cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Study micromixing pada tangki teraduk secara kontinyu Ali Altway; W Widiyastuti; M Rachimoellah; Sugeng Winardi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.3

Abstract

The aim of this work is to study the influence of micromixing on product distribution for parallel reaction systems in an agitated tank. The understanding of micromixing is needed besides macromixing to obtain the optimum process. The neutralization reaction of NaH2BO3 and oxidation-reduction reaction between lodide-lodate to generate iodine are selected to perform parallel reaction systems. These reactions were conducted in a flat bottom cylindrical tank 0.2 m in diameter (T) at room temperature (30oC) agitated by six blades fan turbine having diameter (Da)=1/3T and impeller width (W)=1/4T. The impeller clearance was I/3H. The height of liquid in the tank is equal to its diameter (H=T). This tank was operated as continuous reactor type. The inf1uences of impeller speed, residence time and feed position were analyzed. Segregation number and the yield of iodine generation determine the micromixing degree and the performance of reactor respectively. The impeller rotation speed was varied 100-300 rpm. The residence time varied 6.01, 4.005 and 3.005 minutes. The feed position was varied on [r"=r/D, z'=z/H] cylindrical coordinate as follows [1.4, 180o, 0.23], [1.4, 180o, 0.33] and [2.4, 180o, 0.92] which represent bulk swept impeller and near surface regions respectively. By increasing the impeller rotation speed and residence time, the iodine yield decrease.The iodine yield is proportional to segregation number. The segregation number Leads to micromixing degree which higher micromixing degree corresponds to the iodine yield decreasing. The impeller swept position gives the smallest the iodine yield compared to others. Keywords: Micromixing, Yield, Segregasion Number.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh micromixing pada distribusi produk untuk reaksi paralel dalam sistem tangki teraduk. Pemahaman tentang micromixing dalam suatu sistem diperlukan disamping macromixing untuk mendapatkan proses yang optimum. Pada penelitian ini reaksi paralel ini diwakili oleh reaksi netralisasi NaH2BO3 dan reaksi oksidasi-reduksi Iodide-lodate yang menghasilkan lodin. Reaktor beroperasi kontinyu pada suhu kamar (30oC) berupa tangki silinder berdasar datar berdiameter (T)=0.2 m yang diaduk dengan fan turbin enam blade berdiameter (Da)=1/3T dan lebar impeller (W)=1/4T yang dipasang 1/3H dari dasar. Tinggi cairan sama dengan diameter tangki (H=T). Pengaruh kecepatan putar impeller, waktu tinggal dan posisi umpan dianalisa. Bilangan segregasi dihitung untuk menentukan derajat micromixing dan menghitung yield pembentukan iodin untuk menentukan unjuk kerja reaktor. Kecepatan putar impeller divariasi 100-300 rpm. Waktu tinggal divariasikan 6.01, 4.005 and 3.005 menit. Posisi umpan [r'=r/D, z'=z/H] yang merupakan koordinat silinder divariasikan [1.4, 180o, 0.23], [1.4, 180o, 0.33] and [2.4, 180o, 0.92] yang menyatakan masing-masing daerah bulk bawah, sapuan impeller dan dekat permukaan. Semakin tinggi kecepatan putar impeller dan semakin lama waktu tinggal, yield iodin yang dihasilkan semakin keci1. Yield iodin yang dihasilkan sebanding dengan bilangan segregasi. Bilangan segregasi menunjukkan tingkat micromixing dimana semakin besar tingkat micromixing semakin kecil yield iodin yang dihasilkan. Posisi umpan yang memberikan yield iodin yang terkecil adalah pada daerah sapuan impeller. Kata Kunci: Micromixing, Yield, Bilangan Segregasi.
Karakteristik pati sagu dengan metode modifikasi asetilasi dan cross-linking Albert Teja W; Ignatius Sindi P; Aning Ayucitra; Laurentia E.K. Setiawan
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 3 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.3.4

