cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : 10.51925
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 110 Documents
The Development of Exegesis in Indonesia Idil Hamzah
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.232 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.77

Abstract

This paper examines the Adaby Ijtima'i style in Daud Ismail's interpretation of al-Munir. This style of interpretation explains the instructions for the verses of the Qur'an related to the conditions of society and efforts to overcome the problems of society by presenting the instructions for the verses in language that is simple to comprehend and implement in their daily lives. The most important aspect of the Adaby Ijtima'i style of interpretation is that the Qur'anic texts are connected to the realities of people's lives, social traditions, and civilizational systems so that they can be applied to problem-solving. Using a descriptive-analytic method to manage data, qualitative research, which is library research, was employed for this study. In his commentary, Daud Ismail allegedly applied the Adaby Ijtima'i interpretation style to the verses of the Qur'an. These signals can be found, among other places, in the writing of his commentary using the Bugis script lontara with the intention of facilitating public comprehension of the Qur'an, as well as in various interpretations, one of which is found in the QS. Al-Maidah Daud Ismail responds to the bad practices of Bugis society, such as abbotoreng (gambling) and drinking tuak pai'e (bitter wine), and then discusses the prohibition of Abberhalae (idol worship), such as batue (stones), pong ajue, etc (trees). and bring offerings such as sokko, inanre madupang-dupang Iyarega na itello (glutinous rice, assorted rice, and eggs) Tulisan ini mengkaji corak Adaby Ijtima'i dalam tafsir Daud Ismail terhadap al-Munir. Corak tafsir ini menjelaskan petunjuk ayat-ayat Al-Qur'an terkait dengan kondisi masyarakat dan upaya mengatasi permasalahan masyarakat dengan menyajikan petunjuk ayat-ayat tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Aspek terpenting dari corak penafsiran Adaby Ijtima'i adalah bahwa teks-teks Al-Qur'an terhubung dengan realitas kehidupan masyarakat, tradisi sosial, dan sistem peradaban sehingga dapat diterapkan pada pemecahan masalah. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitik untuk mengelola data, penelitian kualitatif yang merupakan penelitian kepustakaan digunakan untuk penelitian ini. Dalam tafsirnya, Daud Ismail diduga menerapkan corak tafsir Adaby Ijtima'i pada ayat-ayat Al-Qur'an. Sinyal-sinyal tersebut antara lain dapat ditemukan dalam penulisan tafsirnya menggunakan aksara Bugis lontara dengan maksud memudahkan pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur'an, serta dalam berbagai penafsiran, salah satunya ditemukan dalam QS. Al-Maidah Daud Ismail menanggapi praktik buruk masyarakat Bugis, seperti ab botoreng (judi) dan minum tuak pai'e (anggur pahit), dan kemudian membahas larangan Abberhalae (penyembahan berhala), seperti batue (batu), pong ajue, dll (pohon). dan membawa sesaji seperti sokko, inanre madupang-dupang Iyarega na itello (beras ketan, aneka beras, dan telur)
Tinjauan Profetik Nabi Muhammad SAW Idil Hamzah; Zainal Abidin
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2204.648 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.78

