cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 114 Documents
MAKNA KEBANGKITAN YESUS BERDASARKAN SURAT-SURAT PAULUS Resa Junias; Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.51

Abstract

Abstract: Basically, Jesus was willing to offer himself to come down to earth to teach the gospel to every human being and was willing to be tortured, crucified, and died to atone for human sins. The purpose of this research is to answer the question: What does God want about His resurrection? How important is the resurrection of Jesus for the lives of believers? What effect will the resurrection of Jesus Christ have on the lives of believers? The answer was: (1) His bodily resurrection and eternity. Everything is possible because Christ, after He rose from the dead, did not die again, in other words, He lives and continues to live. The resurrection of Christ happened a transfer of power, Christ went from being ruled by death to being ruler over death. (2) Without the resurrection, Christian faith is not possible. His disciples are only symbols of defeat and destruction. Without the resurrection, Jesus' position as Messiah and King would be inexplicable. Without the resurrection, the outpouring of the Holy Spirit would leave an inexplicable mystery. Without the resurrection, the source of the disciples' testimony was lost. (3) The impact of the resurrection of Jesus Christ for the lives of believers is that as long as man is in God, whatever he does, all his efforts in God, will receive a reward or reward from God. Abstrak: Pada dasarnya Yesus rela mempersembahkan diri-Nya untuk turun ke bumi guna mengajarkan injil bagi setiap manusia dan rela disiksa, serta disalibkan, dan mati bagi menebus dosa manusia. Tujuan penelitian ini menjawab pertanyaan: Apakah yang Tuhan inginkan tentang kebangkitan-Nya? Bagaimana pentingnya kebangkitan Yesus untuk kehidupan orang percaya? Apa dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya? Jawabnya adalah: (1) Kebangkitan tubuhnya dan berlanjut dalam kekekalan. Semuanya dapat terjadi karena Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi, dengan kata lain, Ia hidup dan terus hidup. Kebangkitan Kristus terjadi peralihan kekuasaan, Kristus beralih dari dikuasai oleh maut menjadi penguasa atas maut. (2) Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak mungkin muncul. Murid-murid-Nya hanyalah simbol kekalahan dan kehancuran. Tanpa kebangkitan, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan terjelaskan.  Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus akan meninggalkan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian murid-murid hilang. (3) Dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya adalah  selama manusia ada di dalam Tuhan, apapun yang ia kerjakan, semua jerih payahnya dalam Tuhan, akan mendapat balasan atau upah dari Tuhan.
Kontekstualisasi Metodologi Misiologi Paulus dalam Dunia Kontemporer Yohanes Hasiholan Tampubolon
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.13

Abstract

Artikel ini akan menjelaskan mengenai kontekstualisasi metodologi dalam misiologi Paulus dalam dunia kontemporer. Metodologi Paulus tidak bisa dipisahkan dengan teologi Paulus. Oleh karena itu, dalam tulisan inipun akan membahas juga mengenai konsep teologis Paulus mengenai pembenaran, keselamatan, rekonsiliasi, dsb. Artikel akan dimulai dengan peristiwa di Damaskus ketika ia berjumpa dengan Kristus. Peristiwa tersebut menjadi awal panggilannya memberitakan Injil kabar baik kepada bangsa-bangsa lain. Memberitakan kabar baik oleh Paulus adalah memberitakan keselamatan dari dosa dan menjadi hidup. Kabar baik  dalam Misi Paulus tidak sebatas memberitakan Injil keselamatan, namun juga menghidupi Injil tersebut dalam keseharian. This article will explain the contextualization of methodology in Paul's missiology in the contemporary world. Paul's methodology can not be separated from Paul's theology. Therefore, this article will also discuss Paul's theological concepts of justification, salvation, reconciliation, etc. The article will begin with events in Damascus when he met Christ. The incident became the beginning of his call to preach the good news to other nations. Preaching the good news by Paul is preaching salvation from sin and come alive. Good news in Paul's mission is not limited to preaching the gospel of salvation, but also living the gospel in daily life.
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN MELALUI MODEL KURIKULUM YANG EFISIEN James Jimry
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v2i2.49

