cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : 10.51925
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 110 Documents
Telaah Ringkas Tafsir Abul A'la Al Mawdudi, Tafhim Al Qur'an Amir, Ahmad Nabil; Rahman, Tasnim Abdul
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.137

Abstract

The paper investigates the principle of tafsir espoused by Abul A‘la al-Mawdudi (1903-1979) in his seminal work, Tafhim al-Quran (Towards Understanding the Qur’an). The work shows a balanced approaches between tafsir bil ma’thur (narrative commentary) and tafsir bil ra’y (independent judgement) developed in his interpretation. The study is of descriptive-qualitative type in the form of literature review and content analysis. It critically examines the text of Tafhim al-Quran (Towards Understanding the Qur’an), its content, themes, relational ideas, style and doctrine. The finding shows that al-Maududi had succinctly applied concise ways in explaining the verse that largely derived from classical authoritative sources. It reflected a balance approach of traditional and modern ideal brought forth in his tafsir that illustrates its puritanical and argumentative nature underlying his interpretation that brings original and in-depth discussion of the text. Makalah ini mengkaji corak dan prinsip tafsir yang dibawa oleh Abul A‘la al-Maududi (1903-1979) dalam magnum opus-nya kitab Tafhīm al-Qur’an. Ia memperlihatkan kaedah yang seimbang antara pendekatan tafsir al-ma‘thur (berasaskan riwayat) dan al-ra’y (penalaran dan logika) yang diterapkan dalam penafsirannya. Metode kajian ini bersifat deskriptif-kualitatif (naratif) dari jenis tinjauan pustaka dan analisis isi. Ia mengkaji teks kitab Tafhim al-Qur’an dan meneliti kandungan dan tema-tema asas tentang manhaj, hubungan idea dan doktrin tafsir yang dikembangkannya. Temuan kajian mendapati al-Maududi menerapkan analisis yang ringkas dalam penjelasan ayat yang digarap dari sumber-sumber tradisional yang autoritatif. Tafsirnya mengimbangi pendapat-pendapat klasik dan moden dalam penakwilan hukum dan fiqh dan membawa idealisme tafsirnya yang puritan yang dikembangkan dalam perbincangan teksnya yang mendalam.
Negosiasi Status Sosial dan Prinsip Kesetaraan Fadlillah, Muhammad Za'im Zacky; -, Alanuari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.138

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menarasikan negosiasi antara status sosial dan prinsip-prinsip kesetaraan dalam kebudayaanan Pandalungan di Kabupaten Lumajang. Artikel ini didasarkan pada penelitian tahun 2024 melalui observasi terhadap tradisi Sandingan Malam Jumat Legi di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro Lumajang. Artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Penelitian ini menemukan bahwa kebudayaanan Pandalungan mengedepankan kesetaraan sosial, toleransi, dan persaudaraan sebagai landasan interaksi antarwarga. Hal itu tercermin dalam Tradisi sandingan malam Jumat Legi. Penguatan peran masyarakat sipil atau masyarakat umum dalam sosial-kemasyarakatan; menghapus sebuah stratifikasi sosial yang dimana masyarakat lokal Pandalungan di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro semuanya memiliki hak yang setara. Sehingga menjadi representasi konkret dari prinsip-prinsip tersebut, di mana masyarakat tanpa memandang latar belakang turut berpartisipasi dalam ritual bersama. Kondisi geografis Lumajang yang agraris membentuk karakter masyarakat yang hidup sederhana dan harmonis. Selain itu, pengaruh masuknya Islam di wilayah tersebut memperkuat nilai-nilai egaliter dan kesetaraan dalam praktik kebudayaanan Pandalungan. Temuan ini menegaskan bahwa kebudayaanan lokal dapat menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai keislaman yang ramah dan kontekstual terhadap kebudayaan setempat, serta berpotensi menjadi model peradaban Islam yang toleran di tengah-tengah keberagaman Indonesia. This article aims to narrate the negotiation between social status and the principles of equality in Pandalungan culture in Lumajang Regency. This article is based on a 2024 study through observations of the Sandingan Malam Jumat Legi tradition in Kandangtepus Village, Senduro District, Lumajang. This article uses a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of participatory observation, in-depth interviews, and document studies. This study found that Pandalungan culture prioritizes social equality, tolerance, and brotherhood as the basis for interaction between residents. This is reflected in the Sandingan Malam Jumat Legi tradition. Strengthening the role of civil society or the general public in social life; eliminating social stratification where the local Pandalungan community in Kandangtepus Village, Senduro District all have equal rights. This becomes a concrete representation of these principles, where people regardless of background participate in the ritual together. Lumajang's agrarian geographical conditions shape the character of a community that lives simply and harmoniously. In addition, the influence of the arrival of Islam in the region strengthens egalitarian values ​​and equality in Pandalungan cultural practices. These findings confirm that local culture can be a space for the actualization of Islamic values ​​that are friendly and contextual to local culture, and has the potential to become a model of tolerant Islamic civilization amidst Indonesia's diversity.
Peran Kesultanan Jambi Dalam Penyebaran Islam Dan Terbentuknya Tradisi Keagamaan Lokal Pada Abad Ke-19 -, Mardia; Muna, Asnawiyatul; Isyandairda, Caisar Fayth; Febriani, Sari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.145

