cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Simulasi pengolahan limbah cair berwarna dengan foto fenton pada sistem kontinyu Lie Hwa; Lieke Riadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.4

Abstract

Simulation of Colored Waste Water Treatment Using Photo Fenton in Continuous System Waste water from coffee processing was treated by the Photo Fenton method. Experiments were carried out in a 2 liter batch reactor equipped with ultraviolet lamp for 4 hours. The synthetic waste water was made by dissolving 300 mg instant coffee in 1 liter water. Reagents used are 700 ppm H2O2 prepared from 30 % H2O2, and 15 ppm FeSO4.7H2O. The experiment was carried out at pH= 3. Prior to treatment, the color of the waste water was brownish yellow. After adding the fenton reagent under UV light exposure, the color of waste water changed to pale yellow, and finally became colorless. Absorbance and Total Organic Carbon (TOC) of the sample were measured periodically. The kinetics of organic carbon degradation followed first order reaction towards the TOC concentration. Based batch experiment data, organic degradation was simulated for a single CSTR and four CSTRs in series. The single CSTR with a residence time of 1100 minutes can reduce the organic content from 108 ppm to 10.8 ppm, whereas for the serial CSTR reactors, the residence time was only 100 minutes in each reactor to get the same reduction percentage. Keywords: photo fenton, colored waste water, continuous, residence timeAbstrakPengolahan limbah cair industri pengolahan kopi dilakukan dengan metode Foto Fenton. Kajian menggunakan limbah sintetis berwarna coklat, mengandung kopi 300 ppm. Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor gelas dua liter yang dilengkapi dengan lampu ultra violet. Reagen yang digunakan adalah hidrogen peroksida dengan konsentrasi 700 ppm yang dibuat dari H2O2 30%, dan besi sulfat 15 ppm. Pengolahan limbah dilakukan pada pH=3. Dengan penambahan reagen fenton dan bantuan lampu ultra violet, warna limbah cair berubah secara perlahan dari coklat menjadi kuning dan akhirnya tidak berwarna. Perubahan absorbansi relatif zat warna, kandungan bahan organik total diukur terhadap waktu. Berdasarkan data percobaan secara batch, kinetika degradasi karbon mengikuti orde satu terhadap konsentrasi bahan organik total. Aplikasi untuk sistem kontinyu dibuat menggunakan model simulasi penurunan kandungan organik dalam sebuah reaktor berpengaduk dan 4 buah reaktor berpengaduk yang dihubungkan secara seri. Dengan laju alir umpan tetap, peningkatan volume reaktor akan memperbesar waktu tinggal reaktan dalam reaktor. Hasil simulasi reaktor tunggal menunjukkan bahwa semakin lama waktu tinggal maka semakin tinggi persentase penurunan bahan organik total. Untuk mendegradasi 90% kandungan organik dalam limbah, sebuah reaktor kontinyu seharusnya dirancang dengan waktu tinggal 1100 menit sedangkan empat buah reaktor dirancang dengan waktu tinggal 100 menit.Kata kunci: foto fenton, limbah cair berwarna, kontinyu, waktu tinggal
Pengukuran solubilitas n-amylalkohol dalam poly (n-butyl methacrylate) dan polyisobutylene menggunakan metode piezoelectric-quartz crystal microbalance sorption Gede Wibawa; Rica Widi Lestari; Sofia Wardhani
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.1

Abstract

The Piezoelectric Quartz Crystal Microbalance (QCM) method was used to measure the solubilities of n-amylalcohol in poly (n-butyl methac1ylate) and polyisobutylene at temperatures of 333.15 K, 353.15 K and 353.15 K. The crystals used were 5 MHz, AT-Cut, 5.5 mm in diameter and 0.3 mm in thick. Reliability of the measurements was comfirmed by comparing the present data with the literature data for the system of benzene-polyisobutylene at temperature 338.15K. The solubilities n-amyl alcohol in polyisobutylene were undectedable in the range of temperature experiments by the present apparatus because of the low solubility. For the solubilities of n-amyl alcohol in ploy (n-butyl methacryalate) the higher temperature, the lower solubility and the experimental data could be correlated by the UNIQUAC equation with average absolute deviation between experimental and calculated solvent activities of 3.8%. Keywords: Solubility, Quartz Crystal Microbalance, Solvent, Polymer AbstrakDalam penelitian ini, metode Piezoelectric Quartz Crystal Microbalance (QCM) digunakan untuk mengukur kelarutan pelarut n-amylalkohol dalam polimer poly (n-butyl methacrylate) dan polyisobutylene pada temperatur 333,15 K, 343,15 K dan 353,15 K. Kristal yang digunakan adalah jenis AT-Cut 5 MHz, diameter 5,5 mm dan ketebalan 0,3 mm. Reliabilitas dari pengukuran di tes dengan membandingkan hasil pengukuran dengan data literatur untuk sistem benzene­polyisobutylene pada temperatur 338, I 5K. Kelarutan n-amyl alkohol dalam polyisobutylene tidak dapat terdeteksi pada range temperatur eksperimen dengan peralatan yang ada karena kelarutannya rendah. Untuk kelarutan n-amylalkohol dalam poly(n-butyl methacrylate), semakin besar suhu, kelarutannya semakin rendah dan data eksperimen dapat dikorelasikan menggunakan persamaan UNIQUAC dengan rata-rata deviasi ahsolut sebesar 3,8%.Kata Kunci: Kelarutan, Quartz Crystal Microbalance, Pelarut, Polimer
Biodegradasi anaerobik biomassa tanaman laut dan produksi biogas dalam digester skala mini-pilot Johnner P. Sitompul; Asep Bayu; Tatang H. Soerawidjaja; Hyung W. Lee
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 4 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.1.2

Abstract

Marine vegetation anaerobic biodegradation and biogas production in a mini-pilot digesterThis paper describes the productivity of biogas from anaerobic biodegradation of macroalgae Ulva lactuca and Padina sp. Marine biomasses especially macroalgae contain less lignin, thus the anaerobic biodegradability of these biomasses was higher than terrestrial biomass. Banana stem waste was used as comparison for the feedstock. Initial inoculums were prepared from cow manure and water. The inoculums and substrates were fed into a mini-pilot digester, operating semi-continuously. Volume of biogas was measured daily while methane content was measured every 3 days using gas chromatograph. Biogas productivity from the mini-pilot digester for feedstock Padina sp., U. lactuca, and banana stem waste was 5.22, 4.88, and 3.06 L respectively, after 28 days operation, with methane content 64.85, 49.90, and 34.76 %-v/v, respectively. The study also shows that lignin content in Padina sp., U. lactuca, and banana stem waste were 5.12,  1.54, and 7.17 %-w respectively. In general, macroalgae have less lignin content and thus produce higher anaerobic biodegradability. The study shows that compounds in microalgae are more biodegradable and more hydrosoluble. Moreover, the experimental results also showed that gross heating value (HHV) of biogas from feedstock of Padina sp. was quite close to that of biogas from cow manure.Keywords: Macroalgae, Ulva lactuca, Padina sp., biogas, HHV Abstrak Biomassa tanaman laut, khususnya makroalga, memiliki kadar lignin rendah sehingga biodegradabilitas anaerobiknya  lebih tinggi dibandingkan tanaman darat. Dalam penelitian ini, biodegradabilitas anaerobik makroalga Ulva lactuca dan Padina sp. dari perairan Indonesia ditentukan berdasarkan produktivitas biogas, yang terutama diukur dari kadar metana yang dihasilkan. Peralatan berskala mini-pilot dirancang dan dirakit untuk mengukur perolehan biogas dari biomassa tanaman laut tersebut. Inokulum awal diperoleh dari campuran kotoran sapi dengan air. Biomassa basah dan air dicampur dan dihaluskan untuk memperoleh suspensi substrat. Inokulum dan suspensi substrat diumpankan ke dalam digester skala mini-pilot berkapasitas 5 L yang beroperasi secara semikontinu. Volume biogas diukur setiap hari sedangkan kadar metana diukur setiap 3 hari dengan kromatografi gas. Batang pisang digunakan sebagai biomassa pembanding. Produktivitas biogas yang dihasilkan dari Padina sp., U. lactuca, serta batang pisang berturut-turut yaitu 5,22, 4,88, dan 3,06 L, dengan kadar metana sebesar 64,85, 49,90, dan 34,76 %-v/v. Kadar lignin pada biomassa berturut-turut sebesar 5,12, 1,54, dan 7,17 %-b. Secara umum, makroalga memiliki kadar lignin relatif rendah sehingga biodegradabilitas anaerobiknya tinggi. Biodegradabilitas anaerobik paling tinggi dari Padina sp. juga disebabkan tingginya kadar senyawa yang dapat larut dalam air dan terhidrolisis.   Nilai kalor kasar (HHV) biogas Padina sp. mendekati biogas kotoran sapi.Kata kunci: makroalga, Ulva lactuca, Padina sp., biogas, HHV
Distilasi reaktif metanol-asam asetat-metil asetat-air Cheryl Raditya; Widya Wahyuni; Danu Ariono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.2.7

Abstract

In chemical industry, efficiency of the production unit becomes an important factor. Reaction and separation can be done simultaneously in reactive distillation column. This method is used in esterification of acetic acid with methanol to produce methyl acetate and water. The purpose of this research is to study the separation processes through distillation for reactive components by identifying feed   composition effects on degree of separation. This research is done by varying methanol and acetic acid in feed composition in batch distillation with total reflux condition.  The feed  compositions  used during this research  is 50%/50%,   75%/25%,  33%/67%  and  67%/33%-volume  methanol/acetic  acid.  Through this research, feed composition with 67%-volume methanol/33%-volume acetic acid is the best composition for  acetic acid-methanol-methyl acetate-water   system   in   reactive distillation. Feed composition affects top and bottom temperature of the column and distillate composition.  Top and bottom temperature of the column gets lower if there is lighter component in feed composition. But too many light components in feed composition will decrease separation degree in reactive distillation column because light component will be drawn to distillate. Key words: reactive distillation, esterification, methyl acetate AbstrakPenggunaan unit produksi yang efektif telah menjadi faktor yang sangat diperhatikan dalam dunia industri. Dalam industri berbasis teknik kimia, reaksi dan pemisahan dapat dilakukan bersamaan dalam satu alat, dengan distilasi reaktif. Metode ini digunakan dalam proses esterifikasi asam asetat dan metanal menghasilkan metil asetat dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses pemisahan dengan cara distilasi untuk komponen­komponen yang bereaksi dengan mengidentifikasi pengaruh komposisi umpan dalam kolom distilasi. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan komposisi umpan metanal dan asam asetat dalam sistem   distilasi batch dengan kondisi refluks total. Pada percobaan menggunakan empat variasi komposisi umpan, yaitu campuran 50% /50%, 75%/25%, 33%/67% dan 67%/33%-volume   metanol/asam asetat. Dari percobaan, diperoleh komposisi umpan yang paling tepat untuk sistem asam asetatmetanol-metil asetat-air dalam kolom distilasi reaktif adalah 67%/33%-volume metanol/asam asetat.  Komposisi umpan mempengaruhi temperatur bagian alas dan bagian bawah kolom serta komposisi distilat. Makin banyak komponen ringan dalam umpan, makin rendah temperatur bagian atas dan bagian bawah kolom. Akan tetapi, komposisi reaktan ringan yang terlalu banyak di dalam umpan akan menurunkan derajat pemisahan produk dalam kolom distilasi reaktif karena komponen ringan akan terbawa dalam produk distilat.Kata Kunci: distilasi reaktif, esterifikasi, metil asetat
PILARISASI BENTONIT DENGAN MODIFIKASI PENAMBAHAN ASAM SULFAT SEBAGAI KATALIS ASAM PADAT DALAM ESTERIFIKASI Hery Haerudin; Dona Sulistia Kusuma; Ermawan Ermawan; Isna Komalasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 1 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.1.1

Abstract

 Preparations of pillared bentonites have been carried out using refined bentonite from Trenggalek, East Java, Indonesia as raw materials. Modification cations of pillarization method has been accomplished by the introduction of treatment in acid solution at various stages of pillarization procedure, specifically (i) prior to ion-exchange, (ii) subsequent to ion-exchange, (iii) subsequent to drying of ion-exchanged bentonite and (iv) subsequent to calcination of ion-exchanged bentonite. The resulted modified clays were characterized by X-ray diffraction spectrometry, N2-adsorption, TG/DT Analysis and SEM. Shifts of pore distributions to the Larger pore size by the introduction of acid treatment on the pillarization procedure were observed, which are also accompanied by appropriate increase in specific surface area. Treatment in acidic solution may have resulted in removal of exchangeable cations, which lightened AL-polycation intercalation during the pillarization. The modified clays were tested in an esterification reaction model using stearic acid and ethanol as reaction partners. Activity tests showed that enhancement in physco-chemical characteristics such as specific surface area, pore size and pore distribution, was not generally followed by the increase of the activity. Key Words: Bentonite, Pillarization, Acid Treatment, Solid Acid, Esterification, Activity. 
Fermentasi etanol menggunakan bakteri Zymonas mobilis dari glukosa hasil hidrolisa enzimatik bagas S Saraswati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.3

Abstract

The resources and reserves of oil which is a non renewable energy are very limited, while the oil consumption is increasing continuously. It is necessary to look for alternative energy. Etanol, a liquid energy, is a renewable alternative energy. Glucose can be used as raw material for etanol production. Glucose can be obtained by enzymatic hydrolysis of bagasse which is a solid waste of sugar canefactory. The objective of this research was to get the optimum condition of etanol production using bagasse as raw material. The experimental research consisted of 2 steps. First step : enzymatic hydrolysis of bagasse with chemical pretreatment process, and the second step was fermentation process using Zymomonas mobilis bacteria. Variables of thefirst step were the NaOH concentration (5%, 7% and 9%) as a pretreatment agent, and cellulase enzyme used (30, 40 and 50 cellulase enzyme  units/gram bagasse). For the second step, the variables were glucose concentration (I2.5%, 15%, 20%, 22.5%, and 25%) and the fermentation time (20, 24, 28, 32, 36, 40 and 48 hours). The experiment showed that the best result of the enzymatic hydrolysis could be obtained by NaOH 7% as chemical pretreatment agent and using 50 units of cellulase enzyme/gram bagasse. The cellulose conversion of bagasse was 87% within 42 hours period time. The highest etanol concentration of the fermentation process was 9.238% (weight %) and the yield was 0.4912 grams etanol/gram glucose. It was reached by using 22.5% glucose during 48 hours fermentation  time.Keywords: etanol; fermentation; Zymomonas mobilis; glucose; hydrolysis; cellulase enzyme; pretreatment;bagasse AbstrakCadangan minyak bumi yang merupakan non renewable energy (energi tak terbarukan) sangat terbatas, sedang konsumsinya terus meningkat.  Untuk itu perlu  dicari energi alternatif. Etanol merupakan salah satu energi cair alternatif yang terbarukan (renewable). Bahan baku etanol antara lain adalah glukosa. Glukosa dapat diperoleh dari hidrolisa enzimatik bagas yang merupakan limbah pabrik gula. Penelitian ini bertujuan  untuk  mendapatkan  kondisi yang  optimum  dari pembuatan  etanol  dengan  bahan baku bagas. Penelitian  experimental  meliputi  dua tahap.  Tahap I  : proses  hidrolisa  enzimatik  dari bagas dengan perlakuan pendahuluan  (pretreatment), dan tahap II adalah proses fermentasi  dengan bakteri Zymomonas  mobilis.  Variabel pada  tahap I  adalah  konsentrasi  NaOH  sebagai  pretreatment   agent sebesar 5%, 7% dan 9% serta pemakaian enzim selulase : 30, 40 dan 50 unit enzim selulase/gram bagas. Variabel untuk tahap II  adalah konsentrasi glukosa:  12.5%,  15%, 20%, 22.5%  dan 25% dan waktu fermentasi  20, 24, 28, 32, 36, 40  dan 48 jam.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  untuk  hidrolisa enzimatik hasil yang terbaik diperoleh dengan NaOH 7% dan 50 unit enzim selulase/gram bagas dengan konversi selulosa 87% dan waktu 42 jam. Untuk fermentasi kadar etanol tertinggi diperoleh pada konsentrasi glukosa 22.5% yaitu sebesar 9.238%, waktu 48 jam dan yield 0.4912 gram etanollgram glukosa.Kata Kunci: etanol; fennentasi; Zymomonas mobilis; glukosa; hidrolisa ; enzim selulase; pretreatment; bagas.
Front Matter Vol 7, No 3 (2008) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 3 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyerapan gas H2S dengan larutan K2CO3 dari ekstrak abu kelopak batang pisang Hary Sulistyo; Novita Wiedhasari; Deddy Setiawan
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.3

