cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Sintesis penyangga katalis gamma alumina dari aluminium sulfat Lintang Adi Pradana; Kemal Naser; T Walmiki Samadhi; IGBN Makertihartha
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.2.4

Abstract

Hydrotreating is a processing step in petroleum refinery, whose purpose is to remove impurities in refining feedstock. The performance of a hydrotreater is determined by the catalyst used in the process. One of the commonly used materials for catalyst support is gamma alumina, which in Indonesia is still being imported. The objective of this research is to define the recipe (operating conditions and working procedures) for synthesizing commercial-quality gamma alumina powder, as indicated by crystal structure and specific surface area specifications. The synthesis method used in this research is based on the procedure patented by Rana (2004). Gamma alumina is synthesized via precipitation, using technical grade alum (aluminum sulfate) as alumina source, and urea, ammonium hydroxide, and ammonium carbonate as precipitating agents. Alumina hydrate calcination temperature is varied at 550, 650 and 750°C. Calcination time is varied at 5 and 10 hours. Optimum calcination condition is achieved at a temperature of 750 °C for 10 hours. From the main experiment, it has been identified that gamma alumina with the best crystal structure is obtained by using ammonium carbonate as precipitating agent. The highest specific surface area is obtained by using continuous heating and stirring, using urea precipitating agent.Keywords: hydrotreating, gamma alumina, precipitation AbstrakHydrotreating merupakan tahapan pengolahan minyak bumi untuk menghilangkan pengotor di dalamnya. Kinerjanya dipengaruhi oleh katalis yang digunakan. Salah satu komponen katalis adalah penyangga. Bahan yang umum digunakan sebagai penyangga katalis hydrotreating adalah gamma alumina. Gamma alumina yang digunakan di Indonesia masih diimpor. Tujuan penelitian adalah menentukan resep (kondisi operasi dan prosedur kerja) sintesis gamma alumina fasa serbuk dengan kualitas komersial, yang mencakup spesifikasi struktur kristal dan luas permukaan. Sintesis gamma alumina pada penelitian ini menggunakan prosedur yang dipatenkan oleh Rana). Metode yang dilakukan adalah presipitasi dengan bahan baku tawas dan presipitator berupa urea, amonium hidroksida, dan amonium karbonat. Temperatur kalsinasi divariasikan pada 550, 650, dan 750°C. Waktu kalsinasi divariasikan pada 5 dan 10 jam. Kondisi optimum dicapai pada temperature kalsinasi 750°C selama 10 jam. Dari percobaan inti didapatkan bahwa gamma alumina dengan struktur kristal terbaik diperoleh dari presipitator amonium karbonat. Gamma alumina dengan luas permukaan terbesar diperoleh dari metode pemanasan serta pengadukan kontinu menggunakan presipitator urea.Kata kunci: hydrotreating, gamma alumina, presipitasi
Application of ionic liquids for separation of propyne from propylene: solubility and selectivity studies Jelliarko Palgunadi; Antonius Indarto; Haryo Winoto; Hoon Sik Kim
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 3 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.3.5