Abstract

Abstract: Learning is a relatively permanent change in behavior or potential behavior as a result of experience. Learning is the interaction between stimulus and response. These issues are very useful when reviewed as follows: What is the meaning of Learning and Teaching? What are the methods for improving the Quality of Learning and Teaching? How to Improve the Quality of Learning and Teaching through an Efficient Curriculum Model? The answers to the problems are: (1) the notion of learning and teaching is a different concept even though it is a process of change in the learning structure, which involves teachers, students and educational infrastructure. (2) methods to improve the quality of learning and teaching are to improve the quality are: communication of learning and teaching, collaboration, and developing various forms of learning. (3) improving the quality of learning and teaching through efficient curriculum models are: the Ralp W. Tyler curriculum model, the Hilda Taba curriculum model, the Peter Oliva curriculum model, or the Muray Print curriculum model.Abstrak: Belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar adalah interaksi antara stimulus dan respon. Persoalan-persoalan tersebut sangatlah berguna bila dikaji kembali sebagai berikut: Apakah pengertian Pembelajaran dan Pengajaran? Bagaimanakah kaedah-kaedah untuk meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran? Bagaimanakah Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran melalui Model Kurikulum yang Efisien? Jawaban persoalan adalah: (1) pengertian Pembelajaran dan Pengajaran merupakan suatu konsep yang berbeda meski menjadi proses perubahan dalam struktur belajar, yang melibatkan pengajar, pelajar, dan prasarana pendidikan. (2) kaedah-kaedah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran adalah dengan meningkatkan kualitas adalah: komunikasi pembelajaran dan pengajaran, kolaborasi, dan mengembangkan bentuk pembelajaran yang bervariasi. (3) meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran melalui model-model kurikulum yang efisien adalah: model kurikulum Ralp W.Tyler,  model kurikulum Hilda Taba, model kurikulum Peter Oliva, atau model kurikulum Muray Print.
Ekologi Penciptaan dalam Kejadian 1-3 sebagai Landasan Evaluasi Kritis terhadap Perilaku Ekologis Para Teolog Reformed Indonesia Masa Kini Agustina Pasang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i1.2

Abstract

Ecological (environmental) problems are the responsibility of all human beings, both personal and group, including the responsibilities of all religions or beliefs. Even so, it must be admitted that the topic of ecology and all its problems are lacking or not or even not getting attention as they should. Ecological topics tend to be distinguished, not or lacked attention by both churches and Christian theologians and reform theologians in particular with indications of a lack of Christian literature that addresses topics concerning ecology. There is no or lack of studies (seminars, lectures) on ecology both in the church environment, Christian institutions and theological colleges, besides that there is a misunderstanding which feels that ecology does not touch or come into contact with theology. This understanding appears in behavior that is not or less responsible for the environment (not friendly to the environment), for example by littering, spitting carelessly and so on.  Permasalahan ekologis (lingkungan) merupakan tanggung jawab semua manusia baik bersifat pribadi maupun kelompok, termasuk di dalamnya tanggung jawab semua agama atau aliran kepercayaan. Meskipun demikian harus diakui bahwa topik ekologi dan semua permasalahannya kurang atau belum atau bahkan tidak mendapat perhatian sebagaimana seharusnya. Topik ekologi cenderung dianaktirikan, tidak atau kurang mendapat perhatian baik oleh gereja-gereja maupun para teolog Kristen dan teolog reform pada khususnya dengan indikasi kurangnya literatur-literatur Kristen yang membahas topik mengenai ekologi. Tidak ada atau kurangnya kajian-kajian (seminar, ceramah) mengenai ekologi baik di lingkungan gereja, lembaga-lembaga Kristen dan Sekolah Tinggi Teologi, selain itu adanya salah pengertian (misunderstanding) yang merasa bahwa ekologi tidak bersinggungan atau bersentuhan dengan teologi. Pemahaman ini nampak dalam perilaku yang tidak atau kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan (tidak ramah terhadap lingkungan), misalnya dengan membuang sampah sembarangan, meludah sembarangan dan lain sebagainya.
CINTA LINGKUNGAN SEBAGAI IMPLEMENTASI NILAI KARAKTER RELIGIUS: SUATU PERSPEKTIF BERDASARKAN EFESUS 5:1-21 Dwi Indarti Hutami Dewi; Setiya Aji Sukma
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i1.25

