cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 114 Documents
PENGINJILAN TERHADAP MASYARAKAT PLURAL BERDASARKAN SURAT EFESUS Erna Ngala; Veydy Yanto Mangantibe
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.58

Abstract

This article discusses evangelism to plural societies based on the epistle of ephesians. Evangelism is god’s program, design and work that bring for himself, people to fellowship, worship / praise and serve him in wholeness and harmony. Evangelism is established by god from eternity, because all things are designed by god from eternity in his omniscience and power in evangelism (eph. 1: 4-14). God wants his people to have fellowship with him, become his worshipers and serve him, the true god. The challenge in evangelism is that every religion is different, all religions have objects that are worshiped, therefore it will not be possible to be completely equated between one religion and another. Plural society equates christian faith with other beliefs by looking for loopholes to align christianity with other religions. The duty of the believer is to preach the gospel so that unbelievers hear and believe in the lord jesus and are saved, not compromising the gospel or juxtaposing christian faith with other beliefs. Keywords: Evangelism; Plural Society; Ephesians Letter  AbstrakArtikel ini membahasa mengenai penginjilan terhadap masyarakat plural berdasarkan surat Efesus. Penginjilan merupakan program, rancangan dan karya Allah yang membawa bagi diriNya sendiri suatu umat untuk bersekutu, menyembah/memuji dan melayani Dia dalam keutuhan dan keserasian. Penginjilan ditetapkan Allah sejak kekekalan, sebab segala sesuatu dirancang Allah dari kekal dalam kemahatahuanNya dan kuasaNya didalam penginjilan (Ef.  1:4-14). Allah menghendaki agar umatNya bersekutu dengan Dia, menjadi penyembahNya dan melayani Dia, Allah yang benar. Tantangan dalam penginjilan adalah setiap agama berbeda, semua agama memiliki objek yang disembah, oleh sebab itu tidak akan mungkin dapat disamakan secara keseluruhannya antara agama satu dengan yang lain. Masyarakat plural, menyamakan iman Kristen dengan kepercayaan lain dengan mencari celah untuk dapat menjajarkan kekristenan dengan keagamaan lain. Tugas dari orang percaya ialah memberitakan Injil agar orang-orang yang belum percaya mendengar dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus serta diselamatkan, bukan mengkompromikan Injil atau menjajarkan iman Kristen dengan kepercayaan lain. Kata Kunci: Penginjilan; Masyarakat Plural; Surat Efesus
KONSELING ANAK BERDASARKAN MATIUS 18: 10 DAN RELEVANSINYA UNTUK MENINGKATKAN SPIRITUAL ANAK SEKOLAH MINGGU Yuhana Yunus
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.68

Abstract

One of the church's tasks is the maintenance of the congregation, among others through counseling ministry, however, the counseling referred to here is not only carried out for adults but also for children or Sunday school children who are the forerunners or the next generation of the church. That means the church, servants of God, elders, councils, teachers and parents should be involved in this ministry. Counseling is a reciprocal relationship between two individuals, namely the counselor and the counselee (the person being served/guided) who need understanding to overcome the problems faced by the client. The research method that the author uses is a descriptive writing method with a literature review approach and field data collection through interviews. Conclusion: child counseling based on Matthew 18:10 and its relevance to spiritually Sunday school children improvement are priorities, that children are precious in the eyes of God because they should not be despised, humiliated or even neglected, second, angels care about children, third, children's guidance that centered to the father.salah satu tugas gereja ialah pemeliharaan terhadap jemaat antara lain melalui pelayanan konseling, namun demikian konseling yang dimaksudkan disini bukan hanya dilakukan terhadap orang dewasa tetapi juga terhadap anak atau anak Sekolah Minggu yang merupakan cikal bakal atau generasi penerus dari gereja tersebut. Itu berarti gereja, hamba Tuhan, penatua, majelis, guru maupun orang tua hendaknya terlibat dalam pelayanan ini. Konseling adalah hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor dan konsele (orang yang dilayani/dibimbing) yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh klien. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode penulisan deskriptif pendekatan kajian literatur dan pengumpulan data lapangan melalui wawancara. Kesimpulan: konseling anak berdasarkan Matius 18:10 dan relevansinya untuk meningkatkan spiritual anak sekolah minggu adalah: pertama, bahwa anak berharga di mata Tuhan karena itu tidak boleh direndahkan, dihina bahkan diabaikan, kedua, malaikat-malaikat memperdulikan Anak-anak, ketiga, bimbingan Anak berpusat kepada Bapa.
STRATEGI PELAYANAN GEMBALA SIDANG DALAM PEMBINAAN WARGA GEREJA BAGI KEDEWASAAN ROHANI JEMAAT Hisikia gulo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.60