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan peran strategis Kesultanan Jambi dalam penyebaran Islam dan pembentukan tradisi keagamaan lokal pada abad ke-19. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana kesultanan memanfaatkan kekuasaan politik, jaringan ulama, serta lembaga keagamaan dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, dengan analisis sumber tertulis berupa buku, jurnal, dan referensi ilmiah yang relevan. Fokus kajian diarahkan pada aktivitas dakwah dan pendidikan agama yang terpusat di Masjid Al-Ikhsaniyyah, yang didirikan pada tahun 1880 sebagai pusat keagamaan dan pengajaran Islam. Hasil penelitian menunjukkan Kesultanan Jambi menerapkan sistem keagamaan terstruktur melalui regulasi pengangkatan imam, pengawasan khutbah, serta kontrol materi ajar berbasis kitab kuning. Peran ulama lokal seperti Pangeran Wirokusumo memperkuat jaringan pendidikan agama melalui Rumah Batu Olak Kemang. Tradisi keagamaan yang terbentuk memperlihatkan proses akulturasi antara ajaran Islam dengan adat lokal, seperti ziarah kubur, pembacaan seloko, serta penguatan peran majelis taklim. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman dinamika Islamisasi lokal di Sumatra, memperlihatkan bahwa kesultanan tidak hanya berperan sebagai pusat kekuasaan politik, melainkan juga sebagai pelaku penting dalam pembentukan identitas keagamaan masyarakat Jambi secara turun-temurun hingga saat ini. This study aims to explain the strategic role of the Jambi Sultanate in the spread of Islam and the formation of local religious traditions in the 19th century. The main issue raised is how the sultanate utilized political power, networks of ulama, and religious institutions in shaping the pattern of religious community. The research method used is the historical method, with analysis of written sources in the form of books, journals, and relevant scientific references. The focus of the study is directed at the activities of da'wah and religious education centered at the Al-Ikhsaniyyah Mosque, which was founded in 1880 as a center for Islamic religion and teaching. The results show that the Jambi Sultanate implemented a structured religious system through regulations on the appointment of imams, supervision of sermons, and control of teaching materials based on yellow books. The role of local ulama such as Pangeran Wirokusumo strengthened the religious education network through the Rumah Batu Olak Kemang. The formed religious traditions demonstrate the process of acculturation between Islamic teachings and local customs, such as grave pilgrimages, recitation of seloko, and strengthening the role of the majelis taklim (Islamic study group). This research contributes to the understanding of the dynamics of local Islamization in Sumatra, demonstrating that the sultanate served not only as a center of political power but also as a crucial actor in shaping the religious identity of the Jambi people, passed down through generations to the present day.
Konsep Jiwa dan Etika Islam Amanda, Siti Nur; Febriani, Sari; Anwar, Khairun; Ulzannah, Lu'lu
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.147

