cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit dengan etanol pada pembuatan digliserida sebagai agen pengemulsi Rita Arbianti; Tania Surya Utami; Heri Hermansyah; Ira Setiawati; Eki Listya Rini
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.6

Abstract

Partial transesterification of palm oil with ethanol in diglyceride production as emulsifierHigh growth rate of palm oil production has encouraged palm diversification to be other products with higher economic value, which one of them is emulsifier. Emulsifier based on vegetable oil is biodegradable so they won’t soil our environment. Besides that, its continuity of provisioning is also ensured because it is a renewable resource. In production of emulsifier based on palm oil, transesterification reaction is a first step that influences quality of emulsifier produced. The aim of this research is to determine the condition of palm oil partial transesterification. The partial transesterification process used NaOH as catalyst and palm oil. Variables varied were percent weight of NaOH (0.1, 0.2, 0.3, and 0.4 {mole NaOH/kg oil}), transesterification temperature (40, 50, 60, and 70oC), reaction time (15, 20, 25, and 30 minutes), ratio of reactant (1:3, 1:4, 1:5, and 1:6{mole oil:mole ethanol}),  to discuss these effects to diglyceride product activity. Diglyceride product was tested by its ability as emulsifier in system stability of oil/water emulsion and to decrease surface tension of water. Result of this research indicated that diglyceride product has optimum declining of surface tension of water on percent weight of NaOH of 0.3 mole NaOH/kg oil, transesterification temperature of 50 oC, reaction time of 30 minutes, and ratio of reactant of 1:6 mole oil: mole ethanol.Keywords: diglyceride, emulsifier, NaOH, palm oil, transesterification. AbstrakLaju pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit yang tinggi mendorong perlunya diversifikasi minyak kelapa sawit menjadi produk lain dengan nilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah sebagai agen pengemulsi. Agen pengemulsi yang dibuat dari minyak nabati bersifat biodegradable, sehingga tidak mencemari lingkungan, dan kesinambungan pengadaannya terjamin karena berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dalam produksi agen pengemulsi berbahan baku minyak kelapa sawit, reaksi transesterifikasi merupakan tahapan awal yang akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit. Proses transesterifikasi menggunakan NaOH sebagai katalis dan minyak kelapa sawit. Variabel yang divariasikan untuk mengkaji pengaruhnya terhadap kinerja produk digliserida yang dihasilkan adalah persen berat katalis NaOH (0,1, 0,2, 0,3, dan 0,4 {mol NaOH/kg minyak}), suhu transesterifikasi (40, 50, 60, dan 70 oC), waktu transesterifikasi  (15, 20, 25, dan 30 menit), dan rasio reaktan (1:3, 1:4, 1:5, dan 1:6 {mol minyak:mol etanol}). Produk digliserida diuji kemampuannya sebagai agen pengemulsi dalam menurunkan tegangan permukaan air, serta dalam menjaga kestabilan emulsi minyak/air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk digliserida memiliki kemampuan menurunkan tegangan permukaan air optimum pada persen berat katalis NaOH sebesar 0,3 mol NaOH/kg minyak, suhu transesterifikasi 50 oC, waktu reaksi 30 menit, dan rasio reaktan 1:6 mol minyak:mol etanol.Kata kunci: agen pengemulsi, digliserida, minyak kelapa sawit, NaOH, transesterifikasi.
Komposisi kimia minyak atsiri daun cengkeh dari proses penyulingan uap J Jayanudin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.1.5

