cover
Contact Name
Secretariat of Jurnal Gizi dan Pangan
Contact Email
jgizipangan@gmail.com
Phone
+62251-8621363
Journal Mail Official
jgizipangan@gmail.com
Editorial Address
Department of Community Nutrition, Faculty of Human Ecology, IPB University, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Pangan
ISSN : 19781059     EISSN : 24070920     DOI : 10.25182/jgp
Core Subject : Health,
Jurnal Gizi dan Pangan (Journal of Nutrition and Food) merupakan jurnal ilmiah yang memuat berbagai artikel hasil penelitian dan review (atas undangan) tentang gizi dan pangan, yang terkait dengan aspek biokimia, gizi klinik, gizi masyarakat, pangan fungsional, dan sosial ekonomi serta regulasi dan informasi gizi dan pangan. Jurnal ini merupakan publikasi resmi dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia yang telah terbit sejak tahun 2006. Penerbitan jurnal ini dilakukan secara teratur setahun 3 kali (bulan Maret, Juli, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2012)" : 10 Documents clear
KETAHANAN PANGAN DI KOTA PAGARALAM, PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2001—2010 Frema Apdita; Yayuk Farida Baliwati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.538 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.57-64

Abstract

ABSTRACTThis study aim to analyze the food resouces in Pagaralam District, South Sumatera Province in 2001—2010. The study design was retrospective with secondary data analysis covering policies, budgeting, food production, exports, imports and number of population. Data processing included analysis for production, exports, imports, food availability and food suffiency by trend, line, ratio availability and ratio of imports. Food availability policy and food availability budgeting were analyzed using content analysis. The results indicate increasing of production on some commodities but supply doesn’t fulfill the demand. Food availability increases and energy adequacy has already reached the Minimum Services Standard (90%), but not for intake protein. Desirable Dietary Pattern (DDP) score is still below 90. The food availability policy and budget do not support the General Policy for Food Security 2006—2010 and still focused on water resources management.Key words: energy and protein adequacy, food availabilityABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumberdaya pangan di Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan tahun 2001—2010. Data sekunder terdiri dari kebijakan anggaran, produksi pangan, ekspor dan impor pangan serta jumlah penduduk. Desain penelitian ini adalah retrospektif menggunakan data sekunder. Pengolahan data dimulai dengan menganalisis produksi, ekspor dan impor, ketersediaan pangan dan kecukupan pangan menggunakan analisis tren, analisis garis, analisis rasio ketersediaan dan analisis rasio impor. Kebijakan dan anggaran ketersediaan pangan dianalisis menggunakan analisis isi. Peningkatan produksi beberapa komoditi namun produksi belum mencukupi kebutuhan. Ketersediaan pangan mengalami peningkatan dan kecukupan energi sudah mencapai SPM (90%), akan tetapi kecukupan protein masih defisit. Skor PPH masih di bawah 90. Kebijakan dan anggaran belum sepenuhnya sesuai dengan Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2006—2010 dan masih terfokus pada sektor pengelolaan sumberdaya air.Kata kunci: kecukupan energi dan protein, ketersediaan pangan
INTERVENSI DENGAN PENERAPAN KONSEP MILLENNIUM ECO-VILLAGE DAN PERUBAHAN PERILAKU KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA DI DESA PETIR, KECAMATAN DRAMAGA, KABUPATEN BOGOR Clara Meliyanti Kusharto; Siti Amanah; Ikeu Tanziha; Anna Fatchiya; Nunung Cipta Dainy; Risti Rosmiati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.208 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.65-72