Abstract

Etika Islam memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian Muslim yang utuh, tidak hanya sebagai pedoman perilaku sosial, tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai spiritual yang bersumber dari wahyu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara etika Islam dan konsep jiwa dalam membentuk kepribadian, serta menganalisis pemikiran filsafat Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd mengenai keduanya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi pustaka, mengkaji literatur primer dan sekunder dari para tokoh filsafat Islam klasik. Hasil kajian menunjukkan bahwa etika Islam tidak hanya menekankan aturan moral lahiriah, tetapi juga menuntut kesadaran batiniah yang bersih dan tulus. Konsep jiwa dalam Islam, seperti nafs dan rūḥ, menjadi dasar pemahaman atas perilaku dan spiritualitas manusia. Para filosof Muslim seperti Al-Ghazali menekankan penyucian jiwa melalui kedekatan dengan Tuhan, sedangkan Ibnu Rusyd menekankan integrasi akal dan wahyu sebagai dasar kepribadian rasional dan religius. Kajian ini menyimpulkan bahwa integrasi antara etika, konsep jiwa, dan filsafat pemikiran keduanya dapat memberikan landasan kuat dalam membentuk kepribadian Muslim yang utuh dan kontekstual di era modern. Islamic ethics plays a crucial role in shaping a holistic Muslim personality, serving not only as a guideline for social behavior but also as a reflection of spiritual values ​​derived from revelation. This study aims to examine the relationship between Islamic ethics and the concept of the soul in shaping personality, and to analyze the philosophical thoughts of Al-Ghazali and Ibn Rushd regarding both. A qualitative approach was employed, employing a literature review method, examining primary and secondary literature from classical Islamic philosophers. The study's findings demonstrate that Islamic ethics emphasizes not only external moral rules but also demands a pure and sincere inner consciousness. Concepts of the soul in Islam, such as the nafs (self) and the rūḥ (spirit), serve as the foundation for understanding human behavior and spirituality. Muslim philosophers such as Al-Ghazali emphasized the purification of the soul through closeness to God, while Ibn Rushd emphasized the integration of reason and revelation as the basis for a rational and religious personality. This study concludes that the integration of ethics, the concept of the soul, and the philosophy of thought of both can provide a strong foundation for shaping a holistic and contextual Muslim personality in the modern era.
Perkembangan Pemikiran Politik Islam Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer -, Hafsa; Najibuddin, Muhammad; Hamidah, Zulfa; Febriani, Sari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.149

Abstract

Perkembangan Pemikiran Politik Islam dari Zaman Klasik hingga Zaman Kontemporer: Pemikiran politik dalam Islam merupakan elemen penting dalam tradisi intelektual Islam yang membahas gagasan-gagasan fundamental tentang pemerintahan, seperti keadilan, kepemimpinan, syura (musyawarah), dan penerapan hukum Islam dalam konteks kenegaraan. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga kini, pemikiran ini terus berkembang seiring dengan perubahan sosial dan politik di kalangan umat Islam. Tokoh-tokoh seperti Al-Mawardi, Al-Farabi, Ibnu Khaldun, Hasan Al-Banna, dan Abul A'la Al-Maududi telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam merumuskan sistem politik ideal dari perspektif Islam. Di era modern, pemikiran politik Islam berupaya menjawab tantangan global seperti demokrasi, sekularisme, dan isu-isu kepemimpinan, serta menawarkan sistem alternatif yang berbasis pada nilai-nilai moral dan keadilan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami evolusi, prinsip-prinsip dasar, dan relevansi pemikiran politik Islam dalam menghadapi isu-isu politik terkini. The development of Islamic political thought from classical to contemporary times: Political thought in Islam is an important element in the Islamic intellectual tradition that discusses fundamental ideas about governance, such as justice, leadership, shura (deliberation), and the application of Islamic law in the context of the state. Since the time of the Prophet Muhammad SAW until now, this thought has continued to develop along with social and political changes among Muslims. Figures such as Al-Mawardi, Al-Farabi, Ibn Khaldun, Hasan Al-Banna, and Abul A'la Al-Maududi have made significant contributions in formulating an ideal political system from an Islamic perspective. In the modern era, Islamic political thought seeks to answer global challenges such as democracy, secularism, and leadership issues, and offers an alternative system based on moral values and social justice. This study aims to understand the evolution, basic principles, and relevance of Islamic political thought in dealing with current political issues.
Pendidikan Dan Penyebaran Peradaban Islam Putra, Rama Aditya; -, Satriani; Febriani, Sari; Hasnah, Nurul
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.153

