cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Proses pembuatan waterglass dari pasir silika dengan pelebur natrium hidroksida Sirin Fairus; H Haryono; Mas H. Sugita; Agus Sudrajat
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 2 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.2.4

Abstract

Waterglass from silica sand production process with buster sodium hydroxideWaterglass may be prepared by the fusion process of silica sand using alkali. Waterglass component, which mainly contains SiO2 and Na2O, have various applications depending on their composition. Waterglass is usually used in the soap and detergent, paper, textile, and ceramic industries, in the cleaning of metals, the manufacture of silica gel, and others. This research was done to study the effect of silica sand particle size and the quantity of NaOH as fluxing agent on the yield and SiO2 content of waterglass produced by the alkali fusion process in a furnace. Silica sand particle size was varied at 35/40 and 50/60 mesh. The quantity of NaOH fluxing agent was varied at 1:1, 1.5:1, 2.4:1, 3.2:1, and 4:1 g/g to mass of the silica sand. Other fusion process variables, namely temperature, time, and silica sand quantity, were held constant at 500oC, 2 hours, and 10 gram, respectively. Research results indicated that decreasing silica sand particle size resulted in the increasing SiO2 and Na2O content. Increasing NaOH fluxing agent quantity increases the Na2O content of the waterglass. In this research, the highest SiO2 content of the waterglass of 34.6 %-mass SiO2, was obtained at an NaOH content of 2.4:1 g/g to mass of the silica sand, and silica sand particle size of 50/60 mesh.Keywords: silica sand, NaOH fluxing agent, particle size, waterglass AbstrakWaterglass dapat dibuat melalui proses peleburan pasir silika dengan alkali. Kandungan dalam waterglass, terutama berupa SiO2 dan Na2O mempunyai berbagai kegunaan tergantung pada komposisinya masing-masing. Biasanya waterglass digunakan pada industri sabun atau deterjen, kertas, tekstil, keramik, digunakan untuk pembersihan logam, pembuatan silika gel, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh ukuran partikel pasir silika dan jumlah NaOH sebagai pelebur terhadap perolehan waterglass dan kadar SiO2 pada pembuatan waterglass dengan proses peleburan alkali di dalam furnace. Variabel berupa ukuran partikel pasir silika dipelajari pada ukuran 35/40 dan 50/60 mesh. Sedangkan banyaknya pelebur NaOH divariasikan sebanyak 1:1, 1,5:1,  2,4:1, 3,2:1, dan 4:1 g/g terhadap pasir silika. Kondisi peleburan lainnya berupa temperatur, waktu dan jumlah pasir silika, dilakukan pada nilai konstan, secara berturutan pada 500°C, 2 jam, dan 10 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan pasir silika dengan ukuran partikel yang makin kecil diperoleh waterglass dengan kadar SiO2 dan Na2O yang makin besar. Dan dengan makin banyaknya penggunaan pelebur NaOH, diperoleh kadar Na2O dalam waterglass juga makin tinggi. Pada penelitian ini waterglass dengan kadar SiO2 tertinggi diperoleh pada penggunaan pelebur NaOH sebanyak 2,4:1 g/g terhadap pasir silika dan ukuran pasir silika sebesar 50/60 mesh, yaitu sebesar 34,6 %-b SiO2.Kata kunci: pasir silika, pelebur NaOH, ukuran partikel, waterglass.
Pengaruh krom pada elektrodeposisi nikel dari larutan nikel-krom Pramujo Widiatmoko; Isdiriayani Nurdin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.2.2

