cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
+6281330719928
Journal Mail Official
jurnalsophia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Makale-Makassar Km. 11,5 Mengkendek, Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27228851     EISSN : 2722886X     DOI : https://doi.org/10.34307
Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Sophia merupakan hasil penelitian dari Mahasiswa, Alumni, Dosen & Para Peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin berkontribusi di dalamnya. Tim editor akan menyeleksi artikel sebelum menyerahkannya kepada Peer Reviewer atau Mitra Bestari untuk dinilai kelayakannya, sebelum diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Sophia: Manajemen Pendidikan Kristen Teologi Biblika Injil & Kebudayaan / Teologi Kontekstual Agama & Masyarakat Teologi Praktika Studi Agama
Articles 56 Documents
Artificial Intelligence dan Metode Penelitian: Pemanfaatan ChatGPT Untuk Merancang Instrumen Penelitian Pendidikan Agama Kristen Serdianus, Serdianus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.324

Abstract

The rapid advancement of text-based generative artificial intelligence technology has led to notable progress in AI development, among which ChatGPT stands out prominently. This article proposes using AI ChatGPT to craft research instruments for students and novice researchers. This proposal stems from the identified issue of student's limited proficiency in constructing appropriate research instruments. Employing a descriptive qualitative approach based on literature research and experimentation, this article demonstrates the benefits of ChatGPT in creating research instruments through the following steps: (1) Exploring AI-related references, (2) Processing and citing relevant references, (3) Utilizing ChatGPT to develop research instruments, (4) Analyzing the strengths and limitations of using ChatGPT in crafting research instruments, and (5) Concluding. The findings indicate that employing ChatGPT for instrument development is highly effective, efficient, and closely linked to user-provided directives. Nonetheless, the research instruments generated still require adjustments to meet the specific data needs within research endeavors. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan berbasis teks generatif semakin pesat. Salah satu kecerdasan buatan yang sangat berkembang adalah ChatGPT. Artikel ini bertujuan untuk mengusulkan pemanfaatan AI ChatGPT dalam menyusun instrumen penelitian bagi kalangan mahasiswa dan peneliti awam. Usulan ini didasarkan pada masalah keterbatasan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen dalam menyusun instrumen penelitian yang efektif dan tepat. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis penelitian literatur dan eksperimen, artikel ini menunjukkan manfaat ChatGPT dalam menyusun instrumen penelitian dengan langkah-langkah: pertama, menelusuri referensi terkait AI; kedua, mengolah dan mengutip referensi yang relevan; ketiga, menggunakan ChatGPT untuk menyusun instrumen penelitian; keempat, menganalisis kelebihan dan kekurangan penggunaan ChatGPT untuk menyusun instrumen penelitian; dan kelima, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT dalam penyusunan instrumen sangat efektif dan efisien. Hal ini terkait erat dengan kalimat perintah yang diberikan oleh pengguna. Meskipun demikian, instrumen penelitian yang dihasilkan masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan data dalam penelitian.
Misi Gereja Melawan Etika Antroposentrisme Terhadap Kerusakan Ekologi Melalui Paradigma Keugaharian Pindan Pute, Jimmi
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.250

Abstract

The research aims to find a model that can be carried out by the church as a form of mission service against forms of anthropocentrism towards ecology through a daily perspective. In developing the research results, the author used several theories and also the results of research that had been carried out by several previous authors. Such as research conducted by Yornan Mosimbawo, Yusup Rugo Yuono, and Bayu Kaesarea Ginting, as well as Thomas Aquinas' views on happiness. Some of this research tries to break through human behavior that exploits nature rudely, immorally, and only for the sake of their self-satisfaction without caring about the impacts it causes. This research uses qualitative methods using a descriptive approach to describe the reality that actually occurs in society. Qualitative methods are developed through trusted literature such as books, articles/journals and relevant internet sources. The results of this research are that the church must implement several models that can build a daily attitude and eliminate anthropocentrism towards nature/the environment. These models are; the church must be friendly with nature, the church must fight against forms of consumerism, and the church needs to form communities and empower those communities.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model yang dapat dilakukan oleh gereja sebagai bentuk pelayanan misi melawan bentuk antroposentrisme terhadap ekologi melalui perspektif keugaharian. Dalam mengembangkan hasil penelitian tersebut, penulis menggunakan beberapa teori dan juga hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa penulis sebelumnya, salah satu diantaranya adalah pandangan dari Thomas Aquinas tentang kebahagiaan. Beberapa penelitian tersebut mencoba menerobos perilaku manusia yang mengeksploitasi alam secara kasar, tidak bermoral, dan hanya untuk kepentingan kepuasan diri mereka tanpa memperdulikan dampak yang ditimbulkannya tawaran yang diberikan dalam teori tersebut adalah tentang perspektif keugaharian. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Metode kualitatif dikembangkan lewat literatur-literatur terpercaya seperti buku, artikel/jurnal dan sumber-sumber internet yang relevan. Hasil penelitian tersebut adalah bahwa gereja harus melakukan beberapa model yang dapat membangun sikap keugaharian dan menghilangkan sikap antroposentrisme terhadap alam/lingkungan. Model-model tersebut adalah; gereja harus bersahabat dengan alam, gereja harus melawan bentuk konsumerisme, dan gereja perlu membentuk komunitas dan memberdayakan komunitas tersebut.
Feminisme dan Teologi: Perubahan Paradigma Dalam Pendidikan Agama Kristen Rangga, Oktavianus; Mbelanggedo, Nelcy
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.308

