cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Synthesis of diesel-like hydrocarbon from Jatropha oil through catalytic pyrolysis Bambang Heru Susanto; Muhammad Nasikin; Ayuko Cheeryo Sinaga; F Fransisca
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.1.7

Abstract

Due to economical, social and ecological reason, several studies have been done in order to obtain alternative fuel sources. In this respect, fermentation, trans-esterification and pyrolysis if biomass have been proposed as alternative solutions. Among these different approaches, pyrolysis seems to be a simple and efficient method fuel production. Pyrolysis, assisted by solid catalysts, has also been reported and it was recognized that the product selectivity is strongly affected by the presence and the nature of heterogeneous catalysts. The catalytic pyrolysis of straight Jathropha curcas oil (SJO) over nanocrystalline NiO/Al2O33 at 475 OC was studied. NiO/Al2O3 catalyst was used in pyrolysis for purpose of selectively cracking of triglyceride. Nanocrystalline NiO/Al2O3 was prepared by simple heating method with polymer solution as growth inhibitor. The liquid product (bio-oil) were analyzed by GC-FID and FTIR, showing the formation of carboxylic acids, paraffin, olefins, and ketones. Measured physical properties of bio-oil is comparable to those specified for diesel oil. Keywords: SJO, nanocrystalline, simple heating method, catalytic pyrolysis, bio-oilAbstrakAdanya pertimbangan keekonomian, sosial, dan ekologi, menyebabkan dilakukannya penelitian guna mendapatkan sumber bahan bakar alternatif. Berkaitan dengan hal tersebut, maka reaksi-reaksi seperti permentasi, transesterifikasi dan pirolisis dari biomasa telah digunakan sebagai alternatif solusi. Diantara pendekatan-pendekatan yang berbeda tersebut, pirolisis merupakan metode yang sederhana dan efesien untuk menghasilkan bahan bakar. Pirolisis, yang dibantu dengan katalis padat, telah juga dilaporkan dan diketahui bahwa selektifitas produknya sangat dipengaruhi oleh kehadiran dan sifat dari katalis-katalis heterogen yang digunakan. Pirolisis berkatalis dari minyak jarak pagar (straight Jathropha curcas oil, SJO) melalui nanokristal NiO/Al2O3 pada suhu 475 OC telah dilakukan percobaanya. Katalis NiO/Al2O3 digunakan dalam pirolisis dengan tujuan untuk perengkahan selektif dari trigliserida. Nanokristal NiO/Al2O3 dibuat dengan menggunakan metode simple heating dengan pelarut polimer sebagai penghambat pertumbuhan. Produk cair yang dihasilkan (bio-oil) telah dianalisa dengan menggunakan GC-FID dan FTIR, memperlihatkan adanyanya gugus asam-asam karboksilat, parafin, olefin dan keton. Sifat fisik yang diukur dari biooil dapat diperbandingkan kesetaraanya dengan spesifikasi dari minyak solar.Kata kunci: SJO, nanokristal, metode simple heating, pirolisis berkatalis, bio-oil
Sintesis katalis NiMo untuk hydrotreating coker nafta Hidayah Dwi Lestari; S Subagjo; IGBN Makertihartha
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.1.5

