cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
+6281330719928
Journal Mail Official
jurnalsophia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Makale-Makassar Km. 11,5 Mengkendek, Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27228851     EISSN : 2722886X     DOI : https://doi.org/10.34307
Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Sophia merupakan hasil penelitian dari Mahasiswa, Alumni, Dosen & Para Peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin berkontribusi di dalamnya. Tim editor akan menyeleksi artikel sebelum menyerahkannya kepada Peer Reviewer atau Mitra Bestari untuk dinilai kelayakannya, sebelum diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Sophia: Manajemen Pendidikan Kristen Teologi Biblika Injil & Kebudayaan / Teologi Kontekstual Agama & Masyarakat Teologi Praktika Studi Agama
Articles 56 Documents
Manusia sebagai Homo Digitalis: Suatu Wacana Teologi Publik Gereja Atas Keterlemparan Manusia di Ruang Digital Taneo, Rolin Ferdilianto Sandelgus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i1.234

Abstract

There is a new term or embedding given to humans when they enter the 21st century, namely Homo Digitalis. This term is reasonable because dependence on technology has become a trend in this era. Humans seem to depend on technology for all aspects of their lives. Technology is good because it makes things easier for people, but if it is not used wisely, the potential for damage exists. Even so, the presence of technology has still really helped humans. The church felt it, too. Theology as a science has the task of discussing this phenomenon. Therefore, this article will utilize literature studies and Public Theology approaches to dissect the issue of Homo Digitalis and throw it into the digital space. Human dislocation in the digital space is a fact, and this is a finding and recommendation for developing other research related to this issue. The ultimate goal of this article is to become an instrument for churches and congregations to respond to technological developments. Ada istilah atau penyematan baru yang diberikan kepada manusia ketika memasuki abad 21 ini yaitu Homo Digitalis. Istilah ini sebenarnya beralasan sebab di era ini ketergantungan terhadap teknologi sudah merupakan trend. Manusia seperti menggantungkan seluruh aspek kehidupannya kepada teknologi. Hadirnya teknologi sebenarnya baik karena memudahkan manusia tetapi jika tidak secara arif digunakan maka potensi merusak itu ada. Sekalipun demikian, tetap saja kehadiran teknologi sudah amat membantu manusia. Gereja pun turut merasakannya. Teologi sebagai ilmu pengetahuan punya tugas mendiskusikan fenomena ini. Karena itu, tulisan ini akan menggunakan metode studi literatur dan pendekatan teologi publik dalam membedah isu Homo Digitalis dan keterlemparannya di ruang digital. Keterlemparan manusia di ruang digital merupakan fakta yang benar adanya dan ini menjadi temuan dan rekomendasi untuk pengembangan penelitian lain terkait isu ini.  Tujuannya akhir dari tulisan ini yakni menjadi instrumen bagi gereja dan jemaat di dalam menyikapi perkembangan teknologi.
Membaca Falsafah Tallu Lolona sebagai Sarana Eko-Misional Kontekstual Gereja Toraja Berdasarkan Kejadian 1:27-28 dan 2:15 Exan Rerung , Alvary
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.220

