cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
PANDANGAN ALI MUSTAFA YAQUB TENTANG KRITIK ORIENTALIS TERHADAP HADIS Kurnia, Impala
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.6140

Abstract

Salah satu kontroversi dari studi orientalis pada hadis adalah bahwa otentitas hadis sebenarnya tidak diyakini oleh mereka, karena tidak ada tradisi dari Nabi yang benar-benar otentik terutama tradisi yang berkaitan dengan fiqih. Statemen ini menimbulkan reaksi dari peneliti Muslim, diantaranya Ali Mustafa Yaqub yang menemukan bahwa keraguan yang diungkapkan oleh orientalis dalam sistem studi materi sanad adalah karena mereka umumnya tidak memeriksa rantai sanad berdasarkan kitab utama hadis, melainkan pada kitab fiqih dan sirah yang ditafsirkan dengan cara yang berbeda dari kitab hadis. Dalam penelitian ini terdapat dua rumusan masalah, yaitu kritik hadis pandangan Ali Mustafa Yaqub dan pandangan Ali Mustafa Yaqub terkait kritik orientalis terhadap hadis. Metode pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-kritis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pandangan Ali Mustafa Yaqub tentang kritik hadis orientalis adalah: Pertama, kritik hadis dimulai dari masa Nabi dan kritik hadis tidak dapat dilakukan dengan menanyakan kembali kepada Nabi melainkan dengan menanyakan orang lain yang ikut mendengar hadis itu dari Nabi. Kedua, merespon argumen-argumen yang dikemukakan oleh para Islamisis, seperti Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. 
KONTEKSTUALISASI KONSEP PEMIMPIN DALAM TEKS HADIS
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4019

Abstract

Leaders are the main thing in the life of Muslims, without a leader, there will be no direction to the fate of the lives of Muslims in facing the challenges of the world in the future such as economics, social, ecology and so forth. However, the dynamics of problematic Muslim leader concept continue to revolve to determine the concept of interpretation throughout history. The ideal concept of Islamic leaders through studies in the words of deeds, and the provisions of the Prophet Muhammad called Hadith. The author's discussion on the text that the leader in certain cases states must be from the Quraish tribe, the person is male and others related to the concept of leader. In this paper, the author discusses the reality that occurred in the field when the text appeared, that the text is not sacred but dynamic. There is another flexibility of understanding through the contextualization of the hadith that the concept of leader does not have to be from the Quraish tribe and the concept of leader must not be male and other contextual hadith leaders.
Nyanyian dan Musik dalam Tinjauan Hadis Nabi
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1228

Abstract

This article will examine the problem of singing and music in the review of the hadith of the Prophet. Related to singing and music, the view of the scholars is quite diverse. Most people forbid it, some of them allowed it, and some others allowed it with some requirements. Based on the search for some of the traditions of the Prophet, the hadiths that talk about the singing and the music can be classified into two groups, namely the traditions that do not contain a ban on singing, music, musical instruments, or singers, and the traditions that contains a ban on singing, music, musical instruments, or singers. Given two conflicting groups of traditions, based on the method of al-jam’u wa at-taufiq, it can be concluded that singing, musical instruments, and a female singer (singer) is not at all forbidden by Islam as long as it doesn’t contradict to the Islamic norms. Conversely, if the singing, musical instruments and a female singer (singer) cause the growth of hypocrisy and wickedness, then forbidden and recommended to be shunned. Thus, the hadith about the ban on singing and music is merely temporal and limited by a number of requirements, which do not lead to neglect and forget God.
REPRESENTASI HADIS DALAM SINETRON INDONESIA Rohimi, Primi
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4516

Abstract

The aim of this study is to show how the hadith is represented in sinetron (soap operas). What is the meaning behind the representation. It is motivated by the existence of pros and cons of the use of hadith in sinetron. Some soap operas are claimed to be preaching media to display hadiths in various ways. This study uses a semiotic method that can show how the hadith is displayed in sinetron. This method can also capture the meaning behind the appearance of the hadith. The result is as a consequence of the product of media with its two sides. Sinetron display the hadith in a sacred way, namely with the original Arabic text dialogues and their meanings. The speaker is also religious in character. As in the Dunia Terbalik sinetron, the hadith is often read by Kusoy. But, the hadiths appear in soap operas as decoration so they tend to be profane.
RELASI BARAT DAN ISLAM DALAM KAJIAN HADIS Sukron, Mokhamad
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.5040

