cover
Contact Name
Hafizh Al Fikri
Contact Email
hafizalfikri@ikj.ac.id
Phone
+6281380151716
Journal Mail Official
jurnal@senirupaikj.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta Kompleks Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya No. 73, Cikini Kec. Menteng Kota Jakarta Pusat, 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Senirupa Warna (JSRW)
ISSN : 23551682     EISSN : 26857618     DOI : https://doi.org/10.36806
JSRW supports the vision and mission of FSR-IKJ to publish works of a scientific nature within FSR-IKJ and beyond. Works published must discuss discourses of arts (either fine or applied) in the fields related to visual aspects, such as fine arts, design, craft, visual narratives, and forms of art that utilize the new media.
Articles 147 Documents
Coworking Space: Pergeseran Makna Ruang dan Pola Kerja Masyarakat Urban di Jakarta Ardianti Permata Ayu; Lily Wijayanti
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.111

Abstract

Abstrak: Seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi, maka aktivitas masyarakat—khususnya masyarakat urban—pun menjadi lebih cepat, mobile, serta melampaui batasan ruang. Hal tersebut memicu terjadinya jenis-jenis pekerjaan yang juga mobile, yang tidak memerlukan kantor sebagai tempat bekerja secara khusus. Penggunaan ruang kerja yang kompleks tidak lagi diperlukan untuk beberapa pekerjaan tersebut, karena penyimpanan data dan pengarsipan sudah dapat disimpan dalam ruang virtual. Hal ini menyebabkan adanya kecenderungan pola kerja yang berubah. Beberapa pekerjaan menjadi semakin liat, tidak lagi harus mengikuti sistem rantai kerja (ekosistem) yang bersifat hierarkis, melainkan sistem kolaboratif yang bersifat horizontal. Adanya konsep bekerja dengan sistem sosialisasi dan kolaborasi dalam berbagai bidang tersebut diterapkan dalam wujud budaya knowledge sharing. Maka kemudian, muncullah ide-ide kreatif untuk menciptakan ruang bekerja yang dapat mengakomodir permasalahan urban tersebut di atas sekaligus juga ruang bekerja yang memiliki suasana ruang yang nyaman dan santai, yaitu ruang bekerja yang disebut dengan coworking space. Penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan cultural studies, mencoba mengkaji bagaimana dengan adanya coworking space, maka pergeseran makna dan fungsi ruang (ruang bekerja) terjadi, sehingga dapat dilihat bagaimana proses dinamika perubahan pola kerja sebagai kebudayaan dalam masyarakat urban terjadi, khususnya di Jakarta, yang kemudian direpresentasikan dalam desain model ruang kerja coworking space. Abstract: The rapid development of technology has affected the activities of urban communities, which is becoming more mobile, including work activities. It triggers the types of jobs that are also mobile, which do not require an office as a place to work specifically. The use of complex workspaces is no longer needed for some of these jobs, because data storage and archiving can already be stored in virtual space. Some jobs are becoming more fluid, no longer have to follow a hierarchical chain of work (ecosystem) system, but rather a horizontal collaborative system. The concept of working with collaboration systems in various fields is applied in the form of a knowledge sharing culture. Based on this, then coworking space appears as a workspace that can accommodate the work activities of urban communities.This study by using qualitative research methods and cultural studies approaches, try to examine how the meaning and function of space (work space) has shifted in coworking space, so that it can be seen how the dynamic process of changing work patterns as culture in urban society occurs, especially in Jakarta, which is represented in the design of coworking space work space models.
Pemaknaan Tata Ruang Interior Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Ika Yuni Purnama
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.112