Abstract

In Christian Religious Education (CRE), the relationship between feminism and theology has triggered a significant paradigm shift, particularly in reexamining the structure of knowledge that has been shaped by a patriarchal perspective. Through a critical hermeneutic approach and literature review, this study reveals how feminist theology challenges gender bias in biblical interpretation and opens up space for women's experiences as legitimate epistemological sources. This transformation has implications for the reconstruction of a more gender-responsive CRE curriculum, including the use of inclusive language, representation of female biblical figures, and dialogic learning strategies that foster critical awareness. However, the integration of a feminist perspective into religious pedagogy positions students as active subjects in the process of just and equal faith formation. The results of this study confirm that the renewal of CRE is not limited to the addition of gender issues, but rather a profound theological-pedagogical reconstruction to build an education that is more inclusive, liberating, and aligned with the values ​​of equality and human dignity in the Christian faith.Dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), relasi antara feminisme dan teologi telah memicu perubahan paradigma yang signifikan, terutama dalam meninjau ulang struktur pengetahuan yang selama ini dibentuk oleh perspektif patriarkal. Melalui pendekatan hermeneutika kritis dan studi pustaka, kajian ini mengungkap bagaimana teologi feminis menantang bias gender dalam penafsiran Alkitab serta membuka ruang bagi pengalaman perempuan sebagai sumber epistemologis yang sah. Transformasi ini berimplikasi pada rekonstruksi kurikulum PAK yang lebih responsif gender, mencakup penggunaan bahasa inklusif, representasi tokoh perempuan Alkitab, dan strategi pembelajaran dialogis yang mendorong kesadaran kritis. Namun, integrasi perspektif feminis dalam pedagogi agama menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembentukan iman yang adil dan setara. Hasil kajian ini menegaskan bahwa pembaruan PAK tidak sebatas penambahan isu gender, tetapi merupakan rekonstruksi teologis-pedagogis yang mendalam demi membangun pendidikan yang lebih inklusif, membebaskan, dan selaras dengan nilai kesetaraan serta martabat manusia dalam iman Kristen.
Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi: Teologi, Inklusi, dan Keadilan Silitonga, Rion Androfen
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.319

Abstract

Disability is a complex phenomenon that involves various aspects of life, including physical, cognitive, and psychiatric. From a Christian theological perspective, disability is often viewed through a challenging lens, either as a test, a suffering, or a symbol of sin. However, this understanding often ignores the dignity and rights of people with disabilities as creatures made in the image of God (Imago Dei). Through theological thinking such as that promoted by Augustine and Jurgen Moltmann, disability can be understood as part of God's greater plan, which demands recognition, respect, and proper care. Inclusive theology, as reflected in 1 Corinthians 12, emphasizes the active role of every member of the body of Christ, including people with disabilities, in the community of faith. The social stigma of disability, both physical and mental, is a major obstacle to social inclusion, but through a deeper understanding of Imago Dei and Imago Christi, churches and communities can create more inclusive and loving spaces for people with disabilities.Disabilitas merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk fisik, kognitif, dan psikiatris. Dalam perspektif teologi Kristen, disabilitas sering dipandang melalui lensa yang penuh tantangan, baik sebagai ujian, penderitaan, maupun simbol dosa. Namun, pemahaman ini sering kali mengabaikan martabat dan hak-hak penyandang disabilitas sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei). Melalui pemikiran teologis seperti yang diusung oleh Agustinus dan Jurgen Moltmann, disabilitas dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, yang menuntut pengakuan, penghormatan, dan perawatan yang layak. Teologi inklusif, seperti yang tercermin dalam 1 Korintus 12, menekankan peran aktif setiap anggota tubuh Kristus, termasuk penyandang disabilitas, dalam komunitas iman. Stigma sosial terhadap disabilitas, baik fisik maupun mental menjadi hambatan besar bagi inklusi sosial, namun melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang Imago Dei dan Imago Christi, gereja dan masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh kasih bagi penyandang disabilitas.
Transformasi Sosial dan Peran Tokoh Alkitab: Refleksi Kontekstual Nehemia 2 dalam Kerangka Model Praksis Abdi Hu, Samuel; Simamora, Javerson; Hidayat, Edward Arief
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.334

