cover
Contact Name
Sehat Ihsan Sadiqin
Contact Email
jsai@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
jsai@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295.
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI)
ISSN : -     EISSN : 27226700     DOI : 10.22373
The focus and Scope of JSAI is to provide a scientific article of conceptual studies of sociology of religion, religious communities, multicultural societies, social changes in religious communities, and social relations between religious communities base on field research or literature studies with the sociology of religion perspective or sociology. Fokus dan Skope JSAI adalah artikel ilmiah tentang studi konseptual sosiologi agama, komunitas agama, masyarakat multikultural, perubahan sosial dalam komunitas agama, dan hubungan sosial antara komunitas agama berdasarkan penelitian lapangan atau studi literatur dengan perspektif sosiologi agama atau sosiologi.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2023)" : 11 Documents clear
Relasi Agama, Kebudayaan dan Politik pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Samosir: The Relationship between Religion, Culture, and Politics in the Batak Toba Community in Samosir Regency Harisan Boni Firmando; Elvri Teresia Simbolon; Roida Lumbantobing
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.2939

Abstract

Religion, culture, and politics form a unified entity in society that cannot be separated. These three elements shape human life both socially and as citizens. The purpose of this study was to explore the relationship between religion, culture, and politics within the Toba Batak community in Samosir Regency. This research utilized qualitative methods to comprehensively understand the experiences of the subjects. The findings reveal that the relationship between religion, culture, and politics is evident in the implementation of the 'dalihan na tolu' kinship system. The Toba Batak community exhibits openness towards others outside their tribe, a practice facilitated by incorporating clan affiliations as a basis for determining kinship. The culture of solidarity in the Batak Toba community influences their political behavior. The community supports their family members who run in general elections, with this solidarity serving as both social and economic capital for the Toba Batak people engaging in political activities, particularly for those aspiring to become regional head candidates or council members. In selecting leaders, the Batak Toba community considers not only the educational and other qualifications of potential leaders but also their sociological background. AbstrakAgama, kebudayaan, dan politik merupakan satu kesatuan di dalam masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga hal tersebut menyebabkan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai warga negara berlangsung. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui relasi agama, kebudayaan dan politik pada masyarakat Batak Toba di Kabupaten Samosir. Kajian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami. Hasil Kajian ini menunjukkan relasi agama, kebudayaan dan politik terlihat dalam implementasi sistem kekerabatan dalihan na tolu. Masyarakat Batak Toba dengan orang lain di luar suku Batak Toba, keterbukaan tersebut dilakukan dengan penabalan marga sebagai dasar suku Batak Toba untuk menentukan sistem kekerabatan. Budaya solidaritas menjadi pedoman masyarakat Batak Toba dalam berperilaku politik. Masyarakat akan membantu keluarganya yang maju dalam pemilihan umum. Solidaritas ini merupakan modal sosial sekaligus modal ekonomi bagi masyarakat Batak Toba yang melakukan aktivitas politik, khususnya anggota masyarakat yang maju menjadi calon kepala daerah dan anggota dewan. Pemilihan pemimpin pada masyarakat Batak Toba hingga kini masih memperhitungkan latar belakang calon seorang pemimpin. Latar belakang bukan hanya dari pendidikan atau modal lain dari calon pemimpin yang mumpuni, namun lebih kepada aspek-aspek sosiologis.
Harmony in Diversity: The Dynamics of Interfaith Families Mochamad Taufiqurrachman; Agus Machfud Fauzi
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3207