Abstract

This article discusses the problem of ecological crisis which is apparently caused by the moral problems of mankind. This also happened in Toraja because of the actions of some Torajans who no longer care about their environment. Floods occurred in various places due to overflowing rivers because they were used as garbage dumps. Drainage no longer functions properly to drain rainfall because it is filled with garbage that is dumped irresponsibly. In fact, environmental destruction according to Toraja culture is taboo because it affects many people. Through the literature study method, this article intends to read the philosophy of tallu lolona based on Genesis 1:27-28 and 2:15. The results of this reading can be used as a contextual eco-missionary tool for the Toraja Church to remind its congregation that both the Bible and Toraja culture prohibit environmental destruction. On the contrary, the Bible and Toraja culture command to protect and preserve the environment as the implementation of missio Dei for the world.Tulisan ini berbicara tentang masalah krisis ekologi yang ternyata disebabkan oleh masalah moral umat manusia. Hal ini terjadi juga di Toraja karena ulah sebagian orang Toraja yang tidak peduli lagi dengan lingkungannya. Terjadi banjir di berbagai tempat akibat sungai yang meluap karena dijadikan tempat pembuangan sampah. Drainase tidak lagi berfungsi dengan baik untuk mengalirkan curah hujan akibat dipenuhi sampah yang dibuang secara tidak bertanggung jawab. Padahal, perusakan lingkungan menurut budaya orang Toraja adalah hal yang tabu karena berdampak pada orang banyak. Melalui metode studi pustaka, tulisan ini hendak membaca falsafah tallu lolona berdasarkan Kejadian 1:27-28 dan 2:15. Hasil pembacaan ini bisa dipakai menjadi sarana eko-misional kontekstual bagi Gereja Toraja untuk mengingatkan warga jemaatnya bahwa baik Alkitab dan juga budaya orang Toraja melarang terjadinya perusakan lingkungan. Sebaliknya, Alkitab dan budaya orang Toraja memerintahkan untuk menjaga dan memelihara lingkungan sebagai pelaksanaan missio Dei bagi dunia.
Pelayanan Pastoral Berbasis Ekologi Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup Budiman, Sabda; D. A. Laukapitang, Yunus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.233

Abstract

There are several problems encountered in pastoral ministry, namely focusing too much on human services. In addition, sometimes the implementation of pastoral ministry also has a negative impact on the environment such as excessive use of plastic, paper, and energy so that it seems that the church is not environmentally friendly and can become a stumbling block for society. The purpose of this article is to highlight and explain various forms of ecology-based pastoral care as a form of church involvement in environmental conservation. The author uses a qualitative research method with a literature study approach. The discussion in this study emphasizes various forms of ecology-based pastoral services such as liturgy, fellowship, teaching, and evangelism. In addition, there are several efforts proposed by the author as a form of organizational church involvement in preserving the environment such as forming an environmental care community, forming a waste bank, and using renewable energy as an alternative energy. This research shows that ecology-based pastoral care has great potential to be an effective instrument in building church communities that care for the environment and contribute positively to environmental conservation.
Kepurnakalaan dan Kepurnasthanaan: Merancang Pendidikan demi Masa Depan Adiprasetya, Joas
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.278

Abstract

This article aims to bring together Wendell Berry's educational concept and the concept of timefulness and placefulness based on the idea of the flourishing of life. Wendell Berry's educational theory and ecological philosophy will be used analytically and in dialogue with the theology of flourishing life. The conjoining of these two streams of thought will give rise to a futuristic model of education directed toward the future, which offers a sustainability perspective within the model of humanism and ecologism. Such a model of education is an alternative to an education controlled by technological innovation and political security. Artikel ini bertujuan untuk memperjumpakan konsep pendidikan Wendell Berry dan konsep kepurnakalaan dan kepurnasthanaan berbasis ide mengenai kehidupan yang mekar. Teori pendidikan dan filsafat ekologi Wendell Berry akan dipergunakan secara analitis dan didialogkan dengan teologi kemekaran hidup.  Perjumpaan kedua arus pemikiran ini akan memunculkan sebuah model pendidikan yang terarah ke masa depan, yang berperspektif keberlanjutan di dalam model humanisme dan ekologisme. Model pendidikan semacam ini menjadi sebuah alternatif bagi sebuah pendidikan yang dikendalikan oleh inovasi teknologi dan keamanan politik. 
Revitalisasi Nilai-nilai Imago Dei dalam Pembentukan Karakter Anak Pada Era Digital Paembonan, Yanni; Ronda, Daniel
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.281

