cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
+6281330719928
Journal Mail Official
jurnalsophia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Makale-Makassar Km. 11,5 Mengkendek, Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27228851     EISSN : 2722886X     DOI : https://doi.org/10.34307
Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Sophia merupakan hasil penelitian dari Mahasiswa, Alumni, Dosen & Para Peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin berkontribusi di dalamnya. Tim editor akan menyeleksi artikel sebelum menyerahkannya kepada Peer Reviewer atau Mitra Bestari untuk dinilai kelayakannya, sebelum diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Sophia: Manajemen Pendidikan Kristen Teologi Biblika Injil & Kebudayaan / Teologi Kontekstual Agama & Masyarakat Teologi Praktika Studi Agama
Articles 51 Documents
Adaptasi Pelayanan Organisasi Gereja Di Masa Pandemi: Mengunggah Dampak Pandemi Bagi Pertumbuhan Gereja Sabda Budiman; Maharin; Hengki Wijaya
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i1.54

Abstract

The COVID-19 pandemic is seen as one of the factors that can hinder the growth of the church. However, has the COVID-19 pandemic always had a negative impact on church organizations? The purpose of this study was written to observe and explain the positive impact of the pandemic on the growth of the church. The methods that researchers use are literature research methods and also field observations. This research resulted in the adaptation of church organization services for church growth during the pandemic, namely: First, Family-Based Discipleship. Second, the Virtual Church. Third, the Optimization of Church Diakonia. The Church is required to step out of her comfort zone and show her light in the middle of the world. Thus, the COVID-19 pandemic is not seen as a disaster for the church, but instead it has stimulated the growth of the church on the previously hard-to-reach side.    Pandemi COVID-19 dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat pertumbuhan gereja. Akan tetapi, apakah pandemi COVID-19 selalu membawa dampak negatif bagi pertubuhan gereja? Tujuan dari peneitian ini ditulis ialah untuk mengamati dan memaparkan dampak positif pandemi bagi pertumbuhan gereja. Metode yang peneliti gunakan ialah metode penelitian kepustakaan dan juga pengamatan lapangan. Penelitian ini menghasilkan adaptasi pelayanan organisasi gereja untuk pertumbuhan gereja di masa pandemi yaitu: Pertama, Pemuridan Berbasis Keluarga. Kedua, Gereja Virtual. Ketiga, Optimalisasi Diakonia Gereja. Gereja dituntut keluar dari zona nyaman dan menunjukkan terangnya di tengah dunia. Dengan demikian, pandemi COVID-19  tidak dipandang sebagai musibah bagi gereja, tetapi sebaliknya pandemi ini telah merangsang pertumbuhan gereja pada sisi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Sumbangsih Eksistensi Kepemimpinan Tobara’ Terhadap Pembangunan Jemaat Di Lembang Siraun, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawasi Barat Henri Sirangki; Darius
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i1.65