Abstract

Abstrak: Secara umum bangunan Museum Kebangkitan Nasional masih mencerminkan suasana sekolah kedokteran STOVIA. Sekolah STOVIA, Sekolah Dokter Jawa menandai era ilmu kesehatan, dari penyembuhan berbasis tradisi ke arah pengobatan modern. Museum ini, tidak dapat dipisahkan dari sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia dan sejarah Rumah Sakit Militer (sekarang R.S. Gatot Subroto), Sekolah Kedokteran di Salemba dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Selain itu juga berbagai gerakan yang mengerucut menjadi gerakan kebangsaan dan kemerdekaan di tahun 1928 dan 1945 dengan pemicu Boedi Oetomo. Dari hasil observasi langsung, ketiga konteks tersebut pada Museum Kebangkitan Nasional dipaparkan dengan jelas melalui pengaturan tata ruang interior yang terbagi dan terorganisir dengan baik. Terdapat berbagai ruang peragaan yang mewakili setiap cerita bersejarah terkait sejarah kebangkitan nasional Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang bentuk tata ruang interior dan pemaknaan sejarah pendidikan khususnya bidang kedokteran di Indonesia sehingga menambah pengetahuan mengenai desain interior museum, khususnya Museum Kebangkitan Nasional sebagai wahana pelestarian warisan budaya sejarah bangsa. Abstract: In general, the National Awakening Museum building still reflects the atmosphere of the STOVIA medical school. The establishment of the STOVIA School, the Javanese Medical School which marks the era of health science, from tradition-based healing to modern medicine. This museum, can not be separated from the history of medical education in Indonesia and the history of the Military Hospital (now R.S. Gatot Subroto), the Medical School in Salemba and Cipto Mangunkusumo Hospital. Besides, various movements that narrowed to become a nationalism and independence movement in 1928 and 1945 with trigger Boedi Oetomo. From direct observation, the three contexts at the National Awakening Museum are clearly explained through their well-organized and well-organized interior spatial arrangements. There are a variety of demonstration spaces that represent each historical story related to the history of Indonesia's national revival. The purpose of this study was to obtain data on the form of interior spatial planning and the meaning of educational history, especially in the field of medicine in Indonesia, to increase knowledge about the museum's interior design, specifically the National Awakening Museum as a vehicle for preserving the nation's cultural heritage.
Perkembangan Signage Statis Permanen di Halte Transjakarta: Halte Transfer Grogol 1 - Grogol 2 Moelyono Rahardjo
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.113

Abstract

Abstrak: Signage, sebagai Passenger Information System dalam sistem Bus Rapid Transit (BRT) pada halte Transjakarta: halte Grogol 1 - Grogol 2 tampilannya tidak koheren dan tidak berkesinambungan. Keragaman tampilan signage statis permanen ditelusuri dengan mengaitkannya dengan konteks waktu perkembangan sistem dan keberadaan halte. Penelusuran ini diharapkan akan menjadi catatan untuk memahami keragaman tampilan tersebut. Abstract: Signage, as the Passenger Information System in the Bus Rapid Transit (BRT) system at the Transjakarta shelter: Grogol 1 - Grogol 2 stops are incoherent and not contininous. The diversity of permanent static signage displays is traced by linking it to the time context of system developments and the existence of the bus stops. These could become a written knowledge in understanding how the diversity of displays were exist.
Gentrifikasi dan Kota: Kasus Kawasan Cikini-Kalipasir-Gondangdia Sonya Indiati Sondakh; Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.114

