cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17 No 3 (2021)" : 6 Documents clear
Ruang Pendingin Nol Energi untuk Pengelolaan Pascapanen Antraknosa pada Capsicum frutescens Nuzila Fitri Filaila; Suryanti Suryanti; Ani Widiastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.83-91

Abstract

Ruang Pendingin Nol Energi untuk Pengelolaan Pascapanen Antraknosa pada Capsicum frutescens Salah satu penyebab kehilangan hasil cabai pascapanen adalah penyakit antraknosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan ruang pendingin nol energi atau zero energy cool chamber (ZECC) dalam menekan keparahan penyakit antraknosa pada komoditi cabai rawit (Capsicum frustescens) serta memperpanjang daya simpan buah cabai. Penelitian dimulai dengan merancang dan membuat ZECC sebagai tempat penyimpanan cabai. Buah cabai diinokulasi Colletotrichum gloeosporioides dan tanpa inokulasi (kontrol) disimpan pada dua kondisi, yaitu di dalam ZECC dan tempat penyimpanan dengan suhu ruang. Pertumbuhan C. gloeosporioides mengalami penghambatan sebesar 40.48% setelah disimpan di dalam ZECC dibandingkan dengan pertumbuhannya pada suhu ruang. Penyimpanan cabai rawit di dalam ZECC mampu menekan keparahan penyakit antraknosa sebesar 56.2% pada hari ke-15, tidak memengaruhi kandungan vitamin C dan total padatan terlarut (TSS) serta mampu mengurangi susut bobot cabai selama penyimpanan. Berdasarkan uji organovisual dengan metode visual quality rating dan Hedonic sensory test, konsumen lebih menyukai cabai yang disimpan di dalam ZECC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan di dalam ZECC dapat memperpanjang umur simpan cabai rawit. Model tempat penyimpanan ini tidak menggunakan listrik atau bersifat zero energy sehingga dapat digunakan oleh petani berskala kecil. Ini adalah laporan pertama penggunaan ZECC untuk pengelolaan penyakit antraknosa pada cabai pascapanen di Indonesia.
The Relationship between Sheath Blight Disease Incidence, Disease Severity, and Rice Yield Laila Nur Milati; Bambang Nuryanto; Umin Sumarlin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.113-120

Abstract

Produksi padi dapat mengalami penurunan akibat gangguan oleh penyakit hawar pelepah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani. Penelitian bertujuan memperkirakan penurunan hasil padi akibat penyakit hawar pelepah berdasarkan keparahan penyakit yang terjadi pada stadium masak susu. Penelitian dilaksanakan di rumah kawat dan lahan percobaan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada musim hujan 2019/2020. Penelitian di rumah kawat menggunakan tiga varietas padi yaitu “Ciherang”, “Inpari 32 HDB”, dan “Baroma”; sedangkan penelitian di lahan percobaan menggunakan “Ciherang”. Inokulasi R. solani dilakukan pada tanaman padi stadium anakan maksimum dengan menyisipkan tanaman terinfeksi sebagai sumber inokulum penyakit diantara rumpun padi pada tingkat insidensi antara 5%–50%. Tingkat keparahan penyakit pada tanaman di rumah kawat dan lahan percobaan terus berkembang selama periode pengamatan dan mencapai berturut-turut 60.09% dan 70.56%. Lebih lanjut, keparahan penyakit yang tinggi menyebabkan penurunan hasil yang tinggi pula. Pengetahuan tentang hubungan insidensi dan keparahan penyakit bermanfaat dalam menentukan prediksi hasil sehingga pengendalian penyakit dapat dilakukan sedini mungkin untuk menghindari kehilangan hasil yang tinggi.
Resistance of Rice Varieties and Accessions to Dwarf Viruses Celvia Roza; Suprihanto Suprihanto; Dede Kusdiaman; I Nyoman Widiarta; Bambang Nuryanto; Oco Rumasa
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.92-102

