cover
Contact Name
Hafizh Al Fikri
Contact Email
hafizalfikri@ikj.ac.id
Phone
+6281380151716
Journal Mail Official
jurnal@senirupaikj.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta Kompleks Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No. 73, Cikini Kec. Menteng Kota Jakarta Pusat, 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Senirupa Warna (JSRW)
ISSN : 23551682     EISSN : 26857618     DOI : https://doi.org/10.36806
JSRW supports the vision and mission of FSR-IKJ to publish works of a scientific nature within FSR-IKJ and beyond. Works published must discuss discourses of arts (either fine or applied) in the fields related to visual aspects, such as fine arts, design, craft, visual narratives, and forms of art that utilize the new media.
Articles 147 Documents
PEMETAAN DESTINATION BRANDING KEPULAUAN SERIBU Adityayoga Gardjito
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 6 No. 2 (2018): Seni dan Transformasi
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v6i2.100

Abstract

Abstrak: Dengan meningkatnya industri pariwisata saat ini, maka terjadi kompetisi antar tempat tujuan wisata untuk menarik pendatang sebanyaknya, hal ini ditempuh dengan cara meningkatkan daya tariknya. Konsep dasar dari destination branding adalah menawarkan tempat-tempat tujuan wisata tersebut memiliki identitas yang berbeda dari tempat-tempat lainnya. Penciptaan identitas yang terintegrasi di berbagai aspek akan menciptakan presepsi yang kuat dan menjadi modal utama dalam mempromosikan daerah tersebut. Penelitian ini memetakan dan memaparkan variable-variabel destination branding yang dimiliki oleh Kepulauan Seribu, yang dapat menjadi dasar untuk ke depannya dapat menciptakan destination branding Kepulauan Seribu. Abstract: With the increase in the tourism industry today, there is competition between tourist destinations to attract as many tourist as possible which is done by increasing its attractiveness for visitors. The basic concept of destination branding is to offer these tourist destinations have identities that are different from other places. Identity creation that is integrated in various aspects will create a strong perception and become the main capital in promoting the area. This research maps and describes the destination branding variables of the Thousand Islands, which can be the basis for the future to be able to create the destination branding of the Thousand Islands. Keynote: , , .
MEMBACA MAKNA RUBRIK MODE PADA MAJALAH BAZAAR INDONESIA VERSI DIGITAL Ariani Wardhani
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 6 No. 2 (2018): Seni dan Transformasi
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v6i2.101