Abstract

ABSTRACTThe research aimed to assess the impact of interventions to the behaviour changes of household food consumption and to search the role of community institutions in accelerating the achievement of the millennium eco-village. The study involved thirty households in Desa Petir, Dramaga Subdistrict, District of Bogor (15 agricultural and 15 non agricultural-households). Pre and post test method was used to analyze the behaviour change, and focused group discussions were conducted to explore initiatives of the community group toward eco-village. The results indicated the changes of expenditure proportion for food and non food. At the agricultural households, changes are from 61.7% to 53.9%, whereas in the non agricultural household, the changes are from 59.9% to 41%. Food consumption for under five children become more diverse, nutritious, and balanced. Life Style on Clean Life and Health (PHBS) on family farmers and non farmers become better. Cooperation between community groups, local leaders, the government, and facilitators could strengthen institution to enable real action towards the millennium eco-village.Key words: food consumption, MDGs, social institutionsABSTRAKTujuan penelitian secara umum adalah untuk mengembangkan model millennium eco-village melalui intervensi prinsip eco-village. Sebanyak 30 keluarga terpilih sebagai subjek yang terdiri dari 15 keluarga petani (KP) dan 15 keluarga non-petani (KNP). Metode penelitian pre dan post digunakan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan peran kelembagaan masyarakat dalam percepatan pencapaian MDGs. Hasil menunjukkan perubahan pada proporsi pengeluaran pangan dan non pangan, yakni pada KP dari 61.7% menjadi 53.9%, sedangkan pada KNP dari 59.9% menjadi 41%. Meskipun perubahan antara kedua kelompok tersebut tidak signifikan, namun terdapat peningkatan dalam kesejahteraan petani. Terjadi perbaikan status gizi balita yang signifikan (p=0.009). Terjadi perubahan konsumsi pangan balita menjadi lebih Beragam, Bergizi, dan Berimbang (3B). PHBS pada KP maupun KNP menjadi lebih baik. Kerjasama antara kelompok masyarakat, pemimpin informal, pemerintah desa, dan kader desa dapat memperkuat kelembagaan sosial.Kata kunci: kelembagaan sosial, konsumsi pangan, MDGs
POLA KONSUMSI PANGAN DAN ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI ANAK STUNTING DAN TIDAK STUNTING 0—23 BULAN Aslis Wirda Hayati; Hardinsyah Hardinsyah; Fasli Jalal; Siti Madanijah; Dodik Briawan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.82 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.73-80

Abstract

ABSTRACTThe objectives of this study were to analyze food consumption, energy, and nutrients intake patterns between stunting and non-stunting in young children of 0—23 months old, using the data from BHR (Basic Health Research) 2010. The data sub-set from BHR 2010 was obtained into e-files form. From 6 634 under-two children 3 539 were screened out due to incompleteness, outlier, and unusual food consumption during data collection. Nutritional status data were processed using the WHO AnthroPlus 2007, while the other data/statistics were processed using the Excel and SPSS for windows. The different on food consumption pattern was performed with Man-Whitney U test. Food consumption, energy and nutrients intake patterns which measured were type number of food consumption, group number of food consumption, frequency of food consumption, nutrient adequacy, nutrient quality, and nutrients density. The results of study showed that analyze food consumption, and energy and nutrients intake patterns were different between stunting and non-stunting YC according to their age group; the higher the age, the higher their difference. There was no difference in food consumption, and energy and nutrients intake patterns between stunting and non-stunting children 0—5 months. Meanwhile, there was difference in children 6—11 and 12—23 months. The average of protein adequacy and protein density was difference between stunting and non-stunting children 6—11 months. In children 12—23 months, the differences not only in the average of protein adequacy and protein density but also in average of energy and calcium adequacy and calcium density, phosphor, vitamin A, and C adequacy, nutrient quality, and type number of food. Implications for Indonesia that is necessary to study the efficacy of nutritional interventions to achieving optimal linear growth in young children.Key words: children 0—23 months old, food pattern, stuntingABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi pangan dan asupan energi dan gizi anak stunting dan tidak stunting 0—23 bulan menggunakan data Riskesdas 2010. Sub-set data Riskesdas 2010 diperoleh dalam bentuk e-files. Dari 6 634 data anak baduta dalam e-files Riskesdas 2010, sejumlah 3 539 data anak dikeluarkan karena data tidak lengkap, pencilan, konsumsi pangan saat kondisi tidak biasa. Status gizi diolah menggunakan WHO AntroPlus 2007, pengolahan data lainnya menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS for windows. Uji beda pola konsumsi pangan menerapkan Mann-Whitney U test. Pola konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi yang diukur berupa jumlah jenis konsumsi pangan, jumlah kelompok konsumsi pangan, frekuensi konsumsi pangan, tingkat kecukupan zat gizi, mutu gizi asupan pangan, dan densitas asupan zat gizi. Hasil kajian menunjukkan pola konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi anak stunting dan tidak stunting 0—23 bulan berbeda menurut kelompok umur; semakin bertambah umur semakin meningkat perbedaannya. Pada anak 0—5 bulan tidak ada perbedaan pola konsumsi pangan dan asupan energi dan gizi anak stunting dan tidak stunting; sebaliknya pada anak 6—11 dan 12—23 bulan. Pada anak 6—11 bulan, rata-rata tingkat kecukupan protein anak stunting dan tidak stunting berbeda, demikian pula densitas asupan protein. Pada anak 12—23 bulan, tidak hanya rata-rata tingkat kecukupan protein dan densitas asupan protein, tetapi rata-rata tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan kalsium dan densitas asupan kalsium, tingkat kecukupan fosfor, tingkat kecukupan vitamin A, tingkat kecukupan vitamin C, mutu gizi makanan, dan bahkan jenis pangan juga berbeda. Implikasi untuk Indonesia yaitu perlu dilakukan penelitian efikasi intervensi zat gizi tersebut untuk pencapaian pertumbuhan linier optimal anak.Kata kunci: anak 0—23 bulan, pola konsumsi pangan, stunting
POLA ASUH MAKAN, PERKEMBANGAN BAHASA, DAN KOGNITIF ANAK BALITA STUNTED DAN NORMAL DI KELURAHAN SUMUR BATU, BANTAR GEBANG BEKASI Nur Latifah Hanum; Ali Khomsan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.98 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.81-88