Abstract

The purpose of this study was to determine the contribution of the existence of Tobara's leadership to the development of the congregation in Lembang Siraun, Kalumpang District, Mamuju Regency, West Sulawesi Province. Tobara' (customary leader) is a traditional leadership figure that exists in every Lembang (village) scattered in Kalumpang District. The existence of Tobara' in every lembang is to keep the adat alive. The contribution of the existence of Tobara's leadership to the development of the congregation in Lembang Siraun, Kalumpang District, Mamuju Regency, West Sulawesi Province is to create peace in Lembang, namely between the general public and church members. In addition, if there is a conflict that is difficult for the church to resolve, then Tobara'can resolve the conflict. The contribution of the existence of Tobara's leadership to the development of the congregation is to create peace in Lembang Siraun, it can even prevent conflicts that occur in the church and can create harmony. This study uses a qualitative-descriptive method that uses an observation and interview approach. Observations were carried out directly by researchers in Lembang Siraun. The purpose of the observation is to obtain information about the existence of Tobara' in Lembang Siraun. The researcher also conducted interviews with the main character, Tobara' as the leader in Lembang Siraun. In addition, researchers conducted interviews with members of the congregation in the GKSB church and even the community. Interviews conducted by researchers are unstructured interviews that ask questions freely. In this study, the results showed that the existence of Tobara's contributed to the development of the West Sulawesi Christian Church. Tobara' can cooperate with church leaders in creating harmony, so that the congregation's spirituality is stronger. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumbangsih eksistensi kepemimpinan Tobara’ (pemangku adat) terhadap pembangunan jemaat di Lembang Siraun, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Tobara’ (pemangku adat) merupakan tokoh pemimpin adat yang ada dalam setiap Lembang (desa) yang tersebar dalam Kecamatan Kalumpang. Eksistensi Tobara’ di setiap lembang adalah untuk menjaga adat agar tetap eksis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif yang menggunakan pendekatan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dalam lembang siraun. Tujuan observasi adalah untuk mendapatkan informasi tentang eksistensi kepemimpinan Tobara’. Peneliti juga melakukan wawancara terhadap tokoh utama yakni Tobara’ sebagai pemimpin dalam Lembang Siraun dan tokoh masyarakat. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara tidak terstruktur yang mengajukan pertanyaan secara bebas. Temuan-temuan dalam penelitian ini yakni; pertama, Sumbangsih eksistensi kepemimpinan Tobara’ terhadap pembangunan jemaat adalah menciptakan perdamaian dalam Lembang baik masyarakat yang ada di lembang tersebut maupun warga gereja. Kedua, keberadaan sebagai Tobara’ adalah untuk menyelesiakan konflik ketika ada persoalan yang sulit diselesaikan oleh gereja. Ketiga, keberadaan sebagai Tobara’ (pemangku adat) mampu menciptakan ketentraman, mencegah konflik yang terjadi, serta mampu menciptakan keharmonisan.
Membangun Kesadaran Sebagai Manusia Spiritual-Ekologis Dalam Menghadapi Krisis Ekologi di Toraja Yudha Nugraha Manguju
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i1.66

Abstract

The destruction of nature today is not only an economic and ecological issue, but also a sociological and theological issue. The main cause of the ecological crisis is caused by irresponsible human behavior in exploiting the universe. This paper uses a qualitative research method with a literature study approach on the main literature on John Cobb's thoughts on Natural Theology (ecotheology) as well as books and journals from several theologians that discuss the topic of the ecological crisis. In this paper, it is found that there are at least two main crises in ecological issues, namely a crisis of understanding that makes humans massively exploit, dominate and discriminate against the surrounding environment, and a crisis of awareness of the importance of preserving nature. Thus, the author offers the concept of spiritual-ecological man as a keeper to preserve the universe which can be interpreted as nature as a common home, nature as intergenerational responsibility, and nature as the unity and harmony of creation Kerusakan alam dewasa kini bukan hanya sekadar sebuah isu ekonomis dan ekologis saja, melainkan juga isu sosiologis dan teologis. Selain karena proses alamiah, penyebab utama dari krisis ekologi diakibatkan oleh tingkah laku manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi alam semesta. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atas literatur utama mengenai pemikiran John Cobb tentang Teologi Alam (ekoteologi) serta buku dan jurnal dari sejumlah teolog yang membahas topik krisis ekologi. Dalam tulisan ini, ditemukan bahwa setidaknya ada dua krisis utama dalam isu ekologis, yaitu krisis pemahaman yang membuat manusia secara masif melakukan eksploitasi, dominasi dan diskriminasi terhadap lingkungan di sekitarnya dan krisis kesadaran (awareness) akan pentingnya melestarikan alam. Dengan demikian, penulis menawarkan konsep manusia spiritual-ekologis sebagai pemelihara untuk melestarikan alam semesta yang dapat dimaknai dengan alam sebagai rumah bersama, alam sebagai tanggung jawab antargenerasi, serta alam sebagai kesatuan dan keharmonisan ciptaan
Efektifitas Metode Pembelajaran Daring Pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen Di Universitas Setia Budi, Surakarta Timotius Haryono; Yuliati
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i1.69