Abstract

The chemical composition of clove leaf essential oil obtained from steam distillation process Essential oils are needed in various industries such as industrial perfumes, cosmetics, pharmaceuticals, food industry, and beverages. This study aims to determine the chemical composition of clove leaf essential oil from steam distillation process using GCMS. Dry clove leaves weighing 1.5 kg are included in the kettle flute and sealed properly. Steam from the boiler flows into the kettle with the pressure of 0.5 barG, 1 barG and 1.5 barG for 5, 6 and 7 hours. Mixture oil and water out of the condenser are accommodated and let stand for 24 hours to separate water and oil. Clove leaf oil was purified with 10% bentonite by weight of oil at a temperature of 50oC with stirring for 1 hour. Clove leaf oil that has separated from bentonite added anhydrous Na2SO4 and let stand for 15 minutes and then separate the water and Na2SO4 in oil. Samples with % yield of the largest in its chemical composition analysis using GCMS. Based on the results obtained the largest yield is 1.84% with content of eugenol is 65.03% and 20.94% trans-caryophyllene. Keywords : Clove leaf, Eugenol, Essential Oil, Steam distillationAbstrakMinyak atsiri sangat dibutuhkan dalam berbagai industri seperti industri parfum, kosmetik, farmasi, industri makanan, dan minuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia minyak atsiri daun cengkeh dari proses penyulingan uap menggunakan analisa GCMS. Daun cengkeh kering seberat 1,5 kg yang sudah bersih dari kotoran dimasukkan dalam ketel suling dan ditutup dengan rapat. Steam dari boiler dialirkan ke ketel suling dengan tekanan 0,5 barG, 1 barG dan 1,5 barG selama 5, 6 dan 7 jam. Campuran minyak dan air yang keluar dari kondenser ditampung dan diamkan selama 24 jam untuk memisahkan air dan minyak. Minyak daun cengkeh dimurnikan dengan bentonit 10% dari berat minyak pada suhu 50oC sambil diaduk selama 1 jam. Minyak daun cengkeh yang telah terpisah dari bentonit ditambahkan Na2SO4 anhidrat dan diamkan selama 15 menit kemudian pisahkan air dan Na2SO4 dalam minyak. Sampel dengan % rendemen terbesar di analisa komposisi kimianya menggunakan GCMS. Berdasarkan hasil penelitian didapat rendemen terbesar adalah 1,84% dengan kadar yaitu eugenol 65,03% dan trans-caryophyllene 20.94%.Kata kunci : Daun cengkeh, Eugenol, Minyak atsiri, Penyulingan uap
Pengaruh berbagai konsentrasi mediator pada biodelignifikasi menggunakan enzim kasar lignin peroksidase Arief Widjaja; F Ferry; M Musmariadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 2 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.2.2

Abstract

Pulp and paper industries all over the world are facing an ever increasing pressure from environmentally concern organization due to lignin delignification using chemicals that is harmful for the environment. Lignin degradation process using biological treatment such as using enzyme lignin peroxidase is very promising since it is a benign process using minimum or even no hazardous chemicals. Biodelignification process has been performed using crude enzymes secreted from White Rot Fungi. The enzymes are Lignin Peroxide (LiP), in which these enzymes need the addition of mediator as cofactor in order for the enzymes to work in vitro. The mediators used for LiP are veratryl alcohol (VA) and  in which their concentration was varied. It was shown from the experiments that by using these crude enzymes, 28,7% of lignin degradation on baggase were achieved using VA: H2O2 ratio of 40/40 mM, and without mediators lignin degradation was only 10,8% Using the same ratio of mediators, 28,2% of lignin degradation on pulp was achieved, and without mediators lignin degradation on pulp were just 9,5%. Key Words: Lignin Peroxidase, Biopulping, Biobleaching, Pulp, Mediator Abstrak Industri pulp dan kertas di dunia menghadapi tekanan yang semakin keras dari organisasi peduli lingkungan yang berkaitan dengan proses penghilangan lignin yang mencemari lingkungan. Pada umumnya proses penghilangan lignin dilakukan dengan menggunakan senyawa kimia yang menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Proses delignifikasi menggunakan cara biologi (biobleaching atau biopulping), antara lain dengan menggunakan enzim lignin peroksidase, tanpa atau sedikit menggunakan bahan kimia berbahaya merupakan proses yang ramah lingkungan sehingga memberikan alternatif yang menjanjikan. Pada percobaan ini telah dilakukan proses biodelignifikasi menggunakan enzim kasar yang dihasilkan oleh jamur pelapuk putih. Enzim Lignin Peroksidase (LiP) yang diproduksi jamur pelapuk putih ini membutuhkan mediator sebagai kofaktor bagi kerja enzim secara in vitro. Mediator yang dipakai adalah veratryl alcohol (VA) dan H2O2, dimana konsentrasinya digunakan sebagai variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan enzim kasar dari jamur pelapuk putih Phanerochaete chrysosporium.  dicapai degradasi lignin tertinggi untuk substrat bagas sebesar 28,7% pada perbandingan mediator 40 mM VA: 40 mM H2O2, sedangkan tanpa penambahan mediator degradasi lignin hanya sebesar 10,8%. Dengan perbandingan mediator yang sama, untuk substrat pulp, dicapai degradasi lignin sebesar 28,2%, sedangkan tanpa penambahan mediator hanya didapatkan degradasi lignin sebesar 9,5%. Kata Kunci: Lignin Peroksidase, Biopulping, Biobleaching, Pulp, Mediator
Sintesis dan karakterisasi polimer superabsorban dari akrilamida A. Zainal Abidin; G Susanto; N.M.T. Sastra; T Puspasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.5

