cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Front Matter Vol 6, No 1 (2007) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis biodiesel dengan teknik ozonasi: investigasi produk ozonida etil-ester minyak kelapa dan minyak kedelai Setijo Bismo; L Linda; Sofia Loren Butarbutar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.2

Abstract

Similarly with other alkyl-ester biodisesls, coconut oil and soybean oil ethyl-ester (COEE and SOEE) still retain some disadvantages to apply directly or used as diesel fuel additives, such as high viscosity and low ignition performance. The main objective of the reasearch is to introduce an alternative process to improve such drawbacks, that is to convert a small portion of ethyl-ester to ozonide compounds. The ozonolysis of ethyl-esters. whether catalytic or non-catalytic processes, generally yields ozonides, carboxylic acids, and hydrocarbons with shorter carbon chain, e.g. aldehyde and ketone to improve their fuel characteristics. The main problem of such ozonolysis is the effectiveness of the ozonation process itself Such a preliminary investigation of COEE and SOEE ozonation process to ozonides or other compounds, the presented results are the examination of main parameters such as, viscosity, density,  total acid number, water content,  and cetane index. The changes in the ethyl esters'physical and chemical properties werefound to be: an increased in their viscosity, total acid number, and cetane index, and also a decreased in their density and water content. The visible change after ozonation process was the odor ofthe esters. These parameters changes was an indicator that new substances have been producedfrom  the ozonation of ethyl esters.Keywords: Coconut Oil, Soyabean Oil, Biodiesel, Methyl Ester, Ethyl Ester, Ozonide, OzonolysisAbstrakBiodiesel etil-ester minyak kelapa dan kedelai, seperti juga alkif-ester lainnya, memiliki beberapa kelemahan bila digunakan langsung atau sebagai aditif bahan bakar mesin diesel, seperti viskositas yang tinggi dan sifat penyalaannya yang kurang baik. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mencari proses alternatif untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut, yaitu mengkonversi sebagian etil-ester menjadi senyawa ozonida. Reaksi ozonolisis alkil-ester, baik katalitik maupun non-katalitik, menghasilkan senyawa-senyawa ozonida, asam karboksilat, dan senyawa-senyawa hidrokarbon yang lebih pendek rantai karbonnya, seperti aldehida dan keton sehingga dapat meningkatkan karakteristiknya sebagai bahan bakar. Kendala utama dalam konversi tersebut adalah efektifltas dari reaksi ozonasi itu sendiri. Sebagai investigasi awal dari reaksi ozonasi etil-ester minyak kelapa dan kedelai menjadi senyawa ozonida dan senyawa-senyawa lainnya, disajikqn hasi­ hasill pengujian parameter-parameter utama, seperti viskositas, densitas, bilangan asam, kadar air dan indeks setana. Perubahan sifat-sifat fisika dan kimiawi yang dht}i setelah mengalami proses ozonasi adalah: kenaikan viskositas, bilangan asam, dan indeks setana, serta penurunan densitas dan kadar air. Sedangkan perubahan yang dapat diamati langsung adalah perubahan aromalbau dari etil-ester kedelai dan kelapa setelah mengalami proses ozonasi. Perubahan parameter-parameter yang diuji ini menandakan telah terbentuknya senyawa baru akibat reaksi etil-ester dengan ozon.Kata Kunci: Minyak Kelapa, Minyak Kedelai, Biodiesel, Metil-ester, Etil-ester, Ozonida, OzonolisisSimilarlywithotheralkyl-esterbiodisesls,coconutoilandsoybeanoilethyl-ester(COEEandSOEE)stillretainsomedisadvantagestoapplydirectlyorusedasdieselfueladditives,suchashighviscosityandlowignitionperformance.Themainobjectiveofthereasearchistointroduceanalternative processtoimprovesuch drawbacks,thatistoconvertasmallportionofethyl-estertoozonidecompounds.Theozonolysisofethyl-esters.whethercatalyticornon-catalyticprocesses,generallyyieldsozonides,carboxylicacids,andhydrocarbonswithshortercarbonchain,e.g.aldehydeand ketonetoimprovetheirfue/characteristics.ThemainproblemofsuchozonolysisistheeffectivenessoftheozonationprocessitselfSuchapreliminaryinvestigationofCOEEandSOEEozonationprocesstoozonidesorothercompounds,thepresentedresultsaretheexaminationofmainparameterssuchas,viscosity,density,  totalacidnumber,watercontent,  andcetaneindex.Thechangesintheethylesters'physicalandchemicalpropertieswerefoundtobe:anincreasedintheir viscosity,totalacidnumber,andcetaneindex,andalsoadecreasedintheirdensityandwatercontent. Thevisiblechangeafterozonationprocesswas theodorofthe esters.Theseparameterschangeswas anindicatorthatnewsubstanceshavebeenproducedfrom  theozonationofethylesters. Keywords:CoconutOil, SoyabeanOil,Biodiesel,MethylEster,EthylEster,Ozonide, Ozonolysis
Sampul, Dewan Editor, Daftar Isi C B Rasrendra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakterisisasi lapisan film jatuh (FLF) pada dinding dalam tabung vertikal oleh pengumpan pusar secara eksperimen dan simulasi CFD Yazid Bindar; Rusdi Wijisaksono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 3 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.3.2