Abstract

The Covid-19 pandemic forced Christian Religious Education courses to apply online learning methods. The change from offline methods to online methods brings changes to the effectiveness of learning. Researchers want to know the effectiveness of online methods in Christian Religious Education courses. Researchers want to know the effectiveness of online learning methods in order to evaluate and develop this learning. The final objective of this research is that the Christian Religious Education course has an effective learning method so that it can survive not only during the Covid-19 pandemic but also in the future. This research uses a quantitative approach and one group pretest posttest design method. This study uses a questionnaire as a research instrument. This study analyzed the data through four tests, namely normality test, homogeneity test, hypothesis testing and effectiveness contribution test. The result of this research is that the online learning method in the Christian Religious Education course at Setia Budi University only increases 0.7% of student understanding so that it is not effective in increasing student understanding. Pandemi Covid-19 memaksa mata kuliah Pendidikan Agama Kristen untuk menerapkan metode pembelajaran daring. Perubahan dari metode luring ke metode daring membawa perubahan kepada efektifitas pembelajaran. Peneliti hendak mengetahui efektifitas metode daring pada mata kuliah Pendidikan Agama Kristen. Peneliti hendak mengetahui efektifitas pembelajaran metode daring agar dapat mengevaluasi dan menggembangkan pembelajaran ini. Tujuan akhir penelitian ini adalah mata kuliah Pendidikan Agama Kristen memiliki metode pembelajaran yang efektif sehingga dapat bertahan tidak hanya di masa pandemi Covid-19 tetapi juga masa yang akan datang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode one group pretest postest design. Penelitian ini menggunakan angket kuisioner sebagai instrumen penelitian. Penelitian ini menganalisis data melalui empat pengujian yaitu uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis dan uji sumbangan efektivitas. Hasil dari penelitian ini adalah metode pembelajaran daring pada mata kuliah Pendidikan Agama Kristen di Universitas Setia Budi hanya meningkatkan 0,7% pemahaman mahasiswa sehingga tidak efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa.
Latar Belakang Penamaan Anak Di Lembang La’bo’, Kecamatan Sanggalangi’ Paulina Pulung; Abraham S Tanggulungan; I Made Suardana
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to describe the background of giving children's names to the Toraja community which includes the background and expectations of giving children's names in toraja communities based on local wisdom for the formation of children's character in Lembang La'bo' Sanggalangi Subdistrict'. This research is descriptive qualitative research. The research was conducted from October to November 2020 in Lembang La'bo' Sanggalangi Subdistrict'. The data in this study is a self-name obtained from informants or respondents in Lembang La'bo' Sanggalangi Subdistrict'. Data is collected through (1) observation techniques, (2) interview techniques (3) record techniques and (4) record techniques. The results showed that the background of naming children's names in toraja society was based on local wisdom in Lembang La'bo' Sanggalangi Subdistrict', namely (1) Containing the expectations of parents; (2) Faith Response; (3) Time of Birth; (4) Warning of events that have occurred Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan latar belakang pemberian nama anak pada masyarakat Toraja yang meliputi latar belakang dan harapan dari pemberian nama anak dalam masyarakat Toraja berdasarkan kearifan lokal untuk pembentukan karakter anak di Lembang La’bo’ Kecamatan Sanggalangi’. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober–November 2020 di Lembang La’bo’ Kecamatan Sanggalangi’. Data dalam penelitian ini adalah nama diri diperoleh dari informan atau responden di Lembang La’bo’ Kecamatan Sanggalangi’. Data dikumpulkan melalui (1) teknik observasi, (2) teknik wawancara (3)teknik catat dan(4) teknik rekam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemberian nama nama anak  dalam masyarakat Toraja berdasarkan kearifan lokal di Lembang La’bo’ Kecamatan Sanggalangi’, yaitu (1) Berisi harapan orang tua; (2) Respon Iman; (3) Waktu Kelahiran; (4) Peringatan atas peristiwa yang pernah terjadi.
Religiusitas Yesus di Tengah Yang Lain Dari Perspektif Emmanuel Levinas Norma Selfi Tanaem; Akwila Priska Ibu; Julio Eleazer Nendissa
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i2.103