Abstract

Penelitian ini membahas keterkaitan historis antara sistem pendidikan pada masa Bani Umayyah (661–750 M) dan proses Islamisasi di Nusantara. Dengan menggunakan metode studi pustaka (library research) dan pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini mengkaji bagaimana warisan intelektual dan sistem pendidikan yang berkembang pada masa kekhalifahan Bani Umayyah yang berkontribusi memengaruhi struktur pendidikan dan penyebaran Islam di wilayah nusantara atau kepulauan Indonesia. Dinasti Umayyah tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan seperti kuttab, halaqah, dan masjid sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga membuka jalur perdagangan maritim yang memungkinkan interaksi antara ulama, saudagar, dan masyarakat lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem pendidikan Islam yang terbentuk di bawah pengaruh Bani Umayyah turut membentuk fondasi pesantren dan madrasah di Nusantara dengan sistem yang mirip pada masa itu. Selain itu, pendekatan damai dalam dakwah serta integrasi nilai-nilai keilmuan dan spiritual menjadi faktor penting dalam keberhasilan Islamisasi. Dengan demikian, makalah ini memperkuat pemahaman akan kesinambungan peradaban Islam global dan lokal serta peran strategis pendidikan dalam transformasi budaya di Nusantara. This research explores the historical connection between the educational system during the Umayyad Dynasty (661–750 CE) and the Islamization process in the Indonesian archipelago. Using library research and a descriptive-qualitative approach, the study examines how the intellectual heritage and educational institutions developed under the Umayyads influenced the formation of Islamic educational structures and the spread of Islam in the region. The Umayyad Caliphate not only contributed to the advancement of science and the establishment of institutions such as kuttab, halaqah, and mosques as learning centers, but also opened maritime trade routes that facilitated interaction among scholars, merchants, and local communities. Findings show that the Islamic education system rooted in the Umayyad era laid the foundation for the pesantren and madrasa traditions in the Nusantara. Moreover, the peaceful approach to da'wah and the integration of knowledge and spirituality played a vital role in the success of Islamization. This paper strengthens the understanding of the continuity between global and local Islamic civilizations and highlights the strategic role of education in cultural transformation in the archipelago.
Relevansi Maqam Tasawuf Dalam Membentuk Etos Keilmuan Dan Karakter Bangsa Di Era Modern Zahra, Gina Husniati; Saputra, Rendi Imam; Febriani, Sari; -, Indriani
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran maqam tasawuf dalam pengembangan karakter masyarakat Indonesia di zaman modern. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, krisis etika, dan perubahan nilai-nilai budaya, ada kebutuhan mendesak untuk membangun karakter yang kuat dan terintegrasi dengan aspek spiritual. Maqam tasawuf, sebagai tingkat spiritual dalam praktik tasawuf, memberikan pendekatan yang transformatif terhadap pengembangan jiwa dan perilaku individu melalui nilai-nilai seperti taubat, kesabaran, zuhud, ridha, dan tawakal. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, penelitian ini mengungkapkan bahwa penginternalisasian maqam-maqam tersebut bisa menjadi dasar dalam menciptakan karakter bangsa yang berbudi pekerti luhur, jujur, bertanggung jawab, dan mendukung nilai-nilai kemanusiaan universal. Oleh karena itu, maqam tasawuf bukan hanya relevan bagi individu, tetapi juga memberikan pengaruh berarti dalam pembentukan karakter kolektif masyarakat Indonesia di tengah perubahan kehidupan modern. This study aims to analyze the role of maqam (spiritual stations) in Sufism in the development of Indonesian societal character in the modern era. In facing the challenges of globalization, ethical crises, and shifting cultural values, there is an urgent need to cultivate strong character that is integrated with spiritual dimensions. Maqam in Sufi practice offers a transformative approach to the development of the soul and individual behavior through values such as repentance (taubat), patience (sabr), asceticism (zuhud), acceptance (ridha), and trust in God (tawakkul). Using a qualitative method with a literature-based approach, this study reveals that the internalization of these maqamat can serve as a foundation for fostering a noble, honest, and responsible national character that upholds universal human values. Therefore, the concept of maqam in Sufism is not only relevant to individual spiritual development but also significantly contributes to shaping the collective character of Indonesian society amid modern life transitions.
Menyuarakan Keseimbangan Anwar, Muh. Samsul; Arifin, M. Hafizul; Wahyudi, Johan
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.157