Abstract

Social transformation is a complex process involving fundamental changes in the social, cultural, and normative structures of society. In this context, effective leadership is key to driving positive and sustainable change. This study explores Nehemiah’s role as a symbol of social transformation through approaches of leadership, collaboration, and community participation. This qualitative case study analyzes Nehemiah’s strategy in rebuilding the walls of Jerusalem while revitalizing the identity of the Israeli community. The results show that Nehemiah’s success lay not only in physical reconstruction but also in strengthening the collective spirit through the community’s in-depth observation of the situation, resource mobilization, and active community collaboration. This approach integrates values of social justice, spirituality, and community empowerment, which are relevant to address modern social challenges such as injustice and poverty. The study recommends that today’s leaders adopt a values-based approach that prioritizes thorough situational analysis, active participation, and sustainable social transformation strategies so that Nehemiah’s historical experience can inspire effective and meaningful social change. Transformasi sosial adalah proses kompleks yang melibatkan perubahan Transformasi sosial adalah proses kompleks yang melibatkan perubahan mendasar dalam struktur sosial, budaya, dan norma masyarakat. Dalam konteks ini, kepemimpinan yang efektif menjadi kunci untuk mendorong perubahan positif dan berkelanjutan. Penelitian ini mengeksplorasi peran Nehemia sebagai simbol transformasi sosial melalui pendekatan kepemimpinan, kolaborasi, dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan kajian kasus untuk menganalisis strategi Nehemia dalam membangun kembali tembok Yerusalem sekaligus merevitalisasi identitas komunitas Israel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Nehemia tidak hanya terletak pada rekonstruksi fisik tetapi juga pada penguatan semangat kolektif, melalui observasi mendalam masyarakat terhadap situasi, mobilisasi sumber daya, dan kolaborasi aktif masyarakat. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai keadilan sosial, spiritualitas, dan pemberdayaan komunitas, yang relevan untuk diterapkan dalam menghadapi tantangan sosial modern seperti ketidakadilan dan kemiskinan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemimpin masa kini mengadopsi pendekatan berbasis nilai yang mengutamakan analisis situasi secara menyeluruh, partisipasi aktif, dan strategi transformasi masyarakat yang berkelanjutan, sehingga pengalaman historis dari Nehemia dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan perubahan sosial yang efektif dan bermakna.  
Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 dari Perspektif Kepemimpinan dan Implikasinya dalam Pelayanan Misi Latif, Fandy Mulya; Herman, Samuel
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.339

Abstract

This article analyzes the conflict between Paul and Barnabas in Acts 15:36–41 as a leadership dynamic that reflects the tension between grace and responsibility in early church ministry. This study demonstrates that conflict is not merely an obstacle but can serve as a means of character formation, mission expansion, and the development of church leadership. Using a theological and narrative approach, the article explores practical lessons and missiological implications relevant to contemporary ministry.Artikel ini menganalisis konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 sebagai dinamika kepemimpinan yang mencerminkan ketegangan antara kasih karunia dan tanggung jawab dalam pelayanan gereja mula-mula. Studi ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya hambatan, melainkan dapat menjadi sarana pembentukan karakter, perluasan misi, dan pengembangan kepemimpinan gereja. Dengan pendekatan teologis dan naratif, artikel ini menggali pelajaran praktis dan implikasi misiologis yang relevan bagi pelayanan kontemporer.