Abstract

Abstrak: Majalah Bazaar merupakan salah satu majalah yang berpengaruh dalam mode dan status sosial yang cukup tinggi, selain itu juga berkiblat pada mode dan populer di kalangan para perempuan kelas atas dan pencinta mode dengan target market yang sesuai dengan pembacanya. Majalah Bazaar merupakan majalah franchise yang terbit salah satunya di Indonesia. Mode majalah franchise dari Amerika ini memiliki perbedaan budaya yang saling mengadaptasi antara budaya barat dan timur. Penelitian ini berfokus pada majalah Bazaar digital khusus pada dokumen rubrik mode majalah Bazaar bulan Januari 2018. Majalah digital memiliki elemen-elemen yang sama dengan majalah cetak tetapi dari segi fungsi dan makna sudah pasti berbeda. Pesan yang penting dari media elektronik digital seperti majalah digital Bazaar adalah kemampuannya menghadirkan realitas yang belum pernah dialami sebelumnya. Realitas tersebut antara lain kualitas gambar yang lebih baik dibandingkan dari dunia realitas itu sendiri—yaitu yang terdapat di versi cetak. Analisis semiotika sosial dengan pandangan O’Halloran digunakan untuk membedah tanda-tanda dan menganalisis modalitas dalam teks multimodal. Kekuatan visual pada majalah Bazaar memiliki kolaborasi dalam pembentukan makna visual dengan para pembacanya sesuai target market di Indonesia. Hasil penelitian meperlihatkan bahwa Rubrik majalah Bazaar dibentuk oleh elemen-elemen visual berupa pakaian, aksesori, latar belakang foto, gesture, dan Tipografi. Elemen-elemen visual tersebut saling memiliki relasi dalam menyampaikan pesan visual yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya membentuk struktur posisi Bazaar sebagai majalah gaya hidup. Hasil pembacaan juga memperlihatkan bahwa meskipun majalah Bazaar adalah majalah franchise tetapi tetap menggunakan nilai-nilai ketimuran dalam berbusana dan fashion. Secara sosial yang ada visualisasi yang tergambar pada rubrik mode Majalah Bazaar mewakili keadaan sekarang dengan tema klasik, perempuan tetap cantik dan anggun. Abstract: Bazaar magazine is one of the most influential magazines in the world of fashion. Bazaar name always related to high social status, upper class women and fashion lovers with a target market that fits their readers. Bazaar Magazine is a franchise magazine from USA that published in Indonesia. This magazine has a problem in its cultural orientation. Basically western culture based and should be transformed or adjusted into an eastern, Indonesian based considering the target audiences. This research focuses on digital Bazaar magazine specifically on the Bazaar magazine fashion rubric in January 2018. Digital magazines have the same elements as printed magazines but in terms of function and meaning they are definitely different. An important message from digital electronic media such as the Bazaar digital magazine is that its ability to present reality that has never been experienced before. These realities include image quality that is better than that of the world of reality itself — that is, what is found in the printed version. Social semiotic analysis with O’Halloran’s view is used to dissect signs and analyze modalities in multimodal texts. Visual strength in Bazaar has collaboration in forming visual meanings with its readers according to the target market in Indonesia. The results showed that the Bazaar magazine rubric was formed by visual elements in the form of clothing, accessories, photo backgrounds, gestures, and typography. These visual elements have relations with each other in conveying a visual message that is interrelated with each other forming the structure of the Bazaar’s position as a lifestyle magazine. The results of the reading also show that although Bazaar magazine is a franchise magazine but still uses eastern values in dress and fashion. Socially there are visualizations that are reflected in the fashion column. Bazaar magazine represents the present situation with a classic theme, women remain beautiful and graceful.
Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.102

Abstract

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kata "kriya" masih belum sepenuhnya menghadirkan pemahaman yang sesuai. Kriya atau kerajinan dalam bahasa Inggris disebut "craft". Kata "kriya" atau "craft" merujuk pada pemahaman seputar seni "kerajinan" atau suatu kegiatan yang terkait penggunaan tangan dalam pembuatannya. Secara resmi, lembaga pemerintah menamai lembaga yang menaungi kegiatan terkait kriya dengan "Kerajinan Indonesia"; yang diatur dalam Keputusan Bersama Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 85/M/SK/3/1980 dan Nomor 072b/P/1980 tanggal 3 Maret 1980 tentang Pembentukan Dewan Kerajinan Nasional (Dekaranas). Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekaranasda) kemudian dibentuk atas dasar Surat Keputusan Bersama tersebut. Pengertian "Kerajinan" memiliki implikasi makna.
Transformasi Budaya Madura Sebagai Aplikasi Pada Jaket Denim Ayu Mutiara Ramadhani
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.103

Abstract

Abstrak: Setiap kelompok masyarakat memiliki karakteristik khas yang berbeda dari kelompok masyarakat lainnya. Hal tersebut juga terdapat pada masyarakat Madura. Karakteristik tersebut selanjutnya dapat diwujudkan menjadi karya. Cara visualisasi dan aplikasi kebudayaan Madura ke dalam material tekstil pada tren busana casual jaket denim menjadi permasalahan penelitian ini. Tujuh unsur kebudayaan dari Koentjaraningrat dan eksplorasi visual digunakan sebagai landasan teori penelitian. Metode kualitatif berupa model artistic research sebagai bagian dari proses kreatif penulis diterapkan pada proses perwujudan karya penelitian. Karya kriya tekstil berupa aplikasi desain yang merupakan representasi visual tujuh unsur kebudayaan Madura pada jaket denim menjadi hasil dari penelitian ini. Abstract: Each community group has unique characteristics that are different from other community groups. This is also found in the Madurese community. These characteristics can then be translated into works. The visualization and application process of Madura culture into textile material in the denim jacket casual clothing trends is the problem of this research. The seven elements of Koentjoroningrat’s culture theory and visual exploration are used as basic theories for this research. The qualitative method in the form of artistic research model as part of the author's creative process is applied to the process of realizing research work. A textile craft work in the form of a design application which is a visual representation of seven elements of Madura culture on denim jackets is the result of this research.
Kajian Persyaratan Ekspor Produk Kriya Rangka Sepeda Kayu (Standar Ekspor Uni Eropa) Bhaskara Haqa Wicaksono
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.104

