cover
Contact Name
Ferry Purnama
Contact Email
jurnalkharis@gmail.com
Phone
+6285959999152
Journal Mail Official
jurnalkharis@gmail.com
Editorial Address
Jln. Mekar Laksana no 8, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi
ISSN : 27226433     EISSN : 27226441     DOI : -
Fokus dan Scope Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi adalah: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Teologi Kontemporer, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Kontekstual
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER" : 7 Documents clear
Beban Ganda Perempuan Di Desa Sitapongan Provinsi Sumatera Utara Di Kaji Dari Perspektif Konseling Feminis Pardede, Refina; Engel, Jacob Daan; Tampake, Tony
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.292

Abstract

This research is motivated by the presence of the double burden phenomenon which very often create gender injustice for women, especially in Sitapongan Village, North Sumatra Province which experiencing a double burden. Apart from playing a role in the domestic realm such as taking care of household, being a wife and being a mother to their children, they also playing a role in the public sphere that is working as farmer. The double burden that experienced by women in this village is caused by the unequal division of gender roles between men and women in their family. The purpose of this research is to analyze the double burden and impacts that experienced by women with double burdens in Sitapongan Village. In this research, the writer used a qualitative research method and ethnographic approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Then, the scalpel in this research is feminist counseling theory because it is can be used as a new change in the world of counseling and can be a tool to see the phenomenon of the double burden experienced by women in Sitapongan Village. Counseling theory with a feminist approach encourages individuals to pay attention to societal patterns of change and encourage social change that emphasizes gender equality as a way to create a change. Furthermore, the purpose of feminist counseling is to increase awareness in the division of gender roles or burdens.Penelitian ini mengangkat fenomena beban ganda yang sering menimbulkan ketidakadilan gender terhadap perempuan di Desa Sitapongan, Sumatera Utara. Perempuan di desa ini tidak hanya menjalankan peran domestik seperti mengurus rumah tangga, menjadi istri, dan ibu, tetapi juga bekerja di ranah publik sebagai petani. Beban ganda ini terjadi akibat pembagian peran gender yang tidak seimbang dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis beban ganda yang dialami perempuan serta dampaknya. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan etnografi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menggunakan teori konseling feminis sebagai kerangka analisis. Teori ini menekankan pentingnya perubahan sosial yang mendorong kesetaraan gender. Konseling feminis berupaya meningkatkan kesadaran akan pembagian peran gender yang adil, sekaligus menawarkan perspektif baru dalam memahami dan mengatasi beban ganda perempuan.
Menjaga Kesucian dalam Pelayanan: Refleksi terhadap Konsumsi Minuman Beralkohol Ndruru, Elvinniska
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.270

Abstract

This research addresses the issue of church servants consuming alcoholic beverages, emphasizing the need for correct understanding and awareness. It explores views and practices regarding alcohol consumption in the context of maintaining purity in ministry. Using narrative analysis and literature study, the research examines cultural and historical perspectives to uncover diverse opinions on this topic. The study highlights the spiritual and moral implications of alcohol consumption and the importance of personal responsibility to God and oneself. By providing insights into this issue, the research aims to guide church servants in making wise decisions about alcohol use outside of service, ensuring their integrity and purity in ministry. The findings undersc ore the need for church ministers to remain accountable in their calling, fostering a commitment to uphold the sanctity of their service.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan dan praktik terkait konsumsi minuman beralkohol dalam konteks pelayanan. Fokus utama adalah menjaga kesucian dalam pelayanan sebagai pelayan gereja. Dengan menggunakan metode penelitian analisis naratif dan studi literatur dan pemahaman konteks budaya serta historis, penelitian ini mengidentifikasi pandangan yang beragam tentang konsumsi minuman beralkohol. Melalui pendekatan ini, penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana konsumsi minuman beralkohol dipandang dalam konteks spiritual dan moral, serta implikasinya terhadap pelayanan. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi para pelayan gereja dalam mempertimbangkan sikap terhadap konsumsi minuman beralkohol di luar waktu pelayanan, sekaligus mempertahankan kesucian dan integritas dalam panggilan pelayanan.
Pendalaman Alkitab Berkesinambungan Untuk Menghasilkan Jemaat Yang Berkualitas Sodikdiana, Martinus Hartono; Novita, Tricia
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.138

