cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Sistem penyimpanan energi panas kontak langsung menggunakan larutan Na2HPO4•12H2O Panut Mulyono; I Made Bendiyasa; Dita Budi Wibawa; Suryo Birowo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.2

Abstract

The volumetric coefficient of heat transfer and the energy storage capacity in a direct contact thermal energy storage system using Na2HPO4.12H2O solution as thermal energy storage medium have been investigated. Hot kerosene was used as a heal transfer fluid. The experiments were carried out by bubbling hot kerosene from the bottom of a column containing Na2HPO4.12H2O solution. The column used in this experiment was made from glass of 3 mm in thickness with an inside diameter of 7 cm and a height of 100 cm. The effects of kerosene flow rate and kerosene bubble diameter on the volumetric coefficient of heat transfer and the storing rate of energy were studied. It was found that the volumetric coefficient of heat transfer was strongly affected by the flow rate of the kerosene and that the effect of the kerosene flow rate on the storing rate of energy was relative v high, while that of the effect of the bubble diameter was neglectable.Keywords: Direct Contact, Thermal Energy Storage System, Na2HPO4.12H2O Solution AbstrakPenelitian ini mempelajari sistem penyimpanan energi panas kontak langsung menggunakan larutan Na2HPO4.12H2O sebagai media penyimpan energi. Kerasin panas digunakan sebagai fluida alir sumber energi panas. Masalah yang dipelajari pada penelitian ini adalah nilai koefisien perpindahan panas volumetris dan kapasitas penyimpanan panasnya. Percobaan dilakukan dengan menggelembungkan kerasin panas dari dasar kolom yang berisi larutan Na2HPO4.12H2O. Kolom yang digunakan dibuat dari gelas dengan ketebalan 3 mm, mempunyai diameter dalam 7 cm, dan tinggi kolomnya adalah 100 cm. Parameter yang dipelajari dalam penelitian ini adalah pengaruh kecepatan volumetris kerosin dan pengaruh diameter gelembung kerosin terhadap nilai koefisien perpindahan panas volumetris  dan terhadap kecepatan penyimpanan panasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koejisien perpindahan panas volumetris sangat dipengaruhi oleh kecepatan volumetris kerosin sehingga kecepatan penyimpanan panasnya juga sangat dipengaruhi oleh kecepatan volumetris kerosin. Pengaruh ukuran diameter gelembung terhadap nilai koefisien perpindahan panas volumetris dan terhadap kecepatan penyimpanan panasnya sangat kecil sehingga dapat diabaikan.Kata Kunci: Sistem Penyimpanan Energi Panas, Kontak Langsung, Larutan Na2HPO4.12H2O
Pengaruh perbandingan berat padatan dan waktu reaksi terhadap gula pereduksi terbentuk pada hidrolisis bonggol pisang Sri Rahayu Gusmarwani; M Sri Prasetyo Budi; Wahyudi Budi Sediawan; Muslikhin Hidayat
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 3 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.3.1

Abstract

One of the promising biofuel is bioethanol which can be produced from agricultural waste cellulosic biomass such as banana plant waste. Production of banana rhizome waste in Indonesia is about 107.5 Mton annually. Banana rhizome contains 58.89% cellulose material that can be processed to produce bioethanol through biological and chemical processes. Sulfuric acid can be used in hydrolysis of cellulose material in banana plant waste to produce sugars, and Saccharomyces cereviseae can be used to convert  sugars into  bioethanol. This paper presents the result of studies on effects of solid ratio and time in hydrolysis of banana plant waste to produce sugars at 120 oC. One litre of water and 10 mL of sulfuric acid was mixed with various weight of banana plant waste then heated in an autoclave. The liquid samples were taken at various time and its sugar contents were analyzed by Lane and Eynon Methode. The  solid ratio was varied between 1:6.25, 1:5.88, 1:5.55, 1:5.25, 1:5, 1:4.75, 1:4.54, and 1:4.375 and the time was varied between 0 minute and 90 minutse with 10 minutes interval. The highest yield of glucose of 13.08 g/100 mL was achieved in 80 minutes and 1:5 of solid ratio.Keywords: Bioethanol, banana rhizome, hydrolysisAbstrakBioetanol adalah salah satu bentuk energi terbarukan yang menjanjikan. Sumber energi bioetanol dapat berasal dari limbah pertanian yang jarang dimanfaatkan seperti bonggol pisang. Produksi bonggol pisang di Indonesia mencapai 107,5 Mton per tahun. Selulosa yang terkandung dalam bonggol pisang mencapai 58,89% dapat diubah menjadi etanol melalui proses biologi dan kimia (biokimia). Untuk mengubah selulosa menjadi glukosa (gula) diperlukan proses hidrolisis dengan bantuan asam, misalnya asam sulfat (H2SO4), sedangkan untuk mengubah gula menjadi bioetanol dipergunakan ragi Saccharomyces cereviseae. Dalam makalah ini disampaikan pengaruh perbandingan berat padatan dan waktu hidrolisis terhadap glukosa yang terambil pada reaksi hidrolisis untuk mengubah selulosa pada bonggol pisang menjadi glukosa yang dilakukan pada suhu 120oC. Satu liter aquades dan 10 mL larutan asam sulfat pekat ditambahkan pada padatan dengan perbandingan (padatan:air) yang bervariasi dari 1:6,25, 1:5,88, 1:5,55, 1:5,25, 1:5, 1:4,75, 1:4,54, dan 1:4,375. Selanjutnya campuran dipanaskan dalam autoclave sampai suhu yang diinginkan tercapai (120 oC) dan dijaga konstan. Sampel diambil sebanyak 6 mL setiap 10 menit sampai waktu 90 menit tercapai. Analisis glukosa yang terbentuk dilakukan dengan metode Lane-Eynon. Hasil glukosa yang paling baik sebesar 13,08 g/100 mL didapatkan pada suhu 1200C dalam waktu 80 menit dengan perbandingan padatan:aquadest 1:5.Kata Kunci: Bioetanol, bonggol pisang, hidrolisis
Peningkatan produksi biomassa Chlorella vuldaris melalui perlakuan teknik pemerangkapan sel dalam aliran sirkulasi media kultur D Dianursanti; Rachma Nuzulliany; Anondho Wijanarko; M Nasikin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.3

Abstract

Recently, Chlorella vulgaris is widely studied by experts for its ability as a food supplement and health.  Cultivation of Chlorella vulgaris can be used as a tool to reduce global warming. Chlorella vulgaris can efficiently reduce CO2 because they can grow quickly and easily adapted into the photobioreactor system engineering. This research uses continuous illumination of 5000 lux. However, this lighting condition has limitations because of the intensity given is always constant while the number of Chlorella vulgaris in culture increased. Therefore, one solution to solve it is by using the entrapment of cell or filtration process. Chlorella vulgaris cultivation process carried out in bubble column photobioreactor medium flowed by air containing 5% CO2 with a flow rate of 15.66 m / hr. The process of Chlorella vulgaris cultivation with filtration technique has successfully increased production of biomass up to 1.03 times compared with continuous lighting without filtration with the same amount of inoculum. The final result of dry weight biomass obtained was 0.00756 g/dm3 with shorter cultivation period, 200 hours.  Keywords: filtration, Chlorella vulgaris., constant lighting intensity, bubble column photobioreactor, CO2 fixation.AbstrakBelakangan ini, Chlorella vulgaris diminati oleh para ahli untuk diteliti karena kemampuannya sebagai penghasil biomassa yang bermanfaat sebagai suplemen makanan dan kesehatan. Dalam proses pembudidayaannya, Chlorella vulgaris ini dapat dimanfaatkan sebagai pereduksi pemanasan global. Chlorella vulgaris dapat dengan efisien mereduksi CO2 karena mereka dapat tumbuh dengan cepat dan mudah diadaptasikan ke dalam rekayasa sistem fotobioreaktor. Pencahayaan yang diberlakukan pada penelitian ini adalah pencahayaan kontinu dengan intensitas 5000 lux. Namun, pencahayaan ini memiliki keterbatasan karena intensitas yang diberikan selalu konstan padahal jumlah Chlorella vulgaris dalam kultur semakin meningkat. Oleh sebab itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan proses pemerangkapan sel atau  filtrasi. Proses Kultivasi Chlorella vulgaris dilakukan dalam fotobioreaktor kolom gelembung skala menengah yang dialiri oleh udara yang mengandung 5% CO2 dengan laju alir sebesar 15,66 m/jam. Proses filtrasi untuk kultivasi Chlorella vulgaris berhasil meningkatkan produksi biomassanya hingga 1,03 kali lipat dibandingkan dengan pencahayaan kontinu tanpa filtrasi dengan jumlah inokulum yang sama. Hasil akhir produksi biomassa adalah 0,00756 g/dm3 dengan masa kultivasi yang lebih singkat yaitu selama 200 jam.Keywords: filtrasi, Chlorella vulgaris., pencahayaan kontinu, fotobioreaktor kolom gelembung, fiksasi CO2.
Korosi Alumunim dalam larutan asam sitrat Andreas Yoppy Aprianto Prasetya; Isdiriayani Nurdin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.8

