cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2025)" : 8 Documents clear
Pola Kerja Perempuan Pencari Cacing Sutra Nasriyanti, Mega; Effendi, Nursyirwan; Setiawati, Sri
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.15799

Abstract

This study explores the lives of women who work as silk worm (Tubifex sp.) collectors in Batipuh Panjang Subdistrict, Padang City. Although this occupation is often viewed negatively by society due to its association with waste, dirt, and unsanitary conditions, for the women involved, it serves as a crucial source of household income. The research aims to describe both the socio-economic background of these workers and the daily work patterns they follow. A descriptive qualitative approach was employed, using literature review, participant observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. Informants were selected through purposive sampling, consisting of seven women collectors as key informants, and their family members and neighbors as supporting informants. The findings reveal that the main factors driving women to pursue this work include economic necessity, limited educational background, and social influence from their environment. Their work patterns typically involve balancing domestic responsibilities with river-based worm collection, followed by sorting, selling, and income management. The study highlights the dual and significant role of women in sustaining household economies, and illustrates how they adapt socially within the constraints of informal labor markets.Abstrak: Penelitian ini mengkaji kehidupan perempuan yang bekerja sebagai pencari cacing sutra di Kelurahan Batipuh Panjang, Kota Padang. Profesi ini kerap dipandang rendah oleh masyarakat karena berhubungan dengan limbah, sampah, dan lingkungan kerja yang dianggap kotor. Namun, bagi para perempuan yang menjalani pekerjaan ini, cacing sutra justru menjadi sumber penghidupan utama yang menopang ekonomi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan latar belakang sosial ekonomi para pekerja serta pola kerja yang mereka jalani dalam keseharian. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan terdiri atas tujuh perempuan pencari cacing sutra sebagai informan kunci, serta anggota keluarga dan lingkungan sekitar sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan utama perempuan bekerja mencari cacing sutra adalah tekanan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, serta pengaruh sosial dari lingkungan sekitar. Pola kerja mereka umumnya melibatkan pembagian waktu antara aktivitas domestik dan pencarian cacing di sungai, serta pengelolaan hasil tangkapan untuk dijual dan diolah lebih lanjut. Temuan ini mengungkapkan bahwa perempuan memiliki peran ganda dan signifikan dalam ekonomi keluarga, serta menunjukkan bentuk adaptasi sosial dalam menghadapi keterbatasan peluang kerja di sektor formal.
The Qur'an as a Guide to Creating Harmony in Multicultural Societies Ma'wa, Izzatul; Yumna, Riqqotul; Ichwan, Moh. Nor
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.19171

Abstract

This study explores the role of harmony in multicultural societies and how the values contained in the Quran can contribute to creating a harmonious environment. The issues investigated include the challenges multicultural communities face, such as the potential for conflict and discrimination, and the importance of building respectful relationships among diverse cultural, religious, and ethnic backgrounds. The research design employs a qualitative approach with content analysis of relevant Quranic texts alongside in-depth interviews with community leaders and religious figures. The analysis results indicate that values of harmony, such as tolerance, mutual respect, and cooperation, are strongly emphasized in the Quran. The main findings also suggest that applying these values in daily life can reduce group tensions and foster positive collaboration. Additionally, communities that embrace the principles of harmony tend to be more socially and economically stable, attracting investment and creating job opportunities. In the author's interpretation, the significance of harmony in multicultural societies is not only relevant in the context of conflict avoidance but also as a key to sustainable development. The author concludes that by prioritizing Quranic values in social interactions, communities can create a safe and inclusive environment where every individual feels valued and can contribute positively. This research provides important insights for efforts to build stronger and more united communities in the era of globalization.Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi peran kerukunan dalam masyarakat multikultural dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur'an dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Isu yang diteliti meliputi tantangan yang dihadapi masyarakat multikultural, seperti potensi konflik dan diskriminasi, dan pentingnya membangun hubungan yang saling menghormati di antara berbagai latar belakang budaya, agama, dan etnis. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi teks-teks Al-Qur'an yang relevan serta wawancara mendalam dengan para pemimpin masyarakat dan tokoh agama. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan, seperti toleransi, saling menghormati, dan kerja sama, sangat ditekankan dalam Alquran. Temuan utama menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari dapat mengurangi ketegangan kelompok dan mendorong kolaborasi yang positif. Selain itu, masyarakat yang menganut prinsip-prinsip kerukunan cenderung lebih stabil secara sosial dan ekonomi, menarik investasi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut interpretasi penulis, pentingnya kerukunan dalam masyarakat multikultural tidak hanya relevan dalam konteks penghindaran konflik, tetapi juga sebagai kunci pembangunan berkelanjutan. Penulis menyimpulkan bahwa dengan mengedepankan nilai-nilai Qur'ani dalam interaksi sosial, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif di mana setiap individu merasa dihargai dan dapat berkontribusi secara positif. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi upaya membangun masyarakat yang lebih kuat dan bersatu di era globalisasi.
Masyarakat Adat dan Toba PULP Lestari: Pemetaan Aktor dan Analisis Konflik Agraria Alfian, Alfian; Kudussisara, Kudussisara; Maimunah, Nur Siti; Susana, Ida
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.20332

Abstract

This study examines the agricultural disputes involving the Batak Toba population in Pandumaan and Sipituhuta Village within the Pollung District of Humbang Hasundutan Regency, North Sumatra. The dispute occurs between the indigenous populations and PT. Toba Pulp Lestari, chiefly because the company's activities infringe upon the traditional territories of the local community. The research approaches involved collecting literature and pertinent sources to correctly represent actual happenings in the field. The research seeks to identify the principal participants in the conflict and examine its fundamental dynamics. Research reveals that the violence was caused by overlapping land claims between the Pandumaan-Sipituhuta indigenous community and PT. Toba Pulp Lestari. The problem is exacerbated by the government-sanctioned concession of property to the firm, which immediately overlaps with the territories historically inhabited by the indigenous population. The principal stakeholders in this dispute comprise the indigenous communities, the corporation, federal and local government agencies, security forces, NGOs, and the media, which significantly influences the reporting of these developments.Abstrak: Penelitian ini mengkaji konflik agraria di antara masyarakat Batak Toba yang berada di Desa Pandumaan dan Desa Sipituhuta, Kec Pollung, Kab Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Konflik antara masyarakat adat dan PT. Toba Pulp Lestari yang menjamah wilayah adat dari masyarakat adat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan literatur dan bacaan terkait, guna memperoleh kejadian real di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan aktor yang terlibat dalam konflik dan juga menganalisis konflik yang terjadi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa konflik yang terjadi dipicu oleh tumpang tindih penguasaan lahan oleh masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta dengan PT. PTL. Hal ini dikarenakan wilayah konsensi perusahaan yang diberikan kuasa oleh pemerintah bersinggungan dengan wilayah adat yang ditempati oleh masyarakat. Aktor yang terlibat dalam konflik ini antara lain adalah masyarakat adat, perusahaan, pemerintah pusat dan daerah, aparat keamanan, dan LSM, serta media sebagai pihak luar yang turut memberitakan konflik tersebut.
Ketiadaan Paguyuban dalam Sistem Manajemen Pedagang Kaki Lima di Jalan Karang Menjangan, Kota Surabaya Alaydrus, Sayf Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21292