Abstract

The digital era presents new challenges in shaping children's character. Technology, social media, and wide access to information often significantly influence children's mindsets, behaviors, and morality, distancing them from theological principles and Christian teachings. This research explores revitalizing "Imago Dei" in forming children's characters, especially in the increasingly complex digital environment. Christian education not only functions as a transfer of knowledge but also as a medium for restoring the image of God. A qualitative approach was employed using a literature review and field observation of educational practices in Christian schools. The results indicate that the revitalization of the "Imago Dei" can be a solution to counteract the negative effects of the digital era on children's morality and integrity. Emphasizing character formation through Christian values such as love, truth, and justice will strengthen children's ability to reflect the image of God in an increasingly individualistic and materialistic world.  Era digital menghadirkan berbagai tantangan baru dalam pembentukan karakter anak. Teknologi, media sosial, dan akses informasi yang luas seringkali memengaruhi pola pikir, perilaku, dan moralitas anak secara signifikan, menjauhkan anak dari prinsip-prinsip teologi dan ajaran Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk merevitalisasi nilai-nilai “Imago Dei” dalam pembentukan karakter anak, khususnya dalam lingkungan digital yang semakin kompleks. Pendidikan Kristen tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu tetapi juga sebagai transmisi untuk memulihkan citra Allah. Pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, observasi lapangan terhadap praktik pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Hasilnya menunjukkan bahwa revitalisasi nilai-nilai “Imago Dei” dapat menjadi solusi untuk menangkal dampak negatif era digital terhadap moralitas dan integritas anak. Penekanan pada pembentukan karakter melalui nilai-nilai Kristen seperti kasih, kebenaran, dan keadilan akan memperkuat kemampuan anak untuk merefleksikan Imago Dei dalam dunia yang semakin individualistis dan materialistis.
Religiositas Masyarakat Dayak Lintas Agama berbasis Falsafah Huma Betang di Kalimantan Tengah Pattiasina, Sharon Michelle O.
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.296

Abstract

In the context of diversity, the Dayak community engages in interfaith encounters based on the philosophy of Huma Betang. Referring to this, this paper analyzes the religiosity of the Dayak community in interfaith contexts based on the Huma Betang philosophy and constructs a model of interfaith dialogue rooted in local wisdom in Central Kalimantan. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach and a descriptive-analytical type. The research findings reveal that the Huma Betang philosophy plays a significant role for the Dayak community. It serves as the foundation for social-religious practices that emphasize humanity and hospitality, which shape the religiosity of the Dayak people in Central Kalimantan. In this case, religiosity based on the Huma Betang philosophy fosters humanistic dialogue. The Dayak community practices this humanistic dialogue in both formal and non-formal spaces, grounded in values of humanity and harmony. Thus, the humanistic dialogue model based on Huma Betang plays a crucial role in maintaining interfaith harmony. Dalam konteks keberagaman, masyarakat Dayak melakukan perjumpaan lintas agama dengan didasarkan falsafah Huma Betang. Merujuk pada hal tersebut, tulisan ini menganalisis religiositas masyarakat Dayak lintas agama berbasis falsafah Huma Betang dan mengonstruksi model dialog antar agama berbasis kearifan lokal di Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan jenis deskriptif-analisis. Hasil penelitian menemukan bahwa falsafah Huma Betang memiliki peran yang penting bagi masyarakat Dayak. Falsafah Huma Betang sebagai landasan praktik kehidupan sosial keagamaan yang menekankan pada aspek kemanusiaan dan hospitalitas. Hal inilah yang membentuk religiositas masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Dalam hal ini, religiositas berbasis falsafah Huma Betang membentuk dialog humanistik. Masyarakat Dayak mempraktikkan dialog humanistik di ruang perjumpaan formal dan non-formal dengan berlandaskan pada nilai kemanusiaan dan keharmonisan. Dengan demikian, model dialog humanistik berbasis Huma Betang berperan penting dalam merawat kerukunan umat beragama.  
Peran Teologi Virtual Terhadap Pembangunan Jemaat Dalam Mewujudkan Berita Keselamatan di Gereja Pejabaran Injil Manado Langi, Elsjani Adelin
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.268