Abstract

Abstract: This paper discusses the religiosity of Jesus among others from Levinas's perspective. Existentialist philosophy understands the "other" namely the Other. The purpose of this paper is to analyze the religiosity of Jesus through Levinas' theory of responsibility. This paper uses a qualitative research method with a literature study approach. Jesus set an example in His religiosity when meeting other people in his life. Jesus who not only cares about himself but is present in the lives of others for their salvation. For Levinas, responsibility is an action that can be carried out by humans without asking for a reply. Levinas' theory is expected to be a foundation for establishing relationships for fellow human beings and becoming an ethical moment when meeting other people. For Levinas, the Other is our responsibility to see them as people who exist. In Levinas' concept of responsibility we understand very well that when we are responsible for others it is a gift. Jesus really cares about everyone. He performs relationships and actions in the form of human values ​​because of the awareness of Himself to carry out His obligations as the savior of mankind. This concept of responsibility has been directly carried out by Jesus for the oppressed, such as the blind, lepers, and the lame being healed. Abstrak: Tulisan ini membahas mengenai religiusitas Yesus di tengah yang lain dari perspektif Levinas. Filsafat eksistensialis memahami “yang lain” yaitu Sang Liyan. Tujuan penulisan ini ialah untuk menganalisis tentang religiusitas Yesus melalui teori tanggung jawab dari Levinas. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Yesus menjadi teladan dalam religiusitas-Nya ketika bertemu dengan orang lain dalam kehidupannya. Yesus yang tidak hanya mempedulikan diri sendiri tetapi hadir dalam kehidupan orang lain untuk keselamatan mereka. Bagi Levinas tanggung jawab merupakan suatu tindakan yang dapat dilaksanakan oleh manusia tanpa meminta balasan. Teori Levinas ini diharapkan dapat menjadi suatu fondasi untuk menjalin relasi bagi sesama manusia dan menjadi momen etis kala berjumpa dengan orang lain. Bagi Levinas, Sang Liyan itu adalah tanggung jawab kita untuk melihat mereka sebagai orang yang bereksistensi. Dalam konsep tanggung jawab Levinas kita memahami betul bahwa ketika kita bertanggung jawab atas orang lain maka itu anugerah. Yesus sangat peduli terhadap semua orang. Dia melakukan relasi dan tindakan berupa nilai-nilai kemanusiaan karena kesadaran dari diri-Nya sendiri untuk menjalankan kewajiban-Nya sebagai Juru selamat manusia. Konsep tanggung jawab ini secara langsung sudah dilakukan oleh Yesus terhadap orang tertindas seperti, orang buta, orang kusta, orang lumpuh disembuhkan.
Cuci Negeri: Ekofeminis Dalam Sentralitas Ritual Pembersihan Negeri di Soya, Maluku Pattiasina, Sharon Michelle O.
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i2.120

