cover
Contact Name
Ristiawan Muji Laksono
Contact Email
anestpain@ub.ac.id
Phone
+6281336172271
Journal Mail Official
anestpain@ub.ac.id
Editorial Address
Anesthesiology and Intensive Therapy Program, Medicine FacultyBrawijaya University, Malang Indonesia Jl. Jaksa Agung Suprapto no.2, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Anaesthesia and Pain
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 27223167     EISSN : 27223205     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jap
Core Subject : Health,
Journal of Anaesthesia and Pain is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on anesthesia and pain. Journal of Anaesthesia and Pain, published by Anesthesiology and Intensive Therapy Specialist Program of Medicine Faculty, Brawijaya University. This journal publishes original articles, case reports, and reviews. The Journal s mission is to offer the latest scientific information on anesthesiology and pain management by providing a forum for clinical researchers, scientists, clinicians, and other health professionals. This journal publishes three times a year. Subjects suitable for the Journal of Anaesthesia and Pain are all subjects related to anesthesiology and pain management.
Articles 125 Documents
Peran Terapi Regeneratif Platelet-Rich Plasma (PRP) pada Penanganan Osteoartritis Lutut Yusak Mangara Tua Siahaan; Nathasia Suryawijaya
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 3 (2020): September
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.03.03

Abstract

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degeneratif sendi yang paling umum terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Angka kejadiannya mencapai 15.5% pada laki-laki dan 12.7% pada wanita. Walaupun OA dapat menyerang seluruh sendi, namun sendi lutut merupakan sendi yang paling sering terkena. Tingginya angka prevalensi OA disebabkan karena peningkatan angka harapan hidup dan prevalensi dari obesitas, yang memicu disabilitas kronik serta peningkatan beban sosial dan ekonomi pada negara berkembang. Penanganan OA lutut merupakan suatu tantangan karena sendi lutut memiliki kemampuan regeneratif dan pemulihan yang rendah. Terapi konservatif seperti asetaminofen, obat anti inflamasi non-steroid, dan opioid hanya efektif dalam menangani nyeri dan mengurangi inflamasi. Salah satu terapi regeneratif yang sedang berkembang dalam menangani OA lutut adalah injeksi platelet-rich plasma (PRP), dimana merupakan produk darah autolog dengan konsentrasi platelet, faktor pertumbuhan, dan sitokin yang tinggi. Penggunaan PRP dapat menjadi alternatif karena tidak hanya mengurangi inflamasi, namun memiliki kemampuan untuk memulai dan meregenerasi jaringan yang rusak. Namun, walau PRP dapat dipertimbangakan sebagai terapi yang aman untuk penanganan OA lutut, masih terdapat pro dan kontra terkait teknik yang digunakan serta variasi komposisi dari PRP yang digunakan. Artikel ini akan memaparkan informasi terkini mengenai mekanisme dan efektifitas dari PRP dalam penanganan OA lutut.Kata kunci: Osteoartritis lutut; platelet-rich plasma; terapi regeneratif
Transversus Abdominis Plane Block sebagai Analgesia Post-operatif pada Pasien Sectio Caesarea dengan Stenosis Mitral Berat Eko Nofiyanto; Ristiawan Muji Laksono; Isngadi Isngadi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 2 (2020): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.02.06

Abstract

 Latar belakang: Pasien pasca seksio sesarea dapat mengalami nyeri postoperatif dengan rerata skor nyeri 4,7 (skala 10). Komplikasi nyeri postoperatif pada pasien dengan komorbid kardiak dapat mengakibatkan disfungsi organ kardiopulmoner. Transversus abdominis plane block (TAP blok) sebagai blok saraf perifer memberikan analgesia pada dinding abdomen anterior. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui skala nyeri post operatif, waktu mobilisasi dan lama hari rawat inap serta komplikasi kardiak post operatif pada pasien seksio sesarea dengan komorbid kardiak stenosis mitral berat  yang diberikan TAP blok sebagai bagian multimodal analgesiaKasus: Pasien perempuan 31 tahun, kehamilan ke 2, usia kehamilan 34-36 minggu dengan Pre eklampsia berat, stenosis mitral berat, regurgitasi mitral ringan, regurgitasi trikuspid sedang,regurgitasi pulmonal ringan, ejection fraction (EF) 79,11%, hipertensi pulmonal high probability, Gagal  jantung stadium B fungsional II. Menjalani tindakan seksio sesarea, dengan regional anestesi Sub Arachnoid Block. Setelah operasi dilakukan TAP blok bilateral dipandu ultrasound dengan regimen Ropivacaine 0,25% total volume 30 cc. Monitoring hemodinamik post operatif dilakukan di ruang rawat intensif. Pasien diamati skala nyeri selama dirawat, waktu mobilisasi dan lama hari rawat inap. Dari hasil pengamatan didapatkan hemodinamik stabil, skala nyeri 0-1 selama di rawat tanpa tambahan analgesia opioid, mobilisasi aktif dimulai hari ke 2, dan lama rawat inap selama 4 hari.Kesimpulan: TAP Blok sebagai bagian dari multimodal analgesia memberikan analgesia yang aman dan efektif pada pasien seksio sesarea dengan komorbid kardiak stenosis mitral berat, mencegah komplikasi kardiak, menurunkan penggunaan opioid, mempercepat waktu mobilisasi dan hari rawat inap sama dengan pasien normal. 
Manajemen Nyeri Post-Operative untuk Pasien COVID-19 di Indonesia Ristiawan Muji Laksono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 2 (2020): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.02.01

