Articles
195 Documents
Pendidikan Teologi dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Developmentalisme di indonesia
Yudha Nata Saputra
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 6 No 2 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Development in all fields requires a more educated society. Developmentalisme education policy answers the needs of development. How is the link between philosophy, educational theory and educational policy developmentalisme? How well developmentalisme educational practice that has been practiced in the educational environment in Indonesia? The study results showed that neopositivisme educational philosophy and theory of humanism education is the basis for education policy developmentalisme. In the practice of education, educational policy developmentalisme focused on efforts to explore the potential of students, technology-based approach to information and communication is an important tool in the practice of education. In the context of education policy developmentalisme, theological education in Indonesia comes with mission of theology.
Refleksi Terhadap Undangan Allah ke dalam Perjamuan Besar dan Tipikal Respons Manusia (Lukas 14:15-24)
Hadi P. Sahardjo
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v4i2.60
Through this parable, we can learn about God’s plan about men. His invitation couldn’t be rejected. God’s grace is still abundantly poured on us. But if someone reject it, he/she must give the responsibility to God. The parable symbolizes and represents: the salvation offered to the Jews and their rejection of the Saviour (the first call); indicate the Gentile sinners and harlots who warmly welcomed the Son of God and pressed eagerly into His Kingdom (the second call); and the third call represents the wanderers of outlying Gentile world, the world’s “broken earthenware,” upon whom moral compulsion has to be used. God’s grace always widely opened to everyone, it depend on how we respond on it. We are sure that this parable point to the Kingdom of God and His saving plan upon men and how must we respond it.
Relasi Etika Perjanjian Lama dengan Etika Global Hans Kung
Aeron Frior Sihombing
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v4i2.61
Etika global yang diusulkan oleh Hans Küng berdasarkan Yesus Kristus yang terdapat dalam Injil. Esensinya adalah bagaimana memanusiakan manusia menjadi manusia, yaitu dengan memerjuangkan hak asasi manusia yaitu hak yang melekat di dalam diri manusia itu sendiri. Perjuangan atas kemanusiaan tersebut ternyata berakar dari Perjanjian Lama, di mana landasan dari perjuangan Yesus adalah seruan dari para nabi dalam Perjanjian Lama, yaitu untuk memerjuangkan hak asasi manusia, sehingga manusia memeroleh keadilan dalam kehidupannya.
Kecakapan Berpikir dan Penerapannya dalam Pelayanan Kristen
Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v4i2.62
Berkembangnya kebudayaan di dalam sejarah hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari proses berpikir. Tingkat kemajuannya bukan hanya menyentuh masalah ilmu pengetahuan umum, tetapi juga menyentuh ke wilayah pelayanan gerejawi. Apabila kecakapan berpikir juga bersentuhan dengan pelayanan gerejawi, seharusnya kecakapan ini ditumbuhkembangkan oleh setiap orang percaya. Dalam batasan tertentu berpikir dapat diartikan menggunakan akal budi untuk memertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Secara teologis manusia diciptakan Allah dengan kemampuan berpikir yang melebihi semua makhluk. Manusia baru di dalam Kristus harus mengarahkan buah pemikirannya untuk hal-hal mulia sama seperti Allah yang memiliki sifat yang mulia. Hasil karya manusia harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan sesamanya.
Kesinambungan Panggilan Misionaris Bangsa Israel dengan Panggilan Pelayanan Misi dan Pemuridan
Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v4i2.63
Tulisan ini bertujuan membahas kesinambungan panggilan misi bangsa Israel dengan panggilanpelayanan misi dan pemuridan. Misi dan pemuridan tidak boleh dipisahkan atau hanya menekankan salah satu. Di dalam misi harus ada pemuridan sebagai proses mendidik orang mengenal Tuhan. Sedangkan pemuridan sebagai reaksi dan respons orang yang mengenal Tuhan yang pada akhirnya dinyatakan dalam tindakan bermisi.
Peran Media dalam Pemberitaan Injil
Adrianus Pasasa
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Alkitab mulai dengan menjelaskan keadaan manusia yang tragis, suatu keadaan yang hanya dapat terjawab oleh Injil. Melalui Injil dosa manusia dapat terselesaikan dan manusia dapat kembali berdamai dengan Allah. Karena manusia telah jatuh dalam dosa dan akibat dari pemberontakannya ini manusia akan mendapat hukuman yaitu kematian kekal. Oleh karena, itu panggilan pemberitaan Injil harus dilakukan karena merupakan keinginan Allah agar semua manusia berdosa dapat diselamatkan dari hukuman kekal. Panggilan pemberitaan Injil merupakan hal yang mendesak supaya masalah terbesar manusia yaitu dosa dapat teratasi. Kewajiban mengabarkan Injil adalah tanggung jawab setiap orang yang telah menerima Tuhan Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Setiap orang percaya wajib mengabarkan Injil sesuai kemampuan dan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Kudus kepadanya. Salah satu penunjang dalam menjalankan mandat pemberitaan Injil adalah media. Dengan media jangkauan pemberitaan Injil menjadi lebih luas dan lebih cepat. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang peran media dalam mengkomunikasikan Injil kepada dunia.
