cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : 10.51925
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 110 Documents
Jejak Tafsir Ulama Arab Asal Nusantara Ni'matul Maula; Norma Azmi Farida
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4127.472 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.66

Abstract

This paper identifies the study of the book of Tafsir al-Khatib al-Makki, a book written by Arab scholars of Minangkabau descent, namely Sheikh Abdul Hamid bin Ahmad Khatib al-Minangkabawi. In its history, mufassir lived, settled, became a cleric to a diplomat and died outside Indonesia, precisely in Arabia. The profile of Sang Mufassir as the son of a famous Indonesian cleric became an attraction in itself. Moreover, the name of the interpretation that attaches to the father's name, namely 'Al-Khatib' is often misunderstood as the work of Sheikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, even though it is the work of his son. Its unrevealed traces are an attempt to compile a mosaic of interpretations from the archipelago. This article includes qualitative research that captures systematics, writing methods, and writing patterns. The identification carried out is the first step in reviewing a work of interpretation with the following analysis results, this book consists of 4 volumes covering 13 juz in Arabic and is compiled in the Ottoman mushaf format. Judging from the source, the book is categorized as an interpretation of bi al-ra'yi. Meanwhile, based on the method, Sheikh Abdul Hamid al-Khatib used the tahlili method. Meanwhile, the pattern used in this interpretation is adabi ijtima'i. Karya tulis ini mengidentifikasi kajian kitab Tafsir al-Khatib al-Makki, kitab yang ditulis oleh ulama Arab yang berasal dari keturunan Minangkabau yaitu Syekh Abdul Hamid bin Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dalam sejarahnya, mufassir tinggal, menetap, menjadi ulama hingga diplomat dan wafat di luar Indonesia, tepatnya di Arab. Profil Sang Mufassir sebagai putra ulama kesohor Nusantara menjadi daya tarik sendiri. Terlebih, nama tafsir yang menisbatkan kepada nama sang ayah yakni ‘Al-Khatib’ acap kali disalahpahami sebagai karya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, padahal karya putranya. Jejaknya yang belum banyak diungkap merupakan upaya untuk menyusun mozaik khazanah tafsir asal Nusantara. Artikel ini termasuk penelitian kualitatif yang memotret sistematika, metode penulisan, hingga corak penulisannya. Identifikasi yang dilakukan merupakan langkah awal dalam mengkaji suatu karya tafsir dengan hasil analisa sebagai berikut, kitab ini terdiri dari 4 jilid yang mencakup 13 juz berbahasa Arab dan disusun dengan format mushaf Utsmani. Ditinjau dari sumbernya, kitab tersebut dikategorikan sebagai tafsir bi al-ra’yi. Sedangkan berdasarkan metode, Syekh Abdul Hamid al-Khatib menggunakan metode tahlili. Sementara corak yang digunakan dalam tafsir ini yaitu adabi ijtima’i.
Studi Kritis Hadis-Hadis Larangan Merokok Dalam Manuskrip Kerinci Oga Satria
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3927.007 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.67