Abstract

The world of education is increasingly confronted with various challenges that complicate and demand that education increasingly innovate in developing educational products. Research Objectives: What is the meaning of Environmental Care according to the Bible and experts? Does caring about the environment support the effectiveness of learning? What is the perspective of Ephesians 5: 1-21 regarding Environmental Care as an Implementation of Religious Character Values? The research method used is exposition and literature research. The results of the study are: (1) the meaning of caring for the environment is loving the dimensions of the space into which the learning activities take place, caring for the environment is everyone's obligation. This needs to be instilled in students to grow into a generation that can take part in preserving the natural environment and the social environment. (2) environmental care attitude (in family, school, and community) is realized through obedience in realizing environmental preservation efforts. Obedience must be based on love, because by loving, humans will automatically have a sense of caring. The environment as a container for the formation of a person's character. (3) Christ is the only example in terms of love, Christians must understand Christ for themselves, then apply the love of Christ to the environment, so as to create a healthy and loving environment in the world of Indonesian education..AbstrakDunia pendidikan semakin hari semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan yang mempersulit dan menuntut supaya pendidikan semakin berinovasi dalam mengembangkan produk pendidikan. Tujuan penelitian: Apakah makna Cinta Lingkungan menurut Alkitab dan para ahli?  Apakah sikap Cinta lingkungan menunjang efektifitas pembelajaran? Bagaimanakah perspektif Efesus 5:1-21 mengenai Cinta Lingkungan sebagai Implementasi Nilai Karakter Religius? Metode penelitian yang digunakan adalah eksposisi dan penelitian literature. Hasil penelitian adalah: (1) makna cinta lingkungan adalah mengasihi dimensi ruang yang menjadi tempat melakukan kegiatan pembelajaran, cinta lingkungan adalah kewajiban semua orang. Hal ini perlu ditanamkan kepada peserta didik agar bertumbuh menjadi generasi yang dapat ambil bagian dalam rangka melestarikan lingkungan alam maupun lingkungan pergaulan. (2) sikap cinta lingkungan (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) diwujudkan melalui ketaatan dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan. Ketaatan tersebut haruslah berdasarkan pada kasih, karena dengan mengasihi, manusia akan dengan otomatis memiliki rasa peduli. Lingkungan tersebut sebagai wadah pembentukan karakter seseorang. (3) Kristus adalah satu-satunya teladan dalam hal mengasihi, orang Kristen harus memahami Kristus atas diri masing-masing, lalu menerapkan kasih Kristus kepada lingkungan, agar tercipta lingkungan yang sehat dan penuh kasih di dunia pendidikan Indonesia.
KONSEP THEOSIS DALAM 2 PETRUS 1:4 DAN IMPLIKASINYA BAGI JEMAAT AWAM MASA KINI Pilipus Kuiyok Sajijilat; Hendi Wijaya
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.57

