cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
+6281330719928
Journal Mail Official
jurnalsophia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Makale-Makassar Km. 11,5 Mengkendek, Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27228851     EISSN : 2722886X     DOI : https://doi.org/10.34307
Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Sophia merupakan hasil penelitian dari Mahasiswa, Alumni, Dosen & Para Peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin berkontribusi di dalamnya. Tim editor akan menyeleksi artikel sebelum menyerahkannya kepada Peer Reviewer atau Mitra Bestari untuk dinilai kelayakannya, sebelum diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Sophia: Manajemen Pendidikan Kristen Teologi Biblika Injil & Kebudayaan / Teologi Kontekstual Agama & Masyarakat Teologi Praktika Studi Agama
Articles 61 Documents
Artificial Intelligence dan Metode Penelitian: Pemanfaatan ChatGPT Untuk Merancang Instrumen Penelitian Pendidikan Agama Kristen Serdianus, Serdianus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.324

Abstract

The rapid advancement of text-based generative artificial intelligence technology has led to notable progress in AI development, among which ChatGPT stands out prominently. This article proposes using AI ChatGPT to craft research instruments for students and novice researchers. This proposal stems from the identified issue of student's limited proficiency in constructing appropriate research instruments. Employing a descriptive qualitative approach based on literature research and experimentation, this article demonstrates the benefits of ChatGPT in creating research instruments through the following steps: (1) Exploring AI-related references, (2) Processing and citing relevant references, (3) Utilizing ChatGPT to develop research instruments, (4) Analyzing the strengths and limitations of using ChatGPT in crafting research instruments, and (5) Concluding. The findings indicate that employing ChatGPT for instrument development is highly effective, efficient, and closely linked to user-provided directives. Nonetheless, the research instruments generated still require adjustments to meet the specific data needs within research endeavors. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan berbasis teks generatif semakin pesat. Salah satu kecerdasan buatan yang sangat berkembang adalah ChatGPT. Artikel ini bertujuan untuk mengusulkan pemanfaatan AI ChatGPT dalam menyusun instrumen penelitian bagi kalangan mahasiswa dan peneliti awam. Usulan ini didasarkan pada masalah keterbatasan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen dalam menyusun instrumen penelitian yang efektif dan tepat. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis penelitian literatur dan eksperimen, artikel ini menunjukkan manfaat ChatGPT dalam menyusun instrumen penelitian dengan langkah-langkah: pertama, menelusuri referensi terkait AI; kedua, mengolah dan mengutip referensi yang relevan; ketiga, menggunakan ChatGPT untuk menyusun instrumen penelitian; keempat, menganalisis kelebihan dan kekurangan penggunaan ChatGPT untuk menyusun instrumen penelitian; dan kelima, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT dalam penyusunan instrumen sangat efektif dan efisien. Hal ini terkait erat dengan kalimat perintah yang diberikan oleh pengguna. Meskipun demikian, instrumen penelitian yang dihasilkan masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan data dalam penelitian.
Misi Gereja Melawan Etika Antroposentrisme Terhadap Kerusakan Ekologi Melalui Paradigma Keugaharian Jimmi Pindan Pute
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.250