Abstract

Falling liquid film characterization in the inside wall of vertical tube using whirl feeder through experiment and  CFD simulationFalling Liquid Film (FLF) from swirl feed holes were characterized through experiment and Computational Fluid Dynamic (CFD) simulation. The falling liquid film is quantified by its thickness. The effect of liquid flow rate, physical properties and diameter of swirl holes are successfully correlated to form a model that is based on the liquid film theory. The FLF dimensionless thickness linearly relates to power functions of Reynolds and Galilea numbers. The minimum mass flow increases with the size of the swirl holes. The minimum Reynolds number of the inlet does not change with swirl hole sizes. The CFD investigations were conducted using k-turbulent model and multi phase system. Falling film thickness was calculated using axial velocity data resulted from CFD investigation. Calculated falling film thickness using CFD method  agrees very well with measured one for both systems. Combination between physical and CFD experiments has the advantages in determining the critical diameter of the swirl hole that still produce good FLF characteristics.Keywords: CFD Simulation, Falling film, Film Layer, Stripper AbstrakLapis anfilm jatuh (FLF) yang dihasilkan oleh pengumpan pusar dikarekterisasi secara percobaan dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Karakter FLF yang dikuantifikasi adalah ketebalannya. Karakter FLF dipengaruhi diameter lubang pusar, laju alir cairan, danjenis cairan. Pengaruh laju alir, sifat fisik dan ukuran lubang pusar terhadap ketebalan FLF dimodelkan dalam bentuk persamaan tidak berdimensi. Ketebalan FLF tak berdimensi mempunyai korelasi pangkat dengan bilangan Reynolds dan bilangan Galilleo. Ini didukung oleh konsep teoritisnya. Karakter­ karakter lain dari FLF yang dikaji adalah nilai bilangan Reynold minimum untuk pembentukan FLF dan diameter maksimum lubang pusar yang diizinkan. FLF pada rejim laminar beriak dan rejim turbulen lebih tebal dari FLF pada rejim laminer tak beriak. Simulasi CFD dilakukan dengan menggunakan model turbulent k- dan sistem multi fasa campuran gas dan cair. Simulasi CFD memiliki kemampuan yang sangat lengkap untuk perkiraan nilai karakter FLF pada semua posisi tiga dimensinya. Hasil perkiraan ketebalan FLF dengan simulasi CFD berada dalam rentang nilai hasil percobaan. Kombinasi percobaan dan simulasi CFD untuk karakterisasi FLF ternyata sangat efektif dengan pendekatan percobaan yang sederhana dan murahKata kunci: Falling film, Lapisan film, Simulasi CFD, Stripper 
Pembakaran ulang abu bawah batubara Tjokorde Walmiki Samadhi; Tishi T Daulay; M Firmansyah; Tjandra Setiadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 3 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.3.1