Abstract

Abstrak: Penelitian ini merupakan penelusuran terhadap karya kriya berupa rangka sepeda kayu dengan standar persyaratan ekspor Uni Eropa. Dalam penelusuran tersebut dijumpai beberapa persoalan yang dapat dikaji dengan teori fungsi dan perancangan, yaitu keperluan (need) suatu benda dengan contoh kebijakan antara pembuat benda dengan konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research led practice yaitu persyaratan yang ada ditelusuri dan diterapkan dengan desain rangka sepeda, hal tersebut berupaya menghasilkan wacana mengenai persyaratan ekspor terhadap benda kayu. Dalam hal ini objek penelitian merupakan hasil karya berupa rangka sepeda kayu yang telah dibuat dengan cara mandiri. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah persyaratan yang harus dilakukan memiliki beragam prosedur dalam penerapannya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditemukan celah yang dapat dijadikan peluang untuk proses penciptaan selanjutnya. Abstract: This research is a search of craft work which is a wooden bicycle frame with European Union export standard requirements. The search leads to several discussions on function and design theory; the needs of objects with examples of policies of the creator toward the consumers. The method used in this research is a practice-led research that is requirements that are traced and applied with a bicycle frame, it is needed to produce a discourse about export requirements for wood objects. In this case the research object is a work consisting of wooden bicycles made independently, the conclusion in this study is a requirement that must be done with a variety of procedures in its implementation. Based on the results of these studies, we can find differences that can be made as opportunities in the subsequent acquisition process.
Logam Perhiasan Sebagai Ekspresi Seni Kontemporer Dhyani Widiyanti Hendranto
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.105

Abstract

Abstrak: Seni kontemporer seringkali muncul karena respon terhadap dunia global yang memiliki budaya yang beragam dan teknologi yang maju. Seni kontemporer juga dapat menjadi cerminan atas masalah-masalah dunia modern yang kompleks saat ini. Termasuk di dalamnya seni yang terkait dengan perhiasan. Perhiasan sendiri telah berevolusi dari waktu ke waktu. yang awalnya berfungsi sebagai tanda kekayaan ataupun perhiasan terkait kebutuhan agama atau tradisi tertentu telah berevolusi menjadi potongan-potongan yang hanya bersifat dekoratif akhirnya dianggap sebagai hiasan. Lebih jauh lagi perhiasan dapat dilihat juga sebagai bentuk ekspresi seni kontemporer. Terkait dengan material yang digunakan untuk mengekspresikan perhiasan tersebut menjadi bentuk seni kontemporer, Karya perhiasan ini mengambil material logam sebagai material utama penciptaan. Mengingat jenis logam dan sifat logam dapat mudah ditemui pada kehidupan sehari-hari saat ini. Selain itu juga dilakukan pengembangan pada bentuk, sebagai penyampaian pesan estetik bentuk yang kekinian. Abstract: Contemporary art often arises because of the response to a globalized world that has a diverse culture and advanced technology. Contemporary art can also be a reflection of the complex problems of the modern world today. This includes art related to jewelry. Jewelry itself has evolved from time by time. Which originally functioned as a sign of wealth or jewelry related to certain religious or traditional needs, has evolved into only decorative pieces, and finally, are considered as ornaments. Furthermore, jewelry can also be seen as a form of contemporary art expression. Regarding the material used to express the jewelry into a contemporary art form, this jewelry work takes metal as the main material of creation. Given the type of metal and metal properties can be easily found in everyday life today. Besides, it also developed the form, as an aesthetic message of contemporary form.
Potensi Kriya di Kabupaten Sumba Barat Daya Lusiana Limono
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.106