Abstract

Virtual theology provides new understanding and practice in church ministry, especially in the Pejabaran Injil Church in Manado to convey the news of salvation and build the congregation. This study aims to identify how digital technology such as social media and online platforms expand the reach of ministry, strengthen the spiritual relationship of the congregation, and improve the congregation's understanding of the Gospel. The research method used is qualitative descriptive with interview techniques. The results of the study show that virtual theology plays an important role in online worship, the use of multimedia, and social media as a means of sharing reflections and spiritual strengthening. Although there are challenges such as the limitations of the congregation's adaptation to digital worship, the presence of this technology helps the congregation to be more active, resilient in faith, and responsive to developments in the era. Thus, virtual theology reflects the Christian spirit in realizing God's mission through relevant and contextual service in the digital era. Teologi virtual memberikan pemahaman dan praktik baru dalam pelayanan gereja, khususnya di Gereja Pejabaran Injil Manado untuk menyampaikan berita keselamatan dan membangun jemaat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana teknologi digital seperti media sosial dan platform daring memperluas jangkauan pelayanan, memperkuat hubungan spiritual jemaat, dan meningkatkan pemahaman jemaat akan Injil. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi virtual berperan penting dalam ibadah online, penggunaan multimedia, dan media sosial sebagai sarana membagikan renungan serta penguatan rohani. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan adaptasi jemaat terhadap ibadah digital, kehadiran teknologi ini membantu jemaat menjadi lebih aktif, tangguh dalam iman, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, teologi virtual mencerminkan semangat Kristiani dalam mewujudkan misi Allah melalui pelayanan yang relevan dan kontekstual di era digital.
Strategi Belajar Siswa Berprestasi pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Kelas XII di SMAN 2 Palangka Raya Rahmelia, Silvia; Supardi, Jeffry; Rania
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.282

Abstract

This study aims to describe the learning strategies of high-achieving students in the Christian Religious Education subject for grade XII at SMAN 2 Palangka Raya. The research employed a qualitative approach, with data collection techniques including questionnaires, in-depth interviews with seven high-achieving students, literature studies, and documentation. The results revealed that the students’ learning strategies encompass: (1) creating structured study schedules, (2) periodic repetition of challenging material, (3) active reading using highlighting and concise note-taking techniques, and (4) efforts to maintain concentration through managing their learning environment. These strategies align with the concept of Self-Regulated Learning (SRL), which emphasizes planning, self-evaluation, and commitment to achieving academic goals. The findings offer practical implications for teachers in facilitating students to develop independent learning strategies and serve as a reference for students to enhance academic achievement through SRL and self efficacy.Penelitian ini mengungkap strategi belajar mandiri siswa berprestasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) kelas XII di SMAN 2 Palangka Raya. Melalui pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data angket, wawancara mendalam terhadap tujuh siswa berprestasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi, ditemukan strategi belajar siswa berprestasi meliputi: (1) pembuatan jadwal belajar terstruktur, (2) pengulangan materi sulit secara berkala, (3) membaca aktif dengan teknik highlight dan catatan ringkas, serta (4) upaya menjaga konsentrasi melalui pengelolaan lingkungan belajar. Strategi ini sejalan dengan konsep Self-Regulated Learning (SRL) yang menekankan perencanaan, evaluasi diri, dan komitmen untuk mencapai tujuan akademik. Temuan ini mengkonfirmasi relevansi SRL dalam konteks PAK, sehingga guru dapat mengembangkan strategi belajar mandiri. Disamping itu penelitian ini dapat menjadi referensi bagi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar melalui strategi belajar yang mengintegrasikan SRL dan self efficacy.
Integrasi Logika Kritis dalam Pendidikan Agama Kristen: Membangun Iman yang Rasional di Era Digital Gulo, Rezeki Putra; Zai, Nikarni; Balukh, Semy Djulandy
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.291

