tahun. Pasien datang ke rumah sakit dengan onset ileus 2-5 hari (74.4%) dengan jenis ileus parsial sebanyak 86%(37 pasien). Interval operasi sebelumnya terbanyak < 12 bulan dengan jenis operasi terbanyak berupa appendektomi perlaparotomi. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian WSCM dan kebutuhan terhadap relaparotomi dibandingkan dengan grup kontrol (p:0.043). Urografin® efektif dalam menurunkan Length of Stay (LOS) (p:0.01). Tidak terdapat hubungan antara pemberian WSCM terhadap angka mortalitas pasien ASBO maupun durasi ileus sebelum masuk rumah sakit dengan kebutuhan relaparotomi. Kesimpulan: Tindakan non operatif harus dipertimbangkan pada pasien ASBO tanpa tanda tanda peritonitis maupun strangulasi. Urografin® terbukti aman dan memiliki fungsi diagnosis (memprediksi tingkat resolusi adhesi dan kebutuhan operasi) dan efektif dalam fungsi terapeutik dalam menurunkan waktu resolusi obstruksi, kebutuhan akan operasi ,dan menurunkan durasi lama perawatan di rumah sakit. Posisi kontras dalam 24 jam pertama dapat dijadikan prediktor dalam memutuskan tindakan selanjutnya bagi ahli bedah.
Hubungan antara Nilai Fibrinogen Inisial dengan Kejadian Koagulopati dan Mortalitas pada Pasien Trauma Multipel di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Sulistyanti, Raden Lyana; Rudiman, Reno; Usman, Nurhayat
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 45 No 1 (2017): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v45i1.43

Abstract

Latar Belakang: Dari data suatu penelitian dikatakan 1 dari 7 kematian disebabkan oleh trauma dan 30% dari trauma tersebut datang dalam kondisi koagulopati. Koagulopati pada trauma disebut sebagai Trauma Induced Coagulopathy (TIC). Pada TIC, nilai fibrinogen yang rendah sering ditemui dan nilai fibrinogen plasma mencapai nilai terendah lebih awal dibandingkan parameter factor koagulasi lainnya. Nilai fibrinogen inisial berhubungan kuat dengan nilai Injury Severity Score (ISS) dan menjadi nilai prediktor independen untuk mortalitas. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara fibrinogen inisial dengan kejadian koagulopati dan mortalitas. Metode: Penelitian ini merupakan studi prospektif. Seluruh pemeriksaan didapatkan dari 25 pasien trauma multipel. Kadar fibrinogen inisial diambil dari pemeriksaan laboratorium darah bersamaan dengan pemeriksaan rutin lainnya ketika pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin (IGD RSHS). Koagulopati ditentukan berdasarkan nilai laboratorium Prothrombin Time (PT) atau Partial Thromboplastin Time (aPTT) yang abnormal. Trauma multipel ditentukan dengan nilai ISS ≥ 15 dan dihitung berdasarkan diagnosis pasti setelah tegak berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang sesuai dengan prosedur tetap di IGD RSHS. Analisis menggunakan SPSS 19.0 dengan metoea analisis chi square untuk melihat kemaknaan hubungan. Hasil: Dari 25 pasien trauma multipel didapatkan mayoritas 80% adalah pasien laki – laki dengan mekanisme kejadian terbanyak adalah trauma kepala sebanyak 16 orang (64%). Terdapat 8 pasien (32%) terjadi koagulopati dan mortalitas terjadi pada 7 pasien (28%). Dari metode analisis chi square didapatkan hubungan yang bermakna antara fibrinogen dengan kejadian koagulopati (p=0,043) sedangkan hubungan antara fibrinogen inisial dengan terjadinya mortalitas didapatkan tidak bermakna (p=0.341). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara fibrinogen inisial dengan kejadian koagulopati tetapi tidak didapatkan hubungan bermakna antara fibrinogen inisial dengan terjadinya mortalitas pada pasien dengan trauma multipel di RSHS.
Kenaikan Tarif BPJS Kesehatan, Obat Defisit yang Tak Bisa Dihindari Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.44