Abstract

The smoking law has always been something debatable because of the absence of a proposition that explicitly prohibits it. Some views remain on the view that smoking is makruh, although some others forbid it. One of the fatwas that prohibits smoking is found in the Kerinci manuscript accompanied by quranic and hadith postulates. Therefore, this study will further analyze the postulates used to prohibit smoking in the manuscript. This research is a qualitative research with a philological and historical approach. It aims to obtain a comprehensive account of the state of the manuscript and the postulates used to support the fatwa. This research shows that the postulates used in the smoking problem in the manuscript are indicated by hadith maudhu' (false) although the author lists the names of famous companions in narrating hadith, such as Abu Hurairah, and so on, because tobacco as the main commudity of cigarette making has not been found in the time of the prophet. The use of these hadiths aims to support the author's argument about the monasticism of smoking or smoking tobacco Hukum merokok selalu menjadi sesuatu yang debatabel karena tidak adanya dalil yang secara eksplisit mengharamkannya. Beberapa pandangan tetap pada pandangan bahwa merokok adalah makruh, meskipun beberapa kalangan lainnya mengharamkan. Salah satu fatwa yang mengharamkan merokok dijumpai di dalam manuskrip Kerinci disertai dengan dalil Alquran dan Hadis. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis lebih jauh dalil-dalil yang digunakan untuk mengharamkan merokok di dalam manuskrip tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan filologi dan sejarah. Hal ini bertujuan untuk memperoleh keterangan secara komprehensif tentang keadaan manuskrip dan dalil-dalil yang digunakan untuk mendukung fatwa tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalil-dalil yang digunakan dalam permasalah merokok di dalam manuskrip tersebut terindikasi hadis maudhu’ (palsu) meskipun penulis mencantumkan nama para sahabat yang masyhur dalam meriwayatkan hadis, seperti Abu Hurairah, dan lain sebagainya, karena tembakau sebagai komuditas utama pembuatan rokok belum ditemukan pada masa nabi. Penggunaan hadis-hadis tersebut bertujuan untuk mendukung argumen penulis tentang keharaman merokok atau menghisap tembakau Key Word: Rokok, Tembakau, Manuskrip, Kerinci, Hadis
Pesantren and the Appreciation of Religious Moderation Sufyan Syafi'i
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3884.156 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.68

Abstract

The Pesantren continues to be highlighted as an Indonesian Islamic religious institution. It is highlighted as both an example for education and the harmful issues that are frequently directed towards it. Pesantren Islamic boarding schools are challenged to continue operating in the rapidly changing times. Not only the change in flexibility of teaching methods, but existing values also need to have their meaning enhanced. Religious moderation that offers the concept of value at various points can help to strengthen the pesantren's sense of identity. Through implementation theory-based evaluation, this study tries to measure how well this form of implementation can address and resolve current issues. This paper also aims to offer some reflections on which points can be used as references in formulating policies to promote the value of religious moderation, particularly in the administrative area and impulsivity. In term of quantitative, there have been many forms of study that have discussed the implementation of religious moderation, however, it is rare to find a form of reflection writing that can serve as a space for respite to map the growing problems in the field. This dialogical paper makes use of a qualitative descriptive-analytic database. Abstrak Pesantren terus dinilai sebagai lembaga keagamaan Islam Indonesia. Hal ini sebagai contoh untuk pendidikan dan isu-isu miring sering diarahkan padanya. Pesantren ditantang untuk tetap berjalan di zaman yang berubah dengan cepat. Tidak hanya perubahan metode pengajaran yang fleksibel, tetapi nilai-nilai yang ada juga perlu ditingkatkan maknanya. Moderasi beragama yang menawarkan konsep nilai di berbagai titik dapat membantu memperkuat rasa identitas pesantren. Melalui evaluasi berbasis teori implementasi, penelitian ini mencoba mengukur seberapa baik bentuk implementasi ini dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah saat ini. Tulisan ini juga bertujuan untuk menawarkan beberapa refleksi yang poin-poinnya dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan untuk mengedepankan nilai moderasi beragama, khususnya di wilayah administrasi dan impulsif. Dari segi kuantitatif, sudah banyak bentuk kajian yang membahas pelaksanaan moderasi beragama, namun jarang ditemukan bentuk penulisan refleksi yang dapat menjadi ruang jeda untuk memetakan permasalahan yang berkembang di lapangan. Makalah dialogis ini menggunakan basis data deskriptif-analitik kualitatif.
Penerapan Tafsir Ekologis Dalam Usaha Merawat Lingkungan Pesantren Alwi Jamalulel Ubab
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3876.704 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.69

