cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : 10.51925
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 110 Documents
Dinamika Pergeseran Identitas Kramadangsa Menuju Identitas Manusia Tanpa Ciri Ulfatun Hasanah
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 6 No 02 (2021): Narasi Islam Nusantara, Peta Dakwah dan Poskolonialisme
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.959 KB) | DOI: 10.51925/inc.v6i02.53

Abstract

The character of Ki Ageng Suryomentaram's teachings is considered unique because it is full of local wisdom values. His thinking departs from the results of internalization as well as behavior in Javanese culture which is shown in the taste at the highest level of taste that exists in humans, namely Kawruh Jiwa. He equates the Soul with Rasa, in which all inner movements include feelings, ideas, and desires. In this teaching, to reach the point of Kawruh Jiwa, one must pass the fourth dimension approach with four dimensions; the note taker dimension, the emotional dimension, the kradamangsa identity dimension, and the featureless identity dimension.This study specifically discusses these four dimensions as steps taken to arrive at the point of Raos psychology. Given that raos becomes social integration that can affect the degree or quality of interaction in society. Besides that, it also discusses the differences in the concepts of Ki Ajeng Suryomentaram's teachings with concepts from the West to determine the specification of thinking centered between taste and ratio. West places more emphasis on reason/rationality, while Suryomentaram focuses more on feeling or spirituality. Karakter ajaran Ki Ageng Suryomentaram dianggap unik karena sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pemikirannya berangkat dari hasil internalisasi sekaligus laku dalam budaya jawa yang ditunjukkan dalam rasa pada level tertinggi rasa yang ada dalam diri manusia, yaitu Kawruh Jiwa. Ia menyamakan Jiwa dengan Rasa, yang mana segala gerak dalam batin meliputi perasaan, gagasan, dan keinginan. Dalam ajaran tersebut, untuk mencapai pada titik Kawuruh Jiwa harus melewati pendekatan ukuran keempat dengan empat dimensi; dimensi juru catat, dimensi emosi, dimensi identitas kradamangsa, dan dimensi identitas tanpa ciri. Kajian ini secara spesifik membahas empat dimensi tersebut sebagai langkah yang ditempuh untuk sampai pada titik psikologi raos. Mengingat bahwa raos menjadi integrasi sosial yang dapat mempenagaruhi derajat atau kualitas interaksi dalam masyarakat. Selain itu juga dibahas tentang perbedaan konsep ajaran Ki Ajeng Suryomentaram dengan konsep dari Barat untuk mengetahui spesifikasi pemikiran yang berpusat antara rasa dan rasio. Barat lebih menekankan pada akal/rasionalitas, sedangkan Suryomentaram lebih kepada rasa atau spiritualitas.
Kajian Historis dan Peranan Pesantren LDII Millenium Alfiena Nganjuk 1996-2021 Moh Ashif Fuadi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2453.061 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.54

Abstract

Penelitian ini membahas tentang sejarah berdirinya Pesantren LDII Millenium Alfiena dari tahun 1996-2021. Permasalahan yang penulis bahas ialah mengenai awal mula berdirinya pesantren, eksistensi beserta kontroversi pesantren dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan peranan pesantren terhadap perkembangan masyarakat dan pemerintah. Berdasarkan permasalahan yang ada, Penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang dimulai dari pemilihan topik, pengumpulan sumber sejarah, memverifikasi sumber, interpretasi dan penulisan sejarah. Penulisan ini menitik beratkan pada sumber primer berupa dokumen buku pesantren, wawancara, foto dan dukungan penelitian terdahulu. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Pesantren LDII Millenium Alfiena merupakan pesantren yang dirintis pada tahun 1996 oleh K.H. Seger Afandi Al-Khoir. Pada tahun 1998 telah mendapat legalitas pemerintah dengan izin pendirian dan semakin mendapakan kepercayaan dengan semakin bertambahnya jumlah santri. Peranan pesantren yang dicapai ialah dengan berkontribusi kepada warga LDII melalui pendidikan dan pengkaderan, masyarakat melalui pelibatan santri dalam kegiatan kemasyarakatan dan pemerintah melalui kerjasama mendukung program pemerintah sehingga dengan ketiga komponen ini, Pesantren Millenium Alfiena masih bisa mempertahankan esksistensinya hingga saat ini. This research discusses the history of the establishment of the Alfiena Millennium LDII Islamic Boarding School from 1996-2021. The problems that the author discusses are about the beginning of the establishment of pesantren, the existence and controversy of pesantren and the Indonesian Islamic Da'wah Institute (LDII), and the role of pesantren in the development of society and the government. Based on the existing problems, the author uses historical research methods starting from the selection of topics, collecting historical sources, verifying sources, interpreting and writing history. This writing focuses on primary sources in the form of Islamic boarding school book documents, interviews, photos, and previous research support. This research resulted in the conclusion that the Alfiena Millennium LDII Islamic Boarding School is a pesantren that was initiated in 1996 by K.H. Seger Afandi Al-Choir. In 1998 it received government legality with a permit to establish and gained more trust with the increasing number of students. The role of pesantren achieved is by contributing to LDII residents through education and soldering, the community through the involvement of students in community activities, and the government through cooperation in supporting government programs so that with these three components, the Alfiena Millennium Pesantren can still maintain its existence until today.
Pengelolaan Administrasi Birokrasi Pada Masa Sultan Mahmud Badaruddin II Di Kesultanan Palembang Darussalam Pada Tahun 1803-1821 sari febriani
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2269.284 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.57