Abstract

NiMo catalyst synthesis aimed to make catalyst based on nickel molybdenum Ni(4%-wt) Mo(20%­ wt)γ-Al2O3 by using ammonium heptamolybdate as source of Mo and nickel nitrate as source of Ni, and γ-Al2O3  as a support.  The catalysts are prepared by sequential-dry impregnation method. The preparation parameters that studied are characteristic of support, the ammonium heptamolybdate solution pH, volume of impregnation solution, and stages impregnation of ammonium heptamolybdate solution. The preparation parameter affected the Mo distribution to the support. The inhomogeneous Mo distribution produced MoO crystal in the catalyst. The characterization of catalyst consists of N2 adsorption, XRD, SEM EDAX, and XRF. The results of catalyst characterization are specific surface area, crustallinity of catalyst, deposition metal in pore of support, and catalyst compositions. The NiMo catalyst activity is tested by using coker naphtha feed. The result of activity test is compared with commercial catalyst to know how the performance of catalyst. The composition of NiMo 15 catalyst is 19.43%-b MoO3 dan 2.61%-b NiO. NiMo catalyst with composition 20%-wt Mo and 4%-wt Ni needs support with specific surface area larger than 212 m2/g cat, to get more homogenous Mo distribution. The ammonium heptamolybdate solution pH that is good to use in impregnation to get a homogenous Mo distribution is less or same as 5.Keywords: Hydrotreating, Nimo/γ-Al2O3, ImpregnationAbstrakSintesis katalis NiMo dilakukan untuk membuat katalis hydrotreating dengan komposisi 20%-b MoO3 4%-b NiO/γAl2O3. Sumber Mo dan Ni yang digunakan berasal dari amonium heptamolibdat dan nikel nitrat dengan penyangga γAl2O3.  Preparasi katalis dilakukan dengan menggunakan metode impregnasi kering bertahap. Parameter preparasi yang dipelajari adalah karakteristik penyangga, pH larutan amonium heptamolibdat, volum larutan impregnasi, dan tahapan impregnasi larutan amonium heptamolibdat. Parameter preparasi tersebut mempengaruhi distribusi Mo pada penyangga. Distribusi Mo yang tidak merata akan menghasilkan kristal MoO3 di dalam katalis. Katalis NiMo dikarakterisasi dengan menggunakan analisa adsorpsi N2 difraksi sinar X, SEM EDAX, dan XRF. Hasil karakterisasi katalis berupa luas permukaan spesifik, kristalinitas katalis, gambaran deposisi logam pada pori penyangga, dan komposisi katalis. Katalis NiMo diuji aktivitasnya dengan menggunakan umpan coker nafta. Hasil uji aktivitas dibandingkan dengan katalis komersial untuk mengetahui kinerja dari katalis tersebut. Katalis NiMo 15 memiliki komposisi 19,43%-b MoO3 dan 2,61%-b NiO. Luas permukaan spesifik penyangga yang dibutuhkan untuk membuat katalis NiMo dengan komposisi 20%-b Mo03 dan 4%-b NiO adalah lebih besar dari 212 m2/g kat, agar didapatkan distribusi Mo yang lebih merata. pH larutan amonium heptamolibdat yang baik untuk digunakan dalam impregnasi agar didapatkan distribusi Mo yang merata adalah ≤ 5.Kata Kunci: Hydrotreating, Nimo/ γAl2O3, lmpregnasi
Pengukuran konstanta henry toluen dan benzen dalam minyak dan air dengan kolom gelembung S Suhartono; Herri Susanto; Dwiwahju Sasongko; Azis Trianto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 2 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.2.2