Abstract

ABSTRACTThe purposes of this study were to identify the association between nutritional status, language and cognitive development and also differences of language and cognitive development between normal and stunted underfives children. The study design was a cross-sectional. Sample size was 70 children consisted of 35 normal and 35 stunted children. The highest percentage level of education of fathers and mothers only primary school and more than half of children from poor families. There was significant difference (p<0.05) of language and cognitive development between normal and stunted children. It was show that normal children had higher language and cognitive development scores than stunted children. Also there was significant difference (p<0.05) between age of children, mother level of education, and family income with language and cognitive development. Child care practices was no difference between stunted children and non-stunted children, non-stunted mothers child practices scores was higher than stunted children. There was a significant association between nutritional status based on Height/Age with language development (p<0.05).Key words: cognitive, language, stunting, underfives childrenABSTRAKTujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui kaitan status gizi dengan perkembangan bahasa dan kognitif pada anak yang berstatus gizi normal dan stunted. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Total subjek pada penelitian ini sebanyak 70 anak balita, terdiri dari 35 anak balita berstatus gizi stunted dan 35 anak berstatus gizi normal. Sebagian besar pendidikan orang tua adalah SD dan berasal dari keluarga miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) skor perkembangan bahasa dan kognitif pada anak balita normal dan stunted berdasarkan usia balita, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan besar keluarga. Kelompok balita normal memiliki pencapaian perkembangan bahasa dan kognitif yang lebih tinggi daripada kelompok anak balita stunted. Tidak terdapat perbedaan pola asuh makan anak balita normal dan stunted (p>0.05), namun skor pola asuh makan ibu anak balita normal lebih tinggi daripada anak balita stunted. Berdasarkan uji korelasi terdapat hubungan signifikan (p<0.05) antara status gizi indeks (TB/U) anak balita dengan perkembangan bahasa, namun tidak terdapat hubungan antara status gizi indeks (TB/U) dengan perkembangan kognitif balita.Kata kunci: anak balita, bahasa, kognitif, stunting
JENIS PANGAN SARAPAN DAN PERANNYA DALAM ASUPAN GIZI HARIAN ANAK USIA 6—12 TAHUN DI INDONESIA Hardinsyah Hardinsyah; Muhammad Aries
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.707 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.89-96

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to analyze the type and amount of food consumed at breakfast and its also contribution in daily nutrient intake of school children (6—12 years old). The data used for this study was the secondary data of the Basic Health Survey 2010 (Riskesdas 2010) conducted by the Research and Development Agency, Ministry of Health. The data of 24-hour recall of food consumption and socio-economic were obtained from 35 000 school age children. The results of the study shows that ten most populer food consumed during breakfast are rice, scramble egg, fried tempeh, vegetable soup, fried fish, instant noodle, fried rice, stir vegetable, and fried tofu; and the five most populer beverages consumed during breakfast are drinking water, sweetened tea, milk creamer, powder milk, and tea. Nearly half (44.6%) of the children breakfast with low nutritional quality. Approximately 44.6%, 35.4%, 67.8%, 85.0%, 89.4%, and 90.3% of child-ren consume only <15% RDI for energy, protein, vitamin A, iron, calcium, and fiber respectively. Based on these results and inline with one of the dietary guidelines messages – do breakfast everyday – the healthy breakfast for school children need further promoted intensively. It is suggested that the healthy breakfast should be able to fulfill 15—30% of daily nutrients requirements.Key words: breakfast, RISKESDAS 2010, school childrenABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jumlah dan jenis makanan dan minuman sarapan serta kontribusinya dalam asupan gizi harian anak usia sekolah (6—12 tahun). Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data sekunder (data konsumsi pangan) yang diperoleh dari hasil penelitian Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Ke-sehatan Indonesia. Data konsumsi pangan (recall 24 jam) dan sosial ekonomi diperoleh dari 35 000 subjek anak usia sekolah (6—12 tahun). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sepuluh makanan yang paling favorit dikonsumsi saat sarapan adalah nasi putih, telur ceplok/dadar, tempe goreng, sayur berkuah, ikan goreng, mi instan, nasi goreng, sayuran (tumis), dan tahu goreng; sedangkan lima minuman terpopuler yang dikonsumsi sebagai sarapan adalah air putih, teh manis, susu kental manis, susu instan, dan air teh. Hampir separuh (44.6%) anak usia sekolah sarapan dengan kualitas gizi rendah. Sekitar 44.6%, 35.4%, 67.8%, 85.0%, 89.4%, dan 90.3% anak hanya memperoleh gizi <15% AKG dari sarapan (berturut-turut untuk energi, protein, vitamin A, zat besi, kalsium, dan serat). Berdasarkan hasil tersebut dan juga sejalan dengan salah satu isi Pesan Dasar Umum Gizi Seimbang (PUGS), yaitu “Sarapan setiap hari”, maka promosi mengenai kebiasaan sarapan sehat bagi anak usia sekolah perlu dilakukan lebih intensif dan berkelanjutan. Selain itu disarankan pula bahwa sarapan yang sehat sebaiknya mampu memenuhi sekitar 15—30% AKG.Kata kunci: anak usia sekolah, RISKESDAS 2010, sarapan
KEBIASAAN DAN KUALITAS SARAPAN PADA SISWI REMAJA DI KABUPATEN BOGOR Anna Febritta Intan Sari; Dodik Briawan; Cesilia Meti Dwiriani
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.259 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.97-102

Abstract

ABSTRACTThe study aimed to describe breakfast habit among teenage girls of vocational high school Bogor. A cross-sectional study was conducted and was involving 68 students 14—18 years old from SMK Pelita Ciampea, Bogor District. Breakfast consumption was collected by a 7-day food records. The result showed that there were 45.6% schoolgirls having breakfast regularly. Breakfast frequency per week was associated with BMI and anaemic status (p<0.05). The subject mostly explained that breakfast is eat in the morning. Subjects explained more that breakfast have benefit, consist of a solid food and beverage, and in a medium portion. Types of good food for breakfast were bread and milk. Mother should prepare food for breakfast and it should be done at home before leaving house. The schoolgirls having a good quality breakfast consumed rice, bread, fruit, and milk; and those are having a low quality breakfast consume sweet tea and snack. Mother education and occupation, parents income, and number of family member are significantly related to habitual breakfast (p<0.05). There is significantly association between habitual breakfast and breakfast quality (r=0.539, p<0.05).Key words: breakfast, concept, quality, schoolgirlsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari kebiasaan sarapan pada remaja siswi sekolah menengah kejuruan Bogor. Desain cross-sectional digunakan dengan subjek 68 siswi berusia 14—18 tahun dari SMK Pelita Ciampea, Kabupaten Bogor. Konsumsi sarapan dikumpulkan dengan food record selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45.6% remaja siswi biasa sarapan setiap hari. Frekuensi sarapan dalam satu minggu berhubungan dengan IMT dan status anemia (p<0.05). Seluruh subjek mendefinisikan sarapan sebagai makan di pagi hari. Selebihnya subjek menjelaskan bahwa sarapan akan bermanfaat, terdiri dari makanan padat dan minuman, dan porsi sedang. Makanan saat sarapan yang baik adalah roti dan susu. Ibu sebaiknya menyiapkan makanan untuk sarapan dan sarapan dilakukan di rumah sebelum memulai aktivitas di luar rumah. Siswi dengan dengan kategori kualitas sarapan baik mengonsumsi nasi, roti, buah, dan susu sedangkan yang kualitas sarapan tidak baik lebih banyak minum teh manis dan jajanan. Pendidikan dan pekerjaan ibu, pendapatan orang tua, dan besar keluarga berhubungan dengan kebiasaan sarapan (p<0.05). Terdapat hubungan positif antara kebiasaan sarapan dengan kualitas sarapan (r=0.539, p<0.05).Kata kunci: konsep, kualitas, sarapan, siswi remaja
PENGARUH STATUS GIZI DAN STATUS ANEMIA TERHADAP DAYA INGAT SESAAT SISWA DI SDN PASANGGRAHAN 1 KABUPATEN PURWAKARTA Junaida Astina
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.651 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.103-110