Abstract

Administrasi adalah perencanaan, pengendalian, dan pengorganisasian pekerjaan pemerintahan, serta pergerakan mereka yang melaksanakannya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus-menerus, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pengelolaan administrasi birokrasi pada masa Kesultanan Mahmud Badaruddin II bertujuan untuk mengetahui riwayat hidup Sultan Mahmud Badaruddin II, menguraikan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam serta menjabarkan pengelolaan administrasi birokrasi pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II di Kesultanan Palembang Darussalam. Administration is planning, controlling, and organizing the work of government, and the movement of those who implement it in order to achieve the goals that have been set. While bureaucracy refers to an organization that is intended to exert energy regularly and continuously, to achieve a certain goal. Management of bureaucratic administration during the Mahmud Badaruddin Sultanate II aims to know the history of Sultan Mahmud Badaruddin II, describes the history of the Sultanate of Palembang Darussalam and describes the management of bureaucratic administration in the time of Sultan Mahmud Badaruddin II in Palembang Darussalam Sultanate. This thesis uses primary data source and secondary data source. The primary source is a book written by P. DE ROO DE FAILLE entitled From The Age of Palembang Sultanate, translated by Soegarda Poerbakawatja. The secondary sources include the form of books, journals and others. All sources of data are collected by historical methods of heuristics and verification in which researchers review documents are generally focused on documents recording experts from various fields and other sources containing information about the past or that is worthy of historical value. Heuristics and verification serves to select historical data that the facts (evidence) history has been valid and that has been tested the validity and reliability, then the process of historiography. In addition, researchers also collect qualitative data consisting of observation and documentation. Technique of data analysis in this research is qualitative descriptive based on logic of science. In a study entitled "The Management of Bureaucratic Administration In the Period of Sultan Mahmud Badaruddin II at the Sultanate of Palembang Darussalam In the Year 180-1821" it was found that the administrative system of bureaucratic administration in the Sultanate was not much different from that of the previous Sultan-Sultan system, Java, by applying the system of four foreign countries or five pancalang in government. In the administration of bureaucracy administration Sultan Mahmud Badaruddin II divides the Sultanate into two areas, namely the capital region and the hinterland, then in the capital with the application of the system of four foreigners or pancalang lima, and for the interior area consisting of Marga led by Pesirah, Marga region is divided into three region, namely the area of ​​attitude, levy and Sindang led by Proatin. And there is also a bureaucratic means in the form by Sultan Mahmud Badaruddin II, namely institutions Kepenghuluan, Patih institutions, and institutions Syahbandar. Then used the Law of the Simbur Cahaya as a form of guidance and rule of law in the Sultanate of Palembang Darussalam. Tesis ini menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber primer berupa buku yang ditulis oleh P. DE ROO DE FAILLE berjudul Dari Zaman Kesultanan Palembang, yang diterjemahkan oleh Soegarda Poerbakawatja. Adapun Sumber sekunder diantaranya berupa buku-buku, jurnal dan lain-lain. Semua sumber data tersebut dihimpun dengan metode historis yaitu heuristik dan verifikasi dimana peneliti menelaah dokumen-dokumen pada umumnya dititik beratkan pada dokumen hasil rekaman para ahli dari berbagai bidang dan sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau atau yang sudah layak bernilai sejarah. Heuristik dan verifikasi berfungsi untuk menyeleksi data-data sejarah yang fakta (bukti-bukti) sejarahnya telah valid dan yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya, barulah proses historiografi. Di samping itu peneliti juga mengumpulkan data kualitatif terdiri dari observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berlandaskan pada logika keilmuan. Dalam penelitian yang berjudul “Pengelolaan Administrasi Birokrasi Pada Masa Sultan Mahmud Badaruddin II di Kesultanan Palembang Darussalam Pada Tahun 180-1821” ditemukan bahwa sistem pengelolaan administrasi birokrasi di Kesultanan tidak jauh berbeda dengan sistem pemerintahan pada masa Sultan-Sultan sebelumnya, yang mengikuti pola pemerintahan di Jawa, yaitu dengan penerapan sistem empat mancanegara atau pancalang lima dalam pemerintahan. Dalam pengelolaan administrasi birokrasi Sultan Mahmud Badaruddin II membagi wilayah Kesultanan menjadi dua, yaitu wilayah ibukota dan wilayah pedalaman, selanjutnya di ibukota dengan penerapan sistem empat mancanegara atau pancalang lima, dan untuk wilayah pedalaman yang terdiri dari Marga dipimpin oleh Pesirah, wilayah Marga dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu daerah Sikap, Kepungutan dan Sindang yang dipimpin oleh Proatin. Dan terdapat pula sarana birokrasi yang di bentuk oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, yaitu lembaga Kepenghuluan, lembaga Patih, dan lembaga Syahbandar. Kemudian digunakan Undang-Undang Simbur Cahaya sebagai bentuk pedoman dan aturan hukum di Kesultanan Palembang Darussalam.
Eksistensi Tarekat Naqsyabandi Haqqani di Jakarta Retna Dwi Estuningtiyas
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2197.704 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.58

