cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Pembuatan karbohidrazida dari hidrazin dan asam sianurat I Dewa Gede Arsa Putrawan; Alfandra Ihsan; S Sofyan
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 3 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.3.2

Abstract

Hydrazine is commonly used as an oxygen scavenger in boiler feed water treatment. However, this compound is very flammable and is a carcinogenic substance. The industries in developed countries has studied the alternatives for hydrazine since long time ago and started to replace hydrazine. Carbohydrazide is known to be a good alternative for hydrazine. This research is aimed to understand the synthesis routes of carbohydrazide and to determine the best route as well as to develope a detail procedure of carbohydrazide preparation for local application. Literature study showed that carbohydrazide can be made by reacting hydrazine and cyanuric acid, phosgene, dimethyl carbonate or diphenyl carbonate. The synthesis path which is appropriate to be applied in Indonesia is that via cyanuric acid. From laboratory testing, a detail procedure for making carbohydrazide from hydrazine and cyanuric acid has been developed. In the range of experimental conditions studied, carbohydrazide with purity of 90-92% could be obtained with yield of 20-60%.Keywords: Carbohydrazide, cyanuric acid, hydrazine AbstrakHidrazin umumnya digunakan sebagai pengikat oksigen dalam pengolahan air umpan boiler. Akan tetapi, senyawa ini merupakan bahan kimia yang mudah terbakar dan bersifat karsinogenik. Industri-industri di negara maju sudah lama mengkaji alternatif pengganti hidrazin sebagai pengikat oksigen dan sudah mulai meninggalkan hidrazin. Senyawa yang diperkirakan potensial untuk menggantikan hidrazin adalah karbohidrazida. Tujuan  penelitian ini adalah untuk memahami rute sintesis karbohidrazida dan menentukan rute yang tepat serta menyusun langkah-langkah detil proses pembuatan karbohidrazida untuk penerapan lokal di tanah air. Studi literatur menunjukkan bahwa karbohidrazida dapat diperoleh dengan mereaksikan hidrazin hidrat dan asam sianurat, fosgen, dimetil karbonat atau difenil karbonat. Alur yang diperkirakan tepat untuk dikembangkan di Indonesia adalah alur melalui asam sianurat. Melalui uji coba di laboratorium, prosedur pembuatan karbohidrazida dari hidrazin dan asam sianurat yang detil telah disusun. Pada kondisi yang dikaji, karbohidrazida dengan kemurnian90-92% dapat disintesis dengan perolehan pada rentang 20-60%.Kata kunci: karbohidrazida, asam sianurat, hidrazin.
Pengaruh medan magnet pada presipitasi CaCO3 untuk pencegahan pembentukan kerak Laksono, Nelson; Bismo, Setijo; Kristanti, Elsa; Widaningrum, Roekmijati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 2 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.2.1