Abstract

This paper examines the integration of critical logic in Christian Religious Education (CRE) within the digital era, emphasizing the importance of developing a rational understanding of faith amidst the complexity of digital information. The research employs a qualitative approach using hermeneutic phenomenology, enabling an in-depth exploration of the meaning of critical logic integration within the CRE context through a systematic literature review. The primary issue addressed is the lack of a comprehensive approach that combines rational and spiritual aspects in religious education, particularly in responding to challenges in the digital era. The study’s novelty lies in the development of the innovative DIGITAL-CRITICAL model, integrating elements of critical logic, Christian values, and digital literacy through seven core components (Dialog, Interpretation, Geometry, Integration, Transformation, Analysis, and Logic) tailored to the CRE context. The findings show that this model effectively enhances students' analytical abilities, strengthens their spiritual foundations, and equips them with essential digital competencies to sustain a rational and relevant Christian faith in the modern era.Paper ini bertujuan untuk mengkaji integrasi logika kritis dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) di era digital, dengan menyoroti pentingnya pengembangan pemahaman iman yang rasional di tengah kompleksitas informasi digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi hermeneutik, memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap makna integrasi logika kritis dalam konteks PAK melalui kajian literatur sistematis. Masalah utama penelitian adalah kurangnya pendekatan komprehensif yang menggabungkan aspek rasional dan spiritual dalam pembelajaran agama, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital. Novelty penelitian terletak pada pengembangan model DIGITAL-KRITIS yang inovatif, mengintegrasikan komponen logika kritis, nilai Kristen, dan literasi digital melalui tujuh elemen utama (Dialog, Interpretasi, Geometri, Integrasi, Transformasi, Analisis, dan Logika) yang disesuaikan dengan konteks PAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini efektif meningkatkan kemampuan analitis peserta didik, memperkuat dasar spiritual, dan membekali mereka dengan kompetensi digital yang esensial dalam mempertahankan iman Kristen yang rasional dan relevan di era modern.
Merakit Identitas Eklesiologi Perdamaian: Integrasi Kearifan Lokal Paramak So Balunon dan Hospitalitas dalam Tradisi Gereja Sibagariang, Julius Stefanus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i1.318

Abstract

Peace faces enormous challenges, with conflict and injustice exacerbating relations between individuals and groups. In this context, ecclesiological identity plays an important role in shaping the church as an agent of peace. This research explores the potential of local wisdom, particularly the concept of Paramak so balunon from Batak culture, which teaches deliberation, peaceful resolution, and restoration of relationships in the face of conflict. This concept aligns with the principle of hospitality in the early church tradition, which emphasizes the importance of creating spaces of peace, respecting differences, and restoring damaged relationships. This research aims to design an ecclesiology of peace identity that integrates Paramak so balunon and hospitality to strengthen the church's role as an agent of peace sensitive to the local context. The results of this research provide a practical contribution to building social harmony, encouraging dialogue, and strengthening the church's role in peace efforts, both on a local and global scale. The research method used is qualitative with a literature approach.   Perdamaian terus menghadapi tantangan besar, dengan konflik dan ketidakadilan yang memperburuk hubungan antarindividu dan antarkelompok. Dalam konteks ini, identitas eklesiologi memiliki peranan penting dalam membentuk gereja sebagai agen perdamaian. Penelitian ini menggali potensi kearifan lokal, khususnya konsep Paramak so balunon dari budaya Batak, yang mengajarkan musyawarah, penyelesaian damai, dan pemulihan hubungan dalam menghadapi konflik. Konsep ini memiliki keselarasan dengan prinsip hospitalitas dalam tradisi gereja mula-mula, yang menekankan pentingnya menciptakan ruang perdamaian, menghormati perbedaan, dan merestorasi hubungan yang rusak. Penelitian ini bertujuan merancang identitas eklesiologi perdamaian yang mengintegrasikan Paramak so balunon dan hospitalitas untuk memperkuat peran gereja sebagai agen perdamaian yang sensitif terhadap konteks lokal. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam membangun harmoni sosial, mendorong dialog, serta memperkuat peran gereja dalam upaya perdamaian, baik dalam skala lokal maupun global. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan.