cover
Contact Name
Dwi Wahyuni
Contact Email
dwiwahyuni@uinib.ac.id
Phone
+6281272162942
Journal Mail Official
al-adyan@uinib.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Mahmud Yunus Padang Kode Pos 25153
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Adyan: Journal of Religious Studies
ISSN : 2745519X     EISSN : 2723682X     DOI : -
Al-Adyan: Journal of Religious Studies adalah jurnal ilmiah akademis yang diterbitkan oleh Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang. Jurnal ini terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember yang mempublikasikan artikel berbasis hasil penelitian studi agama dalam ragam perspektif;perbandingan, sejarah, sosiologi, antropologi, fenomenologi, hubungan antar agama, multikulturalisme, serta isu-isu kontemporer lainnya. Al-Adyan: Journal of Religious Studies mengundang para penulis dan peneliti untuk menyumbangkan karya terbaik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2023)" : 7 Documents clear
CYBER RELIGION: Implementasi Keberagamaan dan Respons Generasi Milenial Kuswana, Dadang; Syah, Yoshy Hendra Hardiyan; Aripudin, Acep
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.6192

Abstract

This article discusses the practice of religion in cyberspace and the response of the millennial generation to the social media account @Bimbingan_Islam, as a form of practice of Cyber Religion. The account discusses various study themes, including the theme of patience, life advice, istiqomah in worship, the glory of dhikr, the glory of praying, and others. The purpose of this study is First, to find out how the world of Cyber Religion is on the YouTube, Instagram, and Facebook platforms @Bimbingan_Islam. Second, to find out how the millennial generation responds in the comments column to posts on religious studies on the Instagram platform account @Bimbingan_Islam. This article uses qualitative research methods using data collection techniques (Literature Review) with a non-participatory virtual ethnographic approach and analysis techniques using Lasswell's communication theory. The limitations of the millennial generation referred to in this article are in the age range of 18 to 34 years. What's interesting in this article is that it displays technological developments, illustrations of information dissemination, the level of popularity of social media, and the spread of religious studies in cyberspace, making it a powerful attraction for the millennial generation to continue to deepen, upgrade, and hone their insights about religion, namely on account @ Bimbingan_Islam, then this article finds a case on the social media account, namely there is a sentence that is inappropriate to be presented to the public by using strong language in broadcasting religious studies through social media. Artikel ini membahas tentang praktik agama di dunia maya dan respon generasi milenial pada akun media sosial @Bimbingan_Islam, yaitu Cyber Religion. Akun tersebut membahas berbagai macam tema kajian, seperti kesabaran, nasehat hidup, istiqomah dalam beribadah, kemuliaan zikir, salawat, dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bagaimana dunia Cyber Religion dalam platform YouTube, Instagram, dan Facebook pada akun @Bimbingan_Islam. Selanjutnya mengetahui bagaimana respon generasi milenial dalam kolom komentar terhadap postingan kajian agama pada plaform Instagram akun @Bimbingan_Islam. Metode penelitian kualitatif digunakan melalui pengumpulan data studi pustaka (Literature Review) dengan pendekatan etnografi virtual yang bersifat non-partisipasi. Kemudian dianalisis menggunakan teori komunikasi Laswell. Artikel ini memperlihatkan perkembangan teknologi, ilustrasi penyebaran informasi, tingkat popularitas media sosial, dan penyebaran kajian agama. Ini membuat daya tarik yang dahsyat bagi generasi milenial untuk senantiasa terus memperdalam, mengupgrade, dan mengasah wawasan tentang agama. Namun dalam akun @Bimbingan_Islam, ditemukan suatu kasus, yaitu terdapat suatu kalimat yang tidak pantas untuk disajikan kepada khalayak publik dengan menggunakan bahasa yang kasar dalam menyiarkan kajian agama melalui media sosial.
ANALYSIS OF GENDER EQUALITY IN THE FILM BARBIE THE MOVIE Alviyanti, Ika Fitri; Siraj, Fuad Mahbub
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.7069