Abstract

Abstrak: Jakarta sudah melewati ratusan tahun perkembangan dalam segala aspek. Wilayah-wilayah elite di Jakarta seperti Menteng dan Kebayoran sudah berubah, apalagi wilayah yang baru berkembang belakangan. Jakarta telah berkembang hampir tak terkendali menjadi kota besar dengan segala permasalahannya. Wilayah Menteng, Jakarta Pusat adalah wilayah yang dibangun oleh kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Wilayah ini sejak awal sudah dimaksudkan sebagai wilayah elite. Wilayah elite ini memelihara sejumlah situs bersejarah dan pemukiman yang tertata baik. Bagi generasi-generasi yang hidup dan bersekolah di Menteng pada 1960an dan 1970an wilayah ini merupakan menjadi semacam ruang nostalgia bagi memori kolektif generasi yang masa kecilnya hidup di Menteng, khususnya di wilayah Cikini-Kalipasir-Gondangdia. Ketiga tempat ini saling berdekatan tetapi memiliki ciri khas masing-masing. Pengamatan atas tiga wilayah di Menteng ini akan didekati dengan konsep gentrifikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Abstract: Jakarta has seen hundreds of years of development in all aspects. The districts in Jakarta such as Menteng and Kebayoran have experienced changes since their establishment, not to mention the areas that were developed afterward. The development of Jakarta is so fast making it uncontrollable with all its problems. Menteng, in Central Jakarta, is an area planned and developed by the Dutch colonial in early twentieth century. From the very beginning this area was meant to become an elite area. In its development this area clearly secures its historical sites and its houses are well maintained. For the generations who have lived and went to school in Menteng in the 1960s and 1970s this area is part of the collective memory they shared with many people, especially those lived in Cikini-Kalipasir-Gondangdia. These three areas are adjacent to each other but, interestingly, they develop quite differently. The observation of these three areas will be approached using the gentrification concept in urban area. This research uses descriptive qualitative method with ethnographic approach.
Masker Sebagai Budaya Baru Tren Fesyen di Indonesia Adlien Fadlia
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren pemakaian masker pada masa pandemi COVID-19. Metode penelitian Kualitatif dengan riset yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Teknik pengambilan data diperoleh dari pengamatan dan sumber berita fesyen dimasa pandemi Covid -19. Penggunaan masker pada masa pandemi menjadi kebutuhan kesehatan sebagai menutup mulut dan hidung, tetapi juga didesain dengan warna dan bahan yang menarik. Perancang busana terkenal juga membuat desain masker, yang tidak hanya berfungsi untuk kesehatan tetapi juga sebagai pelengkap fesyen desain. Masker dibuat dengan bermacam-macam bahan kain, motif, warna serta detail yang menarik. Berbagai motif mulai dari motif batik, motif flora, motif kartun dan motif lainnya. Masker juga tampil dengan warna-warna yang dikombinasi sehingga menghasilkan variasi warna yang semarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) penggunaan masker telah menjadi budaya masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan; (2) masker telah menjadi industri kreatif bidang fesyen; dan (3) pada perkembangan selanjutnya, desain masker dapat mengikuti tren fesyen yang meliputi variasi motif, bentuk maupun warna. Disarankan, hendaknya penggunaan masker yang baik dan benar dapat mencegah penularan COVID-19. Masker sebagai pelindung kesehatan tidak hanya bergerak mengikuti tren fesyen tetapi juga tetap memperhatikan fungsi utama sebagai pelindung kesehatan diri. This research aims to analyze the use of face mask during the COVID-19 pandemic. Through analytic- descriptive method, literature data was collected from various news sources thus the nature of this study is qualitative with phenomenological approach. The use of face mask during the pandemic is a health necessity whereas the mouth and the nose area are covered to prevent any virus transmission. Other than being the requisite safety measure during the pandemic, face masks are also available in various types of fabric, color and designs. Some of the most popular patterns observed in this study are the batik pattern, floral, and illustrations. This research shows that the use of face mask has becoming a society’s culture whether in a metropolitan or rural settings, face masks has its own category in the creative fesyen industry, and in the following years face masks design would follow the upcoming fesyen trens. It is advised to properly wear functionally working face masks that are meant to stop the COVID-19 from spreading, thus the need for masks to be equally utilitarian and decorative.
Kajian Psikobiografi Seniman dan Aspek Dekonstruksi dalam karya rupa: Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, Dan Ugo Untoro Dhyani Widiyanti
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.117