Abstract

AbstractThe concept of Theosis is an important teaching that must be known to believer in Christ, because Theosis is the ultimate goal of human life, which is united with God, and the central core of the joyous message of the gospel is that we are called to share in God's life. The method of writing this article is a type of conceptual article or thought-provoking article (not a research article) which is an analysis of thoughts on the problem phenomena that arise. By using exegesis methods and other text comparisons, Theosis is obtained when humans live in God. Living in God means loving one another, and living in the light, then becoming similar and in line with God and purifying ourselves of all the passions of the world. There is no human who can experience Theosis if he does not live in God, become like and in the image of Christ and purify himself from all the passions of the World. AbstrakKonsep Theosis merupakan satu pengajaran penting yang harus diketahui oleh setiap orang percaya kepada Kristus, karena Theosis merupakan tujuan akhir hidup manusia, yakni menyatu dengan Allah, dan inti utama berita sukacita dari Injil yaitu kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam hidup-Nya Allah. Metode penulisan artikel ini adalah jenis artikel konseptual atau artikel hasil pemikiran (bukan artikel hasil penelitian) merupakan analisa pemikiran terhadap fenomena-fenomena masalah yang muncul. Dengan menggunakan metode eksegesis dan komparasi teks lain, maka Theosis didapatkan ketika manusia tinggal di dalam Allah. Tinggal di dalam Allah berarti saling mengasihi, dan hidup di dalam terang, kemudian menjadi serupa dan segambar dengan Allah dan menyucikan diri dari segala nafsu dunia. Tidak ada manusia yang dapat mengalami Theosis kalau tidak tinggal di dalam Allah, menjadi serupa dan segambar dengan Kristus dan menyucikan diri dari segala hawa nafsu Dunia.
Spiritualitas William Carrey: Tantangan dan Solusinya Silci Arisanti
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.19

Abstract

Kata spiritualitas merupakan suatu kata yang bersifat universal karena bisa digunakan oleh semua agama karena spirtitualitas itu sendiri merupakan saripati religius yang ada dibalik ajaran atau aturan-aturan formal agama. Sebaliknya, dalam penghayatan spiritualitas, ajaran atau dogma atau doktrin suatu agama hanyalah menjadi pijakan semata sehingga dogma bukanlah merupakan hal terakhir, melainkan selanjutnya bagaimana seseorang dapat mengalami perjumpaan Yang Ilahi.
PENDIDIKAN KRISTEN DI ABAD ERA GLOBALISASI: STRATEGIC TEACHING AND LEARNING YANG BERORIENTASI KEPADA STUDENTS-CENTERED Rufina Leong
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.52

Abstract

Abstract: Learning strategies have the purpose of giving awareness to educators to increase their knowledge of technological development skills from the era of globalization. The question that arises: What is Christian Education? What are the effective Christian Education learning strategies? What are the challenges, constraints of implementing Christian Education, and how to overcome them? The answer is: (1) Christian education is a student-centered learning process based on elements of communication, collaborative, critical thinking, creativity, and the application of pure values and ethics. (2) Christian Education learning strategies can be done in accordance with the context of students in the classroom with the following rules: teachers determine the instructor learning process strategy, teachers give time and opportunity, teachers give clear instructions to students, teachers give trust and guidance to students and teachers give students the right to learn. (3) The challenges and constraints of implementing Christian Education and how to overcome it are: First, teachers (lecturers) need to be aware of the importance of diversifying teaching and learning methods to be in line with 21st century education in fulfilling their duties and responsibilities for students . Second, teachers should always be proactive, self-assessing, prepared, confident and take the initiative to strive to improve skills and produce effective teaching techniques that are able to attract students. Abstrak: Strategi pembelajaran mempunyai tujuan memberi kesadaran kepada warga pendidik meningkat pengetahuan keterampilan perkembangan tekonologipada era globalisasi. Persoalan yang timbul: Apa itu Pendidikan Kristen?  Bagaimanakah strategi pembelajaran Pendidikan Kristen yang efektif? Bagaimanakah cabaran, kekangan melaksanakan Pendidikan Kristen,  dan cara mengatasinya? Jawabnya adalah: (1) Pendidikan Kristen merupakn proses pembelajaran yang berpusatkan murid berteraskan elemen komunikasi, kolaboratif, pemikiran kritis, kreativiti, dan aplikasi nilai murni dan etika. (2) Strategi pembelajaran Pendidikan Kristen dapat dilakukan sesuai dengan konteks murid di kelas dengan kaidah-kaidah sebagai berikut: guru menentukan strategi proses belajar pengajar, guru beri masa dan peluang, guru memberikan arahan jelas kepada murid, guru memberi kepercayaan dan bimbingan kepada murid, dan guru memberikan hak murid untuk belajar.  (3) Cabaran dan kekangan melaksanakan Pendidikan Kristen  dan cara mengatasinya adalah: Pertama, guru-guru (pensyarah-pensyarah) perlu sadar akan kepentingan mempelbagaikan kaedah pengajaran dan pembelajaran agar selari dengan pendidikan abad ke-21 dalam menunaikan tugas dan tanggungjawab mereka demi kemenjadian murid. Kedua, guru harus sentiasa bersikap proaktif, menilai diri, bersedia, berkeyakinan dan mengambil inisiatif untuk berusaha meningkatkan kemahiran dan menghasilkan teknik pengajaran berkesan yang mampu menarik minat murid.
Makna Iman dalam Perjanjian Baru Alvin Budiman Kristian
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v3i2.14