Abstract

The research aims to find a model that can be carried out by the church as a form of mission service against forms of anthropocentrism towards ecology through a daily perspective. In developing the research results, the author used several theories and also the results of research that had been carried out by several previous authors. Such as research conducted by Yornan Mosimbawo, Yusup Rugo Yuono, and Bayu Kaesarea Ginting, as well as Thomas Aquinas' views on happiness. Some of this research tries to break through human behavior that exploits nature rudely, immorally, and only for the sake of their self-satisfaction without caring about the impacts it causes. This research uses qualitative methods using a descriptive approach to describe the reality that actually occurs in society. Qualitative methods are developed through trusted literature such as books, articles/journals and relevant internet sources. The results of this research are that the church must implement several models that can build a daily attitude and eliminate anthropocentrism towards nature/the environment. These models are; the church must be friendly with nature, the church must fight against forms of consumerism, and the church needs to form communities and empower those communities.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model yang dapat dilakukan oleh gereja sebagai bentuk pelayanan misi melawan bentuk antroposentrisme terhadap ekologi melalui perspektif keugaharian. Dalam mengembangkan hasil penelitian tersebut, penulis menggunakan beberapa teori dan juga hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa penulis sebelumnya, salah satu diantaranya adalah pandangan dari Thomas Aquinas tentang kebahagiaan. Beberapa penelitian tersebut mencoba menerobos perilaku manusia yang mengeksploitasi alam secara kasar, tidak bermoral, dan hanya untuk kepentingan kepuasan diri mereka tanpa memperdulikan dampak yang ditimbulkannya tawaran yang diberikan dalam teori tersebut adalah tentang perspektif keugaharian. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Metode kualitatif dikembangkan lewat literatur-literatur terpercaya seperti buku, artikel/jurnal dan sumber-sumber internet yang relevan. Hasil penelitian tersebut adalah bahwa gereja harus melakukan beberapa model yang dapat membangun sikap keugaharian dan menghilangkan sikap antroposentrisme terhadap alam/lingkungan. Model-model tersebut adalah; gereja harus bersahabat dengan alam, gereja harus melawan bentuk konsumerisme, dan gereja perlu membentuk komunitas dan memberdayakan komunitas tersebut.
Feminisme dan Teologi: Perubahan Paradigma Dalam Pendidikan Agama Kristen Oktavianus Rangga; Nelcy Mbelanggedo
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.308

Abstract

In Christian Religious Education (CRE), the relationship between feminism and theology has triggered a significant paradigm shift, particularly in reexamining the structure of knowledge that has been shaped by a patriarchal perspective. Through a critical hermeneutic approach and literature review, this study reveals how feminist theology challenges gender bias in biblical interpretation and opens up space for women's experiences as legitimate epistemological sources. This transformation has implications for the reconstruction of a more gender-responsive CRE curriculum, including the use of inclusive language, representation of female biblical figures, and dialogic learning strategies that foster critical awareness. However, the integration of a feminist perspective into religious pedagogy positions students as active subjects in the process of just and equal faith formation. The results of this study confirm that the renewal of CRE is not limited to the addition of gender issues, but rather a profound theological-pedagogical reconstruction to build an education that is more inclusive, liberating, and aligned with the values ​​of equality and human dignity in the Christian faith.Dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), relasi antara feminisme dan teologi telah memicu perubahan paradigma yang signifikan, terutama dalam meninjau ulang struktur pengetahuan yang selama ini dibentuk oleh perspektif patriarkal. Melalui pendekatan hermeneutika kritis dan studi pustaka, kajian ini mengungkap bagaimana teologi feminis menantang bias gender dalam penafsiran Alkitab serta membuka ruang bagi pengalaman perempuan sebagai sumber epistemologis yang sah. Transformasi ini berimplikasi pada rekonstruksi kurikulum PAK yang lebih responsif gender, mencakup penggunaan bahasa inklusif, representasi tokoh perempuan Alkitab, dan strategi pembelajaran dialogis yang mendorong kesadaran kritis. Namun, integrasi perspektif feminis dalam pedagogi agama menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembentukan iman yang adil dan setara. Hasil kajian ini menegaskan bahwa pembaruan PAK tidak sebatas penambahan isu gender, tetapi merupakan rekonstruksi teologis-pedagogis yang mendalam demi membangun pendidikan yang lebih inklusif, membebaskan, dan selaras dengan nilai kesetaraan serta martabat manusia dalam iman Kristen.
Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi: Teologi, Inklusi, dan Keadilan Rion Androfen Silitonga
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.319