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to analyze the relationship between nutritional status and anemia status on short term memory among Elementary School Children of SDN Pasanggrahan 1, District of Purwakarta. Cross-sectional study design was used in this study. Fifty children from this elementary school were selected by purposive sampling, but only thirty nine children that fulfilled the requirements. Short term memory tests used in this study were done by giving several words to be learned by children and then retrieved. Pearson and Spearman correlation was used to analyze correlation between social economic, anemia and nutritional status with short term memory. Linear regression was used to analyze effects of children characteristics, physical activity, consumption, anemia and nutritional status on short term memory. The result showed that average score of short term memory in the morning was higher than score in the afternoon. Nutritional status had positive correlation with short term memory score in the afternoon (p<0.1) and nutritional knowledge had positive correlation with short term memory score in the morning and afternoon (p<0.1). Short term memory were effected by nutritional knowledge, nutritional, and anemia status.Key words: anemia, nutritional status, school-aged children, short term memoryABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan status anemia dengan daya ingat sesaat siswa di SDN Pasanggrahan 1, Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Subjek dipilih secara purposive dari 50 siswa, namun setelah dilakukan cleaning data, hanya 39 siswa yang termasuk dalam penelitian ini. Uji daya ingat yang digunakan yaitu dengan memberikan daftar kata-kata untuk dipelajari kemudian meretrieve-nya. Hubungan antara variabel sosial ekonomi, status anemia, dan status gizi dengan daya ingat sesaat dianalisis dengan korelasi Pearson. Regresi linear digunakan untuk menganalisis pengaruh dari karakteristik subjek, aktivitas fisik, asupan gizi, status anemia, dan status gizi terhadap daya ingat sesaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor daya ingat pada pagi hari lebih tinggi dibandingkan skor daya ingat pada siang hari. Status gizi berhubungan positif dengan daya ingat siang (p<0.1), serta pengetahuan gizi berhubungan positif dengan daya ingat pagi dan siang (p<0.1). Faktor-faktor yang memengaruhi daya ingat sesaat yaitu pengetahuan gizi, status gizi, dan status anemia. Semakin baik skor pengetahuan gizi dan status gizi, maka semakin baik pula skor daya ingat sesaat.Kata kunci: anak usia sekolah, anemia, daya ingat sesaat, status gizi
PENGETAHUAN DAN PERILAKU KONSUMSI MAHASISWA PUTRA TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA IPB TENTANG MONOSODIUM GLUTAMAT DAN KEAMANANNYA Made Mita Dwi Saraswati; Hardinsyah Hardinsyah
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.963 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.111-118