Abstract

Sago, one of the main sources of carbohydrate, is commonly used as a substitute material of rice especially in Eastern Indonesia. Sago starch is now finding increasing application in various food products such as sago meals, biscuits, noodles, and desserts. Native sago starch exhibits relatively retrogradation resulting in the formation of a long cohesive gel with increased syneresis. In order to overcome drawbacks of native sago starch, chemical modifications can be carried out to improve its properties. Many types of chemical modification have been applied to starches of various plant sources, including cross-linking and acetylation. The purpose of this research was to study the effect of cross-linking and acetylation modifications to the properties of the sago starch before and after modification. As results, the acetylated starches showed higher swelling power (e.g. increased from 8,3245 to 38,6066 g wet sediment/g initial dry starch) and solubility (e.g. 14,3467 to 33,1876% w/w) and dereased in retrogradation tendencies (16,7399 to 1,3847% separated water) when compared with cross-linking starches and the corresponding native starch. It was observed that the changes in these properties were proportional to the DS achieved by each modification. As for paste clarity, native sago starch showed better characteristic amongst all starches which was shown by the lowest value of absorbance i.e. 0.142.Keywords: acetylation; cross-linking; characteristics; sago starchAbstrakSagu yang memiliki sumber karbohidrat yang cukup besar dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif. Untuk memperoleh kualitas produk yang diinginkan, karakteristik pati sagu dapat dimodifikasi. Metode modifikasi pati yang digunakan dalam penelitian ini adalah asetilasi dan cross-linking. Prinsip kedua modifikasi ini hampir sama, yaitu mensubstitusi gugus hidroksil pada pati; substitusi dengan gugus asetil pada asetilasi dan substitusi dengan gugus fosfat pada cross-linking. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan karakteristik pati sagu (solubility, swelling power, freeze-thaw stability, dan paste clarity) yang telah dimodifikasi secara      asetilasi dan cross-linking pada berbagai variasi waktu reaksi serta terhadap pati yang tidak dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik swelling power, solubility, dan freeze-thaw stability dari pati sagu yang mengalami modifikasi secara asetilasi cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pati sagu yang mengalami modifikasi secara cross-linking maupun pati sagu yang tidak mengalami modifikasi. Karakteristik pati sagu mengalami peningkatan dari 8,3245 g/g menjadi 38,6066 g/g untuk swelling power dan 14,3467% menjadi 33,1876% untuk solubilty. Karakteristik freeze-thaw stability juga mengalami peningkatan yang ditunjukkan oleh semakin sedikitnya jumlah air yang terpisahkan yaitu dari 16,7399 menjadi 1,3847%. Peningkatan ini sebanding dengan kenaikan harga derajat substitusi (DS) untuk masing-masing modifikasi. Untuk karakteristik paste clarity, pati sagu yang tidak mengalami modifikasi menunjukkan karakteristik yang lebih baik dibandingkan pati yang telah mengalami modifikasi; absorbansi untuk pati sagu non-modifikasi adalah 0,142, untuk asetilasi adalah 0,483, dan untuk crosslinking adalah 0,334.Kata kunci: asetilasi, cross-linking, karakterisasi, pati sagu
Pemodelan dan simulasi reverse flow reactor untuk oksidasi katalitik metana: pengembangan prosedur operasi start-up Yogi Wibisono Budhi; Teguh Kurniawan; Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.2.4

