cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 114 Documents
HAMBA TUHAN DAN SENI MEMBERI Anton Siswanto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.28

Abstract

Abstract God's servant is identical to the example in expressing Christ's love for the congregation and being a public figure in all thoughts, words and actions. In this paper, a Biblical Principle is explained, which is love exhibited by "giving" behavior. And this action starts from the leader and followed by the person who is led. The following will describe a principle that the Lord Jesus taught to humans through a specific New Testament perspective. And it is given that the love shown by a practice of giving will have a tremendous impact on humanity. Certainly as a believer we have the source to give, and that source concerns finance, information, relationships, spirit and time / energy. With sources that all come from God, believers can give joyfully and voluntarily as taught by the Lord Jesus himself. This article on God's Servant and the art of giving uses research methods based on the study of several sources of the New Testament and the study of literature relating to this topic and with the results obtained will also provide application as a concrete step of the spiritual leader that is God's servant in giving who will close this writing to get believers to do the Word of God in concrete steps.AbstrakHamba Tuhan identik dengan contoh dan teladan dalam mengekspresikan kasih Kristus kepada jemaat dan menjadi publik figur dalam segala pikiran, perkataan dan tindakan. Dalam tulisan ini diuraikan sebuah prinsip Alkitab yaitu kasih yang ditunjukkan dengan perilaku “memberi”. Dan tindakan ini dimulai dari pemimpin baru diikuti oleh orang yang dipimpin. Berikut akan diuraikan sebuah prinsip yang Tuhan Yesus ajarkan kepada manusia melalui perspektif Perjanjian Baru secara spesifik. Dan diberikan bahwa kasih yang ditunjukkan dengan sebuah praktik memberi akan mempunyai dampak yang luar biasa kepada umat manusia. Tentu sebagai seorang percaya kita memiliki sumber untuk memberi, dan sumber itu menyangkut keuangan, informasi, hubungan/relasi, roh dan waktu/energi. Dengan sumber-sumber yang semuanya berasal dari Tuhan maka orang percaya bisa memberi dengan sukacita dan sukarela seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Tulisan mengenai Hamba Tuhan dan seni memberi ini menggunakan metode penelitian berdasarkan studi beberapa sumber dari Perjanjian Baru dan studi literatur yang berkaitan dengan topik ini dan dengan hasil yang didapat akan juga memberikan aplikasi sebagai langkah nyata dari pemimpin rohani yaitu hamba Tuhan dalam memberi yang akan menutup tulisan ini untuk mengajak orang-orang percaya melakukan Firman Tuhan dengan langkah nyata.
PENDIDIKAN KARAKTER KRISTEN SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN SIKAP BATIN PESERTA DIDIK Anton Nainggolan
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.55

Abstract

AbstractSuccessful education is education that can shape human behavior, not just equip people with knowledge and information. Research Objectives: (1). What is the meaning of Christian character education? (2). What is the role of Christian character education in the development of the inner attitudes of students? (3). What Are the Natural Implications of Human Total Disability? Methods: This research was conducted using a qualitative method with a literature study approach. Research Results: (1). Education that shapes and develops the inner attitude of students so that they are able to behave and behave wisely, and be responsible in their daily lives as Christians (2). Character education plays an important role in the personal formation of students. In the process various noble morals are discussed, including honesty, virtue, courage, discipline, generosity, tolerance, and responsibility. (3). Proper character education must actually begin with a personal encounter with Jesus. Character education and learning are tools, media or means in the formation of the human person. AbstrakPendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang dapat membentuk perilaku manusia, bukan sekedar membekali manusia dengan pengetahuan dan informasi saja. Tujuan Penelitian: (1). Apakah pengertian pendidikan karakter Kristen? (2). Bagaimanakah peran pendidikan karakter kristen terhadap pengembangan sikap batin peserta didik? (3). Bagaimanakah Implikasi Natur Ketidakmampuan Total Manusia? Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode Kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil Penelitian: (1). Pendidikan yang membentuk dan mengembangkan sikap batin peserta didik supaya mampu bersikap dan berperilaku bijak, serta bertanggung jawab dalam kehidupannya sehari-hari sebagai orang Kristen (2). Pendidikan karakter berperan penting dalam pembentukan pribadi peserta didik. Dalam proses itu berbagai akhlak luhur diperbincangkan, termasuk kejujuran, kebajikan, keberanian, kedisiplinan, kemurahan, toleransi, tanggung jawab. (3). Pendidikan karakter yang tepat sebenarnya harus dimulai dengan perjumpaan pribadi dengan Yesus. Pendidikan dan pembelajaran karakter merupakan alat bantu, media atau sarana dalam pembentukan pribadi manusia.
Mission in Suffering Context Harianto GP
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.17