Abstract

Abstrak: Sumba Barat Daya memiliki potensi budaya yang sangat mumpuni. Mulai dari hasil kriya berupa tenun Hinggi dan Lau, perhiasan manik dan logam, juga ritual adat Pasola. Sayangnya, hal itu masih kalah pamor dengan potensi di wilayah Sumba Timur. Salah satu keunikan karya tenun Sumba Barat Daya ialah nuansa yang statis dan warnanya yang terbatas. Upaya pariwisata yang semakin ramai tentunya membangkitkan roda perekonomian masyarakat. Namun, komoditas tenun dan kerajinan Sumba Timur yang mumpuni mengakibatkan roda perkenomian yang lebih baik dibandingkan Sumba Barat. Meskipun upacara Pasola sering digelar di Sumba Barat Daya dan banyak turis datang, hasil kriya dan tenunnya kurang berkembang dan diminati pasar. Program “Seniman Mengajar” selain untuk mendukung kegiatan tahunan, diharapkan hal itu mampu mengembangkan produk kriya agar tidak timpang dengan wilayah lainnya. Selain itu, kolaborasi berkesenian dilakukan lebih intensif, bersama seniman tari dan komunitas yang ada di sekitar Rumah Budaya Sumba melalui garapan tari, penataan kostum dan rias. Abstract: Southwest Sumba has a highly qualified cultural potential. Starting from the results of handicrafts in the form of Hinggi and Lau weaving, bead and metal jewelry, as well as Pasola traditional rituals. Unfortunately, it is still less prestigious than the potential in the East Sumba region. One of the unique works of Southwest Sumba is the static nuance and limited color. Increasingly crowded tourism efforts certainly raise the wheels of the people's economy. However, weaving and handicraft commodities in East Sumba are capable of producing better economic wheels than West Sumba. Although the Pasola ceremony is often held in Southwest Sumba and many tourists come, the handicrafts and weaving are underdeveloped and in demand by the market. In addition to supporting annual activities, the "Seniman Mengajar” program is expected to be able to develop craft products so that they are not lame with other regions. In addition, artistic collaboration is carried out more intensively, with dance artists and communities around the Sumba Cultural House through dance, costume and makeup arrangements.
Sentra Kerajinan Gerabah di Malang Rahayu Pratiwi
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.107

Abstract

Abstrak: Kota Malang sebagai kota terbesar kedua Jawa Timur, memiliki sejarah panjang, sejak jaman prasejarah. Kota Malang memiliki banyak artefak peninggalan masa lampau yang masih dapat ditemukan, yang memperlihatkan bagaimana penggunaan gerabah sejak masa lampau. Industri gerabah di Kota Malang sendiri masih ada dan tersebar di beberapa desa. Namun sayangnya saat ini gerabah Malang kurang dikenal oleh masyarakat luas. Gerabah Malang masih kalah populer dengan Gerabah Kasongan (Jawa Tengah) dan Plered (Jawa Barat). Penelitian melalui metode observasi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak industri gerabah yang ada di Malang dan sejauh mana Industri gerabah tersebut memenuhi kebutuhan masyarakat dan bagaimana perannya bagi Kota Malang. Penelitian ini memperlihatkan sentra-sentra kerajinan Gerabah di Kota Malang dan produk yang dihasilkannya. Abstract: Malang City as the second largest city of East Java has a long history, since prehistoric times. Malang City has many artifacts from the past that can still be found. The facts shows how the pottery used in the past. The pottery industry in Malang City itself still exists and spread in several villages. But now, unfortunately, the Malang pottery is less known by the public. Malang Pottery is less popular than Kasongan Pottery (Central Java) and Plered Pottery (West Java). Research conducted through this observation was carried out to find out how many pottery industry is still existed in Malang and the extent to which the Pottery industry meets the needs of the community and how is its role in Malang. This research shows the pottery craft centers in Malang City and the products they produce.
Varian Sepatu Wedges (Inspirasi Semangat Moana) Renisa Cantiputri
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.108