Abstract

Synthesis and Characterization of Superabsorbent from Acrylamide Superabsorbent polymer (SAP) is a material that can absorb water in a large amount in a short time. In this research, the polymer has been synthesized from acrylamide monomer (Am) using N,N methylene bisacrylamide (MBA)as a cross-linker and ammonium persulphate (APS) as an initiator. Effects of MBA and APS on the SAP characteristic were studied by varying composition of MBA and APS each of 0.1%-wt, 0.2 %-wt, 0.6 %-wt and 1.0 %-wt. SAP was characterized by measuring its absorption capacity to distilled water. Based on the experiment, the highest absorption capacity for 1 gram SAP is 14.5 gram water. The highest absorption is produced by SAP with APS 0.2 %-wt and MBA 0.6 %-wt. Further studies by using SEM showed that SAP which had high absorption capacity contained a lot of pores with the waving surface. Therefore, the surface contact area between SAP and water is high. Keywords: acrylamide, absorption capacity, superabsorbent polymerAbstrakSuperabsorbent Polymer (SAP) merupakan polimer yang dapat menyerap air dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam penelitian ini, polimer tersebut disintesis dari monomer akrilamida menggunakan crosslinker N,N-metilene bisakrilamide (MBA) dan inisiator amonium persulfat (APS). Pengaruh crosslinker dan inisiator terhadap karakteristik SAP dipelajari dengan melakukan variasi komposisi APS dan (MBA) masing-masing sebesar 0,1 %-b, 0,2 %-b, 0,6 %-b, dan 1 %-b. Karakteristik produk SAP dipelajari dengan FTIR untuk menganalisis gugus fungsi yang terbentuk untuk menunjukkan bahwa polimerisasi betul terjadi dan produknya berupa SAP. Pengukuran kemampuan absorpsi SAP terhadap air destilasi menunjukkan bahwa kapasitas absorpsi terbesar yang dihasilkan oleh superabsorbent polymer dari penelitian ini sebesar 14,5 gram air dalam 1 gram produk SAP yang dibuat. Kapasitas terbesar ini dimiliki oleh SAP dengan 0,2 %-b APS dan 0,6 %-b MBA. Studi lebih lanjut dengan SEM menunjukkan bahwa SAP yang memiliki kapasitas absorpsi tertinggi itu mempunyai morfologi permukaan yang berombak dan jumlah pori yang tertinggi sehingga luas permukaan kontak antara SAP dan air juga tertinggi. Kata kunci: akrilamida, kapasitas absorpsi, superabsorbent polymer
Detailed kinetic model of oxidation and combustion of n-heptane using an automatic generation of mechanisms Yuswan Muharam
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.1.8