Abstract

Hard water magnetizing is applied as physical water treatment for reducing the formation of scale (CaCO3) in piping equipment and boiler Na2 CO3 and CaCl2 solution had been used as sample of hard water in many researches to investigate the influence of magnetic fields on CaCO3 formation. Na2 CO3 solution had been magnetized first before it was mixed with CaCl2 solution. By changing the strength of magnetic fields, exposed time, precipitated time, and temperature of sample, this study presents quantitative results of total scale deposit, total precipitated CaC03 and morphology of the deposits. This research was run by comparing magnetically and non-magnetically-treated samples. The results showed a decrease of deposits formation rate and total amount of precipitated CaCO3 of magnetically-treated samples. An increase in precipitation temperature increased the total amount of precipitated CaCO3 and the maximum precipitation was achieved at the 50°C. Microscope images showed that a smaller amount but larger size of CaCO3 particles formed in magnetically-treated samples. X-ray diffraction (XRD) analysis showed that samples contain mostly calcite. This research's result showed that magnetization of Na2 CO3 solution could reduce formation rate of CaCO3 either in solution or in the surface of hard water.Keywords: Magnetic Treatment, Hard Water; Calcium Carbonate Precipitation; CaCO3 Deposit Morphology AbstrakMagnetisasi air sadah merupakan proses fisik yang bertujuan menekan terbentuknya kerak (CaCO3) pada sistem perpipaan dan boiler. Campuran larutan Na2 CO3 dan CaCl2 banyak digunakan sebagai model air sadah sintetik guna mengamati pengaruh medan magnet terhadap pembentukan CaCO3 dalam air sadah. Larutan Na2 CO3 dimagnetisasi terlebih dahulu sebelum dicampur dengan larutan CaCl2 Variabel proses meliputi waktu magnetisasi, waktu presipitasi, kuat medan, dan suhu larutan sampel sementara parameter yang akan diamati adalah jumlah deposit CaCO3 jumlah presipitasi total CaCO3 dan morfologi deposit CaCO3. Perbandingan parameter pengamatan dilakukan terhadap sampel yang dimagnetisasi dan sampel non-magnetisasi. Hasil percobaan menunjukkan adanya penurunan pembentukan deposit dan presipitasi total CaCO3 pada sampel yang dimagnetisasi dibanding sampel non-magnetisasi.   Peningkatan suhu presipitasi CaCO3 meningkatkan jumlah presipitasi total CaCO3 dan harga maksimum deposit CaCO3 yang terbentuk dicapai pada suhu 50°C. Hasil foto mikroskop menunjukkan jumlah partikel CaCO3 yang terbentuk pada sampel yang dimagnetisasi lebih sedikit dan ukuran partikelnya lebih besar dibanding sampel non-magnetisasi. Hasil uji XRD menunjukkan hanya kristal kalsit yang dominan pada kedua jenis sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa magnetisasi larutan Na2 CO3 dapat menahan laju pembentukan CaCO3 dilarutan maupun dipermukaan pada air sadah.Kata Kunci: Perlakuan Magnetik, Air Sadah, Presipitasi Kalsium Karbonat, Morfologi Deposit CaCO3
Desain proses pengeringan semprot untuk produksi tepung karet alam dari lateks Abidin, A. Zainal; Vachlepi, Afrizal
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 3 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.3.2

Abstract