Abstract

Analisis atas karya rupa tidak hanya bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk formal yang ada di dalam karya rupa itu sendiri saja, melainkan bisa juga melalui pembacaan secara psikologis dari kehidupan dan latar belakang seniman. Penelitian ini berupaya menelusuri aspek psikobiografi dari seniman Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, dan Ugo Untoro, untuk menemukan aspek dekonstruksi dalam karya-karyanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur. Observasi dilakukan terhadap enam karya rupa dari tiga seniman tersebut, sementara studi literatur digunakan terhadap dua jenis teks yaitu yang pertama, teks yang berkaitan dengan kehidupan seniman yang disarikan dari berbagai sumber dan yang kedua adalah teks yang berkaitan dengan psikobiografi dan dekonstruksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Christine Ay Tjoe, aspek psikobiografi terkait dengan konsep menggambar, alam/ lingkungan, dan kegelapan potensial, pada Angki Purbandono, aspek psikobiografi terkait dengan konsep mesin pemindai, ganja, dan penjara, sementara pada Ugo Untoro, aspek psikobiografi terkait dengan konsep kuda, pelacuran, dan eksplorasi seni sebagai bahasa. Pada ketiganya, dekonstruksi terjadi baik dari segi interiotas yang terhubung dengan perjalanan hidup dan renungan-renungannya yang lepas dari berbagai stereotip, serta dari segi eksterioritas yang terlihat dari perwujudannya dalam karya yang eksploratif dari segi medium maupun penempatan objek yang mencoba untuk tidak taat pada pakem-pakem yang ada. Analysis of a visual work can not only be made by studying the formal forms that exist in the work itself, but it can also be undertaken through a psychological interpretation of the artist's life and background. This study seeks to explore the psychobiographical aspects of artists Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, and Ugo Untoro, to find the deconstruction aspects in their works. This study applies qualitative methods using data collection techniques in observations and literature studies. Observations were made on the six visual-works of the three artists, while literature studies were conducted on two types of texts, viz. first, texts related to the artist's life extracted from various sources and second, texts related to psychobiography and deconstruction. The results of this study indicate that in Christine Ay Tjoe works, psychobiographical aspects are related to the concept of drawing, nature / environment, and potential darkness, in Angki Purbandono’s, psychobiographical aspects are related to the concepts of scanning machines, marijuana, and prison, while in Ugo Untoro’s, psychobiographical aspects are related to the concept of horses, prostitution, and exploration of art as language. In the three of them, deconstruction occurs both in terms of interiority which is connected to the journey of life and reflections that are detached from various stereotypes, as well as in terms of exteriority which can be seen from its manifestation in the exploratory works in terms of medium and the placement of objects that attempts to disobey standards and existing rules.
Imajinasi Pandemi: Bayang-bayang Visual pada Tiga Karya Perupa Kalimantan Hajrian Syah
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.118

Abstract

Pandemi Covid-19 melanda dunia saat ini, yang secara massif menimbulkan kepanikan sosial secara global, termasuk di Indoensia. Fenomena sosial ini berimbas pula pada para perupa, baik pada karya-karya mereka maupun suasana psikologis yang secara tidak langsung berakibat pada bentuk-bentuk karya seni mereka. Penelitian ini berfokus pada karya tiga orang perupa di Kalimantan, yaitu Akhmad Noor, Maui dan Puji Rahayu, yang dalam penelitian ini dianggap dapat mewakili dinamika kesenirupaan di Kalimantan terkini. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif semiotika visual. Karya-karya perupa dilihat simbol-simbol visualnya, untuk kemudian dihubungkan dengan kondisi psikis sosial yang meliputi mereka melalui metode wawancara triangulatif. Dari hasil penelitian ini disimpulkan, bahwa para perupa merespons kondisi sosial mereka, baik secara langsung membuat karya bertema pandemi, maupun tidak langsung dengan tetap produktif berkarya dalam suasana pandemi itu sendiri. Upaya kreatif mereka dengan demikian berkontribusi terhadap bentuk respons kreatif di masa Pandemi dan tampilan yang menguatkan identitas seni rupa Indonesia mutakhir. The Covid-19 pandemic is sweeping the world currently, causing massive social panic globally, including in Indonesia. This social phenomenon also has an impact to the artists, both in their works and on the psychological nuances which indirectly affects the forms of their artworks. This research focuses on the painting of three artists in Kalimantan: Akhmad Noor, Puji Rahayu and Maui, they are representing the dynamics of artistry in Kalimantan today. The method uses a qualitative approach with visual semiotics. The research sees visual symbols in the works of artists, which are linking to the social psychic conditions that encompass them through the triangulative interview method. The research concludes that the artists responses their social conditions, either directly creating works on the theme of pandemics, or indirectly by continuing to work productively in global pandemic itself. Their creative endeavors thus contributed to the form of creative response during the Pandemic and a display that strengthened the identity of modern Indonesian art.
Tantangan Museum Seni di tengah Pandemi Covid-19 Kajian: Pameran Imersif Affandi di GNI, 2020 Bayu Genia Krishbie
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.119