Abstract

Gender-based discrimination still occurs in various aspects of life. In fact, currently gender equality has experienced extraordinary progress. The nature and severity of discrimination varies widely between countries and regions. Women do not enjoy equal access to political, social and economic rights in any country or region in the world. This research is qualitative research with the type of library research. This research seeks to understand how gender equality is represented in the Barbie film using descriptive analysis methods. The primary data source used in this research is the film Barbie The Movie. This primary source is in the form of scenes or images that show gender equality in the film Barbie The Movie. This data is obtained from the Loklok application. Later, relevant data will be collected and examined through an analysis process. The results of this research show how the Barbie film inspires women around the world and promotes gender equality. Through engaging storytelling, Barbie films inspire girls to recognize gender differences, believe in themselves, and achieve their goals. Diskriminasi berbasis gender masih terjadi di berbagai aspek kehidupan. Faktanya, saat ini kesetaraan gender telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Sifat dan tingkat keparahan diskriminasi sangat bervariasi antar negara dan wilayah. Perempuan tidak menikmati akses yang sama terhadap hak-hak politik, sosial dan ekonomi di negara atau wilayah mana pun di dunia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Penelitian ini berupaya memahami bagaimana kesetaraan gender direpresentasikan dalam film Barbie dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah film Barbie The Movie. Sumber primer ini berupa adegan atau gambar yang menampilkan kesetaraan gender dalam film Barbie The Movie. Data ini didapat dari aplikasi Loklok. Nantinya, data yang relevan akan dikumpulkan dan diperiksa melalui proses analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana film Barbie menginspirasi perempuan di seluruh dunia dan mempromosikan kesetaraan gender. Melalui penyampaian cerita yang menarik, film Barbie menginspirasi anak perempuan untuk mengenali perbedaan gender, percaya pada diri sendiri, dan mencapai tujuan mereka.
Menjadi Moderat Melalui Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Kendari Asman, Asman; Yusuf, Yusuf
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.6811

Abstract

Religious moderation is increasingly becoming an important issue, considering the reality of religion today is increasingly worrying. This is due to the exclusive way of diversity and feeling that the religious teachings believed are the only true ones. The purpose of this study aims to explain the concept of religious moderation contained in the Al Islam and Kemuhammadiyah course at Muhammadiyah Kendari University. In addition, the concept contained in the AIK course can be used as a tool to see the reality of religious moderation. This research method is a literature study with a descriptive qualitative analysis approach in formulating a research finding. The data sources used are primary and secondary data. The data collection technique used is documentation. In this research, the data analysis technique used is content analysis. The data analysis technique used is the Beruard Barelson model analysis. The results showed that religious moderation through AIK courses at Muhammadiyah University has four important pillars in its application. The four pillars are being fair, caring for others, not hostile to each other, and being able to knit togetherness. These pillars affect students in their daily life. Moderasi beragama semakin menjadi persoalan penting, mengingat realitas keberagamaan saat ini kian mengkhawatirkan. Hal demikian disebabkan cara beragam yang eksklusif dan merasa ajaran agama yang diyakini adalah satu-satunya yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep moderasi beragama yang terdapat pada mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Universitas Muhammadiyah Kendari. Selain itu, konsep yang terdapat pada mata kuliah AIK tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk melihat realitas moderasi beragama. Metode penelitian ini ialah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis kualitatif deskriptif dalam merumuskan sebuah temuan penelitian. Sumber data yang digunakan ialah data primer dan sekunder. Sementara teknik pengumpulan data yang digunakan ialah dokumentasi. Dalam penelitian ini, Teknik analisis data yang yang digunakan ialah analisis isi (content analysis) model Beruard Barelson. Hasil penelitian menunjukkan, moderasi beragama melalui mata kuliah AIK di Universitas Muhammadiyah memiliki empat pilar penting dalam penerapannya. Keempat pilar tersebut ialah berlaku adil, peduli sesama, tidak saling bermusuhan, dan dapat merajut kebersamaan. Pilar tersebut mempengaruhi mahasiswa dalam berlaku pada kehidupan sehari-hari.
Pengembangan Studi Agama-Agama Dalam Konteks Mayoritas Muslim (Sebuah Tawaran) Faisal, Faisal; Rusli, Ayu Rustriana
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.7506