Abstract

Pembinaan warga gereja merupakan tanggung jawab penuh gembala sidang sebagai pemimpin rohani bagi jemaat Tuhan. Tugas dan tanggung jawab dalam rangka menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman para gembala sidang dalam menjalankan tugas penggembalaannya sebagai pembimbing bagi kedewasaan rohani jemaat sehingga warga jemaat semakin segambar dan serupa Yesus Kristus. Metode penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala sidang dan warga gereja berjalan bersamaan atau sinergi dalam membimbing, mengarahkan, menuntun dan merawat dalam konteks bertumbuh bersama-sama di dalam Yesus Kristus dengan penuh kerendahan hati dari seorang pemimpin rohani, atau karakter penggembalaan seperti yang Yesus berikan teladan sejati.
DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK REMAJA MASA KINI Belinda Mau; Jenny Gabriela
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.70

Abstract

Penggunaan gadget selalu berdampak pada perkembangan tinggkah laku anak, karena gagjed memiliki berbagai fitur dan aplikasi yang menarik, bervariasi, dan feksibel sehingga dapat menambah daya Tarik bagi setiap orang, khususnya dikalangan anak-anak sekarang ini gadjed dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan tingkah laku anak. Perkembangan tingkah laku anak berupaya pada psikologi dimana akibat bermain gadgej anak menjadi mudah marah, suka membangkang, malas belajar, dan bisa menirukan tingkah laku didalam gegjed. Anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif dimana banyak produk-produk elktronik dan Gadget yang menjadikan anak-anak sebagai pasar mereka. “ Apalagi jaman sekarang anak-anak, orang tua pun ada yang sangat menyukai gadget sampai disebut gadget freak.Gadget diharapkan memberikan manfaat bagi para penggunanya, dimana para penggunanya harus mampu mengoperasikan gadget dengan baik, mengetahui fungsi gadget, dan mengetahui manfaat dari aplikasi gadget.The use of gadgets always has an impact on the development of children's behavior, because gagjed has various interesting, varied, and flexible features and applications so that it can add attractiveness to everyone, especially among children, nowadays gadjed can have a negative impact on the development of children's behavior The development of children's behavior seeks to psychology where due to playing Gadgej children become irritable, disobedient, lazy to learn, and can mimic behavior in gegjed. Children have now become active consumers where many electronic products and gadgets make children their market. "Moreover, not children, parents are also very helpful gadgets to the point of being called gadget freak Gadget. It is hoped that it will provide benefits for its users, where users must be able to operate gadgets properly, see gadget functions, and see the benefits of gadget applications.
SINERGI ANTARA KELUARGA, SEKOLAH, DAN GEREJA MENJADIKAN RUMAH TANGGA SEBAGAI PUSAT PAK ANAK DI MASA PANDEMI COVID-19 Thomson Siallagan
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.62

