cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
Peranan Ormas Islam Dalam Pengembangan Kajian Hadis Di Indonesia
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengkajian Hadis di Indonesia tampak mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan kajian bidang yang lain, seperti fikih, teologi, dan tasawuf. Kemudian kajian-kajian tentang Hadis bergerak, mengalami pertumbuhan, perkembangan, pergolakan, dan bahkan adanya penolakan terhadap Hadis baik secara langsung maupun tidak sehingga terjadi pergulatan antara pembela dan penantang Hadis. Pembahasan di sini mengambil aspek perkembangan pengkajian Hadis, khususnya peranan yang dimainkan oleh ormas IslamTerdapat Perbedaan pendekatan dalam memahami Hadis oleh Ormas Islam yang ada di Indonesia. Perbedaan pendekatan “Atas-Bawah”, “Bawah-Atas” antara Muhammadiyah dan Persis satu pihak, NU dan Al-Washliyah pada pihak yang lain terjadilah ketentuan-ketentuan hukum yang berbeda dalam masalah-masalah yang tidak prinsipil seperti qunut Subuh, doa bersama, zikir bersama, marhaban, dan tahlilan diakui dan diamalkan dikalangan NU dan Al-Washliyah. Sementara itu, Muhammadiyah dan Persis tidak mengakuinya. Akan tetapi ada kasus yang ditetapkan oleh Muhammadiyah dan Al-Washliyah yang nas langsung tidak ditemukan seperti haramnya rokok, fitrah dengan beras, dan zakat profesi.Namun perbedaan pendekatan tersebut di atas akan berakibat kepada kadar kontribusi masing-masing terhadap pengkajian Hadis. Oleh karena pendalilan itu harus berdasarkan Alquran dan Hadis secara langsung oleh Muhammadiyah dan Persis, maka otomatis keduanya terus mengkaji dan bergelut Hadis dan tanpa Hadis mereka tidak serta merta menentukan suatu hukum. Sementara NU dan Al-Washliyah walaupun tidak menemukan Hadis keduanya dapat menetapkan fatwa berdasarkan rumusan para ulama sehingga keduanya tidak terpaksa menelusuri Hadis. Jadi, Muhammadiyah dan Persis terpaksa membongkar khazanah Hadis sehingga kontribusi mereka dalam pengembangan kajian Hadis di Indonesia lebih besar daripada kontribusi ormas yang menganut mazhab.
Metode Tarjih dalam Kajian Hadis
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2218

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang metode tarjih dalam hadis Nabi. Tarjih dilakukan apabila terdapat beberapa nash yang saling bertentangan (ta’arudl). Ta’arudl dapat terjadi diantara nash-nash (ayat ataupun hadis), atau antara qiyas dengan qiyas. Melakukan tarjih pada hadis berarti melakukan pengunggulan kepada sesuatu yang disandarkan kepada Rasulillah Saw. pentarjihan bisa dilakukan dengan berbagai cara (metode). Cara-cara tersebut tergantung pada kajian dan ijtihad para mujtahid. Pada dasarnya, banyak cara untuk mentarjih suatu hadis yang nampak bertentangan. Namun, artikel ini hanya membatasi pada empat hal yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis, yaitu: Pertama, tarjih dari segi sanad dan rawi; kedua, tarjih dari segi matan; ketiga, tarjih dari segi hukum atau kandungan hukum (madlul); keempat, tarjih dengan menggunakan faktor (dalil) lain di luar nash
MEMOTRET PERADABAN HADIS DI MEDIA INDONESIA Nur Khoiri, Muhammad Asmuni
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.7959

Abstract

Zaman terus mengalami pergerakan progresif dengan menawarkan pelbagai pembaharuan di dalamnya, termasuk kajian hadis. Upaya penerjemahan tidak lagi melalui mimbar verbalis, namun sudah mengalami perubahan berkat media yang kreatif dan inovatif. Kecermalangan tersebut menyimpan bahaya, seperti konflik yang disebabkan kedangkalan pemahaman. Penelitian ini mencoba memotret fenomena perkembangan media dalam menyajikan nilai-nilai Hadis di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang bertujuan inti pada pengungkapan fenomena dengan daya analisis. Pelbagai data baik cetak maupun online menjadi bahan perenungan ilmiah analitis peneliti, kemudian mengemasnya dalam bentuk sajian deskriptif. Penelitian ini datang dengan membawa misi sederhana, menyajikan hasil pemotretan atas bergulirnya gelombang peradaban yang terjadi pada dunia pengkajian Hadis. Bagaimana media menjadi alat terbaru dalam menawarkan pesan-pesan damai sumber agama.
Sunnah dalam Perspektif Al-Syafi'i
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3691