Spray drying process design for the production of natural rubber powder from latexHigh water content in latex may result in perishable condition, high transportation costs, large packing needs, and handling difficulty due to the use of ammonia to prevent its coagulation.  A solution to this problem is to convert the latex into rubber powder using spray drying.  This work describes the design of the rubber powder production process, feedstock formulation, and the design of the dryer. Spray dryer performance is evaluated by simulation. The production process involves latex collection, quality inspection, filtration, addition of additives, and spray drying. Feedstock formulation consists of fresh latex, 1 %-w anticoagulant, and 2 %-w non-stick agent. The drying chamber is designed with a latex feed rate of 6x10-5 m3/s, moisture content of 80 %-w, density of 920 kg/m3, feed temperature of 27 oC, and drying air temperature of 140 oC. A pressurized-type nozzle is selected for the dryer. Design calculation results indicate that the dryer requires a nozzle diameter of 3.5 mm, chamber volume of 0.8 m3, cylindrical section height of 850 mm, conical section height of 870 mm, and a chamber diameter of 1000 mm. Drying time is 0.134 sec, with an overall residence time of 1.80 second. The dryer is predicted to produce natural rubber powder with a moisture content of 0.32-0.56 %-w.Keywords: latex, design, spray drying, simulation AbstrakKandungan air yang tinggi di dalam lateks dapat mengakibatkan lateks mudah rusak, biaya transportasinya tinggi, kebutuhan kemasannya besar, dan penanganannya yang ketat karena lateks mengandung amonia sebagai bahan pencegah kerusakan. Salah satu cara mengatasinya adalah mengkonversi lateks tersebut menjadi tepung karet alam dengan teknologi pengeringan semprot (spray drying). Di sini akan dipaparkan perancangan proses produksi tepung tersebut, formulasi umpannya, dan pengering semprot (spray dryer) yang digunakan untuk mengeringkan lateks. Kinerja dari pengering semprot dievaluasi dengan teknik simulasi. Rancangan proses produksi dimulai dari pengumpulan lateks, pemeriksaan kualitas lateks, penyaringan, penambahan zat aditif, dan pengeringan semprot. Formulasi umpan terdiri dari lateks segar, antikoagulan 1%-b, dan antilengket 2 %-b. Ruang   pengering semprot dirancang berdasarkan laju alir umpan lateks 6x10-5 m3/s dengan kadar air 80 %-b, densitas 920 kg/m3, suhu umpan 27 °C, dan udara pengering 140 °C. Nozzle bertekanan dipilih untuk alat ini. Hasil desain menunjukkan bahwa pengering semprot memerlukan diameter lubang nozzle 3,5 mm,volume ruang pengering 0,8 m3, tinggi bagian silinder 850 mm, kerucut 870 mm, dan diameter 1000 mm. Waktu pengeringan umpan berlangsung selama 0,134 detik dengan waktu lintasan 1,80 detik. Hasil simulasi menunjukkan pengering semprot mampu menghasilkan tepung karet alam dengan kadar air sekitar 0,32-0,56%.Kata kunci: lateks, perancangan, pengeringan semprot, simulasi
Front Matter Vol 5, No 2 (2006) Bindar, Yazid
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 2 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The characterization of NiO-CoO/MgO catalyst for autothermal reforming of methane Kusworo, Tutuk Djoko; Songip, A R; Amin, N A. Saidina
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.1

