cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
HATE SPEECH DAN PENANGGULANGANNYA MENURUT AL-QUR'AN DAN HADIS
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4518

Abstract

Kemerdekaan bermedia sosial—disamping mendatangkan banyak manfaat—juga membawa dampak buruk dengan semakin berkembangnya hate speech ini. Persoalan hate speech menjadi semakin kompleks dengan semakin maraknya informasi, ujaran, dan berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan (hoax). Berbagai problematika kehidupan yang muncul sebaiknya dirujuk solusinya kepada kedua sumber agama Islam tersebut, yakni al-Qur’an dan Hadis. Termasuk pula, tatkala fenomena hate speech ini mencuat yang bisa memecah belah bangsa Indonesia, bahkan umat Islam khususnya, maka pencarian solusi teoritis melalui al-Qur’an dan Hadis diperlukan dalam rangka meminimalisir perpecahan dan provokasi antar umat beragama, serta mengukuhkan persatuan bangsa Indonesia pada umumnya.Kajian ini bersifat library research. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Penelitian ini mengungkap adanya beragam bentuk hate speech yang disinyalir dalam al-Qur’an dan hadis di antaranya: Sukhriyyah (meremehkan/mengejek) lamzu (mengolok-olok, mencela), ghibah (pencemaran nama baik, gunjingan buruk), fitnah, qadzaf (tuduhan tak berdasar) dan tanabuz (menghina). Sedangkan penanggulangannya dilakukan dengan klarifikasi atau tabayyun dan menganjurkan umat Islam untuk menyebarkan good speech.
AL-QUR’AN DAN HADIS NABI DALAM PUSARAN CYBER WAR-PROXY: Analisis Narasi Kelompok Anti Vaksin di Media Siber Internet Imron, Ali
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.4936

Abstract

Makalah ini akan menganalisi secara tajam tentang narasi-narasi kelompok antivaksin yang getol memanfaatkan internet, khususnya media sosial, untuk menyebarkan interpretasi mereka atas ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi. Ayat yang berbicara tentang haramnya bangkai, darah, dan daging babi adalah di antara yang sering mereka pakai dalam kampanye anti imunisasi, selain juga hadis-hadis Nabi, khususnya hadis tahnik pada bayi baru lahir (Neo Natal). Ada beberapa kekeliruan mendasar dalam pemahaman dan interpretasi kelompok ini. 
Signifikansi Pemahaman Kontekstual pada Era Global (Analisis Hadis Ijtima'i)
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3134

Abstract

Pemahaman kontekstual merupakan salah satu bentuk diantara wujud pemahaman penting dalam bidang hadis. Disamping pemahaman tekstual (tafhim al-zahiry) yang merupakan langkah awal dalam pemahaman hadis eksistensina sangat menentukan dalam membangun sebuah peradaban. Berangkat dari konsep munculnya sebuah hadis tidak terlepas dari konteks zaman yang berlangsung, pemahaman bentuk ini sangat berperan dalam mengaplikasikan hadis Nabi, apalagi hadis ijtima’i dalam kehidupan global. Artikel ini mencoba mengulas signifikansi pemahaman kontekstual hadis di era global
PENDIDIKAN SEKS USIA DINI DALAM KAJIAN HADIS Oktarina, Ani; Suryadilaga, Muhammad Alfatih
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.7615

Abstract

Pendidikan seks harus diajarkan sejak usia dini sebagaimana yang telah diajarkan Nabi melalui hadisnya agar dapat mengembangkan nilai-nilai moral, sosial, dan agama pada aspek perkembangan anak-anak yang menjadi tanggung jawab pendidikan. Artikel ini bertujuan menjelaskan pendidikan seks pada anak usia dini dalam kajian hadis. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif yang diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang bersifat kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa orang tua dan guru perlu memberikan upaya pencegahan yang diperlukan untuk mendidik dan meningkatkan kesadaran tentang pendidikan seksual anak dalam memahami apa yang diizinkan dan apa yang tidak dalam bingkai hadis Nabi yang membentuk ajaran Islam. Para guru dan orang tua juga perlu memberikan Informasi, pengenalan, pemahaman, dan antisipasi dengan tepat untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan sehingga dapat sesuai dengan ajaran Islam yang tercerminkan dari hadis Nabi.[Early Sex Education in Hadith Discourse. Sex education must be taught from an early age as taught by the Prophet through his hadith in order to develop moral, social, and religious values in the aspects of children’s development which are the responsibility of education. This article aims to explain sex education in early childhood in hadith study. The method used in this study is a descriptive method obtained from primary and secondary library sources. The result of this study is that parents and teachers need to provide the necessary precautionary measures to educate and raise awareness about child sexual education in understanding what is permissible and what is not within the framework of the Prophet's hadiths that shape Islamic teachings. Teachers and parents also need to provide information, introduction, understanding, and anticipation appropriately to prevent abuse so that it can be in accordance with Islamic teachings as reflected in the hadith of the Prophet.]
Menyoal Kritik Sanad Joseph Schacht
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1622

Abstract

Secara umum, orientalis mengkaji Ilmu-ilmu keislaman dimulai sejak abad 17 M dan mencapai puncaknya pada pertengahan abad 19 M. Hal ini dimulai semenjak negara-negara Islam di bawah cengkraman kolonialis barat. Trend kajian orientalis terhadap hadits dapat dikelompokkan kepada 4 periode, yaitu pertama, periode  permulaan. Kedua, periode Ignaz Goldziher (1850-1921), ketiga periode Joseph Schacht (1902-1969), keempat periode Pasca Joseph Schacht.  Dari keempat periode tersebut, secara umum dalam kajian hadits, orientalis terbagi menjadi tiga (3) kelompok, yaitu Skeptisisme (ragu atau meniadakan sama sekali kebenaran hadits), Middle Ground (pertengahan antara Skeptis dan Non Skeptis) dan Non Skeptisisme.
ERA DISRUPSI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN HADIS DI MEDIA SOSIAL Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6861

Abstract

Tulisan ini bermaksud melakukan kajian tentang era disrupsi dan pengaruhnya terhadap perkembangan hadis di media sosial. Lajunya perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa manusia lekat dengan media sosial, seperti: Facebook, WhatsApp, Instagram dan lain-lainnya. Media sosial mampu mengakomodir beragam ekspresi keberagamaan tanpa dibatasi oleh jarak, ruang dan waktu. Era disrupsi, Hadis sebagai sabda, perbuatan dan taqrir Nabi pesan-pesan luhurnya semakin membumi. Namun di sisi lain justru melahirkan suatu yang ironi, mulai dari menguatnya pola penafsiran yang otoritarianisme hingga merebaknya penalaran yang cepat saji. Hadis Nabi muncul di media sosial bisa dalam bentuk, digital, video, meme atau gambar yang merupakan bentuk visualisasi hadis. Sejumlah situs juga menyajikan aplikasi kitab-kitab hadis dengan kemasan yang menarik dan siap saji. Dengan demikian pengguna dengan mudah mengakses literatur hadis di mana saja dan kapan saja. Kehadiran media sosial telah memberikan peluang dan kemudahan bagi para pengguna untuk belajar dan mengkaji hadis. Kemunculan hadis di media sosial perlu diapresiasi, karena pesan-pesan luhur dari Nabi semakin membumi. Namun di sisi lain justru melahirkan suatu yang ironi, mulai dari menguatnya pola penafsiran yang otoritarianisme hingga merebaknya penalaran yang cepat saji. Tantangan saat ini bagaimana kita bisa membumikan ajaran Islam yang tertera di dalam hadis kepada para pengguna media sosial sehingga tidak kaku dalam memahami teks.
Pengaruh Pemikiran Ibn Qayyim Di Bidang Hadis Terhadap Budaya Berfikir Rasional Umat Islam Di Masa Modern
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3705