Abstract

ABSTRACTThe aim of this study was to analyze the knowledge and consumption behaviour of the first year boy students of IPB on Monosodium Glutamate (MSG) and its safety. Data were collected using self administered questionnaire. Questionnaires were given to the students through cooperation with one of internal club in IPB’s Dormitory. There were 1 324 questionnaires that were given, but only 808 questionnaires were collected back and 24 of them not filled out completely. Thus there were 784 questionnaires that qualified to be research data. Knowledge on MSG and its safety was classified into 3 levels of knowledge, such as low (<60% of total score), intermediate (60—80% total score), and high (>80% of total score). The results showed that most students have low level of knowledge on the MSG (81.4%) and it’s safety (94.3%). However, most of them frequently consume foods containing MSG (39—86%). Level of knowledge on MSG is not correlated to consumption behavior of MSG (p>0.05).Key words: consumption behavior, knowledge, Monosodium Glutamate (MSG)ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan perilaku mahasiswa putra Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB tentang Monosodium Glutamat (MSG) dan keamanannya. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh mahasiswa putra. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui kerjasama dengan salah satu klub internal Asrama Putra TPB. Kuesioner survei diberikan kepada seluruh mahasiswa putra, yaitu sebanyak 1 324 orang. Jumlah mahasiswa yang mengisi kuesioner adalah 808 orang, namun 24 orang diantara- nya tidak mengisi kuesioner dengan lengkap sehingga diperoleh 784 orang sebagai subjek dalam penelitian ini. Tingkat pengetahuan tentang MSG dan keamanannya diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu tingkat pengetahuan kurang (skor total<60%), sedang (skor total 60—80%), dan tinggi (skor total>80%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa putra mempunyai tingkat pengetahuan yang rendah tentang MSG (81.4%) dan keamanan MSG (94.3%), namun sebagian besar dari mereka (39—86%) juga sering mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Pengetahuan tentang MSG dan keamanannya tidak berhubungan dengan perilaku konsumsi makanan yang mengandung MSG (p>0.05).Kata kunci: Monosodium Glutamat (MSG), pengetahuan, perilaku konsumsi
PREFERENSI DAN FREKUENSI KONSUMSI MAKANAN JAJANAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN CIJERUK,KABUPATEN BOGOR Leily Amalia; Oktavianus Para Endro; Rizal M Damanik
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.992 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.119-126

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to analyze preference and consumption frequency of street foods among elementary school children at Cijeruk sub-district, Bogor District. The design used as survey method at three elementary schools at the area, namely SDN 01 Palasari, SDN 02 Palasari, dan SDN 01 Cipicung. The data was collected in April until June 2012. The subjects of study were 80 students at 4th and 5th grade of elementary school, consisted of 40 boys and 40 girls. Data collection was done by observation and interview to students. The data collected were: family characteristics, individual characteristics, nutrition knowledge, preference and the reasons, and consumption frequency of the street foods. The results showed that family size of subjects mostly (65.5%) categorized as moderate (consisted of 4—6 persons). Both father’s and mother’s education level were categorized as low, namely graduated from elementary shools (42.5% each) and even ungraduated of elementary schools (31.3% and 23.8%). In general, family income per capita was categorized as poor (51.3%) and almost poor (40.0%), with average of Rp 183 063 which was lower than poverty line of West Java Province at sub-urban areas (Rp 210 000). The average of pocket money of subjects was Rp 2 293.7. Nutrition knowledge of subjects was generally categorized as moderate (47.5%). All of subjects stated that they like street foods. The order of street foods from high to low prefered by subjects was fruit, beverages, fried food, cakes, dried snack, and dish foods. The primary preference reason of subjects on street foods was taste (minimal 60% for each food group). The order of street foods which highly to rarely consumed per week was fried food (7.0 times), beverages (6.7 times), cakes (6.3 times), dish foods (6.2 times), salted-dried snacks (5.3 times), and fruits (5.0 times).Key words: consumption frequency, preference, reasons of preference, street foodABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi dan frekuensi makanan jajanan pada anak SD di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan dengan metode survey, di tiga Sekolah Dasar di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, yaitu SDN 01 Palasari, SDN 02 Palasari, dan SDN 01 Cipicung. Pengambilan data dilakukan pada bulan April hingga Juni 2012. Subjek penelitian adalah siswa kelas 4 dan kelas 5 SD, berjumlah 80 siswa, terdiri dari 40 siswa laki-laki dan 40 siswa perempuan. Penarikan subjek dilakukan secara purposive proposional dari populasi siswa di ketiga SD terpilih. Data dikumpulkan dengan cara pengamatan dan wawancara kepada siswa, terdiri dari karakteristik keluarga, karakteristik individu, pengetahuan gizi, preferensi dan alasannya, serta frekuensi konsumsi makanan jajanan. Besar keluarga subjek sebagian besar (65.5%) tergolong sedang (4—6 orang). Pendidikan ayah dan ibu subjek sebagian besar tamatan SD (42.5%) dan tidak tamat SD (31.3% dan 23.8%). Pendapatan keluarga per kapita subjek umumnya tergolong miskin (51.3%) dan 40.0% termasuk kategori hampir miskin. Rata-rata pendapatan keluarga per kapita adalah Rp 183 063, lebih rendah dari garis kemiskinan Jawa Barat pedesaan (Rp 210 000). Rata-rata uang jajan subjek adalah Rp 2 293.7. Pengetahuan gizi subjek umumnya (47.5%) berada pada kategori sedang. Urutan makanan jajanan yang paling disukai hingga agak disukai adalah buah, minuman, makanan gorengan, kue, keringan asin, dan jajanan sepinggan. Alasan utama subjek dalam menyukai semua kelompok makanan jajanan adalah rasa (minimal 60%). Urutan kelompok jajanan dengan frekuensi konsumsi dalam seminggu dari tertinggi hingga terendah adalah makanan digoreng (7.0 kali), minuman (6.7 kali), kue (6.3 kali), jajanan sepinggan (6.2 kali), keringan asin (5.3 kali), dan buah (5.0 kali).Kata kunci: alasan suka, frekuensi konsumsi, makanan jajanan, preferensi
APLIKASI SERBUK WORTEL SEBAGAI SUMBER β-KAROTEN ALAMI PADA PRODUK MI INSTAN Sri Anna Marliyati; Ahmad Sulaeman; Mega Pramudita Rahayu
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.159 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.127-134