Abstract

The chromium effect on nickel electrodeposition from nickel-chromium solution Electrodeposition, which can convert nickel ion into pure nickel metal, is an alternative for reducing nickel concentration in electroplating waste and in same time increasing its economic value. The aim of this research is to study the effect of chromium presence on the performance of Nickel recovery from liquid waste of Ni-Cr electroplating process. Liquid of electroplating waste leachate is represented by solutions containing nickel and chromium sulfate method. All experiments were carried out at ambient temperature and pressure with Cr/Ni ratio and boric acid composition as variables. Result of the research shows that chromium presence in solution with 28.9% Cr/Ni ratio increases activation polarization of about 500 mV. Optimum condition of the experiment is obtained for Cr/Ni ratio 3.7%-w. Increasing Cr/Ni ratio from 3.7% to 14.8% decreases current efficiency by 57% and deposition efficiency by 5%, and also increases energy consumption by 8.3%. Morphology of deposited nickel deteriorates with increasing of Cr/Ni ratio and hydroxide compound is formed when it reaches 14.8%. Keywords: nickel electrodeposition, nickel-chromium solution, chromium, electroplating wasteAbstrakElektrodeposisi merupakan metode alternatif yang potensial untuk mengurangi kandungan nikel dari limbah elektroplating sekaligus meningkatkan nilai ekonomisnya, dengan produk berupa logam nikel murni. Penelitian ini bertujuan mengkuantifikasi pengaruh krom dalam proses pemulihan nikel dari larutan limbah industri yang mengandung nikel dan krom. Nikel sulfat dan krom sulfat digunakan sebagai pendekatan larutan hasil ekstraksi limbah padat. Percobaan dilakukan pada tekanan dan temperatur ruang dengan variasi rasio krom terhadap nikel serta konsentrasi asam borat sebagai aditif. Hasil percobaan menunjukkan bahwa keberadaan krom dengan rasio Cr/Ni 28,9% meningkatkan polarisasi aktivasi sekitar 500 mV. Kondisi optimum untuk percobaan ini diperoleh ketika rasio Cr/Ni 3,7%-berat. Perubahan rasio Cr/Ni dalam larutan dari 3,7% menjadi 14,8% menurunkan efisiensi arus sebesar 57%, menurunkan efisiensi deposisi 5%, serta meningkatkan kebutuhan energi hingga 8,3%. Morfologi deposit nikel menjadi lebih buruk dengan kenaikan rasio Cr/Ni, dan berubah menjadi deposit hidroksida pada rasio Cr/Ni 14,8%.Kata kunci: elektrodeposisi nikel, larutan nikel-krom, krom, limbah elektroplating
Methodology for the synthesis of environmentally compliant chemical process system, case study: the production of biodiesel from vegetable oils Retno Gumilang Dewi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 2 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.2.7

Abstract

Among of the basic processes in a chemical process system, chemical reaction is the first stage and is considered as the most important step of a chemical process design undertaking as it determines the design of subsequent processes. Thereby, the design of 'environmentally compliant' chemical process system hinges on how the chemical reaction is synthesized and environmental consideration is integrated into the design processes of chemical process system that is minimal in the generation of spent resources, efficient in the use of raw materials, and prioritize the use of renewable resources. An attempt was carried out to formulate a methodology by which a preliminary screening can be made to come up with a set of chemical reaction paths. Based on these selected reaction paths, the optimization process is then carried out to maximize the economic performance of the. reaction system using environmental compliances as optimization constraint. The optimal reaction path will lead to the formulation of various species allocation schemes in the reaction system. Most feasible reaction paths are screened from species allocation alternative schemes. The best scheme is selected based on some parameters, namely (i) the efficiency of raw material utilization per unit product, (ii) economic potential regarding the gross profit margin, and (iii) environmental aspects concerning the pollution potential from the production system. A computer program 'Hysis' is used in this study to evaluate these parameters.Key Words : Reaction Path Synthesis, Renewable-based Processes, Environmentally Compliant, Chemical Process DesignAbstrakDi antara proses-proses dasar dalam suatu sistem proses kimia,proses reaksi kimia merupakan tahap utama yang paling  penting dan menjadi penentu di dalam perancangan proses kimia. Dengan demikian, perancangan sistem proses kimia yang 'memenuhi persyaratan lingkungan' tergantung bagaimana proses reaksi  kimia  disintesakan  dan  pertimbangan  lingkungan diintegrasikan ke dalam perancangan sistem yang minimal dalam pembentukan limbah, efisien dalam penggunaan bahan baku, dan mengutamakan penggunaan sumber daya yang terbarukan. Suatu upaya telah dilakukan untuk memformulasikan sebuah metodologi di mana penseleksian awal dapat dibuat untuk memunculkan satu kelompok rute-rute reaksi. Berdasarkan rute-rute reaksi ini, optimisasi dilakukan untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari sistem proses kimia yang dibentuk berdasarkan rute-rute reaksi yang dipilih pada penseleksian awal dengan menggunakan  pemenuhan  persyaratan lingkungan sebagai batasan-batasan yang digunakan dalam pelaksanaan optimisasi. Rute reaksi yang optimal ini akan berperan di dalam pembentukan berbagai macam pola pengalokasian komponen bahan ('species allocation'). Pola pengalokasian komponen bahan yang terbaik, dipilih berdasarkan sekumpulan parameter yang terdiri ataspertimbangan-pertimbangan teknis, ekonomis, dan lingkungan. Program 'Hysis' digunakan pada penelitian ini untuk mengevaluasi parameter­ parameter  tersebut.Kata Kunci : Sintesa Rute Reaksi, Proses-proses Terbarukan, Memenuhi Persyaratan Lingkungan, Desain Proses Kimia
Development of granular urea-zeolite slow release fertilizer using inclined pan granulator Pisey Hoeung; Yazid Bindar; Samuel Pati Senda
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 10, No 2 (2011)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2011.10.2.6

Abstract

Slow release fertilizers (SRFs) are so crucial in improvement of agriculture productions. To increase urea fertilizer effectiveness and efficiency, the product could be modified in the form of SRFs. The objective is to conduct slow release urea fertilizer. During granulation, particle sizes of urea and natural zeolite mixture (50, 60 and 80 mesh), binder solution with different percentage (2% to 10%) of starch, and clay additives (5%, 7.5%, and 10%) were used. The obtained granule was further analyzed using percolation reactor to determine the slow release rate. Leachate from reactors was collected, by using UV-visible spectrophotometric method, concentration of dissolved urea was determined. The granule size of 3-4 mm, the urea-zeolite mixture particle size of 60-mesh, the percentage of clay addition in the granulation process of 7.5%, the percentage of starch addition in binder solution of 3% are selected to be the best in term of the roughness of the granules, economic aspects, and slow release rate. In addition, it is proportionally defined the release time of nutrient from experiment and from simulated program is at least for three months which is plenty of time for crops, especially for rice. Key words: Slow Release Fertilizer, Zeolite, Urea, Inclined pan granulatorAbstrakSlow release fertilizers (SRFs) memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan produksi pertanian. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pupuk urea, produk pupuk bisa dimodifikasi dalam bentuk SFRs. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat slow release urea fertilizer. Selama proses granulasi, digunakan ukuran partikel campuran urea dan zeolit alam (50, 60 dan 80 mesh), cairan perekat dengan persentase yang berbeda (2% sampai 10%) starch, dan tambahan tanah liat (5%, 7,5%, dan 10%). Butiran-butiran (granul) yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis menggunakan reaktor perkolasi digunakan untuk menentukan laju slow release. Leachate dari reaktor dikumpulkan, kemudian konsentrasi urea terlarut dapat diketahui dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Granul 3-4 mm, ukuran 60 mesh campuran antara urea dan zeolit, persentasi penambahan tanah liat dalam proses granulasi sebesar 7,5%, dan persentasi penambahan starch dalam larutan perekat sebesar 3% menunjukkan hasil yang terbaik untuk tingkat kekasaran butiran, aspek ekonomi dan menunjukkan pelepasan nutrisi lambat. Secara proporsional dapat dikatakan bahwa waktu pelepasan nutrisi yang diperoleh dari percobaan dan simulasi program, setidaknya untuk tiga bulan sangat cukup untuk tanaman, khususnya untuk padi.Kata kunci: Slow release fertilizers, Zeolit, Urea, granulator panci miring.
Pencucian biodiesel dengan metode kontak gelembung Yoel Pasae; John Stephen
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.1.5

Abstract

Until today, the conversion of palm oil and recovery of glycerol as a byproduct have been extensively investigated. The purity level of product from the washing process in the biodiesel production technology heavily influences the quality of the biodiesel product. Therefore, this research is aimed at identifying the biodiesel washing process technology which is able to produce biodiesel according to standards for diesel engine application. The washing process employed in this research is the bubble method, which utilizes air bubbles injected from the bottom as a carrier form water molecules to the top layer of the contactor (the biodiesel phase) which contains glycerol, soap, and residual methanol. This bubble method enables the contact between water molecules and glycerol in the biodiesel phase, when the bubbles are swept to the fluid surface, without any external agitation. Experimental results indicate that with a three-stage washing process, the total glycerol content in the biodiesel can be reduced to approach the technical standards for combustion in diesel engines, or the Biodiesel Tentative Standards stipulated by the Indonesian Biodiesel Forum.Keywords: Bubble washing method, biodiesel AbstrakSampai dewasa ini proses konversi reaksi minyak kelapa sawit dan recovery gliserol sebagai hasil samping telah banyak diteliti. Tingkat kemurnian hasil dari tahapan proses pencucian dalam teknologi produksi biodiesel sangat menentukan kualitas biodiesel yang dihasilkan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi proses pencucian biodiesel sehingga diperoleh biodiesel yang memenuhi standar untuk penggunaan pada mesin-mesin diesel. Proses pencucian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu metode gelembung, yang memanfaatkan gelembung udara yang dinjeksikan dari bagian bawah kolom (bottom) sebagai carrier (pembawa) molekul air ke bagian atas (fasa biodiesel) yang mengandung gliserol, sabun dan sisa metanol. Dengan metode gelembung ini, akan memungkinkan molekul air berkontakan dengan gliserol pada fasa biodiesel, saat terbawa ke permukaan fluida, tanpa dilakukan pengadukan eksternal. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan sistim pencucian tiga tahap, kadar gliserol total dalam biodiesel dapat diturunkan hingga mendekati standar untuk pembakaran pada mesin diesel atau Standar Tentatif Biodiesel dari Forum Biodiesel Indonesia.Kata Kunci: Metode Pencucian Gelembung, Biodiesel.
Proses produksi triasetin dari gliserol dengan katalis asam sulfat W Widayat; Hantoro Satriado; A Abdullah; Ika Windrianto K. Handono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 4 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.1.3

Abstract

Triacetin production process from glycerol using sulfuric acid as catalyst.Glycerol can be produced from biodiesel production process with transesterification reaction. Glycerol of this reaction, not fully utilized as raw materials or as chemial products. Triacetate is a product of the esterification reaction of glycerol with acetic acid. Triacetate can be used for food and non-food. The objective of this study was to study the effect of temperature and the ratio of reactants on glycerol conversion on triacetate production process. The experiments were carried in batch process and total volume of glycerol and acetic acid 600 mL, stirring speed of 100 rpm and catalyst of sulphuric acid was 5 %-w glycerol based. The results of the qualitative analysis by means of FTIR confirmed there is Triacetate as product. Increasing of ratio molar of glycerol to acetic acid increased of glycerol conversion. The similar result obtained for temperature. The glycerol conversion was 67.6% and selectivity of triacetate 25%, where obtained using the reaction condition: mole ratio of glycerol to acetic acid 1:7, temperature 120 oC and 50 minutes.Keywords: glycerol, acetate acid, esterification, triacetin, glycerol conversion AbstrakGliserol dapat dihasilkan dari proses produksi biodiesel dari proses transesterifikasi. Gliserol dari proses ini, belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku maupun sebagai produk jadi. Triasetin atau gliserol triasetin merupakan produk reaksi esterifikasi gliserol dengan asam asetat. Kegunaan triasetin cukup banyak baik untuk keperluan bahan pangan maupun non pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh temperatur dan perbandingan reaktan terhadap konversi gliserol dalam proses produksi triasetin. Percobaan dilakukan dengan proses curah, dimana volume total gliserol dan asam asetat sebesar 600 mL, kecepatan pengadukan 100 rpm dan katalis asam sulfat adalah 5 %-b gliserol. Hasil analisis kualitatif dengan alat FTIR menunjukkan adanya produk triasetin, dimana kesesuaian dengan bahan standar triasetin cukup tinggi. Peningkatan perbandingan gliserol dengan asam asetat akan meningkatkan konversi gliserol. Demikian juga dengan peningkatan temperatur juga akan meningkatkan konversi gliserol. Hasil yang terbaik diperoleh pada perbandingan mol pereaksi gliserol dan asam asetat 1:7 temperatur 120 oC, waktu 50 menit dengan nilai konversi sebesar 67,6% dan selektivitas sebesar 25%. Kata kunci: gliserol, asam asetat, esterifikasi, triasetin, konversi gliserol
Dinamika tetes ekstraksi cair-cair sistem air-metil etil keton (mek)-heksan dalam kolom isian Agus Mirwan; Danu Ariono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 3 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.3.4