Abstract

Tasawwuf saat ini tidak lagi dianggap hal baru bahkan sudah menjadi tren di mana diikuti banyak orang dengan mengikuti tarekat. Salah satu tarekat yang berkembang dengan baik dan dianggap muktabar yaitu tarekat Naqsyabandi Haqqani, dan eksis di Jakarta dan sekitarnya, bahkan tarekat ini berkembang di seluruh dunia. Tarekat ini masuk Jakarta pertama kali masuk ke Jakarta pada bulan April 1997 diperkenalkan oleh Syaikh Muhammad Hisham Kabbani. Tarekat Naqsyabandi Haqqani merupakan cabang baru dari Naqsyanandi yang bersanad pada Baha’ al-Din Naqsyabandi (w. 1389). Naqsyabandiyah Haqqani dinisbatkan kepada pendiri Yayasan Haqqaniyah yaitu Syaikh Muhammad Nadzim Adil al-Haqqani yang berpusat di Cyprus. Ajaran Tarekat Naqsybandi Haqqani adalah tentang cinta, di mana pelaksanaan zikir dan berkumpul dilakukan di zawiyah-zawiyah yang tersebar di banyak tempat di bawah naungan Yayasan Haqqani Indonesia.
Kekisruhan di Cirebon pada XIX Lesi Maryani
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2326.209 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.59

Abstract

Abstrak Cirebon merupakan salah satu wilayah yang penting di pulau Jawa. Sejak masa silam, wilayah ini bergeliat menjadi salah satu pusat perdagangan penting yang menghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir, bahkan sampai lintas pulau. Posisinya kian startegis, manakala di abad 16 sudah berdiri Kesultanan yang mapan di sana. Syarif Hidayatullah dan para keturunannya telah menorehkan prestasi gemilang yang merubah wajah pelabuhan Cirebon yang semula hanya diramaikan oleh perahu-perahu lokal menjadi kota yang dipenuhi jajarah perahu antarbenua. Sejarah lokal memiliki beberapa fungsi kaitannya dengan sejarah nasional, antara lain; 1) Sebagai koreksi atas kealpaan yang telah terbabar dalam narasi sejarah nasional; 2) Sebagai pemerkaya kisah sejarah nasional dikarenakan dari satu cerita dapat melahirkan cerita-cerita lain yang saling berkesinambungan; 3) Sejarah lokal dapat menjadi wajah dinamika dari penulisan sejarah itu sendiri. Wacana kesejarahan Cirebon belum seluruhnya terungkap. Berbekal dengan arsip kolonial yang telah dihimpun dalam dokumen Belanda berjenis Koloniaal Verslag 1870 – 1880, riwayat Cirebon akan dikupas, khususnya mengenai perlawanan rakyat akibat ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda. Artikel ini akan membahas tentang resistensi masyarakat Cirebon di abad XIX, berdasarkan sumber primer berupa catatan kolonial Hindia Belanda. Dengan menggunakan sumber primer tersebut, diharapkan dapat mengangkat sejumlah temuan mikro mengenai sisi lain dari perlawananan warga Cirebon yang belum terungkap Cirebon is one of the important regions on the island of Java. Since the past, this area has squirmed into one of the important trading centers that connects inland areas with the coast, even to the point of crossing islands. Its position became increasingly startegis, when in the 16th century there was already an established Sultanate there. Syarif Hidayatullah and his descendants have made brilliant achievements that changed the face of the Cirebon port which was originally only enlivened by local boats into a city filled with intercontinental boats. Local history has several functions related to national history, including; 1) As a correction to the forgetfulness that has been flared up in the national historical narrative; 2) As a enricher of national historical stories because one story can give birth to other stories that are mutually sustainable; 3) Local history can be the dynamic face of the writing of history itself. Cirebon's historical discourse has not been fully revealed. Armed with colonial archives that have been collected in Dutch documents of the Colony verslag type 1870 – 1880, the history of Cirebon will be peeled off, especially regarding popular resistance due to the injustice of the Dutch East Indies government. This article will discuss the resistance of the people of Cirebon in the XIX century, based on primary sources in the form of colonial records of the Dutch East Indies. By using these primary sources, it is hoped that it can raise a number of micro-findings regarding the other side of the resistance of cirebon residents that have not been revealed
Dinamika Awal Aktivitas Nahdhlatul Ulama dalam Catatan Pers Masa Kolonial 1925 – 1942 Akhmad Saehudin
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2250.322 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.60

Abstract

Abstrak Kebijakan Politik Islam di Hindia Belanda medorong para sarjana muslim mendirikan organisasi Islam, termasuk, Nahdhlatul Ulama, sebagai saluran aktivitasanya. Ini dilakukan untuk kebersamaan dan wahana persatuan. Dengan berorganisasi, maka dapat menciptakan gerak bersama untuk menghindari tuduhan melakukan aktivitas mencurigakan dalam hal keagamaan dari otoritas kolonial. Di sisi lain, peran pers dalam meliput kegiatan NU tergolong besar. Organisasi ini dianggap mempunyai modal politik dan kultural yang penting dalam dinamika Muslim di Hindia Belanda. Artikel ini berupaya menyuguhkan sejumlah aktivitas NU yang direkam oleh surat kabar pada masa kolonial. Beberapa berita yang ditemukan cukup unik, karena meliput aktivitas perkumpulan ini sampai di tingkat daerah, seperti di Kediri dan Semarang. Pencarian informasi mengarah pada tiga aspek yang menjadi perhatian NU antara 1925 hingga 1942, yakni masalah Kongres Al-Islam, ritual keagamaan dan respon atas kebijakan sekolah liar. Beberapa temuan mengarah pada sisi sejarah sosial dari kegiatan NU. Ini sekaligus menjadi catatan pinggir bagi historiografi terdahulu, yang lebih banyak menyorot NU dalam kaca mata sejarah politik. Berbekal pada metode penelitian sejarah, diperoleh suatu bahan telaah kronologis yang dekat dengan nuansa sejarah sosial. Political Islam policy in the Dutch East Indies encouraged Muslim scholars to establish Islamic organizations, including, Nahdhlatul Ulama, as a channel for their activities. This is done for togetherness and a vehicle of unity. By organizing, it can create a common movement to avoid accusations of carrying out suspicious activities in religious matters from the colonial authorities. On the other hand, the role of the press in covering NU's activities is quite large. This organization is considered to have political and cultural capital that is important in the dynamics of Muslims in the Dutch East Indies. This article attempts to present a number of NU activities recorded by newspapers during the colonial period. Some of the news found is quite unique, because it covers the activities of this association to the regional level, such as in Kediri and Semarang. The search for information led to three aspects of concern to the NU between 1925 and 1942, namely the issue of the Al-Islam Congress, religious rituals and the response to the wild school policy. Some of the findings point to the social history side of NU's activities. This is also a marginal note for earlier historiography, which highlighted NU more in the lens of political history. Armed with historical research methods, a chronological study material is obtained that is close to the nuances of social history.
Analisis Semiotika De Saussure pada syair pupujian sunda Eling Eling Umat Kiki Esa Perdana
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1939.067 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.61