Abstract

Modeling and simulation of reverse flow reactor for the catalytic oxidation of methane: the development of start-up operating procedures In this modelling and simulation study, three operating procedures during start-up of lean methane (1%-v) oxidation in reverse flow reactor (RFR) have been investigated to get auto-thermal condition, high methane conversion, faster pseudo steady state, and low preheating energy requirement. The RFR model developed based on one-dimension pseudo-homogeneous model for mass balance and heterogeneous model for energy balance. Procedure 1 , the preheating was employed only on the catalyst zone, fails to conduct the auto-thermal reaction and to achieve high conversion. Procedure 2, the preheating was employed for inert and catalyst of left side only, able to achieve the auto-thermal up to switching time (ST) 230 s. Procedure 3, the preheating was employed along the reactor bed, achieve the auto-thermal condition up to ST 300 s. Procedure 2 and 3 achieved the pseudosteadystate at 1000 s for ST 200 s with total conversion during start-up are 95% and 99%. The conversion of Procedure 3 higher than Procedure 2, unfortunately the heat load of Procedure 3 two times higher than Procedure 2. Keywords: modelling and simulation, catalytic methane oxidation, start-up procedure, reverse flow reactor, switching timeAbstrakDi dalam studi pemodelan dan simulasi ini, berbagai prosedur operasi reverse flow reactor (RFR) selama start-up untuk oksidasi katalitik metana encer (1%-v) dikaji dengan target sistem beroperasi secara ototermal, konversi metana tinggi, waktu pencapaian kondisi tunak semu (pseudosteady state) cepat, dan beban panas rendah. Pemodelan reaktor didasarkan pada model satu dimensi dan pseudohomogeneous untuk neraca massa, serta heterogen untuk neraca energi. Pemanasan katalis saja pada awal reaksi (Prosedur 1) tidak dapat mencapai kondisi reaktor yang ototermal. Pemanasan katalis dan inert bagian kiri (Prosedur 2) mampu mencapai kondisi reaktor yang ototermal hingga switching time (ST) 230 detik. Pemanasan seluruh bagian reaktor pada awal reaksi (Prosedur 3) mampu mencapai kondisi reaktor yang ototermal pada ST paling lama 300 detik. Prosedur start-up 2 dan 3 untuk ST 200 detik sama-sama mencapai waktu pseudosteady state pada 1000 detik dengan konversi total selama start-up masing-masing 95% dan 99%. Meskipun Prosedur 3 memberikan konversi sedikit lebih tinggi daripada Prosedur 2, namun beban panas Prosedur 3 mencapai dua kali lebih besar daripada Prosedur 2.Kata kunci: emisi metana, pemodelan dan simulasi, prosedur start-up, reverse flow reactor, switching time.
Polimerisasi larutan akrilamid dengan mekanisme radikal bebas menggunakan metoda mixed-solvent precipitation Boy Arief Fachri; R Rochmadi; Arief Budiman
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 2 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.2.8

Abstract

The most common method for producing polyacrylamide is solution polymerization. In this way, the polymer product is difficult to be separated. A method for overcoming this problem is using mixed­ solvent precipitation method. The kinetics aspect of free-radical polymerization of acrylamide using mixed-solvent precipitation method was studied. Acrylamide was polymerized in methanol-water solution with potassium persulfate as initiator. Two models of polymerization were proposed based on the initiation stage. Model I described the first order and the second order was represented by model 2. Polymerization of acrylamide was carried out in batch process. A methanol-water solution of acrylamide was charged into the flask and heated to the desired temperature. When the desired temperature was reached, the initiator potassium persulfate was introduced quickly into the reaction medium. Aliquots were taken from the reaction medium at a regular time then analyzed its polymer content by gravimetri method.  Variables investigated were temperature (45-60°C), amounts of initiator (2.8.10-5-5.10-5 mole/mL) and monomer concentration (3.52.10-4-1.41.10-3 mole/mL). It can be concluded that both model 1 and model 2 can predict well the polymerization of acrylamide. The average error of model is less than model 2. Spesifically, the rate constant for every reaction in the models is got from the results of this experiment.  Key Words : Acrylamide, Potassium Persulfate, Mixed-solvent Precipitation, Polymerization, The Kinetics  Aspect  Abstrak  Polimerisasi larutan merupakan polimerisasi akrilamid yang paling umum, akan tetapi memiliki kelemahan dalam proses pemisahan polimer yang terbentuk. Polimerisasi akrilamid dengan mekanisme radikal bebas menggunakan metode mixed-solvent precipitation merupakan salah satu cara untuk mengatasi kelemahan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari kinetika reaksi polimerisasi akrilamid melalui pengembangan model pada tahap inisiasi, yaitu model untuk order satu dan model 2 untuk order 2. Polimerisasi akrilamid dilakukan secara batch didalam labu leher tiga. Larutan akrilamid dimasukan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan mencapai suhu yang telah ditentukan, kemudian ditambahkan inisiator kalium persulfat (suhu dijaga tetap). Cuplikan diambil pada selang waktu tertentu dan kandungan polimer dianalisa dengan cara gravimetri. Peubah yang dipelajari meliputi variasi suhu (45-60 °C), jumlah inisiator (2.8.10 -5-5.5.10 -5 mol/mL) dan konsentrasi monomer (3.52.10-4-1.41.10-3 mol/mL). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model 1 dan model 2 dapat menjelaskan kinetika polimerisasi akrilamid, akan tetapi model 1 memberikan ralat rata-rata yang lebih kecil dibandingkan dengan model 2. Secara spesijik, konstanta kecepatan untuk masing-masing reaksi dalam model diperoleh dari hasil percobaan ini.  Kata Kunci : Akrilamid, Kalium Persulfat, Mixed-solvent  Precipitation,  Polimerisasi,   Kinetika Reaksi
Biodiesel production from Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) using reactive distillation Arief Budiman; Alita Lelyana; Daniar Rianawati; S Sutijan
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.7