Abstract

Sejawat sekalian, memasuki tahun 2020 sangat banyak kejadian yang terjadi di dunia kesehatan. Masalah kenaikan tarif BPJS Kesehatan yang masih banyak dtentang oleh banyak pihak tentu saja mempengaruhi kerja para spesialis bedah secara keseluruhan. Pengaruh ini terjadi secara langsung karena sebagian besar pembiayaan pasien saat ini menggunakan dana Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Berdasarkan pasal 34 Perpres nomor 75 tahun 2019 maka akan terjadi kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada 1 januari 2020. Kenaikan itu secara rinci adalah sebagai berikut: Kelas III dari Rp 25.500 per bulan menjadi Rp 42.000 Kelas II dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 Kelas I dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 Kenaikan tersebut juga berlaku bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) baik dari APBN maupun PBI yang berasal dari APBD. Khusus untuk kenaikan iuran PBI yang dibayarkan pemerintah ini, akan terjadi kenaikan daari Rp 23.000 per bulan menjadi Rp 42.000. Tentu saja kenaikan tersebut berpengaruh positif bagi seluruh rumah sakit yang banyak mengandalkan pasien BPJS Kesehatan, terutama rumah sakit di daerah. Pelayanan kesehatan selama ini terganggu karena aliran dana dari pembiayaan ke rumah sakit sering terlambat beberapa bulan. Hal itu tidak terlepas akibat defisit yang dialami oleh BPJS kesehatan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Secara langsung aliran yang terhambat dan terlambat tersebut juga mempengaruhi para dokter yang bekerja di RS tersebut, termasuk dokter spesialis bedah. Defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan sudah berlangsung sejak than 2014. Pada tahun 2018 defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan sebanyak Rp 19,4 T dan ditalangi oleh pemernah sebanyak Rp 10,3 T dan defisit dibawa ke tahun 2019 sebanyak Rp 9,1 T. Pada tahun 2019 defisit semakin melebar mencapai Rp 32,84 T ini termasuk beban defisit Rp 9,1 T yang dibawa ke tahun 2019. Pada tahun 2019 ini pemerintah menalangi defisit sebanyak Rp 14 Tsehingga ada beban defisit sebanyak Rp 18,84 T yang dibawa ke tahun 2020. Tanpa adanya kenaikan iuran maka beban defisit akan semakin melebar tahun 2020. Diperkirakan defisit tahun 2020 mencapai Rp 31 T dan ditambah dengan beban defisit tahun 2019 yang dbawa ke tahun 2020 sebanyak Rp 18 T maka defsit akan semakin melebar. Hal ini akan semakin memperburuk pelayanan di rumah sakit yang sudah tertekan oleh penundaan pembayaran pelayanan pasien beberapa bulan oleh BPJS Kesehatan. Sejawat sekalian, kenaikan iuran BPJS kesehatan sepertinya memang keniscayaan yang tak dapat ditunda lagi dan sangat mendesak, hall ini akibat defisit yang dialami oeh BPJS Kesehatan yang sudah berlangsung 5 tahun terus menerus dan semakin membesar tetapi persoalannya adalah seberapa besar kenaikan tersebut dan apakah kenaikan tersebut masih mampu ditanggung oleh masyarakat. Kita paham bahwa orang miskin pembiayaannya ditanggung oleh pemerintah baik melalui dana APBN maupun dana APBD. Persoalannya adalah apakah semua orang miskin sudah terdata baik dan masuk dalam daftar penerima bantuan PBI. Sebagai seorang spesialis bedah tentu saja kita tidak bisa berlepas diri dari gonjang ganjing di dunia kesehatan tersebut, apalagi hal ini menyangkut pembiayaan pasien kita. Bagaimanapun tindakan pada pasien yang dilakukan para spesialis bedah memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Harapan kita bersama tahun 2020 didepan akan lebih baik dari tahun lalu.
Factors Affecting Hospital Length of Stay in Patient with Diabetic Foot Ulcer Darwis, Patrianef; Simanjuntak, Bakti H; Wangge, Grace; Pratama, Deddy; Bakri, Ahmad; Telaumbanua, Rizky
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.45