Abstract

Artikel Jurnal ini mendiskusikan tentang Sejarah Hubungan Barat dan Islam dalam studi hadis. Sebagai tambahannya, Hal ini didiskusikan menggunakan dialog sience sehingga membuat kelahiran pekerjaan yang monumental pada kedua sisi. Dengan menggunakan Pendekatan Sejarah menemukan fakta bahwa Paradigma Peneliti Barat yang meneliti Islam secara global dan hadis tertentu memberi pengalaman yang signifikan. Implikasi Perubahan Paradigma membuat Peneliti Barat dalam belajar hadis lebih objektif dan proporsional. 
Mengenal Tuntas Seluk Beluk Periwayatan Hadis
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3142

Abstract

Hadis merupakan sumber primer kedua setelah al-Qur’an dalam patokan pengambilan hukum Islam. Sebagai sumber primer, tentu banyak aturan yang diberlakukan dalam penentuan validitas sebuah hadis. Ada banyak hal yang harus dikaji dalam memahami hadis, baik dalam aspek sistem transmisi (sanad)- nya, maupun konten (matan)-nya. Tulisan ini berbicara secara tuntas mengenai seluruh aspek dalam hadis dan proses periwayatannya, mulai dari proses dan bentuk-bentuk periwayatan, periwayatan hadis secara maknawi, dan juga membahas tentang peran serta kaum perempuan dalam proses periwayatan hadis. Dalam sejarahnya, periwayatan hadis secara makna menuai respon pro dan kontra dari para ulama. Fakta sejarah juga mengemukakan bahwa kaum perempuan mempunyai andil yang cukup besar dalam proses penyebaran dan periwayatan hadis Nabi Muhammad saw.
PERIODISASI PERAWI HADIS: Studi Komparasi dan Korelasi Konsep Thabaqat al-Ruwat Masa Klasik dan Modern Abdurrahman, Abdurrahman
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.10048

Abstract

Periodisasi perawi mulai dikaji sejak abad ke 2 H. untuk keperluan penelitian sanad Hadits dan kritik perawi. Buku-buku indeks periodik paling awal telah terbit di awal abad ke 3 H. Penentuan periodik saat itu masih sangat asumtif dan subjektif dari setiap penulis, belum ada kajian metodologis yang menjadi patokan umum. Embrio teoritis paling awal baru muncul sejak abad ke 7 H oleh Ibn Shalah, yang kemudian menjadi teori utuh pada abad ke 9 H oleh Ibn Hajar. Dalam penelitian ini, originalitas teori Ibn Hajar dalam Taqrib at-Tahdzib ini menjadi konsep klasik dalam periodisasi perawi. Kajian setelah abad itu belum menunjukkan pengembangan yang signifikan, hingga abad ke 15 H saat ini. sehingga pengembangan teori dari konsep klasik oleh Abu Ibrahim berupa tabulasi periodik kemudian menjadi konsep modern. Melalui studi komparasi dan korelasi, peneliti menemukan titik perbedaan dan superioritas kedua konsep tersebut. Konsep klasik adalah hasil analisis data historis, biografi, data pribadi dan data pertemuan perawi yang dirumuskan berdasarkan 6 indikator ke dalam bentuk Buku Indeks Periodik. Sementara konsep modern adalah hasil kalkulasi matematis dari 6 indikator ke dalam bentuk Tabulasi Periodik. Keunggulan konsep klasik adalah kekuatan data historis yang valid, sehingga indeks periodik menjadi prioritas data dalam penetuan periode perawi tertentu. Sementara keunggulan konsep modern terletak pada pendekatan matematis, yang memungkinkan tabulasi menjadi perangkat penentuan periode perawi yang tidak ditemukan data periodiknya sama sekali. [Periodization of Hadith Narrators: Comparative and Correlation Studies of the Classical and Modern Thabaqat al-Ruwat Concepts. The study of the Periodization of Rawi germinated in the 2nd century of Hijriyah, for research on Hadith sanad and Rawi criticism. The earliest periodic index books were published in the early 3rd century of Hijriyah. The earliest theoretical embryos appeared only in the 7th century of Hijriyah by Ibn Salah, which later became a complete theory in the 9th century of Hijriyah by Ibn Hajar. The originality of Ibn Hajar's theory in Taqrib at-Tahdzib became a classical concept in the periodization of Rawi. Studies after that century have not shown significant development, until the 15th century of Hijriyah. The development of the classical concept by Abu Ibrahim, in the form of periodic tabulations, is regarded as a modern concept. Through comparative and correlation studies, we have managed to find a point of difference and superiority between the two concepts. The classic concept is the result of analysis of historical data, biographies, Rawis’ data, and data of their encounters, which are formulated based on 6 indicators into the form of a Periodic Index Book. Meanwhile, the modern concept is the result of mathematical calculations from 6 indicators into the form of Periodic Tabulations. The advantage of the classical concept is the strength of valid historical data, so that the periodic index is the priority of the data in determining the Rawi certain periods. Meanwhile, the advantage of the modern concept is in the mathematical approach, which allows tabulation to be a tool for determining the period of Rawi whose periodic data can’t be found.]
Peranan Ormas Islam Dalam Pengembangan Kajian Hadis Di Indonesia wahid, ramli abdul
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengkajian Hadis di Indonesia tampak mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan kajian bidang yang lain, seperti fikih, teologi, dan tasawuf. Kemudian kajian-kajian tentang Hadis bergerak, mengalami pertumbuhan, perkembangan, pergolakan, dan bahkan adanya penolakan terhadap Hadis baik secara langsung maupun tidak sehingga terjadi pergulatan antara pembela dan penantang Hadis. Pembahasan di sini mengambil aspek perkembangan pengkajian Hadis, khususnya peranan yang dimainkan oleh ormas IslamTerdapat Perbedaan pendekatan dalam memahami Hadis oleh Ormas Islam yang ada di Indonesia. Perbedaan pendekatan “Atas-Bawah”, “Bawah-Atas” antara Muhammadiyah dan Persis satu pihak, NU dan Al-Washliyah pada pihak yang lain terjadilah ketentuan-ketentuan hukum yang berbeda dalam masalah-masalah yang tidak prinsipil seperti qunut Subuh, doa bersama, zikir bersama, marhaban, dan tahlilan diakui dan diamalkan dikalangan NU dan Al-Washliyah. Sementara itu, Muhammadiyah dan Persis tidak mengakuinya. Akan tetapi ada kasus yang ditetapkan oleh Muhammadiyah dan Al-Washliyah yang nas langsung tidak ditemukan seperti haramnya rokok, fitrah dengan beras, dan zakat profesi.Namun perbedaan pendekatan tersebut di atas akan berakibat kepada kadar kontribusi masing-masing terhadap pengkajian Hadis. Oleh karena pendalilan itu harus berdasarkan Alquran dan Hadis secara langsung oleh Muhammadiyah dan Persis, maka otomatis keduanya terus mengkaji dan bergelut Hadis dan tanpa Hadis mereka tidak serta merta menentukan suatu hukum. Sementara NU dan Al-Washliyah walaupun tidak menemukan Hadis keduanya dapat menetapkan fatwa berdasarkan rumusan para ulama sehingga keduanya tidak terpaksa menelusuri Hadis. Jadi, Muhammadiyah dan Persis terpaksa membongkar khazanah Hadis sehingga kontribusi mereka dalam pengembangan kajian Hadis di Indonesia lebih besar daripada kontribusi ormas yang menganut mazhab.
Metode Tarjih dalam Kajian Hadis Atabik, Ahmad
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2218

