cover
Contact Name
Ahmad Fatah
Contact Email
fatahkudus1@gmail.com
Phone
+6281228228123
Journal Mail Official
fatahkudus1@gmail.com
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Kudus Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Telp. (0291) 432677 Fax. (0291) 441613 Kudus 59322
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Penelitian
ISSN : 16936019     EISSN : 24776580     DOI : 10.21043/jp
Core Subject : Religion,
Focus: Jurnal Penelitian fokus pada penyediaan artikel ilmiah sosial keagamaan berbasis pada tema-tema yang berkembang yang hadir melalui publikasi artikel, laporan penelitian, dan ulasan buku. Scope: Jurnal Penelitian mengkhususkan diri dalam studi sosial keagamaan, yang meliputi islamic studies, tarbiyah, syariah, ushuluddin, dakwah, sosiologi agama, antropologi agama, serta disiplin ilmu lainnya yang terkait dengan disiplin keagamaan.
Articles 329 Documents
MODEL PENDIDIKAN ISLAM KREATIF WALISONGO, MELALUI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN Failasafus Fadli; Nanang Hasan Susanto
Jurnal Penelitian Vol 11, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v11i1.2169

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri model pendidikan kreatif yang dilakukan Walisongo, khususnya dalam menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, hingga berhasil mendidik masyarakat Jawa dengan mengislamkan mereka dalam waktu yang relatif singkat, tanpa kekerasan. Melalui pencarian data pustaka dan menggunakan analisis deskriptif dengan kesimpulan induktif, didapatkan hasil bahwa Walisongo mendidik masyarakat Jawa menggunakan instrumen yang disukai masyarakat, seperti pertunjukan wayang, menggubah tembang-tembang macapat, dan melalui pendekatan budaya yang berkembang di masyarakat.Kata kunci: Walisongo; Pendidikan Kreatif, Pendidikan Menyenangkan
Perayaan Imlek EtnIs Tionghoa: Menakar Implikasi Psiko-sosiologis Perayaan Imlek bagi Komunitas Muslim di Lasem Rembang Hasyim Hasanah
Jurnal Penelitian Vol 8, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i1.1338

Abstract

abstract CHINESE NEW YEAR CELEBRATION OF ETHNIC TIONGHOA (TAKE THE NECESSARY PSYCHOSOCIOLOGICAL IMPLICATIONS OF CHINESE NEW YEAR CELEBRATIONS FOR THE MUSLIM COMMUNITY IN LASEM REMBANG). Ethnic Tionghoa or better known as Chinese people till now it is the minorities in Indonesia. But the presence of ethnic Tionghwa in religious social relations in the community gives its own color, especially in generating new forms of culture which is more unique, more sacred and, have a value of local cultural reinforcement. One form of colored cultural communities is the existence of Chinese new year celebration, which is socially it  gave birth to a new form of humanitarian relationship pattern, it is a social solidarity for other communities. This study attempts to describe the psychological implications of Chinese new year celebration of ethnic Tionghwa for the Moslem community in Lasem Rembang. To get a thorough description, this study uses descriptive method with psychophenomenological approach. The results of this study mentions that the celebration of the Chinese new year ethnic tionghwa positively gave psycho-sociological implications for the Moslem community through the formation of a viable social values in the form of pro social and gave rise to a harmonious social solidarity. Besides, psychologically the existence of Chinese new year celebration is capable of creating psychological dynamics in the form of a tolerance attitude of, mutual trust, and respect between the Moslem community and ethnic Tionghwa in Lasem Rembang.
Pencegahan Perilaku Menyimpang melalui Pengendalian Gawai pada Siswa Madrasah Siti Fatimah; Miftahuddin Miftahuddin Miftahuddin
Jurnal Penelitian Vol 14, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v14i1.7383