Abstract

Abstract: This article aims to explore the ritual of cuci negeri in Soya, Maluku from an ecofeminist perspective. In the current of globalization, humans often make nature as an object so that various forms of oppression occur. However, in Soya's country, nature as a collective home understand nature as a collective home that is cared for through rituals the ritual of cuci negeri. The method used in this research is qualitative with descriptive type. This research uses interview techniques, documentary studies and literature studies. The results of the study found that the washing ritual of the land was a legacy given by the ancestors to make the people of Soya country aware that it came from nature. This awareness is not only affective but also includes the cleaning of the country which is carried out once a year with the aim of maintaining balance with nature and maintaining genealogical relationships with the ancestors. The ritual of cuci negeri also depicts nature as a woman who conceives and gives birth, gives life and protects against all life threats Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ritual cuci negeri di Soya, Maluku dalam perspektif ekofeminis. Dalam arus globalisasi, manusia seringkali menjadikan alam sebagai objek sehingga terjadi berbagai bentuk tindakan penindasan. Akan tetapi, dalam realitas masyarakat negeri Soya, mereka memahami alam sebagai rumah secara kolektif yang dirawat melalui ritual cuci negeri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan jenis deksriptif. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara, studi dokumenter dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa ritual cuci negeri merupakan warisan yang diberikan oleh para leluhur untuk menyadarkan masyarakat negeri Soya yang berasal dari alam. Kesadaran ini tidak hanya sebatas afektif melainkan juga pada tindakan pembersihan negeri yang dilakukan sekali dalam setahun dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan dengan alam dan merawat hubungan genealogis bersama para leluhur. Ritual cuci negeri juga menggambarkan alam sebagai sosok perempuan yang mengandung dan melahirkan, memberi kehidupan serta perlindungan terhadap segala ancaman kehidupan.
Analisis Pendidikan Karakter dalam Tarian Molaemba dan Relevansinya bagi Pembentukkan Karakter Kristiani Remaja Novita, Febriani; Randalele, Christian Elyesar; Lolon, Ice Novita Triana
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i2.127

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to analyze the character education contained in the Molaemba dance and its relevance to the formation of Christian character for adolescents in Maleku Village. This research was conducted in the village of Maleku and the traditional institution of the Padoe tribe. This research is an ethnography research with a qualitative approach. Based on the findings of this study, the results obtained are that there are six character values ​​in Molaemba, namely religious values, tolerance, mutual cooperation, love for the homeland, love for peace, and friendship/communicative; Religious values ​​are the basis for the procurement of Molaemba, the value of tolerance, mutual cooperation are values ​​that support the existence of Molaemba, the value of love for the homeland, love of peace and friendship/communicative are values ​​that have a reciprocal relationship with Molaemba, namely as a result obtained from Molaemba, at the same time as the value that made Molaemba exist and survive until now; The character values ​​obtained from Molaemba make it easier to strengthen the Christian character of padoe youth in Maleku Village which is obtained through every activity in art studios, traditional community activities, and specifically in Molaemba. Abstrak: Penelitian ini memiliki maksud dan tujuan menganalisis pendidikan karakter yang terdapat dalam tarian Molaemba dan relevansinya terhadap pembentukan karakter kristiani remaja di Desa Maleku. Penelitian ini dilakukan di Desa Maleku dan lembaga adat suku Padoe. Penelitian ini merupakan penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan temuan penelitian ini diperoleh hasil yakni terdapat enam nilai karakter dalam Molaemba, yakni nilai religius, toleransi, kerja gotong royong, cinta tanah air, cinta damai, dan bersahabat/komunikatif; Nilai religius merupakan dasar dari pengadaan Molaemba, nilai toleransi, gotong royong merupakan nilai yang mendukung adanya Molaemba, nilai cinta tanah air, cinta damai dan bersahabat/komunikatif merupakan nilai yang mempunyai hubungan timbal balik terhadap Molaemba, yakni sebagai hasil yang diperoleh dari Molaemba, sekaligus sebagai nilai yang membuat Molaemba itu ada dan bertahan hingga kini; Nilai karakter yang didapat dari Molaemba mempermudah dalam menguatkan karakter kristiani remaja padoe di Desa Maleku yang diperoleh melalui setiap kegiatan di sanggar-sanggar seni, kegiatan-kegiatan adat masyarakat, dan secara khusus dalam Molaemba.
Pembacaan Sosiologis-Praktis Tentang Makna Mantunu dan Keterkaitannya dengan Pembagian Warisan di Lembang Lilikira’, Kecamatan Nanggala Sari, Cindy Fatika; Salewa, Wandrio
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i1.96