Abstract

In Indonesia, a nation characterized by its diverse religious landscape, the phenomenon of interfaith families provides a distinctive lens to comprehend religious coexistence. This investigation delves into how religious beliefs are shaped within interfaith families, scrutinizing the ways in which these households manage the intricacies of varying religious views. Utilizing qualitative research methodologies, the study zeroes in on four Indonesian families, each hailing from different religious backgrounds. The research method includes thorough interviews and observational techniques, aiming to unravel the nuances of religious observance, communication, and the resolution of conflicts within these families. The results highlight the critical roles of mutual respect, transparent communication, and a collective dedication to familial harmony in preserving a balanced atmosphere. Notwithstanding their religious disparities, these families demonstrate significant levels of tolerance and comprehension, allowing individual members to freely engage in their respective religious practices. This study accentuates the significance of embracing diversity and nurturing tolerance as fundamental factors for the harmonious coexistence of varied religions within a domestic framework. AbstrakDi Indonesia, negara yang ditandai oleh pluralitas agama, fenomena keluarga beda agama menawarkan konteks unik untuk memahami koeksistensi agama. Penelitian ini mengeksplorasi konstruksi kepercayaan agama dalam keluarga beda agama, mengkaji bagaimana keluarga-keluarga ini menavigasi kompleksitas perbedaan keyakinan agama. Menggunakan metode penelitian kualitatif, studi ini berfokus pada empat keluarga Indonesia dengan latar belakang agama yang beragam. Melalui wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini menyelidiki dinamika praktik agama, komunikasi, dan resolusi konflik dalam keluarga tersebut. Temuan menunjukkan bahwa saling menghormati, komunikasi terbuka, dan komitmen bersama terhadap kesatuan keluarga sangat penting dalam menjaga harmoni. Meskipun ada perbedaan agama, keluarga menunjukkan tingkat toleransi dan pemahaman yang tinggi, dengan anggota keluarga bebas mempraktikkan keyakinan masing-masing. Studi ini menekankan pentingnya merangkul keragaman dan menumbuhkan toleransi sebagai elemen kunci dalam koeksistensi damai agama yang berbeda dalam satu keluarga.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Budaya Rimpu di Kabupaten Bima: Islamic Educational Values in the Rimpu Culture in Bima Regency Hairunnisa Hairunnisa; Ishomuddin Ishomuddin; Muhammad Kamaludin
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3310

Abstract

Rimpu represents one of the local cultures that has undergone acculturation with Islamic teachings and has become an identity for Muslim women in the Bima area. This study aims to identify the Islamic educational values contained within the Rimpu. The research method used is qualitative, with data obtained through interviews and documentation and data analysis performed using data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The findings show that Rimpu embodies values of morality, worship, and aesthetics. Rimpu reflects a personality that preserves, maintains courtesy, and upholds modesty between men and women in terms of morality. In terms of worship, the use of Rimpu signifies compliance in covering one’s aurat, reflecting devotion and worship to Allah SWT. Aesthetically, the colors and motifs on tembe nggoli, the main material of Rimpu, hold deep meanings and philosophies in line with Islamic teachings. This study concludes that Rimpu is not just clothing but also a medium that integrates religious, social, and aesthetic aspects, reflecting the identity and values within the Bima community society. AbstrakRimpu mewakili salah satu budaya lokal yang telah mengalami akulturasi dengan ajaran Islam dan menjadi identitas bagi Muslimah di daerah Bima. Penelitian bertujuan mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalam Rimpu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi serta analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rimpu menggambarkan nilai-nilai akhlak, ibadah, dan estetika. Dalam aspek akhlak, Rimpu mencerminkan kepribadian yang terjaga, sopan santun, dan menjaga pandangan antara perempuan dan laki-laki. Secara ibadah, penggunaan Rimpu menandakan kepatuhan dalam menutup aurat, merefleksikan bentuk penghambaan dan ibadah kepada Allah SWT. Dari segi estetika, warna dan motif pada tembe nggoli, bahan utama Rimpu, memiliki makna dan filosofi mendalam sesuai dengan ajaran Islam. Kajian ini menyimpulkan bahwa Rimpu tidak hanya sebagai pakaian, tetapi juga sarana yang mengintegrasikan aspek keagamaan, sosial, dan estetika yang merefleksikan identitas serta nilai-nilai dalam komunitas masyarakat Bima.
Resiliensi Masyarakat terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Pebayuran, Bekasi Jawa Barat: Community Resilience to Flood Disasters in Pebayuran District, Bekasi, West Java Wisnu Wardana; Agung Adiputra
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3363

Abstract

This study aims to assess the community's resilience to flood disasters in Pebayuran District. A descriptive method with quantitative data was employed, measuring community resilience through various indicators. Data collection involved random surveys and interviews in the affected locations. The findings reveal that the community's knowledge of asset protection during floods scored 44 (moderate), while the robustness of disaster management structures scored 29 (low). The educational sector's commitment to flood knowledge was marked at 35 (moderate), flood alertness at 20 (low), flood disaster preparedness at 34 (moderate), post-flood household income sustainability strategies at 45 (moderate), knowledge of first aid during floods at 38 (moderate), and community or municipal disaster risk reduction plans at 41 (moderate). Villages with high resilience include Bantarjaya, Bantarsari, and Kertajaya, whereas those with moderate resilience are Karang Haur, Karang Segar, Karangharja, Karangjaya, Karangpatri, Karangreja, Kertasari, Sumber Sari, Sumber Urip, and Sumbereja. Despite most villages exhibiting moderate to high resilience, the overall resilience level of Pebayuran District remains low, primarily due to the absence of early flood warning systems. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat resiliensi masyarakat terhadap bencana banjir di Kecamatan Pebayuran. Metode yang digunakan adalah kuantitatif untuk mengukur resiliensi melalui berbagai indikator. Data dikumpulkan melalui survei dan wawancara acak di lokasi terdampak. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perlindungan aset saat banjir berada pada skor 44 (sedang), struktur organisasi tangguh bencana pada skor 29 (rendah), komitmen pendidikan terhadap pengetahuan banjir skor 35 (sedang), kewaspadaan banjir skor 20 (rendah), kesiapsiagaan bencana banjir skor 34 (sedang), strategi keberlanjutan pendapatan pasca banjir skor 45 (sedang), pengetahuan pertolongan pertama saat banjir skor 38 (sedang), dan rencana penanggulangan risiko bencana oleh masyarakat skor 41 (sedang). Desa dengan resiliensi tinggi adalah Bantarjaya, Bantarsari, dan Kertajaya, sementara desa dengan resiliensi sedang meliputi Karang Haur, Karang Segar, Karangharja, Karangjaya, Karangpatri, Karangreja, Kertasari, Sumber Sari, Sumber Urip, dan Sumbereja. Meskipun mayoritas desa memiliki resiliensi sedang hingga tinggi, tingkat resiliensi keseluruhan Kecamatan Pebayuran masih rendah, terutama karena kurangnya fasilitas peringatan dini banjir.
Strategi Nafkah Komunitas Petani Garam dalam Menghadapi Variabilitas Iklim di Gampong Cebrek Kabupaten Pidie: Livelihood Strategies of the Salt Farmer Community in Facing Climate Variability in Cebrek Village, Pidie Regency Ibnu Phonna Nurdin; Khairulyadi Khairulyadi; Cut Lusi Chairunnisak; Dara Fatia
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3374

Abstract

Climate variability in coastal regions presents significant challenges for salt farmer communities in their daily activities. This article aims to describe the impact of climate variability on salt farmer communities, as well as the livelihood strategy patterns they adopt in response to this variability. The study was conducted in Gampong Cebrek, Simpang Tiga Subdistrict, Pidie District, using qualitative methods. Data were collected through in-depth interviews and observations of specifically chosen salt farming communities. The findings indicate that these communities face difficult situations due to climate variability, including issues like flooding of fields during the rainy season, salt production difficulties, and vulnerable settlements. Adaptations include storing salt production soil in huts, raising the floor levels of homes and salt huts, and cleaning water channels. These challenges have led farmers to adopt strategies such as land intensification and extensification, livelihood diversification, and migration. Although these strategies are effective, migration, in particular, has negative impacts like the loss of future generations of salt farmers. Therefore, government support is needed to help salt farmer communities face the challenges of climate variability. AbstrakVariabilitas iklim di wilayah pesisir menyajikan tantangan signifikan bagi komunitas petani garam dalam menjalankan aktivitas harian mereka. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan terkait paparan variabilitas iklim pada komunitas petani garam serta pola strategi nafkah petani garam dalam menghadapi variabilitas iklim tersebut. Studi ini dilakukan di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada komunitas petani garam yang dipilih secara purposive. Temuan menunjukkan bahwa komunitas ini menghadapi situasi sulit akibat variabilitas iklim, dengan masalah seperti banjir di lahan saat musim hujan, kesulitan produksi garam, dan pemukiman yang rentan. Adaptasi yang dilakukan termasuk penyimpanan tanah produksi di pondok, peninggian lantai rumah dan pondok garam, serta pembersihan saluran air. Permasalahan ini mendorong petani mengembangkan strategi adaptasi, termasuk intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, diversifikasi nafkah, dan migrasi. Meskipun strategi ini efektif, migrasi menimbulkan dampak negatif berupa hilangnya regenerasi petani garam. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pemerintah untuk membantu komunitas petani garam menghadapi tantangan variabilitas iklim.
Pengaruh Daya Tarik Fisik terhadap Diskriminasi Pekerjaan di Industri Perhotelan dan Pariwisata Jakarta: Physical Attractiveness on Job Discrimination in Jakarta's Hospitality and Tourism Industry Silmi Lestari
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3451

Abstract

This study aims to explore how standards of beauty and physical attractiveness influence job opportunities in the hospitality and tourism industries, particularly in the context of discrimination occurring in the initial stages of the job market, as reflected in job vacancy announcements. Utilising a reflective digital sociology approach, an analysis was conducted on job listings from the jobstreet.co.id portal, focusing on the hospitality and tourism sectors. The findings indicate that skills such as communication abilities, a good personality, and physical attractiveness often emerge as primary factors in the selection process. Notably, an attractive appearance is frequently considered an essential qualification and indicates a tendency towards discrimination at the initial stage of recruitment. This study finds that physical attractiveness is not only valued but also acts as a discriminatory factor, limiting job opportunities for those who do not meet subjective standards of beauty. These findings affirm that individuals with physical attractiveness are more likely to succeed in the hospitality and tourism industries compared to those who are less physically attractive. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana standar kecantikan dan daya tarik fisik mempengaruhi peluang kerja di industri perhotelan dan pariwisata, khususnya terkait dengan diskriminasi dalam tahapan awal proses rekrutmen, seperti yang tercermin dalam pengumuman lowongan kerja. Menggunakan pendekatan sosiologi digital reflektif, analisis dilakukan terhadap data lowongan pekerjaan dari portal jobstreet.co.id, dengan fokus pada sektor perhotelan dan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi, kepribadian yang baik, dan daya tarik fisik sering kali menjadi faktor utama dalam proses seleksi. Penampilan yang menarik, khususnya, sering kali dianggap sebagai kualifikasi penting dan mengindikasikan adanya kecenderungan diskriminatif pada fase awal rekrutmen. Temuan ini menemukan bahwa daya tarik fisik tidak hanya dihargai tetapi juga berperan sebagai faktor diskriminatif, membatasi kesempatan kerja bagi mereka yang tidak memenuhi standar kecantikan subjektif. Hal ini menegaskan bahwa individu dengan daya tarik fisik cenderung memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dalam industri perhotelan dan pariwisata dibandingkan mereka yang tidak menarik secara fisik.
Pemberdayaan Nelayan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Alue Naga, Aceh: Empowerment of Fishermen through Joint Business Groups (KUBE) in Alue Naga Village, Aceh Juaris Juaris; Jhon Wahidi; Saprijal Saprijal; Faez Syahroni
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3489