Abstract

Determination of Henry’s constant for toluene and benzene in oils and water were carried out in a bubbling bottle with diameter of 3 cm. Air containing toluene vapour or benzene vapour was bubbled through 50 mL absorbing liquid. The gas flow rate was 13.6 mL/min. By measuring the concentration of toluene or benzene in the inlet and outlet gas stream, we were able to calculate their concentrations in absorbing liquid. We found that the value of Henry’s constant of toluene in lubrication oil and palm oil at 30 oC were 155 and 145 respectively (H= CG/CL, with CG in mol/L and CL in mol/L). We also found that the absorption capacities were in the order (from the highest) of: lubrication oil, palm oil, and sunflower oil. Henry’s constant of toluene in water was at about 4 which was much lower than those of oils.Keyword: absorption, Henry’s constant, toluene, benzene, producer gas AbstrakPengukuran konstanta Henry sistem toluen dan benzen dalam minyak dan air dilakukan melalui percobaan absorpsi di dalam sebuah kolom gelembung dengan diameter 3 cm. Minyak sawit, minyak bunga matahari, minyak pelumas dan air digunakan sebagai absorben. Toluen dan benzen dipilih sebagai tar model. Gas model yang tersusun dari udara dan uap toluen atau benzen digelembungkan ke dalam absorben 50 mL. Absorpsi dilakukan pada suhu 30 dan 60 oC dan laju alir gas model 13,6 mL/min. Analisa dilakukan terhadap konsentrasi aliran gas model sebelum dan sesudah absorpsi. Analisa tersebut dilakukan dengan kromatografi gas Shimadzu GC-8APF. Konstanta Henry dihitung sebagai H=CG/CL dan H=P/CL. Nilai 1/H sistem toluen-minyak pelumas dan toluen-minyak sawit pada suhu 30 oC dan laju alir gas 13,6 mL/min berturut-turut adalah 155 dan 145 (untuk CG dalam mol/L dan CL dalam mol/L). Merujuk pada nilai-nilai konstanta Henry hasil percobaan, minyak pelumas dan minyak sawit merupakan cairan penyerap yang paling cocok untuk toluen dan benzen sebagai representasi tar dalam gas hasil gasifikasi. Urutan besarnya kapasitas absorpsi cairan penyerap terhadap toluen dan benzen adalah sebagai berikut (berturut-turut dari yang besar): minyak pelumas, minyak sawit, minyak bunga matahari dan air. Konstanta Henry toluen dalam air berada pada kisaran 4, yang menunjukkan bahwa kapasitas absorpsi toluen dalam air lebih rendah dibandingkan kapasitas absorpsi toluen dalam minyak.Kata Kunci: absorpsi, konstanta Henry, toluen, benzen, gas produser
Penghematan konsumsi katalis dalam proses hidrolisis tandan kosong sawit untuk produksi furfural Diyah Fadjarwaty; Herri Susanto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.3

Abstract

One of possible utilizations of abundant agricultural solid waste such as palm oil empty fruit bunches is the conversion furfural via acid hydrolysis and followed by azeotrope distillation. With the aim to reduce the consumption of H2SO4 in the furfural production from oil palm empty fruit bunches, acid hydrolysis was accomplished using the spent acid left as the bottom product of distillation during furfural recovery. The use of spent acid could reduce the need of H2SO4 from 42 at the first cycle to 17 mL/kg at the second cycle, while the need of H2SO4 in the third cycle was 29 mL/kg. Furfural yields in these cycles were up to 16.8, 16.1 and 10.7 g/kg respectively. The use of spent acid at the fourth cycle was not effective anymore. Keywords: Oil Palm Empty Fruit Bunches, Furfural, Acid Hydrolysis AbstrakSalah satu pemanfaatan biomassa limbah padat pertanian dan perkebunan adalah produksi furfural melalui proses hidrolisis dan distilasi azeotrop. Hidrolisis TKS (tandan kosong sawit) dilaksanakan dalam suasana asam yang umumnya dengan H2SO4 sebagai katalis. Pada operasi distilasi pengambilan furfural, H2SO4 bekas hidrolisis tertinggal bersama air sebagai produk bawah. Untuk mengurangi konsumsi H2SO4 dalam hidrolisis, produk bawah distilasi ini terbukti dapat digunakan sebagai cairan hidrolisis berulang sampai 3 kali. Pada hidrolisis dengan cairan segar, kebutuhan H2SO4 (98% teknis) adalah 42 mL/kg bahan baku. Tetapi pada hidrolisis dengan produk bawah ulangan pertama, kebutuhan H2SO4 tambahan untuk menyesuaikan pH cairan pemasak hanya 17 mL/kg TKS kering. Pada hidrolisis dengan produk bawah ulangan kedua, kebutuhan H2SO4 29 mL/kg. Perolehan furfural dari ketiga ulangan hidrolisis berturut-turut adalah 16,8; 16,1 dan 10,7 g/kg. Penggunaan produk bawah distilasi untuk hidrolisis ulangan keempat memberi hasil yang kurang memuaskan.Kata Kunci: TKS, Furfural, Hidrolisis Asam
Penggunaan limbah tempe dalam biodegradasi zat warna azo menggunakan bioreaktor membran aerob-anaerob Putri Sri Komala; Agus Jatnika Effendi; IG Wenten; W Wisjnuprapto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.5

Abstract

Tempeh waste is a form of waste that still has an economic value, due to its relatively high organic and nutrient content compared to yeast extract. In this research, tempeh waste was used as a co-substrate for the removal of azo dye from textile industry effluent using an aerobic-anaerobic membrane bioreactor. The bioreactor consists of a modified activated sludge process, i.e. a contact-stabilization process coupled with anoxic reactor and combined with an external ultrafiltration membrane to replace the sedimentation process in conventional activated sludge process. The feed consists of Remazol Black-5 azo dye at a concentration of 110-120 mg/L, and tempeh waste as an organic and nutrient source at 8-10% v/v concentration. An experiment was done to measure the effect of hydraulic retention time on dye removal, by varying the HRT in the contact tank at 1, 1.5, 2, 2.5, and 3 hours, and that of  stabilization- and anoxic tanks kept constant at 4 and 3 hours. From the experiment a 41-51% removal of the dye and 46-65% removal of organic compounds were obtained. The highest dye and organic compound removal was obtained at a contact HRT of 2 hours, namely 51% of dye removal and 65% of organic removal efficiencies. An auto-oxidation process occurs in the contact tank, resulting in an increase in the dye concentration.Keywords: tempeh waste, membrane bioreactor, Hydraulic Retention Time (HRT), contact tank, azo dye. Abstrak Limbah tempe merupakan salah satu limbah yang masih memiliki nilai ekonomis, karena kandungan senyawa organik dan nutrien yang terdapat didalamnya masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan yeast extract. Dalam penelitian ini limbah tempe digunakan sebagai ko-substrat untuk penyisihan zat warna azo dari industri tekstil dengan menggunakan bioreaktor membran aerob-anaerob. Bioreaktor terdiri dari modifikasi proses lumpur aktif yaitu proses kontak-stabilisasi yang dihubungkan dengan reaktor anoksik dan dikombinasikan dengan membran ultrafiltrasi secara eksternal. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 pada konsentrasi 110-120 mg/L dan limbah tempe sebagai sumber organik dan nutrien dengan konsentrasi 8-10% v/v. Percobaan dilakukan untuk mengamati pengaruh waktu retensi hidrolik (hydraulic retention time, HRT) tangki kontak terhadap penyisihan warna dengan variasi HRT tangki kontak antara 1, 1½, 2, 2½ dan 3 jam, sedangkan tangki stabilisasi dan anoksik pada HRT konstan 4 dan 3 jam. Dari percobaan dihasilkan penyisihan warna berkisar antara 41-51% dan penyisihan senyawa organik antara 46-65%. Baik penyisihan warna maupun senyawa organik terbesar dihasilkan pada HRT kontak 2 jam yaitu 51% untuk penyisihan warna dan 65% untuk penyisihan senyawa organik. Pada tangki kontak terjadi autoksidasi yang menyebabkan kenaikan konsentrasi warna.Kata Kunci: limbah tempe, bioreaktor membran, waktu retensi hidrolik (HRT), tangki kontak, zat warna azo.
Pengaruh filler carbon black terhadap sifat dan morfologi komposit natural rubber/polypropylene B Bahruddin; Ida Zahrina; Said Zul Amraini
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 2 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.2.4