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang metode tarjih dalam hadis Nabi. Tarjih dilakukan apabila terdapat beberapa nash yang saling bertentangan (ta’arudl). Ta’arudl dapat terjadi diantara nash-nash (ayat ataupun hadis), atau antara qiyas dengan qiyas. Melakukan tarjih pada hadis berarti melakukan pengunggulan kepada sesuatu yang disandarkan kepada Rasulillah Saw. pentarjihan bisa dilakukan dengan berbagai cara (metode). Cara-cara tersebut tergantung pada kajian dan ijtihad para mujtahid. Pada dasarnya, banyak cara untuk mentarjih suatu hadis yang nampak bertentangan. Namun, artikel ini hanya membatasi pada empat hal yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis, yaitu: Pertama, tarjih dari segi sanad dan rawi; kedua, tarjih dari segi matan; ketiga, tarjih dari segi hukum atau kandungan hukum (madlul); keempat, tarjih dengan menggunakan faktor (dalil) lain di luar nash
MEMOTRET PERADABAN HADIS DI MEDIA INDONESIA Nur Khoiri, Muhammad Asmuni
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.7959

Abstract

Zaman terus mengalami pergerakan progresif dengan menawarkan pelbagai pembaharuan di dalamnya, termasuk kajian hadis. Upaya penerjemahan tidak lagi melalui mimbar verbalis, namun sudah mengalami perubahan berkat media yang kreatif dan inovatif. Kecermalangan tersebut menyimpan bahaya, seperti konflik yang disebabkan kedangkalan pemahaman. Penelitian ini mencoba memotret fenomena perkembangan media dalam menyajikan nilai-nilai Hadis di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang bertujuan inti pada pengungkapan fenomena dengan daya analisis. Pelbagai data baik cetak maupun online menjadi bahan perenungan ilmiah analitis peneliti, kemudian mengemasnya dalam bentuk sajian deskriptif. Penelitian ini datang dengan membawa misi sederhana, menyajikan hasil pemotretan atas bergulirnya gelombang peradaban yang terjadi pada dunia pengkajian Hadis. Bagaimana media menjadi alat terbaru dalam menawarkan pesan-pesan damai sumber agama.

Page 6 of 22 | Total Record : 218