Abstract

Imam al-Syafi’i adalah seorang mujtahid besar yang menjadi sandaran sebuah madzhab disebut madzhab al-Syafi’i. Di samping dikenal sebagai seorang mujtahid dalam bidang hukum Islam, juga sebagai ahli hadits.Pengalaman beliau berguru kepada para ulama di berbagai kota yang didukung dengan kecerdasan intelektualnya yang tinggi, menjadikannya semakin kritis dalam mengungkap berbagai fenomena kehidupan dan perkembangan hukum.Beliau adalah orang yang pertama kali mencoba mendefinisikan sunnah secara lebih jelas, dengan cara mengidentikkannya dengan hadits, di samping itu beliau juga telah dengan gigih mempertahankan sunnah sebagai salah satu sumber penetapan syari’at Islam. Beliau berjasa besar di dalam membela sunnah Nabi, sehingga sudah selayaknyalah kiranya beliau mendapatkan gelar sebagai Nashir al-Sunnah (Sang Pembela Sunnah). Meskipun pada sisi yang lain, harus pula diakui bahwa beliaulah orang yang pertama kali mempersempit ruang lingkup pengertian sunnah itu sendiri, sebagai konsekuensi dari konsep yang telah beliau terapkan.
STUDI KITAB AL-JINAYAH ‘ALA AL-BUKHARI: Analisis Filosofis-Kritis Kritik Marwan Al-Kurdi Terhadap Zakaria Ouzon Kurahman, Taufik
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.10158

Abstract

Meskipun dianggap sebagai kitab yang paling benar setelah al-Qur'an, dan merupakan kitab hadis paling sahih, Shahih al-Bukhari tidaklah terlepas dari berbagai kritik. Salah satu pemikir yang masif mengkritik kitab tersebut adalah Zakaria Ouzon, dimana pemikirannya dituangkan dalam sebuah karya yang berjudul Jinayah al-Bukhari. Namun, adalah Marwan al-Kurdi melalui karyanya Al-Jinayah ‘ala al-Bukhari yang kemudian memberikan kritik balasan terhadap karya Ouzon tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemikiran al-Kurdi dalam karyanya Al-Jinayah ‘ala al-Bukhari serta perbedaannya dengan Ouzon yang melakukan kritik terhadap Sahih al-Bukhari. Dengan menggunakan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam menganalisis, penelitian ini menemukan beberapa perbedaan mendasar yang menyebabkan keduanya sangat berbeda dalam memandang hadis. Pada tingkat ontologi, keduanya memiliki definisi dan pemahaman yang berbeda terhadap beberapa konsep penting dalam studi hadis. Keduanya juga berbeda pada tataran epistemologis, di mana Ouzon lebih mengutamakan rasionalitas daripada nas, yang berkebalikan dengan al-Kurdi. Sedangkan di level aksiologi, Ouzon bertujuan agar manusia menggunakan akal sehatnya untuk tidak tunduk pada teks yang dianggap sakral namun diskriminatif. Di sisi lain, kritik al-Kurdi bukan sekedar meluruskan kesalahan-kesalahan Ouzon. Lebih dari itu, dia berharap hadis tidak terus berkurang jumlahnya karena selalu menjadi bahan kritik para pemikir modern.[The Study of Al-Jinayah ‘ala al-Bukhari: Philosophical-Critical Analysis of al-Kurdi Criticim’s on Ouzon. Although known as the most correct book after the Qur'an, and is the most valid hadith book, Shahih al-Bukhari is not free from criticism. One of the thinkers who is massive in criticizing the Book is Zakaria Ouzon, who writen his thoughts in a work entitled Jinayah al-Bukhari. And, it was Marwan al-Kurdi through his al-Jinayah ‘ala al-Bukhari who later gave a counter criticism of Ouzon's work. This study aims to see the thoughts of al-Kurdi in his work al-Jinayah ‘ala al-Bukhari and the difference with Ouzon who criticized Shahih al-Bukhari. By applying the ontology, epistemology, and axiology approaches in analyzing, this study found several fundamental differences that caused the two to be very different in looking at the traditions. At the level of ontology, both have different definitions and understandings of some important concepts in the study of hadith. Both are also different at the epistemological level, where Ouzon prefers rationality to naṣ, which is the opposite of al-Kurdi. And at the level of axiology, Ouzon aims that humans use their mind to not submit to religious texts, even that are sacred, but are discriminatory. On the other hand, al-Kurdi's criticism is not just correcting Ouzon's mistakes. He hopes that no more decreasing the number of hadiths because they have always been the subject of criticism by modern thinkers.]
Revitalisasi Hadis Da'if Pada Era Global (Studi Kasus Jama’ah Al-Waqi’ah di Cluwak, Pati)
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1810