Abstract

AbstractThis study aims to explain or explain about the meaning of faith in the New Testament starting from understanding, the meaning of faith in the New Testament, to the application of New Testament figures to be applied in everyday life. the terms faith and trust in the Bible often contain the following components of meaning: Believe and accept that something is true, rely on or entrust yourself, be faithful, and be obedient. Keywords: Faith, Believe, New Testament AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan atau menjabarkan tentang seputar makna iman dalam Perjanjian Baru mulai dari pengertian, makna iman dalam Perjanjian Baru, hingga aplikasi dari tokoh Perjanjian Baru untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengadung komponen-komponen makna sebagai berikut: Percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar, mengandalkan atau mempercayakan diri, setia, dan taat. Kata Kunci: Iman, Kepercayaan, Perjanjian Baru
KETERAMPILAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR MURID DI KELAS Darwis Laana; Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v2i2.47

Abstract

Abstract: One of the challenges in the teaching and learning process in the classroom is that students are less enthusiastic. The teacher's expectation during teaching in class is that all students can be enthusiastic and full of interest in learning. But in reality it is not like that, because not all teachers have the ability to solve the problems of students who are less enthusiastic. Therefore, the study of teacher skills in increasing student interest in learning is needed. The purpose of this study is to encourage teachers to add skills in carrying out their duties so that students learn more seriously. The author uses a qualitative descriptive method, namely explaining the terms used in the title of the article based on related sources. The important point of the results in this study is that teachers must have the skills to manage the classroom well. The teacher must master the skills from opening to closing class. The teacher must have skills in asking, explaining, giving reinforcement, and also in making deep variations. These classroom management skills have a big influence on students' attention to learning.Abstrak: Salah satu tantangan dalam proses belajar mengajar di kelas ialah murid kurang antusias. Harapan guru selama mengajar di kelas adalah semua murid dapat antusias dan penuh minat belajar yang tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak seperti itu, sebab tidak semua guru memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah murid yang kurang antusias. Maka itu kajian tentang keterampilan guru dalam meningkatkan minat murid untuk belajar sangat dibutuhkan. Tujuan dari kajian ini untuk mendorong guru menambah keterampilan dalam melaksanakan tugasnya sehingga murid belajar dengan lebih serius. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan istilah-istilah yang digunakan pada judul tulisan berdasarkan sumber yang berkaitan. Poin penting hasil dalam kajian ini adalah guru harus memiliki ketrampilan untuk mengelola kelas dengan baik. Guru harus menguasai keterampilan untuk memulai pembukaan sampai pada menutup kelas. Guru harus memiliki keterampilan dalam bertanya, menjelaskan, memberi penguatan, dan juga dalam membuat variasi dalam. Keterampilan dalam pengelolaan kelas ini berpengaruh besar terhadap perhatian murid untuk belajar.

Page 3 of 12 | Total Record : 114