Abstract

The effect of carbon black (CB) filler content and mixing technique on tensile properties and morphology of vulcanized natural rubber/polypropylene (NR/PP) blends were studied. The blends were performed in an internal mixer with NR/PP mass ratio of 70/30. The filler was mixed with the blend by two ways. First, CB was mixed with NR in roll-mill before blending with PP in internal mixer and the second, CB, NR and PP were mixed together in internal mixer. The plasticizer and maleated polypropylene (MA-g-PP) compatibilizer were added at constant value with mass fraction of 2% and 5%, respectively. Sulfur was used as curative agent with composition of 3 per hundred rubbers (phr) for the dynamic vulcanization process. The mixing was conducted at 180 oC with the rotor speed of 60 rpm. The morphological study on cryogenically fractured samples was performed using scanning electron microscopy and differential scanning calorimetry. The tensile strength and elongation at break were measured by ISO 527-2 Type 5A standard. The results indicate that the addition of CB as filler could improve the morphology and the properties of the NR/PP blends significantly, especially at CB mass fraction of 30% and blending by first technique. At these condition, tensile strength and elongation at break were found to be 9,8 MPa and 413%, respectively. Keywords: natural rubber, thermoplastic elastomer, carbon black filler, tensile properties, morphology AbstrakPenelitian ini mempelajari pengaruh komposisi dan teknik penambahan filler carbon black (CB) terhadap sifat tensil dan morfologi campuran natural rubber/polypropylene (NR/PP). Sampel campuran disiapkan dengan menggunakan internal mixer pada rasio massa NR/PP 70/30. Filler ditambahkan ke dalam campuran NR/PP dengan komposisi 10%, 20% dan 30% massa. Penambahan filler dilakukan dengan dua cara, pertama dicampur dengan NR terlebih dahulu sebelum pencampuran NR dan PP, dan kedua dicampur bersama-sama NR dan PP dalam internal mixer. Ke dalam campuran juga ditambahkan plastisizer 2% massa dan kompatibilizer MA-g-PP sebesar 5% massa. Proses pencampuran menggunakan metode vulkanisasi dinamik pada suhu 180 oC dan kecepatan rotor 60 rpm. Sebagai curative agent digunakan sulfur dengan komposisi 3 phr (per hundred rubber). Sifat tensil campuran diukur menggunakan standar ISO 527-2 Tipe 5A. Morfologi campuran dianalisa menggunakan scanning electron microscopy. Diperoleh bahwa sifat tensil dan morfologi campuran terbaik diperoleh pada komposisi CB 30% menggunakan teknik pencampuran yang pertama. Pada kondisi tersebut; kuat tarik dan elongation at break campuran masing-masing adalah 9,8 MPa dan 413%.Kata kunci: natural rubber, termoplastik elastomer, filler carbon black, sifat tensil, morfologi
Front Matter Vol 5, No 1 (2006) C.B. Rasrendra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Characterization and performance of W-ZSM-5 and loaded Cu/ZsM-5 catalysts Didi Dwi Anggoro; Nor Aishah Saidina Amin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 1 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.1.2

Abstract

The metal oxides with sufficiently high dehydrogenation and low olefin oxidation activities reduces the acidity of ZSM-5. As a result, the metal containing ZSM-5 can produce higher hydrocarbons in methane oxidation. Many researchers studied the applicability of HZSM-5 and modify ZSM-5 to methane conversion to liquid hydrocarbons but result of their research still lead to low conversion and selectivity. The modified HZS-5 by loading with Tungsten (W) enhanced its heat resistant performance, and the high reaction temperature (800ºC) did not lead to the loss of W component by sublimation. The loading of HZSM-5 with Tungsten and Cooper (Cu) resulted in an increment in the methane conversion, CO2 and C5+ selectivities. In contrast, CO, C2-3, and H2O selectivities were reduced. The process to convert methane to liquid hydrocarbons (C5+) was dependent on the metal surface area and the acidity of zeolite. The high methane conversion and C5+ selectivity, and low H2O selectivity are obtained by using W/3.0Cu/HZSM-5.  Keywords : Characterization W-ZSM-5, Modified HZSM-5, Tungsten, Copper, Methane  Abstrak  Logam oksida dengan kemampuan dehidrogenasi yang tinggi dan aktifasi oksidasi olefin berkurang dengan sifat keasaman dari ZSM-5. Sebagai hasilnya, ZSM-5 yang mengandung logam dapat memproduksi hidrokarbon rantai panjang dari oksidasi gas metana. Telah banyak para peneliti mempelajari kemampuan HZSM-5 dan ZSM-5 yang telah dimodifikasi untuk mengubah gas metana menjadi hidrokarbon cair tetapi hasil konversi dan selektivitasnya masih rendah. Modifikasi HZSM- 5 dengan penambahan logam Tungsten (W) meningkatkan daya tahan panas dan pada reaksi suhu tinggi (800ºC) tidak menyebabkan hilangnya logam W dikarenakan proses sublimasi. Penambahan logam Tungsten dan Copper (Cu) menyebabkan meningkatnya konversi metana, selektifitas CO2 dan C5+ Sebaliknya, selektifitas CO,C2-3, dan H2O menurun. Proses konversi metana menjadi hidrokarbon cair ditentukan oleh luas permukaan logam dan sifat keasaman dari zeolite.  Penggunaan katalis W/3.0Cu/HZSM-5 menghasilkan konversi metana dan selektifitas C5+ tinggi dan selektifitas H2O rendah.  Kata kunci : Karakterisasi W-ZSM-5, Modifikasi HZSM-5, Tungsten, Copper, Metana
Simulasi dinamik sistem reaktor eksotermal adiabatik dengan alat penukar panas umpan-keluaran (FEHE) Tri P. Adhi; Gandi R. Setyadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 3 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.3.6