Abstract

Penelitian ini mengulas tentang dakwah wasatiyyah yang dilakukan oleh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (selanjutnya Tuan Guru Zainuddin) (1898-1997), diimplementasikan dalam penguatan pemahaman Islam Wasatiyyah yang beliau dirikan bersama murid-muridnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan yang bersumber dari buku wasiat dan sya’ir karangan Tuan Guru Zainuddin langsung, dan buku-buku lain yang terkait. Teori yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya teori wasatiyyah, oleh Quraish Shihab yang mengatakan sesuatu itu bisa dikatakan wasat ketika ada unsur kebaikan di dalamnya dan memberikan manfaat, terbaik dari apa yang baik-baik, adil atau meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak condong kiri ataupun kanan (berada ditengah- tengah). Kedua, teori fungsional struktural, oleh Talcott Parson yang menyatakan sebuah struktur akan berjalan baik jika fungsi-fungsi yang lain berjalan dengan tepat. Ketiga, teori sunstainability, oleh Meadows, et.al, yang menyatakan keberlanjutan dalam sebuah rencana akan terjadi ketika seseorang mampu merespon kebutuhan sosial yang ada, dan respon itu diperuntukkan untuk kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang. Ditemukan juga eksistensi dakwah sampai saat ini karena sikaf wasatiyaah yang diterapkan di dalamnya, memanfaatkan fungsi yang ada serta sangat responsif terhadap lingkungan sosial sekitar. This study discusses how wasatiyyah preaching carried out by Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (hereinafter referred to as Tuan Guru Zainuddin) (1898-1997) was implemented in strengthening the understanding of Islam Wasatiyyah, which he established together with his students. This study employs a qualitative method with a literature review sourced from the will and poems written by Tuan Guru Zainuddin himself, as well as other relevant books. The theories used in this study include the theory of wasatiyyah, by Quraish Shihab, which states that something can be said to be wasat when it contains elements of goodness and provides benefits, is the best of what is good, is fair, or puts things in their proper place, without leaning to the left or right (being in the middle). Second, the structural functional theory, by Talcott Parson, which states that a structure will function well if all other functions are functioning properly. Third, the theory of sustainability, by Meadows, et.al, which states that sustainability in a plan will occur when someone is able to respond to existing social needs, and that response is intended for the needs of the present and the future. The results of this study conclude that Mr. Zainuddin optimises the function of the madrasah in his series of sermons. It was also found that there are three wasatiyyah sermons in strengthening the function of preaching, which succeeded in establishing a community organisation and providing the first special madrasah for women in NTB. It was also found that the existence of dakwah persists to this day due to the application of the wasatiyyah approach, which leverages existing functions and is highly responsive to the surrounding social environment.
Pemikiran Dan Kontribusi AGH. Muhammad Nur Dalam Kajian Hadis Di Sulawesi Selatan Ghifari, Muhammad; Zakiyah, Ulfah
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.160