Abstract

AbstractThis study aims to examine the mission in the context of suffering related to about theology of suffering, its context in Indonesia and its implications for mission in Indonesia. In connection with the goal, the results of the study show that suffering is the pressure faced by someone who comes from outside himself to exert a good influence on that person. The suffering of non-believers is different. If non-believers are suffering because of the world, but if believers suffer because of Christ. The suffering experienced by believers in Indonesia is indeed the Great Commission of Christ. Believers and the church are obliged to do God's mission is to win souls who are lost in their suffering by being a witness of God and dialogue to preach the gospel.Keywords: Mission; Suffer; Church; BelieversAbstractPenelitian ini bertujuan mengkaji mengenai misi dalam konteks penderitaan berkaitan dengan seputar teologi penderitaan, konteksnya di Indonesia dan implikasinya terhadap misi di Indonesia. Berkaitan dengan tujuan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penderitaan ialah tekanan yang dihadapi seseorang  yang datang dari luar dirinya untuk memberikan pengaruh yang baik kepada orang tersebut. Penderitaan orang yang bukan percaya dengan orang percaya berbeda. Kalau orang yang bukan percaya adalah penderitaan karena dunia tetapi kalau orang percaya menderita karena Kristus. Penderitaan yang dialami orang-orang percaya di Indonesia adalah memang amanat Agung Kristus. Orang percaya maupun gereja wajib melakukan misi Allah adalah memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat dalam penderitaannya dengan cara adalah menjadi saksi Allah dan dialog untuk memberitakan Injil. Kata Kunci: Misi; Penderitaan; Gereja; Orang Percaya
STRATEGI PEMBELAJARAN DI ANTARA GURU TERHADAP SISWA DALAM KONTEKS MEMECAHKAN KESULITAN BELAJAR Pudun Tadam
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.50

Abstract

Abstract: Strategic Learning involves Learning Strategies and Teaching Strategies that can help bring success to a student. The research objective answers the question: What is the meaning of a Learning Strategy? What is an Effective Learning Strategy? What are the Learning Strategies among Teachers against Students in the Context of Solving Learning Difficulties? The answer is: Learning strategies are the methods that will be selected and used by a teacher to deliver learning material that aims to make it easier for students to receive and understand learning material, which in the end can be mastered learning objectives at the end of learning activities. Three aspects of effective learning strategies are: (1) Students Need Continuous Strategic Instruction. (2) Teachers Promote Self-Awareness in Metacognition in the Classroom. (3) Teachers Can Recognize and Understand Different Learning Profiles. Learning Strategies between Teachers and Students in the Context of Solving Learning Difficulties are: (1) learning difficulties manifested in classrooms, (2) difficulties demonstrated by students in classrooms, and (3) strategies to help students who have difficulty paying attention in class . Abstrak: Strategic Learning melibatkan Strategi Pembelajaran dan Strategi Pengajaran yang dapat membantu membawa kejayaan kepada seorang mahasiswa. Tujuan penelitian menjawab pertanyaan: Apakah pengertian Strategi Pembelajaran? Bagaimanakah Strategi Pembelajaran yang Efektif? Bagaimanakah Strategi Pembelajaran di antara Guru terhadap Siswa dalam Konteks Memecahkan Kesulitan Belajar? Jawabannya adalah: Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Tiga hal strategi pembelajaran yang efektif adalah: (1) Siswa  Memerlukan Instruksi Strategi yang Berkelanjutan. (2) Guru  Mempromosikan Kesadaran Diri dalam Metakognisi di Kelas. (3) Guru-guru Dapat Mengenali dan Memahami Profil Pembelajaran yang Berbeda. Strategi Pembelajaran di antara Guru terhadap Siswa dalam Konteks Memecahkan Kesulitan Belajar adalah: (1) kesulitan belajar dimanifestasi dalam bilik kelas, (2) kesulitan didemonstrasi oleh siswa dalam bilik kelas, dan (3) strategi-strategi untuk membantu siswa yang kesulitan perhatian di kelas.
Konsep Bekerja Sebagai Ad Majorem Dei Gloriam: Sebuah Upaya Pemenuhan Sacred Calling Bimo Setyo Utomo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.12

Abstract

Bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia di dunia ini. Meskipun demikian terdapat perbedaan cara memahami dan menyikapi mengenai konsep bekerja. Sumbangsih pemikiran yang paling mempengaruhi kehidupan kekristenan tentang bekerja adalah adanya pembagian dua kutub, yaitu: secular work (bekerja di bidang sekuler) dan contemplative work (bekerja di bidang rohani). Pembagian dua kutub tersebut bahkan sudah dimulai sejak Abad Pertengahan dan masih terasa pengaruhnya hingga masa kini. Dalam makalah ini, peneliti berusaha menelusuri perkembangan konsep mengenai bekerja dan membandingkannya dengan konsep dalam Alkitab yang akan bermuara dalam penemuan panggilan kudus (sacred calling) sebagai pemenuhan dari Ad Majorem Dei Gloriam di dalam konsep bekerja.
STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KRISTEN BAGI JEMAAT DEWASA DI GEREJA BEM TAMAN TUNKU MIRI, MALAYSIA Paulus Labai
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v2i2.45