Abstract

This study explores the informal management system of street vendors operating in Karang Menjangan Street, Surabaya. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with three active vendors and analyzed thematically. The findings reveal that the street vendors do not form any official community or association, primarily because they experience minimal external pressure, particularly the absence of relocation threats from local authorities. Instead, informal arrangements”such as payments for cleanliness, security, and electricity to the neighborhood association”have served as a substitute for formal organization. Despite the lack of an official community, strong social solidarity and healthy economic competition are present among the vendors. Communication remains effective, mostly occurring face-to-face. However, the study also highlights the exclusion of new or unregistered vendors, indicating the emergence of ingroup-outgroup dynamics. This research contributes to urban anthropology by showing how informal social networks can substitute formal organization, while also raising concerns about inclusivity in urban informal economies.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan informal pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Karang Menjangan, Kota Surabaya. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga PKL aktif dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para PKL tidak memiliki paguyuban resmi, yang diduga disebabkan oleh minimnya konflik dengan aparat pemerintah, khususnya ancaman relokasi. Sebagai gantinya, pembayaran rutin untuk kebersihan, keamanan, dan listrik kepada pihak RT telah menjadi bentuk pengakuan informal atas keberadaan mereka. Meski tanpa paguyuban, solidaritas sosial tetap kuat dan kompetisi ekonomi berlangsung sehat. Namun, ditemukan adanya eksklusi terhadap pedagang baru yang belum terintegrasi secara sosial, menciptakan dinamika ingroup-outgroup. Temuan ini menunjukkan bahwa jaringan sosial lokal dapat menggantikan peran struktur formal, sekaligus menggarisbawahi pentingnya inklusivitas dalam ekonomi informal perkotaan.
Suku Polahi: Kelompok Marginal Warisan Kolonialisme di Pegunungan Gorontalo Pomalingo, Samsi; Yusuf, Indra Dewi Sery; Tangahu, Wirna
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21318

Abstract

The Polahi tribe is one of the ethnic groups living in the Gorontalo Mountains of Indonesia and is a legacy of colonialism that has significantly impacted their social and cultural structure. This study analyzes the marginalization of the Polahi tribe in Gorontalo, rooted in Dutch colonial policies. This research employs a qualitative approach through anthropology with ethnographic methods. Data collection was conducted through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed thematically using data triangulation. The findings indicate that geographical isolation reinforces social disconnection, stigma, and stereotypes as a primitive group. Marginalization occurred due to the taxation system and forced labor, which compelled the Polahi tribe to isolate themselves in the Boliyohuto Mountains to avoid exploitation and abuse by the Dutch colonizers. Colonial policies that forced them to flee to the mountains created significant social disconnection, reinforcing their position as a marginalized group. This isolation not only affects their social and economic structures but also shapes a unique way of life that differs from the dominant society. The Polahi tribe continues to uphold their cultural practices and traditions, although they are often threatened by external pressures. Colonialism has created a social hierarchy that results in unequal access to resources and public services.Abstrak: Suku Polahi merupakan salah satu kelompok etnis yang hidup di Pegunungan Gorontalo, Indonesia, dan merupakan warisan dari kolonialisme yang membawa dampak signifikan terhadap struktur sosial dan budaya mereka. Penelitian ini menganalisis marginalisasi Suku Polahi di Gorontalo yang berakar pada kebijakan kolonial Belanda. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan antropologi dengan metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Data dianilisi secara tematik menggunakan trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa isolasi geografis memperkuat keterputusan sosial, stigma, dan stereotip sebagai kelompok primitif. Marginalisasi terjadi karena sistem pajak dan kerja paksa yang memaksa suku polahi untuk mengisolasi diri di pegunungan Boliyohuto untuk menghindari eksploitasi dan penyiksaan oleh kolonial Belanda. Kebijakan kolonial yang memaksa mereka mengungsi ke pegunungan menciptakan keterputusan sosial yang signifikan, memperkuat posisi mereka sebagai kelompok marginal. Isolasi ini tidak hanya memengaruhi struktur sosial dan ekonomi mereka, tetapi juga membentuk pola kehidupan yang unik dan berbeda dari masyarakat dominan. Suku Polahi masih mempertahankan praktik budaya dan adat istiadat mereka, meskipun sering kali terancam oleh tekanan eksternal. Kolonialisme telah menciptakan hierarki sosial yang mengakibatkan ketidakadilan akses terhadap sumber daya dan layanan publik.
Model Eksplanatori Sawan Mayit dan Proses Pencarian Perawatan dalam Masyarakat Mayong, Jepara Romadhonia, Fadhila Nurul Laili; Husain, Fadly
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21458

Abstract

Sawan mayit is a Javanese illness associated with death. This article aims to examine the explanatory model of sawan mayit and explore the care-seeking process by sawan mayit sufferers and family caregivers in Mayong, Jepara. The research method used was descriptive-qualitative with data collection techniques through documentation, participatory observation, and in-depth interviews. Data analysis included data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The exploratory model represents the local knowledge system of the Mayong community regarding sawan mayit through five conceptual frameworks, namely etiology, onset of symptoms, pathophysiology, course of illness, and treatment. The results of the analysis show that sawan mayit is understood and explained as a disorder of bodily functions after experiencing a series of death-related experiences. Common symptoms include fever, dizziness, weakness, sleep disturbances, and emotional disturbances such as fear and anxiety. The mechanism of sawan mayit is explained through the concept of medical syncretism, which combines biomedical concepts and traditional beliefs. Sawan mayit not only affect the physical and emotional aspects, but also affect the social aspects of the sufferer. There are dynamics in the process of seeking sawan mayit treatment, which uses three sectors of health care: the popular sector, the professional sector, and the traditional sector. The explanation and understanding of sawan mayit not only affect the labeling process of the illness, but also the care-seeking process.Abstrak: Sawan mayit adalah penyakit dalam kepercayaan masyarakat Jawa yang dikaitkan dengan peristiwa kematian. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji model eksplanatori masyarakat Mayong, Jepara mengenai sawan mayit serta mengeksplorasi proses pencarian perawatan oleh penderita sawan mayit. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Model eksplanaori merepresentasikan sistem pengetahuan lokal masyarakat Mayong mengenai sawan mayit melalui lima kerangka konsep yaitu etiologi, gejala, patofisiologi, perjalanan penyakit, dan perawatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sawan mayit dipahami dan dijelaskan sebagai gangguan fungsi tubuh setelah mengalami serangkaian pengalaman berkaitan dengan kematian. Gejala umum meliputi demam, pusing, lemas, gangguan tidur, hingga gangguan emosional seperti ketakutan dan cemas. Adapun mekanisme terjadinya sawan mayit dijelaskan melalui konsep sinkretisme medis yang menggabungkan konsep biomedis dan kepercayaan tradisional. Sawan mayit tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan emosional, tetapi juga memengaruhi aspek sosial penderitanya. Terdapat dinamika dalam proses pencarian perawatan sawan mayit yang menggunakan tiga sektor perawatan yaitu sektor populer, sektor profesional, dan sektor tradisional. Penjelasan dan pemahaman mengenai sawan mayit tidak hanya memengaruhi proses pemberian label terhadap penyakit, tetapi juga proses pencarian perawatan.
Dilema Korban Dating Violence: Studi Kasus Persepsi Pribadi Perempuan Andari, Putri; Savitri, Nita; Rifai, Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21525