Abstract

The corrosion of Allumunium in citric acid sollutionCitric acid is a carboxylic acid that is widely used as an additive in the beverage industry. Aluminum cans are often used as a beverage packaging due to its lightweight, space efficient, and low production costs. Contact between citric acid and the aluminum cans may cause corrosion reactions that lead contamination of beverages by corrosion products. This study aims to test the aluminum resistance against citric acid at the concentration of 1, 2, and 4 %-wt, and temperature of 40 °C, 50 °C, and 60 °C. The specimen used is a 1 cm2 aluminum plate with a purity of 99.07%. The experiment consists of aluminum corrosion rate measurements using the Tafel method and aluminum corrosion mechanism prediction using cyclic-voltammetry method. The research results show that aluminum is corroded into Al3+ by citric acid solution in a one-stage reaction with activation energy of 65.01 kJ/mol. The corrosion products are not stable, it forms amorphous aluminum salts. The aluminum corrosion rate increases with rising citric acid concentration and temperature that can be classified in "negligible" to "medium" category.Keywords: aluminum, citric acid concentration, corrosion, temperature AbstrakAsam sitrat merupakan asam karboksilat yang banyak digunakan sebagai aditif pada industri minuman. Kaleng aluminium sering dipakai sebagai kemasan minuman karena sifatnya yang ringan, efisien ruang, dan biaya produksinya rendah.  Kontak asam sitrat dengan kemasan berupa kaleng aluminium dapat menyebabkan reaksi korosi yang berujung kontaminasi produk korosi terhadap minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan aluminium terhadap korosivitas asam sitrat pada konsentrasi 1, 2, dan 4 %-b, serta temperatur 40 °C, 50 °C, dan 60 °C. Logam yang digunakan merupakan pelat aluminium dengan kemurnian 99,07% dan luas permukaan 1 cm2. Penelitian mencakup pengukuran laju korosi aluminium dengan metoda Tafel dan prediksi mekanisme korosi aluminium dengan metoda voltametri siklik. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa aluminium terkorosi dalam larutan asam sitrat menjadi Al3+ dengan satu tahap reaksi searah dan energi aktivasi sebesar 65,01 kJ/mol. Produknya bersifat tidak stabil, langsung membentuk garam aluminium amorf. Laju korosi aluminium meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sitrat dan temperatur, termasuk golongan korosi “dapat diabaikan” hingga “sedang”.Kata kunci: aluminium, konsentrasi asam sitrat, korosi, temperatur
Front Matter Vol 4, No 2 (2005) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manipulation of product distributions via reverse flow operation with side feeding Yogi W Budhi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.1.2

Abstract

A new concept of a reverse flow reactor with side feeding is studied for NH3 oxidation to produce N2, NO, and N2O. In the conventional reverse flow operation, where the feeds are alternately introduced from either end of the reactor, the conversion always decreases when compared to steady state, once­ through operation. The new concept of reverse flow operation with sidefeeding is therefore proposed to avoid the drop of conversion. The reactor behavior is simulated for three regimes (quasi-steady state, dynamic, sliding) with varying feed positions. The development of spatia-temporal patterns inside the reactor with side feeding shows completely different behavior compared to conventional reverse flow, leading to the possibility of conversion and selectivity manipulations.Keywords: Ammonia oxidation, Conversion and selectivity improvement, Reverse flow reactor, Side feedingAbstrakSuatu konsep baru dari reaktor aliran balik dengan pengumpanan samping telah dipelajari dengan kasus oksidasi NH3 untuk menghasilkan N2, NO, dan N2O. . Pada operasi aliran balik konvensional dimana umpan secara bergantian dimasukkan dari ujung reaktor, konversi yang dihasilkan selalu menunjukkan penurunan ketika dibandingkan dengan keadaan tunaknya dalam satu tahap operasi. Konsep baru aliran balik dengan pengumpanan samping dimaksudkan untuk menghindari penurunan konversi. Perilaku reaktor disimulasi dalam 3 rejim aliran (quasi-steady state, dynamic, sliding) dengan memvariasikan posisi umpan. Pembentukkan pola spatia-temporal di dalam reaktor dengan pengumpanan samping menunjukkan perilaku yang berbeda dibanding aliran balik konvensional. Hal ini memungkinkan untuk memanipulasi konversi dan selektivitas.Kata Kunci: Oksidasi Ammoniak, Pengumpanan  Samping, Peningkatan Konversi dan Selektivitas, Reaktor aliran bolak-balik
Peningkatan Kuat Tarik Bioplastik dengan Filler Microfibrillated Cellulose dari Batang Sorgum Yuli Darni; Lia Lismeri; Muhammad Hanif; Sarkowi Sarkowi; Dita Synthauli Evaniya
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.1