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to study the use of carrot powder as a source of natural β-carotene in instant noodle. Four formulas were developed based on carrot powder level added into the formula (0%, 10%, 15%, and 20%). The carrot instant noodle was evaluated for sensory properties by 30 panelists. The best formula was analyzed for chemical properties, including proximate composition, dietary fibre, and β-carotene. The physical properties were analyzed in color, cooking time, elasticity, and water holding capacity. The experimental design applied terms of Complete Randomized Design. The result showed that instant noodle with 15% carrot powder was the best formula of carrot instant noodle. No significant difference in acceptance between this formula and commercial instant noodles. Product was composed of moisture content 7.75% (wb), ash 1.59% (d.b), protein 12.82% (d.b), fat 1.41% (d.b), carbohydrate 84.18% (d.b) and β-carotene 2 390 μg/100 g (199 RE or 99.5 RAE/serving size). Carrot instant noodle had physical properties as cooking time was 3.5 minutes, the color was yellow-redish, elasticity properties was 162.22%, and water holding capacity was 143.89%. This noodle contribute above 15% RDA of vitamin A for the children aged 4—5 years.Key words: β-carotene, carrot powder, instant noodleABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari penggunaan serbuk wortel sebagai sumber beta karoten alami dalam mi instan. Empat formula dikembangkan berdasarkan jumlah serbuk wortel yang ditambahkan (0%, 10%, 15%, dan 20%). Mi instan wortel dievaluasi sifat organoleptiknya oleh 30 orang panelis. Formula terbaik dianalisis sifat-sifat kimianya meliputi komposisi, serat pangan, dan beta karoten, sedangkan sifat-sifat fisik yang dianalisis adalah warna, waktu masak, elastisitas, dan daya serap air. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mi instan dengan penambahan 15% serbuk wortel merupakan formula terbaik. Tidak ada perbedaan yang nyata dalam penerimaan antara mi instan formula ini dengan mi instan komersial. Produk mi instan ini mengandung air sebesar 7.75% (bb), abu 1.59% (bk), protein 12.82% (bk), lemak 1.41% (bk), karbohidrat 84.18% (bk) dan karoten 2 390 μg/100 g (199 RE atau 99.5 RAE/takaran saji). Mi instan wortel mempunyai sifat-sifat fisik seperti waktu masak 3.5 menit, warna kuning kemerahan, elastisitas 162.22%, dan daya serap air 143.89%. Mi ini berkontribusi sebesar 15% terhadap Angka Kecukupan Gizi vitamin A untuk anak usia 4—5 tahun.Kata kunci: β-karoten, mi instan, serbuk wortel

Page 1 of 1 | Total Record : 10