Abstract

Palm fatty acid distillate (PFAD) is a lower-value by-product obtained during the refining of palm oil and contained high amount of free fatty acid (FFA). However, it’s a potentially valuable and low-cost raw material for the production of biodiesel through esterification process. Esterification of FFA using the conventional batch faces a challenge since it is low in productivity and requires high excess of reactant so that it is not efficient for large-scale production. To overcome this problem, reactive distillation (RD) is the best candidate. RD is one of the most attractive equipment which provides potential benefits for the esterification reaction. To obtain an optimal design of the RD, an accurate model and simulation of the process is needed. In this work, a simulation study of biodiesel production from PFAD as feedstock using RD is presented by using ASPEN Plus v7.1. Two case studies of total reflux (case A) and recycled distillate (case B) were demonstrated. Close relation was found among high separation and high energy consumption in RD. Two models of RD show the more economical heat duty of both condenser and reboiler. Effect of L/F ratio, number of stages in reaction zone, and model of RD to conversion of esterification reaction were discussed. Keywords: biodiesel, esterification, PFAD, reactive distillationAbstrakSuatu produk hasil samping yang memiliki nilai ekonomi rendah, biasa dikenal sebagai Palm Fatty Acid Distilate (PFAD), diperoleh dari proses pemurnian minyak kelapa sawit. PFAD mengandung asam lemak bebas (FFA) tinggi, cukup potensial, dapat digunakan sebagai bahan baku produksi biodiesel melalui proses esterifikasi. Esterifikasi FFA dengan proses batch konvensional menghadapi tantangan karena produktivitasnya cukup rendah dan membutuhkan excess reaktan yang tinggi sehingga tidak efisien jika diterapkan untuk produksi skala besar. Reactive distillation (RD) dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. RD merupakan alat yang berpotensi memberikan keuntungan dalam reaksi esterifikasi. Untuk mendapatkan desain yang optimal dari suatu RD, pemodelan yang akurat dan simulasi dari proses ini diperlukan. Di sini, dilakukan simulasi produksi biodiesel dari PFAD menggunakan RD dilakukan dengan ASPEN Plus v7.1. Dua kasus dipelajari, yaitu refluks total (kasus A) dan recycle distillate (kasus B) yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio antara cairan yang dikembalikan ke kolom dengan feed (L/ F), dan variable variable desain. Semakin tinggi kemurnian dari hasil pemisahan, konsumsi energi yang dibutuhkan juga menjadi semakin besar. Perbandingan antara dua model dari kolom distilasi reaktif menunjukkan beban panas kondensor dan reboiler menjadi lebih ekonomis. Pengaruh perbandingan L/F, jumlah stage dalam zona reaksi, dan model kolom distilasi reaktif terhadap konversi reaksi esterifikasi akan di bahas di sini.Kata kunci: biodiesel, esterifikasi, PFAD, menara distilasi
Pengaruh perbandingan nutrisi terhadap pengolahan minyak secara biologis dengan bakteri mixed-culture Tri Widjaja; Lindu Sunarko
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.1.7