Abstract

A study of dinamics behavior on adiahatic exothermal reactor with a Feed-Effluent Heat Exchanger (FEHE) is reported in this paper. In practice of a chemical proces industries, configuration of the heat integration of FEHE system are easi to found at process that involving adiabatic exothermal reactor with the demand of feed's heating and of reactor product's cooling. The FEHE system configuration increase the process thermal efficiency throught the use of heat flow on the reactor product to raise the temperature of reactor feed flow. From the steady state economical point of view, this off cource be very interesting to be implemented, althought controlling and operational considerations are need to be taken into account to keep those advantages un-eliminted by operational and controlling matters. The dynamic simulation can give some illustration on how the hehavior of process operation at FEHE system is. Dynamically this system can be examined so that the boundary of operational parameter which could mantain its stability and trigger unstable system can be known and determined. In this study, the simulation of dynamic and steady state condition on system of FEHE-adiabatic exothermal reactor has been performed by assist of process simulator Aspen-Hysys using ammonia synthesis as the model process. The examined un-stable case were the harmonic osilation phenomena on the operational temperature condition. The objective of this study was to obtain a mathematical correlation model that can be applied in predicting when the un-stable phenomena might be happen.Keywords: FEHE System, Oscillation Temperature, Unstabilize Operation  AbstrakSebuah kajian mengenai kelakuan dinamik sistem reaktor eksothermal adiabatik dengan alat pertukaran panas umpan-keluaran (Feed-Effluent Heat Exchanger, FEHE) disampaikan pada makalah ini. Dalam praktek industri proses kimia, konfigurasi integrasi pwws   sistem  FEHE mudah   ditemukan   pada    proses   yang    melihatkan    reaktor   eksothermal   adiahatik,   dengan kehutuhan pemmw.\·anlfiiiJHIII   reaktor dan pendinginan produk reakt01 Konfigurasi sistem FEHE memherikan  pening/wtan   efisiensi  thermal  proses   melalui  pemanfctatan   a/iran  panas  produk reaktor untuk  menaikkan  tempera fur  a/iran umpan reakt01  Dari sudut pmzdang  ekonomi sistem tunak,   lentu   saja   hal   tersehut   sangat   menarik    1111/uk   diimplemen/asilwn,    a/am   tetapi pertimhangan-pertimhangan    operasi  dan pengendalian   harus  diperhatikan  agar  keuntungan  ini tidak  lere/iminasi  oleh permasalahan-permasalahan   pengendalian   dan pengoperasian.   Simulasi dinamik  dapat  memherilwn  gmnbaran  hagaimana  kelalwan  operasi proses  pada  sistem  FEHE. Secara  dinamik,  sistem  ini dapat  diuji  sehingga  batas-batas  parameter   operasi vang  menjaga kestahilan  danmemicu  ketidakstahilan  dari sis/em  dapat diketaluti  dan ditentukan. Dalam  kajiwz ini simulasi  kondisi  lunak  dan  dinamik. sistem  reaktor  eksothermal  adiahatik-FEHE  dilakukan dengan  hantzwn  simulator  proses  Aspen-Hv.1ys  dengan  mengamhil  sintesi.1·  amoniak  sehagai model  proses.   Kasus  ketidak-stabilan  yang   dikaji  adalah jetwmena    osilasi  harmonik  kondisi tenzperatur operasi.  Tujuan yang  hendak dicapai dari kajian ini adalah untuk mendapatkan  suatu model  korelasi   matematik  yang   dapal  digunalwn   untuk  mcmprediksi  kapan  saat   terjadinyafenomena   ketidak-stahilanlersehut.Kata kunci: Ketidak-stabilan Operasi, Osilasi Temperatur, Sistem FEHE
Pembuatan dan uji aktivitas katalis htsc berbasis besi oksida Fitri Rumiani; S Subagjo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.6