Abstract

The high carbon content of coal bottom ashes collected from several textile manufacturing plants in the Bandung area is indicative of an opportunity for energy utilization efficiency improvement by re-combustion of the bottom ashes. This research examines the technical feasibility of bottom ash utilization as a raw material for solid fuel briquette manufacturing. This paper discusses the measurement of the impact of bottom ash content on ignition time and crushing strength of the briquette. Bottom ash content is varied in the 0-50 %-weight range (binder and moisture-free basis). The ignition time of the briquette varies in the 4.4 – 9.9 minutes range. The ignition time of the briquette is proportional to its bottom ash content, due to the decrease in its volatile matter content. The crushing strength of the briquette varies in the 13.4 – 27.1 kgf/cm2 range, which is comparable to that of typical bulk sub-bituminous coals. A 10 %-weight addition of fresh coal powder to the briquette significantly increases its crushing strength, while further adition of coal powder does not significantly increase the crushing strength.Keywords : bottom ash, briquette, coal, energy efficiencyAbstrakTingginya kadar karbon dalam abu bawah batubara yang dihasilkan oleh boiler unggun tetap di sejumlah pabrik tekstil di wilayah Bandung mengisyaratkan peluang untuk meningkatkan efisiensi pembangkitan energi melalui pembakaran ulang abu bawah tersebut. Penelitian ini mengkaji kelayakan teknis pemanfaatan abu bawah sebagai bahan baku briket bahan bakar padat. Percobaan yang dilaksanakan bertujuan mengukur pengaruh kadar abu bawah dalam briket terhadap waktu penyalaan dan kekuatan mekanik produk briket. Kadar abu bawah divariasikan pada rentang 0-50 %-berat (basis bebas aditif perekat dan air). Waktu penyalaan briket berkisar pada 4,4 – 9,9 menit. Waktu penyalaan berbanding lurus dengan  kadar abu bawah  karena berkurangnya kadar zat terbang briket. Kuat remuk (crushing strength) briket berkisar pada  13,4-27,1 kgf/cm2, yang sepadan dengan kuat remuk batubara sub-bituminus bongkahan. Penambahan serbuk batubara segar sebesar 10 %-berat memberikan peningkatan kuat remuk yang signifikan, sementara penambahan lebih lanjut serbuk batubara segar tidak meningkatkan kuat remuk briket.Kata kunci : abu bawah, briket, batubara, efisiensi energi
Kajian pemanfaatan arang sekam padi aktif sebagai pengolah air limbah gasifikasi Frita Yuliati; Herri Susanto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.1.2

Abstract

The study of rice husk charcoal utilization as gasification waste water treatment Our laboratory works showed that activated char with a specific surface area of 145 m2/g and adsorption capacity of 1.35 mg/g could be prepared by activating rice husk char using 0.5 M of NaOH solution, at 92 oC (boiling point at atmospheric pressure) for 3 hours. Using this simple process, a cheap activated char could be produced, so that the cost of wastewater treatment might be reduced. Base on common rice mill capacity of 6 tonnes/day in north part of West Java, a production of activated char with a daily capacity of 480 kg might be expected. With assumptions of a plant life time of 8 years, an activated char price is IDR 5,000/kg, and an investment of IDR 545 millions, a production unit of activated char based on rice husk was found to be economically attractive with estimated Net Present Value of IDR 1.22 billions and Return on Investment of 27%. Keywords: Rice Husk, Activated Char, Wastewater, Phenol Adsorption, Economic Feasibility AbstrakAdsorpsi dengan arang aktif merupakan salah satu cara pengolahan air limbah yang mengandung senyawa-senyawa turunan fenol. Pemanfaatan sekam padi diharapkan dapat menghasilkan arang aktif yang murah, sehingga penggunaannya dapat mengurangi biaya operasi di dalam pengolahan air limbah industri. Prosedur pembuatan arang aktif sederhana telah dikembangkan di laboratorium, yaitu aktivasi arang sekam padi dengan larutan NaOH 0,5 M, pada titik didih atmosferik dan selama 3 jam. Arang aktif yang diperoleh memiliki luas permukaan spesifik 145 m2/g dan kapasitas adsorpsi fenol sekitar 1,35 mg/g dari air limbah gasifikasi yang mengandung fenol antara 39-44 mg/L. Laju adsorpsi fenol sesuai dengan persamaan pseudo-orde 1 Lagergren, sehingga diduga proses adsorpsi yang dominan dalam percobaan ini adalah adsorpsi fisik. Atas dasar hasil percobaan ini, sebuah unit usaha kecil/menengah diusulkan untuk dikembangkan bersamaan dengan unit penggilingan gabah yang banyak terdapat di pantai utara Jawa Barat. Unit produksi ini dirancang untuk menghasilkan arang aktif dengan kapasitas 480 kg/hari atas dasar kapasitas penggilingan gabah 30 ton/hari. Dengan asumsi umur pabrik 8 tahun, harga arang sekam aktif sebesar Rp 5.000/kg, investasi sebesar Rp 545 juta menghasilkan NPV sebesar Rp 1,22 miliar dan ROI sebesar 27%. Kata Kunci: Sekam Padi, Arang Aktif, Air Limbah, Adsorpsi Fenol, Kelayakan Ekonomi
Modeling perilaku pestisida organofosfor dalam tanah sawah Edia Rahayuningsih; Boma Wikan Tyoso; Wahyudi Budi Sediawan; S Supranto; Bostang Radjagukguk
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.5