Abstract

Pemikiran di bidang hadis sangat penting dilakukan guna megembangkan kajianHadis agar dapat diterima dan terimplementasikan dalam kehidupan nyata, terutama di zaman modern. Suatu masa yang lahir dengan berkembanganya pemikiran rasional di segala bidang. Obyek kajian dalam pemikiran ini meliputi dua hal; derajad hadis dan pemahamannya.Dua hal ini merupakan kunci dalam mengembangkan kajian di bidang hadis.            Pola pemikiran hadis secara rasional sangat diperlukan pada masa setip masa, karena dipandang mampu menjawab persoalan yang dihadapi umat. Misalnya apa yang terjadi pada masa Nabi, Sahabat, dan Tabi’in. Semua mengandalkan rasio dalam memecahkan persoalan, tetapi dilakukan secara proporsional. Namun secara resmi pemikiran rasional muncul pada masa pemerintahan Abbasiyah.Pada masa pertengahan Hijriyah, dimaan umat Islam dalam suasana kemunduran di segala bidang , utamanya ilmu pengetahuan, lahir seorang tokoh yang dikenal pemikir hadis yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya rasional di kalangan umat Islam, yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (w. 761 H).Ia bermaksud membangkitkan semangat umat dengan mengembangkan beberapa pemikiran di bidang hadis, seperti tentang ar-rihlah wa an-nazariyyah (pengembaraan dan penelitian keilmuan), memberantas bid’ah dan taklid, naqd al-matn (metodologi kritik matan), cara pemahaman hadis ketabiban,.Pemikirannya berpengaruh kuat di kalangan masyarakat muslim di zaman modern, seperti Muhammad bin Abdul Wahab, Muhamad Abduh, Rasyid Ridha, M. Fazlur Rahman, Wahbah az-Zuhaily, Muhamad al-Gazali, dan Salahuddin al-Idlibi 
PELAKSANAAN PENGAJIAN HADIS BAGI TUNA NETRA DI MALAYSIA: Isu dan Tantangan binti Ahmad, Norhafizah; Zahari, Wan Ainaa Mardhiah binti Wan; bin Kirin, Arwansyah
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.12147

Abstract

Hadis merupakan sumber kedua agama dalam Islam selepas al-Quran. Ia memainkan peranan yang sangat penting dalam Islam, terutama ketika menguraikan serta menjelaskan kehendak al-Quran. Pengajian hadis bagi tuna netra amat signifikan dan diperlukan dalam sistem pendidikan khusus. Untuk melestarikan pengajian hadis tuna netra, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi dan difikirkan. Tantangan ini harus dihadapi bersama dalam usaha mewujudkan kesamarataan peluang pendidikan hadis bagi seluruh umat Islam tanpa menganggap kekurangan pada diri. Namun, pemaparan bagi tuna netra terhadap pengajian hadis masih belum berlaku sedangkan hadis juga memainkan peranan yang penting sebagai sumber kedua syariat Islam. Justru, objektif utama artikel ini adalah untuk menjelaskan isu dan tantangan yang dihadapi oleh tuna netra dalam pengajian hadis. Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan menggunakan metode analisis dokumen yang terdiri dari buku-buku, artikel-artikel, jurnal, dan bahan-bahan yang berkaitan. Hasil kajian mendapati pengajian hadis bagi tuna netra di Malaysia menghadapi tantangan yang besar. Diantaranya ialah ketidaksediaan tenaga pengajar, kelemahan institusi pendidikan dan kekurangan bahan bantu mengajar. Implikasi kajian ini ialah dapat mengenal pasti tantangan yang dihadapi oleh tuna netra dalam mendalami hadis dan seterusnya membantu golongan ini mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullah SAW melalui hadis-hadisnya.[The implementation of hadith studies for visually impaired people in Malaysia: Issues and challenges. Hadith is the second source in Islam after Quran. The role of hadith is very important in Islam especially in explaining and justifying the contents of Quran. The study of hadith for visually impaired people is very important and necessary in the special education system. There are some challenges that need to be considered in preserving the study of hadith for visually impaired people. These challenges must be faced together in order to create an equality of hadith educational opportunities toward visually impaired people regardless of their shortcomings. However, the exposures of hadith study occur only on a small scale while hadith also plays an important role in Muslim daily life. Therefore, the main objective of this article is to explain the issues and challenges faced by visually impaired people in implementing hadith studies. The qualitative approach is used in this research by using document analysis method from books, articles, journals, internet etc. The early finding shows that the hadith study for visually impaired people in Malaysia facing great issues and challenges. These challenges exist in several aspects including the lack of instructional resources, the weakness of educational institutions and the lack of teaching aid. Hence, this research is able to identify the issues and challenges faced by visually impaired people to pursuit hadith and guiding them to learn and love the Prophet SAW and his Sunnah.]
Kontribusi Az-Zarkasyi dalam Studi Sunnah Nabi
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1809

