cover
Contact Name
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Contact Email
jotampubolon@ymail.com
Phone
+62263-2323854
Journal Mail Official
tedeum@sttsappi.ac.id
Editorial Address
Kp. Palalangon RT 02 RW 09, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Kotak Pos 10 Ciranjang 43282 Cianjur, Jawa Barat
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan)
ISSN : 22523871     EISSN : 27467619     DOI : http://doi.org/10.51828/td
Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk memublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam lingkup kajian: 1. Penelitian teologi dan tinjauan Alkitabiah (Theological and Biblical research) 2. Pembangunan pedesaan (rural development) 3. Pendidikan kristen (Christian education) 4. Misi holistik (holistic mission) 5. Etika Kristen (Christian ethics).
Articles 195 Documents
Quo Vadis Pemilihan Legislatif (PILEG) dan Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014? Andrias Hans
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan mengabulkan permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang diajukan akademisi Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Serentak. Namun, MK menyatakan putusan pemilu serentak berlaku untuk pemilu tahun 2019 dan seterusnya. Apa alasan Mahkamah Konstitusi? Seperti dikutip dari risalah putusan yang dipublikasi di situs MK, www.mahkamahkonstitusi.go.id, MK mempertimbangkan tahapan penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2014 telah dan sedang berjalan serta mendekati waktu pelaksanaan. Peraturan perundang-undangan, tata cara pelaksanaan pemilihan umum, dan persiapan teknis juga telah diimplementasikan. Jika pemilu serentak ditetapkan tahun ini, menurut Mahkamah, tahapan pemilihan umum tahun 2014 yang saat ini telah dan sedang berjalan menjadi terganggu atau terhambat karena kehilangan dasar hukum. "Hal demikian dapat menyebabkan pelaksanaan pemilihan umum pada tahun 2014 mengalami kekacauan dan menimbulkan ketidakpastian hukum yang justru tidak dikehendaki karena bertentangan dengan UUD 1945,"
Peran Orang Kristen dalam Politik dan Kepemimpinan Negara Aripin Tambunan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran orang Kristen dalam politik dan kepemimpinan negara di Indonesia tidak dapat terlihat, hal ini dikarenakan ada anggapan dari beberapa orang Kristen yang menganggap bahwa politik itu kotor; sehingga menjauhkan diri dari dunia politik. Ketidak tampakkan peran orang Kristen tersebut, diperparah oleh kegagalan gereja dan sekolah-sekolah tinggi teologi Kristen yang tak mampu memproduksi pemimpin-pemimpin yang memiliki kualitas man the moral agentala Thomas Aquinas atau manusia baru ciptaan Yesus. Kegagalan tersebut berdampak kepada negara Indonesia, Indonesia merupakan negara gagal bila dipandang dari pemikiran Thomas Aquinas. Di mana suatu negara seharusnya sebagai suatu sistem tukar menukar pelayanan demi mencapai kebahagiaan dan kebaikan bersama. Tetapi nyatanya Indonesia dipenuhi korupsi, gagal melindungi orang miskin, dan data pribadi masyarakatnya.
Gereja Mula-Mula dan Pergumulan Politik Zamannya serta Implikasinya bagi Pergumulan Gereja Masa Kini Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politik sering dipandang hal yang kotor, jahat dan patut dihindari oleh orang yang mau hidup benar/saleh; moto dari politik yang biasa kita dengar adalah dalam politik “tidak ada yang namanya kawan abadi ataupun musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”; politik pada akhirnya dipandang terutama sebagai alat untuk mencapai kekuasaan demi kepentingan kelompok/partai yang diusungnya; pemikiran dan sikap politik yang berkembang seperti ini membuat politik tidak bekerja untuk membangun kebaikan bagi masyarakat luas, namun untuk melayani kepentingan kelompok orang tertentu saja. Gereja tidak dapat bersikap pasif dengan pergumulan politik zamannya, namun di sisi yang lainnya gereja pun bisa terjerat dengan “obsesi akan kekuasaan” seperti halnya dengan partai politik pada umumnya saat ia terlibat dalam politik praktis; gereja harus secara aktif berperan dalam membangun masyarakat yang bermoral dan menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, dan untuk mencapai hal ini orang-orang Kristen tidak bisa tidak harus didorong untuk berpartisipasi aktif.
Orang Kristen dan Kehidupan Politik Hadi P. Sahardjo
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v3i2.96

Abstract

Saat ini banyak orang Kristen dibingungkan dengan berbagai isu dan peran politik yang harus dilakoninya di sekitar Pemilu—baik Pileg maupun Pilpres. Apakah orang Kristen harus hanya menyerahkan “nasib” kepada orang lain, atau harus berperan aktif dalam peran-peran dimaksud? Banyak contoh baik dari Alkitab, pribadi Yesus sendiri maupun para tokoh Kristen dan teolog yang bersinggungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan soal-soal politik dan kepemerintahan. Lalu orang Kristen harus berda di mana?
Makna Pemilihan Presiden bagi Setiap Orang dan Relevansinya dengan Perspektif Alkitab Ratna Katharina
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v3i2.97

Abstract

Pemilihan umum (pemilu)merupakan merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Indonesia mempunyai dua sistem pemilu yaitu Pemilihan Legislatif dan Pemilu Presiden. Pemilihan Presiden bertujuan memilih Presiden dan Wakil Presiden dan dilaksanakan sesudah pemilu legislatif untuk memastikan pemenuhan persyaratan dalam mencalonkan diri menjadi Presiden. Pasangan Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Tiga studi kasus pemilihan kepala negara dalam tulisan ini menunjukkan pentingnya pemilu bagi suatu negara.Suara pemilih dapat menentukan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik atau mungkin bahkan sebaliknya.Pemilih mempunyai alasan mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS) jika pemilihan umum mempunyai arti baginya.Dalam perspektifAlkitab, agama dan politik merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.Agama merupakan unsur faktor moral dalam berpolitik. Seluruh aspek tatanan kehidupan manusia di dunia merupakan kesatuan dari agama dan politik.Alkitab adalah pernyataan visi dan misi Allah bagi dunia melalui sejarah kehidupan manusia sesuai zamannya masing-masing.
Pemimpin dan Perubahan Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v3i2.98

Abstract

Pemimpinmerupakan orang yang bekerjadi depan, di tengahdan di belakang. Iaadalah “roh” bagisetiappengikutnya. pemimpin melihat secara visioner atau melihat apa yang belum dilihat orang lain (mungkin bawahan atau orang sekitar). Karena itu, pemimpin harus tahu bagaimana membuka orang-orang di sekitar untuk melihat apa yang telah dilihat pemimpin. Sehingga setelah melihat – mereka bergerak, dan menyelesaikan apa yang dilihat.
Kiprah Gereja dalam Sejarah Keselamatan Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 7 No 1 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nubuatan mengenai akan berkembangnya umat Tuhan dalam Yesaya 54:2-3 sering dijadikan dasar dalam pelayanan misi. Meskipun demikian, cara membaca teks yang tidak tepat dapat membuat seseorang (bahkan sebuah gereja/denominasi gereja) membangun pemahaman misi yang walaupun kelihatannya benar namun ternyata tidak didasarkan atas teks yang tepat. Itulah sebabnya tulisan ini berupaya untuk meneliti bagaimana Yesaya 54:2-3 harus dipahami saat teks tersebut dibaca dalam pendekatan historical redemptive reading. Penulis memilih menggunakan pendekatan tersebut sebab model pembacaan teks ini akan menolong seseorang/gereja untuk melihat Yesaya 54:2-3 bukan hanya berdasarkan konteks historisnya, namun juga dalam konteks tradisi iman. Model penafsiran ini mampu menolong orang-orang Kristen memahami dengan lebih baik kaitan antara misi Allah, misi gereja dan nubuat pemulihan umat Tuhan dalam Yesaya 54:2-3.
Redifinisi Agama Fibry Jati Nugroho
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 7 No 1 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Definition of prevailing religion in general (world religions) have been constructed in such a manner in accordance with the concept of rulers. Before the import of religion comes, the local belief has gained a place and has fostered human society into a "religion". However, the politicization of religion entrants positioned local beliefs become the enemy in his hometown. Starting with the framing of the occult, mystical, syncretic, tahkyul and others. Minority belief started alienated in a hometown. In the eyes of the sociology of religion, Durkheim gives the sense that religion is sui generis in a society. Religion is a system of beliefs and practices that have united and are associated with things that are sacred / holy, beliefs, and practices which unite into one single moral community. Therefore, it should be underlined the roots of religious contestation world paradigm here is uniformity of definition of religion.
Pengembangan Kepemimpinan Seorang Pelayan dan Pelayanan Seorang Pemimpin Hadi P. Sahardjo
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 7 No 1 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v7i1.101

Abstract

Sebuah lembagan atau organisasi apa pun dan mana pun, pasti ada yang dinamakan pemimpin. Pemimpin dibutuhkan untuk membawa organisasi yang dipimpinnya bergerak maju dalam arahan dan tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin harus bisa mengatur tapi bukanlah pengatur segalanya. Dia tidak bisa menjadi pemimpin tanpa ada yang dipimpin. Dia sebagai penggerak yang tidak bisa bergerak sendiri; sementara yang menggerakkan adalah Tuhan, dan dia menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya dengan kasih dan bijaksana. Karena memimpin bukan sekedar talenta dan skill, tetapi adalah juga seni. Tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga bagaimana menghargai dan membangun relasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Karena sesungguhnya pemimpin bukanlah “tuan” melainkan “hamba”.
Tinjauan Iman Kristen Terhadap Doa Lintas Agama Jamson Siallagan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 7 No 1 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Doa lintas agama merupakan kegiatan yang harus disikapi secara kritis oleh umat Kristen. Sikap eksklusifisme akan membuat orang Kristen menolaknya, sikap inklusif akan menerimanya dengan kemungkinan adanya sinkritisme, sedangkan pluralisme yang merelatifkan semua kebenaran juga akan menerima kegiatan tersebut. Kekristenan sebagai anugerah Allah sekaligus juga agama sosiopolitis, sehingga doa lintas agama yang kita ikuti harus dipahami dalam keduanya. Sebagai anugerah, roh Allah yang bekerja dalam doa-doa kita, namun secara politis kita bisa mengakomudasikan doa dari penganut agama yang lain sebagai bentuk penerimaan pluralitas masyarakat dan sebagai upaya membangun kebersamaan semata.

Page 8 of 20 | Total Record : 195