Abstract

Tulisan ini mengeksplor bagaimana jejak peradaban profetik Nabi Muhammad Saw. Dalam menguraikan penjelasan ini ada tiga pokok pembahasan, pertama mengenai kondisi masyarakat Arab pra Islam, jejak profetik Nabi di Mekkah dan Jejak profetik di Madinah. Pembahasan tiga hal utama ini merupakan pijakan yang melekat dengan sirah Nabawi. Melalui deskriptif-analitis dari beberapa sumber referensi, makalah ini menunjukkan kondisi masyarakat Arab pra Islam, penulis menguraikan bagaimana persebaran geografis, kepercayaan yang dianut, politik yang melingkupi, dan budaya yang diagungkan. Sementara era di Mekkah, Nabi melakukan dekonstruksi sistem keyakinan dan adanya doktrin tentang eskatologis. Adapun pembahasan terkait era Madinah, penulis membahas tiga hal yang utama yakni membangun masjid, reformasi struktural, dan terbentuknya piagam Madinah. Dari penjelasan tersebut, peradaban profetik kenabian Muhammad Saw. berjalan dengan proses yang Panjang dari yang fokus pada keyakinan/keimanan menuju pada masyarakat ideal yang sejahtera, aman terlindungi, dan persaudaaran yang kuat dengan sebutan masyarakat Madani. This article explores how the traces of the prophetic civilization of the Prophet Muhammad (peace be upon him). In describing this explanation there are three points of discussion, first about the condition of pre-Islamic Arab society, prophetic traces of the Prophet in Mecca and prophetic traces in Medina. The discussion of these three main things is the foothold attached to the Prophet's sirah. Through descriptive-analytical from several reference sources, this paper shows the condition of pre-Islamic Arab society, the author outlines how geographical distribution, beliefs adhered to, politics surrounded, and culture glorified. While in Mecca, the Prophet deconstructed the belief system and the existence of eschatological doctrines. As for the discussion related to the Medina era, the author discusses three main things, namely building mosques, structural reforms, and the formation of the Medina charter. From this explanation, the prophetic civilization of the prophethood of Muhammad (peace be upon him) went with a long process from focusing on faith / faith to an ideal society that was prosperous, safe, protected, and strong trade called civil society.
Kelahiran dan Perkembangan Lesbumi Johan Wahyudi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.442 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.80

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana perkembangan kelompok kebudayaan santri atau masyarakat pecinta budaya lainnya, yang berafiliasi dengan Nahdhlatul Ulama dalam mengembangkan produk seni budaya yang mencitrakan keislaman dan keindonesiaan. Perkembangan Lesbumi tidak bisa dilepaskan dari benturan arus kebudayaan Indonesia, yang di tahun 1960-an, sedang mencari bentuk, dengan kebudayaan mancanegara, seperti dari negeri-negeri Barat. Ranah budaya sendiri menjadi lokus yang krusial saat itu, mengingat sejumlah kekuatan politik kerap menggunakan aneka performa kebudayan sebagai alat kampanye untuk meraup suara rakyat dalam kontestasi Pemilihan Umum baik di tingkat nasional maupun daerah. Di sisi lain, medan budaya juga digunakan sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan serta sosialisasi suatu gagasan ke publik. Artikel ini ditulis dengan pendekatan sejarah, dengan menganalisa sejumlah temuan primer serta sekunder yang diintegrasikan dengan metode penelitian sejarah. This paper explains how the development of santri cultural groups or other culture-loving communities, affiliated with Nahdhlatul Ulama in developing cultural art products that image Islam and Indonesia. The development of Lesbumi cannot be separated from the clash of Indonesian culture, which in the 1960s, waslooking for form, with foreign cultures, such as from Western countries. The cultural realm itself became a crucial locus at that time, considering that a number of political forces often used various cultural performances as campaign tools to gain people's votes in General Election contestations both at the national and regional levels. On the other hand, the cultural field is also used as a means of disseminating knowledge and disseminating an idea to the public. This article is written with a historical approach, by analyzing a number of primary and secondary findings that are integrated with historicalresearch methods.
Khazanah Ulama Nusantara Moh Ashif Fuadi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.925 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.81