Abstract

Separation or removal of propyne from propylene, generated by naptha cracking process, is one of the most important processes in petrochemical industries because ppm level of propyne contained in feed olefins can serve as catalyst poisons in the polymerization of olefins. Recently, room temperature ionic liquids (RTILs) were introduced as novel solvents for the separation of various gases and hydrocarbons. RTIL is a salt composed of unsymmetrical organic cation and organic/inorganic anion which melts at room temperature. Prior to the decision of material selection for the effective separation of propyne/propylene employing RTIL, solubility behaviors and selectivities of propyne and propylene in various RTILs were investigated. For the solubility of propyne and propylene in 1-R-3-methylimidazolium-based RTILs, solubility measurement, thermodynamic analysis, and computational calculation strongly imply that the solubility of propyne is controlled by a trade-off between a specific solute-solvent interaction (hydrogen bonding of propyne-anion) and non bonding interaction (solubility parameter). In contrast, the solubility of propylene seems to be much strongly dependent on non-bonding interaction (solubility parameter) closely related to the physical attractive forces as suggested by regular solution theory. Thus, to achieve high selectivity of propyne over propylene, a RTIL with smaller-size and stronger hydrogen bonding ability should be employed.Keywords: propyne, propylene, solubility, selectivity, ionic liquidsAbstrakPemisahan senyawa propuna dari propena, yang dihasilkan oleh proses fraksionasi nafta adalah salah satu proses yang paling penting dalam industri petrokimia. Kontaminan propuna yang terkandung dalam umpan olefin dapat menjadi racun katalis dalam proses polimerisasi olefin. Kini cairan ionik temperatur ruang (RTIL) diperkenalkan sebagai pelarut baru untuk pemisahan berbagai gas dan hidrokarbon. RTIL adalah garam yang terdiri dari kation organik dan anion organik/anorganik asimetrik yang meleleh pada suhu kamar. Pemilihan senyawa pelarut RTIL yang tepat untuk pemisahan propuna / propena akan dibahas dalam tulisan ini. Dalam proses pelarutan propuna dalam RTIL berbasis 1-R-3-metilimidazolium, pengukuran kelarutan, analisis termodinamika, dan pemodelan mengisyaratkan bahwa kelarutan propuna dikendalikan oleh kompromi antara interaksi spesifik solut-pelarut (ikatan hidrogen propuna-anion) dan interaksi tak mengikat  (parameter kelarutan). Sebaliknya, kelarutan propena sangat bergantung pada interaksi tak mengikat (parameter kelarutan) yang erat hubungannya dengan ikatan fisik seperti dipaparkan dalam teori larutan biasa (regular solution theory). Dengan demikian, untuk mencapai selektivitas tinggi terhadap propuna dibandingkan dengan propena, disarankan untuk menggunakan senyawa RTIL dengan ukuran molekul lebih kecil yang memiliki ikatan hidrogen lebih kuat.Kata Kunci: propuna, propena, kelarutan, absorpsi, cairan ionik
KOEFISIEN PERPINDAHAN MASSA VOLUMETRIS KESELURUHAN PADA EKSTRAKSI Cu DARI LARUTAN CuSO4.5H2O DENGAN TRIRUTYL PHOSPHATE-KEROSIN DALAM DOUBLE-STAGE MIXER-SETTLER Panut Mulyono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.1.4

Abstract

Copper has been extracted by trtbuthyl phosphate-kerosene from a dilute aqueous solution with a double- stage mixer-settler extraction column. The extraction column used in this experiment was made of glass. The mixer diameter was equal to the diameter of settler was 13 cm. Both the mixer and settler heights were 8 cm. Drop coalescer was mounted in the middle of mixer and settler separator. The diameter of drop coalescer was 6 cm with the thickness of 1 cm. The hole diameter of drop coalescer was 1 mm The stirrer used in this experiment was cross flat blade with the diameter and width of the impeller was 6 cm and 8 mm, respectively. The overall volumetric coefficient of mass transfer (Kca) increased by increasing the flowrate of the continuous phase (Lc) at the constants stirring speed (N) and flowrate of the dispersed phase (Ld). The increase of Lc from 4.1634 cm3/second to 17.9436 cm3/second increased the Kca value from 6.6387x10-5/second to 23.1561x10-5/second or 248.8% The value of Kca was also increase by increasing N at the constant values of Lc and Ld Thie increase of N from 3.3333 rps to 8.3333 rps increased the Kca value from 6.0288x10-5/second to 6.6387x10-5/second or 10.1%.Keywords: Mass Transfer Coefficient, Extraction, Copper, Double-Stage Mixer-SettlerAbstrak Penelitian ini mempelajari perpindahan massa antar fasa pada ekstraksi Cu dart larutan CuSO4.5H2O dengan menggunakan pelarut tributyl phosphate dalam kerosin yang dilakukan dalam kolom ekstraksi double-stage mixer-settler yang dtsusun vertikal. Kolom ekstraksi mixer-settler dibuat darti gelas dengan diameter mixer sama dengan diameter sealer, yaitu 13 cm. Tinggi mixer juga sama dengan tinggt settler, yaitu 8 cm. Diameter drop coalescer 8 cm, tebal 1 cm, dan diameter lubangnya 1 mm. Pengaduk yang digunakan berbentuk flat blade dengan diameter 6 cm dan lebar blade 8 mm. Koeftsien perpindahan massa volumetris keseluruhan (Kca) naik dengan naiknya kecepatan alir fasa kontinyu (Lc) pada kecepatan putaran pengaduk (N) dan kecepatan alir fasa dispersi (Ld) tetap. Kenatkan nilai Lc dart 4,1634 cm3/detik menjadi 17,9436 cm3/detik meningkatkan nilai Kca dart 6,6387x10-5/detik menjadi 23,1561x10-5/detik atau 248,8% Kca juga naik dengan naiknya N pada Lc dan Ld yang tetap. Kenaikan nilai N dart 3,3333 rps menjadi 8,3333 rps meningkatkan nilai Kca dart 6,0288x10-5/detik menjadt 6,6387x10-5/detik atau 10,1%.Kata Kunci : Koefesien Perpindahan Massa, Ekstraksi, Tembaga, Double-Stage Mixer-Settler
Biodegradable polymer dari asam laktat Irwan Noezar; V.S. Praptowidodo; R. Nugraheni; M.H. Nasution
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.5

Abstract

The objective of this research is to learn and to make the biodegradable polymer, Poly(lactic acid), from lactic acid by condensation polymerization without catalyst. Poly(lactic acid) that will be produced in this research should have the molecular weight between 3000-5000 grams/mole. The scopes of this research are the_purification of lactic acid, purity analysis, polymerization reaction, and polymer's characteristic analysis. The method of lactic acid purification is distillation in nitrogen atmosphere. Polymerization reaction which is used in this research is the condensation polymerization without catalyst. The polymer's characteristics that will be analyzed are molecular weight and  degradation time Molecular weight is analyzed by viscosimetry method and Gel Permeation Chromatography. Degradation time is analyzed by landfill method Based on this research, purification of D,L-lactic acid (91%-weight) reaches 98%-weight and for L-lactic acid (93%-weight) reaches 96%-berat. Molecular weight of D,L-lactic acid between 450-3600 grams/mole and L-lactic acid between 4200-8500 grams/mole.  The degradation time of polymer is 5 weeks.Keywords: Poly(lactic acid), polymer,  biodegradable AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mensintesis biodegradable polymer, Poly(lactic acid) dari asam laktat melalui reaksi polimerisasi kondensasi tanpa katalis. Poly(lactic acid) yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan memiliki berat molekul antara 3000-5000 gram/mol. Ruang lingkup penelitian meliputi pemurnian asam laktat, analisa kemurnian asam laktat, reaksi polimerisasi kondensasi dan karakterisasi polimer. Pemurnian asam laktat dilakukan melalui distilasi pada atmosfer nitrogen dan tekanan 1 atmosfer. Reaksi polimerisasi dilakukan melalui polimerisasi kondensasi tanpa katalis dengan variasi waktu reaksi pengadukan mekanik dan laju pemanasan. Karakteristik polimer yang dianalisis adalah berat molekul dan waktu degradasi. Berat molekul dianalisis dengan metode GPC (Gel Permeation Chromatography) dan viskosimetri. Degradasi polimer dilakukan secara landfill. Berdasarkan hasil percobaan, pemurnian asam laktat untuk monomer D,L-Lacticacid (91%-berat) mencapai 98%-berat sedangkan untuk monomer L-Lactic acid (93%-berat) mencapai 96%-berat. Berat molekul yang dihasilkan untuk monomer D,L-Lactic acid adalah 450 - 3600 gram/mol sedangkan untuk monomer L-Lactic acid adalah 4200- 8500 gram/mol. Waktu degradasi polimer secara landfill adalah 5 minggu.Kata kunci : Poly(lactic acid), polimer, biodegradable
Pengaruh Radiasi Microwave dan Perlakuan Asam pada Batubara Peringkat Rendah terhadap Perolehan Biosolubilisasi Menggunakan Neurospora intermedia Nendry Nurramdani Solihah; Dwiwahju Sasongko; Elvi Restiawaty
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 19, No 1 (2020)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2020.19.1.3