Abstract

Mass transfer process occurs as effect of contact between continuous phase from above and dispersed phase from underside column. With existence of size and type of packing in column, that caused interfacial area to become bigger and residence time more and older so that improvement of mass transfer process. The aim of this research is to observe drop dynamics or movement behavior of drop in which the drop diameter size grouped based on current regime deputizing with Reynolds Number (Re) and to study mass transfer liquid-liquid extraction in packed column based on drop diameter size influenced by flow rate and packing type. Observation of drop behavior is done by using length square column transparent so that visually drop dynamics can be observed and recorded at every segment of column height using digital camera. This research will be done by varying packing type and flow rate of the dispersed phase and continuous phase to know behavior of drop. The research will be done by using water–MEK (methyl ethyl ketone)–n-hexane system. The result of this research for packing type of sphere and raschig ring show that more and more big dispersed phase flow rate and height from under side column (distributor), hence drop is more and more small with number of which more and more many. This caused significant increase on overall mass transfer coefficient.Keywords: drop distribution, sphere, raschig ring, drop diameter Abstrak Proses perpindahan massa ekstraksi cair-cair dalam kolom isian terjadi akibat adanya kontak antara fase kontinu dan fase dispersi yang dialirkan secara berlawanan. Berbagai macam ukuran dan jenis isian yang digunakan dalam kolom, menyebabkan luas permukaan kontak menjadi lebih besar dan waktu kontak makin lama sehingga terjadi peningkatan proses perpindahan massa. Penelitian ini bertujuan mengamati dinamika pergerakan tetesan dengan cara mengelompokkan ukuran diameter tetesan berdasarkan pada rezim aliran yang diwakilkan dengan Bilangan Reynold (Re) dan mempelajari perpindahan massa pada ekstrasi cair-cair dalam kolom isian yang didasarkan ukuran diameter tetesan yang dipengaruhi laju alir dan jenis isian. Pengamatan perilaku tetesan dilakukan dengan menggunakan kolom persegi panjang yang transparan sehingga secara visual dinamikanya dapat diamati dan direkam pada tiap segmen ketinggian kolom menggunakan kamera digital. Percobaan dilakukan dengan menggunakan sistem air-MEK (metil etil keton)-n-heksan. Hasil penelitian untuk jenis isian bola padat dan raschig ring menunjukkan bahwa makin besar laju alir fase dispersi dan ketinggian dari bagian bawah (distributor), maka tetesannya makin kecil dengan jumlah yang makin banyak. Hal ini menyebabkan kenaikan yang signifikan terhadap koefisien perpindahan massa keseluruhan.Kata kunci: distribusi tetesan, bola, raschig ring, diameter tetesan.
TOWARDS KINETIC REGIME OF REVERSE FLOW OPERATION Yogi Budhi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 3 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.3.8

Abstract

An analysis of reverse flow operation and its experimental study for ammonia oxidation to produce either N2, N2O, and NO have been carried out. An experimental set-up of reverse flow reactor was constructed for a laboratory scale. The experiment under steady state operation was performed as a base case in order to judge the potential during the reverse flow operation. Aim was to investigate the behavior of reverse flow operation and to observe the reactor performance. Focus was on the comparison of the steady state and reverse flow operations. The experiments show that the behavior of reverse flow reactor is strongly influenced by the ratio of the switching time over the residence time. The ammonia conversion during the regular reverse flow operation shows lower values compared to the steady state operation which is even worse during asymmetric mode. The product distributions may change under flow reversal, depending on the operating conditions, regime of operation, and operation mode.Keywords : Reverse Flow Operation, Fixed Bed Reactor, Selectivity Manipulation, Steady State Operation, Ammonia OxidationAbstrak Sebuah analisis operasi aliran bolak-balik dan studi eksperimental oksidasi amoniak untuk menghasilkan baik N2., N2O, dan NO telah dilakukan. Sebuah perangkat eksperimen reaktor aliran bolak-balik dikonstruksi untuk skala laboratorium. Eksperimen dalam operasi keadaan tunak dilakukan sebagai kasus dasar untuk menilai potensi operasi aliran bolak-balik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti kelakuan operasi aliran bolak-balik dan untuk mengamati kinerja reaktor. Kajian ini dititikberatkan pada perbandingan operasi keadaan tunak dan operasi aliran bolak-balik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kelakuan reaktor aliran bolak-balik sangat dipengaruhi oleh nisbah waktu pembalikan arah aliran (switching time) terhadap waktu tinggal. Konversi amomiak dalam operasi aliran bolak-balik menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan operasi keadaan tunak dan dalam mode asimetrik konversinya bahkan lebih rendah lagi. Distribusi produk dapat berubah dalam pembalikan aliran yang bergantung pada kondisi-kondisi operasi, daerah operasi, dan mode operasi.Kata Kunci : Operasi Aliran Bolak-balik, Reaktor Fixed Bed, Manipulasi Selektivitas, Operasi Tunak, Oksidasi Amoniak
Permodelan reaktor sharon dengan umpan urea-amonia Tjandra Setiadi; Indrie Ratnasari; Trimaharika Widarena
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.4

Abstract

SHARON (Single reactor High activity Ammonia Removal Over Nitrite)-Anammox (Anaerobic Ammonium Oxidation) has never been used for treating wastewater with high urea content. Three prior researches have been done to examine the performance of SHARON process with urea-ammonia feed but the results are still unable to explain its performance. To explain these results, a model of SHARON process is needed to be built. Based on material balances of SHARON process in a stirred tank reactor, a model was built. The model is nonlinear differential equation system and was solved using Least Square Method with the help of MATLAB. The simulation result shows that nitrate was always occurred in the effluent of the SHARON process. Based on this research, equimolar nitrite to ammonia ratio can be obtained only if the feed is equimolar in urea and bicarbonate composition. Optimized kinetic parameter obtained are μmaxamm = 1,16E-05 s-1, μmaxnit = 3,998E-05 s-1, KNH3amm = 3,346E-02 mol mL-3, Kl,HNO2amm = 1,45E-02 mol mL-3, Kl,HNO2amm = 6,14E-03 mol mL-3. This result show that there are inhibition in oxidizing ammonium in the reactor and inhibition on growth of the nitrite oxidizer. Keywords : modelling, SHARON, urea-ammonia, kinetic parameter Abstrak Proses SHARON (Single reactor High activity Ammonia Removal Over Nitrite)-Anammox (Anaerobic Ammonium Oxidation) belum pernah digunakan untuk mengolah air limbah dengan konsentrasi urea tinggi. Data-data yang diperoleh dari percobaan pendahuluan belum dapat menjelaskan unjuk kerja reaktor SHARON dengan umpan berupa urea-amonia. Oleh karena itu, perlu disusun pemodelan matematika untuk menentukkan parameter kinetika pertumbuhan mikroba dan parameter stoikiometrik reaksi yang terjadi pada reaktor SHARON. Penyusunan model dilakukan berdasarkan neraca massa reaktor tangka reaktor kontinyu berpengaduk. Model yang dihasilkan berupa system model menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat sama dengan nol pada keluaran reaktor SHARON dengan umpan urea-amonia tidak dapat dicapai. Untuk mendapatkan nisbah nitrit terhadap nitrat yang ekuimolar, diperlukan umpan dengan komposisi urea dan bikarbonat yang ekuimolar. Parameter kinetic yang diperoleh dari hasil optimasi model adalah μmaxamm = 1,16E-05 s-1, μmaxnit = 3,998E-05 s-1, KNH3amm = 3,346E-02 mol mL-3, Kl,HNO2amm = 1,45E-02 mol mL-3, Kl,HNO2amm = 6,14E-03 mol mL-3. Kata Kunci : pemodelan, SHARON, urea-amonia, parameter kinetik
Evaluasi Rangkaian Anaerobic Fluidized Bed Reactor (AFBR) dan Micro Bubble Generator (MBG) untuk Pengolahan Air Lindi Sampah Wiratni Budhijanto; Sholahuddin Al Ayyubi; Khalid Abdul Latif
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.1.1