Abstract

Manajemen nyeri post-operative menjadi salah satu fokus utama dalam perawatan pasien COVID-19. Minimnya jumlah publikasi tentang pilihan terapi post-operative untuk pasien COVID-19 di Indonesia membuat masih dibutuhkannya informasi mengenai pilihan obat-obatan atau teknik manajemen nyeri post-operative untuk pasien COVID-19. Manajemen nyeri post-operative pada pasien COVID-19 positif atau terduga pasien COVID-19 perlu mempertimbangkan ha-hal sebagai berikut.
Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Angka Kejadian Nyeri Kronik pada Pasien Pasca Operasi Bedah Mayor di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang Trianna Mailawati; Ristiawan Muji Laksono; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.01

Abstract

Latar belakang: Nyeri kronik pasca bedah mayor merupakan komplikasi bermakna pada sebagian besar pasien.  Faktor sosiodemografi menjadi salah satu perhatian dalam prevalensi kejadian nyeri kronik pasca bedah mayor dan belum ada data mengenai angka kejadian nyeri kronik dan faktor yang mempengaruhinya di Indonesia, khususnya di Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan tingkat pendapatan terhadap angka kejadian nyeri pasca bedah.Metode: Penelitian ini tergolong penelitian epidemiologi analitik dengan metode cross sectional pada 123 pasien yang menjalani operasi elektif bedah mayor di RS Dr. Saiful Anwar Malang periode Juli-Desember 2018. Penelitian dilaksanakan dengan metode wawancara pada responden. Variabel penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan  tingkat pendapatan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji korelasi Spearman pada SPSS 25.0.Hasil: Sebanyak 66 subjek tidak mengalami nyeri kronik dan 57 subjek mengalami nyeri kronik pasca bedah mayor. Tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan dengan angka kejadian nyeri kronik (p=0,038). Akan tetapi hubungan yang terjadi bersifat lemah  (koefisien korelasi Spearman =0,187). Faktor sosiodemografi di antaranya usia, jenis kelamin dan pendapatan tidak berhubungan dengan angka kejadian nyeri kronik pasca bedah mayor (p>0,05).Kesimpulan: Faktor tingkat pendidikan memiliki hubungan yang bersifat lemah dengan angka kejadian nyeri kronik pasca operasi bedah mayor. Akan tetapi, faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan tidak berhubungan dengan angka kejadian nyeri kronik pasca operasi bedah mayor.
Manajemen Nyeri Akut Pasca-Kraniotomi Razi Ageng Pratama; Buyung Hartiyo Laksono; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 3 (2020): September
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.03.04

Abstract

Kraniotomi adalah sebuah prosedur operasi umum divisi bedah saraf yang melibatkan pembuatan lubang yang cukup pada tempurung kepala atau tengkorak (cranium) untuk akses optimal ke intrakranial. Nyeri pasca kraniotomi adalah komplikasi berulang dari prosedur bedah saraf dan sulit untuk dikelola. Manajemen nyeri akut sangat penting untuk menghindari terjadinya nyeri kronik serta komplikasi seperti hipertensi dan muntah, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial maupun perdarahan intrakranial, outcome pasien yang tidak baik, dan perpanjangan masa rawat inap. Pemilihan obat dalam manajemen nyeri akut pasien pasca kraniotomi merupakan hal yang sangat penting dikarenakan dapat menentukan morbiditas dan mortalitas pasien.
Thoracic Paravertebral Block (TPVB) Sebagai Teknik Anestesi yang Aman dan Nyaman untuk Torakoskopi Vilda Prasastri Yuwono; Ristiawan Muji Laksono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 3 (2020): September
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.03.05