Abstract

Abstrak Gas H2S merupakan gas yang bersifat polutan dalam gas alam maupun campuran gas. Keberadaannya harus dihilangkan dari campuran tersebut. Ekstrak abu dari limbah pertanian mengandung kalium karbonat yang dapat menyerap gas H2S. Percobaan dilakukan dengan mengalirkan gas H2S dengan laju alir 2,3175 mL/s dan fraksi mol 0,4105 ke dalam larutan ekstrak abu dalam reaktor berpengaduk pada kisaran suhu 303K sampai 325 K, konsentrasi kalium karbonat 7,5.10-3 M sampai 13,5.10-3  M dun waktu reaksi sampai 30 menit, Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi kalium karbonat dapat mencapai 37,90%, pada penggunaan kalium karbonat 0,0075M, fraksi mol H2S 0, 4105, suhu reaksi 325K dan waktu reaksi 30 menit. Hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien perpindahan massa keseluruhan, KLa=6,24 menit-1, sedang hubungan antara konstanta kecepatan reaksi dengan suhu sesuai dengan persamaan Arrhenius, kr = 175,3219e-15.6788RT. Analisis kinetika reaksi menunjukkan bahwa kedua langkah yaitu perpindahan massa dan reaksi kimia saling menentukan (regim campuran).Kata Kunci : Penyerapan, Perpindahan Massa, Reaksi KimiaAbstrakGas H2S merupakan gas yang bersifat polutan dalam gas alam maupun campuran gas. Keheradaannya harus dihilangkan dari campuran tersehut. Ekstrak abu dari limbah pertanian mengandung kalium karbonat yang dapat menyerap gas H2S. Percobaan dilakukan dengan mengalirkan gas H2S dengan laju alir 2,3175 mL/s dan fraksi mol 0,4105 ke dalam larutan ekstrak abu dalam reaktor berpengaduk pada kisaran suhu 303K sampai 325K, konsentrasi kalium karbonat 7,5 10-3M sampai 13,5 10-3M dan waktu reaksi sampai 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi kalium karbonat dapat mencapai 3 7, 90%, pada penggunaan kalium karbona!  0,0075 M, fraksi  mol  H2S 0,4105, suhu reaksi 325K  dan waktu reaksi 30 menit. Hasil perhitungan diperoleh nilai koeflsien perpindahan massa keseluruhan, K1a= 6,24 menit-1, sedang hubungan antara konstanta kecepatan reaksi dengan suhu sesuai dengan  persamaan Arrhenius, kr=175,3219e-15,6788RT. Analisis kinetika reaksi menunjukkan bahwa kedua langkah yaitu perpindahan massa  dan reaksi kimia sating menentukan (regim campuran).Kata Kunci: Penyerapan, Perpindahan Massa, Reaksi Kimia
Pengaruh pH dan Jenis Pelarut terhadap Ekstraksi Batch Asam 6-Aminopenisilinat Lienda Aliwarga; Reynard Reynard; Iga Putri Yasmani; Mia Puspasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.5

Abstract

Abstrak. Asam 6-aminopenisilinat (6-APA) merupakan bahan dasar pembuatan penisilin semi-sintetis. Dalam skala komersial, 6-APA dapat diproduksi dengan cara enzimatis atau kimiawi. Pada umumnya, produksi 6-APA dilakukan secara enzimatis, yaitu dengan mengkonversi penisilin G menjadi 6-APA dengan bantuan penisilin asilase. Karena konversi merupakan reaksi kesetimbangan, maka produk yang didapat adalah campuran penisilin G, 6-APA, dan asam fenil asetat (PAA) sehingga untuk memperoleh 6-APA murni dilakukan proses ekstraksi, pemekatan, dan kristalisasi. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa variabel operasi, yaitu temperatur, pH, dan jenis pelarut. Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh pH dan jenis pelarut terhadap proses pemisahan 6-APA. Temperatur operasi adalah kondisi ruang dan perbandingan volume pelarut dengan volume larutan yang akan diekstraksi adalah 1:1. Variasi pH ekstraksi dilakukan antara rentang 2,0-5,0, sedangkan jenis pelarut yang digunakan adalah n-butil asetat, iso butil asetat, metil isobutil keton, dan iso amil asetat. Rentang pH terbaik untuk pemisahan 6-APA adalah 2,0-3,0 dengan pelarut metil isobutil keton. Pada kondisi ini, perolehan penisilin G adalah 98%, 6-APA 5%, dan PAA 99%. Sebagian besar 6-APA pada fase aquatik dapat diproses untuk pemurnian selanjutnya. Kata kunci: Penisilin G, 6-APA, PAA, ekstraksi, pelarut, pH. Abstract. Influence of pH and Solvent Types on 6-Aminopenicillinic Acid Batch Extraction. 6-aminopenicillinic acid (6-APA) is the raw material for producing semi-synthetic penicillin. In commercial scale, penicillin G is converted into 6-APA enzymatically by penicillin acylase. Due to the nature of equilibrium reaction, the products are in mixture solution of penicillin G, 6-APA, and phenyl acetic acid (PAA). In order to purify the targeted 6-APA, steps of extraction, concentration, and crystallisation are thereby compulsory. Extraction process is influenced by operation variables, among other things, temperature, pH, and solvent types. In this experiment, we observed the aspects of pH and solvent type, while temperature was set in room condition. Volume ratio of solvent to extracted solution was 1:1 and pH was varied between 2.0 and 5.0. There were four solvents tested: n-butyl acetate, isobutyl acetate, methyl isobutyl ketone, and isoamyl acetate. The results suggested that optimum process was attained from pH 2.0 to 3.0, using methyl isobutyl ketone as solvent. In this regard, the yield of penicillin G (98%), 6-APA 95%) and PAA (99%); hence, most of the 6-APA was concentrated within the aquatic phase, representing the ease of further process. Keywords: Penicillin G, 6-APA, PAA, extraction, solvent, pH. Graphical Abstract
Sintesis y-alumina sebagai penyangga katalis T. Walmiki Samadhi; S. Subagjo; Temy Nurfahmiawati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.1.5