Abstract

Judul penelitian ini adalah “analisis semiotika pada syair pupujian sunda eling-eling umat”. Syair pupujian eling-eling umat ini merupakan ciri khas pupujian yang muncul pada tempat ibadah yang mayoritas penduduk nya orang sunda, karena pupujian menggunakan Bahasa sunda. Ajaran pupujian sunda ini merupakan salah satu ajaran aswaja yang diserap oleh pertumbuhan islam di nusantara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dari umat islam di indonesia, terutama di daerah sunda, dalam mempertahankan ajaran keislaman yang mereka percayai dalam menyebarkan syiar melalui kebudayaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Sedangkan pengujian validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data, data yang diperoleh disesuaikan atau dilakukan cek ulang dengan sumber data lainnya. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan pendekatan beragama menggunakan kebudayaan local setempat, dinilai cukup efektip untuk meyebarkan pendidikan dasar islam di masyarakat. The title of this research is "semiotic analysis of the Sundanese poetry of the eling-eling umat". This eloquent verse of praise for the people is a characteristic of the praise that appears in places of worship where the majority of the population is Sundanese, because the praise uses the Sundane language. This Sundanese praise teaching is one of the Aswaja teachings that were absorbed by the growth of Islam in the archipelago. The purpose of this study is to find out how the Muslims in Indonesia, especially in the Sundanese area, maintain the Islamic teachings. They believe in spreading wisdom through culture. Data was collected through interviews, observation, and literature study. While testing the validity of the data in this study using data triangulation, the data obtained was adjusted or rechecked with other data sources. Based on the results of the study, the authors conclude that a religious approach using local culture is considered effective enough to spread Islamic basic education in the community.
Studi Eksperimental Penggunaan Reaktor Microbial Fuel Cell (MFC) Dengan Membran Berongga Sebagai Alat Memanen Energi Terbarukan Dari Variasi Limbah Organik umi nihayah; M. Ramdlan Kirom
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 7 No 01 (2022): Memperbaharui dan Menarasikan Kembali Pemaknaan Sejarah Islam di Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2094.151 KB) | DOI: 10.51925/inc.v7i01.63

Abstract

dengan bantuan mikroorganisme. Pada penelitian ini menggunakan desain dual chamber MFC 10x10x5 cm untuk mengetahui keluaran arus dan tegangan yang dihasilkan menggunakan membran berongga semen ukuran diameter 3 cm dan tebal 0,5 cm dengan campuran Natrium Clorida (NaCl). Kompartemen anoda menggunakan plat seng (Zn) dan katoda menggunakan plat tembaga (Cu) dengan ukuran sama 5x3 cm. Penelitian menggunakan perbandingan 1:1 untuk variasi limbah organik substrat limbah cair tahu dan limbah kulit pisang dengan dicampur lumpur sawah. Dari hasil pengukuran, produksi listrik maksimal selama 14 hari pada substrat limbah cair tahu yaitu dengan inkubasi 6 hari dan pada substrat limbah kulit pisang padat dan cair yaitu dengan inkubasi 3 hari. Hasil pengukuran dapat diperoleh tegangan 252,010 mV, arus 2,52 mA, dan daya 390,648 mW pada substrat limbah cair tahu, tegangan 82,609 mV, arus 0,828 mA, dan daya 68,543 mW pada substrat limbah kulit pisang padat, dan tegangan 66 mV, arus 0,66 mA, dan daya 43,6 mW pada substrat limbah kulit pisang cair. Currently, Indonesia has a big challenge to increase quality energy in order to support sustainable development. So far, the energy used to produce electricity is oriented towards fossil energy which causes negative impacts, while the utilization of non-fossil energy is still low. The solution provided is the use of new and renewable energy that can be used for electricity production needs such as the use of Microbial Fuel Cell (MFC) technology. MFC is a bioelectristry-based device that converts chemical energy into electricity by utilizing organic compounds as well as utilizing enzymatic catalysts with the help of microorganisms. In this study, it used a dual chamber MFC 10x10x5 cm design to determine the output of current and voltage generated using a cement hollow membrane measuring 3 cm in diameter and 0.5 cm thick with a mixture of Sodium Clorida (NaCl). The anode compartment uses zinc plate (Zn) and the cathode uses copper plate (Cu) with the same size of 5x3 cm. The study used a ratio of 1: 1 for the variation of organic waste substrates of tofu liquid waste and banana peel waste mixed with rice field sludge. From the measurement results, electricity production is a maximum of 14 days on the tofu liquid waste substrate, namely with 6 days incubation and on the solid and liquid banana peel waste substrate, namely with 3 days incubation. The measurement results can be obtained a voltage of 252,010 mV, a current of 2.52 mA, and a power of 390.648 mW on the tofu liquid waste substrate, a voltage of 82.609 mV, a current of 0.828 mA, and a power of 68.543 mW on the solid banana peel waste substrate, and a voltage of 66 mV, a current of 0.66 mA, and a power of 43.6 mW on the liquid banana peel waste substrate.
Peran Nadlatul Ulama dalam membantu Kampanye Pemerintah Menghentikan Pernikahan Anak di Indonesia Miftahul Huda
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3931.903 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.64