Abstract

This article wants to explore the practice of mantunu (slaughter of animals in the solo sign rite) as a tradition that the people of Lembang Lilikira, Nanggala District, North Toraja Regency, still carry out. Mantunu is one of the conditions used in the distribution of inheritance for children or descendants of people who died. In this study, This research used qualitative methods with the type of observation and interviews. So, the research results show that sacrificing animals (mantunu) at death ceremonies is very important in Toraja culture. Mantunu is a form of final respect for parents and relatives. However, if it contains motives, the more help you will get, the more inheritance you will get and if you don't help, you will not get an inheritance or you will still get a small amount of inheritance. Thus, mantunu becomes a benchmark for obtaining an inheritance in the family. Of course, those with less or limited economic circumstances may not be forced to do mantunu in the solo sign ceremony. Tulisan ini menelusuri praktik mantunu (pengorbanan hewan di ritus rambu solo’) sebagai salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Toraja secara khusus di Lembang Lilikira’, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara. Mantunu merupakan salah satu syarat yang digunakan dalam pembagian harta warisan bagi anak atau keturunan dari orang yang meninggal. Pada penelitian ini, menggunakan metode kualitatif dengan jenis yaitu pengamatan dan wawancara. Hasil dari penelitian ini bahwa dalam budaya Toraja yaitu mantunu (mengorbankan hewan) pada upacara kematian sebagai hal yang sangat penting. Mantunu merupakan salah satu bentuk penghormatan terakhir bagi orang tua maupun sanak keluarga. Namun memuat motif, semakin banyak mantunu akan mendapatkan semakin banyak pula warisan dan apabila tidak mantunu maka tidak akan mendapatkan warisan ataupun tetap memperoleh warisan dalam jumlah yang sedikit. Sehingga, mantunu menjadi tolak ukur untuk memperoleh warisan dalam keluarga. Tentunya, mereka yang keadaan ekonominya kurang atau terbatas, tidak mungkin memaksakan untuk melakukan mantunu dalam upacara rambu solo’.
Keimanan Abraham Berdasarkan Ibrani 11 Sinambela, Juita Lusiana; Sinaga, Janes; Tinenti, Max Lucky; Pelawi, Stepanus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i2.97

Abstract

Abstract: The story of the Bible character Abraham is a source of inspiration for every human being living in this world to continue to believe in God. Abraham is listed in Hebrews chapter 11 as a believer or believer. Abraham was an ordinary man and sometimes lived in weakness and doubt in his actions, but his act or obedience to God by accepting his call out of his hometown to a foreign land for him as a promised land for him. Abraham was also called a believer when he obeyed God's command to sacrifice his son Isaac on Mount Moriah as a burnt offering, which was offered to God, although in the end God offered a substitute sacrifice. The story of Abraham states that everyone has the opportunity to be called a believer like Abraham by obeying and believing in God's commands. This research was conducted using a qualitative method by collecting literature data from a bibliography such as the Bible, books and journals, so that it can lead everyone to become a believer like Abraham Abstrak: Kisah tokoh Alkitab Abraham menjadi sumber inspirasi bagi setiap manusia yang hidup di dunia ini untuk tetap percaya kepada Tuhan. Abraham dicatatkan dalam kitab Ibrani pasal 11 sebagai orang percaya atau beriman. Abraham adalah manusia biasa dan kadang kala hidup dalam kelemahan dan keraguan dalam tindakannya, namun tindakan atau penurutannya kepada Allah dengan menyambut panggilannya keluar dari kampung halamannya ke negeri asing baginya sebagai tanah perjanjian baginya. Abraham juga disebut beriman ketika dia menuruti perintah Allah untuk mengorbankan Anaknya Ishak di bukit Moria sebagai korban bakaran, yang dipersembahkan kepada Tuhan, walaupun pada akhirnya Allah memberikan korban pengganti. Kisah Abraham menyatakan kepada setiap orang memiliki kesempatan disebut menjadi orang percaya seperti Abraham dengan menurut dan percaya kepada akan perintah Tuhan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data-data literatur dari daftar Pustaka seperti Alkitab, buku-buku dan jurnal, sehingga dapat menuntun setiap orang untuk menjadi orang beriman sebagaimana halnya Abraham.