Abstract

Penelitian ini membahas tentang ketokohan K.H. Muhajirin Amsar dan telaah metodologis karyanya yaitu kitab Misbāhu al-Dzulām. Penelitian ini menggunakan metode library reseacrh (studi pustaka), dengan menelaah kitab Misbāhu al-Dzulām, diperkuat dengan data sekunder yang bersumber dari buku, artikel, dan berita online yang relevan dengan tema yang diangkat. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa, pertama, K.H. Muhajirin Amsar merupakan ulama kontemporer berpengaruh dari Bekasi yang cukup produktif dalam menghasilkan karya berupa kitab khas pesantren meliputi 34 kitab dari 8 disiplin ilmu agama Islam mencerminkan kedalaman dan keluasan ilmunya. Dari karya-karyanya yang paling populer adalah kitab Misbāhu al-Dzulām yang terdiri dari 8 jilid yang merupakan syarah atau penjelasan lanjutan dari kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Kedua, terdapat tiga metode penulisan kitab Misbāhu al-Dzulām yakni tanqil (mengutip), tabyid (pemilahan) dan tahqiq (penguatan). Metode tanqil bebarti menukil dari literatur yang dipakai sebagai referensi, sedangkan metode tabyid berarti melakukan pemilahan naskah yang lebih relevan dengan tema. Adapun metode tahqiq adalah melakukan penguatan dari karya yang telah ditulis secara keseluruhan untuk diberikan penguatan. Ketiga, penerapan dalam metode tersebut meliputi penjelasan kebahasaan, asbabul wurud, bahasan fiqh dan ushul-nya, hadis secara umum, pembahasan dari sisi sanad, dan berbagai perbedaan pendapat ulama. This study discusses the character of K.H. Muhajirin Amsar and a methodological study of his work, namely the book Misbāhu al-Dzulām. This research uses the library research method (literature study) by studying the book Misbāhu al-Dzulām, reinforced by secondary data sourced from books, articles, and online news relevant to the theme raised. This research concluded that, first, K.H. Muhajirin Amsar is an influential contemporary scholar from Bekasi who is quite productive in producing works in the form of typical pesantren books, including 34 books from 8 Islamic religious disciplines reflecting the depth and breadth of his knowledge. Of his works, the most popular is the book Misbāhu al-Dzulām which consists of 8 volumes which is a syarah or follow-up explanation of the book Bulughul Marom by Ibn Hajar al-Asqalani. Second, there are three methods of writing the book of Misbāhu al-Dhulām: tanqil (quoting), tabyid (sorting), and tahqiq (strengthening). The tanqil method means quoting from the literature used as a reference, while the tabyid method means sorting out manuscripts more relevant to the theme. The tahqiq method is to strengthen the work written as a whole to be given reinforcement. Third, the application of the method includes linguistic explanations, asbabul wurud, discussion of fiqh and its ushul, hadith in general, discussion from the sanad side, and differences of opinion of scholars.
Pelaksanaan Ibadah Haji Masa Hindia Belanda Lesi Maryani; Andriyansyah -
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1606.183 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.82

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang analisa kritis atas pemikiran Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, tentang penyelenggaraan haji di Nusantara. Sebagai sosok yang berkecimpung lama dalam tradisi keilmuan di Mekkah, ia mempunyai cukup bekal dalam menilai bagaimana motif, perilaku serta perubahan yang dialami umat Muslim saat berhaji dan sepulangnya dari haji. Secara umum, Pemerintah Hindia Belanda menganggap para haji sebagai sumber pembuat masalah sosial. Dengan menghentikan peredarannya, maka dapat mengurangi ancaman atas rust en orde. Snouck tidak sepakat dengan anggapan itu dan justru menyarankan agar pemerintah lebih memfasilitasi keberangkatan haji di Nusantara. Artikel ini ditulis setelah melewati fase penelitian sejarah yang bertumpu pada kegiatan mencari sumber, kritik sumber, interpretasi dan penulisan sejarah. This paper describes a critical analysis of the thoughts of Snouck Hurgronje, advisor to the Dutch East Indies government, on the implementation of Hajj in the archipelago. As a long-time scholarly in Mecca, he is well-equipped to assess the motives, behaviours and changes Muslims experience during Hajj and after returning from Hajj. In general, the Dutch East Indies government regarded the pilgrims as a source of social trouble-making. By stopping its circulation, it can reduce the threat of rust en order. Snouck did not agree with this assumption and instead suggested that the government facilitate more Hajj departures in the archipelago. This article was written after passing through the phase of historical research which relies on the activities of finding sources, source criticism, interpretation and writing history.
Strategi Efektif Dalam Mencegah Penyebaran Hadis Palsu di Media Sosial Muhammad Ghifari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2262.183 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.83