Abstract

The physical crude oil waste treatment still leaves dissolved organic.  The process must be continued by biological waste treatment.   The oil waste treatment was investigated by biological process: batch and continuous. It used mixed bacterial culture that was isolated from biological crude oil waste preparation. The influence of composition nutrient C:N:P was research using nutrient composition  100:10:1, 100:5:1  and  100:1:1  for batch and continuous experiment. Batch experiment is using initial COD concentration inlet (864, 691, 410 and 225 ppm), bacterial concentration (10%, 20% and 30% as b/v) beside nutrient composition influences. Continuous experiment is using influent flow rate 36 l h-1, influent COD contents 300 mg l-1, dissolved oxygen in aeration tank condition is maintained 2 mg l-1. Suspended solid (SS) concentration is maintained 1000 mg l-1 and sludge age 15 days. The batch research showed that maximum decreasing of COD was happened in initial COD 691 ppm, microbial concentration 10% (b/v) or 0,05 gr/500 ml solution with nutrient composition 100:10:1 elimination ability 83,8% and decreasing maximum oil contents 81,8%. The microbial identification result are obtained that main microorganism are Pseudomonas, Micrococcus and Vibrio. The continuous research obtained that maximum elimination COD values  70% at composition nutrient  100: 10:1. Keywords: mixed-culture bacterial, aeration tank AbstrakPengolahan secara fisik limbah minyak mentah masih menyisakan organik terlarut. Untuk itu perlu dilanjutkan dengan pengolahan limbah secara biologis. Penelitian pengolahan limbah minyak telah dilakukan secara biologis baik dengan batch maupun kontinyu. Digunakan bakteri kultur campuran yang telah diisolasi dari berbagai tempat pengolahan limbah biologis minyak mentah. Pengaruh nutrisi C:N:P telah dilakukan variasi dengan perbandingan 100:10:1, 100:5:1 dan 100:1:1 baik untuk percobaan batch maupun kontinyu. Percobaan secara batch dilakukan dengan variabel adalah konsentrasi COD awal yang masuk (864, 691, 410 dan 225 ppm), konsentrasi bakteri (10%, 20% dan 30% sebagai b/v) disamping pengaruh perbandingan nutrisi. Sedangkan percobaan secara kontinyu dilakukan menggunakan laju alir influent 36 l h-1, kandungan COD influent 300 mg l-1 , kondisi tangki aerasi kondisi oksigen terlarut dijaga minimum 2 mg l-1, konsentrasi padatan  tersuspensi (SS) dipertahankan 1000 mg l-1 dan umur lumpur 15 hari. Hasil penelitian batch menunjukkan bahwa pada COD awal 69I ppm, konsentrasi mikroba 10% (b/v) atau 0,05 gr/500 ml larutan dengan nutrisi 100:10:1 terjadi penurunan COD tertinggi dengan kemampuan penyisihan sebesar 83,8% serta mampu  menurunkan kandungan minyak tertinggi sebesar 81,8%. Hasil identifikasi bakteri didapatkan mikroba yang berperan adalah Pseudomonas, Micrococcus dan Vibrio. Sedangkan untuk percobaan kontinyu diperoleh hasil bahwa penyisihan COD tertinggi dihasilkan pada perbandingan nutrisi C:N:P = 100:10:1 sebesar 70%. Kata Kunci: bakteri kultur campuran; tangki aerasi
Fermentasi substrat padat dan substrat cair untuk produksi asam laktat dari kulit pisang dengan Rhizopus oryzae Ery Susiany Retnoningtyas; Aning Ayucitra; Fandy Maramis; Ong Wei Yong; Frengky W. Pribadi; Nelsi K. Tanti
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 4 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.1.5

Abstract

Solid substrate and liquid substrate fermentation for lactic acid production from banana peel by Rhizopus oryzae.Indonesia is one of the major banana producing countries in the world. There are many varieties of banana grown in Indonesia. While the fruit is valuable for consumption, banana peels mostly are discarded as waste. In fact, banana peels are high in nutrition, thus they are potential to be converted into other valuable products such as lactic acid. The objective of this research was to study the effect of fermentation methods, i.e. solid substrate fermentation and liquid substrate fermentation, in the production of lactic acid from banana peel waste by the fungus Rhizopus oryzae. There were three steps involved in this research: (1) preparation of fermentation medium, (2) banana peel fermentation, and (3) lactic acid purification and recovery by using Amberlite IRA-400 resin. In solid substrate fermentation, dried banana peels were firstly crushed, while in liquid substrate fermentation, fresh banana peels were extracted by water. Following this, banana peel powder and extract banana peel were inoculated with Rhizopus oryzae and incubated at 30oC for 144 h. As results, the yield of lactic acid produced from solid substrate fermentation (0.79 g lactic acid/g starch) was higher than that from liquid substrate fermentation (0.15 g lactic acid/g starch).Keywords: lactic acid, liquid fermentation, solid state fermentation, banana peel, Rhizopus oryzaeAbstrakSebagai negara tropis, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil pisang terbesar. Berbagai macam jenis pisang dapat tumbuh di Indonesia. Konsumsi buah pisang yang tinggi diikuti dengan melimpahnya kulit pisang. Kandungan nutrisi dari kulit pisang ini berpotensi untuk dikonversi menjadi produk lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti asam laktat. Asam laktat banyak digunakan di industri pangan, farmasi maupun kosmetik. Pada penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh metode fermentasi yaitu fermentasi substrat padat dan fermentasi substrat cair dalam memproduksi asam laktat dari kulit pisang dibantu Rhizopus oryzae. Penelitian ini terbagi dalam 3 tahap yaitu: (1) pembuatan media fermentasi, (2) fermentasi kulit pisang dan (3) pemurnian asam laktat dengan resin amberlite IRA-400. Untuk metode fermentasi substrat padat, kulit pisang kering digrinder hingga menjadi serbuk sedangkan untuk fermentasi substrat cair, kulit pisang yang masih segar diekstrak dengan pelarut air. Selanjutnya serbuk kulit pisang dan ekstrak kulit pisang siap untuk diinokulasi dengan Rhizopus oryzae dan diinkubasi pada suhu 30oC selama 144 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield asam laktat yang dihasilkan dari fermentasi substrat padat lebih tinggi (0,79 g asam laktat / g pati) dibandingkan yield asam laktat dari fermentasi substrat cair (0,15 g asam laktat /g pati).Kata kunci: asam laktat, fermentasi substrat cair, fermentasi substrat padat, kulit pisang, Rhizopus oryzae
Pengebangan prototipe direct methanl fuel cell (DMFC) dan pengaruh kandungan nafion membrane electrode assembly (MEA) Widodo W Purwanto; S Slamet; Martin Rifki; Isye Hayatina; Tiurma Theresa; Priyo Priyanggoro; R.S. Pattyranie; Verina JWD; Siti Rochani
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.2.5

Abstract

The purposes of this research are designing the prototype   of DMFC, consist of graphite and aluminium cell stacks and MEA with difference Nafion content. Cell stack has active area of 6.5 cm2, and single serpentine flow field. MEAs were fabricated using Nafion membrane 117 (DuPont), gas diffusion layer (GDL) carbon cloth, and commercial catalysts E-Tek, Pt/C for the cathode side and Pt-Ru/C for the anode. Catalysts loading on the anode are 3 and 4 mgPt-Ru/cm2 and on the cathode is 3 mg/cm2. Dry Nafion content of 20 %-wt and 40 %-wt were used in this experiment. MEA fabrication was done by brush coating and hot pressing. Single cell test conducted to evaluate the performance of DMFC at 70°C with 2M methanol as fuel and air as the oxidant. The results of single cell test showed that cell voltage of 600-750 mV, current density of 100 150 mW/cm2, with maximum power density of 19 mW/cm2 ware achieved. MEA with 40 wt% Nafion content showed the better performance than 20 %-wt with power density 19 mWlcm2 and 6 mW/cm2, respectively. Increasing the catalyst loading from 3 to 4 mgPt-Ru/cm2 improved the power density from 16 to 18 mW/cm2. Keywords: Direct Methanol Fuel Cell, Cel stack, MEA, Nation content. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah prototipe DMFC dengan cell stack berbahan grafit dan aluminium serta fabrikasi MEA dengan variasi kandungan Nafion. Cell stack memiliki luas aktif 6.5 cm2 dengan flowfield bertipe single serpentine. MEA difabrikasi menggunakan membran Nafion 117 (DuPont), lapisan difusi gas carbon cloth dan katalis komersial E-Tek, Pt/C untuk katoda dan Pt-Ru/Cuntuk anoda. Kandungan katalis adalah 3 dan 4 mgPt-Ru/cm2 pada sisi anoda dan 3 mg/cm2 pada sisi katoda. Kandungan Nafion yang digunakan adalah 20 dan 40 % berat. Fabrikasi MEA dilakukan dengan metode brush coating dan hot pressing. Uji kinerja DMFC dilakukan pada suhu 70°C dengan menggunakan bahan bakar metanal 2M dan udara sebagai oksidan. Hasil uji kinerja DMFC sel tunggal didapatkan potensial sel 600-750 mv densitas arus 100-150 mW/cm serta densitas energi maksimum 19 mW/cm2.  MEA dengan kandun?an Nafion 40 % berat memiliki kinerja yang lebih baik dengan densitas energi 19 mW/cm dibandingkan dengan Nafion 20 % berat sebesar 6 mW/cm2. Kenaikan loading katalis anoda dari 3 menjadi  4 mgPt-Ru/cm2 dapat meningkatkan  densitas  energi dari  16 mW/cm2 menjadi 18 mW/cm2.Kata kunci: Direct Methanol Fuel Cell,Cel stack, MEA, kandungan Nation.
Ekstraksi senyawa fenolik antioksidan dari daun dan tangkai gambir Margareth Gani; Yesisca Cuaca; Aning Ayucitra; Nani Indraswati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 5 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.2.4