Abstract

Identifikasi ketahanan plasma nutfah padi terhadap virus kerdil bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai varietas dan aksesi yang tahan terhadap virus kerdil padi, yaitu Rice ragged stunt virus (RRSV) dan Rice grassy stunt virus (RGSV). Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada MT1/MT2 tahun 2018. Materi genetik yang diuji yaitu 19 varietas padi yang sudah dilepas dan 50 aksesi plasma nutfah padi koleksi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Litbang Pertanian-Kementerian Pertanian. Pengamatan mengikuti metode skoring SES IRRI 2014. Respons tanaman uji terhadap RRSV dapat dikelompokkan menjadi rentan (1 varietas dan 22 aksesi), agak tahan (18 varietas dan 22 aksesi), dan tahan {2 aksesi, yaitu MDK Karawang (800 butir/Malai) (10597), dan Pulo Hitam (10615}. Respons tanaman uji terhadap RGSV dapat dikelompokkan menjadi rentan (16 varietas dan 34 aksesi), agak tahan (3 varietas dan 11 aksesi), dan tahan (1 aksesi, yaitu Ketik 1-1062). Lebih lanjut, aksesi padi yang tahan terhadap RRSV dan/atau RGSV dapat digunakan sebagai tetua dalam perakitan varietas yang tahan terhadap virus kerdil.
Resistance of Several Hibiscus cannabinus genotypes Against Meloidogyne incognita Parnidi Parnidi; Lita Soetopo; Damanhuri Damanhuri; Marjani Marjani
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.103-112

Abstract

Resistance of Several Hibiscus cannabinus genotypes Against Meloidogyne incognita Kenaf (Hibiscus cannabinus) is known as a source of natural fibers. Infection of Meloidogyne incognita (root-knot nematode) in kenaf plants causes stunting of plants, thereby reducing crop production. This study aimed to determine the resistance of seven kenaf genotypes against M. incognita. The experiment was conducted by infesting kenaf plants aged 15 days after planting (DAP) with M. incognita in a population of 40 juvenile nematodes 2 per 100 g of soil. The planting medium used was sandy soil with a composition of 55% sand, 36% dust, and 17% clay. The resistance variable consisted of root knot index and nematode reproduction factors. Analysis of salicylic acid, phenol, lignin and several plant growth variables were carried out at 75 DAP. Among the seven kenaf plant genotypes evaluated, there were 3 tolerant genotypes (KR4, KR15 and KR5) and 4 highly susceptible genotypes (KR1, KR6, Kin2, and DS028). Genotypes that had a tolerant response to M. incognita showed an increase in phenolic compounds, salicylic acid, and lignin in the roots compared to the control. The decrease in plant height, crown fresh weight, and root fresh weight varied due to M. incognita infection.
Molecular Characters of AB-FAR Gene 1 of Aphelenchoides besseyi from Five Rice Varieties Fitrianingrum Kurniawati; Efi Toding Tondok; Yayi Munara Kusumah; Abdul Munif
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.121-130

Abstract

Aphelenchoides besseyi merupakan nematoda penyebab penyakit pucuk putih yang terbawa benih padi. Gen AB FAR-1 diketahui sebagai gen penting yang mengendalikan patogenisitas A. besseyi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakter gen AB FAR-1 yang diisolasi dari nematoda yang berasal dari benih padi. Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode corong Baerman dari benih 5 varietas padi “Ciherang“, “Inpari Sidenuk“, “Sintanur“, “Hibrida Prima“ dan “Pak Tiwi“. Ekstraksi DNA total nematoda menggunakan metode CTAB dilanjutkan dengan amplifikasi gen AB FAR-1 menggunakan primer spesifik FAR-F1/R1 dan analisis urutan nukleotidanya. Pita DNA spesifik gen AB FAR-1 berukuran 150 pb berhasil diamplifikasi dari semua sampel nematoda. Analisis sekuen menunjukkan bahwa gen AB FAR-1 tersebut memiliki homologi tertinggi (92.5 – 100%) dengan aksesi Genbank JQ686690.1, yaitu gen AB FAR-1 A. besseyi asal Cina. Walaupun memiliki homologi yang tinggi, terdapat beberapa perbedaan nukleotida pada sampel gen AB FAR-1 A. besseyi asal “Ciherang“, “Inpari Sidenuk“ dan “Hibrida Prima“. Analisis pohon filogenetika lebih lanjut mengelompokkan gen AB FAR-1 A. besseyi menjadi 2 grup, yaitu grup 1 terdiri atas gen AB FAR-1 A. besseyi asal Cina, “Sintanur“, “Hibrida Prima“ dan “Pak Tiwi“ dan grup 2 gen AB FAR-1 A. besseyi asal “Ciherang“, dan “Inpari Sidenuk“.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 3, Mei 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, JFI Vol. 17 No. 3, Mei 2021.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue