cover
Contact Name
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Contact Email
jotampubolon@ymail.com
Phone
+62263-2323854
Journal Mail Official
tedeum@sttsappi.ac.id
Editorial Address
Kp. Palalangon RT 02 RW 09, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Kotak Pos 10 Ciranjang 43282 Cianjur, Jawa Barat
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan)
ISSN : 22523871     EISSN : 27467619     DOI : http://doi.org/10.51828/td
Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk memublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam lingkup kajian: 1. Penelitian teologi dan tinjauan Alkitabiah (Theological and Biblical research) 2. Pembangunan pedesaan (rural development) 3. Pendidikan kristen (Christian education) 4. Misi holistik (holistic mission) 5. Etika Kristen (Christian ethics).
Articles 187 Documents
Kepemimpinan Menurut Alkitab dan Penerapannya dalam Kepemimpinan Lembaga Kristen Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 5 No 1 (2015): Juli-Desember 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v5i1.114

Abstract

Alkitab banyak mencatat tentang tokoh-tokoh kepemimpinan dari satu zaman ke zaman berbeda. Kepemimpinan Kristen tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan pada umumnya karena gaya kepemimpinan Kristen harus bertolak dari Alkitab sebagai tolok ukur kebenaran. Seorang pemimpin harus memahami sumber dan asal mula otoritas kepemimpinan. Sumber otoritas dan asal mula kepemimpinan berasal dari Allah yang berdaulat. Allah yang memilih dan memanggil seorang pemimpin untuk melakukan tugas dan tanggung jawab berdasarkan agenda kerja Allah. Karena itu kepemimpinan Kristen harus bisa menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang muncul pada zamannya. Surat 1 Timotius 3 dan Titus 1 memberikan kualifikasi dasar bagi para penatua dan diaken yang menjadi representatif bagi kepemimpinan di gereja dan lembaga Kristen pada masa kini.
Tradisi Perang Suci dalam Perjanjian Lama Robi Prianto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 5 No 1 (2015): Juli-Desember 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v5i1.115

Abstract

Tradisi perang suci dalam Perjanjian Lama tidak muncul begitu saja, tetapi melalui proses yang panjang dalam sejarah budaya bangsa Israel. Tradisi Perang Suci dalam Perjanjian Lama terjadi bersamaan dengan munculnya kebudayaan Israel itu sendiri. Perang suci dalam kepercayaan Israel merupakan suatu bentuk perjanjian yang sakral antara umat Israel dengan Allah. Di mana bangsa Israel mengikat perjanjian dengan Allah di surga untuk memberikan kemenangan kepada mereka dari serangan musuh-musuhnya. Dalam perkembangannya perang suci menjadi suatu lembaga yang sakral, kultus dan kuat dalam kepercayaan bangsa Israel.
Soteoria untuk Missio Dei Anugrah Keselamatan untuk Misi Allah Aeron Frior Sihombing
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v2i1.116