Abstract

Abstrak: Karya sepatu wedges lahir dari “rasa” yang berasal dari enam karakter film Moana, diwujudkan melalui material yang berasal dari karakter sifat Moana. Enam karakter tersebut: bertumbuh, kemandirian, pelindung, kelembutan, pemersatu dan kekuatan. Enam karakter tersebut tercipta melalui material: rotan, kayu, kain, resin, serat kayu, dan daun, dengan sistem teknik penyambungan seperti: anyaman, pressing, joint, lilitan dan cetakan. Perwujudan sepatu merupakan karya ekspresi secara subjektif terhadap respon dari karakter cerita pada film Moana. Varian sepatu wedges ini merupakan karya pakai dalam ranah mode yang dibutuhkan oleh perempuan sebagai identitas diri yang dapat dipakai pada acara tertentu. Menggunakan konsep estetika dari V.S Ramachandran tentang ‘rasa’, maka proses kreatif ini dapat terwujud melalui karakter Moana ke dalam sepatu wedges. Abstract: The artworks of wedges shoes are born from “rasa” based on the six characters of Moana film presented through the materials of Moana’s characters. The six characters are: evolve, independent, protector, softhearted, unifier, and strong. All these six characters are made through materials: rattan, wood, fabric, resin, wood fiber, and leaves, with the connector systems such as woven, pressing, joint, coil and mold. The shapes of shoes are the subjective expression of the story characters of Moana film. These wedges shoes variants are women’s fashion as the identities that can be wear at certain events. V.S Ramachandran’s concept about ‘rasa’ used on this creative concept, the creative process came off through Moana’s characters into the wedges shoes.
Penyajian Koleksi Museum Sejarah dan Budaya Kota Malang Indah Tjahjawulan; Adityayoga Gardjito
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.110

Abstract

Abstrak: Tata pamer atau penyajian koleksi menjadi bagian penting dalam menginformasikan atau memberikan edukasi bagi pengunjung pada sebuah museum. Tata pamer dapat menggambarkan atau menceritakan pesan dari sebuah museum. Kota Malang merupakan kota yang memiliki museum yang cukup banyak, baik museum yang dikelola oleh lembaga pemerintahan, maupun lembaga swasta dan atau milik pribadi. Terbanyak adalah museum yang memiliki koleksi berkaitan dengan sejarah dan budaya. Penelitian ini akan memetakan museum di Kota Malang, yang memiliki koleksi terkait kesejarahan dan budaya, selain itu narasi utama yang ingin disampaikan oleh museum tersebut, narasi kecil yang mendukung, dan kondisi tata pamer yang ada. Penelitian awal dilakukan dengan cara mendata seluruh museum yang ada, membuat klasifikasi jenis museum dan koleksi yang dimiliki, menentukan museum yang akan diteliti. Tiga (3) museum dengan koleksi yang berbeda menjadi sampel penelitian untuk dapat menemukan pola penyajian pada masing-masing museum. Memotret seluruh kondisi tata pamer yang meliputi alur, pemilihan artefak, penempatan, grafis pendukung, elemen pendukung dan tata cahaya. Analisis yang dilakukan adalah analisis visual dari seluruh unsur yang membangun tata pamer, dan mencari relevansinya dengan narasi besar maupun narasi kecil yang ingin disampaikan. Hasil penelitian diharapkan dapat memetakan pola-pola penyajian dan memberikan pemahaman bagaimana relevansi tata pamer, dengan wacana yang ingin disampaikan oleh sebuah museum. Abstract: Exhibition arrangement becomes an important part of informing or educating visitors to a museum. Exhibition arrangement in a museum describes or conveys messages. Malang is a city that has a lot of museums that are managed by government agencies, corporates and privates. The themes of the museums in Malang mostly related to history and culture. This research will map the design of the museum's exhibition arrangement in Malang and also the the narrations of the exhibitions. Initial research is done by listing all the exhibition arrangements of the museums, making the classification of museum types and collections owned, and determining which museums to be studied. Analysis begun with taking picture of the the entire existing exhibitions and describing the concepts of the visitors walk flow, selection of artifacts, placement, supporting graphics, supporting elements and tata cahaya. The analysis is a Visual Analysis of all the elements that build the whole showroom and find its relevance to the narrations conveyed. The results are an understanding of how the relevance of the exhibition arrangements with the discourse to be conveyed by a museum.

Page 8 of 15 | Total Record : 147