Abstract

This article aims to offer the development of SAA studies, especially at UIN Imam Bonjol Padang in the context of the Muslim majority. Overlapping course materials and difficulties in syllabus development have an impact on the unclear scientific direction of the study program. Including the lack of attention to the dynamics of Islam in West Sumatra. For this reason, it is necessary to formulate the characteristics of the study program that color the development of studies by adapting the pattern of similar study programs at UIN Jakarta and Yogyakarta. This field research uses qualitative methods, with data collection tools of observation, interviews, and documentation. This research borrows the grand theory of constructivism, especially Karl Mannheim's sociology of knowledge, which sees the strong socio-cultural and historical influence on knowledge. The results found that the pattern of development of SAA studies at UIN Jakarta is built on its distinctive characteristics as an institution whose existence in the metropolitan capital city so that its studies are more theoretically conceptual and responsive to actual issues. Then the pattern of UIN Yogyakarta is built on the distinctive characteristics of integration-interconnection of Islamic science and multicultural Indonesia. While the relevant pattern of SAA UIN Padang is to carry "majority Islam" as a distinctive characteristic. This is linear with the fact of its existence in the midst of West Sumatra society with the dominance of Minangkabau ethnicity which makes Islam a socio-cultural foundation. It is on this distinctive characteristic that the pattern of study development is constructed. Artikel ini bertujuan memberikan penawaran terhadap pengembangan kajian SAA khususnya di UIN Imam Bonjol Padang dalam konteks mayoritas muslim. Tumpang tindih materi kuliah serta kesulitan pengembangan silabus berdampak pada ketidakjelasan arah keilmuan program studi. Termasuk kurangnya perhatian terhadap dinamika Islam di Sumatera Barat. Untuk itu perlu dirumuskan penciri khas prodi yang mewarnai pengembangan kajian dengan mengadaptasi pola prodi serupa di UIN Jakarta dan Yogyakarta. Riset lapangan ini menggunakan metode kualitatif, dengan alat pengumpul data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Riset ini meminjam grand theory konstruktivisme khususnya sosiologi pengetahuannya Karl Mannheim yang melihat pengaruh kuat sosial-budaya dan historis terhadap pengetahuan. Hasil riset menemukan bahwa pola pengembangan kajian SAA di UIN Jakarta dibangun di atas penciri khasnya sebagai institusi yang eksistensinya di ibu kota metropolitan sehingga kajiannya lebih teoretis konseptual dan responsif terhadap isu-isu aktual. Kemudian pola UIN Yogyakarta dibangun di atas penciri khas integrasi-interkoneksi ilmu keislaman dan keindonesiaan yang multikultural. Sementara pola SAA UIN Padang yang relevan adalah mengusung “Islam mayoritas” sebagai penciri khas. Ini linear dengan fakta eksistensinya di tengah masyarakat Sumatera Barat dengan dominasi etnis Minangkabau yang menjadikan Islam sebagai landasan sosio-kultural. Di atas penciri khas inilah pola pengembangan kajian dikonstruk.
Berebut Wacana: Kontestasi Pemahaman Moderasi Beragama di UIN Riau Harmaini, Harmaini; Hanafi, Imam; Sofiandi, Sofiandi; Arbi, Arbi
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.7245