Abstract

Abstract:The rapid spread of the Covid-19 pandemic has caused disruption to the Indonesian education sector where around 45 million students are unable to continue their learning activities at school. Changes in education patterns during the pandemic are very large and have important implications for education policy and implementation. During the pandemic, the house became a center for children's learning activities, including Christian religious education. The problem-solving in this article is carried out through library research by discussing several major parts, namely the importance of schools, churches, and families in synergy; the biblical basis of the family as the center of Christian religious education; the challenge of making the family the center of Christian religious education, strategies to develop synergies between schools, churches, and families to make the household the center of Christian religious education for children.Abstrak:Penyebaran pandemi Covid-19 yang cepat telah menyebabkan gangguan pada sektor pendidikan Indonesia di mana sekitar 45 juta siswa tidak dapat melanjutkan kegiatan belajar mereka di sekolah, Perubahan pola pendidikan di masa pandemi sangat besar dan memiliki implikasi penting bagi kebijakan dan pelaksanaan pendidikan. Di masa pandemi, rumah menjadi pusat kegiatan belajar anak, termasuk pendidikan agama Kristen. Pemecahan masalah pada artikel ini dilakukan melalui library research dengan membahas beberapa beberapa bagian besar yaitu pentingnya sekolah, gereja, dan keluarga bersinergi; dasar biblika keluarga sebagai pusat pendidikan agama kristen; tantangan menjadikan keluarga sebagai pusat pendidikan agama kristen, strategi mengembangkan sinergi antara sekolah, gereja dan keluarga menjadikan rumah tangga sebagai pusat pendidikan agama kristen untuk anak
TEOLOGI “PUASA” DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN, PSIKOLOGIS DAN SPIRITUAL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MANUSIA HIDUP GP Harianto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.82

Abstract

Fasting is not for pleasure, intoxication, fattening the body or beautifying oneself, but eliminating feelings of hunger so that they can live in peace. The question that arises is: What is Fasting in Health Growth? What is Fasting Psychologically? What is Fasting Spiritually? How can Theology of Fasting in Health, Psychological and Spiritual Perspectives Improve the Basic Quality of Human Life? This research method uses qualitative through literature study with content analysis approach. The results of the study: (1) Fasting in health means that a person trains himself to have an awareness of increasing his body to be healthy and away from all diseases. (2) Fasting psychologically means that a person trains himself to be able to control himself from all matters or situations encountered so that he has a wise reaction in making all decisions. (3) Fasting spiritually means a person trains himself to live more focused only on Allah. He had constant encounter with God by fasting, praying, and reading the Bible. (4) Theology of Fasting forms holistic thinking about the fasting paradigm from a health, psychological and spiritual perspective into a single entity that cannot be separated. Health, psychology and spiritual growth are the meaning of fasting theology: success on earth and success in heaven.Puasa bukan bukan untuk kesenangan, memabukkan, menggemukkan badan atau memperindah diri, tetapi menghilangkan perasaan lapar  sehingga dapat hidup dengan tentram. Persoalan yang muncul adalah: Apakah Puasa secara Pertumbuhan Kesehatan?  Apakah Puasa secara Psikologis? Apakah Puasa secara Spiritual? Bagaimanakah Teologi “Puasa” dalam Perspektif Kesehatan, Psikologis dan Spiritual dapat Meningkatkan Kualitas Dasar Manusia Hidup? Metode penelitian in menggunakan kualitatif melalui studi pustaka dengan pendekatan analisis isi. Hasil penelitian: (1) Puasa secara kesehatan berarti seseorang melatih diri sendiri untuk mempunyai kesadaran  meningkatkan tubuhnya menjadi sehat dan jauh dari segala penyakit. (2) Puasa secara psikologi berarti seseorang melatih diri sendiri untuk mampu mengotrol diri dari segala perkara atau situasi yang dihadapi sehingga ia mempunyai reaksi yang bijak dalam mengambil segala keputusan. (3) Puasa secara spiritual berarti seseorang melatih diri sendiri semakin  hidup fokus hanya kepada Allah. Ia mengadakan perjumpan terus-menerus dengan Allah dengan cara berpuasa, berdoa, dan membaca Alkitab. (4) Teologi “Puasa” membentuk berpikir secara holistik tentang paradigma puasa dalam perspektif kesehatan, psikologis dan spiritual menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pertumbuhan kesehatan, psikologi dan spiritual adalah makna dari teologi puasa: berhasil di dunia dan berhasil di surga.  
STUDI BERPIKIR SECARA LEADER TENTANG KUALITAS TINGKAT PELAYANAN TERHADAP SPIRITUALITAS KAUM MUDA Sodiniat Waruwu; Jenny Gabriela
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.83

Abstract

Youth ministry today is a ministry that has very different challenges and struggles than youth ministry in previous decades. Young people are expected to be able to contribute to the church to carry out the mentoring process in the church because they are able to give influence in the process of change and development of faith. The method used is descriptive analysis, to get a clear picture of the study of thinking leaders about the quality of service levels for the spirituality of young people. The research objectives are: 1). quality Quality of Service in the Church? Service quality is being able to serve others to become a 'whole human being' by empowering others to rise from their weaknesses. 2). What is the Role of Youth in Ministry? The role of the youth is to serve in church service activities, become agents of moving the growing body of Christ, become future successors of the church, become witnesses of Christ 3). installed Building Youth Spirituality in the Church? Youth spirituality is young people who understand and feel the presence of God in their lives.Pelayanan Kaum Muda pada masa kini merupakan pelayanan yang memiliki tantangan dan pergumulan yang amat berbeda dibandingkan pelayanan kaum muda dalam dekade sebelumnya. Kaum muda diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk melaksanakan proses pendampingan di gereja karena mereka mampu memberikan pengaruh dalam proses perubahan dan pengembangan iman di gereja. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang Studi berfikir secara leader tentang kualitas tingkat pelayanan terhadap spritualitas kaum muda. Tujuan penelitiannya yaitu: 1). Bagaimanakah kualitas tingkat pelayanan dalam gereja? Kualitias pelayanan adalah mampu melayani orang lain agar menjadi ‘manusia utuh’ dengan cara memberdayakan orang lain supaya bisa bangkit dari kelemahannya. 2). Apakah peran kaum muda dalam pelayanan? Peran kaum mudah adalah melayani dalam kegiatan pelayanan gereja, menjadi agen penggerak tubuh kristus yang bertumbuh, menjadi penerus masa depan gereja, menjadi saksi kristus 3). Bagaimanakah membangun spiritualitas kaum muda di gereja? Spiritualitas kaum muda adalah kaum muda yang memahami dan merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. 
MODERASI BERAGAMA DALAM BINGKAI KONSTITUSI NEGARA Falentin Rambu Mbitu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.85

Abstract

Conflicts between religious communities in Indonesia are not only experienced by the majority and minorities but also the majority with the majority. The purpose of the article answers the question: What is a State Constitution? How to Explore Historical, Sociological and Political Sources on the Constitution in State Life? How is religious moderation in the framework of the state constitution? The answers are: (1) The state constitution is a state government organization that has various forms and structural complexity, there is also a political or legal constitution but it also contains the meaning of an economic constitution. (2) The state constitutional institutions are: the People's Consultative Assembly (MPR), the People's Representative Council (DPR), the Regional Representatives Council (DPD), the President/Vice President, the Supreme Court, the Constitutional Court, the Judicial Commission, and the Supreme Audit. (3) Religious moderation is the frame of item 3 of the Pancasila “Unity of Indonesia”, in which President Joko Widodo to the Minister of Religion emphasizes the importance of the state (state constitution) implementing religious moderation because it strengthens national unity. Religious moderation can improve: national character, tolerance and national harmony, quality of education, and quality of leadership.Konflik masyarakat beragama di Indonesia bukan saja dialami oleh mayoritas dan minoritas tetapi mayoritas dengan mayoritas pun berlangsung. Tujuan artikel menjawab pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Konstitusi Negara?  Bagaimanakah Menggali Sumber Historis, Sosiologis dan Politik tentang Konstitusi dalam Kehidupan Bernegara?  Bagaimanakah moderasi beragama dalam bingkai konstitusi negara? Jawab adalah:  (1) Konstitusi negara adalah organisasi pemerintahan negara yang terdapat beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya, terdapat pula konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi.  (2) Lembaga konstitusi negara adalah:  Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD),  Presiden/Wakil Presiden, Mahkamah Agung,  Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan   Pemeriksa Keuangan. (3) Moderasi beragama menjadi bingkai butir 3 Pancasila “Persatuan Indonesia”, di mana Presiden Joko Widodo hingga Menteria Agama, menegaskan betapa pentingnya negara  (konstitusi negara) melaksanakan moderasi beragama karena hal tersebut memperkuat persatuan bangsa. Moderasi beragama dapat meningkatkan: karakter bangsa, toleransi dan kerukunan bangsa, kualitas pendidikan, dan kualitas kepemimpinan.
FUNGSI MANAJERIAL GEMBALA SIDANG DALAM MEMPERLENGKAPI PELAYANAN JEMAAT LOKAL Paulus Kunto Baskoro; Yonatan Alex Arifianto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.71