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran dan kontribusi AGH. Muhammad Nur dalam kajian hadis di Sulawesi Selatan, dengan fokus utama pada analisis kitab Kasyf al-Astar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kontribusi AGH. Muhammad Nur dalam pengembangan ilmu hadis di Sulawesi Selatan, Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana AGH. Muhammad Nur mengintegrasikan nilai-nilai hadis dengan konteks sosial budaya lokal dan bagaimana beliau memanfaatkan kajian hadis sebagai alat untuk menginterpretasikan realitas sosial dan keagamaan di wilayah ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (Library Research), dengan kitab Kasyf al-Astar karya AGH. Muhammad Nur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AGH. Muhammad Nur, melalui kitab Kasyf al-Astar, berhasil menggabungkan analisis mendalam terhadap hadis dengan konteks sosial budaya lokal. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai karya ilmiah yang mendalam, tetapi juga sebagai alat pendidikan yang efektif dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang hadis. Kontribusi beliau dalam penyebaran dan pemahaman hadis di Sulawesi Selatan telah memperkaya literatur hadis dan mendukung perkembangan kajian keislaman di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa AGH. Muhammad Nur telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang kajian hadis, dan Kasyf al-Astar merupakan bukti nyata dari upaya beliau dalam mengintegrasikan ajaran hadis dengan kehidupan masyarakat lokal di Sulawesi Selatan. This article examines the thought and contributions of AGH. Muhammad Nur in the study of hadith in South Sulawesi, with a primary focus on the analysis of the book Kasyf al-Astar. The research aims to identify and analyze AGH. Muhammad Nur’s contributions to the development of hadith scholarship in South Sulawesi, Indonesia. In addition, it seeks to explore how AGH. Muhammad Nur integrated the values of hadith with the local socio-cultural context and how he utilized hadith studies as a means to interpret the social and religious realities of the region. The research employs a library study (literature-based) method, using Kasyf al-Astar, authored by AGH. Muhammad Nur, as the primary source. The findings reveal that through Kasyf al-Astar, AGH. Muhammad Nur successfully combined in-depth hadith analysis with the local socio-cultural context. This work serves not only as a profound scholarly contribution but also as an effective educational tool in shaping the community’s understanding of hadith. His role in disseminating and deepening the comprehension of hadith in South Sulawesi has enriched the body of hadith literature and supported the advancement of Islamic studies in the region. Overall, the study concludes that AGH. Muhammad Nur has made significant contributions to the field of hadith scholarship, and Kasyf al-Astar stands as tangible evidence of his efforts to integrate hadith teachings with the everyday life of local communities in South Sulawesi.
Rekonstruksi Teks dan Identifikasi Naskah Hafidhuddin, Ahmad
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.162

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai sumber pengetahuan dan sejarah intelektual Islam di Nusantara. Salah satu naskah yang merepresentasikan hal tersebut adalah Manakib Abdul Qadir al-Jaelani (kode KBN 225), yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon dan tersimpan di repositori digital DREAMSEA. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek kodikologi dan tekstologi naskah tersebut guna memahami karakter fisik serta isi ajaran yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan filologi deskriptif dengan analisis kodikologi untuk menelaah bahan, bentuk tulisan, serta kondisi fisik naskah, dan analisis tekstologi untuk mengungkap struktur, bahasa, serta konteks ajaran yang disampaikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa naskah ini merupakan salinan pesantren abad ke-20 yang digunakan dalam tradisi manakiban, berfungsi sebagai media dakwah dan pendidikan spiritual. Secara tekstologis, teks ini menggambarkan perpaduan antara ajaran tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dan budaya religius masyarakat Jawa. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya upaya digitalisasi dan kajian lanjutan terhadap naskah-naskah Pegon lain sebagai bagian dari pelestarian khazanah keislaman Nusantara. This research is motivated by the importance of preserving ancient manuscripts as valuable sources of Islamic intellectual and cultural history in the Indonesian archipelago. One of the manuscripts that represents this tradition is Manakib Abdul Qadir al-Jaelani (catalogue code KBN 225), written in Javanese using the Arabic-Pegon script and preserved in the DREAMSEA digital repository. This study aims to examine the codicological and textological aspects of the manuscript to understand its physical characteristics and the spiritual teachings contained within. The research employs a descriptive philological approach, using codicological analysis to study the material, script, and physical condition of the manuscript, and textological analysis to explore its structure, language, and contextual meaning. The findings reveal that the manuscript is a pesantren copy from the early twentieth century, used in manakiban rituals as a medium for da’wah and spiritual education. Textologically, it reflects the synthesis between the Sufi teachings of Shaykh Abdul Qadir al-Jaelani and the religious culture of Javanese society. The implication of this study emphasizes the necessity of continued digital preservation and further research on Pegon manuscripts as part of safeguarding the Islamic intellectual heritage of the Nusantara.

Page 11 of 11 | Total Record : 110