Abstract

There is continued interest in developing a better understanding of the oxidation and combustion of large hydrocarbons, which are good representative for practical fuels used in automotive engines for a wide range of operating conditions. This interest is motivated by the need to improve the efficiency and performance of currently operating combustion systems, the fuel economy, and the need to reduce pollutant emission. Normal-heptane is one of these hydrocarbons.  In this work a detailed chemical kinetic model for the oxidation and combustion of n-heptane has been automatically developed using a computer code called MOLEC. The model consisting of 486 species taking part in 2008 elementary reactions was used to reproduce experimental results of n-heptane oxidation in shock tubes. The experimental study of the ignition delay times of n-heptane/O2/Ar behind a reflected shock wave for equivalence ratios of 0.5-4.0 in a temperature range of 1300 K- 2000 K can be reproduced well by the model. Experimentally derived and numerically predicted ignition delays of n-heptane/air mixtures in a high-pressure shock tube in a wide range of temperatures, pressures, and equivalence ratios agree very well. Sensitivity analyses were performed for shock tube environment in an attempt to identify the most important reactions under the relevant conditions of study.Keywords: Modelling, Oxidation, Combustion, Kinetics, Fuels AbstrakDewasa ini di dunia muncul minat yang berkelanjutan dalam mengembangkan proses oksidasi dan pembakaran hidrokarbon panjang, yang merupakan representatif yang meyakinkan bagi  bahan bakar praktis yang digunakan di dalam mesin kendaraan bermotor dalam rentang kondisi operasi yang Iebar. Keminatan ini dipicu oleh keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja sistem pembakaran yang digunakan saat ini, ekonomi bahan bakar serta kebutuhan untuk mengurangi emisi polutan. Normal-heptane merupakan salah satu hidrokarbon ini. Di dalam riset ini sebuah model kinetika kimia detail untuk oksidasi dan pembakaran n-heptana dikembangkan secara otomatis dengan menggunakan sebuah kode komputer yang disebut MOLEC. Model yang terdiri dari 486 spesies yang berperan serta di dalam 2008 reaksi elementer digunakan untuk mereproduksi hasil­ hasil eksperimen oksidasi n-heptana di dalam shock tubes. Has il eksperimen ignition delay times n­ heptana/ O2/Ar di dalam shock tube untuk rasio ekuivalensi 0,5-4,0 pada rentang temperatur 1300 K- 2000 K dapat direproduksi dengan baik oleh model. Ignition delay campuran n-heptanal udara hasil eksperimen dan hasil perhitungan numeris di dalam shock tube bertekanan tinggi dalam rentang temperatur, tekanan, dan rasio ekuivalensi yang luas sangat bersesuaian satu sama lain. Analisis sensitivitas dilakukan dalam upaya mengidentifkasi reaksi-reaksi yang paling penting di dalam kondisi kajian yang relevan.Kata Kunci: Modeling, Oksidasi. Pembakaran, Kinetika, Bahan Bakar
Kinetic and products of C3H3 and C4H2 reaction: theoretical and computational study Antonius Indarto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.2.7

Abstract

The formation of first aromatic ring was suggested to be a crucial step of the PAHs and soot growth mechanism. In general, four-, five-, six-, or seven-membered ring molecules could be formed by the addition reaction of two hydrocarbon molecules resulted from many different pathways. Small hydrocarbon molecules with numerous concentrations during combustion/pyrolysis are suspected to play an important role. Propargyl radical (•C3H3) and butadiene (C4H2) have been chosen as the initial reactants in this discussion, since they are found at relatively high concentrations in flame experiments to examine the above particular reaction. Following initial addition mechanisms, their adduct intermediate can form a ring molecule and undergo subsequent rearrangement. All possible molecular structures were considered and the viability of each channel was assessed through a “RRKM + master equation” kinetic study. This study is an attemp and example to develop and apply molecular computational method for solving problems in the chemical engineering.Keywords: reaction kinetic, ab-initio calculation, RRKM theory, unimolecular reaction, propargyl, butadiene.AbstrakReaksi pembentukan cincin aromatic pada senyawa hidrokarbon merupakan mekanisme awal terpenting dari pembentukan Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dan jelaga karbon. Secara umum, senyawa hidrokarbon dengan cincin berjumlah empat, lima, enam, atau tujuh dapat dibentuk oleh reaksi gabungan dua molekul hidrokarbon. Molekul hidrokarbon dengan jumlah atom karbon rendah akan memainkan peranan penting ditinjau dari besarnya konsentrasi senyawa ini saat pembakaran/pirolisis. Dalam diskusi ini, reaksi propargil radikal (•C3H3) dan butadiena (C4H2) digunakan sebagai studi kasus karena konsentrasinya yang relatif tinggi dalam percobaan laboratorium dengan menggunakan bunsen. Secara garis besar, reaksi pembentukan rantai lingkar (cincin) dapat tercapai baik secara langsung setelah reaksi adisi atau melalui penataan ulang molekul. Berbagai struktur molekul dan mekanisme yang mungkin ada dalam reaksi ini akan dianalisis melalui studi kinetika "RRKM + persamaan master (master equation)". Studi ini juga ditujukan sebagai usaha dan contoh untuk memperkenalkan penggunaan kimia komputasi molekuler dalam menyelesaikan berbagai problem di bidang teknik kimia.Kata kunci: kinetika reaksi, perhitungan ab-initio, teori RRKM, reaksi unimolekular, propargil, butadiena.
Base case simulation of a semi-batch emulsion copolymerization process: application to styrene/ butadiene system I Harsono; H Hindarso; N Indraswati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.6