Abstract

Abstrak. Biosolubilisasi batubara peringkat rendahmerupakan teknologi yang menjanjikan untuk mendapatkan bahan bakar cair yang ramah lingkungan. Biosolubilisasi batubara peringkat rendah dapat dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme seperti Neurospora intermedia yang mampu menghasilkan enzim-enzim pensolubilisasi. Mekanisme biosolubilisasibatubaraterjadikarenaadsorpsienzim-enzim tersebutkepermukaan partikel batubara, sehingga proses perlakuan awal batubara perlu dilakukan untuk memudahkan proses adsorpsi enzim.Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh perlakuan awal partikel batubara peringkat rendah terhadap struktur batubara dan perolehan biosolubilisasi. Pengaruh perlakuan awal tersebut dikaji dengan membandingkan biosolubilisasi menggunakan partikel batubara tanpa perlakuan awal (B1), perlakuan fisik dengan memberikan radiasi microwave 511 Watt selama 5 menit (B2), perlakuan kimiawi dengan merendam partikel batubara dalam HNO3 8 M selama 48 jam (B3), serta perlakuan kombinasi radiasi microwave selama 5 menit dan HNO3 dengan konsentrasi 2, 4, 6, dan 8 M selama 48 jam (B4, B5, B6, dan B7). Partikel batubara B1 memiliki rentang diameter mesopori sebesar 33,97 Å, sedangkan partikel batubara yang telah mengalami perlakuan awal mengalami peningkatan diameter pori namun masih dalam rentang mesopori. Luas permukaan persatuan massa dan volume pori yang tertinggi diperoleh dari perlakuan B3, masing-masing adalah 44,39 m2/g dan 0,09 cc/g. Hasil analisis proksimat dan ultimat menunjukkan bahwa perlakuan asam dapat mengurangi kandungan karbon terikat. Secara kualitatif dapat terlihat bahwa biosolubilisasi batubara B1, B2, B4, dan B5 tidak terjadi dengan baik, sehingga tidak terdapat cairan hitam sebagai hasil batubara yang tersolubilisasi, sedangkan biosolubilisasi batubara B3, B6, dan B7 menghasilkan cairan hitam sejak hari pertama. Secara kuantitatif, biosolubilisasi batubara peringkat rendah menggunakan perlakuan B3 menghasilkan konsentrasi asam humat dan persentase biosolubilisasi yang tertinggi, masing-masing yaitu 186,1 mmol/L dan 67,8%. Kata kunci: biosolubilisasi batubara, HNO3, Neurospora intermedia, radiasi microwave. Abstract. Effect of Microwave Radiation and Acid Treatment on Low Grade Coal on Biosolubilization Acquisition Using Neurospora intermedia. Bio-solubilization of low rank coal is a promising technology to obtain environmentally friendly liquid fuel. Bio-solubilization can be carried out using microorganism, such as Neurospora intermedia, which is capable to produce solubilizing enzymes. Mechanism of coal bio-solubilization occurs due to enzymes adsorption onto surface of coal, so that the low rank coal pre-treatment is needed to easy enzyme adsorption. This research examines the effects of low rank coal pre-treatment towards coal structure and bio-solubilization yields. The effects of the pre-treatment were studied by comparing the bio-solubilization using coal with the following specification: without treatment (B1), physical pre-treatment of 511 Watt microwave radiation for 5 minutes (B2), chemical pre-treatment using 8 M HNO3 for 48 hours (B3), and pre-treatment with a combination of microwave radiation for 5 minutes and acid treatment using various HNO3 concentration of 2, 4, 6, and 8 M for 48 hours (B4, B5, B6, and B7, respectively). Coal particle of B1 had mesopore diameter range of 33.97 Å, while coal particle with pre-treatment have increased pore diameter, but are still in range of mesopore. The coal obtained by B3 process has the highest specific surface area and pore volume, which were 44.39 m2/g and 0.99 cc/g, respectively. The proximate and ultimate analyses showed that acid treatment reduced fixed carbon contain. Coal bio-solubilization of B1, B2, B4, and B5 by qualitative could not be solubilized and there was no black liquid as a result of solubilized coal, meanwhile, B3, B6, and B7 were solubilized easily since the first day. Bio-solubilization of chemically pre-treatment low rank coal, B3, resulted in the highest humic acid concentration and bio-solubilization percentage i.e. 186.1 mmol/L and 67.8%, respectively. Keywords: coal bio-solubilization, HNO3, microwave radiation, Neurospora intermedia. 
Modifikasi gugus aktif suatu karbon aktif dan karakterisasinya Wibowo, Nani; Setiawan, Jang; Ismadji, Suryadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.6