Abstract

Membaca perilaku seseorang mesti menggunakan berbagai kacamata pandang, sebab pada dasarnya suatu aktifitas terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Namun, di antara berbagai faktor tersebut ada satu nilai yang paling dominan (core value) yang menjadi lokomotif perilaku. Dalam kehidupan ada berbagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku seseorang, yaitu religius, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Seperti munculnya jam’iyyah Waqi’ah. Diantara nilai religius, yaitu spirit hadis fadilah membaca S. Al-Waqi’ah. Sehingga muncul jam’iyah al-Waqi’ah. Dalam merespons hadis tersebut ada yang bersifat individual dan komunal. Jama’ah Waq’iah di Karangsari muncul karena proses wangsit yang diterima seorang dari seseorang guru agar mengamalkan fadilah membaca surat tersebut sebagai bentuk dari penamalan sunnah Nabi. Kemudian lambat laun jam’iyyah tersebut berkembang cukup besar di Cluwak, Pati. Tujuannya untuk memohon keberkahan rizqi dengan wasilah (bantuan) mengamalkan S. Waqi’ah. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang penulis lakukan di desa Karangsari, Cluwak Pati, Metode yang dipakai adalah metode kualitiatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasilnya, meskipun hadis fadilah Waqi’ah berderajad da’if tetapi masyarakat tetap mengamalkannya, karena beberapa hal, yaitu; fadail al-amal, meningkatkan hasil yang signifikan, diyakini berasal dari Nabi. Dari hasil penelitian tersebut perlu revitalisasi hadis da’if terhadap hadis lain yang lebih tinggi derajadnya dalam hal ini hadis fadilah membaca al-Qur’an. Selain itu juga perlu dilakukan pergeseran paradigma dari motivasi ekonomi menuju motivasi religius.
EPISTEMOLOGI SYARAH HADIS NUSANTARA: Studi Syarah Hadith Tanqih al-Qawl al-Hatsits fi Syarh Lubab al-Hadits Karya Nawawi al-Bantani Sakinah, Fatihatus
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6776

Abstract

Syaikh Nawawi al-Bantani adalah seseorang ulama Jawa yang berkarya di luar negri. Namun tidak menyurutkan perhatiannya terhadap tanah air, hal ini diwujudkan dalam bentuk karya tulisnya Tanqih al-Qawl al-Hatsits fi Sharh Lubab al-Hadits, syarah dari kitab hadis yang digunakan pegangan amaliyyah masyarakat muslim Indonesia. Pensyarahan yang kental dengan nuansa sufistik mengkontekstualisasikan hadis dengan sosio-kultural mayarakat Jawa. Penelitian ini menghasilkan pemahaman tentang epistemologi syarah hadis kitab tersebut dengan melihat corak, referensi dan metode pensyarahannya, serta validitas pensyarahan yang dilakukan dalam syarah hadis tersebut. Sehingga terlihat bahwa syarah hadis Tanqih al-Qawl banyak bernuansa sufistik dengan mengambil rujukan dari ulama sufi. Syarah ini juga telah teruji validitasnya dengan beberapa uji yang telah diterapkan dalam pensyarahannya. 
Posisi Sunnah dalam Pembacaan Al-Qur’an Kontemporer Nasr Hamid Abu Zayd
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3436

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan posisi sunnah dalam penafsiran seorang pemikir kontemporer kelahiran Mesir, Nasr Hamid Abû Zayd. Penafsiran kontemporer yang bernalar reformatif seringkali dipandang hanya memberikan tempat yang sempit untuk sunnah. Dengan demikian menjadi penting untuk melihat bagaimana penggunaan sunnah dalam penafsiran kontemporer. Melalui analisa interpretatif, artikel ini menyimpulkan Abû Zayd mengajukan reposisi sunnah dalam hubungannya dengan al-Qur’an. Posisi sunnah harus didudukkan kembali sebagai komplementer dan sumber ajaran yang harus sejalan dengan al-Qur’an. Obyektivitas pemaknaan sunnah yang mempertimbangkan berbagai konteks dengan melakukan demitologisasi pemaknaan sunnah juga dikenalkan oleh Abû Zayd untuk mempertahankan fleksibilitas sunnah dalam masa kontemporer. Dengan demikian, sunnah tetap digunakan dalam penafsiran kontemporer dengan optik yang berbeda.This article aims to describe the position of sunnah in the interpretation of an Egyptian contemporary thinker, Nas}r H{amid Abû Zayd. Contemporary interpretations of reformative reasoning are often seen as providing only a narrow place for the sunnah. It thus becomes important to see how the use of sunnah in contemporary interpretation. Through interpretive analysis, this article concludes Abû Zayd proposing a reposition of the sunnah in relation to the Qur’an. The position of the sunnah should be re-seated as complementary and the source of the teaching that must be in line with the Qur’an. The objectivity of the Sunnah which considers various contexts by demythologizing the meaning of Sunnah was also introduced by Abû Zayd to maintain the flexibility of sunna in contemporary times. Thus, the sunnah remains used in contemporary interpretations with different optics
ANALISIS RESEPSI TRADISI SEMUTAN DI DESA KALIBANGER TEMANGGUNG JAWA TENGAH 'Aziizah, 'Aabidah Ummu; Muqowim, Muqowim
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.9671