Abstract

It has been long recognized that emulsion polymerization is a complex heterogeneous process involving transport of monomers, free radicals, and other species between aqueous phase and organic phase. Though there are a number of models available in the literature, most of them deal only with specific aspects in emulsion polymerization and are far from being general. To simulate this complicated process and to achieve an adequate level of understanding, a Polymers Plus software from Aspen Technology. Inc. was used. The objective of this work is to illustrate the principle of use of Polymers Plus, simulate, and analyze the free-radical seeded emulsion copolymerization of styrene­butadiene process model in a semi-batch reactor. The base case simulation can be used to gain process understanding by analyzing how process variables and operating conditions during the course of a semi-batch reactor affect the product quality.Keywords: Polymers Plus, Emulsion Copolymerization, Simulation, Semi Batch Reactor, Styrene/ butadiene AbstrakTelah diketahui sejak lama bahwa polimerisasi emulsi merupakan sebuah proses heterogen yang kompleks, yang meliputi perpindahan monomer, radikal bebas, dan senyawa lainnya dalam fasa air dan fasa organik. Walaupun dalam literatur terdapat berbagai model, sebagian besar hanya membahas tentang aspek-aspek khusus dalam polimerisasi emulsi yang belurn berlaku umum. Untuk melakukan simulasi serta meningkatkan pemahaman tentang proses yang kompleks ini, digunakan perangkat lunak Polymers Plus dari Aspen Technology, Inc. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan ilustrasi tentang prinsip penggunaan Polymers Plus serta melakukan simulasi dan analisis tentang model untuk proses kopolimerisasi emulsi styrene-butadiene dengan free radical seeded dalam reaktor semi batch. Simulasi ini dapat digunakan untuk memperoleh pemahaman proses dengan menganalisis pengaruh variabel-variabel proses dan kondisi operasi dalam reaktor semi batch terhadap kualitas produk.Kata Kunci: Polymers Plus, Kopolimerisasi Emulsi, Simulasi, Reaktor Semi Batch, Stiren/ butadien
Produksi pelengkap nutrisi dari mikroalga laut Spirulina platensis dan Botyrococcus braunii Rita Arbianti; Sri Amini; Tania Surya Utami
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 5 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.2.3