Abstract

Abstract: Christian education learning serves as a guide to help Christian educators in training adults in the church so that the congregation will understand more about the image or concept of identity, role and responsibility as adults more clearly and steadily in everyday life and in their relationship with society. around. The problems that arise are: What is the definition of adult andragogy? What is the significance of Christian education for adults? What is the Christian education learning strategy for adult congregations in the BEM Taman Tunku Miri church, Malaysia? The answers to the problems are: (1) Christian education for adult congregations is an effort to educate or educate church members in all existing age groups, including the adult age group. (2) significant Christian education for adults is one form of the church's efforts in educating or educating its citizens by planning a learning program designed in such a way as to achieve the goals of Christian education for adults. (3) The Christian education learning strategy for adult congregations at the BEM Taman Tunku Miri church, Malaysia is to develop Christian education learning for adults who should understand and have skills with regard to design procedures so that Christian education programs for adults become more accommodating and effective.Abstrak: Pembelajaran pendidikan Kristen berfungsi sebagai pedoman untuk menolong pendidik Kristen dalam melatih orang-orang dewasa dalam gereja sehingga jemaat semakin memahami gambar atau konsep jati diri, peran dan tanggung jawabnya sebagai orang dewasa secara lebih jelas dan mantap dalam kehidupan sehari-hari serta dalam relasinya dengan masyarakat sekitar. Persoalan yang timbul adalah: Apakah pengertian andragogi orang dewasa? Apakah signifikan pendidikan Kristen bagi orang dewasa? Bagaimanakah strategi pembelajaran pendidikan Kristen bagi Jemaat dewasa di gereja BEM Taman Tunku Miri, Malaysia? Jawaban dari persoalan-persoalan adalah: (1) pendidikan Kristen kepada jemaat dewasa merupakan usaha mendidik atau membelajarkan warga gereja dalam segala kelompok usia yang ada, tidak terkecuali kelompok usia dewasa. (2) signifikan pendidikan Kristen bagi orang dewasa merupakan salah satu bentuk upaya gereja dalam mendidik atau membelajarkan warganya adalah dengan adanya perencanaan program pembelajaran yang didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen bagi orang dewasa.  (3) Strategi pembelajaran pendidikan Kristen bagi Jemaat dewasa di gereja BEM Taman Tunku Miri, Malaysia adalah mengembangkan pembelajaran pendidikan Kristen bagi orang dewasa hendaknya memahami dan memiliki keterampilan berkenaan dengan prosedur desain sehingga demikian program pendidikan Kristen bagi orang dewasa menjadi lebih akomodatif dan efektif.
TANTANGAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KRISTEN UNTUK ANAK USIA DINI Areyne Christi
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.9

Abstract

Early childhood is the period beginning the most important and fundamental throughout the range of growth and development of human life. In early childhood, all children's potential is growing very fast. The facts found by the expert-ahlineurologi, stated that about 50% of the capacity of human intelligence has occurred when the age of 4 years and 80% had occurred when he was 8 years old. Growth functional nerve cells require a variety of educational situations that supports both the educational situation of families, communities and schools. Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa usia dini, semua potensi anak berkembang sangat cepat. Fakta yang ditemukan oleh ahli-ahlineurologi, menyatakan bahwa sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun dan 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun. Pertumbuhan fungsional sel-sel syaraf tersebut membutuhkan berbagai situasi pendidikan yang mendukung, baik situasi pendidikan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
DOA PUASA DI ANTARA KEPEMIMPINAN PENGGEMBALAAN, ROH KUDUS, DAN PERTUMBUHAN GEREJA Sewie Elia Huang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.29