Abstract

Latar belakang: Thoracoscopy atau evaluasi ruang torak merupakan standard diagnosis untuk efusi pleura dan dapat juga digunakan untuk mengambil sampel tumor secara biopsi. Anestesi lokal umum digunakan untuk thoracoscopy, namun sering menyebabkan nyeri karena adanya incomplete block. Thoracic Paravertebral Block (TPVB) yang menawarkan blok unilateral secara keseluruhan dan memiliki efek analgesia jangka panjang dapat digunakan sebagai teknik anestesi pada Thoracoscopy.Kasus: Pasien wanita 44 tahun, berat badan 32 kg, tinggi 155 cm didiagnosa susp keganasan Lung Carcinoma, efusi pleura massive, anemia (Hb 8), Hipoalbumin (2,95), underweight (BMI 14,2), dan riwayat asma. Pasien mendapat tindakan Thoracoscopy biopsi. Thoracic Paravertebral Block dilakukan dengan teknik blind berdasarkan landmark tulang dengan predetermined teknik. Jarum diinsersikan pada ligament costo-transverse superior 1-1,5 cm dari batas superior vertebral transverse. Agen anestesi yang digunakan adalah 9 ml bupivacaine 0,5% (masing-masing 3 ml pada T3, T4, T5). Thoracic Paravertebral Block memberikan efek analgesia selama tindakan dan setelah tindakan thoracoscopy hingga 12 jam dengan Visual Analog Scale rendah selama thoracoscopy.Kesimpulan: Thoracic Paravertebral Block sangat efektif, nyaman, dan aman untuk tindakan thoracoscopy dengan mampu memberikan efek analgesia selama tindakan dan setelah tindakan thoracoscopy hingga 12 jam. 
Perbandingan Outcome Teknik Spinal Anestesi Dosis Rendah Dibandingkan Dosis Biasa pada Sectio Caesarea Darurat Di Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Vidya Sulistyawan; Isngadi Isngadi; Ristiawan Muji Laksono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 2 (2020): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.02.02

Abstract

Latar belakang: Sectio caesarea (SC) adalah operasi darurat terbanyak pada obstetrik. Spinal anestesia direkomendasikan untuk section cesarean. Akan tetapi, ffek samping spinal anestesia tersering (hipotensi) dapat menimbulkan efek samping fetomaternal. Spinal anestesia dosis rendah diduga dapat mengurangi efek samping spinal anestesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan outcome spinal anestesia dosis rendah dibanding dosis biasa pada operasi section cesarean darurat.Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif pada 119 pasien yang menjalani  SC dengan spinal anestesia. Kelompok A mendapat bupivacaine heavy 5mg + adjuvant (dosis rendah), kelompok B mendapat bupivacaine heavy 7,5mg + adjuvant (dosis rendah), kelompok C mendapat bupivacaine heavy >8mg + adjuvant (dosis biasa). Outcome diteliti yaitu tekanan darah dan nadi ibu menit ke 0,3,6,9. waktu capai ketinggian blok T10-T6, Bromage score, dan Apgar score bayi. Data penelitian dianalisa statistik menggunakan uji normalisasi dan homogenitas, Korelasi Spearman, One-Way ANOVA, Kruskal wallis dan Mann Whitney dengan p≤0,05.Hasil:  Tidak ada beda yang signifikan antara tekanan darah dan nadi pada menit ke 0,3,6, dan 9, waktu capai Bromege 2-3 (p ≥ 0,05), waktu capai T10-T6 (p≥ 0,05) dan Apgar score pada ketiga kelompok penelitian. Akan tetapi waktu kembali Bromage 0 kelompok spinal dosis rendah  dan dosis biasa memiliki beda yang signifikan (p  ≤0,05).Kesimpulan: Outcome tekanan darah, nadi, waktu capai blok T10-T6, bromege score 2-3, Apgar score tidak berbeda signifikan pada spinal anestesia dosis rendah dibanding dosis biasa. Waktu kembali bromege 0 berbeda signifikan pada spinal anestesia dosis rendah dibandingkan dosis biasa.
Delta Inferior Vena Cava Index Correlated with Mean Arterial Pressure (MAP) in Spinal Anesthesia Wiwi Jaya; Ulil Abshor; Buyung Hartiyo Laksono; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 2 (2021): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.02.04

Abstract

Background: Spinal anesthesia has become an alternative to general anesthesia. However, spinal anesthesia has the most common side effects including, bradycardia and hypotension. The aim of this study was to determine the relationship between changes in the inferior vena cava index (delta inferior vena cava index) to changes in mean arterial pressure in spinal anesthesia.Methods: This study was an observational pre-post test study in thirty-two patients who received spinal anesthesia. The inferior vena cava index (inferior vena cava collectibility index and caval-aorta index) was measured before and after spinal anesthesia (5 and 10 minutes after onset). Data were analyzed using the Kolmogorov Smirnov test, Shapiro-Wilk test, T-test, and correlation test with α=5%Result: There was a significant difference in mean arterial pressure (MAP), delta inferior vena cava collectibility index (D-IVC-CI), and delta caval-aorta index (D-CAo-I) before and after spinal anesthesia. D-IVC-CI and D-CAo-I are significantly correlated with MAP. The correlation between D-IVC-CI and MAP had R = -0.371 (P <0.05) at 5 minutes post-anesthesia, while D-CAo-I and MAP had R = 0.472 (P <0.05) at 10 minutes post-anesthesia. Conclusion: The delta inferior vena cava index is correlated with the mean arterial pressure (MAP) value in spinal anesthesia.
Anestesi Epidural Thorakal pada Operasi Thorakotomi Dekortisasi pada Pasien dengan Tuberkulosis Pyopneumothorax Dendy Dwi Ramadhani; Taufiq Agus Siswagama
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.07

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis pyopneumothorax adalah kejadian yang mengarah pada komplikasi parah dan serangkaian tantangan pengobatan terutama dalam manajemen anestesi. Penggunaan teknik epidural thorakal telah mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan operasi abdomen, thorakal dan kardiovaskuler. Tujuan dari penggunaan anestesi epidural thorakal tidak semata untuk menghalangi rangsangan nyeri melalui serabut saraf afferent luka operasi tetapi juga simpatektomi yang selektif pada daerah thorakal. Kombinasi dengan teknik anestesi umum akan mengurangi kedalaman anestesi, kondisi hemodinamik yang lebih stabil dan pemulihan lebih cepat. Kasus: Seorang laki-laki usia 52 tahun, dengan diagnosis pyopneumothorax spontan dan tuberculosis paru, menjalani operasi thorakotomi dekortikasi dengan anestesi umum dikombinasi epidural thorakal. Anestesi epidural dilakukan dengan cara pendekatan median setinggi vertebra T7-T8 dengan target blok T2-T6, dan insersi dengan cara loss of resistancepada kedalaman 3,5 cm dan kateter sedalam 6 cm. Setelah dilakukan test dose negatif, dilanjutkan dengan intubasi endotrakeal menggunakan double lumen tube. Ropivacaine 0,375 % 6 ml+ fentanil 50 µg diberikan ke dalam kateter epidural. Selama operasi ditemukan kondisi yang stabil dengan tingkat sedasi cukup dalam. Kesimpulan: Teknik anestesi epidural thorakal memiliki efek yang menguntungkan seperti analgesia, kejadian perubahan hemodinamik yang minimal dan risiko komplikasi pascaoperasi yang lebih rendah. Hal tersebut bermanfaat dalam tindakan bedah thoraks dan tatalaksana nyeri pascaoperasi.
Anestesi Low-Dose Spinal dan Epidural pada Pasien Syok Hemoragik yang akan Dilakukan Histerektomi dengan Suspek COVID-19 Aulia Nailufar Rizki; Isngadi Isngadi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.06

Abstract

Latar belakang: Syok hemoragik atau kondisi hipovolemia berat merupakan kontraindikasi anestesi neuraxial. Anestesi regional baik spinal maupun epidural merupakan pilihan utama untuk operasi obstetri ginekologi dengan COVID-19, untuk menghindari manipulasi jalan napas dan meminimalkan tindakan aerosol serta mengurangi risiko transmisi virus antara pasien dan tenaga kesehatan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien yang mengalami syok hemoragik dengan kecurigaan COVID-19 yang dilakukan histerektomi darurat, menggunakan kombinasi anestesi spinal dosis rendah dan epidural.Kasus: Perempuan 38 tahun dengan keluhan utama pendarahan aktif pervaginam, dengan riwayat demam datang ke IGD reguler dalam keadaan syok hemoragik dan dilakukan resusitasi cairan, transfusi darah, dan vasopressor. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia, trombositopenia, neutrofilia, limpofenia, peningkatan NLR, hipoalbuminemia; peningkatan CRP dan procalcitonin. X-Ray thorax menunjukkan pneumonia tipikal kesan viral. Penapisan pre-hospital dan intra-hospital menunjukkan kecurigaan infeksi COVID-19. Pasien direncanakan histerektomi darurat dengan anestesi spinal dosis rendah dan epidural di kamar operasi incovit. Paska operasi pasien dirawat di ruang IGD dikarenakan ruang rawat dan ICU incovit penuh. Hemodinamik paska operasi stabil, vasopressor dihentikan. Setelah swab 2 hari berturut-turut didapatkan hasil negatif dan pasien dipindahkan ke ruang rawat reguler.Kesimpulan: Pasien syok hemoragik disertai kecurigaan COVID-19 dengan tindakan histerektomi dapat dilakukan anestesi kombinasi spinal dosis rendah dan epidural, serta memberikan outcome yang baik.   

Page 2 of 13 | Total Record : 125