cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
Hadits Mukhtalif dan Pengaruhnya terhadap Hukum Fikih: Studi Kasus Haid dalam Kitab Bidãyatul Mujtahid
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3435

Abstract

Artikel ini membahas tentang hadis mukhtalif dan pengaruhnya terhadap hukum fikih. Hadis mukhtalif adalah hadis-hadis yang secara lahirnya nampak kontradiktif. Bila ada dua hadis yang terlihat kontradiktif, maka itu bisa diselesaikan dengan menyelesaikan kontradiksi antar hadis ini dengan memakai teori ilmu muktalif hadis. Dalam ilmu muktalif hadis, mengkompromikan keduanya (al-jam’u wa at-taufîq). Alternatif kedua adalah metode nasakh, alternatif yang ketiga dengan metode tarjih. Bila ketiga metode itu tidak dapat menyelesaikan, maka opsi terakhir adalah bertawaqquf. Adapun sampel yang digunakan dalam artikel ini adalah kasus haid dalam kitab Bidãyatul Mujtahid. Hasilnya, adanya hadis-hadis mukhtalifberimplikasi terhadap perbedaan pendapat para ulama.This article deals with mukhtalif hadith and its effect on the juristic law. Mukhtalif Hadiths are traditions that has appeared contradictory since it emerged. If there are two contradictory hadiths, then that can be solved by resolving the contradictions between these hadiths by using the theory of muktalif science of hadith. In the muktalif science of hadith, it compromised both (al-jam’u wa at-taufîq). The second alternative is the nasakh method, the third alternative is the tarjih method. If all three methods can not solve the problems, then the last option is doing tawaqquf. The sample used in this article is a case of menstruation in the book Bidãyatul Mujtahid. As a result, the existence of mukhtalif traditions has implications on the differences among scholars.
KONTEKSTUALISASI HADIS NUSYUZ PADA WANITA KARIR DI DESA JANTI KABUPATEN JOMBANG Indah Setiyoningrum, Nurlaila; Albana, Muhammad Albi; Nasrulloh, Nasrulloh
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.9314

Abstract

Nusyuz seorang istri terhadap suaminya karena istri berkarir dapat berakibat perceraian. Wanita bekerja demi perekonomian keluarga merupakan hal yang sangat terpuji. Namun, dikarenakan istri bekerja kewajibannya menjadi seorang istri terbengkalai dan semena-mena terhadap suaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kasus nusyuz yang terjadi di Desa Janti Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang dan kajian living hadis dalam memandang kasus nusyuz tersebut. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian empiris dan metode analisis utamanya menggunakan kajian living hadis dengan pendekatan sosiologis. Dari uraian tersebut diperoleh hasil bahwa penyebab utama dari nusyuznya para istri ialah karena mereka bekerja sehingga istri melalaikan kewajiban yang seharusnya mereka emban, sedangkan dalam perbuatan nusyuz-nya berbeda-beda seperti tidak taat kepada suami, berani membentak bahkan melawan suami, tidak mau berhubungan intim dan tidak melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. seorang istri yang bekerja dapat melalaikan kewajibannya karena faktor-faktor penyebab, yaitu faktor berkarir untuk memenuhi perekonimian keluarga. Perbuatan nusyuz yang dilakukan dalam bentuk penolakan hubungan seksual dan ketidakpatuhan terhadap suami. Dalam upayanya para suami masih dalam tahap menasehati saja dalam memberikan efek jera dan tidak memberikan hukuman yang lebih dari itu.[Living Hadith: Nuyuz Career Woman to Her Husband in the Village of janti, Mojoagung Subdistrict, Jombang Distric. Nusyuz a wife towards her hhusband because a wife’s career can result in divorce. Women working for the family economy is a very commendable thing. However, because the wife works, her obligation as a wife is neglected and abuses her husband. This study aims to determine the cause of the case Nusyuz that occurred in the village Janti, Mojoagung Subdistrict, Jombang District and study the living hadith in looking at the nusyuz case. This research method uses empirical research, the main analysis method uses the study of living hadith and the approach is the sociological approach. From this description, it is found that the main cause of the nusyuz of wives is because they work so that the wives neglect the obligations they should carry, while in nusyuz's actions are different such as disobeying their husbands, daring to yell even against their husbands, not wanting to have sex and does not carry out her duties as a wife and mother of her children. A working wife can neglect her obligations due to causal factors, namely career factors to fulfill the family economy. Nusyuz acts that are carried out in the form of refusing sexual relations and disobedience to their husbands. In this effort, the husbands are still in the stage of only giving advice in providing a deterrent effect and not giving more punishment than that.]
Metode Syarah Hadis Perspektif Imam Al Qasthalani dalam Kitab Irsyad As-Sari Syarhi Sahih Al Bukhari: Menimbang dengan Perspektif Hermeneutika
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1232