Abstract

The characterization of NiO-CoO/MgO catalyst for autothermal reforming of methaneThe drawback of conventional reforming of methane such as partial oxidation and steam reforming was carbon formation. The research was developed a suitable catalyst for combination of partial and steam reforming of methane and called autothermal reforming to reduce the coke formation. The NiO-CoO/MgO catalysts were prepared by an impregnation method and characterized by Temperature Programmed Reduction (TPR), X-ray Diffraction (XRD) and Thermal Gravitymetry Analysis (TGA). The TPR and XRD results reveal that the catalyst characteristic is strongly influenced by the Co/Ni ratio. From TPR and TGA analysis, the sintering phenomena did not occur in the autothermal reforming of methane. The results reveal that Co/Ni ratios have a small effect in the catalytic activity for autothermal reforming. Nevertheless, the catalyst showed an optimum performance in this process when its Co/Ni ratio was 0.75. Keywords: Autothermal ReformingAbstrakMasalah yang terjadi pada proses konvensional reformasi metana seperti oksidasi parsial metana dan reformasi kukus adalah pembentukan karbon. Penelitian yang dilakukan adalah mengembangkan katalis yang sesuai untuk gabungan proses oksidasi parsial dan reformasi kukus atau yang disebut reformasi metana secara autothermal. Katalis NiO-CoO/MgO yang digunakan dibuat dengan metode impregnasi dan dilakukan pengujian dengan TPR, XRD dan TGA untuk mengetahui sifat-sifat dari katalis tersebut. Hasil TPR dan XRD menunjukkan bahwa karakteristik dari katalis sangat dipengaruhi oleh perbandingan CoiN i. Hasil pengamatan TPR dan TGA menunjukan bahwa sintering tidak terjadi di dalam proses reformasi metana secara autothermal. Hasil eksperimen juga menunjukan bahwa perbandingan Co/Ni hanya kecil pengaruhnya pada unjuk kerja katalis. Namun demikian katalis menunjukan unjuk kerja yang optimum pada perbandingan CoiN i = 0.75. Kata Kunci: Reformasi Autothermal
Variasi Antioksidan dalam Pembuatan Protected Active Dried Yeast Purwadi, Ronny; Wonoputri, Vita; Fitriana, Febri Ulfa; Choliq, Najwa Shufia
Jurnal Teknik Kimia Indonesia 2020: Article in Press
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penggunaan antioksidan pada pembuatan protected active dried yeast (PADY) dapat memperpanjang umur simpan ragi kering. Antioksidan yang sering digunakan adalah antioksidan sintestis BHA dan BHT yang diduga bersifat karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif antioksidan yang lebih aman. Lima antioksidan yaitu asam sitrat, asam askorbat, tokoferol, natrium eritrobat, dan askorbil palmitat pada rentang konsentrasi 0,025-0,5% diuji pada suspensi ragiuntuk mempelajari efek inhibisi dari antioksidan tersebut. Uji laju produksi CO2 menunjukkan sifat noninhibisi dari asam askorbat, natrium eritorbat, asam sitrat, dan tokoferol, sedangkan sifat inhibisi askorbil palmitat dan BHT perlu diteliti lebih lanjut. Formulasi antioksidan terpilih untuk produksi PADY adalah asam sitrat 0,5%, asam askorbat 0,5%, dan tokoferol 0,5%. Pengeringan ragi dengan spray dryer menghasilkan PADY dengan kadar air sesuai standar. PADY dengan sifat fisik terbaik adalah variasi asam sitrat 0,5% dan asam askorbat 0,5% karena kelarutan dalam air yang baik serta granula yang lebih halus. Stabilitas vitalitas PADY diukur selama 45-50 hari, dan didapatkan PADY dengan antioksidan asam askorbat 0,5% memiliki konstanta laju kematian terendah, yaitu 0,0492/hari, setara dengan umur simpan 20 hari. Dengan demikian, formulasi antioksidan asam askorbat 0,5% berpotensi untuk dikembangkan pada produksi PADY.  Kata kunci: Antioksidan, ragi kering, stabilitas, vitalitas Abstract. Variation of Antioxidant in Production of Protected Active Dried Yeast. The use of antioxidants in production of protected active dried yeast (PADY) can increase dried yeast’s shelf life. Usually, the antioxidants used are synthetic antioxidants such as BHA and BHT, which are known to be carcinogenic. Therefore, the aim of this research is to study antioxidant alternative that is safer. Five antioxidants, i.e. citric acid, ascorbic acid, tocopherol, sodium erythorbate, and ascorbil palmitate in concentration range of 0.025-0.5% were tested on yeast suspension to study its inhibitory effect. CO2 production rate test showed noninhibitory characteristic of ascorbic acid, sodium erythorbate, citric acid, and tocopherol, whereas ascorbyl palmitate and BHT showed inhibitory characteristic. Formulations of antioxidants selected are 0.5% citric acid, 0.5% ascorbic acid, and 0.5% tocopherol. Spray drying of yeast resulted in PADY with moisture content within standard. PADY with the best physical properties are 0.5% citric acid and 0.5% ascorbic acid variation due to good water solubility and finer granules. Vitality stability of PADY was measured for 45-50 days. PADY with 0.5% ascorbic acid had the lowest death rate constant, i.e. 0.0492/day, which is equivalent to 20-days shelf life. Thus, ascorbic acid antioxidant formulation of 0.5% can be developed in the production of PADY.Keywords: Antioxidant, dried yeast, stability, vitality
Pengembangan produk keramik berpori dengan proses ekstrusi pada skala laboratorium Purbasari, Aprilina; Samadhi, T Walmiki; Muslim, Aristianto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.6