Abstract

This study aims to explore the dilemma experienced by female victims of dating violence by examining the internal, external, and socio-cultural factors that prevent them from leaving abusive relationships. Employing a qualitative approach with ethnographic nuances, the research was conducted in Medan among late adolescent girls through observation and cultural theme analysis. The findings reveal that internal factors”such as the need for love, safety, esteem, and self-actualization (as proposed by Maslow), emotional dependency, fear of loss, and a lack of awareness of manipulative behaviors”significantly influence victims decisions to remain in harmful relationships. External factors, including the absence of a father figur, identity crises during adolescence, and the influence of social environments, further increase their vulnerability to emotional exploitation. In addition, socio-cultural factors also play a critical role in sustaining dating violence. Patriarchal norms, masculine dominance, and folklore surrounding female purity act as social controls that restrict women's autonomy and reinforce unequal gender relations. The intersection of these three dimensions”personal, social, and cultural”creates complex barriers that entrap victims in ongoing cycles of abuse, often without their full awareness. This study highlights the urgent need for comprehensive interventions, including relationship education, empowerment of adolescent girls, and the deconstruction of patriarchal values embedded in everyday life.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami dilema yang dialami perempuan korban dating violence (kekerasan dalam hubungan pacaran), dengan menelusuri faktor-faktor internal, eksternal, serta sosial budaya yang memengaruhi keputusan mereka untuk tetap bertahan dalam hubungan yang bersifat abusif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan nuansa etnografi, penelitian dilakukan di Kota Medan terhadap remaja perempuan akhir melalui observasi dan analisis tema kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti kebutuhan dasar manusia (cinta, rasa aman, penghargaan), ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan pasangan, serta ketidaksadaran akan kondisi manipulatif menjadi penghambat utama korban untuk keluar dari relasi yang merugikan. Sementara itu, faktor eksternal seperti kurangnya peran ayah, krisis identitas remaja, dan pengaruh lingkungan sosial memperkuat kerentanan korban terhadap eksploitasi emosional. Lebih lanjut, faktor sosial budaya juga berkontribusi signifikan terhadap normalisasi kekerasan dalam hubungan pacaran. Nilai-nilai patriarki, dominasi maskulinitas, serta keberadaan folklore tentang kesucian perempuan menjadi kontrol sosial yang mengekang dan menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Ketiga kategori faktor ini saling berkaitan dan membentuk kondisi yang membuat korban terus terjebak dalam siklus kekerasan tanpa menyadari bahwa hubungan tersebut telah merusak integritas diri mereka. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pendidikan relasi sehat, penguatan identitas diri, serta pembongkaran nilai-nilai patriarki dalam membangun sistem dukungan yang lebih adil dan transformatif bagi remaja perempuan.
Mpu Uteun: The Role and Challenges of Female Initiators in Preserving Forest Functions Fatia, Dara; Alfina, Melisa
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21608

Abstract

Forest degradation in Aceh, particularly in Damaran Baru Village, has triggered ecological disasters that directly affect the lives of local communities, especially women. Motivated by environmental concern and a sense of responsibility, a group of women led by a female initiator established Mpu Uteun, a community-based forest protection initiative. This study aims to examine the roles and challenges faced by female initiators in preserving forest functions through the activities of Mpu Uteun. Using a qualitative case study approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, with informants selected purposively. The findings reveal that Mpu Uteun plays a vital role in forest conservation through regular patrols, legal advocacy for social forestry permits, and community empowerment initiatives. However, their efforts are confronted by structural challenges, including gender bias, limited resources, and inadequate governmental support. This study highlights how women's leadership in environmental conservation not only overcomes social and institutional barriers but also redefines gender roles in sustainable natural resource governance.Abstrak: Kerusakan hutan di Aceh, termasuk di Kampung Damaran Baru, telah menimbulkan bencana ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya perempuan. Berangkat dari kepedulian terhadap kondisi tersebut, sekelompok perempuan yang dipimpin oleh seorang inisiator membentuk Mpu Uteun, sebuah komunitas perlindungan hutan berbasis perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan inisiator dalam upaya pelestarian fungsi hutan melalui kelompok Mpu Uteun. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok Mpu Uteun memiliki peran strategis dalam menjaga hutan melalui kegiatan patroli, advokasi perizinan hutan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, keberhasilan mereka tidak lepas dari berbagai tantangan struktural, seperti bias gender, keterbatasan sumber daya, dan minimnya dukungan pemerintah. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam konservasi hutan tidak hanya mampu mengatasi hambatan sosial, tetapi juga merekonstruksi peran gender dalam tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8