Abstract

Disability is a complex phenomenon that involves various aspects of life, including physical, cognitive, and psychiatric. From a Christian theological perspective, disability is often viewed through a challenging lens, either as a test, a suffering, or a symbol of sin. However, this understanding often ignores the dignity and rights of people with disabilities as creatures made in the image of God (Imago Dei). Through theological thinking such as that promoted by Augustine and Jurgen Moltmann, disability can be understood as part of God's greater plan, which demands recognition, respect, and proper care. Inclusive theology, as reflected in 1 Corinthians 12, emphasizes the active role of every member of the body of Christ, including people with disabilities, in the community of faith. The social stigma of disability, both physical and mental, is a major obstacle to social inclusion, but through a deeper understanding of Imago Dei and Imago Christi, churches and communities can create more inclusive and loving spaces for people with disabilities.Disabilitas merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk fisik, kognitif, dan psikiatris. Dalam perspektif teologi Kristen, disabilitas sering dipandang melalui lensa yang penuh tantangan, baik sebagai ujian, penderitaan, maupun simbol dosa. Namun, pemahaman ini sering kali mengabaikan martabat dan hak-hak penyandang disabilitas sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei). Melalui pemikiran teologis seperti yang diusung oleh Agustinus dan Jurgen Moltmann, disabilitas dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, yang menuntut pengakuan, penghormatan, dan perawatan yang layak. Teologi inklusif, seperti yang tercermin dalam 1 Korintus 12, menekankan peran aktif setiap anggota tubuh Kristus, termasuk penyandang disabilitas, dalam komunitas iman. Stigma sosial terhadap disabilitas, baik fisik maupun mental menjadi hambatan besar bagi inklusi sosial, namun melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang Imago Dei dan Imago Christi, gereja dan masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh kasih bagi penyandang disabilitas.
Transformasi Sosial dan Peran Tokoh Alkitab: Refleksi Kontekstual Nehemia 2 dalam Kerangka Model Praksis Samuel Abdi Hu; Javerson Simamora; Edward Arief Hidayat
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.334

Abstract

Social transformation is a complex process involving fundamental changes in the social, cultural, and normative structures of society. In this context, effective leadership is key to driving positive and sustainable change. This study explores Nehemiah’s role as a symbol of social transformation through approaches of leadership, collaboration, and community participation. This qualitative case study analyzes Nehemiah’s strategy in rebuilding the walls of Jerusalem while revitalizing the identity of the Israeli community. The results show that Nehemiah’s success lay not only in physical reconstruction but also in strengthening the collective spirit through the community’s in-depth observation of the situation, resource mobilization, and active community collaboration. This approach integrates values of social justice, spirituality, and community empowerment, which are relevant to address modern social challenges such as injustice and poverty. The study recommends that today’s leaders adopt a values-based approach that prioritizes thorough situational analysis, active participation, and sustainable social transformation strategies so that Nehemiah’s historical experience can inspire effective and meaningful social change. Transformasi sosial adalah proses kompleks yang melibatkan perubahan Transformasi sosial adalah proses kompleks yang melibatkan perubahan mendasar dalam struktur sosial, budaya, dan norma masyarakat. Dalam konteks ini, kepemimpinan yang efektif menjadi kunci untuk mendorong perubahan positif dan berkelanjutan. Penelitian ini mengeksplorasi peran Nehemia sebagai simbol transformasi sosial melalui pendekatan kepemimpinan, kolaborasi, dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan kajian kasus untuk menganalisis strategi Nehemia dalam membangun kembali tembok Yerusalem sekaligus merevitalisasi identitas komunitas Israel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Nehemia tidak hanya terletak pada rekonstruksi fisik tetapi juga pada penguatan semangat kolektif, melalui observasi mendalam masyarakat terhadap situasi, mobilisasi sumber daya, dan kolaborasi aktif masyarakat. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai keadilan sosial, spiritualitas, dan pemberdayaan komunitas, yang relevan untuk diterapkan dalam menghadapi tantangan sosial modern seperti ketidakadilan dan kemiskinan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemimpin masa kini mengadopsi pendekatan berbasis nilai yang mengutamakan analisis situasi secara menyeluruh, partisipasi aktif, dan strategi transformasi masyarakat yang berkelanjutan, sehingga pengalaman historis dari Nehemia dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan perubahan sosial yang efektif dan bermakna.  
Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 dari Perspektif Kepemimpinan dan Implikasinya dalam Pelayanan Misi Fandy Mulya Latif; Samuel Herman
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.339