Abstract

The needs in the congregation are not always the same, various congregations have their own characteristics and talents. Even though the needs of the congregation are different, there are fundamental needs in the church that cannot be replaced. The congregation's need for God's Word is absolute and non-negotiable. Fulfilling the need for understanding God's Word will increase faith and hope besides that it needs to be given to the congregation to equip the congregation to have a deeper knowledge of God. Equipping parishioners who feel thirsty for the truth of God's Word will not only make them spiritually mature, but will also make them agents of change in society which will greatly impact the expansion of God's kingdom and in carrying out the Great Commission. The church as a vessel must be a bridge to meet these needs and prepare quality congregations. Kebutuhan dalam jemaat tidaklah selalu sama, berbagai jemaat mempunyai ciri khas, maupun talenta masing – masing. Walaupun kebutuhan jemaat berbeda – beda tetapi ada kebutuhan yang mendasar dalam jemaat yang tidak dapat tergantikan. Kebutuhan jemaat akan Firman Tuhan merupakan hal yang absolut dan tidak dapat ditawar. Pemenuhan kebutuhan akan pengertian Firman Tuhan akan memperbesar iman dan pengharapan selain itu perlu diberikan kepada jemaat untuk memperlengkapi jemaat akan pengetahuan akan Tuhan lebih mendalam. Memperlengkapi jemaat yang merasakan haus akan kebenaran Firman Tuhan selain akan membuat mereka menjadi dewasa rohani juga akan menjadikan mereka agen perubahan ditengah masyarakat yang akan sangat berdampak dalam perluasan kerajaan Tuhan dan dalam melaksanakan Amanat Agung. Gereja sebagai wadah harus menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan mempersiapkan jemaat yang berkualitas.
Kajian Biblika Wahyu 3:14-22 Tentang Jemaat Laodikia Dan Implikasinya Bagi Jemaat Kristen Dawolo, Freddy Lans Deo
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.264

Abstract

The Church of Laodicea was described by Christ as a congregation that was neither hot nor cold, lukewarm, and arrogant because of its riches. Even though they are rich materially, they experience inconsistent faith and spiritual poverty, and are less aware of their need for God. Christ threatened to vomit them out if they persisted in this way of life. In today's materialistic world, it is easy for congregations to ignore spiritual needs. This brings problems to the growth of the congregation's faith. The research method uses biblical interpretation within the framework of verse-by-verse exegesis. The author also uses qualitative methods by collecting data from various articles and commentary books. The result of this research is that Christ as the head of the church rebukes inconsistent congregations, emphasizes spiritual riches as more important, and offers forgiveness for those who want to come to Him. There is a reward for those who obey until the end, namely the opportunity to feel the presence and glory of God. Jemaat Laodikia digambarkan oleh Kristus sebagai jemaat yang tidak panas dan tidak dingin, suam-suam kuku, dan sombong karena kekayaan. Meskipun kaya secara material, mengalami ketidakkonsistenan iman dan kemiskinan rohani, serta kurang menyadari kebutuhan akan Allah. Kristus mengancam akan memuntahkan apabila mempertahankan cara hidup demikian. Di dunia materialistik saat ini, mudah bagi jemaat mengabaikan kebutuhan rohani. Hal tersebut membawa masalah pada pertumbuhan iman jemaat. Metode penelitian menggunakan penafsiran biblika dalam bingkai eksegesis ayat per ayat. Penulis juga menggunakan metode kualitatif dengan menggumpulkan data dari berbagai artikel dan buku-buku commentary. Hasil dari penelitian ini adalah Kristus sebagai kepala gereja menegur jemaat yang tidak konsisten, menekankan kekayaan rohani lebih penting, dan menawarkan pengampunan bagi yang mau datang kepada-Nya. Ada upah bagi yang taat sampai akhir, yaitu kesempatan merasakan kehadiran dan kemuliaan Allah.
Metode Konseling Yesus dan Implementasinya Pada Masa Kini Berdasarkan Yohanes 4:1-42 Tamahiwu, Yekholya; Hermanto, Yanto Paulus
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.278

Abstract

Counselling is a service that plays an important role in everyone’s life because every person faces various problems and difficulties in solving the problem. Therefore, a competent counsellor is needed to give careful consideration. An example of a competent counsellor can be learned from Jesus as a counsellor who everyone always seeks and asks for His advice. The counselling ministry that Jesus performed was comprehensive. The scope of Jesus’s ministry is not only focused on providing solutions to the problem faced by the counselee. The counselling method carried out by Jesus based on John 4:1-42 uses a method that is appropriate Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang karena setiap orang menghadapi berbagai masalah dan kesulitan menyelesaikan masalahnya. Oleh sebab itu dibutuhkan konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang. Contoh seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus sebagai konselor yang setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat-Nya. Pelayanan konseling yang dilakukan Yesus adalah pelayanan yang menyeluruh. Cakupan pelayanan Yesus tidak hanya terfokus pada memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi konseli. Metode konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Yohanes 4:1-42 menggunakan metode yang sesuai dengan konteks konseli sehingga setiap masalah yang dihadapi konseli dapat diselesaikan dengan baik.
Kajian Etika Solidaritas Terhadap Peran Pekerja Sosial Pendamping Korban Kekerasan Seksual di Sentra Efata Kupang Eluama, Lita Meathy Dawi Ngana; Setyawan, Yusak Budi; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.282