Abstract

The application of porous ceramics as filter or membrane has increased currently and has created an opportunity to utilize inorganic waste materials such as fly ash as raw materials. The development of porous ceramic product using fly ash by extrusion process is a relevant and innovative study, especially in indonesia. This research is aimed at producing porous ceramic sample using alumina as basic raw material by extrusion process,  and to study the effect of clay, fly ash, and water composition in raw material mixture on physical properties of porous ceramic product. The produced porous ceramic samples have firing shrinkages of 1,2-3,7%, apparent porosities of 46,2-51,7%, and modulus ofrupture of 3,2-6,2MPa. Clay component gives the largest effect on apparent porosity and fly ash component gives the largest effect on firing shrinkage and modulus of rupture. The samples of porous ceramic product have relatively narrow pore size distribution, with pore diameters in the range of 10-20m. The product is therefore suitable for ceramic filter material. Keywords: Extrusion, Filter, Porous Ceramics Abstrak  Penggunaan keramik berpori sebagai filter atau membran semakin meningkat dewasa ini dan terdapat peluang untuk memanfaatkan limbah anorganik seperti abu terbang sebagai bahan baku keramik. Pengembangan produk keramik berpori dengan memanfaatkan limbah abu terbang berdasarkan proses ekstrusi berpeluang menjadi kajian yang relevan dan inovatif. khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan membuat sampel produk kerwnik berpori berbahan dasar alumina dengan metode ekstrusi serta mempelajari pengaruh komposisi lempung, abu terbang, dan air dalam campuran bahan baku terhadap sifat-sifat fisik sampe! produk keramik berpori yang dihasi!kan. Pengujian menunjukkan bahwa sampe! produk keramik berpori memi!iki susut bakar 1,2- 3,7%, porositas semu 46,2-51,7%, dan kuat lentur 3,2-6,2 MPa. Komponen lempung memberikan pengaruh paling besar terhadap porositas semu dan komponen abu terbang memberikan pengaruh paling besar terhadap susut bakar dan kuat lentur. Sampel produk keramik yang dihasilkan memiliki ukuran pori yang re!atif seragam dengan rentang diameter pori sekitar 10-20 m, sehingga sesuai untuk digunakan sebagai material filter. Kata Kunci: Ekstrusi, Filter, Keramik Berpori
Esterifikasi asam lemak bebas dalam minyak sawit mentah untuk produksi metilester Prakoso, Tirto; Kurniawan, Indra B; Nugroho, R Heru
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.7

Abstract

Methyl esters are one of alkyl esters compound that used as alternative diesel fuel became popular. Methyl esters have similarities on physical and chemical properties with the diesel fuel produced from fossil oil; however it has less combustion and environmental emissions. As fossil oil become rare to be exploited, and the rapid environmental issues, the efforts to develop methyl esters as alternative diesel fuel become a prospective one. One method to produce methyl esters from free fatty acids of crude palm oil (CPO) is the two step esterification-transesterification reaction, each step produce the same final product, however differs in the side product. Esterification produce water and transesterfication produce glycerin. The reaction uses alcohol as main reactant beside the free fatty acids, it can be conducted in batch or continuous production. In this research, the investigation is only emphasized in the first step that is the esterification step to produce methyl esters from free fatty acids contained in crude palm oil. Methanol and sulfuric acid are used as reactant and catalyst respectively. Methyl esters produced by esterification is affected by reaction temperature, amounts of catalyst, and methanol volume. The increase in temperature improved esterification conversion from 19% in 50C to 98% in 60C. While the usage of the highest amount of catalyst, 5 ml/1-CPO, led to produced the highest conversion relative to the conversion from 1 and 3 ml/1-CPO catalyst. Furthermore, 10% amount of methanol per volume CPO produced higher yield than 8%.Keywords : Biodiesel,  CPO Free Fatty Acid Esterification, Methyl Ester ConversionAbstrak Metil ester merupakan suatu senyawa alkil ester yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Metil ester memiliki sifat fisik dan kimia yang hampir sam a dengan minyak diesel yang dihasilkan dari minyak bumi tetapi emisi pembakaran dari penggunaan ester metal lebih rendah dari pada emisi hasil penggunaan minyak solar. Seiring dengan semakin langkanya sumber minyak bumi dan semakin gencarnya isu lingkungan hidup, pengembangan ester metil sebagai bahan bakar pengganti minyak solar semakin prospektif. Pembuatan ester metil dari asam lemak bebas minyak sawit mentah (crude palm oil) dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan reaksi esterifikasi dan transesterifikasi menggunakan alkohol. Reaksi-reaksi ini dapat dilaksanakan secara batch maupun kontinu. Pada penelitian yang telah dilakukan, pembuatan ester metil dari asam lemak bebas minyak sawit mentah dilakukan dengan reaksi esterifikasi secara batch, dengan reaktan berupa minyak sawit mentah dan metanol. Katalis yang digunakan adalah H2SO4. Konversi ester metil yang dihasilkan dipengaruhi oleh temperatur reaksi, konsentrasi katalis dan konsentrasi metanol. Kenaikan temperatur reaksi akan meningkatkan konversi dari 19% pada 50oC menjadi 98% pada 60oC. Dengan menggunakan konsentrasi katalis tertinggi 5ml/l CPO memicu konversi tertinggi relatif dibandingkan nilai konversi dari 1 dan 3 ml/l CPO. 10% metanol menghasilkan perolehan tinggi dibanding 8%.Kata Kunci: Biodiesel, EsterifikasiAsam Lemak Bebas CPO, Konversi Ester Metil
Verifikasi model non kesetimbangan menara distilasi pada campuran hidrokarbon biner Budiman, Arief; Sugeng, Joko
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.4