Abstract

The effect of addition of oxidizing acid on activated carbon surface chemistry is presented in this paper. The Activated carbon used in this study was made from coconut shell. In present study, sulfuric acid was used as the oxidizing acid. In treatment process, activated carbon was impregnated in sulfuric acid solution at various concentrations and temperature for 4 h. Subsequently, the surface chemistry of activated carbon was analyzed by Boehm titration method. From the experimental results it was found that acid functional group in activated carbon increase while the base functional group decreases. In order to know the effect of oxidizing acid on the pore structure of activated carbon, the XRD analyzed were carried out. It was found that oxidizing acid gave no effect on the pore structure of activated carbon studied. The gas phase benzen adsorption experiments were also carried out in order to find the effect of oxidizing acid on activated carbon adsorption capacity.Key Words: Activated Carbon, Base Functional Group, Acid Functional GroupAbstrakMakalah ini mempelajari tentang pengaruh penambahan asam oksidator terhadap sifat kimia permukaan suatu karbon aktif. Karbon aktif yang digunakan adalah karbon aktif yang terbuat dari tempurung kelapa. Pada percobaan ini, karbon aktif ditreatment dengan menggunakan oksidator asam sulfat. Proses treatment dilakukan dengan merendam karbon dalam asam sulfat pada konsentrasi dan temperatur tertentu selama empat jam. Setelah proses treatment, dianalisa sifat kimia permukaan karbon aktif dengan menggunakan metode Boehm untuk menganalisa gugus asam, dimana karbon direndam dengan larutan basa dan dititrasi balik dengan larutan asam. Sedangkan untuk analisa gugus basa, karbon direndam dengan larutan asam dan dititrasi balik dengan larutan basa. Dari hasil analisa diketahui bahwa penambahan oksidator asam sulfat memperbanyak jumlah gugus asam dan mengurangi jumlah gugus basa pada permukaan karbon aktif. Untuk mengetahui perubahan struktur pori karbon aktif, dilakukan analisa dengan menggunakan X Ray Diffraction (XRD). Dari kurva hasil analisa XRD, dapat dilihat bahwa penambahan oksidator asam sulfat tidak mempengaruhi bentuk dan ukuran pori dari karbon aktif. Analisa kemampuan penyerapan  karbon aktif dilakukan melalui adsorpsi benzen pada fase gas. Dari hasil percobaan diketahui bahwa penambahan oksidator asam sulfat mengurangi kemampuan penyerapan karbon aktif terhadap benzen.Kata Kunci: Karbon Aktif, Gugus Basa, Gugus Asam
Separation of oil-in-water emulsion using slotted pore membrane Sutrisna, P.D.; Lingganingrum, F.S.; Wenten, I.G.
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.1.8

Abstract

Nowadays, oil-in-water (O/W) emulsion has become an important topic in many industries. Petroleum industry is one of these industries. O/W emulsion produced in crude oil recovery causes problems at different stages in petroleum industry. Produced water can not be injected again into the well, because it contains high concentrations of oil, grease and suspended particles. Recently, membrane technology has been applied in separation of O/W emulsion. One membrane that has been developed special for oil filtration is slotted true surface filter. This research investigated influences of pore size and initial concentration of feed emulsion during oil filtration using slotted pore membrane. From the experiment, oil rejection will be higher if we use membrane with smaller pore size, emulsion with high stability and small trans membrane pressure. Based on the slot width it can be concluded that 33 microns membrane gives better oil rejection than 80 microns membrane. Initial concentrations of challenge emulsion also influence value of flux and oil rejection, which will also influence our decision to choose suitable membrane in relation with hydrophilicity of the membrane. During microfiltration process, there was deformation of oil particle through slot of membrane, which can be analyzed by observing size of oil drops in feed and permeate sides. Keywords: emulsion, microfiltration, slotted pore membraneAbstrakSaat ini penanganan limbah emulsi minyak dalam air menjadi topik penting di berbagai industri. Salah satunya adalah industri perminyakan. Emulsi yang dihasilkan dalam proses penambangan minyak mentah menimbulkan masalah pada beberapa tahapan proses di industri. Air yang mengandung minyak tidak dapat digunakan kembali untuk meningkatkan perolehan minyak karena mengandung minyak, lemak dan partikel tersuspensi dalam konsentrasi tinggi. Sehingga dibutuhkan proses pemisahan emulsi minyak dalam air. Akhir–akhir ini teknologi membran telah digunakan untuk memisahkan emulsi tersebut. Salah satu membrane yang dikembangkan adalah membrane berslot seperti yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini telah berupaya mengamati pengaruh variasi ukuran pori dan konsentrasi umpan terhadap performa membrane berslot dalam memisahkan emulsi minyak dalam air. Dari percobaan, diperoleh hasil bahwa rejeksi membran terhadap minyak meningkat jika digunakan membrane dengan ukuran ori lebih kecil, emulsi dengan kestabilan yang tinggi, dan beda tekanan yang kecil. Disimpulkan bahwa membrane dengan ukuran pori 33 mikrometer memberikan rejeksi membrane lebih tinggi dibandingkan membrane dengan ukuran pori 80 mikrometer. Konsentrasi awal umpan mempengaruhi fluks dan rejeksi serta mempengaruhi pilihan kita dalam memilih jenis membran yang digunakan. Selama proses filtrasi, terjadi perubahan bentuk atau deformasi partikel minyak melewati slot atau pori membrane yang diamati melalui distribusi ukuran partikel.Kata kunci: emulsi, mikrofiltrasi, membran berslot
Modification of the surface chemistry of activated carbon and its influence on methylene blue adsorption Wibowo, David; Setyadhi, Lanny; Ismadji, Suryadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.1.6