Abstract

This article explores the ethical aspects of solidarity in the role of social workers assisting victims of sexual violence. Social workers are expected to uphold equality and justice for victims, who are often vulnerable and marginalized. Using a qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and literature study. The findings reveal that social workers provide protection and empowerment to support victims’ recovery. They emphasize solidarity as a foundation for effective assistance, recognizing its importance in their ethical duties. Despite challenges where some assistance may not be fully embraced by victims, social workers remain committed to their role in fostering solidarity and advocating for justice. This research underscores the ethical responsibility of social workers to assist victims with empathy and dedication, promoting their recovery and rights in the face of societal marginalization.Tulisan ini membahas Etika Solidaritas tentang peran pekerja sosial pendamping korban kekerasan seksual. Peran pekerja sosial yang dimaksudkan adalah sikap pekerja sosial dalam mendampingi korban kekerasan seksual dengan menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi korban kekerasan seksual yang seringkali dianggap sebagai orang-orang paling rentan dan terpinggirkan dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan peran sebagai pendamping korban kekerasan seksual, pekerja sosial memberikan perlindungan serta pemberdayaan sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan diri korban. Selain itu sebagai pendamping yang memahami betul pentingnya solidaritas sebagai landasan dalam mendampingi korban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pekerja sosial memahami dengan betul pangggilan etisnya melalui pendampingan terhadap korban meskipun beberapa pendampingan yang dilakukan tidak dapat diterima dengan baik oleh korban. Peran pendamping korban kekerasan seksual diwujudkan dengan solidaritas bersama para korban kekerasan seksual.
Tantangan Kepemimpinan Kristen di Era Disrupsi: Tanggung Jawab, Integritas, dan Adaptasi dalam Melayani Gereja Gunarto, Rita Oktavia; Herman, Samuel; Abraham, Jovita Elizabeth
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.256

Abstract

Leadership cannot be separated from the responsibility inherent in it, as the core of this role is being accountable for the outcomes of one's actions. In an era of disruption filled with various challenges, a leader's ability to adapt or become ensnared by the changes of the times becomes crucial. This research employs a qualitative method and references relevant literature and journals to understand the essence of responsibility in the context of church leadership. This article discusses the price that leaders must pay, such as receiving criticism, pressure, and rejection from both internal and external sources. In the context of the church leader's responsibility to serve, discipline, and guide the congregation, the relevance of sacrifices made, such as draining energy, mental faculties, and even facing loneliness in carrying out duties, is apparent. Integrity in leadership becomes a focal point inseparable from ministry. The author aims to provide a deep understanding through this article, so that the spirit of Christian leaders remains steadfast in fulfilling their noble calling as co-workers of God. Kepemimpinan seseorang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab yang melekat padanya, sebagai inti dari peran tersebut adalah pertanggungjawaban atas hasil dari tindakan yang dipimpinnya. Di era disrupsi yang penuh dengan berbagai tantangan, kemampuan seorang pemimpin untuk beradaptasi atau terjebak oleh perubahan zaman menjadi sangat penting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan mengacu pada literatur dan jurnal terkait untuk memahami esensi tanggung jawab dalam konteks kepemimpinan gereja. Artikel ini mengulas tentang harga yang harus dibayar oleh pemimpin, seperti menerima kritik, tekanan, dan penolakan baik dari internal maupun eksternal. Dalam konteks tanggung jawab pemimpin gereja untuk melayani, mendisiplinkan, dan membimbing jemaat, terlihat relevansi antara pengorbanan yang harus dilakukan, seperti menguras tenaga, pikiran, bahkan menghadapi kesepian dalam menjalankan tugas. Integritas dalam kepemimpinan menjadi sorotan yang tak terpisahkan dari pelayanan. Penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam melalui tulisan ini, agar semangat para pemimpin Kristen tetap tegar dalam melaksanakan panggilan mulianya sebagai rekan sekerja Allah.

Page 1 of 1 | Total Record : 7