Abstract

AbstractFiqh al-Hadith is the conceptual framework of understanding tradition, while the Syarah of tradition is operational concrete steps in writing on some books of commentary. One of the most popular books of hadith is authentic books of Bukhari. In Saheeh Bukhari, some scholars provide a good appreciation in the form of criticism, commentary (commentary) and so on. Associated with a number of books of commentary in authentic tradition of Bukhari, Mustafa Azami identifies the best commentary, there are three books including Fathu al Bari Ibn Hajar al-Asqalani, Irshad al-Sari al-Qasthalani work and Umdat al-Qari works Badruddin al-Aini. This study will focus on the book of commentary Ershad al-Sari works of Imam al-Qasthalani. Imam al-Qasthalani (851-923 H) is a scholar of hadith following Syafii. The principal issues to be examined in this study were (1) How does the method of understanding hadith developed by Imam Al Qasthalani in the book Irshad al-Sari. (2) How is the Hermeneutics overview of the method of understanding the hadith by Imam al-Qasthalani. The formulation of hadith understanding of Qasthalani in the book of hadith Imam Ershad al Sari generally using tafsili commentary. A method of understanding the commentary Ershad al Sari can be mapped on (1) Model of Hadith commentary, (2) Approach of Hadith commentary, and (3) Step of commentary specifically for each hadith in each chapter. In view of hermeneutics, a method of understanding the book of hadith Imam Qasthalani in Ershad al Sari has already implemented elements of hermeneutics as a theory in the sense of understanding approach.Keywords: Hadith Commentary (Syarah), Fiqh al-Had{i>s, Irsya>d as-Sa>ri, Al-Qasthalani, Hermeneutics
KAJIAN HADIS DI KALANGAN NU: Studi Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Nizar, Muhammad
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.6146

Abstract

NU merupakan sebuah organisasi keagamaan yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Organisasi ini mempunyai manhaj (metode) dalam hal istinbat al-hukm (pengambilan hukum) untuk menjawab sebuah tantangan modernitas zaman. Metode tersebut menggunakan bahtsul masail yang biasanya dikaji di berbagai pesantren kalangan NU, dalam bahtsul masail ini, NU mengutip beberapa hadis sebagai pondasi dan penguat dalam berargumen. Namun, hadis dalam pandangan pendiri NU sendiri terdapat ciri khas dan fokus bahasan yang tidak berbeda dengan muhaddithin pada umumnya. Hadis dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari bisa terbaca dengan jelas lewat buku karangannya yang berjudul Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Kitab tersebut ditulis atas respon konidisi keberagamaan Indonesia antara tahun 1920-1930 M karena beberapa prejudice terhadap NU dengan label bid’ah. Label ini disematkan atas respon ritual keagamaan khas NU seperti tahlilan, slametan dan lain-lain. Labelitas dan prejudice tersebut dibantah dengan munculnya tulisan KH. Hasyim Asy’ari yang merespon hal tersebut. Dalam karangannya ia menjelaskan bahwa bid’ah yang dimaksud dan disematkan kepada kalangan NU, bukanlah bid’ah yang dimaksud dalam hadis Nabi.
STUDI LIVING HADIS PADA SENI BELADIRI MOSLEM SELF DEFENCE (MOSSDEF SYSTEM) Widiani, Desti; Jiyanto, Jiyanto; Wibawa, Nugraha Agung
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.4754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji living hadis dalam fenomena seni beladiri Moosdem System (Moslem Self Defence). Mossdef System atau Moslem Self-Defence System atau lebih dikenal dengan Moslem Street Fighting merupakan sebuah sistem pembelajaran beladiri atau pertahanan diri khusus penanggulangan dini konfrontasi, aksi premanisme dan aksi kriminalitas. Penelitian ini menggunakan metode field research dengan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada data lapangan yang diperoleh dari informan dan responden dengan melakukan observasi dan wawancara. Teori fenomenologi Alfred Schutz sebagai pisau analisis yaitu Because Of Motive dan In Order to Motive untuk mengetahui sebab dan tujuan dari anggota seni beladiri Moosdef System. Adapun hadis-hadis yang hidup dalam praktik seni beladiri pada Moosdef System antara lain bermental Tauhid, mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT, menolak aksi premanisme, berkasih sayang pada kaum muslimin, bersikap rendah hati dan tidak sombong, do'a merupakan sumber segala kekuatan dan senjata paling utama dan bertawakkal pada Allah swt. 
PERAYAAN MAULID NABI DALAM PANDANGAN KH. HASYIM ASY’ARI
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.3596