Abstract

Era Industri 4.0 dengan ditandai perkembangan industri dan salah satu hasil perkembangan yang sangat familiar dengan masyarakat adalah gawai. Pola atau gaya hidup masyarakat yang sudah semakin dinamis menjadi pemicu terjadinya faktor-faktor yang mempengaruhi pola perilaku. Kebiasaan menggunakan perangkat digital ini juga salah satu penyebabnya pada siswa karena penyediaan ragam permainanserta belajar yang minim membuat pola perilaku tersebut berubah karena penggunaan gawaiyang berlebihan. Tujuan penelitian untuk menjelaskan perilaku siswa dalam menggunakan gawai,membuktikan dampak penggunaan gawai terhadap penyimpangan perilaku siswa,menemukan upayapengendalian guru terhadap penggunaangawai, mendeskripsikan dampak pengendalian gawai terhadap perilaku siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan design studi kasus.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua siswa MI kelas V mempunyai gawai sendiri. Perilaku mereka dalam menggunakan gawai sebanyak 44% game online, 31% youtube, 19% instagram, 3% whatsapp, dan 3% facebook. Durasi mereka bermain gawai sebanyak 11% ≤ 1 jam, 42% 1-2 Jam, dan 47% ≥ 2 jam. Dampak negatif penggunaan gawai:sering main game online/offline, malas belajar, bermain dengan teman yang sama-sama mempunyai gawai, berteman dengan teman yang punya gawai, tidak mau bermain dengan teman sebaya secara umum, suka berkumpul hanya untuk mabar (main bareng) game online, marah ketika gawai diminta oleh orang tua, gawaidianggap merupakan sumber utama untuk belajar sehingga sumber lain dianggap tidak perlu, gawaidianggap merupakan sumber kebahagiaan, gawaidianggap satu-satunya teman bermain, meminta gawai agar sama dengan temannya, dan meminta gawai karena barang dianggap keren. Upaya guru mengendalikannya: edukasi mengenai gawai, sanksi tegas,dan koordinasi dengan para orang tua. Dampakpengendalian gawai terhadap perilaku siswa: bersikap positif dalam menggunakan gawai, fokus belajar, bersosialisasi langsung dengan teman sebaya, dan siswa suka melakukan kegiatan positif.
PERKEMBANGAN ONTOLOGI DALAM FILSAFAT ISLAM Fathul Mufid
Jurnal Penelitian Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v7i2.815

Abstract

THE ONTOLOGY DEVELOPMENTS IN ISLAMIC PHILOSOPHY. The primary basis in the study of ontology is what it is, where it exists and, what the truth is. The fundamental and profound of these issues, so that people are faced with different answers. The first question, “what is there”, gives different answers according to their beliefs. Monism, which is only one and that one was spirit and ideas, then gave the flow of spiritualism and idealism. But if that one is full of material, then gave materialism. Dualism, that is round two, for example, body and soul, it gives the existentialism flow. Pluralism, that is composed of  many elements, there is something that cannot be known, then gave the flow of agnosticism. The second problem, “where it exists”, the answer is that dwells in the world of  ideas, abstract, fixed and immutable. That is living in the world of  ideas that are concrete and individual, so that the truth is limited and changeable. The third issue, “what the truth is”, if  the truth is eternal and immortal, then it is God. However, if the truth is capricious, then the problem is how to change it and what determines the change.Keywords: Ontology, Philosophy, Existence, Essence, Metaphysics.Dasar  utama  dalam  kajian  ontologi  adalah  apa  yang  ada,  di mana yang ada dan, apa itu kebenaran. Sedemikian mendasar dan mendalamnya persoalan-persoalan ini, sehingga manusia dihadapkan pada  jawaban-jawaban  yang  berbeda.  Persoalan  pertama,  “apa yang ada”, memberikan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan mereka. Monisme, yang ada hanya satu dan yang satu itu serba spirit dan ide, maka melahirkan aliran spiritualisme dan idealisme. Tetapi jika yang satu itu serba materi, maka melahirkan materialisme.  Dualisme,  yang  ada  serba  dua,  misalnya  jiwa  dan raga, maka lahirlah aliran eksistensialisme. Pluralisme, yang ada terdiri atas banyak unsur, yang ada adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui, maka melahirkan aliran agnostisme. Persoalan kedua, “di mana yang ada”, jawabannya adalah yang bersemayam dalam dunia ide, bersifat abstrak, tetap, dan abadi. Yang ada bermukim di dunia ide yang bersifat kongkret dan individual, sehingga kebenarannya terbatas dan berubah-ubah. Persoalan ketiga, “apakah kebenaran itu”, jika yang dimaksud kebenara itu kekal dan abadi, maka itu adalah  Tuhan.  Akan  tetapi,  jika  kebenarannya  berubah-ubah, maka persoalannya adalah bagaimana perubahan itu dan apa yang menentukan perubahan itu.Kata Kunci: Ontologi, Filsafat, Ada, Hakikat, Metafisika.
Rekonstruksi Dimensi Transendental dan Sosial Generasi “Z” Masyarakat Gunung Kemukus Sragen Pasca Penutupan Lokalisasi Muhammad Miftah
Jurnal Penelitian Vol 12, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v12i2.4141