Abstract

This research aims to find out how the understanding of religious moderation and what issues arise related to religious moderation policies among UIN Suska Riau lecturers. Data were obtained through survey, FGD, and documentation, with several lecturers who are considered to represent the scientific disciplines of Da'wah, Education, Economics, Ushuluddin, and Psychology. The results showed; First, that in general, UIN Suska lecturers have a fairly good national commitment. The same applies to tolerance. They are even willing to be friends with people of different religions; and at UIN Suska Riau, lecturers generally reject all things related to violence. Second, a number of important issues emerged during this research. Although the majority of UIN Suska Riau lecturers view the importance of moderate religious attitudes, there are still those who consider that religious moderation is part of the weakening of Islamic teachings, and there are also those who understand religious moderation as another face of Islam Nusantara. Another issue that arises is that religious moderation is considered an effort to reduce loyalty to one's religion. Religious moderation is considered a process of ignoring religious approaches that are based on text, so that it tends to favor context. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemahaman moderasi beragama dan isu apa saja yang muncul terkait dengan kebijakan moderasi beragama di kalangan dosen UIN Suska Riau. Data diperoleh dengan survey, FGD dan dokumentasi, terhadap beberapa dosen yang dianggap mewakili disiplin keilmuan Dakwah, Pendidikan, Ekonomi, Ushuluddin, dan Psikologi. Hasil penelitian menunjukkan; Pertama, bahwa secara umum, para dosen UIN Suska memiliki komitmen kebangsaan yang cukup baik. Begitu pula pada sikap toleransi. Bahkan mereka bersedia bersahabat dengan orang yang berbeda agama; dan di UIN Suska Riau, para dosen pada umumnya menolak segala hal yang berkaitan dengan kekerasan. Kedua, Sejumlah isu penting muncul selama riset ini dilakukan. Meskipun mayoritas para dosen UIN Suska Riau memandang penting akan sikap beragama yang moderat, namun demikian masih ada juga yang menganggap bahwa moderasi beragama merupakan bagian dari pelemahan ajaran Islam, ada juga yang memahami moderasi beragama sebagai wajah lain dari Islam Nusantara. Isu lain yang muncul adalah bahwa moderasi beragama dianggap sebagai upaya mengurangi kesetiaan terhadap agama yang di milikinya. Moderasi beragama dianggap sebagai proses pengabaian atas pendekatan keagamaan yang didasarkan pada teks, sehingga cenderung menggunggulkan konteks.
REGULATING RELIGIOUS LIFE IN MEDAN CITY: An Analysis of Public Policy and Religious Freedom in Medan Major Regulation Number 28/2021 Kamal, Aulia
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.5933

Abstract

Policies regarding religious life in Indonesia are often problematic, especially PBM Nos. 9 and 8 of 2006. Despite this, this regulation is still adopted and enforced in various cities, including Medan. This article wants to answer the extent of the relevance of Medan Mayor Regulation (Perwal) No. 28 of 2021 concerning Guidelines for Organizing Religious Life and Religious Harmony Forums in the City of Medan as a public policy. This is a literature study using a normative approach, where data is collected from various regulations and literature and then analyzed by borrowing Freedom of Religion and Belief (FoRB) and public policy theory as a theoretical framework. The results show that Perwal needs help at the policy formulation stage. First, policy formulation that does not comply with proceadures is characterized by the absence of evaluation studies or public discussions to develop alternative solution options or improvements to problematic articles. Second, the substance of the policy is without any novelty; apart from Article 9 concerning FKUB funding, this Perwal copies all problematic articles from PBM Nos. 9 and 8 of 2006 without criticism and evaluation. This article argues that the Medan City government needs to revise problematic articles in this Perwal so that its presence becomes relevant and effective. Kebijakan tentang kehidupan beragama di Indonesia seringkali bermasalah, terutama PBM No. 9 dan 8 Tahun 2006. Meskipun demikian, regulasi ini tetap diadopsi dan diberlakukan di berbagai kota, termasuk Medan. Artikel ini ingin menjawab sejauh mana relevansi Peraturan Walikota (Perwal) Medan No. 28 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kehidupan Umat Beragama dan Forum Kerukunan Umat Beragama di Kota Medan sebagai suatu kebijakan publik. Ini merupakan studi literatur menggunakan pendekatan normatif, di mana data dikumpulkan dari berbagai regulasi dan literatur, kemudian dianalisis dengan meminjam Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (FoRB) dan teori kebijakan publik sebagai kerangka teoritis. Hasilnya menunjukkan bahwa Perwal ini bermasalah pada tahapan formulasi kebijakan. Pertama, perumusan kebijakan yang tidak sesuai prosedur ditandai dengan tidak adanya kajian evaluasi atau diskusi publik untuk mengembangkan pilihan solusi alternatif, atau perbaikan atas pasal-pasal bermasalah. Kedua, substansi kebijakan tanpa ada kebaruan, di mana selain Pasal 9 tentang pendanaan FKUB, Perwal ini menyalin seluruh pasal-pasal bermasalah dari PBM No. 9 dan 8 tahun 2006 tanpa kritik dan evaluasi. Artikel ini berpendapat bahwa pemerintah Kota Medan perlu merevisi pasal-pasal bermasalah dalam Perwal ini agar kehadirannya menjadi relevan dan efektif.
Konservatif Cum Inklusif: Negosiasi Identitas Gereja Injili Kota Bengkulu di Tengah Pluralisme Agama Kusmawanto, Dodi; Lattu, Izak Y.M.
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i2.6757