Abstract

Perayaan maulid nabi yang dilakukan setiap setahun  dalam rangka mengenang kelahiran Beliau dan menteladani sirahnya merupakan suatu tradisi yang baik  dan harus terjaga dari hal – hal yang dapat merusak tujuan dilakukannya perayaan tersebut. Untuk tujuan itu, maka perlu dibuat rambu – rambu dan batasan - batasan yang mengatur kegiatan tersebut, sehingga bisa dijadikan acuan bagi masyarakat islam yang akan merayakannya. Karena tujuan yang mulia jika menggunakan wasilah yang kurang baik maka itu dilarang. Dan hal ini telah dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan menulis sebuah buku yang bertutur tentang hal tersebut.
KLARIFIKASI DISTINGSI ANTARA AUTENTISITAS DAN OTORITAS HADIS: Studi Komparatif Perspektif Muslim dan Barat Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.7946

Abstract

Autentisitas dan Otoritas hadis telah menjadi kajian yang sangat krusial di hampir semua kajian hadis. Tapi, ketika istilah autentisitas dan otoritas digunakan dalam pembahasan kajian, banyak yang mengalami kesimpangsiuran dan ketidakpastian makna sehingga mampu memicu kesalahpahaman dalam memaknai alur kajian. Dengan menggunakan metode komparatif deskriptif, artikel ini bertujuan untuk memperjelas secara spesifik distingsi antara kedua istilah tersebut dengan perspektif kajian di kalangan ulama Muslim dan pakar Barat. Hasilnya, autentisitas hadis merujuk pada kesahihan suatu hadis. hadis yang autentik berarti hadis yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya untuk bisa diatribusikan kepada pemilik redaksi yang menjadi sumber hadis awal. Ini memberikan pemahaman bahwa autentisitas hadis menjadi salah satu prinsip utama dalam melakukan penelusuran berita kepada sumbernya yang pertama kali. Berbeda dengan otoritas hadis yang menitik beratkan pada pengimplementasian hadis terhadap pengamalan yang menjadi tujuan akhir suatu hadis dipelajari, yakni untuk diamalkan. Hadis yang bisa diimplementasikan untuk dipraktekkan sebagai sumber ajaran Islam menunjukkan hadis tersebut memiliki otoritas untuk digunakan sebagai dalil atau hujjah untuk digunakan dalam pengamalan.[Clarification of Distinction between Authenticity and Authority of Hadith: Comparative Study of Muslim and Western Perspectives. The authenticity and authority of hadith have become very crucial studies in almost all hadith studies. But, when the terms of authenticity and authority are used in the study discussion, It almost experiences confusion and uncertainty in meaning so that they can trigger misunderstanding in the understanding of the study plot. This article aims to clarify specifically the distinction between the two terms from the perspective of studies among Muslim scholars and Western experts. As a result, the authenticity of hadith refers to the validity of hadith. Authentic traditions mean traditions that can be held accountable for their validity to be attributed to the owner of the early narrator who was the source of the initial hadith. This gives an understanding that the authenticity of the hadith is one of the main principles in tracing the information to its first source. In contrast to the authority of the hadith which emphasizes the implementation of the traditions of the practice which is the ultimate goal of hadith studies, to be practiced. Hadith that can be implemented to be practiced as a source of Islamic teachings shows that the hadith has the authority to be used as a proposition or hujja to be used in practice.]
Tarjih asy-Syaukani dengan Hadis Nabi dalam Tafsir Fath al-Qadir
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3708