Abstract

Production of nutritional supplements from Spirulina platensis and Botyrococcus Braunii marine microalgae.The low level of health of pregnant women is one of the results from the deficiency of omega-3 and omega-6 fatty acids in Indonesia. Giving supplement containing DHA, EPA, and AA, can solve the problem.  Usually, these nutritional supplements are produced from marine fish oil. However, this source has several deficiencies that influence the quality of the fatty acid produced. Therefore, alternative sources of oil need to be found that can replace fish oil to produce DHA, EPA, and AA. One of the very potential sources is heterotrophic cultivated microalgae. In this study, microalgae from species Spirulina platensis and Botyrococcus braunii collected from Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology in Jakarta, were cultivated. Once microalgae is cultivated autotrophically, the culture were transformed to heterotrophic condition by adding 0.5 g/L glucose solution. Results showed that lipid yield from S.platensis and B. braunii were 5.297 and 0.173 (%-w dry biomass), respectively. Composition of DHA, EPA and AA from S.platensis and B.braunii oils were 0.006, 0.002, and 0.001 (%-w of lipid), respectively.Keywords: Spirulina platensis, Botryococcus braunii, heterotroph, microwave, microalgae AbstrakSalah satu dampak kekurangan asam-asam lemak omega-3 dan omega-6 di Indonesia adalah rendahnya tingkat kesehatan ibu hamil. Pemberian pelengkap nutrisi yang mengandung DHA, EPA dan AA dapat menjadi solusi permasalahan tersebut. Pada umumnya suplemen tersebut diperoleh dari minyak ikan laut, namun sumber ini memiliki beberapa kekurangan yang mempengaruhi kualitas asam lemak yang dihasilkan, sehingga diperlukan pengganti minyak ikan laut sebagai sumber utama DHA, EPA dan AA. Salah satu sumber pelengkap nutrisi yang sangat potensial adalah mikroalga yang dikultivasi secara heterotrof. Pada penelitian ini dilakukan kultivasi mikroalga  spesies Spirulina platensis dan Botyrococcus braunii yang dikoleksi oleh Balai Besar Bioteknologi dan Perikanan di Jakarta. Kultivasi masing-masing mikroalga tersebut mula-mula dilakukan secara normal (autotrof), kemudian dikondisikan menjadi heterotrof dengan pemberian glukosa 0,5 g/L. Hasil ekstraksi dengan gelombang mikro  menunjukkan  bahwa S. platensis dan B. braunii yang dikultivasi secara heterotrof memiliki kandungan minyak berturut-turut sebesar 5,297 dan 0,173 %-b (berdasarkan biomassa kering). Kandungan DHA, EPA, dan AA dalam minyak dari kedua mikroalga tersebut adalah  berturut-turut sebesar 0,006, 0,002, dan 0,001 %-massa relatif terhadap minyak.Kata kunci: Spirulina platensis, Botryococcus braunii, heterotrof, gelombang mikro, mikroalga
Aplikasi teknik principal component analysis (pca) untuk penyepakatan data pada kompresor multi tahap Wielianto Yudha; Tri Partono Adhi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 2 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.2.3

Abstract

Application of principal component analysis (pca) tecnique for data reconsiliation in multi stage compresor.The latest development of gross error detection has been focused on the use of multivariate statistical techniques. These techniques give more accurate and correct detection in determining the variables suspected to contain gross error. These techniques are reliable to solve the problem of correlation present in measurement data. As one of multivariate statistical technique, PCA can be used to detect gross error in the measurement. The objectives of this research are to apply PCA for detection and identification of gross error in measurement data, to apply data reconciliation technique to obtain reconciled data, and to investigate application of PCA leading to its use in the dynamic data reconciliation. In this research, the operation of multistage compressor in urea fertilizer plant is chosen as the studied case. The results of this research prove that PCA can be applied for detection and identification of gross error in measurement data of mass flow, pressure, and temperature. PCA application on steady state data reconciliation can be usedfor detection the location of gross error in the measurement data. Gross error in the data can be eliminated and corrected exactly. Moreover, PCA can be used to detect and isolate fault quickly leading to its use in the dynamic data reconciliation. Nevertheless, process knowledge base must be collected first before the application of PCA. If the process knowledge is more complete, the confidence of the inference becomes higher.Keywords: Measurement Data, Gross Error, Data Reconciliation, PCA AbstrakDalam perkembangannya, deteksi kesalahan nyata dilakukan dengan teknik statistik multi varia bel untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan benar dalam penentuan varia bel yang menyebabkan kesalahan  nyata  tersebut.  Teknik  statistik  multivariabel  dikenal  handal  dalam  mengatasi permasalahan dimana terdapat korelasi diantara varia bel proses yang diukur. PCA sebagai salah satu teknik ana/isis statistik kuantitatifmultivariabel dikenal baik untuk mendeteksi kesalahannyata pada pengukuran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menerapkan PCA dalam deteksi dan identifikasi kesalahan nyata pada data pengukuran, menerapkan teknik penyepakatan data untuk  memperoleh  data pengukuran  yang  tersepakati,  dan  mengkaji penerapan  PCA pada penyepakatan data secara dinamik. Dalam penelitian ini, operasi kompresor multi tahap dalam pabrik pupuk urea dipilih sebagai studi kasus. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa teknik PCA dapat diterapkan untuk deteksi dan identifikasi kesalahan nyata pada data pengukuranlaju afir, tekanan, dan temperatur. Aplikasi  teknik PCA pada penyepakatan  data keadaan tunak dapat digunakan untuk mendeteksi letak kesalahan nyata pada data pengukuran sehingga eliminasi atau koreksi terhadap data yang mengandung kesalahan nyata tersebut dapat dilakukan dengan tepat. Selain itu, teknik PCA dapat digunakan untuk mendeteksi dan melokalisir kesalahan dengan cepat sehingga teknik ini memungkinkan untuk diterapkan pada penyepakatan data dinamik. Akan tetapi, aplikasi teknik PCA ini perlu diawali dengan pengumpulan pengetahuan proses yang lengkap sehingga tingkat keyakinan terhadap keputusan penerimaan ataupenolakan suatu data lebih tinggi.Kata Kunci: Data Pengukuran, Kesalahan Nyata, Penyepakatan Data, PCA
Aplikasi teknologi elektrolisis plasma pada proses produksi Klor-Alkali Nelson Saksono; Fakhrian Abqari; Setijo Bismo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 3 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.3.3