Abstract

The adsorption behavior of activated carbons is determined not only by their porous structures but also by the chemical nature of its surface. The surface chemistry of activated carbons can be selectively modified in order to improve their adsorption capacity. In this study, a NORIT granular activated carbon was treated by oxidant (HNO3) and non-oxidant acid (HCI) at different concentrations and temperatures. The surface chemistries of the materials were characterized by Boehm titration method and by the determination of the point of zero charge (pHPZC).The adsorption properties of the selected samples were studied by adsorption of methylene blue, which is one of the important dyes and found in many textile effluents. In addition, the pore structures of the modified carbons were also studied by argon adsorption at 87.29 K. As results, it was observed that both HN03 and HCI treatments could increase the surface acidity of activated carbons. Activated carbons modified by HCI gave the best performance on the adsorption of methylene blue.Keywords: Activated Carbon, Surface Chemistry, Chemical Treatment, Boehm Titration Method, Adsorption AbstrakKemampuan adsorpsi karbon akti.ftidak hanya ditentukan oleh struktur pori tetapijuga dipengaruhi oleh sifat kimia dari permukaannya. Sifat kimia permukaan karbon aktif dapat secara selektif dimodifikasi dengan tujuan untuk lebih meningkatkan kapasitas adsorpsinya. Pada penelitian ini, karbon aktif NORIT granular ditreatment dengan menggunakan asam oksidator (HNO) dan non-oksidator (HCI) pada berbagai konsentrasi dan suhu. Sifat kimia permukaan karbon aktif dikarakterisasi dengan menggunakan metode titrasi Boehm serta dengan penentuan point of zero charge (pHPZC). Kemampuan adsorpsinya diuji dengan mengadsorp larutan methylene blue, dimana methylene blue merupakan salah satu komponen dalam limbah tekstil. Sedangkan struktur pori karbon aktif dianalisa dengan adsorpsi Ar pada suhu 87,29 K. Penelitian ini menunjukkan bahwa baik treatment dengan HNO3 maupun HCI dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan sifat asam pada permukaan karbon aktif. Karbon aktif yang diberi perlalatan dengan HCI memberikan kemampuan adsorpsi yang paling baik dalam adsorpsi larutan methylen biru.Kata Kunci: Karbon Aktif, Sifat Kimia Permukaan, Perlakuan dengan Larutan Kimia, Metode Titrasi Boehm, Adsorpsi
Kinerja bioreaktor hibrid anaerob bermedia tandan dan pelepah sawit dalam penyisihan cod Ahmad, Adrianto; Amraini, Said Zul; Luturkey, Yance Andre
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 3 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.3.4