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang tarji>h} yang dilakukan oleh asy-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dengan penelusuran terhadap hadis-hadis Nabi. Tarji>h} dengan hadis Nabi sudah biasa dilakukan oleh para ulama untuk mendapatkan kebenaran yang dipedomani oleh seorang mufassir maupun muhaddis terhadap berbagai pendapat dalam memahami ayat al-Qur’an maupun hadis Nabi. Dalam makalah ini, al-Syaukani mencoba melakukan tarji>h} pada ayat-ayat al-Qur’an tertentu kemudian dicarikan dalil dari hadis sebagai alat pembantu dalam memperoleh pendapat yang kuat dari adanya perbedaan pendapat dari ulama-ulama sebelumnya. Sehingga, dengan memahami ayat al-Qur’an dengan pendekatan hadis ini, asy-Syauka>ni> yakin betul bahwa tarji>h} dengan hadis Nabi ini dapat dipedomani untuk diyakini kebenarannya dan diamalkan dalam kehidupan beragama.
INTEGRASI PENDIDIKAN DALAM KITAB HADIS AL-ARBA’IN AL-NAWAWIYAH Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.8031

Abstract

Pengintegrasian konsep pendidikan agama Islam dalam kitab klasik kedalam kehidupan di dunia modern adalah suatu persoalan yang penting. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menyingkap konsepsi pendidikan Agama Islam yang terintegrasi dalam kitab al-Arba’în al-Nawawiyah yang masih terpendam dan menampilkan pembaharuan dalam pemahaman hadis baik secara tekstual maupun kontekstual. Jenis penelitian ini adalah library research, dengan menelusuri Hadis-Hadis yang mengandung kata kunci ta`lîm, tarbiyah, tahdzîb, dan ta’dîb di dalam kitab tersebut, kemudian dipetakan secara tematik (mawdhû`î) dengan menggunakan metode penelitian kajian isi (content analysis), deskripsi (descriptif analysis) melalui pendekatan pemahaman tekstual dan kontekstual. Hasil penelitian ini adalah dalam kitab al-Arba’în al-Nawawiyah secara ekplisit menyebutkan keyword pendidikan atau pengajaransebanyak 3 dari 42 hadis. Dalam kitab al-Arba’în al-Nawawiyah menunjukkan adanya banyak konsep pendidikan dan pengajaran yang masih eksis untuk diaplikasikan pada masa modern. Hadis tidak hanya berbicara tentang ibadah saja, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji sebagaimana asumsi mayoritas umat pada umumnya. Akan tetapi cakupannya menyeluruh dengan berbicara berbagai persoalan hidup termasuk di dalamnya tentang pendidikan. Kandungan Aspek Pendidikan dalam al-Arba’în al-Nawawiyah mencakup seluruh komponen pendidikan modern, yakni komponen pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode dan strategi pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan.[Integration of Education in The Book of Hadith al-Arba'in al-Nawawiyah. The integration of the concept of Islamic religious education in classical books into life in the modern world is an important issue. The purpose of writing this article is to reveal the concept of Islamic religious education which is integrated in the book al-Arba'în al-Nawawiyah which is still hidden and displays a renewal in understanding hadith both textually and contextually. This type of research is library research, by tracing the Hadiths containing the keywords ta`lîm, tarbiyah, tahdzîb, and ta'dîb in the book, then mapped thematically (mawdhû`î) using content study research methods. Analysisand description through textual and contextual understanding approaches. The results of this study are in the book al-Arba'în al-Nawawiyah explicitly mentions the keyword education or teaching as much as 3 of the 42 hadiths. In the book al-Arba'în al-Nawawiyah shows that there are many educational and teaching concepts that still exist to be applied in modern times. Hadith does not only talk about worship, such as prayer, zakat, fasting, and hajj as the majority of people assume. However, the scope is comprehensive by talking about various issues of life, including education. The content of the Educational aspect in al-Arba'în al-Nawawiyah includes all components of modern education, namely the components of educators, students, educational goals, educational materials, educational methods and strategies, educational facilities and infrastructure.]
Pengenalan Atas Takhrij Hadis
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1617

Abstract

Untuk meneliti keshahihan sebuah hadis, kita perlu meneliti kualitas sanad dan matannya. Langkah awal dari penelitian hadis adalah takhrij hadis, yaitu penelusuran letak hadis pada kitab-kitab primer (mashadir ashliyah) yang mencantumkan hadis secara lengkap dengan sanadnya.Tulisan ini mengulas pentingnya takhrij hadis, sejarah dan dan perkembangan takhrij hadis, delapan metode takhrij yang lima di antaranya dipaparkan oleh Mahmud al-Thahhan dalam kitab Ushûl al-Takhrîj wa Dirâsah al-Asânid, prinsip-prinsip dan manfaat takhrij hadis.

Page 4 of 20 | Total Record : 200