Abstract

Plasma electrolysis technology applications in Chlor-Alkali process productionChlor-alkali industry sector is one of the important industrial sectorsin chemical industry. However, the chlor-alkali industry is one of the industry sectors that consume the most electrical energy due to the production using the methodof electrolysis. Plasma electrolysis is an electrolysis process with high voltage so that produce the glow discharge plasma in electrolyte solution. This method can be applied in the production of chlor-alkali and can reduce energy consumption several times. This research is aimed to observe the plasma electrolysis method in producing chlorine gas and also to measure the electricity consumption needed in chlor-alkali production process. This study was conducted by using plasma electrolysis reactor equipped by electrodes and cooling system. Process variables observed are voltage, NaCl concntration, and anode depth. Result of this research shows that the increase of all variables will cause the increase of chlorine gas production. The highest chlorine gas production is 1.44 mmol for 15 minutes at 400 V and 0.15 M NaCl solution where the anode position is at the surface of solution. Energy consumption of the process reaches 284 kJ/mmol Cl2, which is 38 times lower than electrolysis process in the same reactor configuration.Keywords: electrolysis, plasma electrolysis, production of chlor-alkali AbstrakIndustri klor-alkali merupakan salah satu industri penting dalam industri kimia dengan konsumsi energi listrik yang tinggi karena proses produksinya menggunakan metode elektrolisis. Elektrolisis plasma merupakan proses elektrolisis dengan tegangan yang jauh lebih tinggi sehingga terbentuk lecutan api listrik pada larutan elektrolit. Metode ini dapat diterapkan dalam aplikasi produksi klor-alkali dan mampu mengurangi konsumsi energi listrik hingga beberapa kali lipat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji metode elektrolisis plasma dalam menghasilkan gas klor serta mengukur konsumsi energi listrik yang dibutuhkan dalam proses produksi klor-alkali. Penelitian dilakukan menggunakan reaktor elektrolisis plasma yang telah dilengkapi elektroda dan sistem pendingin. Variabel proses yang diamati meliputi tegangan, konsentrasi NaCl, dan kedalaman anoda. Hasil percobaan menunjukkan kenaikan produksi gas klor dengan meningkatnya tegangan, konsentrasi NaCl dan kedalaman anoda. Produksi gas klor tertinggi adalah sebesar 1,44 mmol yang diperoleh selama 15 menit proses pada tegangan 400 V dan konsentrasi NaCl 0,15 M dimana posisi anoda pada permukaan larutan. Konsumsi energi listrik mencapai 284 kJ/mmol Cl2 yang berarti 38 kali lebih rendah dibanding proses elektrolisis dalam konfigurasi reaktor yang sama.Kata kunci: elektrolisis, elektrolisis plasma, produksi klor-alkali

Page 7 of 24 | Total Record : 235