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sebuah praktik tradisi Semutan di Desa Kalibanger Temanggung melalui tiga kegelisahan akademik berupa: Pertama, Apa dan bagaimana prosesi tradisi Semutan di Kalibanger? Kedua,  Apakah motivasi masyarakat mengadakan tradisi Semutan serta pengaruhnya dalam keberagamaan masyarakat desa Kalibanger? dan Ketiga, Bagaimana analisis Resepsi terhadap tradisi Semutan? Metode penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data digunakan teori Mind and Directing Practices Barbara Meltcalf dan teori resepsi Ahmad Rafiq. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, tradisi Semutan merupakan tradisi gotong royong warga Kalibanger untuk membongkar rumah warga sebelum dibangun suatu bangunan baru tanpa disertai ritual keagamaan khusus. Kedua, dua unsur yang memotivasi warga Kalibanger adalah (1) mind: hadis-hadis gotong royong (2) directing practices: cara hidup Rasulullah saw dan serta tradisi Sambatan sebelumnya di pulau Jawa. Ketiga, analisis resepsi terhadap tradisi Semutan di Kalibanger meliputi (1) eksegesis yang berasal dari para Cultural Broker dan buku HPT jilid 3 Muhammadiyah (2) estetis, tradisi Semutan digolongkan sebagai resepsi Estetis makro dikarenakan tidak selalu suatu agen Living Hadis menyadari kehadiran hadis sebagai motivasi utama sebuah tradisi (3) fungsional, warga menerapkan nilai-nilai akhlak gotong royong dari Mudin dengan melestarikan Semutan tanpa ritual khusus seperti kepercayaan pada nenek moyang ataupun hal mistis lain.[Reception Analysis of Semutan Tradition in Kalibanger Village, Temanggung, Central Java. This study aims to uncover a practice of the Semutan tradition in Kalibanger Temanggung Village through three academic anxiety, namely: First, what and how is the procession of the Semutan tradition in Kalibanger? Second, what is the motivation of the community to hold the Semutan tradition and its influence on the diversity of the Kalibanger village community? and Third, How is Reception's analysis of the Semutan tradition?. This research method uses observation, interviews and documentation. Data analysis used the Mind and Directing Practices theory of Barbara Meltcalf and Ahmad Rafiq's reception theory. The results of the study show that: First, the Semutan tradition is a tradition of mutual assistance for the residents of Kalibanger to dismantle the residents' houses before the construction of a new building without any special religious rituals. Second, the two elements that motivate the residents of Kalibanger are (1) mind: the traditions of mutual cooperation (2) directing practices: the way of life of the Prophet Muhammad and the previous Sambatan tradition on the island of Java. Third, the reception analysis of the Semutan tradition in Kalibanger includes (1) exegesis from Cultural Brokers and HPT volume 3 Muhammadiyah book (2) aesthetically, the Semutan tradition is classified as a macro aesthetic reception because not always an agent of Living Hadith is aware of the presence of hadith as the main motivation for a tradition (3) functional, citizens apply the moral values of mutual cooperation from Mudin by preserving Semutan without special rituals such as belief on ancestors or other mystical things.]
Taubat dan Istigfar dalam Hadis Nabi: Sebuah Kajian Tematik
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1234

Abstract

AbstrakTaubat dan istigfar adalah dua kata yang melekat. Taubat merupakan maqam atau jenjang spiritual terpenting dalam rangka mengarungi bahtera spiritual untuk taqarrub ila Allah. Rasulullah tiap hari beristigfar, memohon ampun kepada Allah, 70 hingga 100 kali, siang ataupun malam hari. Taubat akan diterima oleh Allah, selama yang bersangkutan belum mati. Dan dengan beristigfar, seseorang akan mendapatkan kemuliaan dunia akhirat.

Page 6 of 20 | Total Record : 200