Abstract

High temperature shift conversion is a water gas shift reaction using water to produce carbon dioxide and hydrogen in high temperature (370-400oC). The aim of this research is examining the preparation procedure of HTSC catalyst. The catalyst made by Co-precipitation method of Fe and Cr nitrate solution with Na2CO3 as precipitating agent. The specific surface area of catalyst is determined by BET method. The crystal structure was analyzed by XRD method. The catalyst activity was evaluated in the fixed bed reactor on laboratory scale with 370oC and 1 atm. The result shows that the preparation procedure of HTSC ITB catalyst is reproducible. Based on the preparation procedure, calcinations temperature has a great influence to the catalyst surface area. The calcinations temperature at 300oC gave the highest catalyst surface area (198 m2/g), and it is comparable with the surface area claimed by Jennings (200 m2/g). The catalyst has also the highest activity by means of CO conversion resulted by the catalyst activity test (86%) which is larger than commercial catalyst conversion (81%)Keywords : Activity, Catalyst based on Fe/Cr, HTSC, Precipitation Abstrak High temperature shift conversion (HTSC) merupakan reaksi pergeseran CO menggunakan air menjadi CO2 dun H2 yang diselenggarakan pada temperatur tinggi (370-400oC). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan resep dan prosedur pembuatan katalis HTSC. Katalis dibuat dengan metode kopresipitasi larutan garam nitrat dart Fe dan Cr dengan Na2CO3 sebagai senyawa pengendap. Untuk mengetahui keberhasilan penelitian ini, dilakukan penentuan luas permukaan, struktur kristal, dan aktivitas katalis yang kemudian dibandingkan dengan katalis komersial. Luas permukaan spesiftk diukur menggunakan metode BET, sedangkan struktur kristal dianalisis menggunakan XRD. Uji aktivitas katalis dilakukan dalam reaktor fixed bed skala laboratorium pada 370oC dan 1 atm. Hasil penelt.tian menunjukkan bahwa pelaksanaan prosedur pembuatan katalis HTSC ITB sudah dapat diulangi dengan hasil yang sama (reproducible). Berdasarkan prosedur tersebut, temperatur kalsinasi sangat berpengaruh terhadap lnas permukaan katalis. Dalam rentang temperatur yang dipelajari (300-400oC), kalsinasi pada temperatur 300oC menghasilkan katalis dengan luas permukaan paling tinggi yaitu 192-198 m2/g. Makin tinggi luas permukaan katalis yang dihasilkan, makin tinggi aktivitas katalis tersebut. Katalis dengan luas permukaan 192-198 m2/g menghasilkan aktivitas paling tinggi, konversi CO yang dihasilkan adalah 86 %, sedikit lebih besar dari konversi katalis komersial (81 %).Kata Kunci : Aktivitas, HTSC, Katalis berbasis Fe/Cr, Prespitasi