Abstract

The issue of child marriage is a very serious issue in this 21st century, because child marriage will indirectly lead to poverty, and the United Nations has specifically given the authority to UNFPA to address this problem. Indonesia is included in the top 10 in the world in the number of child marriages, so the focus of the government is to reduce it, one of which is by increasing the age threshold to 19 years for women in 2019 in the Law. Through this Government Program, this paper tries to find out what Nadlatul Ulama's roles are in helping the government campaign to end child marriage in Indonesia, one of which is conducting cultural da'wah at Islamic boarding schools and their branches throughout Indonesia in collaboration with UNICEF. Isu Pernikahan anak merupakan isu yang sangat serius pada abad 21 ini, karena pernikahan anak akan secara tidak langsung mengakibatkan kemiskinan, dan PBB secara khusus memberikan wewenang kepada UNFPA untuk menangani masalah ini. Indonesia masuk kedalam 10 besar dunia dalam jumlah pernikahan anak sehingga fokus pemerintah adalah untuk mereduksinya salah satunya dengan menaikkan ambang batas umur menjadi 19 tahun bagi perempuan 2019 lalu dalam UU. Melalui Program Pemerintah ini, tulisan ini mencoba mencari apa saja Peran Nadlatul Ulama dalam membantu kampanye pemerintah dalam mengehentikan Pernikahan anak di Indonesia, salah satunya adalah melakukan dakwah kultural di Pesantren – pesantren dan cabang cabang mereka di Seluruh Indonesia dengan kerjasama dengan UNICEF Pernikahan Anak, UU Pernikahan, Nahdlatul Ulama
Poligami dalam Islam dan Keadilan Gender Zainal Abidin; Muhammad Safuan; Rafiqul Huda Siregar
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3905.394 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.65

Abstract

This article traces the thoughts of two Indonesian gender activists, Mansour Fakih and Faqihuddin Abdul Kodir regarding polygamy and gender justice. Through a qualitative approach and literature study, this paper discusses common opinions about polygamy to focus on the opinions of both of them. In general, polygamy is allowed if it is able to do justice and for the benefit. This opinion was deemed incorrect by two thinkers and activists from Indonesia, Mansour Fakih through his gender analysis and social transformation tools had aspirations so that gender justice could be realized, one of which was by interpreting religious texts. It was this interpretation of religious texts that was later continued by Faqihuddin Abdul Kodir, whom he popularized with the term Qiraah Mubadalah. From the methodological device he initiated, it was concluded that polygamy was judged to be less maslahah and more maslahah monogamous. Artikel ini menelusuri pemikiran dua tokoh aktivis gender Indonesia, Mansour Fakih dan Faqihuddin Abdul Kodir terkait poligami dan keadilan gender. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan, karya tulis ini mendiskusikan pendapat umum mengenai poligami hingga fokus pada pendapat mereka berdua. Secara umum poligami diperbolehkan jika mampu berlaku adil serta untuk kemaslahatan. Pendapat ini dirasa kurang tepat oleh dua pemikir sekaligus aktivis dari Indonesia, Mansour Fakih melalui perangkat analisis gender dan transfromasi sosialnya memiliki cita-cita agar keadilan gender bisa terwujud, salah satunya dengan penafsiran teks agama. Penafsiran teks agama inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir, yang ia populerkan dengan istilah Qiraah Mubadalah. Dari perangkat metodologis yang ia gagas itu, disimpulkan bahwa poligami dinilai kurang maslahah dan lebih maslahah monogami.

Page 5 of 11 | Total Record : 110