Abstract

Pondok Pesantren is the oldest educational institution in Indonesia. With various kinds of dynamics and problems in it, pesantren can still survive today. Pesantren in the modern era as it is today cannot only be an educational institution that is normative, equitable or even jumud to the conditions of the surrounding environment, especially the pesantren environment itself. In this article, the author is specifically interested in discussing the problem of environmental care of pesantren which has been the author's second home for the past 10 years or so. The author sees environmental problems in pesantren that are not taken care of with research in writing this article based on the author's concern about the environmental sustainability of pesantren. The author sees the behavior of students who do not pay attention to cleanliness so as to produce a negative stigma of dirty islamic boarding schools, the amount of waste that overflows and the lack of responsiveness of most islamic boarding schools in the use and management of waste waste in them. In addition, the vulnerability of pesantren to become a place for disease outbreaks, and of course how to instill love and care for the pesantren environment towards students so that they can then be used as sustainable habbits and practiced in the community in the future. Therefore, this article will specifically discuss how sharia perceives the surrounding environment by examining verses from the Qur'an that contain mutual relationships between living beings and the surrounding (ecological) nature. This is expected to produce recommendations for environmental jurisprudence (fiqh bi'ah) which will then be linked and implemented specifically in an effort to maintain the pesantren environment so that it becomes a comfortable and safe place for students in it. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Dengan berbagai macam dinamika dan problematika di dalamnya, pesantren masih bisa bertahan hingga sekarang. Pesantren di era modern seperti sekarang ini tidak bisa hanya menjadi lembaga pendidikan yang normatif, ekual atau bahkan jumud terhadap kondisi lingkugan sekitar, terlebih lingkungan pesantrennya sendiri. Dalam artikel ini, penulis secara khusus tertarik membahas permasalahan perawatan lingkungan pesantren yang menjadi rumah kedua penulis selama kurang-lebih 10 tahun terakhir. Penulis melihat problematika lingkungan di dalam pesantren yang kurang terurus dengan penelitian dalam penulisan artikel ini berpatokan pada keresahan penulis terhadap kelestarian lingkungan pesantren yang memprihatinkan. Penulis melihat perilaku santri yang kurang memperhatikan kebersihan sehingga menghasilkan stigma negatif pesantren jorok, jumlah limbah sampah yang membludak dan kurang tanggapnya kebanyakan pesantren dalam pemanfaatan dan pengelolaan limbah sampah di dalamnya. Selain juga rentannya pesantren menjadi tempat merebaknya penyakit, serta tentunya bagaimana menanamkan cinta dan peduli lingkungan pesantren terhadap santri agar kemudian dapat dijadikan habbits yang berkelanjutan dan diamalkan di masyarakat kelak. Oleh karenanya, artikel ini secara khusus akan membahas bagaimana syariat memandang lingkungan di sekitarnya dengan meneliti ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kandungan hubungan timbal balik (mutual) antara makhluk hidup dan alam sekitar (ekologis). Hal tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi fikih lingkungan (fiqh bi’ah) yang kemudian akan dikaitkan dan diimplementasikan secara khusus dalam usaha merawat lingkungan pesantren sehingga menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi santri di dalamnya.
Hadis-Hadis Lemah dan Palsu Mohammad Zainul Wafa
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4020.566 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.70