Abstract

This article analyzes the conflict between Paul and Barnabas in Acts 15:36–41 as a leadership dynamic that reflects the tension between grace and responsibility in early church ministry. This study demonstrates that conflict is not merely an obstacle but can serve as a means of character formation, mission expansion, and the development of church leadership. Using a theological and narrative approach, the article explores practical lessons and missiological implications relevant to contemporary ministry.Artikel ini menganalisis konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 sebagai dinamika kepemimpinan yang mencerminkan ketegangan antara kasih karunia dan tanggung jawab dalam pelayanan gereja mula-mula. Studi ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya hambatan, melainkan dapat menjadi sarana pembentukan karakter, perluasan misi, dan pengembangan kepemimpinan gereja. Dengan pendekatan teologis dan naratif, artikel ini menggali pelajaran praktis dan implikasi misiologis yang relevan bagi pelayanan kontemporer.
Allah yang Mendengar: Telaah Naratif Kejadian 16:13 sebagai Dasar Etika Mendengar Guru dalam Pendidikan Agama Kristen Elfin Warnius Waruwu Waruwu
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v7i1.390

Abstract

This article addresses a foundational problem in Christian Religious Education (CRE): the systematic neglect of students’ voices and lived experiences within pedagogical practice. Drawing on the narrative of Hagar in Genesis 16:13 specifically her naming of God as El-Roi (“the God who sees me”) this study constructs a theology of listening as a spiritual and pedagogical imperative. The research employs a qualitative approach utilizing narrative theology and ethical hermeneutics as its methodological framework, with Genesis 16:1–13 as the primary text and corroborated by secondary literature in narrative theology, pedagogical theory, and CRE studies. The analysis reveals that God’s act of hearing Hagar functions not merely as a biographical episode, but as a theological paradigm of divine solidarity with the marginalized. From this paradigm, a three-dimensional ethic of listening is constructed for CRE teachers: (1) active listening as spiritual hospitality that creates safe spaces; (2) dialogical presence that reconstitutes the teacher-student relationship on an I–Thou rather than I–It basis; and (3) prophetic listening as a liberating counter-practice against dehumanizing educational systems. The study concludes that the ethic of listening, grounded in the El-Roi theology, constitutes a prophetic vocation for Christian educators to teach not merely with cognitive expertise, but with a listening presence that honors the sacred dignity of each student.   Artikel ini mengangkat persoalan mendasar dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK): pengabaian sistematis terhadap suara dan pengalaman hidup peserta didik dalam praktik pedagogis. Dengan bertolak dari narasi Hagar dalam Kejadian 16:13 khususnya penamaannya terhadap Allah sebagai El-Roi (“Allah yang melihat aku”) penelitian ini membangun teologi mendengar sebagai imperatif spiritual dan pedagogis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teologi naratif dan hermeneutika etis sebagai kerangka metodologis, bersumber dari teks Kejadian 16:1–13 sebagai data primer dan literatur bidang teologi naratif, pedagogi, serta PAK sebagai data sekunder. Analisis menunjukkan bahwa tindakan Allah yang mendengar Hagar bukan sekadar episode biografis, melainkan paradigma teologis tentang solidaritas ilahi bagi yang termarginalisasi. Dari paradigma ini dibangun etika mendengar tiga dimensi bagi guru PAK: (1) mendengar aktif sebagai hospitalitas spiritual; (2) kehadiran dialogis yang merekonstruksi relasi guru-murid atas dasar Aku-Kamu; dan (3) mendengar profetik sebagai praktik liberatif. Penelitian menyimpulkan bahwa etika mendengar yang berakar pada teologi El-Roi merupakan panggilan profetik bagi guru Kristen untuk mengajar bukan sekadar dengan keahlian kognitif, tetapi dengan kehadiran mendengar yang menghormati martabat setiap murid.
Teologi Digital dalam Pendidikan Kristen: Antara Kesetiaan Tradisi dan Relevansi Kontemporer Berta Randabunga; Ibrahim Ibrahim
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v7i1.519