Abstract

Extraction of phenolic compounds from leaves and stems of uncaria gambirGambir (Uncaria gambir) contains catechin polyphenols (catechins) which is useful as natural antioxidant to counteract free radicals. Gambir may also be used in modern medicine, also as paint or dye clothing. The objective of this research was to study the effect of type of solvent, solvent concentration, and extraction temperature to the yield and Total Phenolic Content (TPC) of extracts. Gambir was firstly blended without the addition of water prior to extraction using a solvent extraction method. The filtrate was separated from solid residue and evaporated to obtain extract powder. The yield and TPC of the resulting extract powder were then analyzed. Antioxidant activity and catechins content of extracts were also studied. As result, the following extraction condition gave extracts with the highest yield and TPC: with 50% ethanol solution as solvent at 75 oC gave 11.12% and 52.352 g GAE/100 g gambir extract, respectively; whilst with 70% ethyl acetate solution as solvent at 65 oC gave 5.28% and 59.346 g GAE/100 g gambir extract, respectively. The antioxidant activity of extracts, calculated as IC50, for solvent ethanol and ethyl acetate were as follows: 8.9 mg extract/mL and 13.8 mg extract/mL, respectively; whilst the catechins content of extracts were 62,18% and 44,85%, respectively.Keywords: Uncaria gambir, solvent extraction, catechins, antioxidants AbstrakGambir (Uncaria gambir) mengandung polifenol katekin (catechin) yang bermanfaat sebagai bahan antioksidan alami yang dapat menangkal radikal bebas. Selain itu, gambir juga dimanfaatkan dalam pembuatan obat-obatan modern dan pewarna cat atau pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis pelarut, konsentrasi pelarut, dan suhu ekstraksi terhadap perolehan dan kandungan senyawa fenolik (TPC) ekstrak gambir. Daun dan tangkai gambir mula-mula diblender tanpa penambahan air. Proses ekstraksi gambir dilakukan pada berbagai jenis pelarut, konsentrasi pelarut, dan suhu ekstraksi denganmetode ekstraksi pelarut. Setelah padatan dipisahkan dengan pelarutnya, pelarut diuapkan untuk mendapatkan serbuk ekstrak gambir. Serbuk ekstrak gambir dianalisis perolehan dan kandungan senyawa fenoliknya. Aktivitas antioksidan dan kadar katekin ekstrak juga dianalisis. Ekstrak daun gambir dengan perolehan dan TPC tertinggi untuk pelarut etanol (11,12% dan 52,352 g GAE/100 g gambir ekstrak) diperoleh pada konsentrasi etanol 50% dan suhu ekstraksi 75oC. Untuk pelarut etil asetat, perolehan dan TPC tertinggi (5,28% dan 59,346 g GAE/100 g gambir ekstrak) diperoleh pada konsentrasi etil asetat 70% dan suhu ekstraksi 65 oC. Pada masing-masing kondisi terbaik tersebut, ekstrak yang didapat memiliki aktivitas antioksidan (dalam IC50) dan kadar katekin sebesar 8,9 mg ekstrak/mL dan 62,18% untuk ekstraksi dengan pelarut etanol serta 13,8 mg ekstrak/mL dan 44,85% untuk pelarut etil asetat.Kata kunci: Uncaria gambir, ekstraksi pelarut, katekin, antioksidan 
Front Matter Vol 3, No 1 (2004) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.fm

Abstract