Abstract

This study aims to reveal the quality of the hadith sanad contained in the book al-Bayān al-Muṣaffa by Asrori Ahmad, because all the hadiths in the book do not contain sanad, mukharrij, or hadith quality. Kiai Asrori Ahmad is a well-known Javanese researcher, especially in Magelang, Central Java. There is no doubt about his knowledge, many of his writings have been widely studied in society, one of which is this book. Therefore, the hadith listed is often used as a reference. In this study, researchers used data collection methods (library search). Data is collected usingTakhrij Hadith, then the results of takhrij are analyzed using Sanad criticism. The source of this study is the book al-Bayān al-Muṣaffa, which contains 49 hadiths, six of which have no sanad. So the writer makes six hadiths as examples of research. The result is that there are 3 weak hadiths and 3 fake hadiths. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kualitas sanad hadits yang terdapat dalam kitab al-Bayān al-Muṣaffa karya kiai Asrori Ahmad, karena semua hadis dalam kitab tersebut tidak memuat sanad, mukharrij, maupun kualitas hadits. Kiai Asrori Ahmad adalah seorang peneliti Jawa terkenal, khususnya di Magelang, Jawa Tengah. Ilmunya tidak diragukan lagi, banyak tulisannya yang banyak dipelajari di masyarakat, salah satunya buku ini. Oleh karena itu, hadis yang tercantum sering dijadikan rujukan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data (library search). Data dikumpulkan dengan menggunakan Takhrij Hadits, kemudian hasil takhrij dianalisis dengan menggunakan kritik Sanad. Sumber kajian ini adalah kitab al-Bayān al-Muṣaffa, yang memuat 49 hadits, enam di antaranya tidak memiliki sanad. Maka penulis menjadikan enam hadis sebagai contoh penelitian. Hasilnya adalah terdapat 3 hadis lemah dan 3 hadis palsu.
Takhrīj al-Ḥadīs Dalam Kitab Waja Sampai Kaputing Karya K.H. Mahmud Hasil Luqman Nul Hakim
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4157.805 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.71

Abstract

This study looks at the quality of hadith mentioned in kitab Waja Sampai Kaputing by K.H. Mahmud Hasil, one of the topics covered in this book is about taṣawwuf. This book has become a reference for many muslim in Central and South Kalimantan. The majority of hadith in this book has’nt mentioned the original source and without quality explanation of hadith. So in this case, research is needed to know how authentic the hadith is. This study is both qualitative and descriptive. Study in this research use library research which is using library resources to analyze the hadith with takhrīj al-ḥadīṡ method. The results is there are various type qualities of hadith in kitab Waja Sampai Kaputing. From eight hadiths researched, there is three ṣaḥīḥ hadith, two ḥasan li żātihi, and three ḍaʿīf hadith. Penelitian ini membahas tentang kualitas hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Waja Sampai Kaputing karangan K.H. Mahmud Hasil, yang mana salah satu tema besar dalam kitab ini adalah taṣawwuf. Kitab ini banyak menjadi rujukan bagi masyarakat Kalimantan Tengah-Selatan dalam berbagai majelis ilmu. Mayoritas hadis dalam kitab Waja Sampai Kaputing tidak disebutkan sumber asal hadis serta tidak dijelaskan kualitas. Maka dalam hal ini diperlukan penelitian terhadap sumber asal dari hadis-hadis tersebut agar dapat diketahui autentisitasnya. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif, dan bersifat deskriptif. Kajian ini termasuk dalam kajian kepustakaan (library research) yang menggunakan sumber-sumber kepustakaan untuk meneliti kualitas hadis disertai dengan penggunaan ilmu takhrīj al-ḥadīṡ. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat beragam kualitas hadis di dalam kitab Waja Sampai Kaputing. Dari delapan hadis yang diteliti terdapat tiga hadis ṣaḥīḥ, dua hadis ḥasan li żātihi, dan tiga hadis ḍaʿīf.
Duri dalam Sekam Johan Wahyudi; Lesi Maryani; M Dien Madjid
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 8 No 02 (2022): Pesantren, Manuskrip dan Jejak Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3841.173 KB) | DOI: 10.51925/inc.v8i02.72

Abstract

This article explores the resistance of the Bengkulu people to the Dutch East Indies government in the last XIX century to the beginning of the XX century. It is suspected that the colonial government's interest in building colonies in this country is to control and monopolize the trade of various spices such as pepper, cloves, nutmeg and so on. In addition, they are also interested in mastering the gold mine in Rejang Lebong. Searches of various Dutch archives such as the Koloniaal Verslag were carried out in order to obtain primary sources on this topic. The research method used is to raise the social history of the Bengkulu community, especially regarding the role of community elites such as regional heads, clerics, hajj who have an important contribution in moving the people. The novelty obtained is that information about the war in Bengkulu occurred communally and partially but was quite troublesome for the colonial position there. Artikel ini mengupas seputar perlawanan masyarakat Bengkulu terhadap pemerintah Hindia Belanda pada kahir abad XIX hingga awal abad XX. Ditengarai, ketertarikan pemerintah kolonial membangun koloni di negeri ini adalah guna menguasai dan memonopoli perdagangan aneka rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Di samping itu, mereka juga tertarik meguasai tambang emas yang ada di Rejang Lebong. Penelusuran aneka arsip Belanda seperti Koloniaal Verslag dilakukan guna mendapat sumber primer mengenai topik ini. Metode penelitian yang digunakan adalah mengangkat sejarah sosial masyarakat Bengkulu, khususnya mengenai peran para elit masyarakat seperti kepala daerah, ulama, haji yang memiliki kontribusi penting dalam menggerakkan rakyat. Kebaruan yang diperoleh adalah informasi mengenai perang di Bengkulu terjadi secara komunal dan parsial namun cukup merepotkan kedudukan kolonial di sana.
Islam Nusantara Arif Budiman
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 10 No 02 (2023): Islam di Indonesia, Berkebudayaan dan Kedaulatan Negara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1658.377 KB) | DOI: 10.51925/inc.v10i02.73

Abstract

Kehidupan Islam bangsa Indonesia, beberapa kali terkoyak oleh aksi radikalisme yang tak bertanggung jawab. Aksi ini ternyata masih terus terjadi, bahkan hingga saat ini. Rasa kebangsaan dan rasa ke-Islaman telah terluka, termasuk NU sebagai ormas yang menganut Islam Rahmatan Lil Aalamiin kembali diuji eksistensinya. Melihat dampak gerakan radikal sangat memprihatinkan ini, Nahdlatul Ulama lahirkan Islam Nusantara. Dalam kenyataannya, Islam Nusantara ini mampu berkontribusi bagi Indonesia. Ada 3 argumen yang akan diajukan dalam tulisan ini. Pertama, alasan politik (political reason). kedua alasan ilmu pengetahuan (scientific reason) dan ketiga tariqat atau spirituality reason). Bagaimana penjelasan 3 argumen penting untuk memahami Islam Nusantara ini? Menurut Ulil Abshar Abdalla, Islam Nusantara awalnya merupakan gerakan politik. Namun Islam Nusantara ini bisa menjadi kajian ilmiah yang artinya masih bisa dibedah atau didiskusikan. Selanjutnya alasan spiritual akan dihadirkan untuk menunjukkan bawah NU dan gerakan tariqat, telah membuka kesadaran relijus bahwa agama bukan sekedar doktrin, tapi juga penghayatan spiritual. Penelusuran Pustaka, sangat mencukupi untuk menjawab atau mengurai argument-argumen. The Islamic life of the Indonesian nation has been torn apart several times by irresponsible radicalism. This action is still happening, even today. The sense of nationality and sense of Islam have been hurt, including NU as a mass organization that adheres to Islam Rahmatan Lil Aalamiin is again being tested for its existence. Seeing the impact of this very worrying radical movement, Nahdlatul Ulama gave birth to Islam Nusantara. In reality, Islam Nusantara is able to contribute to Indonesia. There are 3 arguments that will be put forward in this paper. First, political reasons (political reason). the second for scientific reasons and the third for tariqat or spiritual reasons). How do you explain these 3 important arguments for understanding Islam Nusantara? According to Ulil Abshar Abdalla, Islam Nusantara was originally a political movement. However, Islam Nusantara can become a scientific study, which means it can still be dissected or discussed. Furthermore, spiritual reasons will be presented to show that NU and the Tariqat movement have opened religious awareness that religion is not just a doctrine, but also a spiritual appreciation. Literature Search, very sufficient to answer or parse arguments.
Penanaman Nilai-Nilai Moderasi Islam Melalui Kegiatan “Kajian Kitab” Muhammad Subhi Mahmasoni
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2268.18 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.74