Abstract

Synthesis of y-alumina as catalist supportOf the numerous catalyst support materials utilized in the petroleum refining industry, y-alumina is one ofthe most commonly used materials, especially in the hydrotreating processes. Due to the large­ scale application of y-alumina, a competence in the synthesis of this material is essential in an effort to reduce the dependency of catalyst development in Indonesia on imported materials. The objectives of this research is to identify key variables in the synthesis of y-alumina according to a sol-gel procedure patented by Rana et al., which utilizes aluminum nitrate as the precursor for the formation of boehmite gel, which in turn is calcined to obtain they-alumina phase. The synthesis is undertaken in 23 full factorial experiment design involving type of base (gelling agent), concentration of base, and aging time as experimental variables. Types of base in this research are ammonium carbonate and urea. Concentrations of base and aging time were varied at 50% and 200% relative to the values set in the patented procedure. Analysis of variance (ANOVA) of the specific surface area results at a confidence level of 95% indicates the significance of type and concentration of base, and the interaction between the two variables. The highest specific surface area obtained is 195.16 m2/g, using ammonium carbonate at a concentration of 5.05 mole/mole aluminum nitrates and aging time of 20 hours. This specific surface area is higher than that stated in Rana's procedure, which is namely 175 m2/g.Keywords: y-alumina, catalyst support, specific surface area, ANOVAAbstrakDari berbagai material penyangga katalis yang digunakan dalam industri pengilangan minyak bumi, y-alumina merupakan salah satu material yang paling umum digunakan, terutama dalam proses-proses hydrotreating. Sehubungan dengan luasnya penggunaan y-alumina, sintesis material ini merupakan kompetensi kunci yang sangat penting dalam upaya mengurangi ketergantungan pengembangan katalis di Indonesia terhadap bahan-bahan impor. Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi variabel-variabel kunci dalam sintesis y-alumina menurut metode sol-gel yang dipatenkan oleh Rana dkk., yang menggunakan aluminum nitrat sebagai bahan awal pembentukan gel boehmite, yang selanjutnya dikalsinasi untuk memperoleh fasa y-alumina. Sintesis dilaksanakan pada rancangan percobaan statistik 23 full factorial yang melibatkan jenis basa (sebagai gelling agent), konsentrasi basa, dan waktu aging sebagai variabel-variabel percobaan. Jenis-jenis basa yang digunakan dalam penelitian ini adalah amonium karbonal dan urea. Konsentrasi  basa dan waktu aging divariasikan pada 50% dan 200% dari nilai yang digunakan dalam prosedur paten Rana dkk. Analisis varians (ANOVA) terhadap hasil pengukuran luas permukaan spesifik pada tingkat keyakinan 95% menunjukkan signifikansi jenis dan konsentrasi basa, serta interaksi antara kedua variabel tersebut. Luas permukaan spesifik tertinggi yang diperoleh adalah 195,16 m2/g, dengan menggunakan amonium karbonat pada konsentrasi 5,05 mol/mol aluminum  nitrat,  dan waktu aging 20 jam. Luas permukaan ini lebih tinggi daripada nilai yang dicantumkan dalam prosedur Rana, yakni sebesar 175 m2/g.Kata kunci: y-alumina, penyangga katalis, luas permukaan spesifik, ANOV

Page 6 of 24 | Total Record : 235