Abstract

The environmental pollution caused by pesticide could be minimized with the availability of mathematical model which described fate of pesticide in the environment. The research aimed to determine the mathematical model of fate of pesticide in rice field. The mathematical model could be selected from mathematical models which expressed the fate of pesticide in rice field. The numerical solutions and computer programs of each mathematical model were developed. The optimum mathematical model was selected by conducting a simulation of the computer programs. The optimum mathematical model if it described fate of pesticide in the rice field accurately, a small number of parameters involved, and it required short time of computer computation. The optimum mathematical model express as follow: (1) Interphase mass transfer between solid and liquid based on volumetric mass transfer. (2) The sorption of pesticide by soil could be described by double layer model. (3) The diameter of soil particle was expressed in average diameter, and (4) Pesticide concentration in soil was uniform.Key Words: Modeling, Pesticide, Rice FieldAbstrakPencemaran lingkungan oleh pestisida dapat dikendalikan bila tersedia model matematis yang dapat menggambarkan perilaku pestisida secara kuantitatif selama berada di lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan model matematis yang dapat menggambarkan perilaku pestisida organofosfor dalam tanah sawah. Penentuan model matematis dilakukan dengan menyusun beberapa model matematis yang dapat digunakan untuk menyatakan perilaku pestisida dalam tanah sawah. Persamaan diferensial yang tersusun untuk masing-masing model matematis diselesaikan secara  numeris dan disusun program komputernya. Dengan  melakukan simulasi, dengan bantuan program computer yang telah disusun, dapat dipilih model matematis yang optimum. Model matematis yang optimum bila dapat menyatakan dengan baik proses yang terjadi, jumlah parameter yang teribat sedikit, dan waktu yang diperlukan untuk berhitung singkat. Model matematis yang optimum adalah sebagai berikut: (1) Peristiwa perpindahan massa pestisida organofosfor antarfasa antara larutan dan padatan tanah didasarkan atas perpindahan massa volumetris.  (2) Peristiwa sorpsi pestisida oleh tanah mengikuti mekanisme model dua permukaan (double layer). (3) Ukuran butir tanah dinyatakan dengan diameter rerata (Daw), dan (4) Konsentrasi pestisida dalam padatan tanah seragam.Kata Kunci: Modeling, Pestisida, Tanah Sawah.
Parameter kinetika reaksi dekomposisi katalitik metana menjadi karbon nanotube dengan katalis Ni-Cu-Al Praswasti PDK Wulan; Widodo W Purwanto; Yuswan Muharam; Anindya Adiwardhana
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.1.5