Abstract

Agama Islam adalah agama yang moderat (washatan). Ajarannya yang rahmatan lil alamin menjadi penting untuk dipahami dan diresapi terlebih seiring terstruktur dan massivenya penyebaran paham islam radikal (radikalisme). Kegitan pembelajaran seperti Kajian Kitab, yang diadopsi dari sistem pembelajaran Pesantren, bisa menjadi sarana penanaman nilai-nilai moderasi islam. Pemilihan kitab yang dikaji pun tentu saja akan memberikan efek kepada signifikannya pemahaman akan nilai-nilai islam moderat kepada peserta didik. Materi-materi yang ada dalam kitab al-Hujjah al-Qothi’yyah fi Sihhaat al-Mu’taqidaat wa al-Amaliyyaat al-Nahdhiyyah sarat akan nilai-nilai islam moderat. Oleh karena itu, maka menjadi efektif kegiatan “Kajian Kitab” al-Hujjah al-Qothi’yyah diterapkan di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Pekalongan untuk memberikan pemahaman islam moderat yang siswa-siswinya sarat akan keberagaman karena memang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Islam is moderate religion (washatan). The “rahmatan lil a’lamin” teaching important to understood by the moslems as radicalism teaching spreads massively. Learning activities like Studiying Kitab (Kajian Kitab), which is adopted by Pesantren learning system, can be a medium to instill the value of moderate islam. The selection of Kitab that will be the teaching material will give the effect to the significant of the understanding in the value of moderate islam students. The material in al-Hujjah al-Qothi’yyah fi Sihhaat al-Mu’taqidaat wa al-Amaliyyaat al-Nahdhiyyah kitab is full of the value of moderate islam. Because of that, the Study of (Kajian Kitab) al-Hujjah al-Qothi’yyah will be effective to be applied in MAN Insan Cendekia Pekalongan, which is the students are diverse from all over Indonesia, to give the understanding of the value of moderate Islam.
Tinjauan Hadits, Maqashid al-Syariah Dan Hukum Positif Indonesia Terhadap Talak di Luar Pengadilan Nur Rofiq; Hamim ILyas; Rahmawati r; Orien Effendi; M. Zidny Nafi' Hasbi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 9 No 01 (2023): Menyusuri Turats Ulama Nusantara, Memperkokoh Moderasi Islam
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2360.918 KB) | DOI: 10.51925/inc.v9i01.76