Abstract

--
Adsorpsi zat organik nitrobenzene dari larutan dengan menggunakan bubuk daun intaran Wijaya, Yentaria Juli; Rinita, R; Soetaredjo, Felycia Edi; Ismadji, Suryadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 3 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.3.5

Abstract

Nitrobenzene is one of organic compound that usually contained in industrial wastewater, which is toxic. Nitrobenzene can be found in the chemical and pesticides industry. Nitrobenzene, which also known as nitrobenzol, is dangerous organic chemical for organism because can cause death. Organic waste in aqueous solution are usually removed by adsorption. In the adsorption process, adsorbent that usually used are carbon active and organic adsorbent. Neem leaf one of organic adsorbent that effective used in the adsorption process because it has a low cost dan easy to get. In this adsorption process, neem leaf used as a adsorbent. Neem leaf powder characterization with Boehm’s titration and proxymate analysis, which contain moisture content, water content, carbon, and volatile matter. Isoterm adsorption process of  nitrobenzene is appropriated with Freundlich equation and Langmuir equation. And the result of kinetic adsorption is appropriated with pseudo first order and pseudo second order. From the experimenal result, it can be seen that adsorption of nitrobenzene by neem leaf powder is using Langmuir equation in isoterm adsorption and follow pseudo first order in kinetic adsorption.Keywords : Adsorption, neem leaf powder, nitrobenzeneAbstrakNitrobenzene merupakan salah satu zat organik yang biasanya terkandung dalam limbah industri dimana Nitrobenzene sangat sulit diolah sebelum dibuang karena sifatnya yang sangat kompleks. Limbah yang mengandung nitrobenzene ini dapat ditemukan pada industri pestisida, sabun, dan farmasi. Nitrobenzene yang juga disebut nitrobenzol, merupakan bahan kimia organik yang berbahaya bagi mahluk hidup karena dapat menyebabkan kematian. Adsorpsi adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi limbah nitrobenzene ini. Dalam proses adsorpsi, bahan penyerap yang umum digunakan adalah karbon aktif dan bahan penyerap organik. Daun intaran merupakan salah satu dari bahan penyerap organik yang efektif digunakan dalam proses adsorpsi karena biayanya yang murah dan mudah didapat. Pada penelitian ini, daun intaran digunakan untuk menyerap zat organik nitrobenzene. Karakterisasi bubuk daun intaran sendiri dilakukan dengan titrasi Boehm dan analisa proximat yang meliputi kandungan abu, air, karbon, dan volatile matter. Proses isoterm adsorpsi nitrobenzene ini disesuaikan dengan persamaan Freundlich dan persamaan Langmuir, sedangkan hasil kinetika adsorpsi disesuaikan dengan menggunakan pseudo first order dan pseudo second order. Dari hasil percobaan, didapatkan hasil bahwa proses adsorpsi nitrobenzene dengan menggunakan bubuk daun intaran ini mengikuti persamaan Langmuir pada isoterm adsorpsinya dan mengikuti persamaan pseudo first order pada kinetika adsorpsinya.Kata Kunci : Adsorpsi, bubuk daun intaran, nitrobenzene