Articles
187 Documents
Sejarah Awal Islam Sampai Masa Khalifah Alrasydin
Jungjungan Simorangkir
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 4 No 1 (2014): Juli-Desember 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam agama Islam, Nabi Muhammad ditempatkan dalam posisi yang teramat penting, bahkan sebagai salah satu pusat pengajaran dan keyakinan mereka. Selain sebagai nabi, dia juga dikenal sebagai seorang negarawan yang dapat menyatukan negara dan agama. Ia memulai misinya dari kota Madina untuk mewujudkan Islam. Kota Madina merupakan kota pertama penyebaran Islam ke seluruh dunia, termasuk kota Mekah, sebagai kota penting dalam sejarah Islam. Tetapi setelah kematiannya terjadilah perdebatan dan pertentangan politis untuk menentukan siapakah penganti Nabi Muhammad. Muslim percaya bahwa setelah kematian nabinya tidak ada lagi wahyu dan Muhammad adalah nabi terakhir. Karena itu, regenarasi kepemimpinan Islam setelah kematian Nabi Muhammad tidak berjalan dengan lancar. Hal inilah yang dihadapi oleh politik Islam dalam suksesi kepemimpiannya.
Megalomaniak dan Egomaniak sebagai “Paranoid Disorder” bagi Pemimpin Kristen
Noh Ibrahim Boiliu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v3i1.80
Penulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang Yohanes Pembaptis sebagai pemimpinan yang tidak paranoid disorder.Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis bukan pemimpin yang megalomaniak dan egomaniak sebagai paranoid disorder seperti yang ditunjukkan melalui sikap Yohanes Pembaptis dalam Injil Yohanes 3:30. Hasilnya, jika membandingkan kepribadian Yohanes Pembaptis dengan pemimpin-pemimpin Kristen masa kini ada kecenderungan pada megalomaniak dan egomaniak sebagai paranois disorder.
Kepemimpinan yang Efektif dalam Gereja Presbiterian
Chandra Gunawan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sistem kepemimpinan dalam gereja presbyterian bersifat collective-leaders; sistem kepemimpinan ini berakar dalam pengajaran Alkitab dan pemikiran John Calvin mengenai penatua. Warisan pemikiran Alkitab dan John Calvin mengenai penatua seharusnya menjadi pegangan bagi gereja presbyterian dalam membangun sistem kepemimpinan dan pelayanannya. Dua fungsi dari penatua yakni sebagai pengajar dan penjaga kesucian gereja dan fungsi dari diaken sebagai pemerhati dari orang-orang miskin dan sakit haruslah kembali ditekankan dan diterapkan secara konsisten dalam kepemimpinan dan pelayanan gereja presbyterian. Gereja presbyterian harus berani keluar dari kepemimpinan dan pelayanan yang bersifat administratif kepada kepemimpinan dan pelayanan yang berorientasi pada manusia. Dengan jalan inilah maka gereja presbyterian akan dapat membangun kepemimpinan dan pelayan yangalkitabiah dan efektif.
Perbandingan antara Bentuk Presbiterian dan Kongregasional dalam Pemerintahan Jemaat
Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v3i1.82
Ada tiga bentuk pemerintahan jemaat yang banyak dianut oleh gereja-gereja sekarang, yaitu: Episkopal, Presbiterian dan Kongregasional. Masing-masing gereja sering mengklaim bahwa sistem yang digunakan merupakan bentuk pemerintahan yang didukung oleh kebenaran-kebenaran dari Alkitab. Semua bentuk pemerintahan yang pada dasarnya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Apapun sistem yang dianut hendaknya memerhatikan kelemahan yang ada supaya fungsi gereja tidak terhambat dalam memenuhi panggilan dari Allah.Dua aspek penting yang seharusnya turut terlibat secara seimbang dalam pemerintahan jemaat. Aspek pertama, fakta adanya para pejabat gereja (pendeta, penatua dan diaken) yang mendapat mandat untuk mengajar dan mengembalakan jemaat. Aspek kedua, adanya fakta bahwa dalam Gereja Mula-mula, jemaat turut telibat secara aktif dalam menentukan arah pelayanan gerejawi.