Abstract

The formulation of the research problem is how to review hadith, maqashid al-shariah and positive law in Indonesia regarding divorce outside the court? The research method is normative legal research (library research). The results of the study, that based on the hadith in al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab by Imam Nawawi stated that divorce falls both in voluntary (calm), emotional, serious and joking conditions based on the hadith ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جد. This hadith is often used as the basis that divorce is legal without having to go before a court. But the law in force in Indonesia, divorce must be carried out in the Religious Courts in accordance with Article 115 of the Compilation of Islamic Law (KHI), Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and the fiqh principles الضرر يزل danحكم الحاكم إلزام. Meanwhile, according to maqasid al-shari'ah, whose core objective is to bring about benefit for humans and eliminate harm, then a divorce that is not pronounced in front of a court of law is very harmful, for example, for a wife and husband, they do not have a divorce certificate that has legal force, then if those who want to remarry will encounter obstacles at the Office of Religious Affairs (KUA). So if they want to get married a second time, they end up taking the marriage route under the hand. And if there is another divorce, the wife does not get maintenance rights during the 'iddah period, such as clothing, food and shelter. The impact on children is that they will affect their psychology, because children who initially live with a harmonious family then live with a family full of problems. In addition, the father and mother often do not provide a regular and fixed amount of income because the divorce of their parents has no legal force, so the court cannot compel the father or mother. خلاصة صياغة مشكلة البحث هي كيفية مراجعة الحديث ومقشد الشريعة والقانون الوضعي في إندونيسيا فيما يتعلق بالطلاق خارج المحكمة؟ منهج البحث هو البحث القانوني المعياري (بحث المكتبة). وأوضحت نتائج الدراسة التي تستند إلى حديث الإمام النووي في `` المجموع '' أن الطلاق يقع في ظروف طوعية وعاطفية وخطيرة ومزحة بناء على حديث ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جد. غالبًا ما يستخدم هذا الحديث كأساس أن الطلاق قانوني دون الحاجة إلى المثول أمام محكمة. لكن القانون المعمول به في إندونيسيا ، يجب أن يتم الطلاق في المحاكم الدينية وفقًا للمادة 115 من مجموعة الشريعة الإسلامية (KHI) ، القانون رقم 1 لسنة 1974 بشأن الزواج ومبادئ الفقه db يزل dan حكم الحاكم إلزام. وفي الوقت نفسه ، وفقًا لمقاصد الشريعة ، التي يتمثل هدفها الأساسي في تحقيق المنفعة للإنسان والقضاء على الأذى ، فإن الطلاق الذي لا يتم النطق به أمام القضاء ضار جدًا ، على سبيل المثال ، بالنسبة للزوجة والعائلة. الزوج ، ليس لديهم شهادة طلاق ذات قوة قانونية ، فعندئذ إذا أراد أولئك الذين يرغبون في الزواج مرة أخرى سيواجهون عقبات في مكتب الشؤون الدينية (KUA). لذلك إذا أرادوا الزواج مرة ثانية ، ينتهي بهم الأمر بسلك طريق الزواج تحت اليد. وإذا وقع طلاق آخر فلا تحصل الزوجة على حق النفقة في العدة من كسوة ومأكل ومأوى. التأثير على الأطفال هو أنهم سيؤثرون على نفسهم ، لأن الأطفال الذين يعيشون في البداية مع أسرة متناغمة يعيشون بعد ذلك مع أسرة مليئة بالمشاكل. بالإضافة إلى ذلك ، لا يوفر الأب والأم في كثير من الأحيان مبلغًا منتظمًا وثابتًا من الدخل لأن طلاق الوالدين ليس له قوة قانونية ، لذلك لا يمكن للمحكمة إجبار الأب أو الأم. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana tinjauan hadits, maqashid al-syariah dan hukum positif di Indonesia terhadap talak luar pengadilan?. Metode penelitiannya adalah penelitian hukum normatif (library research). Hasil penelitian, bahwa berdasarkan hadis dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karangan Imam Nawawi menyatakan talak itu jatuh baik dalam kondisi suka rela (tenang), emosi, serius maupun bercanda berdasarkan hadis ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جد. Hadits tersebut sering dijadikan dasar bahwa talak itu sah tanpa harus di depan pengadilan. Tetapi hukum yang berlaku di Indonesia talak harus dilaksanakan di Pengadilan Agama sesuai Pasal 115 Kompilasi Hukum Islam (KHI), Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan kaidah fikih الضرر يزل danحكم الحاكم إلزام. Sedangkan menurut maqashid al-syariah yang tujuan intinya ialah mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menghilangkan kemudharatan, maka talak yang tidak diikarkan di depan sidang pengadilan sangat membawa kemudharatan, misalnya bagi seorang istri dan suami, mereka tidak mempunyai surat cerai yang memiliki kekuatan hukum, maka jika mereka mau menikah kembali akan menemui kendala di Kantor Urusan Agama (KUA). Maka jika mereka mau menikah yang kedua kali akhirnya menempuh jalur nikah di bawah tangan. Dan jika terjadi perceraian kembali, maka istri tadi tidak mendapatkan hak nafkah selama masa ‘iddah, seperti pakaian, pangan dan tempat tinggal. Dampak terhadap anak yaitu akan mempengaruhi kejiwaannya, sebab anak yang semula tinggal bersama keluarga yang harmonis kemudian tinggal dengan keluarga yang penuh masalah. Di samping itu si ayah maupun si ibu sering tidak memberikan nafkah secara teratur dan jumlah yang tetap karena perceraian orang tuanya tidak memiliki kekuatan hukum, sehingga pengadilan tidak bisa memaksa ayah maupun ibunya.

Page 6 of 11 | Total Record : 110