Abstract

Artikel ini berupaya mengkaji peran museum seni di era pandemi Covid-19, khususnya dalam merancang strategi pameran seni rupa berbasis seni media baru (new media art) guna mengatasi keterbatasan akses dan interaksi antar-manusia dalam penyelenggaraan kegiatan pameran. Pemilihan Pameran Imersif Affandi “Alam, Ruang, Manusia”, yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia pada 26 Oktober – 25 November 2020, dengan pertimbangan bahwa pameran ini merupakan salah satu gelaran seni rupa di era pandemi yang berstrategi dengan meminimalkan pelibatan karya seni rupa secara fisik dengan alih-media karya lukisan ke dalam bentuk proyeksi gambar bergerak (video mapping projection). Kajian serupa sebelumnya dilakukan Wegig Murwonugroho, “Surealisme Dalam Jogja Video Mapping Project 2019” yang menggunakan bangunan bersejarah sebagai layar proyeksi video. Kebaruan riset ini terletak pada lingkup kajian, yaitu merespon seluruh ruang dalam Gedung Pameran Utama GNI, melalui karya-karya maestro seni lukis Affandi. Penelitian dengan metode kualitatif ini menggunakan pendekatan analisis Material Culture, yaitu bagaimana gerak sejarah seni rupa dapat dibaca dan dinterpretasikan melalui objek/artefak/benda temuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa GNI sebagai Museum Seni berhasil menghadirkan pameran yang memiliki nilai-nilai kebaruan, inovatif dan eskpresif, berbasis kecanggihan teknologi digital art yaitu melalui sinergitas seni, desain, teknologi dan ilmu pengetahuan.
Dampak Pandemi Covid-19 Mengubah Konsep Tata Letak Furnitur Desain Interior Ruang Belajar di Perguruan Tinggi Sri Fariyanti Pane, M.Sn.
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.120