Abstract

This article discusses the role of Joint Business Groups (KUBE) in empowering fishermen in Alue Naga Village, Aceh, Indonesia. The study employs a qualitative descriptive approach, with primary data collected through observation, in-depth interviews, and focused group discussions. The findings reveal that KUBE significantly contributes to improving the fishermen's quality of life through education, training, and financial assistance. The emerging trend of economic improvement and increased awareness among the fishing community indicate the effectiveness of KUBE's intervention. This study demonstrates that KUBE not only strengthens economic aspects but also supports the enhancement of social capacity and entrepreneurship among fishermen. The implementation of KUBE strategies impacts the increase in income, knowledge, and skills in fishing and business management. This study concludes that, in the context of empowering fishermen, KUBE can be a key instrument in enhancing the welfare and independence of the fishing community. AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang peran Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam pemberdayaan nelayan di Desa Alue Naga, Aceh, Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa KUBE berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup nelayan melalui pendidikan, pelatihan, dan bantuan keuangan. Terjadinya tren peningkatan ekonomi dan kesadaran di masyarakat nelayan, menandakan efektivitas intervensi KUBE. Studi ini membuktikan bahwa KUBE tidak hanya memperkuat aspek ekonomi tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas sosial dan kewirausahaan nelayan. Implementasi strategi KUBE berdampak pada peningkatan pendapatan, pengetahuan, dan keterampilan menangkap ikan serta pengelolaan usaha. Artikel ini menyimpulkan bahwa dalam konteks pemberdayaan nelayan, KUBE dapat menjadi salah satu instrumen utama dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat nelayan.
Solidaritas dan Transaksi Ekonomi dalam Komunitas Suporter Persis Solo: Solidarity and Economic Transactions within the Persis Solo Supporters' Community Ronald Tri Pamungkas; Danang Purwanto; Riadi Syafutra Siregar
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3528

Abstract

Football is more than just a game on the field; it also involves social and economic aspects, especially among fans. This research examines the 'away days' phenomenon with Persis Solo football club supporters, where some fans sell or pawn belongings to fund their travel. Using qualitative methods and a case study approach, this study gathered data through interviews and observations with seven selected informants in Solo City. The study reveals that Persis Solo supporters' activities go beyond just supporting their team; they also engage in economic transactions. When it comes to away days, supporters' decisions to sell or pawn items are more about helping and making away days successful than needing those items. These transactions during away days are based on trust and involve strong social connections among the supporters. AbstrakSepak bola tidak hanya terbatas pada permainan di lapangan, tetapi juga melibatkan fenomena sosial-ekonomi, terutama di kalangan suporter. Penelitian ini mengkaji fenomena away days yang terjadi di antara suporter klub sepak bola Persis Solo. Di dalam fenomena ini, beberapa suporter terlibat dalam penjualan dan gadai barang untuk membiayai perjalanan mereka. Dengan menggunakan metodologi kualitatif dan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi dari tujuh informan yang dipilih secara purposive sampling di Kota Solo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas suporter Persis Solo melampaui dukungan tim biasa, merambah ke dalam transaksi ekonomi. Saat away days, keputusan suporter untuk membeli atau menggadaikan barang lebih didorong oleh keinginan untuk membantu dan menyukseskan away days, daripada oleh kebutuhan atas barang itu sendiri. Transaksi yang terjadi dalam konteks away days ini berakar pada rasa kepercayaan dan melibatkan jaringan sosial yang kuat di antara suporter.
Pariwisata Berbasis Masyarakat: Studi Kasus Pantai Menganti, Kebumen: Community-Based Tourism: A Case Study of Menganti Beach, Kebumen Mahfud Miftahkhul Huda; Yosafat Hermawan Trinugraha; Dwi Astutik
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3543