Abstract

Banyak orang Kristen memiliki konsep maupun tindakan yang salah mengenai keselamatan atau soteria. Soteria yang mereka miliki dan cari hanyalah bersifat antroposentris, yang mementingkan diri sendiri atau berpusat kepada dirinya sendiri. Kecenderungannya adalah egois, yang mementingkan diri, pragmatis dan untuk kemuliaannya sendiri. Allah hanyalah sebagai pelengkap atau objek di dalam kehidupannya, yang mana Ia mencukupi dan memenuhi segala yang diingikannya melalui soteria atau keselamatan yang telah diberikan-Nya. Soteria antroposentris ini bertentangan atau kontradiksi dengan soteria yang Allah inginkan, yaitu soteria untuk melakukan dan melaksanakan missio Dei atau misi Allah, semuanya adalah kemuliaan Allah atau soli deo glori. Dengan demikian, tulisan ini ingin merespons soteria antroposentris melalui kekristenan Injili menurut perspektif Reformed[1] untuk memurnikan ajaran yang terdapat di dalam Gereja. [1]Anthony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Surabaya: Momentum, 2001) 14.
Etika Paulus Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apakah itu etika? Norman L. Geisler memahami etika sebagai apa yang secara moral dinyatakan benar atau salah. Dengan demikian, bagi Geisler, erikamemiliki arti yang sama dengan hukum moral. Berbeda dengan Geisler, Franz Magnis-Suseno memandang erika harus dibedakan dari hukum moral. Kesadaran perbedaan pengertian dari etika dan hukum moral ini juga disadari oleh pakar-pakar teologi, itulah sebabnya mereka ada yang menggunakan istilah "moral teaching," ketimbang menggunakan istilah "ethics" atau etika. Oleh karena keperbedaan pengertian tersebut, kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu dengan apa yang dimaksudkan etika dalam etika Paulus; dalam konteks ini, erika yang dimaksudkan bukanlah dalam pengertian ilmu ftlsafat, sebagai ilmu/ seni dalam menilai atau mengambil keputusan, namun sebagai ajaran moral.
Terang Untuk Bangsa-Bangsa Derek Brotherson
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengawali tulisan ini saya akan mengutip tulisan J. H. Bavinck demikian, “Pada kali pertama Perjanjian Lama dibaca, sepertinya tidak memberikan dasar apa pun untuk konsep misi. Walaupun Bavinck sendiri menyatakan bahwa pikiran itu tidak benar, pikiran itu masih dipegang oleh banyak orang Kristen, bahkan ahli misi. Itu sebabnya Chris Wright memberikan komentar sebagai berikut:”Bagi banyak orang Kristen, misi dimulai di ‘Bukit Kenaikan’ ketika Tuhan Yesus—setelah kebangkitan-Nya—memberikan tugas kepada murid-murid-Nya untuk dilaksanakan sampai Dia kembali ke bumi.” Pasti, seseorang yang berpikir bahwa konsep misi tidak ada dalam Perjanjian Lama (PL) akan berpendapat bahwa sia-sia kita memeriksa PL untuk membentuk teologi dan sistem misi untuk gereja zaman ini. Akibatnya, sarjana misi dan misionari tidak sering menyelidiki atau membahas Perjanjian Lama.
Yesus Kristus Sang Hamba Tuhan Edwin Gandaputra Yen
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yesus Kristus sebagai Hamba Tuhan. Penulisan kata-kata hamba Tuhan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, ditulis dengan huruf ‘h’ kecil, tetapi penulis menuliskan kata Hamba Tuhan (huruf ‘H’ besar) sebagai penghormatan penulis kepada jabatan yang melekat pada diriYesus Kristus. Di bagian lain, penulis juga menulis kata hamba Tuhan dengan huruf‘h’ kecil kepada seseorang yang memangku jabatan ini. Karena penulis menilai ada makna teologis yang terkandung dari kata hamba Tuhan. Kerinduan penulis dalam artikel ini adalah memaparkan gambaran hamba Tuhan yang sesungguhnya berdasarkan studi literatur tentang Yesus Kristus, sang Hamba Tuhan. Lalu dikembangkan kepada aplikasi kriteria seorang yang disebut dengan panggilan hamba Tuhan masa kini. Tulisan ini merupakan refleksi seluruh kehidupan penulis sebagai pelayanan di gereja dan sekolah Alkitab.
Sikap Orang Kristen Terhadap Kekayaan Hadi P. Sahardjo
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v2i1.120

Abstract

Mungkin kita adalah sebagian kecil dari banyak orang yang menjadi jengah terhadap perilaku segelintir orang yang dengan seenaknya tanpa rasa takut (baca: berdosa) korupsi, merampok uang negara, yang notabene adalah uang rakyat. Tidak hanya dari kalangan birokrat, tapi juga para politisi Senayan. Repotnya, bak penyakit menular, budaya koruspsi itu telah menjalar ke semua lini. Karni Ilyas mengatakan: “Kalau eksekutif, yudikatif legislatifnya saja korupsi, lalu mau dibawa ke mana bangsa ini?” Pertanyaan yang tidak perlu dijawab dan takkan pernah terjawab. Tetapi apakah sebenarnya yang mendorong individu untuk melakukan tindakan seperti itu?Kebutuhan?Keinginan?Atau ketamakan yang telah menghilangkan rasa kemanusiaan, sehingga manusia telah menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo sacrares homini).
Mengasihi Lingkungan Haskarlianus Pasang
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia telah berubah. Iklim juga telah berubah. Bencana alam silih berganti dengan jenis dan intensitas yang makin kuat dari tahun ke tahun. Manusia seolah tidak pernah memikirkan apa dampak dari tindakan dan gaya hidup yang dikembangkannya terhadap manusia lain dan ciptaan Allah lainnya? Manusia tidak mengasihi lingkungan! Itu sebabnya dibutuhkan suatu pendekatan baru untuk menata dan membangun (kembali) fondasi pemahaman yang benar mengenai tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Allah; bagaimana mengasihi lingkungan. Mengasihi lingkungan memiliki dua dimensi berbeda. Pada satu sisi, orang Kristen perlu kembali ke sumbernya untuk memahami makna dan tujuan Allah mencipta dirinya segambar dengan-Nya dan ciptaan lain. Dampak kejatuhan pada manusia dan ciptaan lain, terang penebusan yang dikerjakan Allah di dalam Kristus dan dampak kedatangan Kristus yang kedua mewakili apa yang disebut ‘Apa Kata Alkitab?’ Pada sisi lain, mengasihi lingkungan berarti melakukan tindakan nyata. Tindakan nyata orang Kristen dapat diwujudkan melalui kehidupan pribadi, keluarga dan gereja.
Konsumsi dan Kebahagiaan Ratna Katharina
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v2i1.122

Abstract

Sumberdaya alam mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi penopang alam semesta. Yang dimaksud dengan fungsi ekonomi adalah fungsi penopang kesejahteraan hidup manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di bumi, sedangkan yang dimaksud fungsi penopang alam semesta adalah bahwa seluruh ciptaan alam semesta baik manusia, makhluk lain dan ciptaan lain yang bukan makhluk hidup (tanah, air, batu, udara, dan sebagainya) mempunyai keterkaitan dan saling ketergantungan sehingga harus hidup selaras dan harmaonis. Fakta perjalanan kehidupan manusia dan ciptaan lainnya di bumi sampai saat ini menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Kerusakan atau penurunan kualiatas kehidupan manusia dan lingkungan terus berlangsung dan dampaknya sudah dapat dirasakan oleh berbagai ciptaan. Perubahan iklim, degradasi tanah, menurunnya kualitas air, punahnya beberapa spesies, menurunnya produksi, timbulnya berbagai penyakit, kemiskinan, dan sebagainya merupakan bukti-bukti adanya ketidakseimbangan pengelolaan sumberdaya alam. Dalam usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, kedua fungsi sumberdaya alam tersebut tidak berjalan seimbang, fungsi ekonomi lebih diutamakan.
Studi Etis Terhadap Ketidaktaatan Sipil Dari Perspektif Tema "Ketaatan" Dalam Perjanjian Baru Ray Regynaldi
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 2 No 1 (2012): Juli-Desember 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan orang Kristen tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sebagai warga negara di dunia. Sebagai warga negara, orang Kristen sudah seharusnya mentaati segala peraturan yang dibentuk oleh pemerintah. Peraturan yang dibentuk itu idealnya untuk melindungi hak-hak warga negara dan menentukan tanggung jawab terhadap negara, juga untuk mengarahkan warga negaranya untuk berada pada jalur yang benar, ada sanksi-sanksi yang diberikan pada setiap pelanggaran. Maka peraturan yang dibentuk adalah untuk kebaikan warga negara bukan untuk menyusahkan atau bahkan menekan warga negaranya, sehingga sudah semestinya orang Kristen pun yang adalah warga negara harus bersikap taat kepada pemerintah yang terwujud di dalam mentaati setiap peraturan yang diberlakukan.

Page 10 of 19 | Total Record : 187