Abstract

Abstrak. Penelitian ini membahas tentang pengaruh rasio pati terhadap kitosan (dalam basis berat) dan konsentrasi microfibrillated cellulose sebagai filler dalam pembuatan bioplastik menggunakan pati sorgum, kitosan dan gliserol. Dalam penelitian ini, rasio pati terhadap kitosan yang divariasikan adalah 10:0, 9,5:0,5, 8,5:1,5, 7,5:2,5, 6,5:3,5, 5,5:4,5 (gr/gr). Microfibrillated cellulose sebagai filler disintesis dari batang sorgum dengan metode semimekanis. Perlakuan kimia diawali dengan delignifikasi batang sorgum dengan KOH 4% pada temperatur 80oC selama 1 jam untuk menghilangkan lignin. Setelah itu dicuci dan dipucatkan (bleaching) sebanyak dua kali menggunakan H2O2 6% pada suhu 70oC. Serbuk batang sorgum yang sudah kering dilanjutkan dengan perlakuan mekanis yaitu dimasukkan ke dalam disk mill  selama 90 menit dan dilanjutkan dengan high energy milling (HEM) untuk mengecilkan ukurannya sampai dengan rata-rata 4-8 µm. Filler ditambahkan, dan konsentrasinya (dalam basis berat) divariasikan dari 0, 1, 2, dan 3 %. Pati dan kitosan berukuran 63 mikron (lolos ayakan), waktu  pengadukan selama 35 menit pada kecepatan 375 rpm, dan penambahan 10% berat gliserol sebagai plasticizer dijaga konstan. Hasil terbaik pada penelitian ini diperoleh pada formulasi 8,5:1,5 (gr/gr). dan konsentrasi filler 3%. Produk bioplastik ini memiliki kuat tarik 11,64 MPa, persen perpanjangan 10,98%, modulus Young 105,96 MPa, densitas 0,915 gr/ml, dan penyerapan air  38,3%. Kata kunci: bioplastik, gliserol, kitosan, microfibrillated cellulose, sorgum. Abstract. The Improving of Bioplastic Tensile Strength with Microfibrillated Cellulose Filler from Sorghum Stem. This study discusses the effect of starch on chitosan ratio (in weight basis) and also the concentration of microfibrillated cellulose as a filler in the preparation of bioplastics using sorghum starch, chitosan, and glycerol. In this study, the ratio of starch to chitosan varied was 10:0, 9.5:0.5, 8.5:1.5, 7.5:2.5, 6.5:3.5, 5.5:4,5 (gr/gr). Microfibrillated cellulose as filler was encouraged from the sorghum stem by the semi-mechanical method. The delignification of sorghum stem initiated chemical treatment with a 4% KOH solution on 80oC for 1 hour to remove lignin. Bleaching is done after delignification using 6% H2O2 at 70oC. The dried sorghum powder is further followed by mechanical treatment that is put into disk mill for 90 minutes and continued with high energy milling (HEM) to reduce its size to an average of 4-8 µm. The filler is added, and the concentration (on a weight basis) varies from 0, 1, 2, and 3%. Starch and chitosan measuring 63 microns (sieve pass), stirring time for 35 minutes at a speed of 375 rpm, and the addition of 10% by weight of glycerol as a plasticizer is kept constant. The best results in this study were obtained in formulations 8.5:1.5 (gr/gr) and 3% filler concentration. This bioplastic product has 11.64 MPa tensile strength, 10.98% elongation, 105.96 MPa Young moduli, 0.915 gr/ml density, and 38.3% water uptake. Keywords: bioplastic, chitosan, glycerol, microfibrillated cellulose, sorghum.Graphical Abstract 
Penggunaan adsorben untuk mengurangi kadar free fatty acid, peroxide value dan warna minyak goreng bekas Y Yuliana; Veronica J S; Bambang Gunantara
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.2.4

Abstract

This research was carried out to examine the ability of calcium silicate, magnesium silicate, activated carbon and bentonite as adsorbent to decrease the FFA content, PV and dark color intensitv of used frying oil. Adsorbent treatment may improve the quality and extend the frying life of used frying oil. A mixture of used frying oil and certain adsorbent were agitated at constant temperature 150oC for 1 hour Four adsorbents were  used at various concentrations. Subsequently, the oil was filtered  by vacuum filtration, The changes in FFA content, PV and color  intensity were observed. Calcium silicate, magnesium silicate, activated carbon and bentonite could be used as a good adsorbent to reduce the FFA content, PV and dark color intensity of the usedfryng oil. Calcium silicate was more effective than the other adsorbents in reducing the FFA content and PV of the oil. Activated carbon and magnesium silicate showed about the same ability in removing dark color components, and its ability is better than calcium silicate and bentonite. Keywords: Vegetable Oil,Adsorbents, FFA, PV, Color AbstrakPada penelitian ini dipelajari kemampuan kalsium silikat, magnesium silikat, karbon aktif dan bentonit sebagai adsorben untuk menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan peroksida (PV), dan warna gelap minyak goreng bekas. Pengolahan dengan adsorben ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas minyak goreng bekas sehingga umur pemakaian minyak goreng dapat diperpanjang. Minyak goreng bekas dan adsorben diaduk pada suhu konstan I50oC selama 1 jam dengan variasi konsentrasi dan jenis adsorben. Setelah itu minyak goreng disaring dengan vakum dan diamati perubahan kadar  FFA, P, V, dan warna yang terjadi. Kalsium silikat, magnesium silikat, karbon aktif dan bentonit dapat berfingsi sebagai adsorben yang  baik untuk mengurangi  kadar FFA, PV dan warna minyak goreng bekas. Kalsium silikat lebih efektifuntuk penurunan kadar FFA dan PV dari pada ketiga adsorben yang lain. Karbon aktif dan magnesium silikat menunjukkan kemampuan mereduksi  warna gelap minyak yang  relatif hampir  sama,  tetapi lebih baik  daripada  kalsium silikat dan bentonit.  Kata Kunci: Minyak Goreng, Adsorben, FFA, PV, Warna
Stabilisasi dedak padi melalui pemasakan ekstrusif I Dewa Gede Arsa Putrawan; Tatang Hernas Soerawidjaja
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.4