Abstract

Artikel ini membahas penyebaran hadis palsu di media sosial dan dampak negatifnya terhadap masyarakat. Penyebaran hadis palsu telah menjadi fenomena yang mengkhawatirkan, terutama di era digital saat ini. Hadis, sebagai sumber penting dalam agama Islam, rentan terhadap manipulasi dan disinformasi di media sosial. Artikel ini akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran hadis palsu, seperti sifat viral media sosial, tujuan di balik penyebaran hadis palsu, dan manipulasi teks hadis. Selain itu, artikel ini juga akan membahas dampak negatif penyebaran hadis palsu terhadap kehidupan umat Muslim, seperti keraguan dan pemahaman yang salah, perpecahan dalam umat Muslim, dan pengaruh negatif terhadap kerukunan antarumat beragama. Solusi untuk mengatasi tantangan ini juga akan dibahas dalam artikel ini. Solusi meliputi pendidikan dan kesadaran terhadap verifikasi sumber informasi, peran aktif komunitas keagamaan dalam memberikan pemahaman yang benar, pemanfaatan teknologi untuk verifikasi keaslian hadis, kolaborasi dengan platform media sosial, dan penegakan hukum terhadap pelaku penyebaran hadis palsu. This article discusses the spread of fake hadiths on social media and their negative impact on society. The dissemination of fake hadiths has become a worrisome phenomenon, especially in the current digital era. Hadiths, as an important source in Islam, are vulnerable to manipulation and misinformation on social media. This article will identify factors that influence the spread of fake hadiths, such as the viral nature of social media, the motives behind spreading fake hadiths, and the manipulation of hadith texts. Additionally, the article will also discuss the negative consequences of the dissemination of fake hadiths on the lives of Muslims, such as doubt and misconceptions, division within the Muslim community, and negative influences on interreligious harmony. Solutions to address these challenges will also be discussed in the article. The solutions include education and awareness about source verification, the active role of religious communities in providing correct understanding, the utilization of technology for verifying the authenticity of hadiths, collaboration with social media platforms, and legal enforcement against perpetrators of spreading fake hadiths.
Strategi Keamanan Maritim Singapura Dan Dampaknya Bagi Indonesia Pradito Komojoyo
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.854 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.84

Abstract

National security is still a major part of every country in the world, including Singapore, in realizing its country's goals. Singapore, as an archipelagic country in Southeast Asia, views the level of maritime security as key to maintaining the stability of its national security. However, the efforts made by Singapore to maintain its maritime security position rub against other countries around it, including Indonesia. This position can further harm Indonesia. This research uses the descriptive qualitative analysis method. This paper looks at how Singapore's efforts to strengthen its maritime capabilities as an extension of its national security can affect Indonesia's sovereign territory. Keamanan Nasional masih menjadi bagian utama bagi setiap negara di dunia, tidak terkecuali Singapura dalam mewujudkan tujuan negaranya. Singapura sebagai salah satu negara kepulauan di Asia Tenggara memandang bahwa tingkat keamanan maritim menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keamanan nasionalnya. Namun, upaya-upaya yang dilakukan oleh Singapura dalam mempertahankan posisi keamanan maritimnya bergesekan dengan negara-negara disekitarnya, termasuk Indonesia. Posisi ini selanjutnya dapat merugikan Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Pada tulisan ini melihat bagaimana upaya Singapura yang memperkuat kemampuan maritimnya sebagai penjabaran keamanan nasionalnya dapat mempengaruhi wilayah kedaulatan Indonesia.
Implementation Gap Dalam Kebijakan Pemberian Beasiswa Siswa Unggul Papua di Luar Negeri Muhammad Rizal Otto
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1677.768 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.85