Abstract

Awal tahun 2020, seluruh dunia dikejutkan dengan fenomena pandemi Covid-19. Fenomena ini berdampak pada kehidupan sosial masyarakat yang menyentuh seluruh sektor. Termasuk imbasnya terhadap dunia pendidikan yang mengalami gangguan dalam proses belajar-mengajar, hingga terpaksa belajar dari rumah dengan menggunakan fasilitas online (daring). Dampak ini mengubah struktur belajar-mengajar di perguruan tinggi, khususnya ruang kelas dan studio tidak lagi digunakan bahkan kampus menjadi ruang belajar tanpa manusia. Peran desain interior memiliki signifikansi dalam mengubah penataan ruang belajar-mengajar sebagai hikmah dari fenomena Covid-19 dengan memperkenalkan konsep baru dalam penataan ruang belajar- mengajar, sekaligus sebagai bagian dari adaptasi New Normal yang mengedepankan faktor kebersihan lingkungan dan jarak sosial sebagai hal utama saat kita berada di dalam ruangan. Prosedur memasuki gedung, model sirkulasi, proses pembelajaran, dan cara-cara berkomunikasi, semua berubah dengan mengurangi kontak langsung antarmanusia. Penelitian ini membahas bagaimana dampak Covid-19 mengubah konsep kreativitas dalam penataan furnitur di ruang belajar masa depan, khususnya perguruan tinggi agar tetap dapat meningkatkan kemampuan intelektual dan keterampilan mahasiswa, serta mengurangi kecemasan masyarakat yang menitipkan anaknya dalam menempuh pendidikan di institusi perguruan tinggi. Dengan menggunakan studi kasus eksplorasi dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif untuk memperoleh informasi data tentang dampak dan konsekuensi pandemi Covid-19, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu solusi desain interior khususnya masalah layout furniture yang berhubungan dengan social distancing dan sirkulasinya. In the early 2020, the whole world was put into shock by the COVID-19 pandemic. This phenomenon affects every part of our social activities. Including the education world, which experiences interruptions in the learning and teaching process; one of being the mandatory in-home learning utilizing the internet. In higher education institutions, this has changed the usual class structures where classrooms and studios are no longer significant, even campuses are now just empty classrooms with no present human. Interior designers have a role in changing the layout of a classroom into the New Normal concept, where hygiene and social distancing are the main priorities. Our old-school ways entering enclosed buildings down to circulation modes, learning process and communicating are no longer viable because we need to reduce direct physical contact to prevent the disease from spreading. This research will be discussing how the COVID-19 will be changing the future layout of our classrooms, in this case for higher education facilities, in hopes of classrooms getting more social again but without the risks. In order to reach this goal, this research explores several case studies with descriptive-analytics approach. Author hopes that this research will provide an interior design solution by proposing feasible furniture layouts and circulation that supports social distancing.
Tugu Talas Bogor: WC Umum Rahasia di Jalan Merdeka Hanan Syahrazad
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 9 No. 2 (2021): Seni, Pandemi dan Kreativitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v9i2.121

Abstract

Patung dan tugu sering dijumpai di taman-taman kota. Salah satunya adalah Tugu Talas yang terletak di sebuah taman di daerah ramai dekat pasar di Jalan Merdeka, Bogor. Umumnya, sebuah patung atau tugu yang terletak di ruang publik menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, maupun sekadar melaluinya. Namun berbeda dengan Tugu Talas yang letaknya tersembunyi di antara pohon-pohon yang lebih besar darinya, sehingga orang-orang yang berlalu lalang tidak menyadari keberadaannya. Kemudian, tugu yang berbentuk umbi khas Bogor ini justru menjadi tempat buang air kecil orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititatif dengan metode analisis deskriptif. Dapat disimpulkan: (1) Tugu Talas telah gagal menjadi sebuah tugu, baik dalam fungsi sebagai pengingat, maupun sebagai penghias taman. (2) Pemerintah Kota Bogor lalai dalam menjaga Tugu Talas dan tamannya, serta penyediaan WC Umum yang minim di kawasan ramai tersebut. Ditambah lagi masyarakat di sekitar pasar kurang ada kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan. Statues and monuments are often found in city parks. One of them is the Talas Monument which is located in a park in a busy area near the market on Jalan Merdeka, Bogor. Generally, a statue or monument located in a public space becomes the center of attention of the people around it, or just passing through it. However, it is different from the Talas Monument, which is hidden among trees that are bigger than it, so that people passing by do not notice its existence. Then, the monument which is shaped like a typical Bogor tuber is actually a place to urinate for people who are active around it. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis method. It can be concluded: (1) The Talas Monument has failed to become a monument, both in its function as a reminder and as a garden decoration. (2) The Bogor City Government is negligent in maintaining the Talas Monument and its gardens, as well as the minimal provision of public toilets in the crowded area. In addition, the community around the market lacks awareness in maintaining environmental cleanliness.

Page 9 of 15 | Total Record : 147