Abstract

Background. Foot ulcer is one of the most common complications in diabetes mellitus patients. This condition prolongs hospital length of stay (LOS) and increases hospitalization cost. This study aims to assess factors that affect the LOS in patients with the mentioned condition. Methods. This is a retrospective cohort study of diabetes mellitus patients with foot ulcer who were hospitalized in Cipto Mangunkusumo General Hospital from January 2015 to April 2016. There were 120 patients recruited and then divided into two groups according to their hospitalization duration, which was short and long. Univariate analysis was conducted in predicted factors including gender, ankle-brachial index, ulcer size, ulcer depth, leukocyte count, treatment, cardiovascular comorbidity, blood pressure, smoking history, septicemia, ketoacidosis, hypoalbuminemia, and upper respiratory tract infection. Chi-Square tests were performed to analyze the association of those factors with LOS. The odds ratio of each variable was evaluated using logistic regression analysis. Result. In this study, the mean of LOS was 26 days (2 – 87 days). Factors that significantly correlated with LOS were ankle-brachial index (p 0.041, OR 2.275, CI 95 % 1.025 – 5.041), ulcer size (p 0.044, OR 3.038, CI 95 % 1.032 – 9.942), smoking history (p 0.022, OR 2.434, CI 95 % 1.125 – 5.265), sepsis (p < 0.001, OR 4.240, CI 95 % 1.908 – 9.423), and ketoacidosis (p < 0.001, OR 8.611, CI 95 % 3.396 – 21.835) In multivariate analysis, the most significant factor was ketoacidosis (p < 0.001, OR 8.360, CI 95 % 3.209 – 21.780). Conclusion. Ketoacidosis is the most significant factor that prolonged hospital stays in a patient with diabetic foot ulcer. Keywords: Diabetic foot ulcer, Length of stay
Pengaruh Vitamin E terhadap Kadar Malondialdehide Jaringan Testis Tikus (Rattus novergicus) Strain Wistar dengan Diabetes Mellitus Tipe I Y, Bangun I; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.46

Abstract

Latar belakang. Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan endokrin yang menyebabkan kerusakan sistemik dan memicu stres oksidatif di tingkat seluler. Malondialdehide (MDA) adalah produk stres oksidatif berupa lipid peroksidase yang berhubungan dengan kondisi anomali dan asthenozoospermia. Upaya menekan stres oksidatif adalah dengan vitamin E yang telah lama menjadi antioksidan melawan stres oksidatif. Tujuan Penelitian. Mengetahui pengaruh pemberian vitamin E terhadap kadar malondialdehide (MDA) serta pengaruh pemberian vitamin E dengan berbagai dosis terhadap kadar MDA. Metode penelitian. Penelitian eksperimental menggunakan 30 ekor tikus putih strain Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok tikus tidak DM (KN), kelompok tikus DM (KP), kelompok tikus DM yang mendapat terapi vitamin E dosis 50 iu/kgbb/hr (KP1), dosis 100 iu/kgbb/hr (KP2) dan dosis 150 iu/kgbb/hr (KP3). Pasca perlakuan dilakukan pengambilan organ testis pada semua kelompok dan dianalisis kadar MDA jaringan testis dengan metode Thiobarbituric Acid Reactive Subtances (TBARS). Analisis data kadar MDA jaringan testis menggunakan one way ANOVA α=0,05 dengan uji lanjutan LSD. Hasil penelitian. Pemberian vitamin E dapat menurunkan secara bermakna (P<0,05) kadar MDA jaringan testis tikus putih DM. Pemberian vitamin E dosis 150 iu/kgbb/hr tidak berbeda secara nyata (P>0,05) dibandingkan dengan dosis 100 iu/kgbb/hr, namun keduanya berbeda secara nyata (P<0,05) dibandingkan dosis 50 iu/kgbb/hr. Kesimpulan. Pemberian vitamin E dapat menurunkan kadar MDA testis tikus dengan kondisi diabetes mellitus tipe 1. Pemberian vitamin E dosis 150 iu/kgbb/hr lebih baik dibandingkan dengan dosis 100 iu/kgbb/hr dan 50 iu/kgbb/hari. Kata kunci: vitamin E, diabetes mellitus, malondialdehide
Pengaruh Pemberian Vitamin E terhadap Morfologi Testis Tikus Strain Wistar (Rattus novergicus) dengan Diabetes Melitus Tipe I Ronasky, T; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.47