Abstract

Abstrak. Timbulan air lindi adalah masalah serius pada tempat pengolahan sampah akhir (TPA) di Indonesia. Kandungan komponen organik pada sampah Indonesia yang mencapai 70-75% dari total timbulan sampah menyebabkan tingginya produksi lindi sebagai cairan hasil pembusukan. Studi ini bertujuan mengoptimalkan proses pembersihan air lindi dengan rangkaian proses anaerob yang diikuti dengan proses aerob pada skala mini pilot plant. Peruraian anaerobik dijalankan dalam anaerobic fluidized bed reactor (AFBR) dengan media imobilisasi mikroorganisme yang difluidisasi. Tahap selanjutnya adalah proses peruraian secara aerob dengan aerasi menggunakan micro bubble generator (MBG). Pilot plant yang didirikan di tempat pengolahan akhir (TPA) Piyungan di Yogyakarta ini terdiri atas AFBR dengan volume 500 L dan bak aerasi dengan MBG berukuran 500 L. Pengamatan data kualitas air (soluble chemical oxygen demand (sCOD) dan volatile fatty acid (VFA)) pada input/output AFBR dan input/output MBG serta volume biogas yang dihasilkan di AFBR dilakukan secara berkala selama 70 hari start-up di mana reaktor mulai dioperasikan secara kontinu setelah inokulasi secara batch dan 50 hari operasional pada kondisi steady state. Walaupun telah dioperasikan selama lebih dari sebulan, performa AFBR setelah tercapai kondisi steady state belum optimal karena baru mencapai kurang lebih 30% pengurangan kandungan senyawa organik. Performa yang lebih baik teramati pada proses aerob dengan aerasi menggunakan MBG. Proses tersebut berhasil menurunkan sCOD sampai 60%. Studi awal ini menunjukkan bahwa rangkaian AFBR dan MBG berpotensi untuk mengatasi masalah pencemaran air lindi di TPA. Optimalisasi kinerja unit ini terutama ditentukan oleh proses start-up yang dipengaruhi oleh teknik inokulasi. Kata Kunci: fluidisasi, imobilisasi mikrobia, lindi, peruraian aerob, peruraian anaerob, sampah. Abstract. Evaluation of Anaerobic Fluidized Bed Reactor (AFBR) and Micro Bubble Generator (MBG) for Landfill Leachate Treatment. Landfill leachate emission is a very serious problem in Indonesian landfill sites. High organic fraction in Indonesian garbage, which accounts for 70-75% of total municipal solid waste amount, emits high flow rate of leachate as the result of decay process. This study aims to optimize landfill leachate treatment by means of anaerobic process followed by aerobic process. The anaerobic digestion was carried out in AFBR in which microbial immobilization media was fluidized. The next stage was aerobic digestion by applying novel aeration technology using MBG. The pilot plant was installed in Piyungan Landfill Site in Yogyakarta, which consisted of 500 L AFBR and 500 L MBG units. Observation was conducted periodically for 70 days of start-up when the unit was operated continuously after batch inoculation followed by 50 days of steady-state operation. The measurement was taken as soluble chemical oxygen demand (sCOD) and volatile fatty acids (VFA) on the input/output of AFBR and input/output of MBG. The biogas volume production in the AFBR was also measured. AFBR performance was not optimal since even after achieving a steady state condition (for one-month operation), it could only reduce less than 30% organic content. A better performance was observed in the aerobic process where MBG was used for the aeration. It could reduce 60% of sCOD. This preliminary study showed that the coupling of AFBR and MBG units is potential for landfill leachate treatment. Optimization of this unit depended on the inoculation technique during the start-up period. Keywords: aerobic digestion, anaerobic digestion, fluidization, landfill leachate, microbial immobilization, municipal solid waste. Graphical Abstract

Page 10 of 24 | Total Record : 235