Abstract

Performance of anaerobic hybrid bunch-frond palm mediated bioreactor in COD elimination The high contents of Chemical Oxygen Demand (COD) in palm oil mill wastewater is able to cause the obstructed connection between air and a receiver of water body so that can make the lessening oxygen solubility in the receiver of water body. Hence, it is important to do innovation to get a good technology process of wastewater in order that the contents of COD become low. One of the wastewater processes can be done by using hybrid anaerobic bioreactor in eliminating COD that exists in palm oil mill wastewater. This research uses two units of hybrid anaerobic bioreactor i.e. hybrid anaerobic bioreactor mediated immobilization cell of empty stem palm and hybrid anaerobic bioreactor mediated immobilization cell of in 2.5 m3 of work volume. The process is done by using variation of imposition organic rate i.e. 10, 12.5, 14.28, 16.6, 20, 25, 33.3, and 50 kg COD/m3-day. The result of research showed that the highest eliminating COD is 82.67% in 14.28 kg COD/m3-day in bioreactor filled with empty palm fruit bunch and 84% for imposition organic rate 16.6 kg COD/m3-day in bioreactor filled with palm midrib. Therefore, both hybrid anaerobic bioreactors can be used for processing oil palm mill wastewater in high load of COD. Keywords: hybrid bioreactor, COD, wastewater, palm midrib, empty stem palmAbstrakKandungan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi dalam limbah cair pabrik minyak sawit dapat menyebabkan terhambatnya kontak antara udara dengan badan air penerima sehingga mengakibatkan berkurangnya kelarutan oksigen dalam badan air penerima tersebut. Oleh karena itu, penting dilakukan terobosan baru untuk mendapatkan teknologi pengolahan limbah cair yang handal agar kandungan COD menjadi rendah. Salah satu teknologi pengolahan limbah cair tersebut adalah bioreaktor hibrid anaerob. Penelitian ini bertujuan mengkaji kinerja beberapa jenis bioreaktor hibrid anaerob dalam penyisihan COD dalam limbah cair pabrik minyak sawit. Pada penelitian ini digunakan dua unit bioreaktor yakni bioreaktor hibrid anaerob dengan media imobilisasi sel tandan kosong sawit dan bioreaktor hibrid anaerob dengan media imobilisasi sel pelepah sawit dengan volume kerja 2,5 m3. Proses pengolahan dilakukan dengan variasi laju pembebanan zat organik, yaitu10; 12,5; 14,28; 16,6; 20; 25; 33,3; 50 kg COD/m3hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyisihan COD yang tertinggi dicapai sebesar 82,67% dengan laju pembebanan organik 14,28 kg COD/m3hari pada bioreaktor bermedia tandan kosong sawit dan 84% untuk laju pembebanan organik 16,6 kg COD/ m3hari pada bioreaktor bermedia pelepah sawit. Dengan demikian, kedua bioreaktor hibrid anaerob ini dapat digunakan untuk mengolah limbah cair industri minyak sawit dengan beban COD tinggi.Kata kunci: bioreaktor hibrid, COD, limbah cair, pelepah sawit, tandan kosong sawit
Pemuatan listrik bipolar untuk partikel aerosol Setyawan, Heru
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.4

Abstract

Bipolar diffusion charging of aerosol particles has been studied theoretically using Fuchs theory. Experimental data measured by several researchers available in the published literature were used to verify the calculation results. The calculation results show that Fuchs theory has been successfully used to predict the experimental data of the charging probability of submicron aerosol particles. The combination probability of ion-particle increases with the increase of particle size, both for particle and ion with the same sign and those with the opposite sign. However the combination probability is larger if the charges of particle and ion are of the opposite sign. Generally, Fuchs theory is not too easy to deal with due to the ill-defined of all parameters used, namely ion mass and ion mobility. These cause many possibilities of parameter combination that can give a good agreement with experimental data. Thus, in order to interpret the experimental results properly, the two parameters should be measured simultaneously with aerosol measurements.Keywords: Aerosol, Bipolar Charging, Combination ProbabilityAbstrakPemuatan listrik difusi bipolar partikel aerosol telah dipelajari secara teoritis menggunakan teori Fuchs. Sebagai verifikasi digunakan data eksperimen beberapa peneliti yang tersedia dalam literatur yang telah dipublikasikan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa teori Fuchs berhasil memprediksi dengan baik data eksperimen probabilitas pemuatan listrik partikel aerosol dalam rentang ukuran partikel berukuran submikron. Probabilitas penggabungan ion-partikel semakin besar dengan semakin besarnya ukuran partikel, baik untuk partikel dan ion yang memiliki tanda yang berlawanan maupun yang memiliki tanda yang sama. Akan tetapi, probabilitas penggabungan untuk partikel dan ion yang memiliki tanda yang berlawanan memiliki nilai yang lebih besar. Pada umumnya teori Fuchs tidak terlalu mudah untuk digunakan yang disebabkan oleh tidak terdefinisikannya dengan baik semua parameter yang digunakan, yaitu  massa ion dan mobilitas ion. Hal ini mengakibatkan banyak kemungkinan kombinasi parameter yang bisa menghasilkan kesesuaian yang bagus dengan data hasil pengukuran. Jadi, agar dapat menginterpretasikan hasil pengukuran dengan tepat, kedua besaran tersebut harus diukur secara serempak denganpengukuran aerosol.Kata Kunci: Aerosol, Pemuatan Listrik Bipolar, Probabilitas Penggabungan