Menuju Dialog Antar Agama-Agama di Indonesia
Aeron Frior Sihombing
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v3i1.83
Sifat kemajemukan bangsa Indonesia merupakan salah satu kekayaaan bangsa yang harus disukuri. Tetapi di lain pihak kemajemukan sering hanya dilihat sebagai suatu perbedaan yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, karenanya perlu “diseragamkan” keberadaannya, termasuk soal keyakinan. Itulah yang menjadi penyebab terjadinya konflik agama di Indonesia—dan ini merupakan penyebab konflik terbesar—yang terjadi, salah satunya karena keberbedaan tadi, di mana ada yang merasa bahwa agamanya yang paling benar dan menganggap agama yang lain adalah agama yang salah, kafir. Merasa bahwa agamanya lebih superior dan menganggap agama yang lain adalah inferior; sehingga memandang rendah agama ataupun kepercayaan agama lain. Anti terhadap pluralisme di Indonesia, bahkan ini dianggap sebagai sesuatu yang sesat. Inilah sifat eksklusivisme, yang menyebabkan intoleransi, kekacauan dan peperangan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Strategi Misi di Daerah Perdesaan
Bonar P. Pasaribu
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di daerah perdesaan. Banyak yang terisolasi dan sangat sulit dijangkau. Tetapi mereka adalah juga umat Tuhan yang membutuhkan berita keselamatan. Sebagian dari desa-desa dan daerah-daerah terpencil itu memiliki potensi SDA yang cukup dapat diandalkan, seperti kehutanan, perikanan, bahan-bahan tambang, dan lain-lain. Namun pemanfaatan potensi SDA tersebut oleh masyarakat setempat, terhalang karena berbagai faktor seperti diuraikan di atas. Oleh karena itu dibutuhkan suatu strategi misi yang sesuai bagi masyarakat yang berdiam di perdesaan tersebut dirumuskan secara cermat, agar implementasi misi di lapangan dapat berjalan efektif dan efisien serta berhasil guna.
Teologi Filosofi Kepemimpinan
Aripin Tambunan
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Teologi filosofi kepemimpinan adalah satu pendekatan teori kepemimpinan yang menggabungkan antara kepemimpinan gagasan Yesus dan gagasan Plato, sehingga melahirkan kepemimpinan teologi filosofi. Kepemimpinan teologi filosofi tersebut akan memberikan metode kepemimpinan yang lebih baik, dan bila dijalankan oleh seorang pemimpin akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih baik dibandingkan dengan kepemimpinan posisional, kepemimpinan team, kepemimpinan politis, dan kepemimpinan moral yang diterapkan para pemimpin Kristen saat ini.
Korelasi antara Pemahaman Kristologis dan Perpalingan dari Agama Kristen
Adrianus Pasasa
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Berbicara tentang “perpindahan” adalah suatu isu yang selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan, entah perpindahan tempat tinggal, perpindahan divisi, perpindahan jurusan kuliah, serta perpindahan-perpindahan lainnya.Bahkan akhir-akhir ini tema mengenai “perpindahan” agama cukup popular di bahas di media massa.Fenomena perpindahan agama seseorang merupakan fakta yang menjadi domain teologis agama/keyakinan/kepercayaan tersebut secara internal.Walaupun menjadi domain teologis internal sebuah agama/keyakinan/kepercayaan, perpindahan agama seseorang menjadi diskursus serius dalam multiperspektif.Dalam tulisan ini mencoba melihat dari satu prespektif tentang apakah perpindahan agama yang terjadi ada korelasinya dengan tingkat pemahaman kristologis penganutnya.
Kerinduan kepada Ratu Adil dan Etika Kebijaksanaan, Pembelajaran Sejarah Pekabaran Injil di Jawa Timur untuk Konteks Penumbuhan Gereja Zaman ini di Indonesia
Negari Karunia Adi
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 1 (2013): Juli-Desember 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kisah Pekabaran Injil di Tanah Jawa memnerikan pelajaran kepada kita jika Injil mendarat pada “Tanah yang Subur” akan menumbuhkan Injil untuk terus bertumbuh dan berbuah. Komposisi unsur dan sifat “tanah” tentu berbeda-beda di setiap lokasi. Pada awal Injil dikabarkan di Tanah Jawa, pengharapan terhadap datangnya Ratu Adil dan kerinduan orang Jawa yang haus akan pengetahuan yang baru menjadi unsur yang dominan dalam penerimaan Injil Tuhan.
Kepemimpinan Mesianis Yesus Kristus
Aeron Frior Sihombing
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 3 No 2 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v3i2.92
Kepemimpin Mesiasianis adalah kepemimpinan yang melayani, bukan dilayani dan hanya memerintah. Ia rela menderita dan berkorban demi tugas dan tanggungjawab yang telah diembankan kepadanya, serta tidak takut mati untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran, melalui penegakan hukum. Ini adalah seorang pemimpin yang menghamba untuk melindungi umat yang dipimpinnya. Hal inilah sebagai bentuk pelayanan kepada Allah, melalui pelayanan kepada manusia.