Abstract

This article explores the role of local communities in community-based tourism development at Menganti Beach, Karangduwur Village, Kebumen District, as a response to socio-economic challenges in the area. Utilizing a qualitative approach and descriptive research, this study gathered data through interviews, observations, and documentation to understand how the community of Karangduwur independently manages Menganti’s tourism, differing from other tourism management practices predominantly overseen by the tourism department. The findings indicate a significant role of the local community in five aspects: as initiators, implementers, participants, reviewers, and beneficiaries, supporting the increase in Original Village Revenue (PAD), welfare, and reduction of unemployment. However, challenges such as conflicts of interest, culture shock, and lack of support from local governments, particularly in Environmental Impact Analysis (AMDAL) and waste management, pose substantial hurdles. Therefore, collaboration with external parties and heightened community awareness of waste management are essential for a more sustainable approach. AbstrakArtikel ini mengeksplorasi peran masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Pantai Menganti, Desa Karangduwur, Kabupaten Kebumen, yang merupakan respons terhadap tantangan sosial ekonomi di daerah tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan penelitian deskriptif, studi ini mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memahami bagaimana masyarakat Desa Karangduwur secara swadaya mengelola wisata Pantai Menganti, yang berbeda dari praktik pengelolaan wisata lainnya yang lebih banyak dikelola oleh dinas pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan peran signifikan masyarakat lokal dalam lima aspek: sebagai pemrakarsa, pelaksana, penyerta, peninjau, dan penerima manfaat, yang mendukung peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD) serta kesejahteraan dan pengurangan pengangguran. Namun, kendala seperti konflik kepentingan, culture shock, dan kurangnya dukungan pemerintah daerah, khususnya dalam aspek Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan pengelolaan limbah, menimbulkan tantangan. Oleh karena itu diperlukan adanya kolaborasi dengan pihak eksternal dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah untuk pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Pemberdayaan Perempuan Melalui Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Sukoharjo: Empowering Women Through Women Farmers' Groups in Sukoharjo District Defi Agustin Setya Luthfitah; Nurhadi Nurhadi; Bagas Narendra Parahita
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3927

Abstract

This study aims to illustrate the empowerment of household women through Women Farmers Groups (Kelompok Wanita Tani, KWT) in Sukoharjo District, particularly in Kampung Ngromo. Employing qualitative methods, the study seeks to understand how KWT acts as an instrument for enhancing women's welfare and social roles. Through observation, interviews, and thematic data analysis, this study found that KWT contributes not only to the economic sector through agricultural activities and product processing but also strengthens its members' social networks and self-confidence. KWT Hesti Makarti and Kumalasari in Sukoharjo District, emerging from community initiatives, focus on improving family economics and environmental sustainability. Their involvement in various trainings and local competitions demonstrates increased competence and environmental awareness. However, the study also finds that while KWT aids in social and economic aspects, there are limitations in fully implementing the concept of women's empowerment. Abstrak Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang pemberdayaan perempuan Ibu Rumah Tangga (IRT) melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Sukoharjo, khususnya Kampung Ngromo. Kajian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami bagaimana KWT menjadi instrumen untuk peningkatan kesejahteraan dan peran sosial perempuan. Melalui observasi, wawancara, dan analisis data tematik, hasil penelitian mengungkap bahwa KWT tidak hanya menghasilkan kontribusi ekonomi melalui kegiatan pertanian dan pengolahan produk, tetapi juga memperkuat jaringan sosial dan kepercayaan diri para anggotanya. KWT Hesti Makarti dan Kumalasari di Kecamatan Sukoharjo muncul dari inisiatif komunal, berfokus pada peningkatan ekonomi keluarga dan kelestarian lingkungan. Keterlibatan mereka dalam berbagai pelatihan dan lomba tingkat daerah menunjukkan peningkatan kompetensi dan kesadaran lingkungan. Namun, studi ini juga menemukan bahwa meskipun KWT berkontribusi dalam aspek sosial dan ekonomi, masih terdapat keterbatasan dalam menerapkan konsep pemberdayaan perempuan secara menyeluruh.

Page 1 of 2 | Total Record : 11