Abstract

Latar Belakang. Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Penyakit ini dilaporkan terjadi pada 9% laki-laki dan 7,9% wanita. Laporan Center of disease control (CDC) menyebutkan tahun 2014 terdapat 8,1 juta orang tidak terdiagnosa DM dan 29,1 juta mengalami penyakit ini di Amerika Serikat. Pada penderita diabetes dapat terjadi kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan organ yang berbeda, terutama mata (diabetes retinopathy), ginjal (nefropati diabetik), saraf (neuropati diabetes), jantung (infark miokard) dan pembuluh darah (aterosklerosis) dan infertilitas. Laporan insiden infertilitas terkait DM terjadi pada 9% orang dewasa berusia >18 tahun mengalami akibat difungsi endokrin spermatogenesis. Vitamin E berperan sebagai antioksidan eksogen (non-enzimatis) yang dapat melindungi kerusakan membran biologis akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tidak jenuh pada membran fosfolipid. Secara partikular, vitamin E juga penting dalam mencegah peroksidasi membran asam lemak tak jenuh. Metode. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan post-test only control group design secara laboratorium eksperimental. Rancangan penelitian ini dipilih berdasarkan konsep bahwa setiap unit dari populasi adalah homogen dan memiliki karakteristik yang sama. Pembagian sampel dilakukan secaraacak (random assignment). Pada kelompok eksperimen perlakuanlangsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir sementara pada kelompok kontrol digunakan sebagai pembanding dari kelompok perlakuan. Hasil. Rata-rata diamater tubulus seminiferus testes tikus pada masing-masing kelompok perlakuan menunjukkan angka yang bervariasi. Rata-rata diamater tubulus seminiferus testes tikus pada perlakuan kontrol negatif (KN) adalah 261,57± 5,72 μm, kemudian mengalami penurunan menjadi 241,18 ± 18,53 μm, pada perlakuan tikus DM yang diinduksi aloksan (KP), dan mengalami peningkatan kembali pada perlakuan tikus DM yang dinduksi aloksan dan vitamin E dengan dosis 100 mg/kgbb/hari (P1), dan 200 mg/kgbb/hari (P2), secara berturut-turut adalah 265,92 ± 15,97 μm dan 271,41 ± 24,79 μm. Kesimpulan. Berdasarkan uji statistik Analysis of variance (ANOVA) one way didapatkan nilai signifikannya p 0,039 <0,05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perlakuan pemberian vitamin E (P1 dan P2) berpengaruh secara signifikan terhadap diameter tubulus seminiferus testis tikus putih diabetes. Kata Kunci : Vitamin E, Histomorfometri Testis Tikus Putih (strain wistar), Dm Tipe 1.
Intervensi Endovaskular Aneurisma Aorta Torako-Abdominalis Pada Pasien dengan Sindrom Marfan: Tinjauan Literatur Darwis, Patrianef; Vanto, Yoni
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.48