Abstract

The main focus of this research is to describe the expression of identity negotiation that arises from the church's efforts to remain conservative in its doctrine and religious practices, and simultaneously interact with the cultural and religious diversity around it. This research uses qualitative methods with in-depth interview techniques and participant observation to collect data. The results of this research show that the Bengkulu City Evangelical Church congregation at the grassroots level adopts a conservative inclusion approach, where they are actively involved in dialogue and interaction with a pluralistic society and still maintain fundamental evangelical teachings. Negotiation of identity occurs through religious expression that recognizes and respects differences, but still maintains core beliefs and teachings. Factors such as local culture, social pressures, and internal church dynamics play an important role in the formation of this identity. This study provides a deeper understanding of how the Bengkulu City Evangelical Church group, especially at the grassroots, can maintain a conservative identity as Evangelicals in the context of inclusion, while responding to the dynamics of a pluralistic society. Such a religious attitude fulfills the principle of civic pluralism, namely acceptance without negating the authenticity of each individual's identity. The authenticity of the Evangelical Church group in Bengkulu City is manifested in its characteristics, namely conversion, activism, crucicentrism, and biblicism. Meanwhile, their acceptance of other religions is expressed and implemented through relationships and dialogues at structural, organizational, daily and symbolic levels. Fokus utama penelitian ini adalah menggambarkan ekspresi negosiasi identitas yang muncul dari upaya gereja untuk tetap konservatif dalam doktrin dan praktik keagamaannya, dan secara bersamaan berinteraksi dengan keragaman budaya dan agama di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jemaat Gereja Injili Kota Bengkulu pada ranah akar rumput mengadopsi pendekatan inklusi yang konservatif. Mereka aktif terlibat dalam dialog dan interaksi dengan masyarakat yang plural serta tetap menjaga ajaran-ajaran fundamental Injili. Negosiasi identitas terjadi melalui ekspresi keagamaan yang mengakui dan menghormati perbedaan, namun tetap mempertahankan inti keyakinan dan pengajaran. Faktor-faktor seperti budaya lokal, tekanan sosial, dan dinamika internal gereja memainkan peran penting dalam pembentukan identitas ini. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana kelompok Gereja Injili Kota Bengkulu khususnya di akar rumput dapat menjaga identitas konservatif sebagai Injili dalam konteks inklusi, sembari merespons dinamika masyarakat pluralistik. Sikap beragama yang demikian memenuhi asas pluralisme kewargaan yaitu adanya penerimaan tanpa meniadakan keotentikan identitas masing-masing. Keotentikan kelompok Gereja Injili di Kota Bengkulu termanifestasi ke dalam karakteristiknya yaitu conversion, activism, crucicentrism, dan biblicism. Sedangkan penerimaan mereka terhadap agama-agama lain terekspresikan dan terimplementasikan melalui relasi dan dialog-dialog lingkup struktural, organisasional, sehari-hari, dan simbolik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7