Abstract

Kinetic Parameter of Methane catalytic Decomposition Reaction into Nanotube Carbon with Ni-Cu-Al Catalyst. Development of production technology of nanotubes carbon through catalytic conversion of hydrocarbons will be efficient and effective if based on knowledge of the nucleation and growth mechanism of carbon nanotubes. Most of the research that focused on identifying the main products of reaction and estimate the activation energy. Growth kinetics and mechanism data of carbon nanotubes not completely available, so that process kinetics models are always based on experimental kinetic data. The objective of this research is to obtain kinetic parameters of catalytic decomposition of methane using the catalyst Ni-Cu-Al with composition of 2:1:1 which was prepared by co-precipitation method using natrium carbonate solution precipitant. Experimental kinetic data were taken in the temperature range of 650-750 °C and pressure of 1 atmosphere. Kinetic data were tested by micro-kinetic model derived from the catalytic surface reaction mechanism. The most appropriate kinetic model with experimental result is the adsorption stage which shows that consumption of intermediate (reaction surface) faster than the formation of intermediate (adsorption of methane). Kinetic parameters obtained are activation energy of 40,6 kJ/mole and pre-exponential factor of 8,625 x 106. Keywords: methane decomposition, hydrogen, carbon nanotubes, co-precipitation, kinetics of reactionAbstrak Pengembangan teknologi produksi karbon nanotube melalui konversi katalitik hidrokarbon akan efisien dan efektif jika didasarkan pada pengetahuan mekanisme nukleasi dan pertumbuhan karbon nanotube. Sebagian besar studi melakukan riset yang difokuskan pada identifikasi produk utama reaksi dan estimasi energi aktivasi. Data kinetika dan mekanisme pertumbuhan karbon nanotube tidak tersedia dengan lengkap sehingga model kinetika proses selalu didasarkan pada data kinetika eksperimen. Pada penelitian ini, dilakukan studi untuk memperoleh parameter kinetika reaksi dekomposisi katalitik metana menggunakan katalis Ni-Cu-Al dengan target komposisi 2:1:1 yang dipreparasi dengan metode kopresipitasi menggunakan presipitan larutan natrium karbonat. Data kinetika eksperimen diambil pada rentang temperatur 650-750 oC dan tekanan 1 atmosfer. Data kinetika diuji dengan model kinetika mikro yang diturunkan dari mekanisme reaksi permukaan katalis. Model kinetika yang paling sesuai dengan hasil percobaan adalah tahap adsorpsi yang menunjukkan bahwa konsumsi intermediate (reaksi permukaan) lebih cepat dari pembentukan intermediate (adsorpsi metana). Parameter kinetika yang diperoleh berupa Energi aktivasi sebesar 40,6 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial 8,625 x 106.Kata kunci: dekomposisi metana, hidrogen, karbon nanotube, kopresipitasi, kinetika reaksi
Produksi kultur rendam jamur Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae ITBCCL sebagai sumber enzim untuk produksi bioetanol dari singkong Siti Maemunah; Achmad Ali S
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 1 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.1.3

Abstract

Bio ethanol is a very attractive fuel source for communities or even countries that wish to be self-sustainable and not reliant on foreign resources. A variety of feedstock materials may be used to produce ethanol, such as glucose or starchy material (cassava, corn, etc.), by preparing it with a hydrolysis pre-treatment to form glucose. The enzymatic hydrolysis of starch requires at least two different enzymes such as α-amylase for liquefaction process and maltase for saccharification process. The main objective of this research is to produce sub-merged culture enzyme from Aspergillus sp that contained α-amylase and maltase enzymes in sufficient quantity to convert starch which is contained in cassava powder to form glucose. Aspergillus niger CCL 74 ITB and Aspergillus oryzae CCL ITB were cultivated in sub-merged culture. The main raw material of the medium had been varied between vinase from molasse and cake from peanut. Sub-merged culture from Aspergillus niger CCL74 ITB in the vinase medium gave higher a-amylase and maltase activities, compare to sub­ merged culture from A. oryzae CCL ITB. Using vinase from molasse gave higher enzymes yield than using medium from peanut cake.Keywords: α-amylase and Maltase, Sub-merged culture of Aspergillus niger. Aspergillus oryzae AbstrakBahan bakar hayati seperti bioetanol merupakan bahan bakar ramah lingkungan yang potensial dalam mengurangi impor BBM Indonesia. Rute utama pembuatan bioetanol adalah viafermentasi bahan berkarbohidrat. Bahan berkarbohidrat yang potensial dikembangkan di Indonesia dalam produksi bioetanol adalah singkong. Proses konversi pati dalam singkong menjadi etanol biasanya dilakukan melalui proses enzimatik yaitu proses likuefaksi oleh enzim α-amilase, proses sakarifikasi oleh enzim maltase dan fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kultur jamur Aspergillus sp. yang menghasilkan enzim α-amilase dan maltase dalam kuantitas memadai yang akan digunakan sebagai sumber enzim penghidrolisis pati dalam singkong. Jenis jamur yang digunakan Aspergillus niger CCL 74 ITB dan Aspergillus oryzae CCL ITB. Bahan baku utama medium divariasikan antara vinase dan bungkil kacang tanah. Kultur Aspergillus niger CCL74 ITB memberikan aktivitas a-amilase dan maltase yang lebih tinggi dibandingkan dengan kultur Aspergillus oryzae CCL ITB. Penggunaan vinase memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan medium bungkil kacang tanah dalam produksi kedua enzim.Kata Kunci: Enzim α-amilase, Glukoamilase, Aspergillus niger.  Aspergillus oryzae
Sintesis minyak goreng sehat (Diacylglycerol) Tirto Prakoso; Danu Wicaksana; Roy Winarso; Tatang H. Soerawidjaja
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.1