Abstract

The Government of Papua Province through the Special Autonomy funding mechanism provides affirmation programs for indigenous Papuan children, it is called Siswa Unggul Papua (SUP) scholarships at at tertiary level. In its implementation, SUP scholarship has problems that hinder the learning process of scholarship awardee, especially those who studying abroad. This study used descriptive qualitative method with implementation gap theory approach (Andrew Dunsire, 1978) to analyze SUP scholarship policy. The results showed that the Papua Provincial Government does not have the capacity to manage SUP scholarships, especially in supporting the success of students' studies abroad. Through implementation gap theory, it is concluded that the problem in the SUP scholarship granting policy lies in poor governance, especially in aspects of budget, database and recruitment patterns of scholarship awardee, so that the policy is categorized as unsuccessful implementation because it is caused by bad policy, bad execution and bad luck. Therefore, there is a need for a comprehensive evaluation of the governance of this scholarship from upstream to downstream to optimize services, especially supporting the success of the scholarship recipients' studies and removing various obstacles so that the management of special autonomy scholarships can run well, transparently, accountably and can produce superior and quality Papuan human resources. Dalam rangka mengejar ketertinggalan Provinsi Papua dengan provinsi lainnya di Indonesia pada aspek pengembangan kualitas SDM, Pemerintah Provinsi Papua melalui mekanisme pendanaan Otonomi khusus (Otsus) menyediakan program afirmasi bagi putra-putri asli Papua salah satunya dalam bentuk beasiswa Siswa Unggul Papua (SUP) khususnya pada level pendidikan tinggi. Dalam implementasinya, kebijakan pemberian beasiswa SUP memiliki masalah yang menghambat keberlanjutan proses belajar para penerima beasiswa khususnya yang menempuh studi di luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teori implementation gap (Andrew Dunsire, 1978) untuk menganalisis kebijakan pemberian beasiswa SUP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua tidak memiliki kapasitas yang mumpuni dalam mengelola beasiswa SUP khususnya dalam mendukung keberhasilan studi para mahasiswa di luar negeri. Melalui teori implementation gap disimpulkan bahwa permasalahan dalam kebijakan pemberian beasiswa SUP ini terletak pada tata kelola yang buruk khususnya pada aspek anggaran, database dan pola rekrutmen penerima beasiswa, sehingga kebijakannya dikategorikan sebagai unsuccessful implementation karena dipengaruhi oleh bad policy, bad execution dan bad luck. Oleh karena itu perlu adanya evaluasi secara menyeluruh mengenai tata kelola beasiswa ini dari hulu hingga ke hilir untuk mengoptimalkan pelayanan khususnya mendukung keberhasilan studi para penerima beasiswa dan menghilangkan berbagai hambatan agar pengelolaan beasiswa Otsus dapat berjalan dengan baik, transparan, akuntabel serta dapat melahirkan SDM Papua yang unggul dan berkualitas.
Efektivitas Strategi Deradikalisasi Pada Narapidana Terorisme Di Rutan Cikeas Dini Probowati
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1777.964 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.86

Abstract

The issue of radicalism and terrorism continues to get the attention of many parties around the world, including Indonesia causes damage to human life. For this reason, deradicalization efforts are urgent. However, the role of terrorism prisoners (Napiter) and former Napiter behind terrorism events that occurred in Indonesia raises questions about the effectiveness of deradicalization programs. This study aims to analyze the effectiveness of the deradicalization strategy in Napiter at Cikeas Detention Center implemented by Idensos Densus 88 AT and DeBintal Foundation, who are currently carrying out deradicalization program development activities at Super Maximum Security Detention Center specifically intended for terrorism suspects and become the initial place for the implementation of deradicalization programs against perpetrators of terrorism acts. This research was conducted using descriptive qualitative methods which are based on deradicalization and disengagement theories as well as the concept of deradicalization effectiveness indicators from Rabasa et al (2010). From this research, it is known that the deradicalization strategy carried out by Idensos Densus 88 AT and the DeBintal Foundation has a relatively acceptable level of acceptance by prisoners perpetrating terrorism acts in Cikeas Detention Center. This is because every prisoner in Cikeas detention center is "obligated" to follow a deradicalization program with a humanistic approach. However, the problem of synergy of coordination with other stakeholders, inhumane treatments, the lack of quantity and quality of human resources of officers, and limited infrastructure (detention centers) still provide obstacles in implementing the deradicalization strategy in Cikeas Detention Center to run effectively. Persoalan radikalisme dan terorisme terus mendapatkan perhatian banyak pihak di dunia, termasuk Indonesia karena menimbulkan kerusakan yang tidak sedikit bagi kehidupan manusia. Untuk itu, upaya deradikalisasi guna menanggulangi persoalan terorisme menjadi mendesak. Akan tetapi, adanya peran Napiter dan mantan Napiter dibalik peristiwa terorisme yang terjadi di Indonesia menimbulkan pertanyaan keefektivan program deradikalisasi yang dijalankan BNPT dan stakeholder lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisa efektivitas strategi deradikalisasi pada Napiter di Rutan Cikeas yang dilaksanakan oleh Idensos Densus 88 AT dan Yayasan DeBintal, dua pihak yang saat ini menjalankan kegiatan pembinaan program deradikalisasi di Rutan Super Maximum Security khusus diperuntukan bagi para tersangka tindak pidana terorisme dan menjadi tempat awal pelaksanaan pembinaan (program deradikalisasi) terhadap pelaku tindak terorisme. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara terstruktur, observasi, dan studi literatur, yang didasarkan pada teori deradikalisasi dan disengagement serta konsep indikator efektivitas deradikalisasi dari Rabasa dkk (2010). Dari penelitian ini diketahui bahwa strategi deradikalisasi yang dilakukan oleh Idensos Densus 88 AT dan Yayasan DeBintal memiliki tingkat penerimaan yang relatif dapat diterima oleh tahanan pelaku tindak terorisme di Rutan Cikeas. Hal ini karena setiap tahanan di Rutan Cikeas “wajib” mengikuti program deradikalisasi dengan dilakukan pendekatan humanistik. Namun demikian, masalah sinergitas koordinasi dengan stakeholder lainnya, perlakuan tidak manusiawi, minimnya kuantitas dan kualitas SDM petugas, dan keterbatasan prasarana (tempat tahanan) masih memberikan hambatan dalam pelaksanaan strategi deradikalisasi di Rutan Cikeas agar berjalan efektif.
Contribution of the Nahdlatul Ulama (NU) social movement to gender Issue and empowerment of women in Indonesia (1938-2022) Irhamsyah, Fahmi; Anshor, Maria Ulfah
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v11i03.91

Abstract

The study of gender and the social movements that are currently taking place has made the investigation of social movements into one of its most important areas of focus. Since its inception in 1938, the Nahdlatul Ulama social movement has been an essential component in the institutionalisation of gender equality and the advancement of women's rights. The findings of the study demonstrated that over the period between 1938 and 2022, the Nahdlatul Ulama social movement made a significant contribution to the evolution of Indonesian society, particularly as it pertained to concerns of gender equality. The social movement's contribution can be observed in the formation of public opinion as well as in the organisations or foundations that have a role to the creation of narratives and social institutions. Penelitian tentang gerakan sosial menjadi salah satu topik penting dalam mengkaji gender dan perubahan sosial yang terjadi. Gerakan sosial Nahdlatul Ulama sejak tahun 1938 telah menjadi bagian penting dalam upaya sosialisasi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Hasil penelitian membuktikan bahwa sejak tahun 1938 hingga tahun 2022 kontribusi gerakan sosial Nahdlatul Ulama sangat besar dalam perubahan sosial khususnya terkait isu gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia. Bentuk kontribusi gerakan sosial Nahdlatul Ulama terlihat dari pembentukan opini publik hingga organisasi maupun Yayasan yang memiliki kontribusi dalam pembentukan narasi serta lembaga sosial.

Page 7 of 11 | Total Record : 110