Abstract

This article examines the role of digital theology in Christian education by highlighting the tension between the demands of relevance in the digital age and fidelity to theological tradition. This study departs from the research gap that previous studies tended to be descriptive, i.e. only explaining the opportunities and challenges of digitalization without deeply analyzing the theological tension between tradition and digital transformation. This research aims to explore opportunities, challenges, and theological reflective frameworks in the integration of digital technology in Christian education to remain rooted in faith as well as contextual. The method used is a qualitative literature study by analyzing theological literature, Christian education, and current research on church digitization. The results of the study show that digital theology opens up opportunities such as expanding access to education, learning innovation, increasing student participation, and forming virtual faith communities. Nevertheless, fundamental tensions are found in the aspects of authority, presence, community, and faith formation. Theoretically, digital theology is understood as a critical reflective framework that negotiates Christian traditions and digital culture, while practically demanding a pedagogical approach that is critical, adaptive, and remains grounded in Scripture and church traditions. Artikel ini mengkaji peran teologi digital dalam pendidikan Kristen dengan menyoroti ketegangan antara tuntutan relevansi di era digital dan kesetiaan terhadap tradisi teologis. Kajian ini berangkat dari gap penelitian bahwa studi sebelumnya cenderung bersifat deskriptif, yaitu hanya memaparkan peluang dan tantangan digitalisasi tanpa menganalisis secara mendalam ketegangan teologis antara tradisi dan transformasi digital. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peluang, tantangan, serta kerangka reflektif teologis dalam integrasi teknologi digital pada pendidikan Kristen agar tetap berakar pada iman sekaligus kontekstual. Metode yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif dengan menganalisis literatur teologi, pendidikan Kristen, dan penelitian terkini tentang digitalisasi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi digital membuka peluang seperti perluasan akses pendidikan, inovasi pembelajaran, peningkatan partisipasi peserta didik, serta pembentukan komunitas iman virtual. Namun demikian, ditemukan ketegangan mendasar pada aspek otoritas, kehadiran, komunitas, dan formasi iman. Secara teoretis, teologi digital dipahami sebagai kerangka reflektif kritis yang menegosiasikan tradisi Kristen dan budaya digital, sementara secara praktis menuntut pendekatan pedagogis yang kritis, adaptif, dan tetap berlandaskan Kitab Suci serta tradisi gereja.
Pela Gandong Sebagai Infrastruktur Perdamaian Berbasis Perjanjian: Teologi Perjanjian Publik Dan Pembangunan Perdamaian Masyarakat Adat Pasca-Konflik Maluku Mozes Lawalata; Sandra Rosiana Tapilaha; Rachel Nadine Tapilaha
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v7i1.522