Abstract

Latar Belakang. Sindroma Marfan merupakan penyakit jaringan ikat yang diturunkan secara autosom dominan dengan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat kelainan aorta. Bedah terbuka merupakan tata laksana utama untuk kelainan aorta pada pasien sindrom Marfan, namun tidak semua pasien dapat dilakukan bedah terbuka, misalkan pada kondisi hemodinamik yang tidak stabil dan usia tua. Intervensi endovaskular merupakan salah satu pendekatan tata laksana minimal invasif yang masih kontroversial karena adanya risiko kegagalan primer berupa kebocoran aneurisma. Metode. Penelusuran literatur dilakukan secara daring pada 3 database: PubMed, ClinicalKey, dan ScienceDirect. Dilakukan pemilihan studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi literatur. Artikel terpilih ditelaah secara kritis berdasarkan alur seleksi dari PRISMA Flow Diagram. Didapatkan 6 artikel yang ditelaah secara kritis Hasil. Tiga literatur mengenai prosedur endovaskular menunjukkan angka keberhasilan prosedur berkisar 20%-38% dengan risiko kegagalan primer (primary endoleak) yang cukup tinggi. Kematian akibat aneurisma lebih tinggi pada pasien sindrom Marfan yang menjalani teknik endovaskular dibandingkan pasien yang dilakukan bedah terbuka. Kesimpulan. Prosedur endovaskular dapat dijadikan alternatif tatalaksana dengan mempertimbangkan kondisi pasien. Sedikitnya jumlah subyek pada penelitian-penelitian yang ada serta waktu follow-up yang singkat menyebabkan efektivitas teknik endovaskular masih diragukan jika dibandingkan dengan prosedur bedah terbuka. Kata kunci: sindrom marfan, endovaskular, bedah terbuka, aneurisma aorta, torako-abdominal
Hubungan Kadar Malondialdehide (MDA) Testis dengan Kualitas Spermatozoa pada Tikus Putih Strain Wistar (Rattus novergicus) Diabetes Tipe I Deslo, Jauhari; Ismy, Jufriady; Dasrul, Dasrul
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.49

Abstract

Latar Belakang. Hyperglikemia pada diabetes melitus tipe 1 diduga berperan dalam peningkatan radikal bebas (oksidan) dan penurunan antioksidan darah. Peningkatan senyawa radikal bebas memicu peroksidasi lipid pada darah dan testis yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA) testis dan penurunan kualitas spermatozoa. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar MDA testis dengan kualitas spermatozoa tikus putih diabetes mellitus tipe 1. Metode Penelitian. Desain penelitian ini adalah static comparison group dan menggunakan uji analitik observasional. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ekor tikus putih normal dan 16 ekor tikus putih dengan diabetes mellitus tipe 1 yang diinduksi aloksan. Kadar MDA spermatozoa diukur dengan menggunakan uji TBA dan spektrofotometer. Penilaian kualitas spermatozoa (jumlah, persentase motilitas dan morfologi normal spermatozoa) dilakukan dengan menggunakan standar WHO. Data kadar MDA testis dan kualitas spermatozoa (jumlah, motilitas dan morfologi spermatozoa) dianalisis dengan uji-t independent, sedangkan hubungan antara kadar MDA dengan kualitas spermatozoa dianalisis dengan korelasi pearson menggunakan spss 21.0. Hasil Penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar MDA testis tikus normal berbeda secara nyata (p<0,05) dibandingkan dengan tikus putih DM. Jumlah, motilitas dan morfologi normal spermatozoa tikus putih normal berbeda secara nyata (p<0,05) dibandingkan dengan pada tikus putih DM. Terdapat hubungan yang kuat antara kadar MDA testis dengan jumlah, motilitas dan morfologi normal spermatozoa dengan arah negatif (R= - 0,877; - 0,804 dan - 0,795). Kesimpulan. Kadar MDA testis berhubungan secara kuat dengan kualitas (jumlah, motilitas dan morfologi normal) spermatozoa dengan arah negatif. Kata kunci: Diabetes mellitus, malondialdehida testis, kualitas spermatozoa

Page 3 of 11 | Total Record : 101