Abstract

Abstract: The pastor has a very important function in a local church. The leadership strength of the Pastor is one of the determinants of the progress of the local church. Although it is undeniable, the work of the Holy Spirit is more than anything that makes the church grow. This becomes a special reflection, how each Pastor can carry out his leadership function to the fullest and bring God's church more and more forward and develop. Especially, how the Pastor performs his function to organize and equip the local congregation in serving. Because there are many congregations who are not maximal in their ministry because the managerial function of the Pastor is not yet maximized in the local church. Using the qualitative descriptive method, it can be concluded that the managerial function of the pastor is First, the pastor understands his managerial function well; Second, local congregations can experience an increase in the quality of service according to their gifts; Third, the church is experiencing growth in quality and quantity. Abstrak: Gembala sidang memiliki fungsi sangat penting dalam sebuah gereja lokal. Kekuatan kepemimpinan Gembala Sidang menjadi salah satu penentu kemajuan gereja lokal. Meskipun tidak bisa dipungkiri, karya Roh Kudus melebihi segalanya yang membuat gereja bertumbuh. Hal ini menjadi sebuah perenungan khusus, bagaimana setiap Gembala Sidang dapat menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan maksimal dan membawa gereja Tuhan makin maju dan berkembang. Terutama, bagaimana Gembala Sidang melaksanakan fungsinya untuk mengatur dan memperlengkapi jemaat lokal dalam melayani. Sebab banyak dijumpai, jemaat yang tidak terlalu maksimal dalam pelayanan karena fungsi manajerial Gembala Sidang yang belum maksimal dalam gereja lokal. Menggunkan metode deskritif kualitatif  dapat disimpulkan bahwa fungsi managerial gembala adalah Pertama, gembala sidang memahami fungsi manajerialnya dengan baik; Kedua, jemaat lokal dapat mengalami peningkatan kualitas dalam pelayanan yang sesuai karunianya; Ketiga, gereja mengalami pertumbuhan secara kualitas dan kwantitas.
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA SEBAGAI SARANA EFEKTIF DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER JEMAAT TUHAN Urbanus Sukri
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.86

Abstract

The congregation of God or the Church are people who are called out of this world into fellowship with Christ. The main vision of God's church present in the world is to be like Christ (Rom. 8:29; Gal. 4:19). To be like Christ, God's church must have the character of Christ in itself. The character of Christ is love, that is, love for God and neighbor. The efforts of church leaders so that the congregation has the character of Christ is by way of formation. There are many kinds and varieties of congregational building, including learning Christian Religious Education. Christian Religious Education is a modern term for discipleship that has been carried out by the servants of God in the Old Testament and preserved by the Lord Jesus in the New Testament. In the Bible, it has been proven that discipleship or Christian Religious Education has produced God's servants with character (loving God and others) in their day. It is concluded that the implementation of Christian Religious Education learning is the most effective development in shaping the character of Christ in the church of God in this modern era.Jemaat Tuhan atau Gereja adalah orang orang yang dipanggil keluar dari dunia ini masuk kedalam persekutuan bersama Kristus. Visi utama jemaat Tuhan hadir didunia adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rm. 8:29; Gal.4:19). Untuk menjadi serupa dengan Kristus, jemaat Tuhan harus mempunyai karakter Kristus dalam dirinya.  Karakter Kristus adalah kasih, yaitu kasih terhadap Allah dan sesama. Usaha para pemimpin jemaat agar para jemaat mempunyai karakter Kristus adalah dengan jalan pembinaan.  Banyak macam dan ragam tentang pembinaan jemaat, diantaranya adalah pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen adalah istilah modern untuk pemuridan yang telah dilaksanakan oleh para hamba Allah di Perjanjian Lama dan dilestarikan oleh Tuhan Yesus di Perjanjian Baru. Didalam Alkitab, sudah terbukti bahwa pemuridan atau Pendidikan Agama Kristen telah menghasilkan para hamba Tuhan berkarakter (mengasihi Tuhan dan sesamanya) pada zamannya. Maka disimpulkan bahwa pelaksanan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah pembinaan yang paling efektif dalam pembentukan karakter Kristus jemaat Tuhan pada zaman modern ini.

Page 5 of 12 | Total Record : 114