Abstract

Sunnah Nabi merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji. Hal ini tidak terlepas dari kedudukannya yang sentral dalam agama Islam. Banyak ulama dari berbagai disiplin keilmuan mengkajinya, salah satunya adalah ulama ushul fikih. Artikel ini mengulas tentang kontribusi ulama ushul fikih dalam studi sunnah Nabi. Dalam artikel ini, yang menjadi sampel adalah Imam Az-Zarkasyi. Tema ini layak untuk diketengahkan mengingat kajian ushul fikih tidak lepas dari sunnah Nabi. Sebab, sunnah Nabi merupakan salah satu sumber hukum Islam. Kajian ini menggunakan analisis konten, dengan kitab al-Bahr al-Muhit sebagai sumber acuannya. Adapun hasil dari telaah ini adalah adanya penjabaran yang sangat detail terhadap Sunnah Nabi. Masing-masing bentuk Sunnah dikupas dan dijelaskan satu persatu secara rinci, mana saja yang menunjukkan hukum wajib, sunnah, haram dan lain sebagainya.
PERKEMBANGAN HADIS DI INDONESIA PADA ABAD KE-19 M: Telaah Terhadap Pemikiran Mahfuzh at-Tirmasi dalam Kitabnya Manhaj Dzawin-Nazhar Farida, Umma
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6860

Abstract

Perkembangan Hadis di Indonesia pada abad ke-19 M. Masih belum mendapat tempat dalam hati masyarakat Indonesia sebagaimana Tafsir al-Qur’an dan Fiqh. Materi pelajaran hadis dan ilmu hadis berikut kitab-kitabnya pada abad ke-19 memang belum banyak dikaji di beberapa lembaga pendidikan termasuk di pesantren-pesantren  pada saat itu, namun di sisi lain, di akhir abad ke-19 muncul ulama Nusantara yang telah mengibarkan keilmuan hadisnya di Timur Tengah, yaitu Muhammad Mahfuzh at-Tirmasi. Banyak sekali intelektual muslim, baik dari Indonesia maupun luar yang belajar kepada Kyai Mahfuzh. Di antara karya monumental Kyai Mahfuzh adalah Manhaj Dzawi an-Nazhar yang hendak dibahas dalam artikel ini. Kajian ini merupakan kajian pustaka dengan menjadikan karya-karya KH. Mahfuzh at-Tirmasi sebagai sumber datanya, terutama Kitab Manhaj dzawi an-Nadhar yang merupakan kitab yang menjelaskan (men-syarh) kitab Nazham Alfiyah karya Imam as-Suyuthi yang memfokuskan kajian pada bidang ilmu hadis. Kitab as-Suyuthi ini disajikan dalam bentuk nazham (salah satu bentuk sya’ir Arab) yang berisi penjelasan-penjelasan tentang kaidah-kaidah ilmu musthalah hadis, sehingga tidak semua kalangan dapat memahami maksud kitab tersebut secara mudah. Adapun teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif kritis.

Page 3 of 20 | Total Record : 200