Abstract

This article critiques peacebuilding approaches that marginalize indigenous traditions as merely practical tools rather than theoretical resources. It examines Pela Gandong, an indigenous covenantal tradition in Maluku, Indonesia, as a form of covenantal peace infrastructure sustaining reconciliation beyond formal state mechanisms. Drawing on public theology and conflict transformation theory, the study argues that Pela Gandong articulates a relational and moral vision of peace grounded in sacred commitment, collective memory, and intercommunal responsibility. Using conceptual-comparative and interpretive-constructive analysis of anthropological, theological, and peace studies literature alongside contextual interpretation of post-conflict Maluku, the article reframes Pela Gandong as a source of public covenant theology from the Global South. This perspective proposes an alternative framework for understanding sustainable peace beyond dominant contractarian and institutional models of peacebuilding. Within the limits of this conceptual literature-based inquiry, the article offers the proposition that covenant-based moral infrastructures embedded in local cultures provide a thicker normative foundation for long-term relational peace than abstract legalistic approaches, while offering an alternative epistemology rooted in lived relational practices for plural and post-conflict societies. Empirical verification of this proposition requires further field-based research. Artikel ini mengkritik pendekatan peacebuilding yang memarginalkan tradisi-tradisi pribumi sebagai sekadar alat praktis, bukan sebagai sumber teoretis. Artikel ini mengkaji Pela Gandong, sebuah tradisi perjanjian adat di Maluku, Indonesia, sebagai bentuk infrastruktur perdamaian berbasis perjanjian yang menopang rekonsiliasi melampaui mekanisme negara formal. Dengan bertumpu pada teologi publik dan teori transformasi konflik, penelitian ini berargumen bahwa Pela Gandong mengartikulasikan visi perdamaian yang relasional dan bermoral, yang berakar pada komitmen sakral, ingatan kolektif, dan tanggung jawab antar-komunitas. Melalui analisis konseptual-komparatif dan interpretatif-konstruktif atas literatur antropologi, teologi, dan studi perdamaian serta penafsiran kontekstual atas Maluku pascakonflik, artikel ini membingkai ulang Pela Gandong sebagai sumber teologi perjanjian publik dari Global Selatan. Perspektif ini mengusulkan kerangka alternatif untuk memahami perdamaian berkelanjutan yang melampaui model peacebuilding kontraktarian dan institusional. Dalam batas kajian pustaka konseptual ini, artikel menawarkan proposisi bahwa infrastruktur moral berbasis perjanjian yang tertanam dalam budaya lokal menyediakan fondasi normatif yang lebih tebal bagi perdamaian relasional jangka panjang dibandingkan pendekatan legalistik yang bersifat abstrak, serta menawarkan epistemologi alternatif yang berakar pada praktik relasional yang hidup bagi masyarakat majemuk dan pascakonflik. Pengujian empiris atas proposisi ini memerlukan penelitian lapangan lanjutan.  
Marketisasi Agama di Ruang Virtual YouTube: Perspektif Teo-Antropologi Digital Henderikus Nayuf
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v7i1.537

Abstract

This research focuses on the phenomenon of the marketization of religion in virtual spaces, specifically on the YouTube platform. Amidst technological disruption and massive digital penetration, religious teaching has experienced disruption in its teaching methods. Technological developments have created new spaces for the production, dissemination, and consumption of religious teaching. The YouTube platform is one such virtual space that presents a transformation in religious teaching through a variety of engaging and contextual religious content. Religion then finds itself in an arena of contestation, which is then packaged with a market approach. Using a netnographic approach, this research aims to analyze the phenomenon of the marketization of religion from the perspectives of theology and digital anthropology. The theological approach helps us understand the implications of using the YouTube platform as an instrument for religious teaching through the commodification of symbolic messages. Meanwhile, anthropology guides us to understand the interaction between humans and technology. The results of this study indicate that the marketization of religion in virtual spaces, particularly on the YouTube platform, has been influenced by technological disruption with the power of algorithms shaped by the global market. Another finding is that religious leaders experience personal branding driven by market preferences, which has the potential to shift the sanctity and authority of religion. Fokus penelitian ini adalah fenomena marketisasi agama di ruang virtual, secara khusus pada platform YouTube. Di tengah disrupsi teknologi dengan penetrasi digital yang masif, pengajaran agama mengalami disrupsi dalam metode pengajarannya. Perkembangan teknologi menghadirkan ruang baru bagi produksi, penyebaran dan konsumsi pengajaran agama.  Platform YouTube merupakan salah satu ruang virtual yang menghadirkan tranformasi pengajaran agama melalui beragama konten agama yang menarik dan kontekstual. Agama kemudian berada pada arena kontestasi yang kemudian dikemas dengan pendekatan market. Dengan menggunakan pendekatan netnografi, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa fenomena marketisasi agama dengan perspektif teologi dan antropologi digital. Pendekatan teologi menolong kita untuk memaknai implikasi dari pemanfaatan platform YouTube sebagai instrumen pengajaran agama melalui komodifikasi pesan simbolik. Sementara antropologi mengarahkan kita untuk memahami proses interaksi antara manusia dan teknologi.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa marketisasi agama di ruang virtual, khususnya platform YouTube telah dipengaruhi oleh disrupsi teknologi dengan kekuatan algoritma yang dibentuk oleh pasar global. Temuan lainnya adalah para pemuka agama mengalami personal branding yang dikehendaki oleh selera pasar yang berpeluang menggeser kesakralan dan otoritas agama.