Abstract

The syntesis of healty cooking oil (Diacylglycerol)Diglyceride I Diacylglycerol (DAG) oil is a compound resulting from the chemical bonding between glycerol and two free fatty acid  molecules  which follows  a  different  metabolic route compared  to triglyceride-type oils so that this type of oil does not cause fat accumulation in the body. This research isfocused at obtaining experimental evidence from the Archer-Daniels-Midland (2002) synthesis method, identifying the  effect  of the molar ratio between the reactants and reaction time on the DAG yield using the glycerolysis method, and at synthesizing a cooking oil with diglycerides as its major component. The diglyceride synthesis process in this research was done via glycerolysis with a varying glycerol : TAG ratio of 1:1, 3:2, 2:1 and 5:2. Reaction time was varied at 1 and 3 hours. The synthesis was undertaken at 190°C, using CH3COOK as catalyst at a dose of 1% of the mass ofTAG reactant. Experimental results indicate that longer reaction time increases the molar amount of diglycerides formed in the healthy cooking oil product. The molar ratio of glycerol to triglycerides  which produces the highest DAG yield was 2:1, with a reaction time of 3 hours, which resulted in a yield of 97. 726%-mol DAG per mol TAG reactant. Higher molar ratio of glycerol to tryglycerides also increases the percentage of monoglycerides  (MAG)formed.Keywords: DAG (Diglycerides),  glycerolysis, TAG (Triglycerides) AbstrakMinyak Digliserida/Diacylglycerol  (DAG) adalah senyawa hasil  ikatan  kimia  antara g/iserol dengan 2 buah asam lemak bebas yang mengikuti jalur metabolik yang khas dan berbeda dengan jenis minyak trigliserida sehingga tidak menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapat bukti eksperimental dari metode Archer-Daniels-Midland (2002), mengetahui pengaruh rasio mol reaktan dan waktu reaksi terhadap perolehan DAG dari metode gliserolisis dan mendapatkan hasil  minyak goreng yang memiliki kandungan utama digliserida. Proses sintesa digliserida dalam penelitian ini dilakukan dengan reaksi gliserolisis yang menggunakan  variasi  rasio  reaktan gliserol  : TAG 1:1, 3:2, 2:1 dan 5:2. dengan dan variasi waktu 1 dan 3 jam. Sintesa ini berlangsung pada temperatur 190°C dan menggunakan katalis CH3COOK sebanyak 1% dari berat TAG yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu  reaksi gliserolisis, semakin tinggi jumlah mol dig/iserida yang terbentuk di dalam minyak goreng sehat. Rasia mol reaktan gliserol: trigliserida yang  menghasilkan perolehan DAG tertinggi adalah rasio 2:1 dengan waktu reaksi 3 jam, yaitu  sebesar 97, 726%-mol DAG per  mol TAG mula-mula. Semakin tinggi rasio mol reaktan gliserol : trigliserida, %-monogliserida (MAG) yang  terbentuk juga semakin  tinggi.Kata Kunci: DAG  (Digliserida), gliserolisis,  TAG (Trigliserida)

Page 8 of 24 | Total Record : 235