Abstract

Abstract Fasting prayer has a very significant role for the growth of faith and congregation in the growth of the church because fasting prayer is their intimate relationship with God. The purpose of this paper answers the question: What is meant by fasting prayer? What is the relationship between fasting prayer and the Holy Spirit? What is the relationship between fasting prayer and shepherding leadership? What is the relation of fasting prayer in the growth of the Church? The research method uses descriptive literature research. The results of the study are: (1) fasting prayer is abstaining from all physical food for other bodies describing the consequences of fasting, namely: "suffering of the soul". (2) the relationship of fasting prayer with the Holy Spirit is fasting prayer which brings clarity of the way, the voice of the spirit, so that it will be sensitive to the voice of the Holy Spirit to provide guidance in obtaining spiritual and material victory as well. (3) the relationship of fasting prayer with the leadership of the shepherding is a servant of God who truly is a servant of God whose life of prayer is accompanied by fasting. (4) the relation of fasting prayer in the growth of the Church is the pastoral service can help realize the need for maturity and encourage growth in spirituality.AbstrakDoa puasa mempunyai peran yang sangatlah signifikan bagi pertumbuhan iman dan jemaatnya dalam pertumbuhan gereja karena doa puasa merupakan hubungan intim mereka dengan Allah. Tujuan penulisan ini menjawab pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan doa puasa? Bagaimanakah relasi doa puasa dengan Roh Kudus? Bagaimanakah relasi doa puasa dengan kepemimpinan pengembalaan? Bagaimanakah relasi doa puasa dalam pertumbuhan Gereja? Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif literature. Hasil penelitian adalah: (1) doa puasa adalah berpantang dengan semua makanan jasmani untuk tubuh yang lain menggambarkan akibat berpuasa, yaitu: “penderitaan jiwa”. (2) relasi doa puasa dengan Roh Kudus adalah doa puasa mendatangkan kejernihan jalan, akan suara roh, sehingga akan peka dengan suara Roh Kudus untuk memberikan bimbingan memperoleh kemenangan rohani dan materi juga. (3) relasi doa puasa dengan kepemimpinan pengembalaan adalah seorang hamba Tuhan yang sungguh sungguh adalah hamba Tuhan yang hidup doanya disertai puasa. (4) relasi doa puasa dalam pertumbuhan Gereja adalah pelayanan penggembalaan dapat menolong menyadari kebutuhan akan kedewasaan dan mendorong bertumbuh dalam kerohanian.
YESUS SEBAGAI MODEL GEMBALA SEJATI DAN RELASINYA TERHADAP GEMBALA SEBAGAI PENDIDIK Indro Puspito
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.56

Abstract

The need for quality leaders who are expected to be able to shepherd believers is enormous. This urgent need dates back to the very real work of the Holy Spirit in Acts. The problem that arises is: What is the meaning of the person of the Shepherd? How is the pastor's job as an educator who teaches the church? How is Jesus as a Model of the True Shepherd and his relationship to the Shepherd as an Educator? The answer: (1) The pastor of the church is someone whose job is to care for, care for, feed and who has a relationship with the people he serves. (2) The pastor's duties as education that teaches the church are: to feed, care for, and lead. (3) The image of Jesus as a model of the shepherd is used as a means of material for the teaching and learning process both for himself as an educator and for his congregation so that both the educator and the congregation can change according to the characteristics of the true shepherd, Jesus Christ. AbstrakKebutuhan akan pemimpin yang berkualitas dan  diharapkan mampu menggembalakan orang-orang percaya, begitu besar. Kebutuhan yang mendesak ini sudah dimulai sejak pekerjaan Roh Kudus yang begitu nyata dalam Kisah Para Rasul. Persoalannya yang timbul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pribadi Gembala? Bagaimanakah tugas gembala sebagai pendidik yang mengajar jemaat? Bagaimanakah Yesus sebagai Model Gembala Sejati dan relasinya terhadap Gembala sebagai Pendidik? Jawabnya: (1) Kepribadian Gembala jemaat adalah seseorang yang pekerjaannya menjaga, memelihara, memberi makan dan yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang dilayaninya.   (2) Tugas gembala sebagai pendidikan yang mengajar jemaat adalah: memberi makan, memelihara, dan memimpin. (3) Gambaran Yesus sebagai  model gembala digunakan sebagai sarana materi proses belajar mengajar baik terhadap dirinya sebagai pendidik  mapun terhadap jemaatnya agar baik pendidik maupun jemaat terjadi perubahan sesuai dengan karakteristik gembala sejati adalah Yesus Kristus.
Relasi antara Penginjilan dan Pemuridan untuk Pertumbuhan Gereja Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.18

Abstract

AbstraksiMisi dapat merelasikan penginjilan dan pemuridan sehingga mempunyai hubungan yang erat dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat diputuskan. Hal inilah yang juga berguna dan bermanfaat bagi pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja adalah penginjilan yang mencari untuk memuridkan di mana terjadi proses pemuridan yang utuh yang dapat dipilah dengan melihat aspek kualitatif, kuantitatif, organik dan fokus yang tidak terpisahkan satu dari yang lainnya.  Kata Kunci: misi, relasi, penginjilan, pemuridan, pertumbuhan gereja   AbstractThe mission can relate evangelism and discipleship so as to have a close relationship and a unity that can not be decided. This is also useful and beneficial to the growth of the church. The growth of evangelical churches are seeking to make disciples are in the process of discipleship intact that can be sorted by viewing aspects of qualitative, quantitative organic and focus inseparable from one another. Keywords: mission, relationship, evangelism, discipleship, church growth           

Page 2 of 12 | Total Record : 114