Tradisi Pemberian Kanaan dan Pemilihan dalam Kepercayaan Israel
Robi Prianto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 2 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v4i2.65
Tradition of awarding Canaan and elections in Israel confidence occur simultaneously. When the Israelites were brought out of the land of Egypt to the land of Canaan, at that time the people of Israel was born into humanity of God. Canaan for the Israelites is a testament to the inclusion and the presence of a God over them, so no matter the people of Israel kept the land claim and maintain Canaan as their inheritance.Therefore Israelities were failed to become humanity of God, so is God to give status humanity of God to every body without to seeing is ethnic nation, provided they to belive to Jesus Christ as God and savior.
Sunat Sebagai Ergoon Nomou
Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu perdebatan yang alot dalam diskusi seputar teologi Paulus adalah mengenai arti frasa ergoon nomou. Ada banyak jurnal dan buku sudah dituliskan untuk memberikan alternatif pengertian terhadap frasa tersebut. Perdebatan mengenai hal tersebut muncul, salah satunya, karena interpretasi baru yang dilontarkan oleh kelompok New Perspective terhadap arti frasa tersebut. James D. G. Dunn, salah satu tokoh utama New Perspective, menegaskan bahwa arti dari frasa ergoon nomou terutama menunjuk pada hukum-hukum identitas. Ada tiga respons yang muncul terhadap pemikiran baru tersebut; Sebagian pakar mendukung atau menyatakan kesejajaran pandangannya dengan Dunn; sebagian pakar lain menolak pandangan tersebut dan tetap berpegang pada pandangan tradisional yang memandang arti dari frasa e;rgwn no,mou sebagai perbuatan baik/tuntutan hukum Taurat; dan sebagian pakar lain lagi menggabungkan kedua pandangan di atas.
Tanggapan Terhadap Demitologisasi Bultmann dalam Hubungannya dengan Konsep Kristologi
Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v1i1.67
Salah satu topik teologi Kristen yang selalu menarik untuk dibahas adalah masalah Kristologi. Doktrin Kristologi bukan hanya menjadi pergumulan bagi gereja, teolog dan masyarakat Kristen pada masa kini, tetapi pergumulan ini sudah terjadi di era Gereja Purba. Pergumulan doktrin Kristologi telah menjadi perdebatan di kalangan teolog dan masyarakat Kristen, bahkan di luar Kristen pun ikut-ikutan untuk menanggapinya. Persoalan teologi Kristen pada masa kini dapat dikatakan karena berakar dari pemahaman Kristologi yang berbeda-beda. Munculnya bidat Arianisme juga berkaitan dengan masalah Kristologi. Arius memiliki pemahaman bahwa Allah Anak (Kristus) tidak setara dengan Allah Bapa dan pandangan Arius akhirnya dikutuk pada Konsili di Nicea 325 M. Pemahaman Kristologi yang berbeda-beda juga menyebabkan gereja menjadi terpolarisasi dalam berbagai dominasi, bahkan ratusan denominasi Kristen. Terpecahnya Gereja Timur (Gereja Ortodok) dan Gereja Barat (Katolik Roma) juga tidak terlepas dari perbedaan pemahaman tentangan masalah doktrin.
Keunikan Inkarnasi Kristus
Cenglyson Tjajadi
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 1 (2011): Juli-Desember 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tidak dapat disangkal bahwa doktrin inkarnasi adalah dasar yang esensisi bagi doktrin keselamatan dalam kekristenan. Grudem mendefi-nisikan inkarnasi sebagai tindakan Allah Anak yang mengambil natur manusia bagi diri-Nya. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Paul Enns bahwa inkarnsi berarti “di dalam daging” dan menunjukkan pada tindakan di mana Putra Allah yang kekal mengambil bagi diri-Nya tambahan natur manusia, melalui kelahiran dari seorang anak dara. Allah yang mengambil natur manusia dalam inkarnasi Kristus merupakan keunikan dari kekristenan. Namum demikan konsep inkarnasi ini ternyata tidak menjadi monopoli kekristenan karena secara umum inkarnasi dapat berarti penjelmaan roh dalam wujud makhluk lain terutama manusia. Selain kekristenan yang mengenal konsep inkarnasi, agama Hindu juga mengenal konsep ini khususnya pada penjelamaan Visnu, salah satu dari trimurti (tiga dewa utama agama Hindu). Melalui makalah ini saya mencoba memperbandingkan antara inkarnasi Visnu dengan inkarnasi Kristus. Dengan perbandingan ini saya mencoba menunjukkan keunikan dari inkarnsi Kristus.