Abstract

An extrusive cooker prototype for stabilizing rice bran has been developed and tested at various flow rate, moisture, and die diameter. The effectiveness of stabilization was observed from measurement of free fatty acid in rice bran oil. The results showed that extrusive cooking achieved steady state condition in 15 to 20 minutes. The smaller the size of die or the higher the flow rate of fed rice bran, the higher the cooking temperature could be achieved. In the range of values tried, moisture was found not affect cooking temperature significantly. Stable rice bran pellets could be produced if extrusive cooking was carried with moisture of 15% to 20% resulting cooking temperature of 110to 130oC. At this condition, free fatty acid content of oil from extrusive cooked rice bran could be maintained at 8% to13% (free fatty  acid content of oil from fresh rice bran is 5% to 6%), for storage of rice bran pellets in three months. Compared to extraction of raw rice bran, extraction of extrusive cooked rice bran was found to be faster. Solvent absorbed by extrusive cooked rice bran was also less than that was absorbed by raw rice bran.Keywords: Extrussive Cooking, Rice Bran, Stabilization AbstrakSebuah prototipe  pemasak  ekstrusif untuk stabilisasi  dedak padi telah dikembangkan  dan diuji pada  berbagai laju alir,  kelembaban  dan diameter  die. Efektifitas  stabilisasi  diamati  melalui pengukuran  kadar asam lemak bebas dalam minyak dedak padi. Hasil-hasil menunjukkan bahwa pemasakan  ekstrusif mencapai keadaan  tunak  dalam waktu  15 hingga 20 menit. Semakin kecil diameter die atau semakin  besar laju alir dedak yang  diumpankan,  semakin tinggi temperatur pemasakan  yang  dapat  dicapai.  Pada  rentang  nilai yang  dicoba,  kelembaban diketahui  tidak mempengaruhi  temperatur pemasakan  secara  berarti. Pelet dedak stabil  dapat  dihasilkan jika pemasakan  dilakukan dengan kelembaban 15% hingga 20% yang akan menghasilkan temperatur pemasakan  110 hingga 130oc. Pad a kondisi tersebut, kadar asam lemak bebas minyak dari pelet dedak padi hasil pemasakan ekstrusif dapat dipertahankan sebesar 8% hingga 13% (kadar asam lemak bebas minyak dari dedak segar adalah 5% hingga 6%),pada penyimpanan pelet dedak padi selama tiga bulan. Tambahan pula, ekstraksi minyak dari pelet dedak padi hasil pemasakan ekstrusif telah dikaji dan dibandingkan dengan ekstraksi dedak padi tanpa mengalami pemasakan, dengan heksan sebagai pelarut. Ekstraksi minyak dari pelet dedak padi hasil pemasakan ekstrusif diketahui berlangsung lebih cepat. Pelarut yang diserap oleh pelet dedak padi hasil pemasakan ekstrusif juga lebih sedikit dibandingkan dengan dedak padi tanpa mengalami pemasakan.Kata Kunci: Dedak Padi, Pemasakan Ekstrusif, Stabilisasi
Uji kinerja katalis Zeolit-Y komersial hasil regenerasi terhadap reaksi dehidrasi n-Butanol Melia Laniwati Gunawan; Arry Susana Dewi; Fransisca Geronica
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.1.1

Abstract

Performance test of regenerated commercial Zeolite-Y to the dehydration of n-Butanol. N-Butanol dehydration on acid catalyst (for example: zeolite) is an alternative route to produce butenes. This reaction is apparently followed or accompanied by cracking reaction to produce coke. The coke is deposited on the surface of catalyst and to make the catalyst loss its activity. The price of catalyst is expensive, so the catalyst regeneration is need to revert the activity of catalyst. The coke is removed by combustion using oxygen of air. The objectives of this research were to get the regeneration optimal condition and to study the catalytic performance of commercial zeolite-Y. The reaction and regeneration temperature were 450 oC. The catalyst was regenerated twice from 6 until 24 hours. Performance test was carried out in the isothermal fixed bed reactor. The experiments show that catalytic performance of the fresh catalyst is similar with the regenerated catalysts. Regeneration in the atmospheric furnace is more complete than in the fixed bed reactor. The optimal regeneration time in the atmospheric furnace is 6 hours.Keywords: Zeolite-Y, Catalyst regeneration, N-butanol dehydration AbstrakDehidrasi n-Butanol dengan bantuan katalis asam, misalnya zeolit merupakan salah satu cara untuk memperoleh senyawa butena. Selama reaksi berlangsung, pada permukaan katalis akan trerbentuk kokas yang merupakan hasil perengkahan senyawa hidrokarbon. Karena harga katalis tinggi, maka regenerasi katalis diperlukan. Regenerasi dilakukan dengan cara membakar kokas pada katalis dengan O2 (udara). Agar semua kokas terbakar, sehingga kinerja katalis seperti semula dibutuhkan waktu tertentu. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh waktu pembakaran kokas optimum serta mengamati kinerja katalis zeolit-Y komersial hasil regenerasi. Temperatur reaksi dan regenerasi adalah 450 oC. waktu pembakaran divariasikan dari 6 - 12 jam. Katalis diregenerasi hingga 2 kali. Uji kinerja katalis dalam mengkatalisis dehidrasi n-butanol dilakukan di dalam reaktor unggun tetap secara isotermal. Katalis segar maupun hasil regenerasi memperlihatkan kinerja yang sama terhadap dehidrasi n-butanol. Regenerasi menggunakan tungku beratmosfir udara lebih sempurna dibanding regenerasi dalam reaktor unggun tetap dengan aliran udara. Waktu regenerasi ooptimum pada penggunaan tungku beratmosfir udara adalah 6 jam.Kata kunci: Zeolit-Y, Regenerasi katalis, Dehidrasi n-Butanol

Page 9 of 24 | Total Record : 235