Abstract

Mindset is formed from the pattern of interaction among the individualswhose habit and daily behavior,then it is always repeatedso it becomes a character. The leverage level of generation Z mindset is still very vulnerable because they are influenced by environment and technological developments. They are literate and always interact with technology in life activities. The environmental urge and patterns of interaction within a community in various researches play the most vital role in human behavior change. This theory is used as the foundation of the writer to conduct research in the area of Mount Kemukus which has become a place of ritual "lokalisasi" that impersonate religion for many years.This condition gets big attention from local governments and world. However, the stigma began to erode through government policy toclose those places and save Mount Kemukus from immoral practices. This research will focus on examining how the local government's education policy reconstructs the generation Z mindset without excluding the ancestral culture (local wisdom) as the regional distinction compared to other regions. The government policy in reconstructing the millennial mindset can be seen from policies in social, educational, economic and religious dimensions.
IMPLEMENTASI PRINSIP ISLAM DALAM AKTIVITAS EKONOMI: ALTERNATIF MEWUJUDKAN KESEIMBANGAN HIDUP Mursal dan Suhadi
Jurnal Penelitian Vol 9, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v9i1.851

Abstract

IMPLEMENTING ISLAMIC PRINCIPLE IN ECONO- MIC ACTIVITIES: ALTERNATIV TO REALIZE THE LIFE BALANCE. This paper aims to explain the principles of Islam in economic activity contained in the al-Quran and Hadith. The principle of  balance occupy a decisive role in human life to reach al-Falah. The balance is the Sunnah of  Allah, balanced life is one of  the essence of  Islam, so Muslims were referred to as the people of the middle (Ummatan wasthan). Islamic Economics aims to create a balanced life, which includes, among others, the physical with the mental balance, the material with the spiritual, the individual with the social, the present with the future, and the world to the hereafter. This is because, physical balance with mental, spiritual or the material will create a holistic for the welfare of man. Economic development are too concerned with material aspects and ignore the spiritual aspect only will bear false happiness, even quite disastrous.keyword: Islam, Economic, Balanced.Tulisan  ini  bertujuan  untuk  menjelaskan  tentang  prinsip  Islam dalam aktivitas ekonomi yang tertuang dalam al-Quran dan Hadis. Prinsip keseimbangan menduduki peran yang sangat menentukan dalam kehidupan manusia untuk mencapai al-Falah. Keseimbangan merupakan sunnah Allah, kehidupan yang seimbang merupakan salah satu esensi ajaran Islam, sehingga umat Islam pun disebut sebagai umat pertengahan (Ummatan wasthan). Ekonomi Islam bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang seimbang, yang mencakup antara lain keseimbangan fisik dengan mental, material dengan spiritual, individu dengan sosial, masa kini dengan masa depan, serta dunia dengan akhirat. Hal ini karena, keseimbangan fisik dengan mental, atau material dengan spiritual akan menciptakan kesejahteraraan  holistik  bagi  manusia.  Pembangunan  ekonomi yang terlalu mementingkan aspek material dan mengabaikan aspek spiritual hanya akan melahirkan kebahagiaan semu, bahkan justru menimbulkan petaka.keywords: Islam, Ekonomi, Keseimbangan
ISLAM DAN MODAL SOSIAL ORANG MINANGKABAU DI PERANTAUAN Jufri Naldo Naldo
Jurnal Penelitian Vol 13, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v13i2.5617

Abstract

Islam memiliki landasan yang kuat terhadap kontrak sosial dan norma yang telah disepakati umatnya. Orang Minangkabau di perantauan berusaha mengoptimalkan wujud nyata dari ajaran Islam tersebut. Sehingga Islam sangat berpengaruh dan mewarnai modal sosial mereka. Hal ini terlihat ketika organisasi-organisasi kelompok etnis Minangkabau yang terbentuk di perantauan tidak hanya menafsirkan ajaran Islam hanya sebatas pada ibadah rutinitas biasa, akan tetapi Islam telah ikut serta dalam dialektika kapital sosial organisasi yang pada gilirannya mengarahkan kegiatan komunitas etnis itu kepada gerakan-gerakan sosial yang produktif dan positif untuk membangun kehidupan masyarakat yang ideal. Dalam pandangan orang Minangkabau, Islam tidak hanya sebagai referensi perilaku sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Islam juga merupakan salah satu identitas etnis. Dalam perspektif antropologis, antara Islam dengan orang Minangkabau merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kedua unsur tersebut saling menentukan dan keanggotaan seseorang dalam komunitas sangat ditentukan oleh kelekatan identitas tersebut. Kata kunci: Islam, Modal Sosial, Orang Minangkabau
Penguatan Manajemen Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Garawangi dan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka Egi Arvian Firmansyah; Wardhana Wardhana
Jurnal Penelitian Vol 10, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v10i2.1673

Abstract

The institutions of ECD (Early Childhood Development) have a vital role in a nation education sector because they are the very first institutions to instill educational values to learners, either religious values or universal values. The management of ECD institutions has been seemingly considered less important or less prestigious compared with the management of higher education institutions such as high school or university level. This paper portrays the activity results of Community Service Program focusing on early childhood development in the Garawangi and Rancaputat village, Sumberjaya District, Majalengka. This paper is expected to increase the awareness of all parties regarding the importance of early childhood education management,  particularly in financial management aspect. In addition, it is expected to add insight about the Community Service Program with a focus on small institution in village such as early childhood development. Keywords: early childhood development, Garawangi, Rancaputat, Financial Management of Small Institutions
Implementasi Teori Bourdieu Dalam Upaya Menjaga Warisan Budaya Sunan Muria Pada Masyarakat Piji Wetan Desa Lau Kabupaten Kudus Muhammad Farid
Jurnal Penelitian Vol 15, No 2 (2021): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v15i2.11305

Abstract

AbstractThe cultural heritage of the village is becoming a hot discussion in the midst of such rapid global progress. Among the existing policies, each village is encouraged to have a policy document for the promotion of culture as a basis for development. One of the cultural heritages that is no less interesting is the philosophy of the Tapangeli teachings and Sunan Muria's Pager Mangkok. This can be said as an intangible cultural heritage that underlies the social, economic and cultural behavior of the people in the Muria Region to this day. This research using a qualitative approach, this study aims to narrate social praxis and the efforts made by the people of the Piji Wetan Cultural Village of Lau Village in realizing the above ideals. As a knife of analysis, the researcher uses the bourdieurian theory to reveal the norms and values agreed by the Piji Wetan community in preserving the legacy of Sunan Muria. As a result, the people of the Piji Wetan Cultural Village with the application of their bourdieurian theory won an award from the Indonesian Ministry of Education and Culture as the best cultural village in 2020. Thus, researchers hope that this can inspire academics and social actors who want to advance culture like the Piji Wetan community in Lau Village.
MAINSTREAMING ISU DISABILITAS DI MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENELITIAN MAUPUN PENGABDIAN MASYARAKAT DI STAIN KUDUS Ekawati Rahayu Ningsih
Jurnal Penelitian Vol 8, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jupe.v8i1.1342

Abstract

MAINSTREAMING DISABILITIES ISSUE IN THE COMMUNITY IN REASEARCH ACTIVITIES AND COMMUNITY SERVICES IN STAIN KUDUS. This paper aims to build important issues surrounding the services and facilities development for disabled people, especially in college. In the last three decades, the process of change and a shift in meaning and disability paradigm in both the national and international realm, capable of carrying a significant impact on policy direction and agenda of disable movement (disability movement) as well as academic studies which support it. This is important, because people with disabilities should have the same role and the opportunity to explore their potential, particularly in higher education and work. However, disabled people only have a much lower participation rate than non-disabled, amounting to 0.01 percent. While the government’s policy on inclusive education has not been understood and implemented properly due to various reasons. So that these conditions further aggravate the disabled to be able to develop optimally as befits a normal human being. Therefore, this study was conducted in an effort to maximize services for disabled people, especially in the STAIN Kudus.